Thursday, June 28, 2007

Plesiran ke Banten Lama : Dari Keraton 'Air' sampai Menara 'Naik Turun'

Udara khas pesisir pantai yang panas dan kering langsung menyengat ketika aku baru turun dari angkutan kota di kawasan Banten Lama (Old Bantam – jika kita merujuk pada sumber – sumber tertulis masa lalu), Serang, Jawa Barat, awal bulan lalu. Matahari tengah berada di puncak siang. Cuaca Banten terik.

‘’Belum berubah,’’ kataku dalam hati. Terakhir kali aku ke Banten Lama adalah 10 tahun lalu, bersama rombongan Keluarga Mahasiswa Arkeologi (KAMA) jurusan Arkeologi Universitas Indonesia. Kami mengadakan pelatihan kunjungan situs kala itu. Kali ini, aku berniat keliling Oud Bantam (biasa disebut dalam buku-buku tua bahasa Belanda) kembali.

Di dekat tempat pemberhentian angkot, nampak bekas-bekas kemegahan situs Keraton Kaibon. Keraton ini tadinya tempat tinggal ibunda sultan penguasa Banten. Kaibon malah diambil dari kata ka-ibu-an. Dibangun semasa Sultan Syafiuddin (memerintah sekitar 1809 – 1815).

Gapuranya yang tinggi dan berwarna putih menyembul ditengah-tengah reruntuhan dinding keraton. Salah satu kekhasan gapura di Kaibon adalah bentuknya yang enyerupai sayap bertumpuk-tumpuk. Setelah dihancurkan Belanda pada 1832, Kaibon terasa lenggang siang itu.

Aku ditemani karibku, arkeolog yang bekerja di salah satu instansi pemerintah di Banten, Bayu Aryanto, untuk plesiran di situs Banten Lama. Setelah membayar ongkos angkot delapan ribu rupiah untuk dua orang, kami bergegas memasuki pusat kota Banten Lama yang terletak sekitar lima ratus meter dari pemberhentian tadi. Samar – samar terdengar suara adzan zhuhur berkumandang di sekeliling kami.

Pergi ke Banten Lama berarti menjumpai dua situs terkenalnya, yaitu Keraton Surosowan dan Mesjid Agung Banten beserta menaranya. Keraton Surosowan adalah situs yang pertama kali terlihat ketika memasuki kawasan Banten Lama.

Dindingnya tinggi, lebih dari dua meter dengan lebar sekitar tujuh meter, berwana cokelat. Sangat kontras dengan bangunan rumah penduduk yang masih ada yang terbuat dari gedek dan warung makanan di sekitarnya. Surosowan dikeliling oleh kanal-kanal sungai yang sebagian masih mengalir.

Sebagian besar bangunan di Surosowan dibangun dari bata yang disemen dengan campuran karang, pasir, dan serpihan-serpihan biota laut seperti kerang. Tak jarang di beberapa bagian runtuhan bangunan kita bisa melihat adukan campuran tersebut. Kualitas hasil campurannya boleh diadu dengan cor beton jaman sekarang,karena memang kokoh sekali.

Tapi jika membayangkan Surosowan layaknya keraton di Jawa Tengah, yaitu Yogyakarta dan Solo, maka kita bakal kecele. Surosowan tak ada mirip-miripnya dengan dua keraton itu. Surosowan lebih mirip sebuah benteng Belanda yang kokoh dengan bastion (sudut benteng yang berbentuk intan) di empat sudut bangunannya.

Total luas bangunan berdenah persegi panjang ini sekitar tiga hektar, bangunan di dalam dinding keraton tak ada lagi yang utuh. Ia hanya menyisakan runtuhan dinding dan pondasi kamar-kamar berdenah persegi empat yang jumlahnya puluhan.

Diperkirakan, banyak bagian bangunan di dalam keraton terbuat dari kayu. Salah satu bekasnya bisa terlihat dari umpak atau kaki pilar sebagai pondasi meletakkan tiang bangunan. Umpak macam ini tersebar di tengah keraton.

