Koil akhirnya rilis album baru...hufff...penantian begitu lama,
ngubek-ngubek di toko kaset, tanya kiri tanya kanan, sampe dateng ke markasnya, udah dari kapan taun dilakukan, albumnya baru rilis sekarang,
nyesel banget pas sadar ternyata otong cs sempat manggung di kemang en gw baru tau keesokan harinya!
tetap berharap Koil bisa muncul di soundrenaline terlawas, tapi toh panitia tidak merestui dan lebih memilih musik cupu (kecuali Pas en Netral) yang disajikan kepada puluhan ribu penikmat musik
sempat berharap Koil naik panggung di PRJ seperti dua tahun lalu, gw masih ketawa kalau inget pengalaman itu, Koil manggung bawa penari latar yang seksi abis en pake kostum minim spandex hitam dan goyang striptease, kontan beberapa keluarga yang sebelumnya (entah mereka mudeng ato ngga dengan musiknya Koil - semoga sih mudeng ya dengan lirik dan musiknya yang jenius) nonton Koil langsung melotot!! hua3 gw masih inget ekspresi seorang bapak yang lagi ngegendong anaknya begitu ngeliat Otong dikerubutin penari-penari, abis itu dia balik badan dan bubar jalan, meski akhirnya Otong ngaku,''Jangan dianggap serius, ini cuma bagian dari pertunjukkan,'' katanya seusai konser. tapi dia ga liat betapa ngilernya anak2 sepantaran SMP di bawah panggung ketika penari-penari itu mendekati mereka! alhasil, Koil ga muncul lagi di PRJ hua3
album yang baru masih dahsyat buat gw pribadi, liriknya masih jenius (heran ya, kenapa ga ada pemusik lain yang bisa bikin lirik seperti ini??), nuansa musiknya masih gelap,
meski dibagiin gratis, kalau ada toko yang jual CD atau kasetnya gw yakin masih akan diburu tentaranya,
coba dengerin Koil di kamar, di walkman atau MP3, sendirian, cuma nyalain satu lampu meja yang remang-remang, duduk rileks di sofa, merem, he3 bisa kalah semua narkoba, percaya deh! atau dia bisa dibandingin sama pengalaman paling spiritual yang pernah dirasakan, bedanya, dengan Koil, pengalaman itu bisa selalu datang dengan sederhana dan tenang
thanx guys buat lirik dan musiknya!
''tak ada gunanya kita mencari mengejar mimpi
kau berpacu memburu langit yang sangat tinggi
dan apa yang kita jalani dan hadapi
ketika semua membuatmu buta mengosongkan jiwa
dan akhir yang bahagia
melayani waktu melewati rinduku
menyanjung harapan menghentikan perang
doakanlah yang telah tiada
semua ini kulakukan selama waktu berlalu''
“Aku tak butuh pengertian
Aku bukan bagian dari sejarah yang kau tulis, kau bingkiskan untuk anak cucu
Aku tak butuh penjelasan
Aku bukan bagian dari kebanggan yang membuat kita tak berpenghasilan
Nasionalisme adalah tempat tinggal yang kita bela
Nasionalisme untuk negara ini adalah pertanyaan
Nasionalisme bentuk negara ini menuju kehancuran
Nasionalisme menuntun bangsa kami menuju kehancuran”
''mengatasi keputusasaan
menyakiti diriku sendiri
aku memacu seluruh waktu memburu jantungmu
dan semua yang kujalani dan harapkan ternyata membuat kecewa
pil pahit kegelapan akan mematikan rasa jiwa raga
luka luka luka luka
aku lupa luka luka luka luka
menangis meratapi kebodohan memahami dan tinggalkan mimpi
aku melantun kan
lagu pedih menutup hatiku
dan semua yang kuberikan dan serahkan dan pinjamkan takkan kuminta sebening kehampaan doa menghambarkan luka ka ka ka ka''
Thursday, August 9, 2007
Angkut, KB, dan Melepas Isolasi
Ada kebiasaan menarik yang dilakukan tiap karyawan Inalum bila mereka hendak keluar wilayah Paritohan. Bila ditemui warga sekitar yang menunggu mobil di pinggir jalan, maka karyawan Inalum wajib mengangkutnya. Bila tidak, sanksi perusahaan siap menimpa sang karyawan.
Lho kok bisa? Wajar saja, di daerah Paritohan memang tak punya taksi alias angkot untuk membawa warga sekitar keluar wilayah. Sarana transportasi massal hanyalah bus berukuran sedang milik Inalum. Karena jumlahnya terbatas, maka bus itu jarang sekali lewat. Paling pagi bus gratis itu berangkat sebelum matahari terbit, dan menjelang sore sudah tidak lagi mengangambil penumpang. Jalanan Paritohan sangat lenggang.
''Kalau tidak membawa rombongan ini, mobil kami harus berhenti dan mengangkut mereka,'' tutur S Sijabat, senior Manajer Public Relation PT Inalum, sembari menunjuk serombongan ibu berpakaian batik tenun berwarna cerah yang sedang menunggu di pinggir jalan. Mereka membawa banyak bawaan. Tampaknya ingin ke suatu pesta adat, entah dimana.
Tak jauh dari tempat itu, berdiri Desa Pintu Pohan Meranti. Desa ini tepat berada dibalik kemegahan Kompleks Perumahan Stasiun Pembangkit Listrik Tenaga Air Siguragura, Paritohan,Kabupaten Toba Samosir, Sumut.
Dibilang megah karena sarana dan prasarana di kompleks itu sangat bertolak belakang dengan desanya. Desa Meranti adalah satu ruas jalan berdebu yang kering dengan perumahan penduduk berjajar tak rapi di sepanjang jalannya. Rata-rata rumah di desa yang dihuni oleh sekitar 200 kepala keluarga itu terbuat dari kayu beratapkan seng. Tiap rumah memiliki antena parabola yang lucunya, lebih jernih menangkap siaran TV3 asal Malaysia ketimbang siaran televisi nasional.
Sementara kompleks perumahan karyawan Inalum adalah rumah mungil tertata rapi di pinggi jalan yang berbukit dengan rumput hijau yang dicukur pendek. Pohon rindang dengan semak yang rimbun. Jalanan dengan marka jalan di tiap simpangan bertuliskan 'Stop'.
Ada lagi yang unik soal desa ini, yaitu banyaknya anak kecil. Secara iseng kami bertanya ke Pak Simanjuntak, yang juga menyertai kami plesiran. ''Kok banyak anak kecil ya Pak? Wah ini pasti banyak waktu luang penduduknya,'' kataku sambil nyengir.
Ternyata jawaban Pak Simanjuntak senada denganku. Saking banyaknya waktu luang mereka, rata-rata anak dalam satu keluarga bisa mencapai diatas tiga orang. Oleh sebab itu, di desa setempat, pemerintah menggerakkan program KB untuk menekan jumlah pertumbuhan. ''Saya salah satu penyuluh KB-nya,'' celetuk Pak Simandjuntak.
Untungnya, Pak Simandjuntak ini tidak tertular kebiasaan setempat. Meski tinggal di kompleks perumahan yang memang lenggang, toh anaknya hanya semata wayang.
Tak begitu jauh dari desa tersebut, tepat di depan sekumpulan menara listrik yang berfungsi sebagai medan saklar pembangkit listrik Siguragura, sebuah jalan selebar sekita tiga meter baru saja selesai dibangun Inalum. Jalan itu mengarah ke puncak bukit dibalik stasiun pembangkit listrik. Tempat Desa Pintu Pohan Dorok berada.
Jalan yang dibangun dengan biaya Rp 500 juta tapi hanya sepanjang tiga kilometer itu adalah satu-satunya jalan yang bisa dilalui kendaraan bermotor penduduk desa yang ternyata belum dialiri listrik itu. Diharapkan, setelah jalan tembus yang meliuk-liuk sampai ke puncak bukit tuntas, yaitu tahun depan, Inalum bisa mengaliri listrik pertama kalinya ke sana.
Lho kok bisa? Wajar saja, di daerah Paritohan memang tak punya taksi alias angkot untuk membawa warga sekitar keluar wilayah. Sarana transportasi massal hanyalah bus berukuran sedang milik Inalum. Karena jumlahnya terbatas, maka bus itu jarang sekali lewat. Paling pagi bus gratis itu berangkat sebelum matahari terbit, dan menjelang sore sudah tidak lagi mengangambil penumpang. Jalanan Paritohan sangat lenggang.
''Kalau tidak membawa rombongan ini, mobil kami harus berhenti dan mengangkut mereka,'' tutur S Sijabat, senior Manajer Public Relation PT Inalum, sembari menunjuk serombongan ibu berpakaian batik tenun berwarna cerah yang sedang menunggu di pinggir jalan. Mereka membawa banyak bawaan. Tampaknya ingin ke suatu pesta adat, entah dimana.
Tak jauh dari tempat itu, berdiri Desa Pintu Pohan Meranti. Desa ini tepat berada dibalik kemegahan Kompleks Perumahan Stasiun Pembangkit Listrik Tenaga Air Siguragura, Paritohan,Kabupaten Toba Samosir, Sumut.
Dibilang megah karena sarana dan prasarana di kompleks itu sangat bertolak belakang dengan desanya. Desa Meranti adalah satu ruas jalan berdebu yang kering dengan perumahan penduduk berjajar tak rapi di sepanjang jalannya. Rata-rata rumah di desa yang dihuni oleh sekitar 200 kepala keluarga itu terbuat dari kayu beratapkan seng. Tiap rumah memiliki antena parabola yang lucunya, lebih jernih menangkap siaran TV3 asal Malaysia ketimbang siaran televisi nasional.
Sementara kompleks perumahan karyawan Inalum adalah rumah mungil tertata rapi di pinggi jalan yang berbukit dengan rumput hijau yang dicukur pendek. Pohon rindang dengan semak yang rimbun. Jalanan dengan marka jalan di tiap simpangan bertuliskan 'Stop'.
Ada lagi yang unik soal desa ini, yaitu banyaknya anak kecil. Secara iseng kami bertanya ke Pak Simanjuntak, yang juga menyertai kami plesiran. ''Kok banyak anak kecil ya Pak? Wah ini pasti banyak waktu luang penduduknya,'' kataku sambil nyengir.
Ternyata jawaban Pak Simanjuntak senada denganku. Saking banyaknya waktu luang mereka, rata-rata anak dalam satu keluarga bisa mencapai diatas tiga orang. Oleh sebab itu, di desa setempat, pemerintah menggerakkan program KB untuk menekan jumlah pertumbuhan. ''Saya salah satu penyuluh KB-nya,'' celetuk Pak Simandjuntak.
Untungnya, Pak Simandjuntak ini tidak tertular kebiasaan setempat. Meski tinggal di kompleks perumahan yang memang lenggang, toh anaknya hanya semata wayang.
Tak begitu jauh dari desa tersebut, tepat di depan sekumpulan menara listrik yang berfungsi sebagai medan saklar pembangkit listrik Siguragura, sebuah jalan selebar sekita tiga meter baru saja selesai dibangun Inalum. Jalan itu mengarah ke puncak bukit dibalik stasiun pembangkit listrik. Tempat Desa Pintu Pohan Dorok berada.
Jalan yang dibangun dengan biaya Rp 500 juta tapi hanya sepanjang tiga kilometer itu adalah satu-satunya jalan yang bisa dilalui kendaraan bermotor penduduk desa yang ternyata belum dialiri listrik itu. Diharapkan, setelah jalan tembus yang meliuk-liuk sampai ke puncak bukit tuntas, yaitu tahun depan, Inalum bisa mengaliri listrik pertama kalinya ke sana.
Wisata PLTA
Mobil Kia Pregio keluaran 2006 berwarna perak berlogo PT Indonesia Asahan Alumnium (Inalum) di pintu depannya, melesat dengan kecepatan 80 kilometer per jam. Diatasnya, langit pagi berwarna biru tertutup awan. Udara cukup sejuk sehingga pendingin udara tak digunakan. Minibus itu meliuk-liuk dan naik turun di aspal yang mulus tanpa lobang.
Sebentar-sebentar mobil oleng ke kanan, sejurus kemudian banting kemudi ke arah kiri. Terus begitu berulang kali. Di sisi jalan, jurang berwarna hijau dipenuhi pepohonan, siap menyambut bila supir lengah. Di sisi lainnya, pahatan tebing berwarna cokelat dan abu-abu bercampur dengan dahan dan ranting yang menjuntai.
Raungan mesin diesel mobil terdengar sampai di kabin penumpang. Tempat kami, enam wartawan media nasional, tengah terkocok-kocok perutnya akibat liukan mobil. Ahad (29/7) pagi, pengemudi Kia itu mendapat perintah untuk secepat mungkin membawa kami ke Stasiun Pembangkit Listrik Tenaga Air Siguragura, Paritohan,Kabupaten Toba Samosir, Sumut.
Mata kami tak lepas dari jendela mobil. ''Masya Allaaahh,'' seru Andi, wartawan yang bekerja di biro Medan dari salah satu koran tertua di Indonesia, takjub. Ia kagum melihat pemandangan di sekelilingnya.
Bukit - bukit menjulang dengan puncak pohon yang masih hijau rindang diselingi sejumlah air terjun. Cipratan air berwarna putih terpancar dari sisi-sisi dinding bukit yang berwarna cokelat kemerahan.
Ada yang cukup tinggi air terjunnya, ada juga yang kecil. Air terjun terbesar, Siguragura, yang menghasilkan debit air terbanyak dari Sungai Asahan, digunakan sebagai penggerak PLTA. Tapi kini Siguragura telah mati. Ia tak lagi terlihat sebagai air terjun karena cuma bisa 'ngucur'.
PLTA Bawah Tanah
Tepat disamping air terjun terbesar inilah stasiun pembangkit listrik Siguragura berdiri. Sekitar 23 kilometer dari mulut Danau Toba. Kompleks bangunannya terbagi dua. Pertama adalah stasiun kontrol. Kedua adalah medan saklar luar dengan belasan menara listrik berwarna perak dan kabel hitam yang menjuntai melintasi bukit-bukit.
''Lho, mana PLTA-nya?'' kataku dalam hati. Dari luar, yang namanya stasiun kontrol itu tidak mengikuti gambaran awam tentang PLTA maupun bendungan. Kantornya berbentuk kubus dicat putih pudar, berdampingan dengan bangunan silinder dicat putih yang merupakan ujung dari terowongan lift.
Di lobby, Setiabudi Maslim, senior Manager Administration Power Plant Inalum, menjelaskan pada kami bagaimana cara kerja PLTA yang ternyata ada dibawah tanah! Turbin PLTA-nya beserta terowongan air dan transformator listrik tertanam di 200 meter dari tempat kami berdiri. Siguragura adalah pembangkit bawah tanah pertama di Indonesia. Ia dibangun pada Mei 1978 dan tuntas tiga tahun sesudahnya.
Pak Budi, begitu kami memanggil Setiabudi Maslim, menunjukkan bagian-bagian dari maket PLTA Siguragura. Bagaimana air Danau Toba yang mengalir ke Sungai Asahan dan menjadi air terjun dimanfaatkan untuk tenaga listrik.
''Air yang sudah dialihkan oleh pipa besar ditembakkan ke dalam lempengan kisi-kisi baja,'' katanya. Bentuknya lempengan itu seperti pelek sepeda motor yang dipasang melintang dengan lebar sekitar tiga meter. Kekuatan air yang ditembakkan mencapai sekitar 25 kilogram per detik.
Akibat air, lempengan tebal itu lantas bergerak. Gerakannya memutar poros turbin yang berwarna abu-abu metalik dengan kencang. Putaran turbin itulah yang menghasilkan listrik yang dikumpulkan di pucuknya.
Tapi bentuk mainan kadang tak tepat mewakili gambaran sesungguhnya, yang ternyata sangat megah. Inalum mengajak kami melihat bagaimana mesih itu sesungguhnya. Maka, turunlah kami dengan lift buatan 1980-an sedalam 200 meter. Seorang staf bergurau soal lift itu.
''Lama turunnya sekitar 1,5 menit. Cukup baik untuk lift tua yang harus dirawat tiap tiga bulan sekali. Pernah waktu itu kami mengulur waktu perawatannya, eh liftnya mogok di tengah jalan, butuh waktu lama mengeluarkan penumpangnya, yang saat itu para eksekutif perusahaan,'' katanya sembari terkekeh.
Aku dan Yusuf, wartawan dari sebuah koran bisnis di Jakarta, saling berpandangan dan tersenyum kecut mendengar leluconnya yang tidak lucu namun justru menakutkan itu. Kami jadi terdiam ditengah perlahannya lifft menuruni perut bukit. Lift tua itu tak memiliki panel nomor lantai di atas pintu. Tekanan udara yang berbeda, karena kedalaman, mempengaruhi gendang telinga kami.
Begitu pintu lift terbuka, udara pengap merebak. Bau logam dan pelumas, mengingatkan pada bengkel mobil, merasuk ke hidung.
Lalu terdengar suara dengungan lembut, seperti ribuan lebah, memenuhi ruangan seluas dua lapangan tenis itu. Ruang stasiun pembangkit listrik Siguragura ini berukuran panjang 93 meter, lebar 18 meter, dan tinggi 36 meter.
Kami harus menggunakan helm untuk masuk stasiun Siguragura yang memiliki empat unit generator berkapasitas 71,5 MW. Di salah satu sudut, tampak generator yang sedang turun mesin. Dibongkar total untuk perawatan. Meninggalkan lubang di lantai dasar stasiun sedalam tiga meter dan berdiameter sekitar lima meter.
Disudut yang lain, turbin masih berjalan. Suaranya lembut dan getarannya, seperti iklan mobil, ''Nyaris tak terasa,''. Secara fisik, turbin itu tidak terlihat, karena ia terbenam di dasar lantai yang berwarna jingga.
Pak Simanjuntak, salah satu manajer Inalum, yang menyertai rombongan kami, bercerita soal PLTA kebanggannya ini.
''Pernah datang seorang ahli PLTA asal Prancis kesini. Dan ia kagum masih ada PLTA berumur 30 tahun yang kinerjanya masih baik seperti ini. Suaranya lembut dan getarannya sangat halus. Salah satu ciri PLTA yang baik ya dua itu, dia kagum atas Indonesia,'' tutur pria berkacamata tebal ini.
Rombongan lalu bergerak ke bawah. Kami meninjau ruang turbin yang terletak di ujung ruangan. Dalam ruangan itu banyak sekali mesin-mesin seukuran lemari baju berwarna abu-abu dengan panel dan tombol warna-warni yang dikelilingi pagar kawat. Satu tanda terpampang di pagar itu, yakni gambar tengkorak dan kilat, alias 'awas sengatan listrik tegangan tinggi'.
Yang namanya ruangan turbin adalah satu kubus dengan silinder ditengahnya. Silinder itu berputar terus menerus, selama 24 jam, dengan kecepatan 330 - 560 RPM untuk menghasilkan listrik. Deru mesin yang terputar akibat air itu sangat besar. Harus teriak supaya bisa terdengar.
Tak berapa lama di ruang turbin, kami pun menyudahi kunjungan di Sigura-gura. Rombongan keluar lewat jalur kedua, yaitu lewat terowongan bukit. Terowongan itu menghujam ke dasar PLTA dan muncul di bukit dibawah stasiun.
Dinding terowongan adalah pahatan batu kasar bekas dibor atau diledakkan dengan dinamit untuk membuat jalan. Langit-langitnya, sebagai penahan, diberi jala-jala dari kawat yang ditanam dengan pasak.
Keluar dari terowongan juga suatu pengalaman yang unik. Cahaya hanya ada dari ratusan lampu neon berwana putih di dinding. Kelok-kelok terowongan yang gelap yang mampu menampung dua mobil sekaligus memberikan nuansa aneh. Seperti dalam labirin tanpa ujung. Sampai akhirnya secercah cahaya putih silau menyambut diujung sana. Mulut terowong terbuka menganga.
Bendungan Tangga
Apa jadinya bila warga Sumut sanggup menghalau derasnya air Sungai Asahan dan membeton diantara dua lembah hijau yang terjal dan sempit? Jawaban pastinya cuma satu, yakni Bendungan Tangga! Horas Bah!
Bendungan Tangga terletak empat kilometer dibawah Siguragura. Air yang sudah memutar turbin Siguragura kembali dialirkan ke Sungai Asahan dan dimanfaatkan kembali untuk menggerakkan turbin di stasiun pembangkit listrik Tangga.
Bendungan tangga memiliki panjang 125 meter dengan tinggi 82 meter. Ia sanggup menahan volume air sebesar 53 ribu meter kubik. Tangga adalah bendungan bentuk busur pertama di Indonesia. Ia mulai dibangun pada Mei 1978 dan tuntas empat tahun sesudahnya.
Begitu mobil memasuki pelataran parkir bendungan, kami ibarat anak kecil yang girang melihat mainan baru. Seluruh wartawan bergegas turun untuk melihat bendungan yang gambarnya sempat menghiasi uang kertas pecahan Rp 100 di era 1990-an. Aku malahan setengah berlari, tak sabar untuk menikmati bendungan itu. Diatasnya, dibangun anjungan dengan pagar setinggi dada orang dewasa untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan.
Pemandangannya betul-betul indah. Bendungan Tangga tepat dimulut lembah terjal dan sempit. Dua aliran Sungai Asahan berwarna hijau lumut mengalir dibelakangnya. Bendungan Tangga berwarna krem dan terbuat dari beton solid. Di sisi yang merapat ke lembah tersedia tangga turun kebawah.
Ia memiliki tiga pintu air tempat mengontrol volume air. Air selanjutnya turun secara bertingkat-tingkat, layaknya tangga. Sang pembuat bendungan memapas dengan ketepatan sudut yang mengagumkan, menjadikannya sebuah tangga raksasa yang makin jauh ke hilir makin tinggi.
Berbeda dengan Siguragura, stasiun pembangkit listrik Tangga berada di permukaan tanah. Ia memiliki empat generator yang masing-masing berkapasitas 79,2 MW. Air yang ditampung di bendungan ini dialirkan melalui terowongan bawah tanah yang terletak disisi bendungan sepanjang 1.618 meter yang kemudian menggerakkan turbin.
Tak puas menatap dari anjungan, aku dan Andi mencari jalan turun ke bawah anjungan. Kami ingin semakin dekat dengan bendungan itu. Andi tidak membuang waktu dan langsung mengabadikan bendungan ke dalam kamera digitalnya.
Secara total, tenaga listrik yang dihasilkan oleh pembangkit Siguragura dan Tangga mencapai 426 MW dari kapasitas terpasang 603 MW. Bila tidak digunakan untuk pabrik alumnium yang berlokasi di Kuala Tanjung, listrik dua bendungan itu lebih dari cukup untuk menerangi sebagian wilayah Sumut dan NAD.
Namun karena pabrik alumnium butuh listrik untuk menghasilkan alumina yang bermutu, maka saat ini Inalum hanya memasok listrik 90 MW bagi kebutuhan Sumatera Bagian Utara. Jumlah ini sudah ditambah dari sebelumnya yaitu 45 MW.
Dari mana listrik mengalir? Di masing-masing stasiun pembangkit didirikan medan saklar. Bentuk bangunan medan ini adalah wilayah yang penuh dengan menara listrik tegangan tinggi yang menjulang dibalik bukit. Total menara itu sebanyak 271 unit.
Kabelnya harus sepanjang 120 kilometer, atau setara dengan jarak Jakarta - Bandung, menembus dan melintas pegunungan, perkebunan, dan dataran rendah yang sejuk. Ia melewati tiga kabupaten, yaitu Toba Samosir, Simalungun, dan Asahan. Di Kuala Tanjung, jaringan listrik milik Inalum ini bertetangga dengan jaringan milik PLN.
Bendungan Pengatur
Sudah puas? Ternyata belum. Kami masih bergairah mengunjungi satu bendungan lagi yang terletak di 14,5 kilometer dari mulut Danau Toba yang mengaliri Sungai Asahan. Namanya bendungan pengatur di Siruar. Bentuknya sederhana dengan hanya segaris beton setinggi 39 meter dan volumenya 27.400 meter kubik.
Biarpun sederhana, fungsi bendungan ini sangat strategis. Pak Budi menjelaskan,untuk menjamin kelancaran operasi pabrik peleburan alumnium, dibutuhkan tenaga listrik yang stabil. Listrik yang stabil sangat ditentukan oleh aliran air yang juga stabil. ''Inilah fungsi bendungan pengatur, ia mengatur berapa volume air yang akan melintas di Siguragura dan kemudian Tangga,'' katanya.
Di mulut bendungan, kami menemui sejumlah warga yang sedang asyik memancing. Mansyur Barus, wartawan koran sore dari Cawang, Jakarta Timur, langsung tergoda untuk mencoba memancing. ''Ayo lemparkan kailnya yang jauh,'' seru pria berbadan tambun ini lalu tertawa lepas.
Apa saja ikan yang berenang di air warna hijau itu? Menurut warga setempat, saat ini ikannya tinggal jenis Mujair. Itupun ukurannya kecil. Tadinya, jenis ikan yang ada di bendungan ini beraneka ragam. Tapi polusi yang mencemari air bendungan, konon akibat pabrik kertas di sekitar daerah itu, membuat keluarga ikan punah. Berita banyak ikan mati mengambang di Danau Toba memang sempat mewarnai media massa beberapa tahun belakangan.
Selepas bendungan ini, rombongan memutuskan untuk segera kembali ke Medan. Meski badan penat dan penuh keringat, rona senang terpampang di wajah kami. Tiga bendungan cantik dalam waktu kurang dari empat jam kami kunjungi. Ini baru namanya wisata PLTA di Sumut. Kembali kami berseru girang, horas bah!
Sebentar-sebentar mobil oleng ke kanan, sejurus kemudian banting kemudi ke arah kiri. Terus begitu berulang kali. Di sisi jalan, jurang berwarna hijau dipenuhi pepohonan, siap menyambut bila supir lengah. Di sisi lainnya, pahatan tebing berwarna cokelat dan abu-abu bercampur dengan dahan dan ranting yang menjuntai.
Raungan mesin diesel mobil terdengar sampai di kabin penumpang. Tempat kami, enam wartawan media nasional, tengah terkocok-kocok perutnya akibat liukan mobil. Ahad (29/7) pagi, pengemudi Kia itu mendapat perintah untuk secepat mungkin membawa kami ke Stasiun Pembangkit Listrik Tenaga Air Siguragura, Paritohan,Kabupaten Toba Samosir, Sumut.
Mata kami tak lepas dari jendela mobil. ''Masya Allaaahh,'' seru Andi, wartawan yang bekerja di biro Medan dari salah satu koran tertua di Indonesia, takjub. Ia kagum melihat pemandangan di sekelilingnya.
Bukit - bukit menjulang dengan puncak pohon yang masih hijau rindang diselingi sejumlah air terjun. Cipratan air berwarna putih terpancar dari sisi-sisi dinding bukit yang berwarna cokelat kemerahan.
Ada yang cukup tinggi air terjunnya, ada juga yang kecil. Air terjun terbesar, Siguragura, yang menghasilkan debit air terbanyak dari Sungai Asahan, digunakan sebagai penggerak PLTA. Tapi kini Siguragura telah mati. Ia tak lagi terlihat sebagai air terjun karena cuma bisa 'ngucur'.
PLTA Bawah Tanah
Tepat disamping air terjun terbesar inilah stasiun pembangkit listrik Siguragura berdiri. Sekitar 23 kilometer dari mulut Danau Toba. Kompleks bangunannya terbagi dua. Pertama adalah stasiun kontrol. Kedua adalah medan saklar luar dengan belasan menara listrik berwarna perak dan kabel hitam yang menjuntai melintasi bukit-bukit.
''Lho, mana PLTA-nya?'' kataku dalam hati. Dari luar, yang namanya stasiun kontrol itu tidak mengikuti gambaran awam tentang PLTA maupun bendungan. Kantornya berbentuk kubus dicat putih pudar, berdampingan dengan bangunan silinder dicat putih yang merupakan ujung dari terowongan lift.
Di lobby, Setiabudi Maslim, senior Manager Administration Power Plant Inalum, menjelaskan pada kami bagaimana cara kerja PLTA yang ternyata ada dibawah tanah! Turbin PLTA-nya beserta terowongan air dan transformator listrik tertanam di 200 meter dari tempat kami berdiri. Siguragura adalah pembangkit bawah tanah pertama di Indonesia. Ia dibangun pada Mei 1978 dan tuntas tiga tahun sesudahnya.
Pak Budi, begitu kami memanggil Setiabudi Maslim, menunjukkan bagian-bagian dari maket PLTA Siguragura. Bagaimana air Danau Toba yang mengalir ke Sungai Asahan dan menjadi air terjun dimanfaatkan untuk tenaga listrik.
''Air yang sudah dialihkan oleh pipa besar ditembakkan ke dalam lempengan kisi-kisi baja,'' katanya. Bentuknya lempengan itu seperti pelek sepeda motor yang dipasang melintang dengan lebar sekitar tiga meter. Kekuatan air yang ditembakkan mencapai sekitar 25 kilogram per detik.
Akibat air, lempengan tebal itu lantas bergerak. Gerakannya memutar poros turbin yang berwarna abu-abu metalik dengan kencang. Putaran turbin itulah yang menghasilkan listrik yang dikumpulkan di pucuknya.
Tapi bentuk mainan kadang tak tepat mewakili gambaran sesungguhnya, yang ternyata sangat megah. Inalum mengajak kami melihat bagaimana mesih itu sesungguhnya. Maka, turunlah kami dengan lift buatan 1980-an sedalam 200 meter. Seorang staf bergurau soal lift itu.
''Lama turunnya sekitar 1,5 menit. Cukup baik untuk lift tua yang harus dirawat tiap tiga bulan sekali. Pernah waktu itu kami mengulur waktu perawatannya, eh liftnya mogok di tengah jalan, butuh waktu lama mengeluarkan penumpangnya, yang saat itu para eksekutif perusahaan,'' katanya sembari terkekeh.
Aku dan Yusuf, wartawan dari sebuah koran bisnis di Jakarta, saling berpandangan dan tersenyum kecut mendengar leluconnya yang tidak lucu namun justru menakutkan itu. Kami jadi terdiam ditengah perlahannya lifft menuruni perut bukit. Lift tua itu tak memiliki panel nomor lantai di atas pintu. Tekanan udara yang berbeda, karena kedalaman, mempengaruhi gendang telinga kami.
Begitu pintu lift terbuka, udara pengap merebak. Bau logam dan pelumas, mengingatkan pada bengkel mobil, merasuk ke hidung.
Lalu terdengar suara dengungan lembut, seperti ribuan lebah, memenuhi ruangan seluas dua lapangan tenis itu. Ruang stasiun pembangkit listrik Siguragura ini berukuran panjang 93 meter, lebar 18 meter, dan tinggi 36 meter.
Kami harus menggunakan helm untuk masuk stasiun Siguragura yang memiliki empat unit generator berkapasitas 71,5 MW. Di salah satu sudut, tampak generator yang sedang turun mesin. Dibongkar total untuk perawatan. Meninggalkan lubang di lantai dasar stasiun sedalam tiga meter dan berdiameter sekitar lima meter.
Disudut yang lain, turbin masih berjalan. Suaranya lembut dan getarannya, seperti iklan mobil, ''Nyaris tak terasa,''. Secara fisik, turbin itu tidak terlihat, karena ia terbenam di dasar lantai yang berwarna jingga.
Pak Simanjuntak, salah satu manajer Inalum, yang menyertai rombongan kami, bercerita soal PLTA kebanggannya ini.
''Pernah datang seorang ahli PLTA asal Prancis kesini. Dan ia kagum masih ada PLTA berumur 30 tahun yang kinerjanya masih baik seperti ini. Suaranya lembut dan getarannya sangat halus. Salah satu ciri PLTA yang baik ya dua itu, dia kagum atas Indonesia,'' tutur pria berkacamata tebal ini.
Rombongan lalu bergerak ke bawah. Kami meninjau ruang turbin yang terletak di ujung ruangan. Dalam ruangan itu banyak sekali mesin-mesin seukuran lemari baju berwarna abu-abu dengan panel dan tombol warna-warni yang dikelilingi pagar kawat. Satu tanda terpampang di pagar itu, yakni gambar tengkorak dan kilat, alias 'awas sengatan listrik tegangan tinggi'.
Yang namanya ruangan turbin adalah satu kubus dengan silinder ditengahnya. Silinder itu berputar terus menerus, selama 24 jam, dengan kecepatan 330 - 560 RPM untuk menghasilkan listrik. Deru mesin yang terputar akibat air itu sangat besar. Harus teriak supaya bisa terdengar.
Tak berapa lama di ruang turbin, kami pun menyudahi kunjungan di Sigura-gura. Rombongan keluar lewat jalur kedua, yaitu lewat terowongan bukit. Terowongan itu menghujam ke dasar PLTA dan muncul di bukit dibawah stasiun.
Dinding terowongan adalah pahatan batu kasar bekas dibor atau diledakkan dengan dinamit untuk membuat jalan. Langit-langitnya, sebagai penahan, diberi jala-jala dari kawat yang ditanam dengan pasak.
Keluar dari terowongan juga suatu pengalaman yang unik. Cahaya hanya ada dari ratusan lampu neon berwana putih di dinding. Kelok-kelok terowongan yang gelap yang mampu menampung dua mobil sekaligus memberikan nuansa aneh. Seperti dalam labirin tanpa ujung. Sampai akhirnya secercah cahaya putih silau menyambut diujung sana. Mulut terowong terbuka menganga.
Bendungan Tangga
Apa jadinya bila warga Sumut sanggup menghalau derasnya air Sungai Asahan dan membeton diantara dua lembah hijau yang terjal dan sempit? Jawaban pastinya cuma satu, yakni Bendungan Tangga! Horas Bah!
Bendungan Tangga terletak empat kilometer dibawah Siguragura. Air yang sudah memutar turbin Siguragura kembali dialirkan ke Sungai Asahan dan dimanfaatkan kembali untuk menggerakkan turbin di stasiun pembangkit listrik Tangga.
Bendungan tangga memiliki panjang 125 meter dengan tinggi 82 meter. Ia sanggup menahan volume air sebesar 53 ribu meter kubik. Tangga adalah bendungan bentuk busur pertama di Indonesia. Ia mulai dibangun pada Mei 1978 dan tuntas empat tahun sesudahnya.
Begitu mobil memasuki pelataran parkir bendungan, kami ibarat anak kecil yang girang melihat mainan baru. Seluruh wartawan bergegas turun untuk melihat bendungan yang gambarnya sempat menghiasi uang kertas pecahan Rp 100 di era 1990-an. Aku malahan setengah berlari, tak sabar untuk menikmati bendungan itu. Diatasnya, dibangun anjungan dengan pagar setinggi dada orang dewasa untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan.
Pemandangannya betul-betul indah. Bendungan Tangga tepat dimulut lembah terjal dan sempit. Dua aliran Sungai Asahan berwarna hijau lumut mengalir dibelakangnya. Bendungan Tangga berwarna krem dan terbuat dari beton solid. Di sisi yang merapat ke lembah tersedia tangga turun kebawah.
Ia memiliki tiga pintu air tempat mengontrol volume air. Air selanjutnya turun secara bertingkat-tingkat, layaknya tangga. Sang pembuat bendungan memapas dengan ketepatan sudut yang mengagumkan, menjadikannya sebuah tangga raksasa yang makin jauh ke hilir makin tinggi.
Berbeda dengan Siguragura, stasiun pembangkit listrik Tangga berada di permukaan tanah. Ia memiliki empat generator yang masing-masing berkapasitas 79,2 MW. Air yang ditampung di bendungan ini dialirkan melalui terowongan bawah tanah yang terletak disisi bendungan sepanjang 1.618 meter yang kemudian menggerakkan turbin.
Tak puas menatap dari anjungan, aku dan Andi mencari jalan turun ke bawah anjungan. Kami ingin semakin dekat dengan bendungan itu. Andi tidak membuang waktu dan langsung mengabadikan bendungan ke dalam kamera digitalnya.
Secara total, tenaga listrik yang dihasilkan oleh pembangkit Siguragura dan Tangga mencapai 426 MW dari kapasitas terpasang 603 MW. Bila tidak digunakan untuk pabrik alumnium yang berlokasi di Kuala Tanjung, listrik dua bendungan itu lebih dari cukup untuk menerangi sebagian wilayah Sumut dan NAD.
Namun karena pabrik alumnium butuh listrik untuk menghasilkan alumina yang bermutu, maka saat ini Inalum hanya memasok listrik 90 MW bagi kebutuhan Sumatera Bagian Utara. Jumlah ini sudah ditambah dari sebelumnya yaitu 45 MW.
Dari mana listrik mengalir? Di masing-masing stasiun pembangkit didirikan medan saklar. Bentuk bangunan medan ini adalah wilayah yang penuh dengan menara listrik tegangan tinggi yang menjulang dibalik bukit. Total menara itu sebanyak 271 unit.
Kabelnya harus sepanjang 120 kilometer, atau setara dengan jarak Jakarta - Bandung, menembus dan melintas pegunungan, perkebunan, dan dataran rendah yang sejuk. Ia melewati tiga kabupaten, yaitu Toba Samosir, Simalungun, dan Asahan. Di Kuala Tanjung, jaringan listrik milik Inalum ini bertetangga dengan jaringan milik PLN.
Bendungan Pengatur
Sudah puas? Ternyata belum. Kami masih bergairah mengunjungi satu bendungan lagi yang terletak di 14,5 kilometer dari mulut Danau Toba yang mengaliri Sungai Asahan. Namanya bendungan pengatur di Siruar. Bentuknya sederhana dengan hanya segaris beton setinggi 39 meter dan volumenya 27.400 meter kubik.
Biarpun sederhana, fungsi bendungan ini sangat strategis. Pak Budi menjelaskan,untuk menjamin kelancaran operasi pabrik peleburan alumnium, dibutuhkan tenaga listrik yang stabil. Listrik yang stabil sangat ditentukan oleh aliran air yang juga stabil. ''Inilah fungsi bendungan pengatur, ia mengatur berapa volume air yang akan melintas di Siguragura dan kemudian Tangga,'' katanya.
Di mulut bendungan, kami menemui sejumlah warga yang sedang asyik memancing. Mansyur Barus, wartawan koran sore dari Cawang, Jakarta Timur, langsung tergoda untuk mencoba memancing. ''Ayo lemparkan kailnya yang jauh,'' seru pria berbadan tambun ini lalu tertawa lepas.
Apa saja ikan yang berenang di air warna hijau itu? Menurut warga setempat, saat ini ikannya tinggal jenis Mujair. Itupun ukurannya kecil. Tadinya, jenis ikan yang ada di bendungan ini beraneka ragam. Tapi polusi yang mencemari air bendungan, konon akibat pabrik kertas di sekitar daerah itu, membuat keluarga ikan punah. Berita banyak ikan mati mengambang di Danau Toba memang sempat mewarnai media massa beberapa tahun belakangan.
Selepas bendungan ini, rombongan memutuskan untuk segera kembali ke Medan. Meski badan penat dan penuh keringat, rona senang terpampang di wajah kami. Tiga bendungan cantik dalam waktu kurang dari empat jam kami kunjungi. Ini baru namanya wisata PLTA di Sumut. Kembali kami berseru girang, horas bah!
Subscribe to:
Posts (Atom)