Wednesday, May 2, 2007

Saatnya Menyeberang Jembatan

Rasanya sangat jarang ditemui acara yang menampilkan belasan duta besar duduk berderet bersama membicarakan satu hal yang sama. Tapi akhir Januari lalu, peristiwa itu terjadi. Sebanyak 12 duta besar dan dua utusan negara-negara dari Timur Tengah (Timteng) duduk di satu panggung membicarakan soal rencana ekonomi dan investasi mereka ke Indonesia.

Tak semua duta besar mendapat kesempatan berbicara secara mendalam. Karena waktunya singkat. Tapi sebagian besar, boleh jadi mewakili pandangan negara Timteng terhadap kesempatan usaha di Indonesia.

Satu hal yang sangat menonjol dari pandangan mereka adalah informasi soal Indonesia di negara asalnya. Informasi Indonesia menjadi barang penting. Secara gamblang dalam forum itu disampaikan, minimnya informasi sektor-sektor usaha yang berpotensi di Indonesia. Dalam hal ini media menjadi salah satu penyebabnya.

Keterbatasan media membuat investor Timteng hanya mengenal Indonesia lewat gejolak politik dan ketidakpastian. Makanya menjadi mahfum ketika Utusan Khusus Presiden Susilo Bambang Yudhoyono untuk Timteng, Alwi Shihab, kerap ditanya soal masalah politik ketimbang ekonomi oleh investor Timteng.

Sudan salah satu contohnya. Dubes Sudan untuk Indonesia Abdel Ghaffar mengatakan, negaranya kurang informasi soal Indonesia. Ia mengeluhkan hal ini sebagai hambatan kerja sama ekonomi.

‘’Kami kurang publikasi soal Indonesia. Terutama soal pasar apa yang bisa dimasuki investor Sudan. Khususnya sektor swasta kami,’’ tandas si duta besar.

Hal ini diamini Dubes Palestina untuk Indonesia, Fariz N Mehdawi. Kata dia, salah satu penghubung terpenting kerja sama dua negara adalah media. Dari media, informasi bisa saling ditukarkan, yang akan berujung ke hubungan niaga.

Lebih dari itu, Fariz memandang perlunya rakyat Indonesia dan Palestina lebih mengenal satu sama lain, tidak hanya lewat demonstrasi menentang penjajahan Israel dan AS di Palestina.

Hubungan lebih langgeng bisa didapat dengan saling menukarkan pelajar dan mahasiswa antara dua negara itu. Lewat medium ini, pengetahuan Indonesia dan Palestina akan tersebar. Kedua negara saling mempelajari bahasa dan adat istiadatnya masing-masing.

Indonesia, kata Dubes Turki Aydn Evergen, harus fokus ke informasi ekonomi seperti pasar, sektor investasi, dan perdagangan untuk disebarkan ke Timteng. Investor Timteng melihat Indonesia sebagai pasar yang sangat potensial dengan lebih dari 200 juta penduduk. Serta sebagai negara dengan penduduk beragama Islam terbesar di dunia.

‘’Kirim delegasi dan profesional-profesional dunia usaha Indonesia ke Turki. Paparkan fokus tersebut di atas, kalau ini dilakukan, kami yakin akan ada peningkatan hubungan ekonomi,’’ cetus Aydn.

Ia tambahkan, Turki tertarik berinvestasi di sektor konstruksi, agrikultur, pertambangan dan mineral, serta pariwisata di Indonesia.

Penghambat investasi lainnya adalah kunjungan misi perdagangan atau kunjungan usaha. Para perwakilan negara Timteng mengeluhkan jarangnya misi dagang Indonesia datang ke negara mereka.

Anggota Kadin Indonesia bagian Timteng, Sudrajat, punya kisah nyata terkait hal tersebut berhubungan dengan Algeria. Negara di Afrika Utara ini sebetulnya telah mengadakan hubungan dagang dengan Indonesia.

Kadin Indonesia mencatat ada 15 nota kesepahaman (MoU) yang ditandatangani antara pengusaha Indonesia dan pengusaha Algeria.
Tapi ironisnya, tak ada satu pun pengusaha Indonesia itu yang pernah bertandang ke Algeria. Dan hal ini dikeluhkan langsung oleh Dubes Algeria Hamza Yahia Cherif.

Karena dengan Singapura, yang mana Algeria belum pernah menandatangani MoU ekonomi apapun, pengusaha negeri Singa itu kerap berkunjung ke sana. Begitu juga pengusaha Korsel.
‘’Indonesia punya 15 MoU tapi pengusahanya tidak pernah berkunjung ke Algeria, Singapura tidak punya MoU tapi pengusahanya sering mengunjungi kami. Bahkan Korsel berinvestasi di Algeria saat kondisi negara kami sedang terpuruk, dan mereka sukses,’’ ungkap Hamza.

Keluhan itu sudah disampaikan ke Alwi Shihab. Ia akui, selama ini kunjungan misi dagang Indonesia ke negara-negara Timteng jarang dilakukan. ‘’Ada keluhan dari para dubes soal kurangnya kunjungan pejabat dan pengusaha kita ke Timteng,’’ Alwi mengaku.

Sementara Kadin menilai pengusaha Indonesia kurang serius menggarap pasar Timteng. Ini berefek setara bagi investor Timteng ke Indonesia. ‘’Pengusaha Indonesia jangan membawa hal-hal yang tidak pasti ke Timteng. Kita harus jelas, apakah barang dagangan sudah siap pengiriman, kualitas barangnya, dan bagaimana harganya,’’ ungkap Sudrajat.

‘’Kadang-kadang pengusaha Indonesia datang ke sana cuma bawa proposal yang //nggak// pasti, kalau ditanya bagaimana, kapan kirim barangnya, tidak tahu pasti,’’ keluh dia.

Keunggulan
Data investasi Timteng ke Indonesia memang tidak bersahabat. Hingga Februari 2006, dari 29 negara yang berinvestasi di Indonesia, investor asal Timteng hanya terdiri atas tiga negara, yakni Yaman, Arab Saudi, dan Libia. Nilai investasi ketiganya pun relatif kecil, Yaman hanya 600 ribu dolar AS, Arab Saudi 500 ribu dolar AS, dan Libia 300 ribu dolar AS.

Sementara dari data perdagangan, menurut Kadin rata-rata per tahun termasuk migas, perdagangan kedua wilayah ini menghasilkan 2,5 miliar dolar AS untuk Indonesia. ‘’Kalau dihitung dengan migas, kita positif. Kalau tidak, negatif. Indonesia lebih banyak jual ke sana daripada beli di sana,’’ papar Sudrajat.

Perdagangan boleh jadi belum bermasalah, tapi investasi yang minim menjadi perhatian pemerintah. Presiden SBY boleh jadi khawatir melihat rendahnya investasi Timteng ke Indonesia itu. ‘’Sepanjang 2004- 2005 terjadi penurunan investasi Timteng ke Indonesia dari sekitar tiga miliar dolar AS menjadi dua miliar dolar AS,’’ kata presiden di atas pesawat menuju ke Timteng tahun lalu.

Sedangkan Menneg BUMN Sugiharto optimistis Indonesia bisa meraup dana Timteng. Dengan membawa rombongan BUMN-nya, Sugiharto menerawang angka delapan miliar dolar AS bisa masuk ke Indonesia dari Timteng. Dana itu akan masuk lewat sukuk (obligasi syariah), maupun lewat proyek yang melibatkan BUMN.

Tapi sebelum menjaring investor, Indonesia perlu berkaca soal keunggulannya menjadi tempat berinvestasi ketimbang negara lain di Asia Tenggara. Terhadap pertanyaan ini, Alwi Shihab optimistis. Keunggulan Indonesia nomor satu, kata dia, adalah melimpahnya sumber daya alam yang bisa dijadikan bahan baku.

Indonesia dipercaya bisa merebut kedigdayaan produsen CPO dari Malaysia tahun ini. Kemudian, Indonesia juga negara penghasil kokoa terbesar ketiga di dunia dan penghasil kopi terbesar di dunia keempat.

Daftar ini masih bisa ditambah dengan negara pengekspor batubara terbanyak, negara ketiga di dunia terbesar penghasil tembaga. Lalu menduduki peringkat lima dunia untuk penghasil timah, dan di atas semua itu, Indonesia masih menyimpan potensi luar biasadi bidang gas alam.

Setelah bahan baku, keunggulan Indonesia lainnya adalah biaya operasional usaha yang relatif lebih rendah, pasar yang sangat potensial dengan 220 juta lebih penduduk, murahnya tenaga kerja lokal, dan stabilitas ekonomi dan politik.

‘’Kita menyiapkan paling tidak executive summary (ringkasan eksekutif soal proyek yang bisa diinvestasikan) agar mereka melihat potensi (Indonesia). Jadi, kita harus rajin mempersiapkan, paling tidak proposal,’’ kata Alwi.

Kelemahan
Salah Saeed, pengusaha dari firma Hayel Saeed Anam Group, telah berinvestasi di Indonesia sejak 1998. Mungkin bisa dibilang aneh, pasalnya firma asal Yaman ini masuk ke Indonesia dan Malaysia saat Asia Tenggara tengah dihantam krisis. Tapi buktinya mereka terus berinvestasi dan ekspansi hingga kini.

Selama sembilan tahun berinvestasi bidang kelapa sawit, galangan kapal, dan barang-barang konsumen, Salah punya beberapa keluhan soal Indonesia. Pertama soal insentif pajak. Menurut dia, investor menunggu adanya tax holiday dari pemerintah dan rasionalisasi serta penyederhanaan UU Pajak saat ini.

Keluhan kedua adalah soal restitusi (pengembalian) PPN ekspor oleh Ditjen Pajak. Salah mengeluhkan lambannya Ditjen Pajak merestitusi usahanya. Akibatnya, dana untuk modal usaha dan ekspansi menjadi minim.

‘’Kami berharap restitusi itu tiga bulan, itu reasonable. Maksimum! Karena ini menghambat modal kerja, sekitar 10 persen dari modal kerja lari ke pembayaran restitusi PPN,’’ keluh Salah. Selama ini ia menerima restitusi dari Ditjen Pajak antara enam hingga 12 bulan.

Tingginya suku bunga kredit menjadi keluhan lanjutan dari Salah Saeed. ‘’Tingkat bunga kredit di Indonesia termasuk yang tertinggi di kawasan Asia Tenggara,’’ cetus Salah. Selain itu, menurut dia, pascakrisis ekonomi di Indonesia perbankan terlihat terlalu berhati-hati mengucurkan kredit ke sektor riil.

Keluhan terakhir adalah soal tenaga kerja. Menurut Salah, keputusan soal UU Tenaga Kerja harus segera diputuskan pemerintah dan DPR. Secara khusus Salah meminta agar UU Tenaga Kerja yang akan berlaku nanti saling menguntungkan bagi pekerja dan pengusaha.

Menyeberang Jembatan
Alwi Shihab enggan menyebut total angka pasti investasi Timteng yang bakal masuk ke Indonesia sejak ia menjabat sebagai utusan khusus. ‘’Kalau angka, sulit untuk saya prediksi. Tapi yang jelas, ada proyek-proyek yang betul-betul serius dibicarakan,’’ kata Alwi.

Sejumlah proyek itu antara lain melibatkan BUMN Krakatau Steel dan PT Pupuk Sriwijaya dengan Turki dan Iran. Jumlahnya pun ratusan juta dolar AS. Ini belum termasuk minat serius membangun pariwisata di Lombok dan perbankan Timteng yang akan membeli bank lokal.

Setahun melobi di Timteng memang masih waktu yang singkat. Tapi melihat sejumlah rencana investasi tersebut, Indonesia bisa bernafas lega. Pasalnya investasi memang sangat dibutuhkan. Terlebih ketika Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan data investasi yang anjlok hanya 2,9 persen tahun lalu.

Investasi, salah satunya dari Timteng, bisa jadi pertaruhan pemerintah tahun ini. Meski untuk mewujudkan hal itu banyak pekerjaan rumah yang harus dilakukan dengan cepat.

Untuk menggambarkan hubungan Timteng – Indonesia soal investasi ini, Dubes Algeria punya analogi yang sangat tepat. Menurut dia, Indonesia dan Timteng ibarat berdiri diam di dua tebing curam. Padahal dua tebing itu dihubungkan oleh jembatan.

‘’Saat ini adalah waktu yang tepat bagi Indonesia dan Timteng bertemu dan menyeberangi jembatan itu,’’ kata Hamza.

No comments: