Friday, November 23, 2007

mimpi

mimpi sialan itu datang lagi!
sudah sepekan ini ia muncul
padahal gw bukan orang yang sering mimpi...
apa mungkin karena masih dipikirkan ya?
sial!

Wednesday, November 14, 2007

''...You can fight with somebody but you still like them..''

Alice Doesn't Live Here Anymore

Thursday, November 1, 2007

Capote Wannabe

Lebaran kemarin dapet tugas piket liputan ficer yang non ekonomi, setelah setahun lebih gw ga nulis ficer human interest, sempat ragu juga masih bisa nangkep suasananya ga ya? abis kalo di ekonomi kan straight, kadar kepekaannya kurang, kalau liputan human interest mau ga mau harus pasang semua indra buat ngerekam suasana, narasumber, sampai hal kecil pun. apalagi kali ini gw coba beda sama sekali, gw ga nyatet maupun ngerekam wawancara gw dengan narasumber, abis kalo pake alat rekam atau nyatet kadang2 narsum jadi rada sungkan, ini skalian gw coba metodenya capote, he3,

berhasil? ya paling ngga terekam di 3 tulisan gw ini, dari tiga tulisan dibawah, gw paling suka yang di ancol, enjoy banget wawancarannya, tapi abis itu gw lintang pukang nyatet apa aja yang diomongin sama si narsum, nginget lagi runut dari awal, lumayan ternyata, meski harus banyak latihan, terutama soal 'klik' di kalimat2 yang buat kutipan yang harus dibuat beragam versi

buat sedikit orang yang baca blog ini, enjoy en kritik yee!

Evolusi Kamera di Ancol

Habis sudah era kamera instan, Polaroid, di Taman Impian Jaya Ancol (TIJA). Tak ada lagi gerakan tangan legendaris yang mengibas-kibas sehelai film setelah ia keluar dari kamera. Tak ada lagi kamera berat yang menggelayut di leher juru foto.

Masa kejayaan kamera yang ditemukan oleh Edwin Land pada 1947 itu sudah lewat. Terlindas oleh kamera digital bahkan oleh kamera telepon seluler. Jika Anda ke TIJA beberapa bulan belakangan ini, tentengan juru foto disana sudah berubah.

Sekarang, yang mengganduli leher mereka adalah kamera digital mungil berukuran seperempat kamera polaroid dengan resolusi 6 - 7 Mega Pixel. Lebih ringan, lebih praktis. Lho cetak filmnya bagaimana? Jangan kuatir, juru foto dibekali dengan printer mini yang dijalankan dengan aki. Mudah, ringkas, dan mutu gambarnya jauh lebih baik.

''Ganti sejak Maret lalu,'' jawab Aminullah (65 tahun), juru foto paling senior di TIJA, ketika ditanya Republika kapan pergantian kamera dan tetek bengeknya itu terjadi. Sebab, awal tahun ini masih terlihat kamera Polaroid berkeliaran di sepanjang garis pantai TIJA.

Lantas, diapakan kamera Polaroid itu? ''Ya masih ada, di rumah saja, buat kenang-kenangan,'' kata Amin sembari terkekeh. Ia ceritakan, pergantian besar-besaran perangkat kamera dilakukan Maret lalu atas usulan paguyuban juru foto Ancol. Mereka mendapat sponsor dari produsen kamera digital.

Satu set kamera digital beresolusi 6 MP ditambah printer foto, kertas foto 50 lembar, aki kecil untuk menjalankan printer, serta tas penyimpan printer ditebus seharga Rp 2,6 juta. Makin tinggi resolusi kamera digital, makin mahal harga per paketnya. Kalau yang 7 MP plus paket lengkap dihargai Rp 2,8 juta.

Untungnya, juru foto tak harus membayar kontan. Mereka bisa nyicil sesuka hati. Maklum saja, bisnis jepret menjepret di TIJA adalah bisnis yang tak pasti. Ada kalanya satu hari mereka menjual 50 lembar foto yang perlembarnya dihargai Rp 20 ribu. Tapi tak jarang juga tak ada selembar foto pun terjual.

''Kalau ramai saya bisa bayar cicilan sampai Rp 130 ribu per hari,'' ungkap Amin dengan logat Sumbarnya yang kentara. Uang itu ia setorkan ke paguyuban. Karena termasuk yang rajin menyicil, dalam waktu tiga bulan kamera beserta printernya sudah resmi milik Amin. ''Saya termasuk cepat, sekarang yang muda-muda masih ada yang belum lunas,'' ujar pemilik tubuh kerempeng ini.

Bagaimana tanggapan masyarakat atas pergantian kamera? ''Senang Pak! Kalau Polaroid mereka mengeluh fotonya kekecilan atau kalau gayanya jelek tak bisa diganti. Kalau digital, mereka puas dengan hasilnya, terang. Soal gaya, foto tak dicetak sebelum disetujui mereka,'' tandas Edy, juru foto lainnya.

Riwayat juru foto foto di Ancol tak bisa lepas dari Polaroid. Sebagai salah satu juru foto tertua di Ancol, Amin menggambarkan, pada 1976, perwakilan Polaroid di Jakarta mendatangi mereka dan menawarkan produknya. Seluruh kebutuhan foto diberikan dengan harga miring.

Pada saat itu, masyarakat yang datang ke Ancol juga belum seramai sekarang. Juru foto masih bisa duduk-duduk santai di belakang Hotel Horison lama, kini di daerah Pantai Festival.

''Mereka justru yang memanggil kami untuk memfoto. Biasanya mereka memanggil dari mobil, baru difoto di pantai,'' tutur Amin, mengenang masa lalunya.

Kebesaran Polaroid sebagai kamera instant di Ancol tak tergoyahkan, meski pada era 1980-an dan berlanjut ke 1990-an masyarakat diserbu oleh kamera poket. Polaroid baru terdesak ketika teknologi beralih cepat ke kamera digital di tahun 2000-an. Apalagi sekarang harga kamera digital ada yang dibawah Rp 1 juta.

Polaroid makin terpojok ketika produsen telepon seluler mengintegrasikan fungsi kamera beresolusi tinggi (1,3 sampai 3,2 MP) ke dalam telepon mereka. Omset foto Polaroid di TIJA pun jeblok. Amin maupun Edy mengakui, sebelum pergantian kamera Maret lalu, tiap tahun pendapatan mereka makin tergerus.

Salah satu sebabnya juga adalah biaya foto Polaroid yang memang mahal. Tiap satu roll film Polaroid harus ditebus seharga Rp 95 ribu. Itu pun cuma berisi 10 lembar foto. Berarti harga pokok tiap foto Rp 9.500. Sementara dua tahun terakhir harga foto di Ancol masih berkisar Rp 15 ribu sampai Rp 20 ribu.

Dengan kamera digital, beban biaya foto itu lenyap. Juru foto hanya mengeluarkan biaya untuk kertas foto yang harganya bisa sepertiga dari harga foto Polaroid, serta biaya tinta printer yang juga kian murah.

Lebaran jelas membawa berkah ke juru foto di Ancol. Dalam musim libur itu, tiap hari mereka mendulang rezeki. Meski menolak merata-ratakan pendapatan per hari saat liburan ini, Amin dan Edy mengaku menjual lebih dari 20 lembar foto. Maksimal 50 lembar foto, itu berarti Rp 1 juta mereka kantongi atau minimal Rp 400 ribu.

Sudah dapat berapa hari ini (Ahad 14/10) sore? ''Hari ini terlalu ramai, padat, jadi orang tidak berfikir untuk foto-foto,'' tandas Edy. Hari pertama lebaran menurutnya yang paling ideal. Pengunjung tak terlalu padat sehingga mereka masih bisa memanfaatkan juru foto untuk mengabadikan kenangan di Ancol.

Hari pertama lebaran membuat pria yang dua tahun lalu berjualan pakaian lantas bangkrut di Tanah Abang ini membawa Rp 1 juta lebih ke rumahnya yang terletak di seberang Ancol, di dekat rel kereta.

Hari kedua, penghasilannya sedikit merosot. ''Untung tadi ada rombongan anak sekolah dari Ujung Pandang yang meminta di foto,'' ungkapnya. Ketika ditemui Ahad sore, Edy baru mencetak sekitar 30 lembar foto. Ia bertekad sampai tengah malam masih akan bekerja di pantai.

Sebagai juru foto paling senior diantara 20 juru foto di pinggiran pantai Ancol, Amin juga menikmati rezeki yang hampir sama dengan kawan-kawannya. Mengenakan kemeja putih, celana hitam, dan rompi biru (khas juru foto Ancol), kakek 14 cucu ini menyodorkan contoh-contoh foto sembari berseru, ''Foto..foto..foto pak..foto mba'..,'' ke lalu lalang pengunjung.

Ia masih semangat menyeret tubuh ringkihnya di sekitar Pantai Festival. Ahad itu, Amin sudah menjual lebih dari 30 lembar foto. Asal muasal Amin bergelut di Ancol adalah keterlibatannya di percetakan foto pada 1975. Pria asal Sumbar ini (kini mayoritas juru foto di Ancol berasal dari Sumbar), tergiur rezeki kawannya yang saat itu menjadi tukang foto di Kebun Binatang Ragunan.

''Lebih banyak untung ketimbang modalnya,'' begitu alasan Amin melepas pekerjaan cetak fotonya untuk beralih ke juru foto. Tiga bulan pertama Amin bekerja mengitari Kebun Binatang Ragunan. Atas bujukan kawannya di Ancol yang mengatakan kalau saat itu Ancol masih sepi dari juru foto, maka Amin banting stir.

''Padahal saat itu saya tak tahu dimana Ancol itu,'' celetuknya. Modal nekat, Amin muda hanya tahu ia harus naik bus dari Terminal Lapangan Banteng dan turun di Binaria. Akhirnya, terdamparlah pria yang sudah enam kali menikah itu sampai sekarang di Ancol.

Ia mengaku bakal menekuni pekerjaan ini sampai sudah tak kuat lagi. ''Ini (juru foto) adalah hobi dan keharusan saya. Hobi karena saya senang memfoto, keharusan karena saya butuh uang darinya,''.

Mau sampai jam berapa di pantai? Amin mengaku hanya sanggup sampai petang di Ancol. Ia tak lagi sanggup menyusuri seluruh pantai Ancol, seperti yang ia kerap lakukan dulu. Ia hanya berjalan mondar-mandir di sekitar Pantai Festival.

Tapi yang paling menyedihkannya adalah kondisi matanya. Sebagai salah satu faktor penting dalam pekerjaan, mata Amin diakuinya sudah tak kuat. ''Mata saya sudah rabun kalau petang,'' katanya.

Kembali Fitri di Grogol

Sebut saja namanya Fulan. Mengenakan celana pendek cokelat dipadu dengan kemeja hitam dengan garis-garis merah, pria berkumis tipis paruh baya itu tampak asyik mendengarkan lawan bicaranya, seorang perempuan berkerudung kuning pucat. Keduanya tampak santai mengobrol ditemani beberapa kawan di selasar lorong.

Tak jarang si perempuan memegang bahu si Fulan yang kerap mengangguk-angguk. Tak lama kemudian, si perempuan pamit pulang. Tangan si Fulan pun digenggam erat. Seolah tak ingin berpisah, si Fulan bangkit dan mendekatkan wajahnya ke wajah si perempuan.

Mulutnya dimonyongkan. Satu kecupan penuh makna mendarat di dahi si perempuan. Mata kedua insan itu saling menatap penuh arti yang hanya mereka bisa mengerti. Si Fulan tampak girang bukan kepayang. Senyum lebar mengembang di wajahnya.

Sang perempuan pun berdiri. Saatnya berpisah. Si perempuan memapah si Fulan ke sebuah ruangan. Keduanya berpisah dibatasi terali besi warna abu-abu. Si perempuan balik badan lantas berjalan cepat menyusuri koridor lantai keramik. Si Fulan tak lagi terlihat batang hidungnya.

Dua puluh menit sebelumnya, si perempuan sempat bersitegang dengan penjaga gerbang. ''Jam besuk sudah habis Bu,'' tegas si penjaga. Ada dua jam besuk disini, pertama antara pukul 11.00 WIB sampai 12.00 WIB, kedua di petang hari antara 17.00 WIB sampai 18.00 WIB.

''Saya tahu Pak, tapi ini hanya sebentar saja, tak lama kok, kan sudah ajukan cuti,'' balas si perempuan dengan memelas. ''Betul sudah ajukan cuti?'' tanya si penjaga menyelidik. ''Sudah Pak!'' timpal si perempuan dengan tegas.

''Saya cek dulu ya,''. Akhirnya si penjaga menyerah. Si perempuan diperbolehkan masuk sejenak menjenguk si Fulan.

Hari pertama Idul Fitri di Rumah Sakit Jiwa Dr Soeharto Heerdjan, atau yang kita kenal dengan sebutan RSJ Grogol, dipenuhi pertemuan seperti diatas. Pertemuan antara keluarga dengan anggota keluarganya yang dirawat.

Kedua pihak kangen-kangenan. Anak-anak bertemu ayah atau ibunya yang dirawat, istri bertemu suaminya, suami bertemu istrinya, atau saudara menjenguk saudaranya.
''Pasien mengerti kalau sekarang Idul Fitri dan banyak dari mereka yang minta cuti, atau keluarganya yang minta cuti'' cetus Dokter Handy Susilo, saat ditemui Republika akhir pekan lalu di ruang Unit Gawat Darurat (UGD) RSJ.

Cuti adalah waktu bagi pasien yang sudah relatif tenang dan bisa berkomunikasi dengan baik (para dokter dan suster menyebutnya pasien kelas rehabilitasi) untuk pulang ke keluarganya sejenak.

Jangka waktu kepulangannya maksimal tiga hari. Namun kondisi pasien diawasi dan dipantau terus menerus, termasuk minum obat. Tapi ada juga pasien yang sudah cuti dibawa kembali ke RSJ.

Penyebabnya, pasien mengalami perubahan suasana yang sangat drastis. Maklum, di RSJ suasananya sangat tenang.

''Dikondisikan tenang,'' kata salah seorang staf RSJ, Tarwana yang sudah bekerja selama 25 tahun ditempat itu. Sementara suasana di rumah hiruk pikuk karena lebaran. Pasien pun terkejut atas perubahan tiba-tiba ini, yang bisa berakibat ke proses penyembuhannya. Jadilah ia diinapkan kembali ke RSJ.

Sekedar menggambarkan, kompleks bangunan di RSJ dibagi dua bagian. Pertama bagian kompleks rawat inap yang dijaga ketat, dengan Closed Circuit Television (CCTV) dan pintu gerbang berlapis. Pasien dibedakan berdasar jenis kelaminnya. Bangsal sayap utara tempat pasien perempuan, yang selatan untuk laki-laki.

Kompleks bangunan kedua, adalah bangunan perkantoran, termasuk UGD. Tiap bangunan dihubungkan dengan koridor-koridor tinggi.

Pasien tidak diperbolehkan keluar tanpa pengawasan ketat. Kalaupun boleh, itu hanya sebatas pintu gerbang RSJ, yang tepat ditepi jalan raya yang ramai. Kalau dianggap layak, pasien bisa shalat Idul Fitri di halaman RSJ, berbaur dengan warga sekitar. Sayangnya pada 1428 Hijriah ini tidak satupun pasien yang shalat Ied.

Kangen keluarga? Pasti. Meski mendapat embel-embel pasien, mereka tetap manusia yang memiliki perasaan. Yang membedakannya hanyalah mereka mengidap penyakit, yaitu gangguan jiwa yang memengaruhi pola pikir dan tindakannya. Di luar itu, mereka tidak terlepas seluruhnya dari realitas kehidupan, termasuk mengartikan Idul Fitri sebagai saat berkumpul bersama keluarga.

Kondisi perasaan seperti ini sangat tergantung dari kondisi penyembuhan si pasien. RSJ membagi kondisi kesehatan itu kedalam tiga ruang. Ruang pertama adalah ruang gaduh gelisah. Ruang ini diperuntukkan bagi pasien yang baru masuk. Ia harus melewati 12 hari masa pengobatan dan terapi.

Ruang selanjutnya adalah intermediate. Di ruang ini, pasien yang sudah menunjukkan perbaikan kondisi kejiwaan dari gaduh gelisah, masih menjalani terapi dan pengobatan intensif sampai 20 hari ke depan. Ruang terakhir adalah ruang rehabilitasi. Lama pengobatan di ruang ini mencapai 30 hari. Total seorang pasien dirawat normal mencapai 60 hari.

Pasien kategori rehabilitasi-lah yang umumnya kembali mengerti dan merasakan Idul Fitri serta rasa kangen bertemu keluarga di dalam hatinya. Mereka seperti si Fulan yang diceritakan diatas (RSJ mengenakan aturan yang ketat untuk peliputan, tidak boleh ada nama pasien dicantumkan dengan alasan hukum dan untuk bercakap-cakap sangat dibatasi dan harus dikawal oleh dokter psikiater agar tidak menganggu pasien).

Apa saja yang pasien lakukan saat Idul Fitri? Rutinitas mereka tidak relatif tidak berubah. ''Kecuali dapat tambahan makanan di pagi hari,'' kata Tarwana. Pasien harus disiplin dan berkutat dengan tiga jadwal untuk penyembuhannya : pengobatan, terapi, istirahat.

Ini jadwal rutinitas mereka : pasien harus bangun pada pukul 06.30 WIB untuk mandi dan sarapan serta terapi obat dan aktivitas. Terapi akan dibedakan untuk tiap pasien tergantung kondisinya. Ada terapi musik, olah raga, atau sekedar membaca di perpustakaan.

Terapi berlangsung hingga siang hari, pada 12.00 WIB, mereka makan siang. Setelah itu masih dilanjutkan dengan terapi, baru istirahat pukul 15.00 WIB. Saat ini mereka bisa tidur di bangsal (ada 10 bangsal di RSJ, tiap bangsal berisi sedikitnya 10 tempat tidur) atau menonton televisi dan berinteraksi dengan sesamanya.

Makan malam disediakan pukul 17.30 WIB sampai 19.00 WIB setelah sebelumnya mereka membersihkan diri. Setelah itu, yang dilakukan kembali istirahat. Pasien harus sudah ditempat tidur pada pukul 20.00 WIB atau maksimal 21.00 WIB untuk kembali bangun keesokan harinya.

Melihat jadwal itu, terasa bahwa waktu terapi dan istirahat sangatlah banyak. ''Proses kesembuhan butuh ketenangan emosional pasien dan lingkungannya. Makanya di RSJ ini situasinya dikondisikan tenang,'' cetus dokter Handy lagi.

Bagaimana sikap keluarga menghadapi anggotanya yang sakit jiwa? ''Ada yang sudah menerima kalau ayah atau ibu mereka sakit jiwa, dan tetap menjenguk. Ada yang tidak sempat dijenguk, atau ada yang memang sampai saat ini belum menerima kalau keluarganya sakit jiwa sehingga mereka tidak menjenguk sama sekali,'' kata Tarwana, yang kerap mengamati perilaku hubungan keluarga dan pasien.

Akibatnya, ada pasien yang seumur hidupnya dititipkan di RSJ. Saat ini aturan Depkes tidak memperbolehkan demikian. Kini, bila sudah dianggap maksimal diobati, pasien akan dipindahkan ke Panti Laras yang ada di Cipayung atau Cengkareng.

Tiba-tiba, ditengah percakapan, seorang pasien perempuan mendekat. ''Om..om bagi duit dong om. Seribu aja om..,'' katanya kocak dari balik pagar besi. ''Ayo dong om..seribu aja om..,'' desaknya lagi.

Kami tertegun sejenak sebelum akhirnya tersenyum. ''Mau buat apaan seribu?'' sergah Karli, koordinator pengamanan di RSJ, yang turut menemani kunjungan Republika. Pertanyaan itu tak ia jawab. Dengan lirikan penuh harap, perempuan muda berambut pendek dengan kulit putih bersih ini terus meminta uang.

Akhirnya kami meninggalkan dia. Tapi selagi kami berjalan menjauh ia mengomel,''Huuuuw dasar pelit..pelit..pelit...pelit sekali...pelit sekali...pelit sekali,''.

RSJ memiliki sepasukan orang berhati mulia dengan tekad menyembuhkan pasien. Jumlah psikiaternya ada 11 orang, dokter umumnya ada 25 orang, ditambah sekitar 120-an suster. Operasional mereka dibagi tiga shift, pagi, siang, malam.

Apa suka-dukanya bekerja di RSJ? Sebelum menjawab pertanyaan ini, Tarwana dan Karli saling memandang. ''Kami yang bekerja disini itu murni sosial, dengan hati,'' kata Karli pelan. Pria timor berkulit hitam dengan badan tegap dan rambut kriting serta selalu membawa radio komunikasi itu menilai apa yang ia kerjakan adalah pengabdian bagi sesamanya. ''Murni jiwa sosial,'' ulangnya lagi.

Yang disebalkan, lanjut dia, kalau ada pasien yang memicu keributan atau bahkan mencoba melarikan diri. ''Saya repot harus mengejar mereka, bahkan ada yang pernah mencoba lari dengan memanjat atap rumah sakit,'' ujarnya sembari tertawa.

Bagi Tarwana, bekerja di RSJ adalah pengabdian untuk manusia yang tidak mendapat tempat di masyarakat. ''Tempat ini menjadi tempat terakhir bagi mereka yang tidak diterima keluarga, masyarakat, bahkan rumah sakit lain,'' tutur pria asal Solo ini lirih.

Sialnya, stigma RSJ justru menjadi negative. RSJ dicitrakan sempit menjadi sebuah tempat yang menyeramkan dan diisi oleh orang-orang berperilaku aneh dan membahayakan. ''Stigma itu harus diluruskan,'' tegas Tarwananya.

Bahwasanya RSJ hanya tempat singgah sementara dari seseorang yang mengalami penyakit yang harus disembuhkan.

Dari sudut pandang Idul Fitri, apa yang dilakukan Tarwana, Karli, dokter, psikiater, suster, satpam, dan karyawan lain di RSJ adalah berusaha mengantarkan seseorang kembali ke fitrahnya, manusia yang sehat. Berlainan dengan masyarakat yang kerap hanya berslogan Idul Fitri, apa yang dikerjakan di RSJ ini sudah jauh melampauinya.

Kenangan Mudik dengan Perahu

Ada kebiasaan unik yang dilakukan para nelayan di kawasan Muara Karang, Pluit, Jakarta Utara, untuk menyambut lebaran di masa lalu. Menjelang lebaran, mereka biasanya mudik menggunakan perahu yang biasa dipakai untuk melaut. Selama 12 jam mereka mengarungi pantai utara Jawa, sebelum tiba di tempat kelahirannya, yang rata-rata berasal dari Indramayu, Jawa Barat.

Tarman (33 tahun), nelayan kerang asal Indramayu mengisahkan kenangannya mudik dengan perahu pada lebaran-lebaran yang lalu. ''Satu perahu isinya bisa sampai 15-20 orang, ditambah berbagai macam barang,'' kata pria gempal ini dengan logat Indramayu yang kental . Para nelayan ini sehari-hari tinggal di wilayah bernama Blok Empang, Muara Karang. Blok yang dihuni sedikitnya 2.000 nelayan beserta keluarga itu terbagi menjadi empat rukun tetangga.

Blok ini terbagi jadi tiga wilayah, berdasar mata pencahariannya. Wilayah pertama adalah khusus nelayan ikan. Posisi permukiman mereka terletak menjorok, di ujung teluk kecil, tepi pantai Muara Karang. Setelah itu baru nelayan kepiting rajungan. Dan yang terluar dari wilayah itu, mendekati bibir pantai yang dipenuhi sampah kerang dengan bau anyir menyengat, adalah wilayah nelayan kerang.

Terlihat jelas, masalah kebersihan lingkungan bukan prioritas nelayan kerang, maupun pemerintah setempat. Kondisi permukimannya kacau-balau. Rumah bisa didirikan di mana saja dengan potongan-potongan papan beratapkan seng. Bentuknya tak jarang doyong, dengan bale-bale sederhana di depannya. Tak ada saluran air. Sampah, terutama dari pecahan kerang bercampur pasir dan plastik memenuhi tiap jengkal tanah.

Udaranya pun campur baur antara asin air laut, amis kerang maupun ikan, serta sampah. Untuk mandi maupun kebutuhan lainnya, disediakan beberapa bilik Mandi Cuci Kakus (MCK). Tak semua rumah memiliki keistimewaan sebuah kamar mandi sendiri. Di ujung gang Blok Empang, berdiri sebuah mushala sederhana dari semen yang bisa menampung sekitar 70-an orang. Blok Empang pun lengang dari keriaan Lebaran. Suasana yang terasa memang hening namun juga 'panas'. Tatapan wajah satu dua penghuninya terkesan cuek.

Tarman menggambarkan, saat mudik berperahu, belasan orang dan barang bersesakkan berbagi ruang dalam perahu sepanjang tujuh meter dan lebar dua meter. Barang diletakkan di tengah, sementara penumpang berdesakkan di pinggir perahu. Perahu pun kerap dihias dengan bendera warna-warni atau bendera parpol tertentu.

Tidak takut ombak tinggi? Tarman, yang duduk di atas hamparan kulit kerang berwarna putih, menggeleng. ''Ombak pada bulan-bulan ini tidak tinggi, biasa saja." Mabuk laut? Jelas tak ada, karena darah nelayan mereka, anak kecil pun dijamin tak muntah karena goyangan ombak. ''Biasanya perahu berangkat pagi hari, sekitar pukul 06.00 WIB atau tengah hari,'' tutur dia mengungkapkan. Perlahan-lahan, menyusuri pantai utara, perahu bermesin Dong Feng pabrikan Cina itu melaju ke Indramayu.

Namun, tahun ini cuma satu perahu yang mudik ke Indramayu. ''Sebabnya ya biaya Pak! Apalagi memang?'' ujar Sulam, asal Sumenep, Madura yang berdagang solar dan kelontong di kampung tersebut. Sulam tak pernah mudik sejak ia membangun bisnisnya di kawasan kumuh itu dua tahun lalu. Tapi lumayan, ia mengklaim, dengan hanya menjual solar, saban hari ia bisa meraup minimal Rp 200 ribu.

Dengan harga BBM saat ini, mudik dengan perahu memang teramat mahal. Tarman menjelaskan, untuk berangkat saja perahu membutuhkan 60 liter solar. Harga solar per liter resminya di SPBU mencapai Rp 4.300. Sulam menjualnya ke nelayan seharga Rp 4.800. Itu berarti butuh dana sedikitnya Rp 2,8 juta ke Indramayu atau Rp 5,6 juta untuk pulang pergi.
Kalau dibagi rata 15 nelayan yang ikut mudik, itu sama saja tiap kepala merogoh koceknya Rp 370 ribu. Bandingkan dengan naik bis atau motor. ''Berat Pak kalau yang mudik tidak punya perahu. Makanya yang mudik dengan perahu cuma pemiliknya,'' ungkap Sulam. Nelayan lainnya meninggalkan kebiasaan itu dan beralih naik bus, motor, atau menyewa truk.

Kalau naik bus dari Terminal Muara Karang, yang terletak sekitar satu kilometer dari Blok Empang cuma makan biaya Rp 50 ribu per orang, atau Rp 100 ribu pulang pergi Jakarta-Indramayu. Naik truk muatan yang ditutup terpal lebih murah lagi, cuma bayar Rp 15 ribu per orang. Oleh sebab itu, mudik dengan perahu mencapai jayanya ketika harga BBM masih murah, itu berarti sebelum 2005, ketika pemerintah tega menaikkan harga BBM dua kali dalam setahun.

''Dua tahun lalu, yang mudik naik perahu masih lumayan banyak,'' ujar Tarman lagi. Peralihan moda transportasi membuat pesisir Blok Empang rapat dipenuhi oleh perahu yang ditinggal nelayan atau pemiliknya. Dihempas ombak kecil, perahu-perahu kusam yang tak berpenghuni itu bergoyang pelan.

Kini, dengan solar yang mahal, nelayan harus benar-benar mengetatkan ikat pinggang mereka. Tak cuma untuk mudik, tapi juga makan sehari-hari. Tak jarang untuk mengakalinya, motor perahu tak semua diisi solar, melainkan minyak tanah bersubsidi. Beban biaya memang bisa ditekan, tapi aktivitas oplosan ini lama kelamaan menggerogoti mesin perahu-perahu mereka.
Hampir 80 persen penghuni Blok Empang mudik meninggalkan rumah dan perahu mereka. Di satu sisi, kondisi ini menjadi beban bagi Tarman, Sulam, dan sejumlah warga lainnya yang tak mudik. ''Kita tetap harus berjaga-jaga jangan sampai ada maling,'' kata Tarman. Saat takbir berkumandang di malam lebaran, mereka pun menghabiskan waktunya untuk keliling mengawasi rumah-rumah yang ditinggal para penguninya.


Saturday, September 22, 2007

...if someone pray for patience, u think God give them patience? Or its better to give them the opportunity to be patience...

...if someone ask for courage, u think God give him courage? Or just give him the opportunity to be courageous...

...if someone pray for a girl to love him, u think God just give him the love? Or its better to give both of them the opportunity to find love?

Thursday, August 9, 2007

Koil is Back

Koil akhirnya rilis album baru...hufff...penantian begitu lama,

ngubek-ngubek di toko kaset, tanya kiri tanya kanan, sampe dateng ke markasnya, udah dari kapan taun dilakukan, albumnya baru rilis sekarang,

nyesel banget pas sadar ternyata otong cs sempat manggung di kemang en gw baru tau keesokan harinya!

tetap berharap Koil bisa muncul di soundrenaline terlawas, tapi toh panitia tidak merestui dan lebih memilih musik cupu (kecuali Pas en Netral) yang disajikan kepada puluhan ribu penikmat musik

sempat berharap Koil naik panggung di PRJ seperti dua tahun lalu, gw masih ketawa kalau inget pengalaman itu, Koil manggung bawa penari latar yang seksi abis en pake kostum minim spandex hitam dan goyang striptease, kontan beberapa keluarga yang sebelumnya (entah mereka mudeng ato ngga dengan musiknya Koil - semoga sih mudeng ya dengan lirik dan musiknya yang jenius) nonton Koil langsung melotot!! hua3 gw masih inget ekspresi seorang bapak yang lagi ngegendong anaknya begitu ngeliat Otong dikerubutin penari-penari, abis itu dia balik badan dan bubar jalan, meski akhirnya Otong ngaku,''Jangan dianggap serius, ini cuma bagian dari pertunjukkan,'' katanya seusai konser. tapi dia ga liat betapa ngilernya anak2 sepantaran SMP di bawah panggung ketika penari-penari itu mendekati mereka! alhasil, Koil ga muncul lagi di PRJ hua3

album yang baru masih dahsyat buat gw pribadi, liriknya masih jenius (heran ya, kenapa ga ada pemusik lain yang bisa bikin lirik seperti ini??), nuansa musiknya masih gelap,

meski dibagiin gratis, kalau ada toko yang jual CD atau kasetnya gw yakin masih akan diburu tentaranya,

coba dengerin Koil di kamar, di walkman atau MP3, sendirian, cuma nyalain satu lampu meja yang remang-remang, duduk rileks di sofa, merem, he3 bisa kalah semua narkoba, percaya deh! atau dia bisa dibandingin sama pengalaman paling spiritual yang pernah dirasakan, bedanya, dengan Koil, pengalaman itu bisa selalu datang dengan sederhana dan tenang

thanx guys buat lirik dan musiknya!


''tak ada gunanya kita mencari mengejar mimpi
kau berpacu memburu langit yang sangat tinggi
dan apa yang kita jalani dan hadapi
ketika semua membuatmu buta mengosongkan jiwa
dan akhir yang bahagia

melayani waktu melewati rinduku
menyanjung harapan menghentikan perang
doakanlah yang telah tiada
semua ini kulakukan selama waktu berlalu''

“Aku tak butuh pengertian
Aku bukan bagian dari sejarah yang kau tulis, kau bingkiskan untuk anak cucu
Aku tak butuh penjelasan
Aku bukan bagian dari kebanggan yang membuat kita tak berpenghasilan
Nasionalisme adalah tempat tinggal yang kita bela
Nasionalisme untuk negara ini adalah pertanyaan
Nasionalisme bentuk negara ini menuju kehancuran
Nasionalisme menuntun bangsa kami menuju kehancuran”

''mengatasi keputusasaan
menyakiti diriku sendiri
aku memacu seluruh waktu memburu jantungmu
dan semua yang kujalani dan harapkan ternyata membuat kecewa
pil pahit kegelapan akan mematikan rasa jiwa raga
luka luka luka luka
aku lupa luka luka luka luka
menangis meratapi kebodohan memahami dan tinggalkan mimpi
aku melantun kan
lagu pedih menutup hatiku
dan semua yang kuberikan dan serahkan dan pinjamkan takkan kuminta sebening kehampaan doa menghambarkan luka ka ka ka ka''

Angkut, KB, dan Melepas Isolasi

Ada kebiasaan menarik yang dilakukan tiap karyawan Inalum bila mereka hendak keluar wilayah Paritohan. Bila ditemui warga sekitar yang menunggu mobil di pinggir jalan, maka karyawan Inalum wajib mengangkutnya. Bila tidak, sanksi perusahaan siap menimpa sang karyawan.

Lho kok bisa? Wajar saja, di daerah Paritohan memang tak punya taksi alias angkot untuk membawa warga sekitar keluar wilayah. Sarana transportasi massal hanyalah bus berukuran sedang milik Inalum. Karena jumlahnya terbatas, maka bus itu jarang sekali lewat. Paling pagi bus gratis itu berangkat sebelum matahari terbit, dan menjelang sore sudah tidak lagi mengangambil penumpang. Jalanan Paritohan sangat lenggang.

''Kalau tidak membawa rombongan ini, mobil kami harus berhenti dan mengangkut mereka,'' tutur S Sijabat, senior Manajer Public Relation PT Inalum, sembari menunjuk serombongan ibu berpakaian batik tenun berwarna cerah yang sedang menunggu di pinggir jalan. Mereka membawa banyak bawaan. Tampaknya ingin ke suatu pesta adat, entah dimana.

Tak jauh dari tempat itu, berdiri Desa Pintu Pohan Meranti. Desa ini tepat berada dibalik kemegahan Kompleks Perumahan Stasiun Pembangkit Listrik Tenaga Air Siguragura, Paritohan,Kabupaten Toba Samosir, Sumut.

Dibilang megah karena sarana dan prasarana di kompleks itu sangat bertolak belakang dengan desanya. Desa Meranti adalah satu ruas jalan berdebu yang kering dengan perumahan penduduk berjajar tak rapi di sepanjang jalannya. Rata-rata rumah di desa yang dihuni oleh sekitar 200 kepala keluarga itu terbuat dari kayu beratapkan seng. Tiap rumah memiliki antena parabola yang lucunya, lebih jernih menangkap siaran TV3 asal Malaysia ketimbang siaran televisi nasional.

Sementara kompleks perumahan karyawan Inalum adalah rumah mungil tertata rapi di pinggi jalan yang berbukit dengan rumput hijau yang dicukur pendek. Pohon rindang dengan semak yang rimbun. Jalanan dengan marka jalan di tiap simpangan bertuliskan 'Stop'.

Ada lagi yang unik soal desa ini, yaitu banyaknya anak kecil. Secara iseng kami bertanya ke Pak Simanjuntak, yang juga menyertai kami plesiran. ''Kok banyak anak kecil ya Pak? Wah ini pasti banyak waktu luang penduduknya,'' kataku sambil nyengir.

Ternyata jawaban Pak Simanjuntak senada denganku. Saking banyaknya waktu luang mereka, rata-rata anak dalam satu keluarga bisa mencapai diatas tiga orang. Oleh sebab itu, di desa setempat, pemerintah menggerakkan program KB untuk menekan jumlah pertumbuhan. ''Saya salah satu penyuluh KB-nya,'' celetuk Pak Simandjuntak.

Untungnya, Pak Simandjuntak ini tidak tertular kebiasaan setempat. Meski tinggal di kompleks perumahan yang memang lenggang, toh anaknya hanya semata wayang.

Tak begitu jauh dari desa tersebut, tepat di depan sekumpulan menara listrik yang berfungsi sebagai medan saklar pembangkit listrik Siguragura, sebuah jalan selebar sekita tiga meter baru saja selesai dibangun Inalum. Jalan itu mengarah ke puncak bukit dibalik stasiun pembangkit listrik. Tempat Desa Pintu Pohan Dorok berada.

Jalan yang dibangun dengan biaya Rp 500 juta tapi hanya sepanjang tiga kilometer itu adalah satu-satunya jalan yang bisa dilalui kendaraan bermotor penduduk desa yang ternyata belum dialiri listrik itu. Diharapkan, setelah jalan tembus yang meliuk-liuk sampai ke puncak bukit tuntas, yaitu tahun depan, Inalum bisa mengaliri listrik pertama kalinya ke sana.

Wisata PLTA

Mobil Kia Pregio keluaran 2006 berwarna perak berlogo PT Indonesia Asahan Alumnium (Inalum) di pintu depannya, melesat dengan kecepatan 80 kilometer per jam. Diatasnya, langit pagi berwarna biru tertutup awan. Udara cukup sejuk sehingga pendingin udara tak digunakan. Minibus itu meliuk-liuk dan naik turun di aspal yang mulus tanpa lobang.

Sebentar-sebentar mobil oleng ke kanan, sejurus kemudian banting kemudi ke arah kiri. Terus begitu berulang kali. Di sisi jalan, jurang berwarna hijau dipenuhi pepohonan, siap menyambut bila supir lengah. Di sisi lainnya, pahatan tebing berwarna cokelat dan abu-abu bercampur dengan dahan dan ranting yang menjuntai.

Raungan mesin diesel mobil terdengar sampai di kabin penumpang. Tempat kami, enam wartawan media nasional, tengah terkocok-kocok perutnya akibat liukan mobil. Ahad (29/7) pagi, pengemudi Kia itu mendapat perintah untuk secepat mungkin membawa kami ke Stasiun Pembangkit Listrik Tenaga Air Siguragura, Paritohan,Kabupaten Toba Samosir, Sumut.

Mata kami tak lepas dari jendela mobil. ''Masya Allaaahh,'' seru Andi, wartawan yang bekerja di biro Medan dari salah satu koran tertua di Indonesia, takjub. Ia kagum melihat pemandangan di sekelilingnya.

Bukit - bukit menjulang dengan puncak pohon yang masih hijau rindang diselingi sejumlah air terjun. Cipratan air berwarna putih terpancar dari sisi-sisi dinding bukit yang berwarna cokelat kemerahan.

Ada yang cukup tinggi air terjunnya, ada juga yang kecil. Air terjun terbesar, Siguragura, yang menghasilkan debit air terbanyak dari Sungai Asahan, digunakan sebagai penggerak PLTA. Tapi kini Siguragura telah mati. Ia tak lagi terlihat sebagai air terjun karena cuma bisa 'ngucur'.

PLTA Bawah Tanah
Tepat disamping air terjun terbesar inilah stasiun pembangkit listrik Siguragura berdiri. Sekitar 23 kilometer dari mulut Danau Toba. Kompleks bangunannya terbagi dua. Pertama adalah stasiun kontrol. Kedua adalah medan saklar luar dengan belasan menara listrik berwarna perak dan kabel hitam yang menjuntai melintasi bukit-bukit.

''Lho, mana PLTA-nya?'' kataku dalam hati. Dari luar, yang namanya stasiun kontrol itu tidak mengikuti gambaran awam tentang PLTA maupun bendungan. Kantornya berbentuk kubus dicat putih pudar, berdampingan dengan bangunan silinder dicat putih yang merupakan ujung dari terowongan lift.

Di lobby, Setiabudi Maslim, senior Manager Administration Power Plant Inalum, menjelaskan pada kami bagaimana cara kerja PLTA yang ternyata ada dibawah tanah! Turbin PLTA-nya beserta terowongan air dan transformator listrik tertanam di 200 meter dari tempat kami berdiri. Siguragura adalah pembangkit bawah tanah pertama di Indonesia. Ia dibangun pada Mei 1978 dan tuntas tiga tahun sesudahnya.

Pak Budi, begitu kami memanggil Setiabudi Maslim, menunjukkan bagian-bagian dari maket PLTA Siguragura. Bagaimana air Danau Toba yang mengalir ke Sungai Asahan dan menjadi air terjun dimanfaatkan untuk tenaga listrik.

''Air yang sudah dialihkan oleh pipa besar ditembakkan ke dalam lempengan kisi-kisi baja,'' katanya. Bentuknya lempengan itu seperti pelek sepeda motor yang dipasang melintang dengan lebar sekitar tiga meter. Kekuatan air yang ditembakkan mencapai sekitar 25 kilogram per detik.

Akibat air, lempengan tebal itu lantas bergerak. Gerakannya memutar poros turbin yang berwarna abu-abu metalik dengan kencang. Putaran turbin itulah yang menghasilkan listrik yang dikumpulkan di pucuknya.

Tapi bentuk mainan kadang tak tepat mewakili gambaran sesungguhnya, yang ternyata sangat megah. Inalum mengajak kami melihat bagaimana mesih itu sesungguhnya. Maka, turunlah kami dengan lift buatan 1980-an sedalam 200 meter. Seorang staf bergurau soal lift itu.

''Lama turunnya sekitar 1,5 menit. Cukup baik untuk lift tua yang harus dirawat tiap tiga bulan sekali. Pernah waktu itu kami mengulur waktu perawatannya, eh liftnya mogok di tengah jalan, butuh waktu lama mengeluarkan penumpangnya, yang saat itu para eksekutif perusahaan,'' katanya sembari terkekeh.

Aku dan Yusuf, wartawan dari sebuah koran bisnis di Jakarta, saling berpandangan dan tersenyum kecut mendengar leluconnya yang tidak lucu namun justru menakutkan itu. Kami jadi terdiam ditengah perlahannya lifft menuruni perut bukit. Lift tua itu tak memiliki panel nomor lantai di atas pintu. Tekanan udara yang berbeda, karena kedalaman, mempengaruhi gendang telinga kami.

Begitu pintu lift terbuka, udara pengap merebak. Bau logam dan pelumas, mengingatkan pada bengkel mobil, merasuk ke hidung.

Lalu terdengar suara dengungan lembut, seperti ribuan lebah, memenuhi ruangan seluas dua lapangan tenis itu. Ruang stasiun pembangkit listrik Siguragura ini berukuran panjang 93 meter, lebar 18 meter, dan tinggi 36 meter.

Kami harus menggunakan helm untuk masuk stasiun Siguragura yang memiliki empat unit generator berkapasitas 71,5 MW. Di salah satu sudut, tampak generator yang sedang turun mesin. Dibongkar total untuk perawatan. Meninggalkan lubang di lantai dasar stasiun sedalam tiga meter dan berdiameter sekitar lima meter.

Disudut yang lain, turbin masih berjalan. Suaranya lembut dan getarannya, seperti iklan mobil, ''Nyaris tak terasa,''. Secara fisik, turbin itu tidak terlihat, karena ia terbenam di dasar lantai yang berwarna jingga.

Pak Simanjuntak, salah satu manajer Inalum, yang menyertai rombongan kami, bercerita soal PLTA kebanggannya ini.

''Pernah datang seorang ahli PLTA asal Prancis kesini. Dan ia kagum masih ada PLTA berumur 30 tahun yang kinerjanya masih baik seperti ini. Suaranya lembut dan getarannya sangat halus. Salah satu ciri PLTA yang baik ya dua itu, dia kagum atas Indonesia,'' tutur pria berkacamata tebal ini.

Rombongan lalu bergerak ke bawah. Kami meninjau ruang turbin yang terletak di ujung ruangan. Dalam ruangan itu banyak sekali mesin-mesin seukuran lemari baju berwarna abu-abu dengan panel dan tombol warna-warni yang dikelilingi pagar kawat. Satu tanda terpampang di pagar itu, yakni gambar tengkorak dan kilat, alias 'awas sengatan listrik tegangan tinggi'.

Yang namanya ruangan turbin adalah satu kubus dengan silinder ditengahnya. Silinder itu berputar terus menerus, selama 24 jam, dengan kecepatan 330 - 560 RPM untuk menghasilkan listrik. Deru mesin yang terputar akibat air itu sangat besar. Harus teriak supaya bisa terdengar.

Tak berapa lama di ruang turbin, kami pun menyudahi kunjungan di Sigura-gura. Rombongan keluar lewat jalur kedua, yaitu lewat terowongan bukit. Terowongan itu menghujam ke dasar PLTA dan muncul di bukit dibawah stasiun.

Dinding terowongan adalah pahatan batu kasar bekas dibor atau diledakkan dengan dinamit untuk membuat jalan. Langit-langitnya, sebagai penahan, diberi jala-jala dari kawat yang ditanam dengan pasak.

Keluar dari terowongan juga suatu pengalaman yang unik. Cahaya hanya ada dari ratusan lampu neon berwana putih di dinding. Kelok-kelok terowongan yang gelap yang mampu menampung dua mobil sekaligus memberikan nuansa aneh. Seperti dalam labirin tanpa ujung. Sampai akhirnya secercah cahaya putih silau menyambut diujung sana. Mulut terowong terbuka menganga.

Bendungan Tangga
Apa jadinya bila warga Sumut sanggup menghalau derasnya air Sungai Asahan dan membeton diantara dua lembah hijau yang terjal dan sempit? Jawaban pastinya cuma satu, yakni Bendungan Tangga! Horas Bah!

Bendungan Tangga terletak empat kilometer dibawah Siguragura. Air yang sudah memutar turbin Siguragura kembali dialirkan ke Sungai Asahan dan dimanfaatkan kembali untuk menggerakkan turbin di stasiun pembangkit listrik Tangga.

Bendungan tangga memiliki panjang 125 meter dengan tinggi 82 meter. Ia sanggup menahan volume air sebesar 53 ribu meter kubik. Tangga adalah bendungan bentuk busur pertama di Indonesia. Ia mulai dibangun pada Mei 1978 dan tuntas empat tahun sesudahnya.

Begitu mobil memasuki pelataran parkir bendungan, kami ibarat anak kecil yang girang melihat mainan baru. Seluruh wartawan bergegas turun untuk melihat bendungan yang gambarnya sempat menghiasi uang kertas pecahan Rp 100 di era 1990-an. Aku malahan setengah berlari, tak sabar untuk menikmati bendungan itu. Diatasnya, dibangun anjungan dengan pagar setinggi dada orang dewasa untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan.

Pemandangannya betul-betul indah. Bendungan Tangga tepat dimulut lembah terjal dan sempit. Dua aliran Sungai Asahan berwarna hijau lumut mengalir dibelakangnya. Bendungan Tangga berwarna krem dan terbuat dari beton solid. Di sisi yang merapat ke lembah tersedia tangga turun kebawah.

Ia memiliki tiga pintu air tempat mengontrol volume air. Air selanjutnya turun secara bertingkat-tingkat, layaknya tangga. Sang pembuat bendungan memapas dengan ketepatan sudut yang mengagumkan, menjadikannya sebuah tangga raksasa yang makin jauh ke hilir makin tinggi.

Berbeda dengan Siguragura, stasiun pembangkit listrik Tangga berada di permukaan tanah. Ia memiliki empat generator yang masing-masing berkapasitas 79,2 MW. Air yang ditampung di bendungan ini dialirkan melalui terowongan bawah tanah yang terletak disisi bendungan sepanjang 1.618 meter yang kemudian menggerakkan turbin.

Tak puas menatap dari anjungan, aku dan Andi mencari jalan turun ke bawah anjungan. Kami ingin semakin dekat dengan bendungan itu. Andi tidak membuang waktu dan langsung mengabadikan bendungan ke dalam kamera digitalnya.

Secara total, tenaga listrik yang dihasilkan oleh pembangkit Siguragura dan Tangga mencapai 426 MW dari kapasitas terpasang 603 MW. Bila tidak digunakan untuk pabrik alumnium yang berlokasi di Kuala Tanjung, listrik dua bendungan itu lebih dari cukup untuk menerangi sebagian wilayah Sumut dan NAD.

Namun karena pabrik alumnium butuh listrik untuk menghasilkan alumina yang bermutu, maka saat ini Inalum hanya memasok listrik 90 MW bagi kebutuhan Sumatera Bagian Utara. Jumlah ini sudah ditambah dari sebelumnya yaitu 45 MW.

Dari mana listrik mengalir? Di masing-masing stasiun pembangkit didirikan medan saklar. Bentuk bangunan medan ini adalah wilayah yang penuh dengan menara listrik tegangan tinggi yang menjulang dibalik bukit. Total menara itu sebanyak 271 unit.

Kabelnya harus sepanjang 120 kilometer, atau setara dengan jarak Jakarta - Bandung, menembus dan melintas pegunungan, perkebunan, dan dataran rendah yang sejuk. Ia melewati tiga kabupaten, yaitu Toba Samosir, Simalungun, dan Asahan. Di Kuala Tanjung, jaringan listrik milik Inalum ini bertetangga dengan jaringan milik PLN.

Bendungan Pengatur
Sudah puas? Ternyata belum. Kami masih bergairah mengunjungi satu bendungan lagi yang terletak di 14,5 kilometer dari mulut Danau Toba yang mengaliri Sungai Asahan. Namanya bendungan pengatur di Siruar. Bentuknya sederhana dengan hanya segaris beton setinggi 39 meter dan volumenya 27.400 meter kubik.

Biarpun sederhana, fungsi bendungan ini sangat strategis. Pak Budi menjelaskan,untuk menjamin kelancaran operasi pabrik peleburan alumnium, dibutuhkan tenaga listrik yang stabil. Listrik yang stabil sangat ditentukan oleh aliran air yang juga stabil. ''Inilah fungsi bendungan pengatur, ia mengatur berapa volume air yang akan melintas di Siguragura dan kemudian Tangga,'' katanya.

Di mulut bendungan, kami menemui sejumlah warga yang sedang asyik memancing. Mansyur Barus, wartawan koran sore dari Cawang, Jakarta Timur, langsung tergoda untuk mencoba memancing. ''Ayo lemparkan kailnya yang jauh,'' seru pria berbadan tambun ini lalu tertawa lepas.

Apa saja ikan yang berenang di air warna hijau itu? Menurut warga setempat, saat ini ikannya tinggal jenis Mujair. Itupun ukurannya kecil. Tadinya, jenis ikan yang ada di bendungan ini beraneka ragam. Tapi polusi yang mencemari air bendungan, konon akibat pabrik kertas di sekitar daerah itu, membuat keluarga ikan punah. Berita banyak ikan mati mengambang di Danau Toba memang sempat mewarnai media massa beberapa tahun belakangan.

Selepas bendungan ini, rombongan memutuskan untuk segera kembali ke Medan. Meski badan penat dan penuh keringat, rona senang terpampang di wajah kami. Tiga bendungan cantik dalam waktu kurang dari empat jam kami kunjungi. Ini baru namanya wisata PLTA di Sumut. Kembali kami berseru girang, horas bah!

Wednesday, July 4, 2007

Becak

Ahad (1/7) siang pergi ke nikahan temen satu angkatan arkeologi 1997, dini suryani alias asep, akhirnya setelah melanglang buana mencari jodoh mulai dari berbagai macam medium, makcomblang, ngecengin, ngedeketin, tembak langsung, cyberlope, si asep ni' menemukan belahanjiwanya, pria mitra kerja perusahaan tempat asep bekerja

nikahannya di bogor, tepatnya di kantor kecamatan (after all of the places!) bogor tengah. berhubung tak mau naik mobil dan berpotensi mendapat ambein seumur hidup bila naik motor dari kelapa gading ke bogor, maka bus adalah pilihan paling tepat ke rumah asep.

berangatlah daku dan sohibku dengan bus ac(yang tentu saja tak akan dingin) ke bogor. sialnya, kami lupa harus naik angkot apa di kota sejuta angkot itu. jadi ketika sudah sampai di terminal bogor yang ribet dan ruwet itu, aku telepon kawanku, yang sering ke rumah asep, aku sendiri selama 10 tahun berteman tak pernah ke rumahnya (memalukan juga sih, tapi dianya ga boleh kita jenguk, ya sudah!)

rutenya begini : dari baranangsiang naik 03 turun di ramayana - naik 06 turun di taman topi - naik becak ke kecamatan bogor tengah atau mau jalan kaki 2km? sudah tentu kami pilih rute tanpa ada jalan kaki, karena ini di kota bukan di dusun atau gunung.

ternyata, selain sejuta angkot, bogor juga kota seribu becak. banyak sekali becak bertebaran di pusat kota. sesampainya kami di stasiun bogor, bersebelahan dengan taman topi, sohibku dengan pede memanggil becak.

rute ke tempat kejadian perkara itu harus ditebus dengan lima ribu rupiah, bukan masalah, yang penting cepat sampai!kataku pada sohibku itu,

tapi sialnya, sohibku salah memberhentikan becak. bukan becaknya yang bermasalah tapi pengayuhnya yang sudah uzur. lha kami berdua ini badannya subur-subur. belas kasihan dan tak tega pun mewarnai raut wajah kami. subur vs uzur, duh gusti!

namun kami juga tak tega membatalkan pesanan becak, akhirnya dengan mengucap bismillah, kami naik ke becak mungil itu, karena subur2, pantatku hanya sanggup 1/4 mendarat di jok becak, sisanya tubuh sohibku. becak pun melaju lambat dan berderik2

sebetulnya nyaman naik becak. jauh lewat rileks ketimbang naik angkot. hanya saja betul apa yang dibilang gus dur ketika ia menjabat jadi presiden dan melarang becak di jakarta, becak itu melegalisasi perbudakan. di zaman mesin ini kok masih ada pengayuh yang mengayuhi orang lain, padahal ada mesin?

alasan itu terlintas di benakku ketika mendengar pengayuh becak kami terbatuk2 dengan menderu2. sial! makin terasa bersalah aku. di beberapa jalan yang menanjak, selepas pasar anyar, bahkan pak tua itu harus turun dan mendorong kami, yang montok2 ini dari belakang sepeda besinya.

dengan setumpuk perasaan tak tega namun harus sampai ke resepsi, akhirnya kami kuatkan hati untuk tetap menanggung malu terus naik becak itu. meski batuk pak tua terus merejang di belakang kami.

pada akhirnya, kami sampai ke lokasi. begitu melihat aku dan sohibku turun dari becak, kawan2ku yang sudah lebih dulu sampai tertawa ngakak melihat dua orang subur itu naik becak. wooy bayar lebih loh! teriak mereka
iya aku bayar lebih, sahutku, namun yang tercerabut hanya enam lembar uang ribuan, secepat kilat aku serahkan uang itu ke telapak tangan pak tua yang kasar dan cokelat terbakar matahari. aku malu melihat wajahnya.

bukan sekali ini aku naik becak. sewaktu pelatihan wartawan di bandung, juni tahun lalu, aku iseng2 naik becak dari hotel tempat kami menginap di savoy hooman sampai ke dago, kukira dekat ternyata buset jauh dan menanjak. lagi-lagi aku merasa tak enak.

walaupun tukang becaknya muda, tapi tetap saja ia ngos2an mengangkutku. dari kabin penumpang becak, malam itu aku mendengar deru nafasnya menggebu2. untung cuma aku seorang, apalagi dua orang, bisa aku khawatir jangan2 nanti bisa tewas kehabisan nafas tukang becak itu.

merasa tak enak, sehabis belanja di ominuum di jalan sultan agung, dago, aku minta ia mengantarku kembali ke savoy. sampai di hotel, tukang becak itu kuberi goban biar dia senang,

wajahnya tampak sumringah ketika menerima lembaran uang berwarna biru tua itu. bahkan ia berpesan, kalau mau jalan2 lagi cari saja saya di pinggir hotel ini, saya nongkrong disitu sepanjang hari.

aku mengangguk pelan dan berjanji tak akan melakukannya lagi di bandung. he3

tapi jauh sebelum bandung, tepatnya awal september 1999 aku pernah pula naik becak dengan pengalaman serupa, kali ini bersama adik kelasku yang tentu tubuhnya sama2 subur. kami dari jalan nusantara depok ingin ke kediaman kakak kelas yang ada di depok1

suit..suit tukang becak mendekat, setelah sepakat harga, dengan keisengan mahasiswa yang waktu itu cueknya selangit, kami sukses menyiksa si tukang becak,

bagaimana tidak? separuh perjalanan kami jalannya menanjak cukup curam. tak ada itu namanya mengayuh, tukang becak harus kerja dua kali, mendorong kami ke atas sambil tetap menahan becaknya tak melorot kebawah

bagaimana aku dan adik kelasku? kami berdua cekikikan di dalam kabin penumpang, sungguh keterlaluan kalau ingat masa itu, Tuhan, maafkan dosaku ya!!

Toko suamiistri

Sabtu (30/6) kemaren harus dateng ke lamaran sepupu. Berhubung dia udah yatim piatu en sodara terdeketnya cuma nyokap, ya jadilah kita berepot-repot ria sejenak. Dia en calon suaminye kristen, so pasti mereka ngundang pendeta buat ngeberkatin. Pendetanye cewe udah ibu-ibu, en menurut kabar pendeta keluarga tuh, jadi udah akrab.

dalam khotbahnya, si pendeta cerita kisah yang menarik banget, gini nih katanya : di suatu kota dalam satu negara yang antah berantah, hiduplah seorang jomblo (jomblo ini unisex ya, kasusnya bisa diterapin ke cowo ato cewe karena ceritanya emang bebas gender en sexis). seiring waktu, si jomblo makin tuwir, dia tambah khawatir, kok daku tak laku-laku, adakah salahku?

dalam satu perbincangan dengan mantan jomblo yang kebetulan adalah sahabatnya, terungkaplah resep manjur si mantan jomblo itu. konon kabarnya di kota sebelah yang tak jauh dari kotanya, ada sebuah toko mustajab yang bisa menyelesaikan masalah kejombloan. nama toko itu toko suamiistri.

tak mau buang waktu, bergegaslah jomblo kita ni' kesana. tak banyak yang ia bawa. hanya diri dan harta (uang en kartu kredit serta debet) maklum, kan tokoh kita ni' hendak belanja.

setelah menempuh perjalanan penuh harap-harap cemas akan bahagia, sampailah ia di depan pintu toko tu'. tokonya ternyata ruko, kaya di kelapa gading ato depok yang imbnya seakan-akan khusus ruko (saking banyaknya ruko disana sampe bosen!!). ada lima lantai ruko itu. tiap lantai warnanya beda en mencolok banget dari luar, jadi ceritanya eye catching gitu.

hendak masuklah jomblo kita ni', eiitss, sebelum masuk, matanya melirik ke selembar pengumuman di pintu toko. pengumuman yang bikin otaknya berputar dan sel-selnya yang kelabu (meminjam istilah alm tante agatha christie ) isi pengumuman itu adalah : 1jomblo yang mo masuk harus yakin 100 persen kalo dia mau masuk en dapet jodoh 2jodoh yang sudah dipilih tidak dapat dikembalikan 3tiap jomblo hanya boleh sekali seumur hidup masuk ke toko ini 4keluar harus lewat pintu belakang

tak pikir lama, teguhlah tekad jomblo kita ni' masuk. pintu ruko pun berderit, kriiieeet...bunyi bel di atas pintu berdering, kleennteeenng.. ternyata ruangan dalam ruko kosong melompong. celingak-celinguk, jomblo kita melangkah perlahan sambil memanggil empunya ruko. tetap tak ada orang.

di sudut terdalam dari ruangan itu ada tangga ke atas. di dinding samping tangga itu ada tulisan : jomblo silahkan naik ke lantai 1. dengan semangat plus kecurigaan beranilah jomblo kita ni' naik ke lantai1. sesampainya dia di awal lantai, ada papan pengumuman dengan tulisan yang besar-besar berbunyi : lantai ini menyediakan suami/istri yang baik dan punya pekerjaan tetap. silahkan masuk!

waaahh... pikir jomblo kita, ini yang daku cari, suami baik plus ga nganggur, ia hendak melangkah masuk ke dalam pintu di lantai satu itu, tapi ia sejenak berhenti dan berpikir, apa cuma ini keinginanku cari belahan jiwa?

lalu sudut matanya menangkap anak tangga di sudut samping lantai1, arahnya ke lantai2, penasaran dan tak puas dengan pengumuman di lantai1, nekadlah jomblo kita ni' naik ke lantai2, sesampainya di mulut ruangan, ada papan pengumuman lagi bertuliskan : lantai ini menyediakan suami/istri baik, punya pekerjaan tetap en sayang anak kecil.

bah ini dia impian setiap jomblo, pasangan yang sayang anak, pikir jomblo kita ni', tapi bukannya segera masuk ke ruangan di lantai2, jomblo kita malah makin penasaran dengan apa yang akan disediakan di lantai3, jangan-jangan lebih sempurna dari ini?

karena nyali baja, dengan cepat tokoh kita tu' melesat ke lantai3, kali ini alasannya hanya satu, penasaran. benar apa yang ia pikirkan, di lantai3 ni tawarannya makin menggiurkan, pengumuman itu berbunyi : lantai ini menyediakan suami/istri yang baik, berpenghasilan tetap, sayang anak, dan tampan.

alaaamaaaakkk!!! mimpi apa aku semalam? kata si jomblo kita sambil bingung. ini dia yang aku cari, tegasnya dalam hati. siapapun pasti mau punya pasangan macam ni'.

tapi lagi-lagi otaknya tak seirama dengan hati dan kaki. alih-alih menyelesaikan status kejombloannya dengan masuk ke ruangan lantai3, kakinya malah melangkah menyisir dan naik lantai4, apa yang aku pikirkan, kata tokoh kita tu' mungkin di lantai berikutnya ada jodohku yang lebih mantap, ia teguhkan keyakinan dalam diri.

dengan perlahan, naiklah ia ke lantai4, lagi-lagi pengumuman di lantai ini menggiurkan : lantai ini menyediakan suami/istri yang baik, punya penghasilan tetap, sayang anak kecil, tampan, dan kayaraya.

INI DIA JODOHKU! pekik tokoh kita, ini ruangan sempurna untukku, tapi kembali sarafnya tak sesuai kesadaran. ia makin majenun. bukannya segera masuk, jomblo kita malah duduk di lantai di depan pintu, ia bingung setengah mati,

sudah empat lantai ia cambangi, tiap lantai merayu hatinya, tiap lantai menyediakan kejutan yang menggembirakan jiwanya, sampai kapan ini berakhir? simpul-simpul neuronnya kembali bergejolak, seperti menerima sengatan listrik, pasti di lantai terakhir ini kejutan terbesar jodohku, harap tokoh kita.

akhirnya, seperti tiga lantai terakhir, lantai4 pun ia tinggalkan. kakinya tegas melangkah ke lantai terakhir. tempat ia gantung asa akan belahan jiwanya seumur hidup. dari bawah tangga, lantai terakhir itu memang lebih berkilau. banyak sinar warna-warni.

satu per satu tangga dititi oleh tokoh kita ni', ia ingin lantai5 menjadi surprise terbesar di hidupnya, setelah baik, berpenghasilan tetap, sayang anak kecil, tampan, dan kayaraya, apalagi yang bisa diharapkan oleh jomblo macam aku ni' katanya.

sesampainya di depan lantai5, ia angkat kepalanya yang dari tadi menunduk, takut membaca tulisan di papan pengumuman. tulisan hitam tebal itu berbunyi : SELAMAT!!! ANDA PENGUNJUNG TOKO YANG KE 234.995.678.223.567.234 YANG TIDAK MENDAPAT JODOH SATUPUN KARENA TERLALU RAKUS HARAPAN. SILAHKAN KELUAR LEWAT PINTU BELAKANG!

hueeeee.... :D

Thursday, June 28, 2007

Banten dari Masa ke Masa

Banten tidak hanya terkenal sebagai salah satu kerajaan bercorak Islam pertama di Jawa Barat, maupun sebagai pusat niaga setelah Malaka dikuasai Portugis pada 1511. Tidak. Sejarah Banten jauh lebih kaya dari itu. Dalam buku Ragam Pusaka Budaya Banten, arkeolog dan sejarawan mencatat Banten sudah ditinggali sejak zaman purba.

Salah satu buktinya adalah ditemukannya artefak berupa alat batu di situs Cigeulis, Pandeglang. Diperkirakan, alat-alat berupa kapak sederhana dari batu itu digunakan untuk berburu dan mengumpulkan makanan. Selain kapak, di masa selanjutnya juga ditemukan beliung persegi. Bentuk yang sama masih digunakan suku asli Papua kini.

Selain itu, juga ditemukan tinggalan semasa masyarakat Banten masih menyembah roh nenek moyang, seperti menhir. Salah satu kompleks menhir di Banten ada di sekitar lereng Gunung Pulosari, Kabupaten Pandeglang. Situs bernama Sanghyang Heuleut itu berdekatan dengan arca yang dijuluki Sanghyang Dengdek.

Banten juga terpengaruh kebudayaan yang mengambil latar agama Hindu – Buddha. Diduga, pengaruh ini sudah masuk ke Banten sebelum abad ke-5 dengan ditemukannya prasasti Munjul yang berhuruf India kuno (Palawa) dengan bahasa Sansekerta. Isinya ternyata mengatakan daerah Munjul menjadi salah satu daerah kekuasaan Raja purnawarman dari kerajaan Tarumanegara, Bogor.

Sejumlah arca juga turut ditemukan di sekitar Banten. Arca seperti Ganesha, Siva, dan Durga yang sudah tidak utuh lagi. Lalu ada arca sapi atau nandi, yang dikenal sebagai wahana atau kendaraan Wisnu, salah satu dewa dalam agama Hindu.

Yang cukup unik adalah penemuan genta pendeta asal situs Salangsari di lereng Gunung Pulosari. Genta ini terbuat dari perunggu dengan ornament hiasan yang raya. Tak luput juga disebutkan adanya situs Gua Pertapaan Banten Girang

Barulah kemudian budaya bercorak Islam masuk di pesisir Banten dan meninggalkan sejumlah situs megahnya. Selain Surosowan, Kaibon, dan Masjid Raya Bante, sejumlah situs menarik lainnya yang tak jauh dari kompleks Banten Lama adalah Masjid Kasunyatan, Masjid Pecinan, Masjid Kenari, Jembatan Rante (ini seperti Jembatan Kota Intan di daerah Kota Tua, Jakarta), situs Danau Tasikardi, wihara Avalokitecvara dan benteng Speelwijk yang terkenal itu.

Plesiran ke Banten Lama : Dari Keraton 'Air' sampai Menara 'Naik Turun'

Udara khas pesisir pantai yang panas dan kering langsung menyengat ketika aku baru turun dari angkutan kota di kawasan Banten Lama (Old Bantam – jika kita merujuk pada sumber – sumber tertulis masa lalu), Serang, Jawa Barat, awal bulan lalu. Matahari tengah berada di puncak siang. Cuaca Banten terik.

‘’Belum berubah,’’ kataku dalam hati. Terakhir kali aku ke Banten Lama adalah 10 tahun lalu, bersama rombongan Keluarga Mahasiswa Arkeologi (KAMA) jurusan Arkeologi Universitas Indonesia. Kami mengadakan pelatihan kunjungan situs kala itu. Kali ini, aku berniat keliling Oud Bantam (biasa disebut dalam buku-buku tua bahasa Belanda) kembali.

Di dekat tempat pemberhentian angkot, nampak bekas-bekas kemegahan situs Keraton Kaibon. Keraton ini tadinya tempat tinggal ibunda sultan penguasa Banten. Kaibon malah diambil dari kata ka-ibu-an. Dibangun semasa Sultan Syafiuddin (memerintah sekitar 1809 – 1815).

Gapuranya yang tinggi dan berwarna putih menyembul ditengah-tengah reruntuhan dinding keraton. Salah satu kekhasan gapura di Kaibon adalah bentuknya yang enyerupai sayap bertumpuk-tumpuk. Setelah dihancurkan Belanda pada 1832, Kaibon terasa lenggang siang itu.

Aku ditemani karibku, arkeolog yang bekerja di salah satu instansi pemerintah di Banten, Bayu Aryanto, untuk plesiran di situs Banten Lama. Setelah membayar ongkos angkot delapan ribu rupiah untuk dua orang, kami bergegas memasuki pusat kota Banten Lama yang terletak sekitar lima ratus meter dari pemberhentian tadi. Samar – samar terdengar suara adzan zhuhur berkumandang di sekeliling kami.

Pergi ke Banten Lama berarti menjumpai dua situs terkenalnya, yaitu Keraton Surosowan dan Mesjid Agung Banten beserta menaranya. Keraton Surosowan adalah situs yang pertama kali terlihat ketika memasuki kawasan Banten Lama.

Dindingnya tinggi, lebih dari dua meter dengan lebar sekitar tujuh meter, berwana cokelat. Sangat kontras dengan bangunan rumah penduduk yang masih ada yang terbuat dari gedek dan warung makanan di sekitarnya. Surosowan dikeliling oleh kanal-kanal sungai yang sebagian masih mengalir.

Sebagian besar bangunan di Surosowan dibangun dari bata yang disemen dengan campuran karang, pasir, dan serpihan-serpihan biota laut seperti kerang. Tak jarang di beberapa bagian runtuhan bangunan kita bisa melihat adukan campuran tersebut. Kualitas hasil campurannya boleh diadu dengan cor beton jaman sekarang,karena memang kokoh sekali.

Tapi jika membayangkan Surosowan layaknya keraton di Jawa Tengah, yaitu Yogyakarta dan Solo, maka kita bakal kecele. Surosowan tak ada mirip-miripnya dengan dua keraton itu. Surosowan lebih mirip sebuah benteng Belanda yang kokoh dengan bastion (sudut benteng yang berbentuk intan) di empat sudut bangunannya.

Total luas bangunan berdenah persegi panjang ini sekitar tiga hektar, bangunan di dalam dinding keraton tak ada lagi yang utuh. Ia hanya menyisakan runtuhan dinding dan pondasi kamar-kamar berdenah persegi empat yang jumlahnya puluhan.

Diperkirakan, banyak bagian bangunan di dalam keraton terbuat dari kayu. Salah satu bekasnya bisa terlihat dari umpak atau kaki pilar sebagai pondasi meletakkan tiang bangunan. Umpak macam ini tersebar di tengah keraton.

Sejarah mencatat nama Keraton Surosowan muncul pada abad ke – 17. Tapi sebagai bangunan, Surosowan sudah ada jauh sebelum itu. Pembangunannya melalui beberapa tahap dari 1552 - 1570, termasuk melibatkan ahli bangunan asal Belanda, yaitu Hendrik Lucaszoon Cardeel.

Pengaruh Cardeel diperkirakan merubah fungsi keraton menjadi lebih ke benteng. Pada awalnya, hanya ada satu lapis tembok keraton. Tapi setelah Cardeel datang, didirikanlah tembok lapis kedua, yang berperan sebagai tembok penahan serangan. Diantara kedua lapis tembok itu diisi dengan tanah yang padat. Kita bisa naik ke atas dinding ini dan bekeliling Surosowan.

Aku dan Bayu memasuki Surosowan dari pintu utara. Keraton yang didirikan Sultan Maulana Hasanuddin (anak dari Syarif Hidayatullah, dedengkot yang mendirikan cikal bakal Jakarta, asal Cirebon) ini memiliki tiga gerbang masuk. Masing-masing terletak di sisi utara, timur, selatan. Namun pintu selatan telah ditutup dengan tembok, entah apa pasal.

Bayu menerangkan, yang unik soal gerbang di Surosowan adalah bentuknya melengkung dengan atap setengah silinder terbuat dari bata kokoh. ‘’Apa uniknya? Perasaan kok biasa-biasa saja,’’ tanyaku pada dia.

Jika kita melihatnya dalam konteks kekinian memang mungkin tak ada yang aneh. Tapi Surosowan adalah bangunan yang didirikan dengan beragam fungsi. Salah satunya adalah benteng. Tujuan didirikan benteng adalah melindungi penghuni yang didalam dari serangan orang di luar.

Kalau prinsip ini diterapkan ke gerbang melengkung Surosowan baru pas. Karena dengan dibuat melengkung, orang luar tidak bisa melihat langsung ke dalam keraton. Pandangannya akan terhalang tembok melengkung itu.


Keraton ‘Air’
‘’Surosowan adalah keraton air,’’ celetuk Bayu sambil tertawa, ketika kami sudah memasuki bagian dalam keraton. Pria berkacamata tebal dengan postur sedang dan jenggot kasar ini menunjuk ke bagian tengah keraton. Disana terlihat sebuah bangunan kolam yang diisi air berwarna hijau, yang didapat dari pengaruh ganggang dan lumut.

Keraton air? Istilah ini menandai banyaknya ruang di dalam keraton yang berhubungan dengan air atau mandi-mandi, alias petirtaan. Salah satu yang terpopuler adalah bekas kolam taman, bernama Bale Kambang Rara Denok, yang ditunjuk Bayu itu.

Kolam Rara Denok berbentuk persegi empat menyerupai setengah lapangan bulutangkis, dengan panjang 30 meter dan lebar 13 meter serta kedalaman kolam 4,5 meter. Kolam ini dibangun dengan menggunakan bata.

Di panas terik itu Aku membayangkan, dulunya para puteri sultan dan dayang-dayangnya dengan hanya lilitan selembar batik di tubuhnya mandi-mandi dengan segar di dalam kolam itu. Mereka saling mencipratkan air. Sementara sang sultan atau pejabat keraton lainnya dengan santai menonton dari atas kolam. Walaah!

Lamunan sekilas itu tiba-tiba buyar, karena datang tiga orang anak kecil, tampaknya penghuni sekitar ke Rara Denok. Tanpa mempedulikan sekitar, mereka langsung membuka pakaian dan byuurr, berenang di kolam yang entah airnya bersih atau tidak itu. Aku dan Bayu tertawa ngakak melihat kepolosan mereka.

Kolam air di Surosowan adalah salah satu bentuk ruangan yang paling mudah dikenali karena arsitekturnya tidak jauh berbeda dengan kolam renang saat ini. Di sisi kolam umumnya terdapat tangga turun. Di dinding kolam juga masih menyisakan lubang-lubang tempat mengalirnya air.

Masalah air di Surosowan memang sengaja dibuat canggih. Bahkan kesultanan Banten sengaja memisahkan air untuk keperluan kerajaan dengan air untuk rakyat jelata. Ada dua sumber air di Surosowan, yaitu sumur dan Danau Tasikardi yang terletak sekitar dua kilometer dari sebelah tenggara Surosowan.

Jangan salah, Tasikardi adalah danau buatan seluas 6,5 hektar dengan pulau ditengahnya. Dasar danaunya bahkan dibuat dari ubin bata. Ia dibangun oleh Sultan Maulana Yusuf untuk rekreasi dan ibadah. Tasikardi juga berfungsi sebagai penampung air Sungai Cibanten untuk disalurkan dan dibersihkan sebelum masuk ke Surosowan untuk selanjutnya dipakai mandi dan keperluan sehari-hari.

Proses penjernihannya pun canggih. Sebelum masuk ke Surosowan, air yang kotor dan keruh dari Tasikardi disalurkan dan disaring melalui tiga bangunan bernama Pengindelan Putih, Abang, dan Emas. Di tiap pengindelan ini derasnya debit air diproses dengan mengendapkan dan menyaring kotoran.

Air selanjutnya mengalir ke Surosowan lewat serangka ian pipa panjang yang terbuat dari tanah liat dengan diameter 2 – 40 sentimeter. Tebak siapa yang punya ide canggih menyaring air ini? Lagi-lagi Cardeel.

Setelah dijernihkan, maka status air di dalam keraton berbeda dengan status air di luar keraton. Air didalam keraton bisa jadi lebih sakral ketimbang kawannya di luar keraton. Masyarakat Banten Lama terbiasa mengambil air dari sungai atau dengan sumur.

Ini pula yang melatari mengapa hingga kini sejumlah orang rela wudhu dengan air dari sumur atau reruntuhan kolam di dalam keraton. Kami berjumpa dengan salah satu pemuda yang baru saja wudhu dari kolam di dinding selatan keraton. Ia tampak khusyu sambil komat-kamit membaca doa ketika berpapasan dengan kami.

Siang itu, banyak orang bercengkerama di dalam Surosowan. Beberapa keluarga dan muda-mudi menggelar tikar di sisi barat keraton, yang dinaungi beberapa pohon rindang. Mereka terlihat terpekur menikmat sisa kejayaan Surosowan yang pernah dua kali diluluhlantakkan oleh Belanda, yaitu pada 1680 - 1863.

Sayangnya dibeberapa tempat masih terlihat ceceran sampah, apa itu bekas bungkus makanan, botol minuman, atau juga puntung rokok. Sampah terkumpul di sekitar pohon yang ada di sisi barat keraton, terutama di pojok dinding. Tidak adanya tempat sampah didalam keraton membuat orang seenaknya saja mengotori bangunan bersejarah ini.

Puas dan kepanasan berkeliling keraton, dari atas hingga bawah, akhirnya aku dan Bayu keluar. Di parkiran di depan Surosowan, kami melihat banyak mobil berpelat nomor Jakarta dan Serang. Karena hari itu adalah Jumat, dan libur pula, bisa ditebak niatan para wisatawan ke Banten Lama.


Menara ‘Naik Turun’
Tujuan selanjutnya adalah Masjid Agung Banten, yang sudah berdiri ketika Belanda pertama kali nongol di Banten pada 1596. Banyak bangunan di dalam kompleks masjid ini seperti makam sultan-sultan, menara masjid, tiyamah (bangunan dua tingkat dengan arsitektur Eropa. Dulunya digunakan untuk ngumpul-ngumpul membahas masalah keagamaan dan social), kolam wudhu, dan pawestren (bangunan untuk jamaah perempuan), dan istiwa atau jam matahari penunjuk waktu shalat.

Kami tidak sempat berkeliling seluruh tempat karena saat itu sudah masuk waktu shalat Ashar. Jadi kami hanya duduk-duduk sejenak di kaki menara. Suasana masjid yang beratap tumpang lima ini sangat hiruk pikuk.

Di halaman menara, dua keluarga menggelar tikar untuk duduk-duduk dan tidur-tiduran. Beberapa pedagang kakilima yang berjualan es cendol malah masuk di halaman menara. Menyeruput es cendol ditengah terik matahari Banten bisa jadi satu kenikmatan tersendiri. Segar pastinya.

Di kolam wudhu, tepat didekat tangga naik masjid, sejumlah anak kecil malah cuek berenang-renang. Untung sudah tidak ada orang yang wudhu disitu, karena sudah dibuat sarana wudhu sendiri disamping masjid.

Keramaian kompleks masjid sudah terasa di jalan masuknya. Ratusan pedagang membuka lapak sederhana berukuran sekitar 2x2 meter. Mereka menjajakan apa saja, mulai dari perlengkapan shalat, tasbih dengan butiran sebesar telor ayam negeri, Al Quran, kaset rohani, VCD musik, pakaian dewasa dan anak-anak, penganan kecil, salak pondoh, hingga ke cinderamata a la suku asli di Banten, yaitu Baduy.

Satu hal lagi tentang suasana masjid Banten adalah banyaknya pengemis. Mereka berkumpul di pintu masuk kompleks masjid. Terutama di pintu kedua. Tua muda, semua lusuh, tumplek bleg di lorong jalan masuk masjid. Ada yang sudah terlelap tidur dengan mangkok berisi recehan ada yang masih terjaga sambil menengadah dan bergumam pelan, membaca doa atau meminta sedekah.

Selepas Ashar, aku dan Bayu naik ke menara masjid Banten yang tingginya 23 meter dengan bentuk denah segi delapan. Pintu masuk menara dibuat unik dengan mencampur gaya hiasan layaknya candi Hindu – Buddha, yang memiliki hiasan kala dengan stilirisasi. Kami masuk setelah membayar seribu rupiah per orang kepada penjaga di depan pintu.

Tapi sebelum naik, kami diminta menunggu dulu. Si penjaga berteriak ke kawannya yang ada di atas menara. ‘’Naaaiiiikkk!’’. Sang kawan yang ada didalam menara berteriak, ‘’Tuuuruuun,’’. Itu berarti ada orang yang turun, sehingga pengunjung yang naik harus bersabar sebelum orang itu keluar.

Tahulah kami mengapa harus ada teriakan ‘naik – turun’ itu. Sebabnya adalah tangga naik ke puncak menara sangat sempit, lebar anak tangganya kurang 50 cm. Tak mungkin untuk dua orang berpapasan di tengah jalan. Salah satu harus mengalah. Sialnya, badanku yang lumayan subur ini terpaksa harus naik dengan cara menyamping karena tak muat.

Situasi di dalam badan menara temaram. Hanya ada dua bola lampu yang menerangi jalan. Dari cahaya yang minim itu terlihat banyak sekali coretan orang yang tidak bertanggungjawab mengotori dinding menara.

Menara masjid memiliki dua puncak yang bentuknya makin mengecil. Sampai di puncak pertama, ternyata kami masih harus merogoh kocek lagi agar bisa keluar ke teras puncaknya. Dari teras ini terlihat keindahan alam Banten Lama, yang dekat dengan laut.

Aku dan Bayu memutuskan naik lagi ke puncak menara. Di puncak ini pun kami harus merogoh kocek untuk bisa keluar ke terasnya. Melihat betapa komersialnya pengelolaan menara, Bayu mengomel. ‘’Sudah tidak usah bayar!’’ katanya padaku. Ia lalu mendekati si penjaga menara dan menegurnya dengan keras. Kamipun bebas keluar teras.

Tak berapa lama di puncak menara, kami akhirnya turun. Tentunya dengan cara yang sama, yaitu harus bergantian menunggu pengunjung naik dan turun. Senja sudah menggantung di langit Banten. Namun gulungan awan dan langit masih berwarna cerah. Para wisatawan masih mengalir ke masjid ini. Banten tampaknya meninggalkan kesan di hati mereka.

Tuesday, June 19, 2007

Harap – Harap Sabar Paket Baru

Instruksi Presiden Nomor 6 tahun 2007 tentang Paket Percepatan Pengembangan Sektor Riil dan Pemberdayaan UKM baru saja diluncurkan. Sebanyak 141 tindakan harus diselesaikan dalam jangka waktu setahun.

Inpres ini meliputi 41 tindakan sektor iklim investasi, 43 tindakan sektor keuangan, 28 tindakan sektor pembangunan infrastruktur, dan 29 tindakan pemberdayaan UMKM. Yang terlibat ada 19 kementerian/lembaga (K/L).

Depkeu adalah kementerian terbanyak yang harus menyelesaikan tindakan itu. Instansi yang digawangi Sri Mulyani ini punya gawe menuntaskan 60 tindakan. Jauh di atas rata-rata K/L lain seperti Depdag yang hanya 12 tindakan, bahkan Depperin yang hanya dua tindakan, Dephub 10 tindakan, dan Kantor Menko Perekonomian, yang digawangi Boediono, 14 tindakan.

Tantangan penyelesaian dan penerapan kebijakan di paket kali ini lebih besar dari paket-paket yang telah diterbitkan pemerintah, seperti Paket Perbaikan Iklim Investasi, Paket Percepatan Pembangunan Infrastruktur, dan Paket Reformasi Sektor Keuangan.

Oleh sebab ia lebih banyak,maka sangat menarik untuk dicermati bagaimana tim ekonomi yang dipimpin Boediono bergegas menyelesaikan paket baru ini. Mengingat ketiga paket sebelumnya tidak ada yang benar-benar tuntas 100 persen penyelesaian kebijakannya. Ini belum diukur dengan keluaran kebijakan itu apakah sudah dirasa maksimal oleh masyarakat dan pelaku usaha.

Berkaca dari pengalaman itu, secara tegas Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menekankan pentingnya implementasi dan efektifitas pemantauan dari kebijakan yang diterbitkan. Secara khusus, SBY meminta Boediono memantau pelaksanaan paket di lapangan dengan lebih efektif.

Boediono diminta membentuk tim pemantau pelaksanaan paket yang terdiri atas tim eksternal dan tim pemerintah. Kedua tim ini tugasnya mengevaluasi, mengadakan dialog, dan mensurvei implementasi paket. Tak lupa, kepala daerah tempat kebijakan paket bakal berdampak harus ikut ambil bagian dalam mempercepat pelaksanaan kebijakan.

Idealnya, dengan pemerintahan yang sudah berjalan separuh masa, tentu sosialisasi dan koordinasi penerapan paket bukan jadi masalah. Tapi di lapangan, dua hal ini tetap jadi barang langka. Dalam satu kesempatan beberapa bulan lalu, tim independen pemantau kebijakan paket-paket yang sudah diterbitkan mengeluhkan hal ini.

Kata mereka, salah satu kendala terbesar penerapan paket di lapangan adalah menyebarkan isi kebijakan paket hingga ke level teknis di birokrat bawah. Masalah klise, memang. Tapi tanpa sosialisasi paket kebijakan yang menyeluruh, mustahil suatu kebijakan dapat dikoordinasikan dengan tepat. Bila suatu kebijakan tidak terkoordinasi, jangan harap hasilnya rapi. Yang terjadi adalah justru tambal sulam kebijakan.

Inilah yang diakui Menko Perekonomian, Boediono, ketika ia menyebutkan betapa birokrasi bisa jadi penghambat penerapan kebijakan. ‘’Ada beberapa surat keterangan (SK) menteri yang tidak nyampe di daerah. Beberapa bulan kemudian ditanya, tidak tahu orang daerah,’’ keluh Boediono.

Di samping itu, simpul birokrasi yang masih berlaku ketat. Tak jarang ada ego antar K/L dalam melakukan kebijakan yang sudah diputuskan di tingkat penentu kebijakan. Sehingga, kebijakan yang baik di tingkat atas justru mentok di level bawah.

‘’Birokrasi masih bersifat business as usuall,’’ kalau kata ekonom UGM, Revrisond Baswir. Sedangkan anggota Komisi Keuangan dan Perbankan (XI) DPR, Dradjad H Wibowo, melihat memang ada yang tertinggal dalam paket kebijakan pemerintah, yaitu reformasi birokrasi. ‘’Paket tidak disertai perombakan birokrasi,’’ cetus politisi FPAN ini.

Buktinya, dari total 141 tindakan yang dikeluarkan, Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara (PAN) hanya mendapat jatah satu tindakan. Itupun tidak terkait dengan reformasi birokrasi secara keseluruhan, melainkan program percepatan pendirian perusahaan dan izin usaha menjadi 25 hari, dari yang tadinya 97 hari.

Akhirnya, ‘’Paket berhenti di tingkat konsep menteri,’’ katanya. Mestinya, lanjut dia, pemerintah memiliki sistem sanksi dan penghargaan yang jelas, terutama bagi birokrat yang menjalankan kebijakan paket. ‘’Sekarang, apa sanksinya kalau birokrat tidak menjalankan kebijakan itu? Tidak seperti sistem di McDonalds, ketika kita memesan makanan tapi disajikan melebihi batas waktu tertentu ada sanksi berupa tambahan makanan,’’.

Sosialisasi ke investor asing juga mendesak dilakukan. Dalam berkali-kali lawatannya ke luar negeri, baik Presiden SBY, Wapres Jusuf Kalla, Menko Perekonomian Boediono, Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) M Lutfi, serta para menteri lainnya kerap mendapat pertanyaan bagaimana kondisi ekonomi di Indonesia.

Para investor asing mengaku mereka hanya bisa melihat dari televisi bahwa situasi ekonomi Indonesia masih penuh gonjang-ganjing. Demonstrasi berujung kerusuhan di sejumlah titik investasi asing kerap terjadi. Belum berita-berita yang bernada memojokkan, baik dari pers lokal maupun asing.

Kepala Ekonom BNI, A Toni Prasetiantono, memandang, setelah menelurkan paket kebijakan ini, pemerintah harus memiliki tim komunikasi yang efektif yang bisa merangkul investor asing. Terlebih antara paket – penerapan – dampak ke masyarakat memiliki jeda waktu. ‘’Diperkirakan paket ini baru bisa memiliki dampak tahun depan ke ekonomi kita,’’ cetus dia.

Jeda waktu ini juga dikeluhkan Dana Moneter Internasional. Juru bicara IMF untuk Indonesia, Stephen Schwartz, menilai, masalah klasik di pemerintahan adalah lamanya implementasi kebijakan. Tak jarang, target penerapan kebijakan itu molor.

‘’Pelaku pasar dan dunia bisnis akan menunggu implementasi paket ini. Karena dari yang sebelum-sebelumnya pemerintah dikenal banyak memiliki rencana tapi penerapannya lebih lama. Untuk paket ini efektif, pemerintah harus kerja keras,’’ ungkap Schwartz.

Permasalahan paket kebijakan tidak hanya dari sisi sosialisasi dan penerapannya di lapangan. Isi paket juga patut dikritisi. Salah satu yang menonjol adalah judul paket yaitu ‘pengembangan sektor riil’ namun tindakan terbanyak justru ada di sektor keuangan.

Sejumlah kementerian yang terkait erat dengan sektor riil hanya mengerjakan tindakan tidak sampai 15 kebijakan. Depdag, contoh pertama, hanya mengerjakan 12 tindakan yang terdiri atas enam kebijakan iklim investasi, dan enam kebijakan pemberdayaan UMKM. Depperin, lebih parah lagi. Kementerian dibawah Fahmi Idris ini cuma kebagian mengerjakan dua kebijakan, masing-masing di sektor klim investasi dan UMKM.

Contoh lainnya masih bisa disebutkan BKPM yang dapat jatah empat kebijakan iklim investasi. Yang lebih ironis tentunya Kementerian Negara Koperasi dan UKM. Departemen yang dipimpin Suryadharma Ali ini hanya mengerjakan enam kebijakan pengembangan UKM. Terakhir, Menteri Perumahan Rakyat, yang diberi tugas menuntaskan dua kebijakan pembangunan infrastruktur.

Sebaliknya, Depkeu mengerjakan hampir separuh paket (60 kebijakan). Tak heran ketika diberi kesempatan berbicara kedua kali dalam jumpa pers peluncuran paket, kalimat pertama yang keluar dari bibir Sri Mulyani adalah, ‘’Duh teler saya!’’.

Depkeu mengerjakan 21 kebijakan untuk memperbaiki iklim investasi, 29 kebijakan di sektor keuangan, tiga kebijakan di pembangunan infrastruktur, dan tujuh kebijakan pengembangan UKM.

Komposisi macam ini dinilai aneh bagi sebagian ekonom yang tergabung dalam Tim Indonesia Bangkit (TIB). Terlepas dari isi kebijakannya, bermanfaat apa tidak, komposisi yang cenderung berat sebelah itu kata mereka memperlihatkan justru keberpihakan pemerintah tidak ke sektor riil.

‘’Sektor pertanian justru tidak ikut dalam paket, ini membingungkan. Dalam isi tindakan paket juga tidak tercantum pengembangan infrastruktur pertanian, dan sekarang UKM sangat besar di sektor pertanian,’’ kata Revrisond Baswir tak habis pikir.

Pemerintah bukannya tidak sadar akan hal ini. Di awal-awal penjelasan Boediono saat meluncurkan paket, sudah terucap bahwa paket ini tidak mencantumkan sejumlah kebijakan penting seperti pembangkit listrik tenaga uap 10 ribu megawatt dan kebijakan riil seperti produksi beras maupun minyak goreng.

‘’Itu mempunyai langkah aksi tersendiri tapi bagian dari Rencana Kerja Pemerintah (RKP) kita,’’ kelit Boediono. Jawaban seperti ini tentu mengecewakan bagi sebagian pihak. ‘’Itu menandakan bahwa sebetulnya pemerintah mengerti masalah ekonomi saat ini atau tidak?’’ keluh Soni, sapaan Revrisond.

Ia menilai, seharusnya pemerintah bisa menerbitkan satu paket lagi yang khusus membahas masalah pertanian. Dari hulu hingga hilir. Dari masalah fundamental hingga ke problem riil dilapangan seperti meroketnya harga beras, pembibitan, hingga lonjakan harga minyak goreng.

Dengan komposisi seperti itu, sebenarnya yang ingin dicapai dengan penerbitan paket ini? Dalam penjelasan paket, hanya dua tujuan, yaitu mengurangi pengangguran dan kemiskinan.

Diharapkan, penerapan paket bisa memacu laju ekonomi riil yang hingga kini masih terseok-seok dan ditopang oleh konsumsi ketimbang investasi riil. Tingkat pengangguran terbuka diklaim bisa turun pada level delapan sampai sembilan persen tahun depan, dari yang tahun ini sebesar 9,76 persen atau 10,5 juta penganggur. Sementara tingkat kemiskinan ingin dikikis dari 17,75 persen tahun lalu menjadi 15 – 16,8 persen tahun depan.

Bisakah? Tidak ada jawaban yang pasti memang. Tapi Dradjad H Wibowo menilai ada empat kelemahan mendasar di paket ini, terkait tujuan yang dicapai. Pertama adalah konsep paket yang tidak langsung fokus ke pengangguran dan kemiskinan.

Hal ini tercermin dari tidak terlihat adanya kebijakan yang melindungi industri rumah tangga dan padat karya, termasuk pelaku pasar tradisional. Yang terlihat justru keberpihakan pemerintah terjadap industri padat modal dengan memberikan sejumlah insentif (yang memang sejak lama sudah diminta).

Kedua, paket ini tidak disertai kebijakan perombakan birokrasi . Ketiga, paket juga tidak disertai dengan skema investasi yang memadai. Dradjad memberi contoh dari salah satu tindakan yang akan dilakukan, yaitu mempercepat arus ekspor dengan memperluas areal Pelabuhan Tanjung Priok.

Di dalam paket justru tidak diatur dari mana investasi perluasan lahan itu Terakhir, dan termasuk yang paling penting, adalah dalam paket tidak ditunjang dengan anggaran yang tidak jelas di APBN, atau non APBN. ‘’Pernyataan kebijakan pemerintah seringkali tidak nyambung dengan anggarannya,’’ cetus Dradjad.

Walaupun penuh kekurangan, TIB mengakui bahwa menjamurnya paket-paket sejak tim ekonomi dipimpin Boediono, ada baiknya. Kebijakan yang ada didalam paket, yang dianggap TIB hanya program departemen biasa tanpa terobosan, tetap bisa menjadi pedoman dan instrumen.

Yang disayangkan adalah, pemerintah tidak dengan tegas dan nyata membuat paket kebijakan tepat sasaran. ‘’Paket – paket tersebut sangat jauh dari cukup untuk dikatakan sebagai sebuah paket kebijakan! Sama sekali tidak menjawab masalah dan hambatan sektor riil seperti infrastruktur, pasokan energi, bahan baku, kredit bank, pendanaan UKM, dan lainnya,’’ tandas ekonom TIB Hendry Saparini.

TIB lalu membandingkan isi paket yang dinilai hanya kegiatan rutin birokrasi ini dengan sejumlah paket tegas dan tepat sasaran. Paket itu adalah Paket Deregulasi Finansial Oktober 1988 yang memperbolehkan membuka bank dengan syarat minimal Rp 10 miliar, atau Paket Januari 1987 yang mengatur penetapan tarif impor.

Direktur Indef, Fadhil Hasan, menambahkan, pemerintah bahkan tidak menegaskan apa-apa saja kebijakan prioritas mereka dalam paket kali ini. ''Paketnya tidak fokus, terlalu luas, dan tidak menyentuh masalah penting,'' nilai Fadhil.

Menko Perekonomian, Boediono, menerima kritikan berbagai pihak terkait paket kebijakan terlawas yang diterbitkan pemerintah. Namun ia meminta berbagai pihak, dan pemerintah, untuk sabar, sebab dampak dari paket itu jangka panjang.

''Kritik itu saya pikir bagus, karena ini iklim demokrasi, jadi ini bagus. Tapi kita akan perbaiki dari sisi yang memang perlu diperbaiki,'' kata Boediono.

Ia menilai, dalam menjalankan kebijakan ekonominya pemerintah harus konsisten. Termasuk meletakkan dasar ekonomi dengan menerbitkan sejumlah paket kebijakan yang dampaknya memang tidak hanya jangka pendek tapi juga jangka panjang.

''Dampaknya ini sangat panjang terkait dengan landasan-landasan seperti perbaikan perizinan dan ini sekaligus tidak akan menarik berbondong-bondong investor ke Indonesia pekan berikutnya. Harus sabar nih,'' katanya lagi.

Wednesday, June 6, 2007

Gie dan Menariknya Target Ekonomi 2008

Lima bulan sebelum menghembuskan nafas terakhirnya di puncak Gunung Semeru, Jawa Timur, Desember 1969, Soe Hok Gie sempat menulis di salah satu koran nasional. Tulisan Gie, begitu ia biasa disapa, menyoroti soal perjalanan Indonesia orde baru, dibawah kendali Presiden Soeharto yang baru berkuasa.

Artikel pengajar jurusan sejarah FSUI yang juga dikenal sebagai aktivisi penggerak gerakan mahasiswa 1966 itu dimuat pada 16 Juli 1969, judulnya ''Betapa Tak Menariknya Pemerintah Sekarang?''. Isi tulisannya, seperti biasa, kritis dan jujur apa adanya. Cerminan diri Gie sendiri.

Berikut nukilannya,''...Beberapa waktu yang lalu ada seorang teman berkata kepada saya : Saya kira benar. Menjadi Menlu Indonesia sekarang tidak menarik. Kerjanya Cuma berusaha menunda pembayaran utang-utang lama. Atau cari utang-utang baru,''.

''... Ada lagi kejadian yang lain. Waktu itu saya tanya pada teman saya : Adam Malik pergi ke luar negeri lagi ya? Rupanya ada soal gawat lagi yang perlu diselesaikan,''. Tapi teman saya ini seenaknya saja menjawab, ''Apalagi kalau bukan menandatangani kredit baru,'' ketik Gie di mesin tik tuanya.

Ia lanjutkan, ''Nama Adam Malik dapat kita ganti dengan nama Emil Salim, Widjojo Nitisastro, Presiden Soeharto, dan seterusnya dan seterusnya. Seolah-olah seluruh usaha diplomasi kita adalah diplomasi cari utang untuk kelangsungan hidup Republik ini yang sudah 24 tahun usianya,''.

''...Pastilah penilaian orang-orang seperti teman saya itu tidak tepat. Ada soal yang berbelit-belit dan menyulitkan. Tapi kesan umum dari 'masyarakat luas' adalah seperti teman saya itu,'' kata Gie, yang juga adik kandung dari sosiolog ternama, Soe Hok Djin alias Arief Budiman.

Intinya, Gie mengkritik pemerintah soal komunikasi kebijakannya. ''Dengan perkataan lain diperlukan suatu mobilisasi sosial. Komunikasi antara penguasa dengan masyarakat luas. Dengan si Badu kuli di Semarang, dengan Tini guru SD di Sumedang, dengan Sersan Siregar di Tapanuli, dengan Rumambi pengusaha di Minahasa, dan A Pioa agen lotto harian di Glodok Jakarta,''.

''Agar mereka merasa bahwa cita-cita besar yang dimiliki oleh lapisan atas pemerintah juga adalah cita-cita mereka. Dan mereka diinspirasikan untuk bekerja keras dan berkorban dalam cita-cita besar itu. Tanpa partisipasi sosial dan mobilisasi sosial cita-cita besar itu akan mati kering,''.

Sekarang sudah 38 tahun pascatulisan Gie menghias lembaran koran. Tahun 2007 belum juga usai, target-target ekonomi yang diharapkan tahun ini belum juga tercapai, sementara pemerintah sudah mulai sibuk menyusun rencana ekonomi tahun depan. Sasaran ekonomi yang ingin dicapai ada tiga, yaitu pertumbuhan ekonomi, stabilitas ekonomi, dan mengurangi pengangguran dan kemiskinan.

Sejumlah indikator makroekonomi penting yang menjadi tolak ukur sasaran diatas telah disusun dan dibahas bersama parlemen. Namanya juga target, maka dalam rancangan pembangunan ekonomi tahun depan itu angka-angka yang diajukan pemerintah boleh dibilang fantastis (lihat tabel).

Beberapa diantara yang cukup penting adalah pertumbuhan ekonomi sebesar 6,6 - 7 persen, tingkat pengangguran 8 - 9 persen, dan tingkat kemiskinan 15 - 16,8 persen. Sejumlah sumber pertumbuhan ekonomi yang penting untuk mencapai target ini adalah konsumsi rumah tangga, konsumsi pemerintah, investasi, dan ekspor-impor.

Untuk konsumsi rumah tangga tahun depan, pemerintah menargetkan bisa tumbuh 5,7 - 6,2 persen atau lebih tinggi dari target tiga tahun terakhir yang hanya di level empat hingga 5,1 persen. Konsumsi rumah tangga adalah komponen terbesar dalam pembentukan Produk Domestik Bruto (PDB) hingga saat ini, lebih dari 50 persen.

Pemerintah berjanji menjaga ketersediaan pasokan barang dan jasa di sektor riil agar tidak menganggu daya beli masyarakat yang sejauh ini belum juga membaik. Secara khusus, Menkeu Sri Mulyani mengatakan, pemerintah berupaya keras menjaga kestabilan harga komponen tertentu di inflasi seperti tarif dasar listrik, harga BBM, dan tingkat bunga Sertifikat Bank Indonesia (SBI) yang akomodatif di level 7,5 - 8 persen.

Dari sisi konsumsi pemerintah, tahun depan ditargetkan belanja pemerintah tumbuh enam hingga 6,5 persen. Sebagai pendorong belanja ini adalah ditambahnya anggaran Departemen Pekerjaan Umum dan Dephub untuk mengerjakan infrastruktur. Selain itu, pemerintah berencana menaikkan gaji pegawai negeri sipil serta sejumlah program penguatan daya beli masyarakat kecil, terutama di sektor pendidikan dan kesehatan.

Kemudian investasi. Pemerintah tampaknya gerah juga mengetahui bahwa salah satu penyumbat ekonominya justru datang di sektor terpenting, yaitu investasi. Bagaimana tidak, tahun lalu ketika diharapkan tinggi, investasi justru rontok hanya mencapai level 2,9 persen. Salah satu penyebabnya adalah kenaikan harga BBM di akhir 2005.

Padahal kinerja investasi 2005 masih diatas dua digit, yaitu 10,8 persen. Tahun ini investasi diharap tumbuh 12,3 persen, dengan sejumlah hambatan klasik yang juga dipastikan masih menghadang di tahun depan, ketika target investasinya 14,5 - 18,2 persen.

Apa yang kurang dari investasi? Sejak ditukangi oleh Boediono sebagai menko Perekonomian, sudah tiga paket kebijakan ekonomi yang terbit untuk mendongkrak investasi, yaitu paket perbaikan iklim investasi, paket kebijakan infrastruktur, dan paket kebijakan sektor keuangan.

Sri Mulyani menilai, hal terpenting dari implementasi paket itu adalah koordinasi kebijakan antara pihak Lapangan Banteng (Depkeu dan Kantor Menko Perekonomian) dengan pihak Kebun Sirih alias Bank Indonesia. ''Terjaganya laju inflasi dan stabilitas nilai tukar memungkinkan suku bunga domestik kompetitif, sementara upaya lain dilakukan untuk menjamin arus sumber pembiayaan investasi dan kegiatan dunia usaha ke sektor riil,'' papar Menkeu.

Sejumlah variabel penting investasi adalah meningkatnya laba dunia usaha, impor barang modal, dan kredit investasi di perbankan. Disamping peningkatan defisit APBN 2008 yang diperkirakan mencapai 1,8 persen serta belanja modal pemerintah yang diharap bisa mencapai 90 persen tahun depan.

Secara khusus, Menkeu menantang pemda untuk bisa mengalokasikan 30 persen APBD-nya untuk belanja modal tahun depan. Ini ditambah dengan keyakinan bahwa belanja modal BUMN (capital expenditure) yang bakal mencapai lebih dari Rp 150 triliun tahun bisa menambah laju gerak sektor riil, seperti proyek pembangunan pembangkit listrik tenaga uap10 ribu megawatt dan sejumlah proyek infrastruktur senilai 4,5 miliar dolar AS seperti jalan tol, air bersih, pelabuhan, bandara udara, dan jaringan telekomunikasi.

Sementara dari sisi ekspor impor, tahun depan pemerintah menargetkan ekspor tumbuh antara 12 - 13,5 persen dan impor menjadi 17,3 - 19,1 persen. Jauh lebih tinggi dari target tahun ini, ekspor 9,9 persen dan impor 14,2 persen.

Setelah mendapat rezeki durian runtuh dari lonjakan harga komoditas tahun lalu, yang membuat ekspor menembus 100 miliar dolar AS per tahun, tahun depan pemerintah berharap ekspor manufaktur bisa menjadi yang terdepan. Target pertumbuhan sektor pengolahan ini adalah 13 persen dari rata-rata saat ini.

Terkait impor, diharapkan impor yang mendongkrak investasi makin besar dengan membaiknya ekonomi dan harmonisasi tarif bea masuk melalui MFN (most favor nation) maupun FTA (free trade area) dengan sejumlah mitra dagang.


Mobilisasi Sumber Daya
Tapi 2006 menjadi bukti bahwa rencana diatas kertas tidaklah semulus ketika diterapkan dilapangan. Contoh sederhana adalah dari tiga paket kebijakan ekonomi yang diterbitkan. Paket investasi memang sebagian besar tuntas, paket infrastruktur lebih parah, karena banyak yang tak kunjung selesai, sementara paket keuangan lebih baik nasibnya.

Tapi itu baru di level perumusan dan mengeluarkan kebijakan. Penerapan di lapangan, seperti apa yang disampaikan sejumlah pengamat ekonomi yang didaulat jadi pemantau pelaksanaan paket di lapangan, masih jauh panggang dari api.

''Salah satu hambatan terbesar ekonomi kita memang adalah implementasi paket kebijakan,'' keluh Menko Perekonomian, Boediono, suatu ketika. Ekonom UI, Faisal Basri , sempat mengatakan, masalah komunikasi dan sosialisasi (masalah klise) penerapan kebijakan ekonomi masih terus terjadi di lapangan. Ketika suatu kebijakan telah ditetapkan di level atas, penerapan di lapangan tidaklah seperti membalikkan telapak tangan. Penuh lika-liku.

''Masalahnya masih klise, komunikasi dan sosialisasi. Pemerintah harus lebih meningkatkan dua hal ini di lapangan, karena ini masalah yang kami temukan di daerah-daerah,'' kata Faisal Basri, usai bertemu Menko Perekonomian, mengevaluasi kinerja penerapan paket investasi beberapa waktu lalu.

Gie telah mengetahui, memerhatikan, dan memberitahu hal ini, 38 tahun lalu. ''Diperlukan suatu mobilisasi sosial. Komunikasi antara penguasa dengan masyarakat luas,'' katanya. Tapi ucapan tidaklah sesukar tindakan. Karena hingga kini toh kita masih harus mengalami hal yang sama dari 38 tahun yang lalu, kurang komunikasi.

''Semua ini adalah pekerjaan raksasa dan bukan mustahil hanya sekedar kasak-kusuk anggota DPR - istana negara - dan partai politik. Seluruh potensi sosial harus diikutsertakan,'' katanya lagi.

''Jauh lebih mudah membuat sebuah monumen dengan emas di pucuknya daripada membuat dan memperbaiki seribu kilometer jalan raya. Jauh lebih mudah membuat universitas di Kalimantan daripada membangun 100 SD di desa-desa,'' keluh pemuda yang punya hobi naik gunung ini.

''Usaha Adam Malik mencari kredit baru, menunda pembayaran utang-utang adalah bagian permulaan daripada usaha besar. Tetapi apakah pemuda lulusan SMP di Wonosobo menyadari soal ini?'' cetus Gie.


Terlalu Tinggi
Terlepas dari masalah komunikasi kebijakan, angka-angka fantastis yang diinginkan pemerintah juga mendapat perhatian serius dari BI dan parlemen. Keduanya memandang sejumlah target ekonomi pemerintah terlalu tinggi atau bahkan mengawang-awang.

Sebagai misal adalah pentingnya peran konsumsi rumah tangga sebagai pendorong ekonomi tahun depan. Dari data BI, secara rata-rata, pertumbuhan konsumsi rumah tangga lima tahun terakhir hanya sekitar empat persen. Ini ditambah indikasi daya beli masyarakat yang masih belum pulih.

BI mengambil data seperti rasio tabungan terhadap PDB yang cenderung turun dari 43 persen di 2002 menjadi hanya 37 persen di 2006. Begitu juga rasio utang kredit terhadap disposible income yang sudah cukup tinggi dengan mencapai 37 persen tahun lalu ketimbang lima tahun lalu yang masih di level 22 persen. I

ndikator selanjutnya adalah tingkat upah riil yang belum meningkat signifikan. ''Sehingga lonjakan kebutuhan konsumsi rumah tangga seperti yang diharapkan oleh pemerintah akan juga merupakan tantangan berat,'' kata Deputi Gubernur Senior BI, Miranda S Goeltom di depan panitia anggaran DPR, pekan lalu.

Terbatasnya konsumsi, ia lanjutkan, juga terkait dengan daya serap tenaga kerja yang masih rendah, sebagaimana tercermin pengangguran yang masih tinggi dan tenaga kerja informal semakin besar.

Ekonom senior yang juga anggota Komisi Keuangan dan Perbankan (XI) DPR, Dradjad H Wibowo, menilai dengan laju pertumbuhan ekonomi saat ini yang hanya 5,5 persen, mustahil pemerintah bisa cepat menurunkan pengangguran, apalagi sampai ke level sembilan persen di 2009. Terlebih daya serap tenaga kerja per satu persen ekonomi tumbuh belum juga melonjak seperti sebelum krisis, yaitu 400 ribu orang.

Paling banter, ia perkirakan saat ini tiap kali satu persen ekonomi tumbuh hanya menyerap kurang dari 250 ribu orang tenaga kerja. Demikian halnya dari sisi investasi. Untuk mencapai batas pertumbuhan ekonomi tujuh persen butuh rasio investasi terhadap PDB sebesar 26 persen.

Padahal beberapa tahun terakhir rasio itu tak pernah lebih dari 19 - 22 persen. ''Jelas rasio 26 persen itu merupakan tantangan. Bukan kita katakan tidak mungkin, tetapi tantangannya cukup besar,'' cetus Miranda.

''Kalau kita ingat, pada masa sebelum krisis saja, rata-rata pertumbuhan investasi masih di bawah 25 persen pada saat puncaknya. Kalau rasio investasi 26 persen, tentunya pekerjaan besar ada di depan kita semua. Dan saya kembali menekankan bukan tidak mungkin, tapi pekerjaannya berat sekali,'' sambung dia.

Begitu juga dari sisi kontribusi perbankan. Tahun depan pemerintah minta perbankan menyalurkan kredit mencapai Rp 210 triliun untuk membiayai investasi. Jumlah ini sama dengan pertumbuhan kredit tahunan 33 persen, padahal pertumbuhan kredit tertinggi BI hanya 24 persen.

Gubernur BI, Burhanuddin Abdullah, mengaku target kredit perbankan yang diminta Menkeu bakal sukar tercapai. ''(Target) itu belum pernah terjadi dalam sejarah kita. Kalau begitu maka saya kira perlu ada penyesuaian sana sini,'' cetus Burhanuddin.

Ia meminta harus ada tambahan pembiayaan dari tempat lain, seperti dari belanja pemerintah yang ditambah kontribusinya.

Ketua Panggar DPR, Emir Moeis, yang datang dari PDIP sebagai partai oposisi pemerintah, meminta pemerintah realistis menetapkan target ekonomi tahun depan. ''Lebih baik kita realistislah. Jadi ekonomi kita ekonomi yang wajar saja. Jangan mengejar pencitraan, bahaya,'' celetuk Emir usai mendengar paparan target ekonomi itu.

Target investasi tahun depan sebesar Rp 1.296,1 triliun sebagai contohnya. Kata Emir, percuma menargetkan investasi tinggi tapi daya beli riil masyarakat belum pulih benar. ''Kalau daya beli belum ada, maka pasar belum terbentuk. Kalau pasar belum terbentuk mana ada orang bisa produksi, artinya, buat apa orang investasi?'' cetus dia lagi.

Sebagai penutup, Gie memungkas tulisannya dan tulisan ini dengan tepat. ''Sampai saat ini kesan saya adalah bahwa rakyat Indonesia acuh tak acuh terhadap rencana besar ini. Hampir tak ada komunikasi yang dimengerti masyarakat umum, dan pemerintah terlalu pragmatis sekarang pada akhirnya gagal menumbuhkan gairah dan sokongan kerja rakyat,''.

Sunday, May 27, 2007

Abun dan Tiga Kali Sehari

Lima tahun lalu Abun masih pemuda tanpa pekerjaan di kampungnya, yang dilintasi sungai Citarik. Sebelum akhirnya ia direkrut oleh perusahaan operator arung jeram, Kaki Langit, untuk menjadi pemandu perahu (skipper). Pria berkulit cokelat terbakar ini lantas digojlok tiga bulan penuh menyusuri Citarik.

‘’Dalam sepekan hanya sehari di darat, sisanya di sungai terus,’’ tutur Abun yang mengaku belum pernah menjajal jeram di luar Jawa Barat. Pelajaran awal yang ia dapat adalah terbalik dan tenggelam. Tiap hari perahu akan ditabrakkan dengan sengaja untuk melihat kesigapan calon pemandu.

Selama latihan praktek memandu, Abun membawa penumpang kawan-kawannya dari kampung setempat. Dan ia memandu tanpa ditemani pemandu senior. Kini lima tahun sudah bermain air di Citarik, Abun tetap sibuk membawa penumpang kota yang ingin arung jeram.

Dari situs Federasi Arung Jeram Indonesia (FAJI) dikutip, arung jeram sebenarnya aktivitas rutin masyarakat asli, terutama di Kalimantan, oleh suku Dayak. Di negeri Paman Sam, arung jeram sebagai olah raga dipelopori oleh Mayor John Wisley, seorang ilmuwan yang memimpin sebuah ekspedisi di sepanjang Sungai Colorado, pada 1860-an. Perahu yang digunakanya terbuat dari kayu.

Di akhir abad XIX, seorang ilmuwan bangsa Belanda memimpin ekspedisi menyusuri sungai Kapuas dan Mahakam di Kalimantan yang juga berjeram, dengan menggunakan perahu kayu suku Dayak. Perjalanan ini menempuh waktu hampir satu tahun. Ketika 1994 rute perjalanan ini ditapaktilasi kembali, dengan perahu boat bermotor, diperlukan waktu 44 hari untuk mengarunginya.

Di awal 1970-an arung jeram sebagai olahraga dikenal dengan istilah olah raga arus deras (ORAD). Dipelopori oleh rekan-rekan pecinta alam dari Bandung dan Jakarta, olah raga ini kemudian menjadi salah satu olah raga petualangan yang paling diminati para pecinta alam. Pada tahun 1975, salah satu kelompok pencinta alam menggelar Citarum Rally .

Untuk sungai Citarik, saat ini ada tiga operator arung jeram dari awalnya empat. Yang pertama adalah BJ’s yang merupakan cabang perusahaan operator dari Bali. Baru kemudian berturut-turut Arus Liar, Ardis dan Selaras Kaki Langit. Pernah ada operator Citra tetapi sudah tutup. Kini di Citarik tinggal BJ’s, Arus Liar, dan Kaki Langit.

Umumnya, arung jeram di Citarik ramai ketika akhir pekan dan hari libur. Kalau hari kerja, dipastikan ia sepi, kecuali memang ada acara khusus dari suatu perusahaan. Peserta yang datang pun tidak hanya dari Jakarta, tapi juga berbagai kota besar di Jawa Barat.Tamu pun tak hanya orang dewasa, anak-anak sekolah dasar pun bisa menikmati olahraga menantang ini. ‘’Kalau membawa anak-anak, pemandunya harus dua, agar aman,’’ kata Abun.

Bila hari libur datang, kesibukan Abun dipastikan bertambah. Dalam sehari, ia bisa tiga kali memandu perahu. Tak jarang dua hari berturut-turut ia menjadi skipper. ‘’Kalau sudah begitu, badan terasa rontok, pulang ke rumah langsung tidur, besok langsung kerja lagi,’’ katanya dengan logat Sunda yang kental.

Itulah yang kulihat setelah kembali ke basecamp Kaki Langit. Belum satu jam istirahat, Abun sudah siap-siap kembali memandu sejumlah peserta. Ia hanya tersenyum ketika melihatku turun dari basecamp menghampirinya. Hari ini, ia ibarat minum obat resep obat. ‘’Masih ada dua kali lagi,’’katanya sambil nyengir. Jam ditangan sudah menunjukkan pukul 14.00 WIB.