Sunday, May 27, 2007

Abun dan Tiga Kali Sehari

Lima tahun lalu Abun masih pemuda tanpa pekerjaan di kampungnya, yang dilintasi sungai Citarik. Sebelum akhirnya ia direkrut oleh perusahaan operator arung jeram, Kaki Langit, untuk menjadi pemandu perahu (skipper). Pria berkulit cokelat terbakar ini lantas digojlok tiga bulan penuh menyusuri Citarik.

‘’Dalam sepekan hanya sehari di darat, sisanya di sungai terus,’’ tutur Abun yang mengaku belum pernah menjajal jeram di luar Jawa Barat. Pelajaran awal yang ia dapat adalah terbalik dan tenggelam. Tiap hari perahu akan ditabrakkan dengan sengaja untuk melihat kesigapan calon pemandu.

Selama latihan praktek memandu, Abun membawa penumpang kawan-kawannya dari kampung setempat. Dan ia memandu tanpa ditemani pemandu senior. Kini lima tahun sudah bermain air di Citarik, Abun tetap sibuk membawa penumpang kota yang ingin arung jeram.

Dari situs Federasi Arung Jeram Indonesia (FAJI) dikutip, arung jeram sebenarnya aktivitas rutin masyarakat asli, terutama di Kalimantan, oleh suku Dayak. Di negeri Paman Sam, arung jeram sebagai olah raga dipelopori oleh Mayor John Wisley, seorang ilmuwan yang memimpin sebuah ekspedisi di sepanjang Sungai Colorado, pada 1860-an. Perahu yang digunakanya terbuat dari kayu.

Di akhir abad XIX, seorang ilmuwan bangsa Belanda memimpin ekspedisi menyusuri sungai Kapuas dan Mahakam di Kalimantan yang juga berjeram, dengan menggunakan perahu kayu suku Dayak. Perjalanan ini menempuh waktu hampir satu tahun. Ketika 1994 rute perjalanan ini ditapaktilasi kembali, dengan perahu boat bermotor, diperlukan waktu 44 hari untuk mengarunginya.

Di awal 1970-an arung jeram sebagai olahraga dikenal dengan istilah olah raga arus deras (ORAD). Dipelopori oleh rekan-rekan pecinta alam dari Bandung dan Jakarta, olah raga ini kemudian menjadi salah satu olah raga petualangan yang paling diminati para pecinta alam. Pada tahun 1975, salah satu kelompok pencinta alam menggelar Citarum Rally .

Untuk sungai Citarik, saat ini ada tiga operator arung jeram dari awalnya empat. Yang pertama adalah BJ’s yang merupakan cabang perusahaan operator dari Bali. Baru kemudian berturut-turut Arus Liar, Ardis dan Selaras Kaki Langit. Pernah ada operator Citra tetapi sudah tutup. Kini di Citarik tinggal BJ’s, Arus Liar, dan Kaki Langit.

Umumnya, arung jeram di Citarik ramai ketika akhir pekan dan hari libur. Kalau hari kerja, dipastikan ia sepi, kecuali memang ada acara khusus dari suatu perusahaan. Peserta yang datang pun tidak hanya dari Jakarta, tapi juga berbagai kota besar di Jawa Barat.Tamu pun tak hanya orang dewasa, anak-anak sekolah dasar pun bisa menikmati olahraga menantang ini. ‘’Kalau membawa anak-anak, pemandunya harus dua, agar aman,’’ kata Abun.

Bila hari libur datang, kesibukan Abun dipastikan bertambah. Dalam sehari, ia bisa tiga kali memandu perahu. Tak jarang dua hari berturut-turut ia menjadi skipper. ‘’Kalau sudah begitu, badan terasa rontok, pulang ke rumah langsung tidur, besok langsung kerja lagi,’’ katanya dengan logat Sunda yang kental.

Itulah yang kulihat setelah kembali ke basecamp Kaki Langit. Belum satu jam istirahat, Abun sudah siap-siap kembali memandu sejumlah peserta. Ia hanya tersenyum ketika melihatku turun dari basecamp menghampirinya. Hari ini, ia ibarat minum obat resep obat. ‘’Masih ada dua kali lagi,’’katanya sambil nyengir. Jam ditangan sudah menunjukkan pukul 14.00 WIB.

Menjajal Arus Citarik

Belum lima menit di dalam perahu, sungai Citarik yang membelah Kecamatan Cikidang, Sukabumi, sudah menghantarkan jeramnya menghentakkan kami. Perahu karet warna biru yang ditumpangi aku, Dewi, Andri, Robiyah, Deri, dan pemandu perahu (skipper) bernama Abun, terguncang-guncang. Terseret arus deras melewati bebatuan cadas berukuran cukup besar.

Kami kontan langsung berteriak, ''Waaa...yeaaahh..,'' senang. Sementara Abun, yang duduk di bagian paling belakang perahu, sudah mulai memberikan aba-aba. ''Majuuu...'' teriak dia. Kami pun mendayung maju sekuat tenaga. Melewati sejumlah jeram kecil dan batu kali berukuran sedang.

Bagian dasar perahu sempat menyentuh batu cukup besar sehingga posisi perahu berputar. Abun kini berada di depan. Pandangan kami justru membelakangi arus sungai. Secepat kilat Abun kembali berteriak, ''Munduuuuurr...''.

Maka 10 lengan kembali mengayuh dayung dalam posisi kayuhan ke belakang. Tapi yang terjadi malah salah arah. Arus masih deras menyeret perahu sementara awak perahu salah koordinasi. Abun berteriak mundur, sebagian dari kami malah mendayung maju. Jadilah perahu kembali berputar-putar, terbawa arus tidak dengan posisi lurus ke depan, melainkan melintang.

Abun kembali berteriak, ''Stoooopp,'', ia meminta kami berhenti mendayung. Meletakkan tongkat sepanjang sekitar 150 cm itu diatas paha. Sementara Abun tetap berusaha mengarahkan perahu dengan benar. Sepersekian detik kemudian, Abun kembali dengan aba-abanya yang akan terus kami dengar selama dua jam mendatang. ''Majuuuu....munduuuurrr...stoooopp''.

Sabtu (12/5) siang itu, matahari tertutup awan di atas sungai Citarik yang berwarna hijau kecoklatan. Udara terasa sejuk di tengah sungai selebar sekitar 20 meter itu. Sudah dua hari hujan tak turun di sekitar Citarik. Membuat arus sungai tak begitu deras dan jeram tak terlalu seram bagi kami yang baru menjajal arung jeram.

Ajakan berpetualang merasakan arus liar di sungai Citarik datang sepekan sebelumnya dari seorang kawan yang bekerja di salah satu bank BUMN terbesar di Indonesia. Melepas kejenuhan menjadi alasannya. Berhubung belum pernah mencicipi menjadi anak sungai, tawaran itu diterima. Kami berangkat dari kantor pusat bank yang terletak di bilangan Gatot Subroto, Jaksel, itu Sabtu pagi dengan rombongan besar, delapan mobil dengan total peserta 48 orang.

Perjalanan dari Jakarta - Citarik memakan waktu lebih dari dua jam. Iring-iringan mobil masuk ke tol arah Ciawi dan keluar di gerbang tol arah Sukabumi. Romongan terus menanjak di jalan raya sampai ke belokan arah kiri, Cikidang, daerah tepat di kaki Gunung Halimun. Kami masuk ke areal perkebunan kelapa sawit dan teh milik PT Perkebunan Nusantara VIII.

Di sepanjang jalan berkelok-kelok yang dibuat dipunggungan bukit, ribuan pohon kelapa sawit terhampar di kanan - kiri jalan. Bukitnya sendiri bergelombang, mirip lokasi shooting film seri anak-anak, Teletubbies.

Sejenak, hamparan kelapa sawit yang merunduk ibarat landak itu berganti rupa menjadi perkebunan teh. Selepas perkebunan teh kami memasuki perkebunan karet. Jajaran rapi pohon karet yang tengah disadap menjadi pemandangan yang sedikit membosankan. Pohonnya tinggi-tinggi dan monoton.

Alur arung jeram di sungai Citarik ada bermacam-macam, meski hanya di satu jalur. Mulai dari yang pendek hingga berakhir di pantai selatan atau di Pelabuhan Ratu. Paket arung jeram yang paling singkat adalah empat kilometer, yang paling jauh bisa sampai 17 kilometer. Dengan operator arung jeram Kaki Langit, kami mengambil rute yang tengah-tengah, yaitu sembilan kilometer. Kata Abun, itu berarti dua jam di perahu, mendayung dan basah kuyup.

Jeramnya makin ke bawah makin besar dan tajam. Dalam klasifikasi jeram, Citarik masuk ke tingkat III. Saat kami arungi, ketinggian air sungainya 80 cm. Perahu seakan dibawa naik roller coaster. Baru sejenak kami mengambil napas, lepas dari satu jeram yang cukup tinggi, sudah terlihat di depan perahu gulungan jeram lainnya. Bahkan tak jarang jeram itu tidak terlihat, dari depan perahu kami hanya menatap air yang tenang.

Lalu tiba-tiba dua meter sebelumnya, arus sungai mulai menarik perahu dengan cepat. Kami di dalamnya seakan ditarik ke depan, sambil tergoyang-goyang. Kaki dengan kuda-kuda yang kuat harus diselipkan diantara bantalan perahu. Bila tidak, bisa terpental kami dari perahu.

Kalau sudah begini, Abun pun berteriak, ''Majuuuuu...''. Dengan dua kali kayuhan, mendekati jeram dan bebatuan yang sebesar ban truk peti kemas, Abun kembali berseru, ''Stooop,''. Dari belakang, ia kendalikan arah perahu agar tidak menabrak batu dan melintasi jeram dengan mulus.

Perahu pun turun membelah muka sungai dengan cepat. Bila jeramnya cukup tinggi, sekitar 50 cm, maka perahu bisa membentuk hurup U, terlipat tepat ditengah-tengah. Aku dan Dewi yang bertugas mendayung di depan terangkat ke atas, sementara yang lainnya masih dibawah. Kami pun kembali berteriak-teriak kegirangan.

''Kalau kaya begini, Dufan (Dunia Fantasi Ancol memiliki wahana arung jeram, tapi tanpa perahu) mah ngga ada apa-apanya,'' seru Dewi tertawa senang.

Bertemu Biawak
Di beberapa tempat, air sungai kembali tenang. Tak ada bebatuan besar, tak ada jeram. Yang ada hanya muka sungai tanpa riak dan dinding tebing berwarna cokelat kehijauan di sisi kiri dan kanan sungai. Kadang, dinding tebing itu dipahat oleh alam dengan indah, menyerupai kulit salak, bertumpuk-tumpuk. Sulur akar dari atas tebing turun hingga ke permukaan sungai. Sering Abun berpegangan ke sulur akar ini untuk mengendalikan perahu dengan mudah.

Di tempat arus tenang seperti inilah kami bertemu 'sobat' reptil purba, biawak. Binatang melata mirip Komodo, namun lebih kecil, itu berenang menyusur pinggiran sungai. Tepat di sisi kanan perahu kami. Badannya bersisik warna hijau dan kuning. Kepalanya menyembul di atas air dengan lidah menjulur-julur. Biawak itu panjangnya sekitar 70 cm.

Abun, tanpa takut, sengaja hendak mengarahkan perahu kami ke dekat hewan yang hidup di dua alam itu. Ia percikkan air ke arahnya untuk memancing reaksi. Kontan penumpang perempuan protes dan berteriak-teriak. ''Buuun...ketengahin perahunya, jangan ganggu biawaknya, nanti dia malah nyamperin lagi,'' protes Robiyah. Tanpa dikomandoi, Robiyah mulai mendayung sendiri, kami berlima tertawa melihatnya.

Selain bertemu biawak, kalau muka sungai tanpa jeram, laju perahu dihentikan sejenak. Abun mempersilahkan kami mencoba pelampung. ''Ayo terjun, coba pelampungnya, nanti ngambang,'' kata pria yang sudah lima tahun main air jadi pemandu arung jeram di Citarik ini. Tawaran itu disambut Deri, Robiyah, dan Andri dengan antusias. Mereka segera terjun dari perahu.

Dewi dan aku tinggal di atas. Dewi merasa lebih aman di perahu, sedangkan aku malas merepotkan orang lain. Maklum dengan tubuh tersubur diantara yang lain, mengangkatku butuh tenaga ekstra, bisa-bisa perahu kami terbalik gara-gara operasi penarikanku.

Menarik rekan yang berada di dalam air, butuh teknik tersendiri. Pertama jangan menarik lengannya, karena licin. Jangan juga menarik bajunya karena bisa tercekik. Tariklah bagian bahu pelampungnya. Posisi orang pun harus berhadapan dengan si penarik. Jangan membelakangi.

Terbalik di Citarik
Sejak awal duduk di perahu, Andri sudah meminta Abun mengajarkan kami bagaimana caranya membalik perahu sendiri. ‘’Bun, ajarin balikkin perahunya dong,’’ kata dia. Abun tidak menjawab. Pria bertubuh kecil namun berotot itu hanya tersenyum kecil. Tampaknya ia tahu betul kami tak perlu membalik sendiri perahu sepanjang enam meter itu, alam akan menjungkirkannya sendiri.

Itulah yang terjadi ketika perahu kami memasuki jeram yang dijuluki jeram zig-zag. Jeram zig-zag padahal tidak begitu dalam atau curam. Ia dikelilingi oleh sejumlah jeram kecil yang hampir sejajar. Batu-batu kali pun tak seberapa besar. Namun letaknya hampir diujung kelokan sungai yang memang menurun. Sehingga arus air dengan deras mengalir ke kelokan itu. Membawa perahu kami dengan cepat.

Sekitar 10 meter sebelum jeram zig-zag, Abun makin sibuk dengan komandonya. ‘’Majuuu....stooop...,’’ teriaknya. Tangan kami mulai pegal mendayung. Lengan terasa berdenyut-denyut.

Perahu sempat berputar-putar dan posisinya melintang sebelum akhirnya kembali ke posisi normal. Lajunya makin cepat. Sekitar lima meter sebelum jeram zig-zag, Abun kembali berteriak ‘’Majuuuuu....,’’. Baru dua kali mengayuh Abun meminta kami berhenti.

Perahu meluncur cepat ke arah sebuah batu yang cukup besar. Sedianya Abun bisa mengendalikan perahu sehingga melewati batu itu ke arah kiri. Namun di depan perahu kami ada perahu lain yang sempat tersangkut. Abun terpaksa mengerem laju dengan mengarahkan perahu ke kanan.

Akibatnya fatal. Dengan kecepatan penuh perahu kami meluncur menghampiri batu itu. Arahnya tidak bisa dikendalikan. Teriakan kami bercampur dengan gemuruh air yang melintasi jeram. Perahu menabrak batu dan terbalik, terus terseret ke bawah jeram. Kami berenam terpental ke udara untuk beberapa detik sebelum akhirnya tenggelam.

Aku sendiri tak bisa melihat di mana rekan yang lainnya. Tahu-tahu aku sudah di dalam air dan terbawa arus kencang. Sebisa mungkin kuangkat kepalaku untuk bisa menghirup udara. Namun kembali tenggelam ditelan jeram.

Selintas teringat pesan Abun saat memberi pengarahan singkat sebelum berangkat. Kata dia, kalau kami hanyut posisi badan harus telentang. Mirip gaya punggung. ‘’Diam saja, dan angkat kepala untuk bernapas. Nanti badan akan terapung sendirinya,’’ ujar Abun.

Itulah yang aku lakukan. Telentang dan mencoba bernapas normal. Tapi sulit sekali. Jeram dan arus air menenggelamkan kepala. Sementara punggung dan pantat terhantam batu di dasar kali. Malah sempat perahu berada di atas kepalaku.

Sampai akhirnya secara refleks kakiku mencoba menjejak dasar sungai yang ternyata dangkal. Untung di depanku ada perahu, yang ternyata perahu kami. Aku tubrukkan diri ke perahu itu dan meraihkan tangan ke pinggirannya yang dibalut tali. Tubuhku berhenti terseret dan dengan sekali hentak kucoba untuk bangkit.

Kulihat teman-temanku hanyut tak jauh dari tempatku berdiri. Deri sudah ditolong oleh perahu pertama yang melintas sebelum kami. Ia tengah diangkat ke perahu. Mukanya pucat. Robiyah dan Andri tak nampak. Dewi masih terseret arus sebelum akhirnya dihentikan Abun yang berhasil menangkapnya dari atas perahu.

Robiyah ternyata tersangkut didekat perahu pertama. Maka ia pun diangkat, didudukkan dekat Deri. Andri sudah ada diatas perahu bersama Abun. Sejenak, kami semua terdiam, mencoba mengatur napas, mata saling berpandangan.

Tak jauh dari perahu kami, dua perahu lainnya hanya bisa menganga dan melihat kawan-kawannya hanyut. Sebelum akhirnya mereka bertepuk tangan.‘’Semangaaattt!!!!!,’’ kata mereka. Akhirnya kami semua tertawa terbahak-bahak.

‘’Ini pertama kalinya saya terbalik di jeram zig-zag,’’ kata Abun, saat kami berenam sudah kembali duduk di perahu. Dari analisisnya, perahu kami terlambat sepersekian detik untuk bisa belok arah. ‘’Kayuhannya tadi lambat,’’ tutur Abun pelan. Aku merasa bersalah karena kurang cepat mengayuh.

Setelah itu, tiap kali melihat jeram cukup besar, kami semua dengan semangat mengayuh. Sempat juga beberapa kali menabrak batu cukup besar, tapi tak sampai terbalik. Dari penjelasan Abun, Citarik memang belum pernah makan korban meninggal, tapi hati ketar-ketir juga bila nanti terbalik kedua kalinya.

Sebagai tindakan pengamanan, sepanjang perjalanan memang ada perahu yang khusus ditumpangi oleh tim penyelamat berjumlah lima orang. Mereka biasanya menunggu beberapa meter lebih jauh bila ada jeram yang dianggap cukup berbahaya. Tugasnya menarik peserta yang hanyut. Untung mereka tak melakukan tugas itu kali ini.

Tak lama setelah kejadian terbalik itu, perjalanan petualangan kami tuntas. Perahu akhirnya menepi dipinggir sungai yang berbatasan dengan ladang dan jembatan, di Desa Citangkolo. Dengan kaki masih gemetar, aku turun dari perahu menuju sebuah saung kecil.

Disana peserta lainnya sudah bercengkerama sambil tertawa-tawa. Tak lupa sebutir kelapa muda menemani. Nikmatnya sehabis arung jeram meminum kelapa muda tak bisa dilukiskan. Campur aduk antara segar dan puas. Puas..kami..puas...

Wednesday, May 2, 2007

Derap Syariah di Jalur Sutera

Bagi Syed Alwi bin Mohamed Sultan, jalur sutera yang terbentang dari Asia Barat hingga ke Cina tidak berhenti di tabung waktu. Jalur perdagangan yang dimulai sejak abad kedua sebelum masehi itu ia percaya terus memperbarui diri.

Barang dagangannya boleh berubah. Dari zamrud, perunggu, wangi-wangian hingga sutera yang dijaja di atas kereta barang yang dihela oleh unta dan kuda. Menjadi surat-surat berharga, kredit investasi, modal kerja, kredit konsumsi, serta produk investasi beraroma syariah Islam yang simpang siur di dunia maya.

Apalagi dua kawasan penggerak jalur sutera itu sekarang menjadi kawasan paling berpengaruh ke ekonomi dunia. Cina, yang tidak disangka-sangka, kini jadi ‘Harley Davidsonnya’ ekonomi dunia. Negara komunis ini mengalahkan AS dan Jepang dari sisi pertumbuhan ekonomi dan kompetitif industrinya.

Sedangkan negara Timur Tengah berkubang harta dari harga emas hitam. Beberapa tahun terakhir harga minyak dunia terus melambung. Bahkan sempat menyentuh rekor tertingginya dengan hampir mencapai 80 dolar AS per barel.

Otomatis warga Arab yang sudah kaya menjadi makin kaya dan makin bingung. Mereka pusing karena dengan ‘fulus’ sebanyak itu harus membiakkan dananya di mana. Dan Cina menjadi tujuan mereka.

''Sejarah memiliki cara tersendiri untuk terus berulang. Memasuki Cina mungkin akan meredefinisi pondasi-pondasi sistem keuangan Islami. Ini akan menjadi kelahiran kembali jalur sutera,'' kata Syed Alwi di Kuala Lumpur Islamic Finance Forum akhir tahun lalu.

Syed Alwi bekerja di Islamic Banking, Hong Leong Bank Singapura. Ia menjabat sebagai kepala Perbankan Islam. Lewat Cina, Syed Alwi berharap Islam sebagai sistem ekonomi dan keuangan akan mendunia.

''Jika sistem keuangan Islam mau berkembang pesat dan melibatkan diri dalam kegiatan ekonomi riil yang produktif, Cina adalah jawabannya. Di sana ada kesempatan bagi ekonomi syariah. Tantangan ini harus dijawab pelaku ekonomi syariah,'' tandas dia.

Soal ekonomi, negeri yang dijuluki Tirai Bambu itu memang jadi gudangnya. Sejumlah indikator ekonomi Cina beberapa tahun belakangan ini mengejutkan siapa pun. Investasi asing meroket dari 15 miliar dolar AS saat tragedi berdarah Tiannanmen di1989 menjadi 633 miliar dolar AS di akhir 2005.

Angka kemiskinan menurun drastis. Bila pada 1981 negara berpenduduk satu miliar jiwa lebih ini memiliki penduduk miskin 53 persen, di akhir 2001 jumlahnya merosot hingga delapan persen.

Pertumbuhan ekonominya fantastis. Per tahun ekonomi Cina bisa tumbuh di atas delapan persen. Barang-barang impor made in Cina berteberan di mana-mana. Mulai dari DVD di Glodok Jakarta Barat hingga tekstil dan produk tekstil di AS. Paman Sam bahkan merasa perlu mengenakan kuota tekstil ke Cina agar industrinya tidak gulung tikar.

‘’Angka-angka ekonomi itu mencerminkan beragam kebutuhan masyarakat Cina. Mereka perlu perumahan, pembangkit listrik, transportasi, pangan,’’ papar Syed Alwi. Ia hendak menggambarkan kebutuhan masyarakat Cina itu bisa diakomodir lewat produk keuangan syariah.

Pintu gerbang produk keuangan syariah itu sebenarnya sudah dibuka. Ini terlihat dari diterbitkannya sukuk sebesar 200 juta dolar AS oleh KFH untuk membiayai pembangkit listrik di Cina ‘’(Sukuk) itu akan menjadi pintu pembuka aliran investasi syariah ke Cina,’’ ujar Syed Alwi optimistis.

TantanganTapi memasuki ekonomi Cina tidak semudah yang dikira. Sejumlah hambatan bakal menghadang industri keuangan syariah untuk berkembang di sana. Meski potensi pertumbuhan industri syariah juga sangat besar.

Syed Alwi menggarisbawahi sejumlah risiko untuk berbisnis a la syariah di Cina. Pertama adalah risiko kredit. Masalah kredit seret di perbankan Cina sudah siaga merah. Angka NPL dari 2001 – 2006 saja telah mencapai 215 miliar dolar AS. Reformasi di kebijakan perbankan belum membawa hasil signifikan.

‘’Investor asing harus mewaspadai manajemen bisnis yang buruk oleh pengusaha setempat. Di samping itu, manajemen risiko perbankannya pun sama buruknya,’’ kata dia.

Kedua adalah kepastian hukum. Masalah kronis Cina sama dengan di Indonesia, yaitu KKN. Dalam realita, hukum kolusi berdiri di atas hukum yang sebenarnya di Cina. Hal ini ditambah dengan level birokratis yang ruwet dan berjenjang.

Ketiga adalah masalah desentralisasi wewenang kepemerintahan. Bagi sistem keuangan syariah, problem ini sangat mendasar. Pasalnya, hak aset properti sebagai jaminan harus transparan. Aset menjadi landasan transaksi keuangan Islami.

Secara keseluruhan, Syed Alwi menilai tantangan dan hambatan di Cina bisa ditaklukan. Ia beranalogi, ‘’Tantangan dan risiko usaha di Cina saat ini bisa dibilang sama beratnya dengan halangan yang dihadapi para pedagang muslim dahulu kala saat menuju Cina lewat Jalur Sutera. Kalau mereka bisa menaklukan, mengapa sekarang kita tidak?’’ cetus Syed Alwi.

Ekspansi ke Luar
Sistem ekonomi syariah konon diprediksi bakal menjadi arus utama ekonomi dunia. Padahal tadinya banyak pihak, terutama barat, memandang sebelah mata ke syariah. Sekarang mulai dari Eropa, AS, hingga Cina mulai dirambah syariah.

Majalah bergengsi asal Inggris, The Economist, secara khusus membedah prospek industri syariah di edisi Desembernya tahun lalu. Berdasarkan hasil riset lembaga pemeringkat Standard & Poor’s nilai kapitalisasi syariah (dihimpun dari berbagai produk keuangan seperti bank, saham, obligasi, asuransi, derivatif, hipotek) telah mencapai 400 miliar dolar AS.

Tiga tahun terakhir perkembangan industri syariah mencapai rata-rata 15 persen per tahun. ‘’Ekspansi syariah akan meluas sejalan dengan gerak ekonomi kawasan Timur Tengah yang ditopang minyak dan penyesuaian budaya investor asing terhadap sistem syariah,’’ kata The Economist.

Meski demikian, tetap ada sejumlah tantangan bagi ekspansi syariah. Menurut analis S&P Anouar Hassoune ada lima faktor yang mempengaruhi perkembangan industri syariah.

Pertama adalah standarisasi. Banyak negara telah menerapkan (secara penuh atau sebagian) sistem ekonomi syariah. Tapi standarisasi yang berlaku di berbagai negara itu masih berbeda-beda. Satu produk syariah di Malaysia bisa dianggap tidak syariah di Arab Saudi. Persamaan sistem dan standar menjadi pekerjaan rumah pertama yang harus diselesaikan.

Kedua adalah sinkronisasi standar akuntansi dan laporan keuangan syariah. Ketiga adalah diversifikasi produk. Anouar menilai produk keuangan syariah harus lebih fokus ke konsumen-konsumennya. Terutama produk keuangan derivatif dan terstruktur.

Keempat adalah masalah SDM. Satu hal yang menjadi perhatian di sisi SDM adalah kesenjangan penghasilan. Terbatasnya SDM ekonomi syariah konon membuat gaji karyawan itu melesat di atas rata-rata.
Terakhir adalah masalah risiko. Anouar melihat industri syariah harus memperbanyak skema manajemen risikonya.

Nyaman di DalamTapi tidak semua pihak sepaham dengan Syed Alwi atau liputan The Economist. Bagi sebagian pelaku syariah, mengembangkan diri secara organik (ke dalam) lebih utama ketimbang ekspansi ke luar tapi terburu-buru.

Azzam Abaalkhail, CEO dari Bank Al Bilad yang berbasis di Arab Saudi, menyatakan sebaliknya. Dirut bank yang meraup laba bersih mencapai 40 juta dolar AS di semester I 2006 ini berpendapat, justru perbankan Islam terlihat enggan ekspansi.

‘’Saya belum melihat ada keinginan yang kuat dari perbankan Islam untuk ekspansi ke luar negeri. Terlebih saat potensi domestik masih cukup besar,’’ kata Azzam seperti dikutip dari wawancara dengan Islamic Business and Finance, Oktober tahun lalu.

Meski Azzam mengakui ekspansi bisnis perbankan Islam ada di dalam rencana seluruh bankir. Masalahnya adalah kondisi pasar dan waktu yang tepat. ‘’Implementasi ekspansi itu masih lama. Tergantung dari perkembangan pasar yang diincar,’’ tandas Azzam.

Dari dalam negeri pun demikian. Wajah Dirut Bank Muamalat Indonesia, Riawan Amin, kecut saat mendengar rencana ekspansi besar-besaran industri syariah dipaparkan di Kuala Lumpur Islamic Finance Forum akhir tahun lalu.

Riawan yang didaulat sebagai pembicara dalam forum internasional itu menilai rencana ekspansi syariah terlalu muluk. Apalagi sampai ke Eropa atau Cina.

Mengapa muluk? ‘’Bagi Indonesia hal tersebut terlalu tinggi. Kita semua tahu bagaimana ekonomi syariah di dalam negeri belum terlalu berkembang. Bila di dalam negeri belum terlalu berkembang bagaimana mau melebarkan sayap ke negara orang?’’ tandas Riawan.

Apa yang dikatakan Riawan merujuk kembali ke tantangan pertama yang harus dihadapi industri syariah, seperti yang dipaparkan Anouar Hassoune. Banyak negara mengadopsi sistem ekonomi syariah. Tapi masalahnya ada di standarisasi sistem ekonomi Islam itu sendiri.

Dengan demikian pilihannya menjadi tunggal. Industri syariah di seluruh dunia harus makin memperkuat dirinya sendiri terlebih dulu. Selesaikan tantangan-tantangan standarisasi dan budaya. Gerakan ini bisa dilakukan sembari perlahan-lahan ekspansi.

‘’Kembangkan dulu syariah di dalam negeri secara maksimal! Hilangkan hambatan-hambatannya! Baru setelah itu kita berbicara di luar,’’ tegas Riawan.

Saatnya Menyeberang Jembatan

Rasanya sangat jarang ditemui acara yang menampilkan belasan duta besar duduk berderet bersama membicarakan satu hal yang sama. Tapi akhir Januari lalu, peristiwa itu terjadi. Sebanyak 12 duta besar dan dua utusan negara-negara dari Timur Tengah (Timteng) duduk di satu panggung membicarakan soal rencana ekonomi dan investasi mereka ke Indonesia.

Tak semua duta besar mendapat kesempatan berbicara secara mendalam. Karena waktunya singkat. Tapi sebagian besar, boleh jadi mewakili pandangan negara Timteng terhadap kesempatan usaha di Indonesia.

Satu hal yang sangat menonjol dari pandangan mereka adalah informasi soal Indonesia di negara asalnya. Informasi Indonesia menjadi barang penting. Secara gamblang dalam forum itu disampaikan, minimnya informasi sektor-sektor usaha yang berpotensi di Indonesia. Dalam hal ini media menjadi salah satu penyebabnya.

Keterbatasan media membuat investor Timteng hanya mengenal Indonesia lewat gejolak politik dan ketidakpastian. Makanya menjadi mahfum ketika Utusan Khusus Presiden Susilo Bambang Yudhoyono untuk Timteng, Alwi Shihab, kerap ditanya soal masalah politik ketimbang ekonomi oleh investor Timteng.

Sudan salah satu contohnya. Dubes Sudan untuk Indonesia Abdel Ghaffar mengatakan, negaranya kurang informasi soal Indonesia. Ia mengeluhkan hal ini sebagai hambatan kerja sama ekonomi.

‘’Kami kurang publikasi soal Indonesia. Terutama soal pasar apa yang bisa dimasuki investor Sudan. Khususnya sektor swasta kami,’’ tandas si duta besar.

Hal ini diamini Dubes Palestina untuk Indonesia, Fariz N Mehdawi. Kata dia, salah satu penghubung terpenting kerja sama dua negara adalah media. Dari media, informasi bisa saling ditukarkan, yang akan berujung ke hubungan niaga.

Lebih dari itu, Fariz memandang perlunya rakyat Indonesia dan Palestina lebih mengenal satu sama lain, tidak hanya lewat demonstrasi menentang penjajahan Israel dan AS di Palestina.

Hubungan lebih langgeng bisa didapat dengan saling menukarkan pelajar dan mahasiswa antara dua negara itu. Lewat medium ini, pengetahuan Indonesia dan Palestina akan tersebar. Kedua negara saling mempelajari bahasa dan adat istiadatnya masing-masing.

Indonesia, kata Dubes Turki Aydn Evergen, harus fokus ke informasi ekonomi seperti pasar, sektor investasi, dan perdagangan untuk disebarkan ke Timteng. Investor Timteng melihat Indonesia sebagai pasar yang sangat potensial dengan lebih dari 200 juta penduduk. Serta sebagai negara dengan penduduk beragama Islam terbesar di dunia.

‘’Kirim delegasi dan profesional-profesional dunia usaha Indonesia ke Turki. Paparkan fokus tersebut di atas, kalau ini dilakukan, kami yakin akan ada peningkatan hubungan ekonomi,’’ cetus Aydn.

Ia tambahkan, Turki tertarik berinvestasi di sektor konstruksi, agrikultur, pertambangan dan mineral, serta pariwisata di Indonesia.

Penghambat investasi lainnya adalah kunjungan misi perdagangan atau kunjungan usaha. Para perwakilan negara Timteng mengeluhkan jarangnya misi dagang Indonesia datang ke negara mereka.

Anggota Kadin Indonesia bagian Timteng, Sudrajat, punya kisah nyata terkait hal tersebut berhubungan dengan Algeria. Negara di Afrika Utara ini sebetulnya telah mengadakan hubungan dagang dengan Indonesia.

Kadin Indonesia mencatat ada 15 nota kesepahaman (MoU) yang ditandatangani antara pengusaha Indonesia dan pengusaha Algeria.
Tapi ironisnya, tak ada satu pun pengusaha Indonesia itu yang pernah bertandang ke Algeria. Dan hal ini dikeluhkan langsung oleh Dubes Algeria Hamza Yahia Cherif.

Karena dengan Singapura, yang mana Algeria belum pernah menandatangani MoU ekonomi apapun, pengusaha negeri Singa itu kerap berkunjung ke sana. Begitu juga pengusaha Korsel.
‘’Indonesia punya 15 MoU tapi pengusahanya tidak pernah berkunjung ke Algeria, Singapura tidak punya MoU tapi pengusahanya sering mengunjungi kami. Bahkan Korsel berinvestasi di Algeria saat kondisi negara kami sedang terpuruk, dan mereka sukses,’’ ungkap Hamza.

Keluhan itu sudah disampaikan ke Alwi Shihab. Ia akui, selama ini kunjungan misi dagang Indonesia ke negara-negara Timteng jarang dilakukan. ‘’Ada keluhan dari para dubes soal kurangnya kunjungan pejabat dan pengusaha kita ke Timteng,’’ Alwi mengaku.

Sementara Kadin menilai pengusaha Indonesia kurang serius menggarap pasar Timteng. Ini berefek setara bagi investor Timteng ke Indonesia. ‘’Pengusaha Indonesia jangan membawa hal-hal yang tidak pasti ke Timteng. Kita harus jelas, apakah barang dagangan sudah siap pengiriman, kualitas barangnya, dan bagaimana harganya,’’ ungkap Sudrajat.

‘’Kadang-kadang pengusaha Indonesia datang ke sana cuma bawa proposal yang //nggak// pasti, kalau ditanya bagaimana, kapan kirim barangnya, tidak tahu pasti,’’ keluh dia.

Keunggulan
Data investasi Timteng ke Indonesia memang tidak bersahabat. Hingga Februari 2006, dari 29 negara yang berinvestasi di Indonesia, investor asal Timteng hanya terdiri atas tiga negara, yakni Yaman, Arab Saudi, dan Libia. Nilai investasi ketiganya pun relatif kecil, Yaman hanya 600 ribu dolar AS, Arab Saudi 500 ribu dolar AS, dan Libia 300 ribu dolar AS.

Sementara dari data perdagangan, menurut Kadin rata-rata per tahun termasuk migas, perdagangan kedua wilayah ini menghasilkan 2,5 miliar dolar AS untuk Indonesia. ‘’Kalau dihitung dengan migas, kita positif. Kalau tidak, negatif. Indonesia lebih banyak jual ke sana daripada beli di sana,’’ papar Sudrajat.

Perdagangan boleh jadi belum bermasalah, tapi investasi yang minim menjadi perhatian pemerintah. Presiden SBY boleh jadi khawatir melihat rendahnya investasi Timteng ke Indonesia itu. ‘’Sepanjang 2004- 2005 terjadi penurunan investasi Timteng ke Indonesia dari sekitar tiga miliar dolar AS menjadi dua miliar dolar AS,’’ kata presiden di atas pesawat menuju ke Timteng tahun lalu.

Sedangkan Menneg BUMN Sugiharto optimistis Indonesia bisa meraup dana Timteng. Dengan membawa rombongan BUMN-nya, Sugiharto menerawang angka delapan miliar dolar AS bisa masuk ke Indonesia dari Timteng. Dana itu akan masuk lewat sukuk (obligasi syariah), maupun lewat proyek yang melibatkan BUMN.

Tapi sebelum menjaring investor, Indonesia perlu berkaca soal keunggulannya menjadi tempat berinvestasi ketimbang negara lain di Asia Tenggara. Terhadap pertanyaan ini, Alwi Shihab optimistis. Keunggulan Indonesia nomor satu, kata dia, adalah melimpahnya sumber daya alam yang bisa dijadikan bahan baku.

Indonesia dipercaya bisa merebut kedigdayaan produsen CPO dari Malaysia tahun ini. Kemudian, Indonesia juga negara penghasil kokoa terbesar ketiga di dunia dan penghasil kopi terbesar di dunia keempat.

Daftar ini masih bisa ditambah dengan negara pengekspor batubara terbanyak, negara ketiga di dunia terbesar penghasil tembaga. Lalu menduduki peringkat lima dunia untuk penghasil timah, dan di atas semua itu, Indonesia masih menyimpan potensi luar biasadi bidang gas alam.

Setelah bahan baku, keunggulan Indonesia lainnya adalah biaya operasional usaha yang relatif lebih rendah, pasar yang sangat potensial dengan 220 juta lebih penduduk, murahnya tenaga kerja lokal, dan stabilitas ekonomi dan politik.

‘’Kita menyiapkan paling tidak executive summary (ringkasan eksekutif soal proyek yang bisa diinvestasikan) agar mereka melihat potensi (Indonesia). Jadi, kita harus rajin mempersiapkan, paling tidak proposal,’’ kata Alwi.

Kelemahan
Salah Saeed, pengusaha dari firma Hayel Saeed Anam Group, telah berinvestasi di Indonesia sejak 1998. Mungkin bisa dibilang aneh, pasalnya firma asal Yaman ini masuk ke Indonesia dan Malaysia saat Asia Tenggara tengah dihantam krisis. Tapi buktinya mereka terus berinvestasi dan ekspansi hingga kini.

Selama sembilan tahun berinvestasi bidang kelapa sawit, galangan kapal, dan barang-barang konsumen, Salah punya beberapa keluhan soal Indonesia. Pertama soal insentif pajak. Menurut dia, investor menunggu adanya tax holiday dari pemerintah dan rasionalisasi serta penyederhanaan UU Pajak saat ini.

Keluhan kedua adalah soal restitusi (pengembalian) PPN ekspor oleh Ditjen Pajak. Salah mengeluhkan lambannya Ditjen Pajak merestitusi usahanya. Akibatnya, dana untuk modal usaha dan ekspansi menjadi minim.

‘’Kami berharap restitusi itu tiga bulan, itu reasonable. Maksimum! Karena ini menghambat modal kerja, sekitar 10 persen dari modal kerja lari ke pembayaran restitusi PPN,’’ keluh Salah. Selama ini ia menerima restitusi dari Ditjen Pajak antara enam hingga 12 bulan.

Tingginya suku bunga kredit menjadi keluhan lanjutan dari Salah Saeed. ‘’Tingkat bunga kredit di Indonesia termasuk yang tertinggi di kawasan Asia Tenggara,’’ cetus Salah. Selain itu, menurut dia, pascakrisis ekonomi di Indonesia perbankan terlihat terlalu berhati-hati mengucurkan kredit ke sektor riil.

Keluhan terakhir adalah soal tenaga kerja. Menurut Salah, keputusan soal UU Tenaga Kerja harus segera diputuskan pemerintah dan DPR. Secara khusus Salah meminta agar UU Tenaga Kerja yang akan berlaku nanti saling menguntungkan bagi pekerja dan pengusaha.

Menyeberang Jembatan
Alwi Shihab enggan menyebut total angka pasti investasi Timteng yang bakal masuk ke Indonesia sejak ia menjabat sebagai utusan khusus. ‘’Kalau angka, sulit untuk saya prediksi. Tapi yang jelas, ada proyek-proyek yang betul-betul serius dibicarakan,’’ kata Alwi.

Sejumlah proyek itu antara lain melibatkan BUMN Krakatau Steel dan PT Pupuk Sriwijaya dengan Turki dan Iran. Jumlahnya pun ratusan juta dolar AS. Ini belum termasuk minat serius membangun pariwisata di Lombok dan perbankan Timteng yang akan membeli bank lokal.

Setahun melobi di Timteng memang masih waktu yang singkat. Tapi melihat sejumlah rencana investasi tersebut, Indonesia bisa bernafas lega. Pasalnya investasi memang sangat dibutuhkan. Terlebih ketika Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan data investasi yang anjlok hanya 2,9 persen tahun lalu.

Investasi, salah satunya dari Timteng, bisa jadi pertaruhan pemerintah tahun ini. Meski untuk mewujudkan hal itu banyak pekerjaan rumah yang harus dilakukan dengan cepat.

Untuk menggambarkan hubungan Timteng – Indonesia soal investasi ini, Dubes Algeria punya analogi yang sangat tepat. Menurut dia, Indonesia dan Timteng ibarat berdiri diam di dua tebing curam. Padahal dua tebing itu dihubungkan oleh jembatan.

‘’Saat ini adalah waktu yang tepat bagi Indonesia dan Timteng bertemu dan menyeberangi jembatan itu,’’ kata Hamza.

Kembali ke Khittah

Gubernur Bank Indonesia, Burhanuddin Abdullah, berjalan tergesa-gesa di lobi Hotel Shangrila, Senin (23/3) pagi. Ia hendak keluar. Mengenakan kemeja putih berbalut jas hitam, laju gubernur dikawal banyak orang. Ada pengawal dari BI yang berbadan tegap dan kekar, ada juga para bankir lokal maupun asing.

Sebelumnya, Burhanuddin memberikan sambutan selama sekitar 10 menit, di hadapan 600 bankir yang menghadiri The Asian Banker Summit 2007. Apa tujuan diadakan pertemuan itu?

Burhanuddin menjawab, ''Bagaimana mengembalikan industri bank ke khittahnya, ke tugasnya yang sebenar-benarnya, yaitu posisi intermediasi kegiatan ekonomi. Bukan hanya di Indonesia tapi juga di negara lain yang mengalami krisis ekonomi yang sama, isu intermediasi ini jadi sesuatu yang penting,''.

Sejarah Bank
Uniknya, sejarah bank modern di Eropa justru tidak diawali dari kegiatan memberi kredit. Praktek bank diawal-awal hanya untuk menyimpan dan mengantar uang atau barang berharga.

Dalam bukunya yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, Sejarah Uang (2005), Jack Weatherford menuturkan sejarah bank modern berawal di Palestina, abad ke-12. Situasi saat itu masih kisruh. Perang Salib masih berkecamuk.

Darussalam (Yerusalem) terus menerus digempur berbagai pihak. Puluhan ribu korban jiwa berjatuhan. Tapi ditengah kekacauan itu para peziarah, pemeluk berbagai agama samawi, membanjiri Yerusalem bak air bah. Mereka dikawal oleh penjaga yang disebut Ksatria Templar.

Sebagai imbalannya, para ksatria mendapat hadiah atau pembayaran berupa uang, emas, tanah, atau perhiasan. Lama kelamaan, karena makin banyak yang berziarah, tumpukkan hadiah itu makin membukit. Barang-barang itu lantas disimpan di puri atau benteng tempat markas para ksatria, di Eropa.

Karena dianggap aman, ksatria Templar berjubah putih dengan baju zirah dilarang menikmati sepeser pun hadiah untuk kepentingan pribadinya, maka raja-raja Prancis pun menitipkan hartanya di benteng. Atas titipan ini dikutiplah biaya yang nantinya mengalir ke kas gereja mereka.

Praktek tersebut secara tidak langsung akhirnya ditiru dan berkembang ke berbagai daerah. Italia termasuk yang pertama menerapkannya. Bedanya, kegiatan simpan menyimpan di Italia murni bisnis dan melayani segala lapisan masyarakat.

Para saudagar Italia berkeliling mendatangi tiap pasar dan pekan raya di seluruh Eropa. Mereka menggelar meja dan bangku-bangku yang besar untuk kegiatan menukar uang, menjual dagangan, memberi kredit, mengurusi uang yang bakal dibawa sebagai pembayaran utang seseorang ditempat lain, dan berbagai macam layanan keuangan lain.

Kata modern bank pun diambil dari cara saudagar Italia itu menjalankan bisnisnya. Kata bank diturunkan dari kata yang berarti meja atau bangku. Perabot yang sangat penting dalam bisnis keuangan. Dari bahasa Italia, kata itu berkembang menjadi bank, banco, dan banque, serta menyebar ke wilayah Eropa lainnya.

Tak Kunjung Mengalir
Tentu ada sejumlah alasan yang mendasari komentar Gubernur BI itu. Di sini, paling tidak kita bisa membahas secara ringkas beberapa indikator sederhananya seperti indikator rasio simpanan terhadap pemberian kredit (LDR).

Saat ini rasio LDR nasional masih sekitar 64 persen. Jauh dibawah rata-rata LDR sebelum krisis ekonomi 10 tahun lalu yang sekitar 70 persen. Hingga akhir 2008, bank sentral menargetkan LDR mencapai 68 persen.

Apa yang ingin digambarkan rasio LDR? Yaitu masih banyak dana masyarakat yang belum dikucurkan jadi kredit. Dari total dana pihak ketiga hingga Desember 2006 sebesar Rp 1.287 triliun, baru 64 persen yang mengalir dalam bentuk kredit.

Angka ini, menurut berbagai pihak, terlalu rendah untuk sebuah angka rata-rata nasional. Mengingat sejumlah bank yang fokus ke UMKM memiliki LDR di atas 70 persen. Dan di masa sebelum krisis ekonomi LDR kita juga di atas 70 persen.

Indikator selanjutnya yang bisa dilihat adalah pertumbuhan kredit. Benar bahwa kredit tumbuh tiap tahun makin besar. Tapi yang jadi masalah apakah itu cukup? Tidak. Pelaku sektor riil masih berteriak bahwa bank perlu lebih gencar lagi memberi kredit. Tak hanya konsumsi, tapi juga kredit modal kerja atau investasi atau ritel.

Tahun ini kredit ditargetkan tumbuh 17 persen dari total kredit 2006 yang sebesar Rp 792 trliun. Angka 17 persen adalah angka moderat. Mengingat pada 2005 kredit sempat tumbuh 20an persen lalu anjlok hanya tumbuh 14 persen tahun lalu. Tapi belum apa-apa, kredit Januari sudah turun Rp 15,5 triliun.

Indikator terakhir yang juga penting adalah tingkat bunga kredit. Boleh dibilang indikator ini yang paling mengkhawatirkan. Karena sepanjang tahun lalu hingga awal tahun ini, tingkat bunga kredit relatif tidak bergerak signifikan. Rata-rata tingkat bunga kredit masih di level 15 persen.

Padahal suku bunga acuan, BI Rate pada saat yang sama sudah turun lebih dari 300 basis poin ke level sembilan persen. Ditiap penurunan BI Rate, bank selalu obral janji akan menurunkan suku bunga kreditnya, tapi nyatanya?

Agar sektor riil bergerak, untuk ekspansi, memaksimalkan kapasitas produksinya, atau investasi ditempat baru, membuka usaha baru, suku bunga kredit diminta di level 12 persen atau lebih rendah.

Dana masyarakat makin gendut di perut bank. Seiring dengan itu, net interest income bank juga masih lebar. Saat ini posisi NIM di sekitar tujuh persen lebih. NIM adalah selisih bunga simpanan terhadap bunga kredit. Selisih ini bisa dibilang keuntungan bank.

Selisih tujuh persenan boleh dibilang terlalu besar. Bank bisa hidup nyaman dengan selisih lebih rendah dari itu.

Kemudian, dana masyarakat yang tak tersalurkan ke kredit, mengalir deras ke kas BI dalam bentuk Sertifikat Bank Indonesia (SBI). Jumlahnya hingga akhir tahun ini diperkirakan bakal mencapai Rp 300 triliun.

Bayangkan, ada uang Rp 300 triliun yang tidak digunakan untuk membuka usaha atau ekspansi. Ini belum ditambah kredit yang sudah disetujui tapi belum ditarik sebesar sekitar Rp 179 triliun dan akan terus membukit. Jumlahnya bakal lebih besar lagi kalau kita memasukkan biaya bunga yang harus dibayar BI tiap tahunnya, yang sekitar Rp 20 – 25 triliun.

Silahkan hitung sendiri ada berapa banyak uang di dalam kegiatan ekonomi yang diam mendekam. Sementara pada saat yang bersamaan banyak pelaku UMKM kesulitan butuh dana untuk usaha.

Bank? Mereka punya segepok alasan untuk terus menyimpan uang dana pihak ketiga ke saku BI. Dua alasan utama mereka adalah risiko usaha yang dipicu iklim investasi yang belum membaik dan keengganan pelaku usaha untuk meminta kredit (yang tentu saja dipicu oleh tingginya suku bunga kredit). Tapi dua alasan ini harus dimaklumi karena benar adanya. Tapi, inikah khittah bank di Indonesia?

Kembali ke UMKM
Setelah Muhammad Yunus meraih nobel bidang perdamaian tahun lalu, berhembus angin segar ke kredit UMKM. Semua seakan kembali berkaca ke cermin milik Yunus, ke cermin Grameen Bank. Bank yang khusus membiayai masyarakat kaum papa yang ditiadakan aksesnya oleh bank lain.

Maka jawaban untuk kembali ke khittah intermediasi bank di Indonesia, kata Gubernur BI, adalah lewat kredit UMKM. ‘’Dalam intermediasi yang penting adalah bank bisa berperan lebih ke UMKM. Ini sangat besar artinya bagi penyerapan tenaga kerja yang sekarang dibutuhkan,’’ tandas Burhanuddin di kesempatan yang sama.

Mantan Perdana Menteri Australia, Paul Keating, yang menjadi pembicara kunci di pertemuan itu pun setuju. Kata dia, pada prinsipnya negara harus berperan aktif mendorong perbankannya melakukan intermediasi ke sektor UMKM.

‘’Negara butuh agar bank memberi pinjaman untuk konsumsi, perumahan, dan bisnis kecil. Itu kegiatan intinya,’’ tandas Keating.

Sebagai pelumas mesin kredit UMKM agar lebih lancar, Keating menganjurkan kehadiran bank pembangunan. Peran bank ini berbeda dengan bank persero atau swasta atau BPR sekalipun. Bank pembangunan wajib menyentuh sektor yang belum layak diberi kredit dengan sokongan dana pemerintah.

‘’Jika pemerintah ingin menyalurkan kredit ke sektor tertentu lebih baik pakai bank pembangunan, jadi mereka merambah sektor yang tidak disentuh bank komersial,’’ cetus Keating.

Masalah untung atau rugi kredit tak perlu dibesar-besarkan. Karena khusus menangani sektor yang tidak terjamah, tentu ada kajian tertentu agar tidak mengganggu kinerja bank atau bank secara nasional.

Tapi ini bukan berarti bank melupakan kredit jenis korporasi atau ritel atau konsumer. Bukan. Pilihan kredit ke UMKM, menurut survei Badan Pusat Statistik (BPS) semata-mata ditujukan karena basis perekonomian Indonesia justru dibangun dari UMKM. Sektor yang juga paling tahan banting terhadap krisis.

Hingga kini, dari total 40 juta unit UMKM, baru 20 persennya yang bisa mengakses dana kredit ke bank. Pelaku UMKM dan bank seakan tak nyambung dalam hal kredit.

Pelaku UMKM bilang bank tak mengerti sektor mereka atau bunga kreditnya terlalu tinggi. Sementara bank meminta ada jaminan kredit atau manajemen neraca keuangan usaha yang profesional.

Makanya, beberapa bulan terakhir pemerintah dan BI kasak kusuk membuat paket kebijakan UMKM dan relaksasi kebijakan perbankan UMKM. Sejumlah hal mulai revitalisasi peran Askrindo, melegalkan resi gudang dan toko sebagai jaminan kredit, sertifikat kapal dan mesin sebagai jaminan kredit, hingga melonggarkan syarat kredit UMKM pun telah dan bakal dilakukan.

BI melonggarkan kebijakan bagi bank untuk mengucurkan kredit. Tentu kelonggaran itu punya harga yang harus ditebus. Harga itu adalah tumbuhnya kredit sesuai target. Harga itu adalah kembali ke khittah bank.

Masalahnya, maukah bank melepas kenyamanannya duduk bergepok SBI untuk berkeringat intermediasi yang penuh tantangan? Harus mau! Karena itu khittah bank, ia selalu penuh tantangan dan peluang.

Mandiri (Tak) Sepenuh Hati

Tajuk Republika, Kamis (25/1), saat menanggapi keputusan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono membubarkan Consultative Group for Indonesia (CGI) adalah Mandiri. Mandiri dalam arti Indonesia mengurangi ketergantungannya dari utang asing dan memiliki posisi tawar menawar utang lebih tinggi dari sebelumnya.

Tekanan politis yang disisipkan dalam pemberian utang ke Indonesia memang kerap terjadi di forum CGI. Semua menteri ekonomi mengakuinya. Tekanan itu bisa datang dari negara yang memberi utang, tapi juga bisa datang dari negara yang tidak memberi utang.

Menurut Menkeu Sri Mulyani, kemandirian yang diinginkan Presiden akan terlihat dari rasio utang ke Produk Domesti Bruto (PDB) nasional. Rasio tersebut tiap tahun terus menurun. Tahun lalu rasionya sebesar 42,09 persen dan tahun ini diharap bisa mencapai 37 persen.

‘’Kalau dia makin turun berarti pemerintah punya banyak sekali tempat bantalan pengaman kalau terjadi berbagai shock. Setiap negara membutuhkan ruangan dan manuver untuk menentukan strateginya. Definisi (mandiri) itu yang ingin disampaikan Presiden,’’ tandas mantan direktur eksekutif IMF untuk Asia Tenggara ini.

Sedangkan bagi Menko Perekonomian Boediono, bubarnya CGI tidak selalu terkait ekonomi. Pria kalem ini menilai ada nasionalisme di balik itu. ‘’Barangkali masalah kebanggaan. Dalam arti kita tidak lagi harus mengandalkan utang pada suatu forum multilateral seperti ini,’’ kata Boediono.

‘’Kita sekarang sudah bisa mengelola sendiri, atas dasar kerangka kebutuhan kita sendiri di APBN, dan ini suatu kemajuan dari segi kemandirian dan kemampuan mengelola strategi utang kita,’’ lanjut dia.

Dari sisi politis, pemerintah tampaknya juga mulai gerah atas sorotan tajam yang terjadi tiap tahun saat sidang CGI digelar. ‘’Sorotan politis ke CGI terlalu besar sehingga kontraproduktif. Ongkos politik CGI terlampau tinggi,’’ keluh Menkeu.

Beragam pendapat menyambut langkah ‘berani’ pemerintah memutus hubungannya dengan CGI. Pengamat ekonomi yang biasanya galak terhadap kebijakan utang luar negeri pemerintah mendadak angkat topi atas keberanian Presiden SBY.

Ada juga pendapat yang lebih hati-hati atas bubarnya CGI. Kalau CGI bubar lalu dari mana Indonesia akan mendapat utang? Bila ini kemudian diartikan dengan menerbitkan obligasi internasional lebih besar lagi, tentu manfaat bubarnya CGI jadi mubazir.

Namun dibalik itu semua, benarkah dengan bubarnya CGI masalah utang luar negeri Indonesia tuntas? Dari sisi tekanan politis atau wacana yang berkembang di masyarakat boleh jadi sudah tuntas. Tetapi dari sisi ekonomi, belum tentu.

Negara ini masih menyimpan pekerjaan rumah yang besar dalam mengelola utang luar negerinya.

Forum Baru
Hanya selang sehari setelah membubarkan CGI, pemerintah diketahui berencana membuat forum lagi. Kali ini forum itu diberi nama forum konsultasi atau forum launching utang dan hibah. Anggotanya sama dengan anggota CGI.

Belum jelas betul seperti apa bentuk forum ini. Konon ia masih dibicarakan di tingkat tinggi pengambil kebijakan. Tapi pemerintah mengklaim, forum komunikasi beda dengan CGI. Forum itu diklaim bebas tekanan politis dan tidak mempengaruhi utang.

‘’Komunikasi dengan pihak-pihak luar kan perlu kita butuhkan. Tetap kita ada forum untuk //launching// utang dan hibah. Tapi bukan untuk meminta utang, kalau mereka (negara kreditor) mau bekerja sama ya bagus!’’ papar Menneg PPN/Kepala Bappenas Paskah Suzetta akhir pekan lalu.

''Itu hanya forum komunikasi untuk memfasilitasi pinjaman dari kreditor ke Indonesia. Kita dan kreditor akan bisa tukar pikiran dan mempermudah pinjaman di mana hasil pembicaraannya tidak mengikat,'' klaim Dirjen Pengelolaan Utang Depkeu, Rahmat Waluyanto.

Apa benar demikian? Kita memang belum tahu pasti. Tapi yang jelas, rencana pembentukan forum komunikasi itu mendapat tanggapan keras dari sejumlah pengamat. ‘’Dalam bahasa diplomasi, forum konsultasi dan komunikasi itu sama saja, tidak ada bedanya. Kalau ini yang terjadi, berarti CGI hanya ganti baju saja,’’ cetus ekonom senior yang juga anggota DPR, Dradjad H Wibowo.

Pendapat senada dilontarkan ekonom Indef Fadhil Hasan. Indef memang kerap mengkritisi kebijakan utang luar negeri pemerintah. ‘’Forum komunikasi sama juga bohong!’’ sergah Fadhil.

Padahal ia berharap bubarnya CGI bisa membuat utang asing Indonesia berkurang, bukannya ada forum baru lagi tetap akhirnya menambah utang.

Bebas Utang?
Dari kacamata anggaran negara, pembubaran CGI dijamin tidak ada pengaruhnya. Utang luar negeri kita tetap tinggi. Dan kita menggunakan uang rakyat untuk membayar cicilan pokok dan bunga utang luar negeri.

CGI mau bubar atau terus jalan tetap saja jumlah pembayaran cicilan utang itu lebih besar ketimbang anggaran departemen strategis seperti Depdiknas dan Depkes.

Data dari Depkeu mengungkapkan, utang luar negeri Indonesia semenjak 1967 sampai 2006 dari International Goverment Group for Indonesia (IGGI) dan CGI mencapai 122 miliar dolar AS! Sedangkan total utang luar negeri yang tengah berjalan mencapai 61,311 miliar dolar AS atau sekitar Rp 551,799 triliun (kurs rata-rata sembilan ribu rupiah per dolar AS)! Ini berarti hampir sepertiga PDB nasional!

Utang kita terhadap ADB masih sebesar 9,009 miliar dolar AS. Kepada Bank Dunia masih 7,424 miliar dolar AS. Dan ke Amerika Serikat sebesar 3,077 miliar dolar AS.

Tapi yang lebih fantastis adalah, bila kita gabungkan seluruh utang ADB, Bank Dunia, dan AS, masih belum bisa mengalahkan utang Jepang. Ke negara matahari terbit ini Indonesia masih berutang 24,358 miliar dolar AS!

Ini belum ditambah tawaran-tawaran baru. ADB tahun lalu telah komitmen menambah utangnya ke Indonesia hingga 3,82 miliar dolar AS selama 2006 – 2009. Pemerintah sendiri terungkap berencana berutang hingga 35 miliar dolar AS dari periode 2006 – 2009. Tapi buru-buru usulan utang itu dinyatakan bisa lebih rendah.

Dari mana kita membayar utang-utang asing ini? Dari uang rakyat (pajak) tentunya. Di APBN 2007 anggaran yang digunakan untuk membayar cicilan pokok utang dan bunga utang saja telah mencapai Rp 81,494 triliun!

Padahal tak jarang di lapangan utang asing itu dikorup dan masuk ke kantong pejabat kita. Ini belum memasukkan adanya utang yang belum terserap (undisbursed loan) sebesar 10,802 miliar dolar AS. Pemerintah beralasan pencairan utang ini tergantung dari pelaksanaan proyek dan program.

Namun demikian, pemerintah harus sudah membayar biaya komitmen (committment fee) antara 0,25 – 0,35 persen. Ini berarti ada anggaran sebesar 37,807 juta dolar AS yang dibuang tanpa hasil per tahun!

Kartu Kredit
Seorang kawan beranalogi soal penyelesaian utang luar negeri Indonesia. Kata dia, Indonesia itu seperti orang yang tak konsisten menggunakan kartu kreditnya.

‘’Gampangnya saja, Indonesia itu seperti pemegang kartu kredit. Ia punya penghasilan (pendapatan negara) yang akan dipotong untuk membayar tagihan kartu kreditnya (utang luar negeri),’’ kata sang teman.

Kartu kredit, papar dia, menjadi momok ketika kita tidak bisa mengerem gesekannya di alat magnetis dibanding pertambahan penghasilan kita. Saat penghasilan (pendapatan negara) kita bertambah, demikian pula pengeluaran kartu kredit (penarikan utang luar negeri) kita. Akhirnya beban utang tinggi tetap dipelihara.

‘’Harusnya saat penghasilan bertambah (pendapatan negara), konsumsi kartu kredit (utang luar negeri) dikurangi atau diminimalisir. Paling tidak lebih rendah dari pertambahan penghasilan kita,’’ tandas dia.

Dengan demikian, ada sisa uang yang bisa ditambahkan ke anggaran untuk melunasi kartu kreditnya. Tidak melulu diambil dari penghasilan.

Analogi ini sangat cocok menggambarkan kondisi pengelolaan utang luar negeri yang tidak konsisten. Di saat pendapatan negara meningkat, begitu pula permintaan utang luar negeri bertambah dengan alasan untuk menambal defisit anggaran.

Utang luar negeri tidak menjadi surplus untuk membayar cicilannya sendiri. Malah pemerintah berencana menambal cicilan utang luar negeri itu dengan menerbitkan Surat Utang Negara (SUN).

‘’Sudah saatnya utang luar negeri digunakan untuk membiayai proyek-proyek infrastruktur yang menghasilkan keuntungan. Dari proyek-proyek itu bisa kita membayar cicilan pokok dan bunga utang sehingga tidak membenani APBN,’’ usul Dradjad H Wibowo.

Harapan Indonesia mandiri dari utang luar negerinya boleh jadi masih lama terwujud. Tekanan kreditor asing terus mengintai. Anggaran negara tiap tahunnya terbebani untuk membayar cicilan utang.

Sementara skenario pembayaran cicilan utang itu dinilai terlalu konservatif. Tapi bagaimana pun juga satu langkah maju dengan membubarkan CGI patut didukung. Tentunya pemerintah harus tidak hanya berhenti dengan membubarkan CGI saja.

Gurita U2

Sejauh mana gurita bisnis Bono dan U2 memang tak banyak dikupas media. Bahkan terkesan tertutup. Bloomberg Market mencatat, seluruh keuntungan U2 ditangani oleh satu perusahaan induk bernama Not Us.
Di tahun buku 2005, Not Us justru merugi, 3,76 juta dolar AS.Not Us membawahi sedikitnya 16 perusahaan, yang rata-rata bergerak dibidang musik dan aksesorinya.
Perusahaan-perusahaan itu adalah Eventcorp (perantara konser), Mother Music (perusahaan rekaman), Mother Records (produksi rekaman), Remond (perantara konser), Sam Tours (perantara konser), Straypass (penyelenggaran konser), Target Tours (perantara konser) dan U2 Ltd (perusahaan pembuat //master// rekaman).
Ini ditambah perusahaan Brushfield, Fair City Trust, Princus Investment, Thengel, U2 Clothing Co, dan U2 Partnership.
Sementara Bono, ia juga memiliki gurita bisnis sendiri. Tapi uniknya, sebagian besar usaha itu justru merugi. Pertama, Bono memegang 25 persen saham hotel bergaya minimalis, Clarence, di Dublin Irlandia. Namun hotel yang tarif terendahnya 296 dolar AS per malam itu justru mencatat rugi bersih 611,2 ribu Euro di tahun buku 2005.
Lalu Bono juga memegang saham di tiga kedai kopi Nude. Usaha kedai kopi ini sebenarnya milik kakak Bono, yang bernama Norman. Tapi lagi-lagi usaha ini jauh untung. Bloomberg Marker mencatat Nude rugi 634,8 ribu Euro.
Usaha ketiga Bono yang juga gagal memetik laba adalah Edun. Di atas sudah disebutkan Edun adalah perusahaan pakaian yang beroperasi di negara-negara berkembang. Dirut Edun, Christian Kemp Griffin mengungkapkan, di 2004 Edun rugi sebesar 5,49 juta dolar AS. Edun diklaim bakal untung di 2008.
Perusahaan terakhir milik Bono, Elevation Partners, malah sempat diprotes gara-gara membuat permainan komputer yang dituding menyinggung rakyat Venezuela.
Asal muasalnya adalah salah satu anak perusahaan Elevation Partners, Pandemic Studios LLC asal Los Angeles, AS, membuat permainan komputer bertajuk Mercenaries 2 : World in Flames. Inti permainan di dunia maya itu adalah invasi sejumlah pihak ke Venezuela, yang saat ini dipimpin Hugo Chavez. Chavez terkenal akan pandangan dan kebijakannya yang sangat kontra AS dan negara barat.

Kapitalisme A la U2

Diantara Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Muhammad Yasin dari Bangladesh, keduanya kandidat penerima nobel perdamaian 2006, 'nongol' nama Irlandia Paul Hewson. Oleh sejumlah media di AS dan di Inggris, Paul Hewson dinilai berhak menggondol nobel itu. Karena disela-sela aktivitasnya menjadi vokalis grup rock beken U2, Paul Hewson alias Bono, mengampanyekan pengentasan kemiskinan di Afrika.

'Demi' Afrika, Bono //ngobrol// dengan Presiden AS George W Bush, atau bercengkrama bareng dedengkot Microsoft Bill Gates. Bono juga terlihat berdiskusi serius bersama mantan Presiden AS Bill Clinton, bahkan berangkulan akrab dengan tokoh legendaris Afsel, Nelson Mandela. Daftar ini makin panjang bila ditambah PM Jepang Shinzo Abe dan PM Irlandia Bertie Ahern.

Bukan cuma tokoh penting, penonton konser keliling dunia U2 2005 pun diajak peduli Afrika. Di arena konser yang gelap, dengan latar belakang lampu silau, Bono melantunkan salah satu hits U2, One.

''Did I disappoint you or leave a bad taste in you mouth?''
lantun Bono dengan suara khasnya.

Ditengah-tengah lagu, Bono memohon fans U2 rela mengirim pesan pendek dari ponsel mereka ke ONE, salah satu organisasi nirlaba milik Bono yang tujuannya menghapus kemiskinan. Total 131 konser yang ditonton lebih dari 4,6 juta fans U2, sms yang terkumpul mencapai 500 ribu sms.

Fans U2 mau mengikuti jejak Bono karena pria pria kelahiran Dublin 46 tahun lalu ini kharismatik. Lihat saja dandanannya : kemeja lengan panjang dan celana hitam, kacamata khas yang bentuknya lebar juga berwarna hitam, dan terkadang topi cowboys.

Namun Bono tak cuma jual tampang dan gaya. Konon, pria yang menikahi teman SMUnya di Dublin ini jago lobi tingkat tinggi. Berkat lobi itu, Bono mendirikan tiga organisasi sosial, yaitu DATA (Debts, AIDS, Trade Africa), ONE, dan RED.

''Bono adalah pelobi yang sangat berbakat,'' puji Jamie Drummond, direktur eksekutif DATA, seperti dikutip dari Majalah Bloomberg Market edisi Maret 2007. ''Ia sangat persuasif dan kharismatik.

Saat ngobrol dengan para politisi, Bono mengingatkan mereka saat awal-awal politisi itu terjun ke dunia politik. Penuh dengan idealismedan tekad,'' tambah Jamie.

Bono juga sukses menggandeng perusahaan kakap macam Nike, American Express, GAP, Giorgio Armani, Motorola, dan Apple untuk mau menyisihkan 40 persen pendapatan belum dipotong pajaknya ke RED. Organisasi ini menggunakan dana tersebut guna memerangi AIDS, TBC, dan malaria di Afrika.

Belum puas, Bono bahkan mendirikan perusahaan pakaian Edun, yang tujuannya meningkatkan perdagangan di negara-negara berkembang. Edun menjual kaos oblong buatan Lesotho, Afrika, seharga 54 dolar AS di pusat pertokoan bergengsi di London. Rompi wool dari Peru yang ada di gantungan baju dibanderol 145 poundsterling, dan jaket asal India yang mengkilat dihargai 240 poundsterling. Sebagian dari harga jual ini masuk ke organisasi Bono, ONE.

Sisi Lain
Nah itu satu sisi Bono dan U2 yang kita lihat di layar televisi atau dibaca di media massa. Tapi bak dewa Janus dalam mitologi Romawi yang berwajah dua, maka Bono dan U2 punya sisi lain yang 180 derajat sangat berbeda.

''U2 adalah contoh dari kapitalisme tulen,'' kecam Jim Aiken, perantara konser U2 di era 1980 dan 1990-an. Aiken kerap membawa U2 manggung di Dublin saat itu.

Apa wujud kapitalisme tulen a la U2 dan Bono? Mereka meminimalisasi pajak.

Konser U2 bertajuk Vertigo sukses meraup keuntungan kotor 389 juta dolar AS hanya dari tiket. Vertigo didaulat sebagai konser paling laku kedua sepanjang sejarah. Di bawah konsernya si bibir dower Mick Jagger dan The Rolling Stones yang meraup 425 juta dolar AS di akhir 2006.

Bloomberg Market menelusuri dana hasil konser U2 bertumpuk di sejumlah anak perusahaan U2 yang berdomisili di Irlandia. Konon dananya 'dikerjai' agar pajaknya rendah.

Guna makin merendahkan setoran pajaknya, U2 juga rela memindahkan perusahaan rekaman mereka dari Irlandia ke Belanda, Juni 2006. Alasannya, pajak perusahaan sektor rekaman di Belanda termasuk yang terendah se-Eropa.

Kontan perpindahan itu menuai kecaman dari akuntan-akuntan pajak setempat. ''Siapapun harus membayar pajaknya dengan adil ke pemerintah. Karena dari pajak kita bisa membangun jalan, sekolah, dan lain-lain,'' tandas Dick Molenaar, konsultan pajak dari firma All Arts Tax Advisers, Rotterdam.

Sayangnya, U2 kecele, karena enam bulan sesudahnya Irlandia justru menurunkan tarif pajak serupa. Ada juga cerita, saking doyannya meminimalisasi pajak, direktur eksekutif U2 sampai ditugaskan tinggal di luar negeri.

Dengan demikian pajak perorangan yang harus ditanggung menjadi lebih rendah. Pemerintah Irlandia tidak lagi memajaki lima orang. Melainkan hanya empat orang anggota U2, yaitu Bono, The Edge sang gitaris, Adam Clayton pemetik bas, dan penggebuk drum Larry Mullen.

Bagi U2, apa yang mereka lakukan ini sah. Aturan pajak di Irlandia maupun di Belanda memungkinkan perusahaan merestrukturisasi diri mereka agar pajak yang dibayar tetap rendah. Manajer U2, Paul McGuinnes malah menggambarkan U2 sebagai bisnis yang taat pajak, bercermin dari aturan itu.

''Sedikitnya 95 persen dari bisnis U2 termasuk rekaman dan penjualan kami tempatkan di luar Irlandia. U2 membayar pajak dengan tarif yang sangat beragam di seluruh dunia. Kami juga menaati hukum pajak Irlandia,'' kata McGuinnes seperti dikutip dari New York Times awal Februari.

Pajak dan etika bisnis memang kerap bersinggungan. Apalagi kalau dasarnya berorientasi ke penumpukkan modal (kapitalisme) dan laba. Dunia barat paling tenggang rasa terhadap dua hal ini. Sehingga cara apapun tampaknya 'layak' dilakukan.

Namun etika bisnis U2 dan Bono tidak mencerminkan apa yang mereka pesankan lewat konser musik atau lagu-lagunya. “Apa yang dilakukan Bono dan U2 untuk meminimalisasi pajaknya sangat inkonsisten dengan apa yang mereka sarankan ke pemerintah-pemerintah untuk mengentaskan kemiskinan,'' cetus Richard Murphy, peneliti dari Tax Research LLC, asal Inggris.

Ada juga pihak yang menilai apa yang U2 lakukan ini serupa dengan kebiasaan perusahaan raksasa di dunia. ''Mereka memanfaatkan celah dalam aturan pajak. Saya tidak bilang bahwa apa yang U2 lakukan ini tidak adil, tapi tindakan mereka adalah hal yang lazim,'' kilah Prof Michael J. Graetz dari Universitas Yale.

Hal inilah yang dilihat Jim Aiken sebagai dua muka dari U2. ''Sumbangan sosial yang paling berarti sebetulnya tidak perlu jauh-jauh ke Afrika, cukup bayar saja pajak Anda dengan benar!,'' kecam dia.

Krisis Mengintai?

Entah sengaja atau tidak, akhir bulan lalu Gubernur Bank Indonesia, Burhanuddin Abdullah, mengeluarkan pernyataan yang cukup menarik untuk disimak. Kata dia, jumlah utang bermata uang asing saat ini perlu diwaspadai karena jumlahnya makin buncit.

Sebagai otoritas bank sentral yang tiap hari memelototi lalu lintas devisa, situasinya bagi BI mungkin pelik. Banyak hal yang dipertaruhkan lewat derasnya aliran utang luar negeri yang dilakukan perusahaan swasta dan BUMN beberapa waktu terakhir.

Pertaruhan paling gawat adalah bila utang pihak swasta, korporasi, maupun BUMN itu, terkena imbas ketidakseimbangan global. Nilai tukar dolar AS menguat dan menekan rupiah. Pada saat yang sama utang-utang itu jatuh tempo. Investor asing berbarengan mengeluarkan dana mereka dari Indonesia.

Bisa dibayangkan potensi terulang kembali krisis keuangan jilid II di Indonesia. Oleh karena itu pernyataan Burhanuddin, ‘’Jangan sampai kita over exposure, terlalu banyak pinjam ke luar,’’ menjadi sangat penting untuk dicamkan.

Peringatan itu ia katakan menjelang 10 tahun krisis ekonomi memorak-porandakkan Indonesia. Bermula dari ekonomi, krisis meluas ke ranah sosial, budaya, pertahanan dan keamanan, sampai ke politik yang ditandai dengan jatuhnya rezim Soeharto.

Simak apa pandangan mantan Gubernur BI saat krisis dulu, J Soedradjad Djiwandono, yang ia tulis dalam bukunya, Bergulat dengan Krisis (2001). ‘’Dalam bidang ekonomi, dua hal yang sangat berpengaruh pada krisis di Indonesia adalah kelemahan perbankan dan besarnya pinjaman korporasi dalam valuta asing,’’ kata Soedradjad.

Pinjaman korporasi saat itu didominasi oleh pinjaman berjangka waktu pendek dan tidak disertai skema perlindungan nilai (hedging). Swasta berani ambil risiko tidak melindungi utangnya karena begitu percaya pada indikator makroekonomi Indonesia yang sangat kinclong kala itu.

Sebelum krisis, kinerja ekonomi rezim Soeharto memang digambarkan oleh Bank Dunia sebagai economic miracle. Indonesia didaulat jadi macan Asia. Namun justru ekonominya ditunjukkan dengan tanda-tanda penggelembungan ekonomi (economic bubbles) seperti ekspansi sektor perumahan yang kelewat besar dan pertumbuhan pasar saham yang luar biasa, bersamaan dengan masuknya dana asing berjangka pendek secara berlebihan ke lantai bursa.

Bagi para pengamat ekonomi yang kerap mengkritisi kebijakan ekonomi pemerintah, situasi saat ini dinilai tidak begitu jauh berbeda dengan 1997. Satu hal yang jelas-jelas sama adalah sekarang Indonesia juga tengah diguyur dengan arus modal asing yang luar biasa besar.

Indikator yang kerap disinggung adalah indeks harga saham gabungan di Bursa Efek Jakarta (BEJ) melaju kencang menyentuh batas psikologisnya di level 2.000 basis poin, pekan lalu. Dari BI, dicatat terjadi peningkatan capital inflow dalam bentuk Surat Utang Negara (SUN) atau Sertifikat BI (SBI) di triwulan I 2007 senilai 2,4 miliar dolar AS.

Indikator lainnya adalah data cadangan devisa di kantong BI. Pada posisi 27 April lalu, cadangan devisa sudah mencapai 49,1 miliar dolar AS. Dalam waktu sebulan, sejak Maret, cadangan devisa telah naik hampir dua miliar dola AS.

Indikator terakhir adalah utang luar negeri pemerintah dan swasta. Per Desember 2006, utang ini tercatat sebesar 125,258 miliar dolar AS. Jumlahnya memang menurun jika dibandingkan dengan September 2006 yang besarnya 127,528 miliar dolar AS.

Tapi penurunan itu hanya terjadi dari sisi pemerintah dan BUMN. Utang di sektor swasta justru naik. Per September 2006, utang luar negeri oleh swasta mencapai 50,046 miliar dolar AS. Tiga bulan kemudian, pada Desember 2006, utang tersebut membengkak 1,085 miliar dolar AS atau sekitar Rp 10 triliun.

‘’Utang ini akan memengaruhi kredibilitas kita. Karena itu, perlu kita monitor dengan baik,’’ kata Burhanuddin.

Bandingkan dengan situasi utang asing saat krisis dulu. Soedradjad mengutip data dalam Letter of Intent antara IMF – pemerintah yang menyatakan per Oktober 1997 jumlah pinjaman nasional mencapai 140 miliar dolar AS. Utang ini didominasi oleh utang swasta sebesar 80 miliar dolar AS.

Kalau ditarik ke belakang, sepanjang 1992 – 1997 terlihat tren peningkatan utang swasta lebih cepat ketimbang pemerintah. Dalam kurun waktu tersebut, utang pemerintah tumbuh dari 55,5 miliar dolar AS menjadi 59,9 miliar dolar AS. Sementara utang swasta membengkak dari 28,2 miliar dolar AS menjadi 78,1 miliar dolar AS.

Murah dan Mudah
Berutang ke luar negeri sekarang ibarat makanan cepat saji. Mudah dan relatif murah. Sikap pragmatis memilih utang ke asing justru mendapat momentum dari ketatnya persyaratan bank untuk mengucurkan kredit.

‘’Kita pinjam ke asing karena lebih murah dan tidak berbelit-belit syaratnya,’’ cetus Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Sofjan Wanandi.

Ia jelaskan, bank asing menawarkan bunga kredit yang menarik untuk pinjaman berdenominasi dolar AS. Kalau dari dalam negeri rata-rata bunga kreditnya masih tinggi di level 14 persen, maka di bank asing bisa satu digit, hingga lima persen.

Syarat kredit pun dinilai tidak banyak cing cong, ketika di dalam negeri pengusaha diminta menyerahkan segepok dokumen yang menunjukkan sektor usahanya prospektif. Dua kemudahan ini saja sudah membuat sejumlah pengusaha berpaling muka memanfaatkan bank asing untuk kredit.

‘’Jadi kita lebih suka ke luar negeri. Kita kan hitungannya bisnis. Mana bisa kita ambil yang mahal. Kan bodoh kita,’’ tambah Sofjan lagi.

Sisi lainnya, berutang ke luar negeri bisa dipandang sebagai bentuk kepercayaan kreditor asing terhadap pihak swasta. Bahwa korporasi Indonesia sudah dinilai mampu mengembalikan dana bank asing. Tidak seperti saat krisis dulu ketika bank-bank mitra usaha di luar negeri menolak surat kredit yang diterbitkan bank nasional.

Kondisi ini dinilai Kepala Badan Kebijakan Fiskal Depkeu, Anggito Abimanyu, sebagai tanda membaiknya ekonomi. ’’Kalau banyak orang yang menawarkan uang dan tak sedikit perusahaan kita yang bisa mengeluarkan obligasi ke luar negeri, itu tanda perbaikan ekonomi,’’ katanya.

Tapi ia tetap setuju bahwa untuk menghindari over exposure utang, jumlah pinjaman yang masuk harus tetap diawasi. Apakah itu berarti bakal ada pembatasan, seperti yang Thailand coba lakukan? Dengan tegas Anggito menjawab tidak.

‘’Tidak ada langkah antisipasi, kita hanya memonitor saja, baik itu pinjaman komersial, obligasi korporasi, maupun valas,’’. BI, tambah pria lulusan UGM ini, sudah memiliki instrumen untuk memantau masuknya dana asing lewat UU Lalu Lintas Devisa.

Krisis Mengintai
Bagi ekonom senior, Iman Sugema, ancaman krisis ekonomi jilid II tetap mengintai. Utang asing yang tidak digunakan untuk kredit ekspor bisa bawa mimpi buruk seperti 1997. Ketika itu pembangunan real estate di Indonesia kerap dibiayai langsung oleh pinjaman valas lewat bank asing namun penerimaannya dalam bentuk rupiah.

Ada selisih kurs yang berperan dan bisa mencetak rugi disitu. Begitu gejolak di pasar uang meningkat, maka beban kurs asing melonjak dan membuat debitor dalam negeri menjerit karena pemasukkan rupiah tidak seimbang untuk membayar utang dolar AS.

Sedangkan kalau utang itu digunakan untuk ekspor, maka potensi gejolak valas relatif tidak ada. Eksportir menjual barangnya ke luarnegeri dalam bentuk dolar AS. Mata uang yang sama ia terima di dalam negeri dari hasil pembayaran barang ekspornya.

Dari segi teritorial, ekonom CSIS, Hadi Soesastro, melihat ancaman penerbangan valas ke luar negeri tidak hanya menimpa Indonesia, tapi di seluruh Asia Timur. ‘’Sekarang Asia Timur dianggap sebagai kawasan yang sangat menarik dan uang yang masuk banyak sekali. Uang-uang ini kan mudah sekali ditarik. Itu yang jadi masalah,’’ tandas dia.

Oleh karena itu, sistem monitoring utang luar negeri menjadi bagian terpenting untuk mencegah gejolak utang valas di dalam negeri. Hadi meminta BI tidak hanya berhenti memonitor jumlah utang secara keseluruhan. Tetapi harus menelisik sampai mengetahui untuk apa utang swasta dari pihak asing itu diambil.

‘’Apa benar mengambil utang dari luar negeri lebih murah, atau ada masalah penyaluran di dalam negeri,’’ tanya Hadi.

Itupun tidak bisa hanya mengandalkan Indonesia. Ia menilai kawasan Asia Tenggara dan Jepang, Cina, dan Korsel harus bahu membahu mengembangkan sistem pengawasan dan pemantauan arus duit asing ke dalam daerahnya.

‘’Tidak bisa cuma saling melapor. Juga bagaimana menilai dan mencari cara yang terbaik untuk menanganinya,’’ sambung dia. Masalah ini konon sudah dibahas secara tertutup dalam pertemuan menteri keuangan Asean plus Three di Thailand beberapa waktu lalu.

Internal Bank
Ancaman krisis, lanjut Iman, bisa lebih buruk terjadi sekarang karena kinerja internal bank belum memuaskan. Ia bahkan berani mengklaim kondisi perbankan saat ini, dari sejumlah indikator, lebih buruk ketimbang krisis ekonomi 1997.

Dua indikator utamanya adalah rasio simpanan terhadap pinjaman (LDR) dan jumlah kredit yang dikucurkan. Untuk indikator yang pertama, sebelum krisis LDR mencapai 70 persen. Sekarang angkanya baru di level 64 persen. Hingga akhir tahun ini BI menargetkan LDR bisa mencapai 68 persen.

‘’Pada 1997, bank-bank tidak mengandalkan obligasi rekapitulasi, selain itu, saat itu juga tidak ada masalah penyaluran kredit. LDR-nya baik. Sedangkan sekarang banyak bank yang mengandalkan obligasi rekap. Penyaluran kredit juga mandek,’’ tukas Iman.

Boleh jadi ekspektasi Iman terhadap peranan kredit untuk membiayai pembangunan sangat tinggi. Hal itu wajar terjadi di negara berkembang seperti Indonesia, ketika sektor perbankan masih menguasai pembiayaan ketimbang sektor pasar modal.

Padahal kinerja kredit tumbuh dari tahun ke tahun. Sayangnya, laju pertumbuhan itu dinilai berbagai pihak terlalu lamban. Ambil contoh tahun lalu saat BI optimistis target kredit bisa 20 persenan. Secara perlahan tapi pasti BI terus merevisi target tersebut hingga hanya 15 persenan. Hasil akhirnya malah dibawah target karena kredit 2006 hanya tumbuh 14,1 persen.

Dua bulan pertama tahun ini juga jadi tantangan tersendiri bagi kucuran kredit. Ternyata meski bank sentral telah melonggarkan sejumlah kebijakan, laju kredit tetap belum maksimal. Di Januari bahkan kucuran kredit turun Rp 15,5 triliun dari Desember.

Walaupun kinerja kredit kembali pulih di Februari dengan membukukan Rp 8,9 triliun menjadi Rp 826,3 triliun. Tetap saja ia belum menutup penurunan kredit bulan sebelumnya. Secara tahunan, kredit Februari 2007 tumbuh Rp 111,7 triliun dari Februari 2006.

Sebetulnya ironis juga kalau melihat banyak swasta meminjam ke bank asing. Padahal di dalam negeri sedang kelebihan likuiditas. Dana pihak ketiga yang diternakkan di SBI saja jumlahnya sudah mencapai lebih dari Rp 263 triliun.

Jumlah itu sudah hampir menyamai besaran uang yang beredar di masyarakat, Rp 272 triliun. Bahkan ada potensi SBI bisa mencapai Rp 400 triliun bila kondisi kelebihan likuiditas ini tidak terserap ke sektor riil. ‘’Yang terjadi adalah uang hanya berputar-putar di sektor keuangan,’’ kata Deputi Gubernur BI, Aslim Tadjudin.

Pendapat ini diamini Hadi Soesastro. Ia akui kesenjangan antara sektor keuangan dan riil Indonesia cukup serius untuk membuat krisis. Sektor produksi dalam negeri belum bergerak sesuai kapasitasnya. Investasi malah tahun lalu hanya tumbuh 2,9 persen. ‘’Ini kan sama seperti asing memanfaatkan ekonomi kita, semata-mata hanya mengejar keuntungan,’’ tandas dia.

Sisi Lain Sidang Newmont Minahasa Raya

Dengan gontai Lydia Astriningworo masuk ke lobby Hotel Gran Puri, Manado, Senin (23/4) malam. Langkah kakinya yang jenjang ia arahkan ke kiri lobby, ke restoran, tempat kami (Republika, Investor Daily, dan Detikcom) sedang menyantap makan malam.

Belum sempat kami bertukar sapa, Lydia sudah terduduk lemas di depan kami. Keletihan tampak diwajahnya. Kantong matanya menghitam. Bola matanya memerah.

‘’Capek sekali habis briefing terakhir,’’ cetus media relation officer PT Newmont Minahasa Raya (NMR) ini sambil perlahan mengangkat kepalanya dari atas meja. Kami bertiga hanya tersenyum simpul.

Briefing terakhir itu merupakan rentetan rapat yang ia ikuti sejak pesawat Batavia Air dengan nomor penerbangan 0635 dari Jakarta – Manado tiba di Bandara Sam Ratulangi, Senin pagi. Rapat membahas berbagai persiapan menjelang sidang putusan kasus dugaan pencemaran di Teluk Buyat, Minahasa, oleh perusahaan tempat Lydia bekerja.

Lydia menyinggung bakal ada demonstrasi oleh warga Teluk Buyat yang menuntut NMR dihukum. ‘’Demo positif, kita belum tahu berapa banyak yang datang, tapi demo akan berlangsung,’’ katanya dengan suara tertahan.

Tapi ia mengaku takut dengan suasana hiruk pikuk demonstrasi itu. ‘’Kalau boleh besok aku milih ada di kantor, daripada dekat dengan demo,’’ lanjut dia dengan logat Jawa yang kental.

Selain demo, yang membuat Lydia rapat sampai malam adalah lembaran rilis pers. Konon, ia dan sejumlah rekannya telah membuat dua skenario rilis yang akan disebarluaskan ke berbagai media, usai sidang putusan.

Isi rilis itu, kata Lydia, ada yang skenario menang alias bebas dari tuduhan mencemari Teluk Buyat, dan skenario kalah. ‘’Kita sudah mempersiapkan segalanya,’’ tambah dia. Lagi-lagi kami bertiga hanya tersenyum simpul, tapi kali ini penuh arti.

Keesokan harinya, boleh jadi kepenatan Lydia dan kawan – kawan di NMR lunas terbayar. Setelah sidang selama 135 menit, Pengadilan Negeri Manado memutus NMR dan Dirutnya, Richard Bruce Ness, bebas dari tuduhan mencemari pantai Teluk Buyat dan membuang limbah pertambangan (tailing) tanpa izin.

Di tengah teriknya matahari Manado, suasana haru melanda PN Manado. Di ruang sidang, yang besarnya sekitar satu lapangan bulu tangkis itu, para pegawai NMR menangis, ketika mendengar perusahaan dan atasan mereka bebas tak bersalah.

Wajah Rick Ness, yang telah disidang selama 54 kali sejak 2005, memerah karena udara dalam ruang sidang memang panas. Bulir air mata sempat menetes di muka pria yang sudah memeluk Islam dan menikahi perempuan asal Indonesia ini saat mendengar hakim mengetok palu seusai berkata tidak bersalah.

Di luar, di halaman pengadilan, suasana haru yang berbeda melanda warga Pantai Buyat yang berdemonstrasi meminta NMR dan Ness dihukum tuntas. Belasan warga menangis sesungukkan sesudah mendengar keputusan hakim lewat pengeras suara.

Namun air mata mereka tak lagi deras. Boleh jadi karena mereka sudah bosan dengan kesedihan. Guratan kebingungan justru terpahat di wajah-wajah berkulit hitam itu. Bagaimana mungkin, pikir mereka, perusahaan yang di tuduh mencemari lingkungan dan membuat sejumlah warga kena penyakit kulit berupa benjolah, bentol-bentol, sampai mengorbankan seorang bayi, justru diputus bebas di pengadilan.

Sorot mata warga menengadah ke atas, ke terik matahari. Mereka terlihat sangat tidak berdaya. ‘’Kami sebagai manusia biasa, sebagai hamba Allah, tidak kuasa atas segala sesuatunya, tindak kezaliman, kekerasan, kami sandarkan kepada Yang Maha Kuasa, kita saksikan hari ini apa yang mereka perbuat, kami tidak banyak, sekedar kami terima apa yang jadi putusan, karena selama ini kami ditindas, selama kami diperbodohi, kami akan berusaha sampai di mana kami kuat,’’ raung seorang warga saat membaca doa setelah mendengar putusan hakim.

Untuk sementara, perselisihan antara warga Buyat dan NMR memang tuntas sudah. Putusan tak bersalah membuat harapan keadilan warga buyar seketika. Tapi Jaksa Penuntut Umum, Purwanta, langsung mengatakan bakal banding ke Mahkamah Agung. NMR menerima tantangan itu.

Di luar sidang itu, banyak hal menarik yang bisa dirasakan dan dilihat saat meliput sidang NMR. Toh meliput sidang tak harus duduk di dalam ruang, karena di luar sidang sejumlah peristiwa patut diberitakan.

Ambil contoh, wartawan yang meliput. Untuk yang satu ini NMR rela merogoh koceknya cukup dalam dengan membawa sedikitnya 10 wartawan media cetak dan elektronik nasional dari Jakarta ke Manado dan sebaliknya dengan pesawat terbang. Para kuli tinta diinapkan di salah satu hotel terbaik di Manado dengan tarif Rp 2 juta untuk dua malam.

Beberapa wartawan sempat tertawa terkekeh melihat keberanian NMR memboyong media nasional. Kata mereka, belum tentu menang saja pengorbanannya sudah cukup besar. Untungnya, NMR memang menang di pengadilan, coba kalau tidak, bisa tekor.

Demonstrasi warga Buyat di halaman PN Manado juga unik diliput. Selama jalannya persidangan di tepi pantai itu, ada dua kubu yang berdemo. Kubu pertama adalah belasan warga Buyat yang sudah direlokasi. Kubu kedua adalah segelintir warga yang juga mengaku dari Buyat, tapi mendukung NMR. Kedua kubu kerap sahut-sahutan meneriakkan yel-yel.

Warga yang kontra NMR digiring oleh beberapa mahasiswa yang tergabung dalam sejumlah organisasi mahasiswa dan Lembaga Swadaya Masyarakat setempat. Komando demo dipegang oleh mahasiswa. Mereka sangat ketat mengawal warga dengan bentangan spanduk. Tak sembarang orang bisa masuk ke dalam kerumunan demonstrasi.

Ketatnya pengawalan ini tentu membuat wartawan heran. Kuli tinta terlihat kesulitan mewawancarai warga pendemo. Salah seorang juru kamera Reuters bahkan dilarang mewawancarai seorang warga, oleh si mahasiswa. Ketika Republika mencoba duduk mendekati warga yang tengah beristirahat di dekat pagar pengadilan, warga Buyat itu buru-buru digiring kembali masuk ke kerumunan pendemo di tengah halaman.

Wawancara hanya bisa dilakukan terhadap wakil warga yang telah ditunjuk mahasiswa. Nama wakil itu, Anwar Stirman (37 tahun), nelayan yang tadinya melaut di Buyat sebelum direlokasi. ‘’Keadilan tidak berpihak ada kami, adil itu barang langka bagi kami, saya tidak tahu kenapa, padahal sangat jelas NMR merusak lingkungan tapi majelis hakim menyatakan yang lain,’’ keluh Anwar setelah mendengar putusan hakim.

Sementara itu, kubu pro NMR berdemo tepat disamping kubu kontra NMR. Demo kubu pro NMR tidak terlihat serius dipersiapkan. Demo hanya membawa sebuah spanduk pembelaan terhadap NMR, bahwa NMR tidak mencemari Buyat. Yang berdemo pun bisa dihitung dengan jari di sebelah tangan. Demo kubu pro NMR akhirnya bubar seiring sengatan matahari makin panas di kepala.

Tapi demo kubu pro NMR mendapat dukungan dari puluhan orang berbadan tegap, berpakaian hitam-hitam. Tak jarang tangan mereka dirajah berbagai ragam motif dan tulisan. Raut muka mereka sok galak. Di bagian belakang bajunya tertera bordiran bertuliskan Brigade Manguni dengan logo burung hantu yang mungil, kontras dengan kegarangan yang ditampilkan.

Pasukan hitam-hitam ini mengepung para pendemo yang kontra NMR. Anehnya, 190 aparat polisi yang berjaga di sekitar gedung PN Manado seakan mendiamkan gerombolan pria berbaju hitam-hitam itu. Bila para pendemo kontra NMR tak boleh mendekati pintu masuk gedung pengadilan, maka anggota Brigade Manguni dengan santai bisa berdiri dekat pintu masuk.

Suasana di Hotel Ritzy, tempat jumpa pers usai putusan sidang juga menarik untuk dicermati. Sebelum sidang putusan digelar, petugas keamanan sangat ketat memeriksa tamu yang hilir mudik ke hotel. Bunyi ‘tiiit’ detektor logam kerap terdengar. Tapi begitu putusan selesai dibaca dan NMR diputus bebas, bunyi 'tiiit' itu lenyap.

Gelombang rombongan tamu yang ingin masuk ke hotel malah disalami oleh penjaga pintu. ‘’Selamat ya pak!’’ kata si petugas sembari menjabat tangan Republika dan seorang wartawan saat hendak masuk ke hotel yang hanya berjarak 50 meter dari PN Manado itu.

Di hotel yang sama, sehari sebelum sidang putusan, kami juga sempat memergoki beberapa orang berpakaian Kejaksaan Tinggi Manado hilir mudik di lobby hotel. Tak jelas apa keperluan mereka, tapi Hotel Ritzy saat itu menjadi pusat kegiatan NMR dan tempat menginap para petinggi NMR.

Beberapa jam setelah putusan yang diketok oleh Ketua Majelis Hakim, Ridwan Damanik, Richard B Ness tampak gembira dikelilingi kerabat dan karyawannya. Ketika ditanya apa yang ingin dilakukannya setelah sidang, Ness menjawab, ‘’Saya akan berkumpul dengan keluarga, saya bahkan belum sempat bertemu dengan istri saya,’’ katanya sambil tersenyum simpul.

Tapi berkilo-kilometer dari kemegahan dan kesejukkan Hotel Ritzy, Anwar Stirman, masih bergelut dengan kerasnya kehidupan. Sembari menangis, Anwar menuturkan kisah hidupnya. Istrinya mengidap benjolan di kepala dan sering pusing saat masih di Buyat. Dua orang anak Anwar bahkan kerap terkena kejang-kejang hingga kini.

Derita penyakit itu ia tuding akibat limbah arsen dan merkuri bekas tailing tambang emas NMR yang mencemari Teluk Buyat. Perjuangan warga Buyat, tegas pria berbadan kurus dan berkulit hitam ini, tidak habis di meja hijau. ‘’Kami hanya mohon ke JPU jangan berhenti sampai disini, agar kami bisa mendapat keadilan lebih dari ini,’’ tandas Anwar ketir. Esok hari, dengan sisa harapan dan kekuatan, ia dan segenap warga lainnya berjanji kembali berdemo.