Ahad (1/7) siang pergi ke nikahan temen satu angkatan arkeologi 1997, dini suryani alias asep, akhirnya setelah melanglang buana mencari jodoh mulai dari berbagai macam medium, makcomblang, ngecengin, ngedeketin, tembak langsung, cyberlope, si asep ni' menemukan belahanjiwanya, pria mitra kerja perusahaan tempat asep bekerja
nikahannya di bogor, tepatnya di kantor kecamatan (after all of the places!) bogor tengah. berhubung tak mau naik mobil dan berpotensi mendapat ambein seumur hidup bila naik motor dari kelapa gading ke bogor, maka bus adalah pilihan paling tepat ke rumah asep.
berangatlah daku dan sohibku dengan bus ac(yang tentu saja tak akan dingin) ke bogor. sialnya, kami lupa harus naik angkot apa di kota sejuta angkot itu. jadi ketika sudah sampai di terminal bogor yang ribet dan ruwet itu, aku telepon kawanku, yang sering ke rumah asep, aku sendiri selama 10 tahun berteman tak pernah ke rumahnya (memalukan juga sih, tapi dianya ga boleh kita jenguk, ya sudah!)
rutenya begini : dari baranangsiang naik 03 turun di ramayana - naik 06 turun di taman topi - naik becak ke kecamatan bogor tengah atau mau jalan kaki 2km? sudah tentu kami pilih rute tanpa ada jalan kaki, karena ini di kota bukan di dusun atau gunung.
ternyata, selain sejuta angkot, bogor juga kota seribu becak. banyak sekali becak bertebaran di pusat kota. sesampainya kami di stasiun bogor, bersebelahan dengan taman topi, sohibku dengan pede memanggil becak.
rute ke tempat kejadian perkara itu harus ditebus dengan lima ribu rupiah, bukan masalah, yang penting cepat sampai!kataku pada sohibku itu,
tapi sialnya, sohibku salah memberhentikan becak. bukan becaknya yang bermasalah tapi pengayuhnya yang sudah uzur. lha kami berdua ini badannya subur-subur. belas kasihan dan tak tega pun mewarnai raut wajah kami. subur vs uzur, duh gusti!
namun kami juga tak tega membatalkan pesanan becak, akhirnya dengan mengucap bismillah, kami naik ke becak mungil itu, karena subur2, pantatku hanya sanggup 1/4 mendarat di jok becak, sisanya tubuh sohibku. becak pun melaju lambat dan berderik2
sebetulnya nyaman naik becak. jauh lewat rileks ketimbang naik angkot. hanya saja betul apa yang dibilang gus dur ketika ia menjabat jadi presiden dan melarang becak di jakarta, becak itu melegalisasi perbudakan. di zaman mesin ini kok masih ada pengayuh yang mengayuhi orang lain, padahal ada mesin?
alasan itu terlintas di benakku ketika mendengar pengayuh becak kami terbatuk2 dengan menderu2. sial! makin terasa bersalah aku. di beberapa jalan yang menanjak, selepas pasar anyar, bahkan pak tua itu harus turun dan mendorong kami, yang montok2 ini dari belakang sepeda besinya.
dengan setumpuk perasaan tak tega namun harus sampai ke resepsi, akhirnya kami kuatkan hati untuk tetap menanggung malu terus naik becak itu. meski batuk pak tua terus merejang di belakang kami.
pada akhirnya, kami sampai ke lokasi. begitu melihat aku dan sohibku turun dari becak, kawan2ku yang sudah lebih dulu sampai tertawa ngakak melihat dua orang subur itu naik becak. wooy bayar lebih loh! teriak mereka
iya aku bayar lebih, sahutku, namun yang tercerabut hanya enam lembar uang ribuan, secepat kilat aku serahkan uang itu ke telapak tangan pak tua yang kasar dan cokelat terbakar matahari. aku malu melihat wajahnya.
bukan sekali ini aku naik becak. sewaktu pelatihan wartawan di bandung, juni tahun lalu, aku iseng2 naik becak dari hotel tempat kami menginap di savoy hooman sampai ke dago, kukira dekat ternyata buset jauh dan menanjak. lagi-lagi aku merasa tak enak.
walaupun tukang becaknya muda, tapi tetap saja ia ngos2an mengangkutku. dari kabin penumpang becak, malam itu aku mendengar deru nafasnya menggebu2. untung cuma aku seorang, apalagi dua orang, bisa aku khawatir jangan2 nanti bisa tewas kehabisan nafas tukang becak itu.
merasa tak enak, sehabis belanja di ominuum di jalan sultan agung, dago, aku minta ia mengantarku kembali ke savoy. sampai di hotel, tukang becak itu kuberi goban biar dia senang,
wajahnya tampak sumringah ketika menerima lembaran uang berwarna biru tua itu. bahkan ia berpesan, kalau mau jalan2 lagi cari saja saya di pinggir hotel ini, saya nongkrong disitu sepanjang hari.
aku mengangguk pelan dan berjanji tak akan melakukannya lagi di bandung. he3
tapi jauh sebelum bandung, tepatnya awal september 1999 aku pernah pula naik becak dengan pengalaman serupa, kali ini bersama adik kelasku yang tentu tubuhnya sama2 subur. kami dari jalan nusantara depok ingin ke kediaman kakak kelas yang ada di depok1
suit..suit tukang becak mendekat, setelah sepakat harga, dengan keisengan mahasiswa yang waktu itu cueknya selangit, kami sukses menyiksa si tukang becak,
bagaimana tidak? separuh perjalanan kami jalannya menanjak cukup curam. tak ada itu namanya mengayuh, tukang becak harus kerja dua kali, mendorong kami ke atas sambil tetap menahan becaknya tak melorot kebawah
bagaimana aku dan adik kelasku? kami berdua cekikikan di dalam kabin penumpang, sungguh keterlaluan kalau ingat masa itu, Tuhan, maafkan dosaku ya!!
Wednesday, July 4, 2007
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
1 comment:
tep, sumpah ini lucu banget. gue smp cekikikan ndiri di kantor. hihihi :P harusnya elo turun dong! bantuin si bapak dorong becaknya :D hahahahahahahaha
Post a Comment