Sejarah mencatat nama Keraton Surosowan muncul pada abad ke – 17. Tapi sebagai bangunan, Surosowan sudah ada jauh sebelum itu. Pembangunannya melalui beberapa tahap dari 1552 - 1570, termasuk melibatkan ahli bangunan asal Belanda, yaitu Hendrik Lucaszoon Cardeel.

Pengaruh Cardeel diperkirakan merubah fungsi keraton menjadi lebih ke benteng. Pada awalnya, hanya ada satu lapis tembok keraton. Tapi setelah Cardeel datang, didirikanlah tembok lapis kedua, yang berperan sebagai tembok penahan serangan. Diantara kedua lapis tembok itu diisi dengan tanah yang padat. Kita bisa naik ke atas dinding ini dan bekeliling Surosowan.

Aku dan Bayu memasuki Surosowan dari pintu utara. Keraton yang didirikan Sultan Maulana Hasanuddin (anak dari Syarif Hidayatullah, dedengkot yang mendirikan cikal bakal Jakarta, asal Cirebon) ini memiliki tiga gerbang masuk. Masing-masing terletak di sisi utara, timur, selatan. Namun pintu selatan telah ditutup dengan tembok, entah apa pasal.

Bayu menerangkan, yang unik soal gerbang di Surosowan adalah bentuknya melengkung dengan atap setengah silinder terbuat dari bata kokoh. ‘’Apa uniknya? Perasaan kok biasa-biasa saja,’’ tanyaku pada dia.

Jika kita melihatnya dalam konteks kekinian memang mungkin tak ada yang aneh. Tapi Surosowan adalah bangunan yang didirikan dengan beragam fungsi. Salah satunya adalah benteng. Tujuan didirikan benteng adalah melindungi penghuni yang didalam dari serangan orang di luar.

Kalau prinsip ini diterapkan ke gerbang melengkung Surosowan baru pas. Karena dengan dibuat melengkung, orang luar tidak bisa melihat langsung ke dalam keraton. Pandangannya akan terhalang tembok melengkung itu.


Keraton ‘Air’
‘’Surosowan adalah keraton air,’’ celetuk Bayu sambil tertawa, ketika kami sudah memasuki bagian dalam keraton. Pria berkacamata tebal dengan postur sedang dan jenggot kasar ini menunjuk ke bagian tengah keraton. Disana terlihat sebuah bangunan kolam yang diisi air berwarna hijau, yang didapat dari pengaruh ganggang dan lumut.

Keraton air? Istilah ini menandai banyaknya ruang di dalam keraton yang berhubungan dengan air atau mandi-mandi, alias petirtaan. Salah satu yang terpopuler adalah bekas kolam taman, bernama Bale Kambang Rara Denok, yang ditunjuk Bayu itu.

Kolam Rara Denok berbentuk persegi empat menyerupai setengah lapangan bulutangkis, dengan panjang 30 meter dan lebar 13 meter serta kedalaman kolam 4,5 meter. Kolam ini dibangun dengan menggunakan bata.

Di panas terik itu Aku membayangkan, dulunya para puteri sultan dan dayang-dayangnya dengan hanya lilitan selembar batik di tubuhnya mandi-mandi dengan segar di dalam kolam itu. Mereka saling mencipratkan air. Sementara sang sultan atau pejabat keraton lainnya dengan santai menonton dari atas kolam. Walaah!

Lamunan sekilas itu tiba-tiba buyar, karena datang tiga orang anak kecil, tampaknya penghuni sekitar ke Rara Denok. Tanpa mempedulikan sekitar, mereka langsung membuka pakaian dan byuurr, berenang di kolam yang entah airnya bersih atau tidak itu. Aku dan Bayu tertawa ngakak melihat kepolosan mereka.

Kolam air di Surosowan adalah salah satu bentuk ruangan yang paling mudah dikenali karena arsitekturnya tidak jauh berbeda dengan kolam renang saat ini. Di sisi kolam umumnya terdapat tangga turun. Di dinding kolam juga masih menyisakan lubang-lubang tempat mengalirnya air.

Masalah air di Surosowan memang sengaja dibuat canggih. Bahkan kesultanan Banten sengaja memisahkan air untuk keperluan kerajaan dengan air untuk rakyat jelata. Ada dua sumber air di Surosowan, yaitu sumur dan Danau Tasikardi yang terletak sekitar dua kilometer dari sebelah tenggara Surosowan.

Jangan salah, Tasikardi adalah danau buatan seluas 6,5 hektar dengan pulau ditengahnya. Dasar danaunya bahkan dibuat dari ubin bata. Ia dibangun oleh Sultan Maulana Yusuf untuk rekreasi dan ibadah. Tasikardi juga berfungsi sebagai penampung air Sungai Cibanten untuk disalurkan dan dibersihkan sebelum masuk ke Surosowan untuk selanjutnya dipakai mandi dan keperluan sehari-hari.

Proses penjernihannya pun canggih. Sebelum masuk ke Surosowan, air yang kotor dan keruh dari Tasikardi disalurkan dan disaring melalui tiga bangunan bernama Pengindelan Putih, Abang, dan Emas. Di tiap pengindelan ini derasnya debit air diproses dengan mengendapkan dan menyaring kotoran.

Air selanjutnya mengalir ke Surosowan lewat serangka ian pipa panjang yang terbuat dari tanah liat dengan diameter 2 – 40 sentimeter. Tebak siapa yang punya ide canggih menyaring air ini? Lagi-lagi Cardeel.

Setelah dijernihkan, maka status air di dalam keraton berbeda dengan status air di luar keraton. Air didalam keraton bisa jadi lebih sakral ketimbang kawannya di luar keraton. Masyarakat Banten Lama terbiasa mengambil air dari sungai atau dengan sumur.

Ini pula yang melatari mengapa hingga kini sejumlah orang rela wudhu dengan air dari sumur atau reruntuhan kolam di dalam keraton. Kami berjumpa dengan salah satu pemuda yang baru saja wudhu dari kolam di dinding selatan keraton. Ia tampak khusyu sambil komat-kamit membaca doa ketika berpapasan dengan kami.

Siang itu, banyak orang bercengkerama di dalam Surosowan. Beberapa keluarga dan muda-mudi menggelar tikar di sisi barat keraton, yang dinaungi beberapa pohon rindang. Mereka terlihat terpekur menikmat sisa kejayaan Surosowan yang pernah dua kali diluluhlantakkan oleh Belanda, yaitu pada 1680 - 1863.

Sayangnya dibeberapa tempat masih terlihat ceceran sampah, apa itu bekas bungkus makanan, botol minuman, atau juga puntung rokok. Sampah terkumpul di sekitar pohon yang ada di sisi barat keraton, terutama di pojok dinding. Tidak adanya tempat sampah didalam keraton membuat orang seenaknya saja mengotori bangunan bersejarah ini.

Puas dan kepanasan berkeliling keraton, dari atas hingga bawah, akhirnya aku dan Bayu keluar. Di parkiran di depan Surosowan, kami melihat banyak mobil berpelat nomor Jakarta dan Serang. Karena hari itu adalah Jumat, dan libur pula, bisa ditebak niatan para wisatawan ke Banten Lama.


Menara ‘Naik Turun’
Tujuan selanjutnya adalah Masjid Agung Banten, yang sudah berdiri ketika Belanda pertama kali nongol di Banten pada 1596. Banyak bangunan di dalam kompleks masjid ini seperti makam sultan-sultan, menara masjid, tiyamah (bangunan dua tingkat dengan arsitektur Eropa. Dulunya digunakan untuk ngumpul-ngumpul membahas masalah keagamaan dan social), kolam wudhu, dan pawestren (bangunan untuk jamaah perempuan), dan istiwa atau jam matahari penunjuk waktu shalat.

Kami tidak sempat berkeliling seluruh tempat karena saat itu sudah masuk waktu shalat Ashar. Jadi kami hanya duduk-duduk sejenak di kaki menara. Suasana masjid yang beratap tumpang lima ini sangat hiruk pikuk.

Di halaman menara, dua keluarga menggelar tikar untuk duduk-duduk dan tidur-tiduran. Beberapa pedagang kakilima yang berjualan es cendol malah masuk di halaman menara. Menyeruput es cendol ditengah terik matahari Banten bisa jadi satu kenikmatan tersendiri. Segar pastinya.

Di kolam wudhu, tepat didekat tangga naik masjid, sejumlah anak kecil malah cuek berenang-renang. Untung sudah tidak ada orang yang wudhu disitu, karena sudah dibuat sarana wudhu sendiri disamping masjid.

Keramaian kompleks masjid sudah terasa di jalan masuknya. Ratusan pedagang membuka lapak sederhana berukuran sekitar 2x2 meter. Mereka menjajakan apa saja, mulai dari perlengkapan shalat, tasbih dengan butiran sebesar telor ayam negeri, Al Quran, kaset rohani, VCD musik, pakaian dewasa dan anak-anak, penganan kecil, salak pondoh, hingga ke cinderamata a la suku asli di Banten, yaitu Baduy.

Satu hal lagi tentang suasana masjid Banten adalah banyaknya pengemis. Mereka berkumpul di pintu masuk kompleks masjid. Terutama di pintu kedua. Tua muda, semua lusuh, tumplek bleg di lorong jalan masuk masjid. Ada yang sudah terlelap tidur dengan mangkok berisi recehan ada yang masih terjaga sambil menengadah dan bergumam pelan, membaca doa atau meminta sedekah.

Selepas Ashar, aku dan Bayu naik ke menara masjid Banten yang tingginya 23 meter dengan bentuk denah segi delapan. Pintu masuk menara dibuat unik dengan mencampur gaya hiasan layaknya candi Hindu – Buddha, yang memiliki hiasan kala dengan stilirisasi. Kami masuk setelah membayar seribu rupiah per orang kepada penjaga di depan pintu.

Tapi sebelum naik, kami diminta menunggu dulu. Si penjaga berteriak ke kawannya yang ada di atas menara. ‘’Naaaiiiikkk!’’. Sang kawan yang ada didalam menara berteriak, ‘’Tuuuruuun,’’. Itu berarti ada orang yang turun, sehingga pengunjung yang naik harus bersabar sebelum orang itu keluar.

Tahulah kami mengapa harus ada teriakan ‘naik – turun’ itu. Sebabnya adalah tangga naik ke puncak menara sangat sempit, lebar anak tangganya kurang 50 cm. Tak mungkin untuk dua orang berpapasan di tengah jalan. Salah satu harus mengalah. Sialnya, badanku yang lumayan subur ini terpaksa harus naik dengan cara menyamping karena tak muat.

Situasi di dalam badan menara temaram. Hanya ada dua bola lampu yang menerangi jalan. Dari cahaya yang minim itu terlihat banyak sekali coretan orang yang tidak bertanggungjawab mengotori dinding menara.

Menara masjid memiliki dua puncak yang bentuknya makin mengecil. Sampai di puncak pertama, ternyata kami masih harus merogoh kocek lagi agar bisa keluar ke teras puncaknya. Dari teras ini terlihat keindahan alam Banten Lama, yang dekat dengan laut.

Aku dan Bayu memutuskan naik lagi ke puncak menara. Di puncak ini pun kami harus merogoh kocek untuk bisa keluar ke terasnya. Melihat betapa komersialnya pengelolaan menara, Bayu mengomel. ‘’Sudah tidak usah bayar!’’ katanya padaku. Ia lalu mendekati si penjaga menara dan menegurnya dengan keras. Kamipun bebas keluar teras.

Tak berapa lama di puncak menara, kami akhirnya turun. Tentunya dengan cara yang sama, yaitu harus bergantian menunggu pengunjung naik dan turun. Senja sudah menggantung di langit Banten. Namun gulungan awan dan langit masih berwarna cerah. Para wisatawan masih mengalir ke masjid ini. Banten tampaknya meninggalkan kesan di hati mereka.

No comments: