Belum lima menit di dalam perahu, sungai Citarik yang membelah Kecamatan Cikidang, Sukabumi, sudah menghantarkan jeramnya menghentakkan kami. Perahu karet warna biru yang ditumpangi aku, Dewi, Andri, Robiyah, Deri, dan pemandu perahu (skipper) bernama Abun, terguncang-guncang. Terseret arus deras melewati bebatuan cadas berukuran cukup besar.
Kami kontan langsung berteriak, ''Waaa...yeaaahh..,'' senang. Sementara Abun, yang duduk di bagian paling belakang perahu, sudah mulai memberikan aba-aba. ''Majuuu...'' teriak dia. Kami pun mendayung maju sekuat tenaga. Melewati sejumlah jeram kecil dan batu kali berukuran sedang.
Bagian dasar perahu sempat menyentuh batu cukup besar sehingga posisi perahu berputar. Abun kini berada di depan. Pandangan kami justru membelakangi arus sungai. Secepat kilat Abun kembali berteriak, ''Munduuuuurr...''.
Maka 10 lengan kembali mengayuh dayung dalam posisi kayuhan ke belakang. Tapi yang terjadi malah salah arah. Arus masih deras menyeret perahu sementara awak perahu salah koordinasi. Abun berteriak mundur, sebagian dari kami malah mendayung maju. Jadilah perahu kembali berputar-putar, terbawa arus tidak dengan posisi lurus ke depan, melainkan melintang.
Abun kembali berteriak, ''Stoooopp,'', ia meminta kami berhenti mendayung. Meletakkan tongkat sepanjang sekitar 150 cm itu diatas paha. Sementara Abun tetap berusaha mengarahkan perahu dengan benar. Sepersekian detik kemudian, Abun kembali dengan aba-abanya yang akan terus kami dengar selama dua jam mendatang. ''Majuuuu....munduuuurrr...stoooopp''.
Sabtu (12/5) siang itu, matahari tertutup awan di atas sungai Citarik yang berwarna hijau kecoklatan. Udara terasa sejuk di tengah sungai selebar sekitar 20 meter itu. Sudah dua hari hujan tak turun di sekitar Citarik. Membuat arus sungai tak begitu deras dan jeram tak terlalu seram bagi kami yang baru menjajal arung jeram.
Ajakan berpetualang merasakan arus liar di sungai Citarik datang sepekan sebelumnya dari seorang kawan yang bekerja di salah satu bank BUMN terbesar di Indonesia. Melepas kejenuhan menjadi alasannya. Berhubung belum pernah mencicipi menjadi anak sungai, tawaran itu diterima. Kami berangkat dari kantor pusat bank yang terletak di bilangan Gatot Subroto, Jaksel, itu Sabtu pagi dengan rombongan besar, delapan mobil dengan total peserta 48 orang.
Perjalanan dari Jakarta - Citarik memakan waktu lebih dari dua jam. Iring-iringan mobil masuk ke tol arah Ciawi dan keluar di gerbang tol arah Sukabumi. Romongan terus menanjak di jalan raya sampai ke belokan arah kiri, Cikidang, daerah tepat di kaki Gunung Halimun. Kami masuk ke areal perkebunan kelapa sawit dan teh milik PT Perkebunan Nusantara VIII.
Di sepanjang jalan berkelok-kelok yang dibuat dipunggungan bukit, ribuan pohon kelapa sawit terhampar di kanan - kiri jalan. Bukitnya sendiri bergelombang, mirip lokasi shooting film seri anak-anak, Teletubbies.
Sejenak, hamparan kelapa sawit yang merunduk ibarat landak itu berganti rupa menjadi perkebunan teh. Selepas perkebunan teh kami memasuki perkebunan karet. Jajaran rapi pohon karet yang tengah disadap menjadi pemandangan yang sedikit membosankan. Pohonnya tinggi-tinggi dan monoton.
Alur arung jeram di sungai Citarik ada bermacam-macam, meski hanya di satu jalur. Mulai dari yang pendek hingga berakhir di pantai selatan atau di Pelabuhan Ratu. Paket arung jeram yang paling singkat adalah empat kilometer, yang paling jauh bisa sampai 17 kilometer. Dengan operator arung jeram Kaki Langit, kami mengambil rute yang tengah-tengah, yaitu sembilan kilometer. Kata Abun, itu berarti dua jam di perahu, mendayung dan basah kuyup.
Jeramnya makin ke bawah makin besar dan tajam. Dalam klasifikasi jeram, Citarik masuk ke tingkat III. Saat kami arungi, ketinggian air sungainya 80 cm. Perahu seakan dibawa naik roller coaster. Baru sejenak kami mengambil napas, lepas dari satu jeram yang cukup tinggi, sudah terlihat di depan perahu gulungan jeram lainnya. Bahkan tak jarang jeram itu tidak terlihat, dari depan perahu kami hanya menatap air yang tenang.
Lalu tiba-tiba dua meter sebelumnya, arus sungai mulai menarik perahu dengan cepat. Kami di dalamnya seakan ditarik ke depan, sambil tergoyang-goyang. Kaki dengan kuda-kuda yang kuat harus diselipkan diantara bantalan perahu. Bila tidak, bisa terpental kami dari perahu.
Kalau sudah begini, Abun pun berteriak, ''Majuuuuu...''. Dengan dua kali kayuhan, mendekati jeram dan bebatuan yang sebesar ban truk peti kemas, Abun kembali berseru, ''Stooop,''. Dari belakang, ia kendalikan arah perahu agar tidak menabrak batu dan melintasi jeram dengan mulus.
Perahu pun turun membelah muka sungai dengan cepat. Bila jeramnya cukup tinggi, sekitar 50 cm, maka perahu bisa membentuk hurup U, terlipat tepat ditengah-tengah. Aku dan Dewi yang bertugas mendayung di depan terangkat ke atas, sementara yang lainnya masih dibawah. Kami pun kembali berteriak-teriak kegirangan.
''Kalau kaya begini, Dufan (Dunia Fantasi Ancol memiliki wahana arung jeram, tapi tanpa perahu) mah ngga ada apa-apanya,'' seru Dewi tertawa senang.
Bertemu Biawak
Di beberapa tempat, air sungai kembali tenang. Tak ada bebatuan besar, tak ada jeram. Yang ada hanya muka sungai tanpa riak dan dinding tebing berwarna cokelat kehijauan di sisi kiri dan kanan sungai. Kadang, dinding tebing itu dipahat oleh alam dengan indah, menyerupai kulit salak, bertumpuk-tumpuk. Sulur akar dari atas tebing turun hingga ke permukaan sungai. Sering Abun berpegangan ke sulur akar ini untuk mengendalikan perahu dengan mudah.
Di tempat arus tenang seperti inilah kami bertemu 'sobat' reptil purba, biawak. Binatang melata mirip Komodo, namun lebih kecil, itu berenang menyusur pinggiran sungai. Tepat di sisi kanan perahu kami. Badannya bersisik warna hijau dan kuning. Kepalanya menyembul di atas air dengan lidah menjulur-julur. Biawak itu panjangnya sekitar 70 cm.
Abun, tanpa takut, sengaja hendak mengarahkan perahu kami ke dekat hewan yang hidup di dua alam itu. Ia percikkan air ke arahnya untuk memancing reaksi. Kontan penumpang perempuan protes dan berteriak-teriak. ''Buuun...ketengahin perahunya, jangan ganggu biawaknya, nanti dia malah nyamperin lagi,'' protes Robiyah. Tanpa dikomandoi, Robiyah mulai mendayung sendiri, kami berlima tertawa melihatnya.
Selain bertemu biawak, kalau muka sungai tanpa jeram, laju perahu dihentikan sejenak. Abun mempersilahkan kami mencoba pelampung. ''Ayo terjun, coba pelampungnya, nanti ngambang,'' kata pria yang sudah lima tahun main air jadi pemandu arung jeram di Citarik ini. Tawaran itu disambut Deri, Robiyah, dan Andri dengan antusias. Mereka segera terjun dari perahu.
Dewi dan aku tinggal di atas. Dewi merasa lebih aman di perahu, sedangkan aku malas merepotkan orang lain. Maklum dengan tubuh tersubur diantara yang lain, mengangkatku butuh tenaga ekstra, bisa-bisa perahu kami terbalik gara-gara operasi penarikanku.
Menarik rekan yang berada di dalam air, butuh teknik tersendiri. Pertama jangan menarik lengannya, karena licin. Jangan juga menarik bajunya karena bisa tercekik. Tariklah bagian bahu pelampungnya. Posisi orang pun harus berhadapan dengan si penarik. Jangan membelakangi.
Terbalik di Citarik
Sejak awal duduk di perahu, Andri sudah meminta Abun mengajarkan kami bagaimana caranya membalik perahu sendiri. ‘’Bun, ajarin balikkin perahunya dong,’’ kata dia. Abun tidak menjawab. Pria bertubuh kecil namun berotot itu hanya tersenyum kecil. Tampaknya ia tahu betul kami tak perlu membalik sendiri perahu sepanjang enam meter itu, alam akan menjungkirkannya sendiri.
Itulah yang terjadi ketika perahu kami memasuki jeram yang dijuluki jeram zig-zag. Jeram zig-zag padahal tidak begitu dalam atau curam. Ia dikelilingi oleh sejumlah jeram kecil yang hampir sejajar. Batu-batu kali pun tak seberapa besar. Namun letaknya hampir diujung kelokan sungai yang memang menurun. Sehingga arus air dengan deras mengalir ke kelokan itu. Membawa perahu kami dengan cepat.
Sekitar 10 meter sebelum jeram zig-zag, Abun makin sibuk dengan komandonya. ‘’Majuuu....stooop...,’’ teriaknya. Tangan kami mulai pegal mendayung. Lengan terasa berdenyut-denyut.
Perahu sempat berputar-putar dan posisinya melintang sebelum akhirnya kembali ke posisi normal. Lajunya makin cepat. Sekitar lima meter sebelum jeram zig-zag, Abun kembali berteriak ‘’Majuuuuu....,’’. Baru dua kali mengayuh Abun meminta kami berhenti.
Perahu meluncur cepat ke arah sebuah batu yang cukup besar. Sedianya Abun bisa mengendalikan perahu sehingga melewati batu itu ke arah kiri. Namun di depan perahu kami ada perahu lain yang sempat tersangkut. Abun terpaksa mengerem laju dengan mengarahkan perahu ke kanan.
Akibatnya fatal. Dengan kecepatan penuh perahu kami meluncur menghampiri batu itu. Arahnya tidak bisa dikendalikan. Teriakan kami bercampur dengan gemuruh air yang melintasi jeram. Perahu menabrak batu dan terbalik, terus terseret ke bawah jeram. Kami berenam terpental ke udara untuk beberapa detik sebelum akhirnya tenggelam.
Aku sendiri tak bisa melihat di mana rekan yang lainnya. Tahu-tahu aku sudah di dalam air dan terbawa arus kencang. Sebisa mungkin kuangkat kepalaku untuk bisa menghirup udara. Namun kembali tenggelam ditelan jeram.
Selintas teringat pesan Abun saat memberi pengarahan singkat sebelum berangkat. Kata dia, kalau kami hanyut posisi badan harus telentang. Mirip gaya punggung. ‘’Diam saja, dan angkat kepala untuk bernapas. Nanti badan akan terapung sendirinya,’’ ujar Abun.
Itulah yang aku lakukan. Telentang dan mencoba bernapas normal. Tapi sulit sekali. Jeram dan arus air menenggelamkan kepala. Sementara punggung dan pantat terhantam batu di dasar kali. Malah sempat perahu berada di atas kepalaku.
Sampai akhirnya secara refleks kakiku mencoba menjejak dasar sungai yang ternyata dangkal. Untung di depanku ada perahu, yang ternyata perahu kami. Aku tubrukkan diri ke perahu itu dan meraihkan tangan ke pinggirannya yang dibalut tali. Tubuhku berhenti terseret dan dengan sekali hentak kucoba untuk bangkit.
Kulihat teman-temanku hanyut tak jauh dari tempatku berdiri. Deri sudah ditolong oleh perahu pertama yang melintas sebelum kami. Ia tengah diangkat ke perahu. Mukanya pucat. Robiyah dan Andri tak nampak. Dewi masih terseret arus sebelum akhirnya dihentikan Abun yang berhasil menangkapnya dari atas perahu.
Robiyah ternyata tersangkut didekat perahu pertama. Maka ia pun diangkat, didudukkan dekat Deri. Andri sudah ada diatas perahu bersama Abun. Sejenak, kami semua terdiam, mencoba mengatur napas, mata saling berpandangan.
Tak jauh dari perahu kami, dua perahu lainnya hanya bisa menganga dan melihat kawan-kawannya hanyut. Sebelum akhirnya mereka bertepuk tangan.‘’Semangaaattt!!!!!,’’ kata mereka. Akhirnya kami semua tertawa terbahak-bahak.
‘’Ini pertama kalinya saya terbalik di jeram zig-zag,’’ kata Abun, saat kami berenam sudah kembali duduk di perahu. Dari analisisnya, perahu kami terlambat sepersekian detik untuk bisa belok arah. ‘’Kayuhannya tadi lambat,’’ tutur Abun pelan. Aku merasa bersalah karena kurang cepat mengayuh.
Setelah itu, tiap kali melihat jeram cukup besar, kami semua dengan semangat mengayuh. Sempat juga beberapa kali menabrak batu cukup besar, tapi tak sampai terbalik. Dari penjelasan Abun, Citarik memang belum pernah makan korban meninggal, tapi hati ketar-ketir juga bila nanti terbalik kedua kalinya.
Sebagai tindakan pengamanan, sepanjang perjalanan memang ada perahu yang khusus ditumpangi oleh tim penyelamat berjumlah lima orang. Mereka biasanya menunggu beberapa meter lebih jauh bila ada jeram yang dianggap cukup berbahaya. Tugasnya menarik peserta yang hanyut. Untung mereka tak melakukan tugas itu kali ini.
Tak lama setelah kejadian terbalik itu, perjalanan petualangan kami tuntas. Perahu akhirnya menepi dipinggir sungai yang berbatasan dengan ladang dan jembatan, di Desa Citangkolo. Dengan kaki masih gemetar, aku turun dari perahu menuju sebuah saung kecil.
Disana peserta lainnya sudah bercengkerama sambil tertawa-tawa. Tak lupa sebutir kelapa muda menemani. Nikmatnya sehabis arung jeram meminum kelapa muda tak bisa dilukiskan. Campur aduk antara segar dan puas. Puas..kami..puas...
Sunday, May 27, 2007
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment