Ada kebiasaan menarik yang dilakukan tiap karyawan Inalum bila mereka hendak keluar wilayah Paritohan. Bila ditemui warga sekitar yang menunggu mobil di pinggir jalan, maka karyawan Inalum wajib mengangkutnya. Bila tidak, sanksi perusahaan siap menimpa sang karyawan.
Lho kok bisa? Wajar saja, di daerah Paritohan memang tak punya taksi alias angkot untuk membawa warga sekitar keluar wilayah. Sarana transportasi massal hanyalah bus berukuran sedang milik Inalum. Karena jumlahnya terbatas, maka bus itu jarang sekali lewat. Paling pagi bus gratis itu berangkat sebelum matahari terbit, dan menjelang sore sudah tidak lagi mengangambil penumpang. Jalanan Paritohan sangat lenggang.
''Kalau tidak membawa rombongan ini, mobil kami harus berhenti dan mengangkut mereka,'' tutur S Sijabat, senior Manajer Public Relation PT Inalum, sembari menunjuk serombongan ibu berpakaian batik tenun berwarna cerah yang sedang menunggu di pinggir jalan. Mereka membawa banyak bawaan. Tampaknya ingin ke suatu pesta adat, entah dimana.
Tak jauh dari tempat itu, berdiri Desa Pintu Pohan Meranti. Desa ini tepat berada dibalik kemegahan Kompleks Perumahan Stasiun Pembangkit Listrik Tenaga Air Siguragura, Paritohan,Kabupaten Toba Samosir, Sumut.
Dibilang megah karena sarana dan prasarana di kompleks itu sangat bertolak belakang dengan desanya. Desa Meranti adalah satu ruas jalan berdebu yang kering dengan perumahan penduduk berjajar tak rapi di sepanjang jalannya. Rata-rata rumah di desa yang dihuni oleh sekitar 200 kepala keluarga itu terbuat dari kayu beratapkan seng. Tiap rumah memiliki antena parabola yang lucunya, lebih jernih menangkap siaran TV3 asal Malaysia ketimbang siaran televisi nasional.
Sementara kompleks perumahan karyawan Inalum adalah rumah mungil tertata rapi di pinggi jalan yang berbukit dengan rumput hijau yang dicukur pendek. Pohon rindang dengan semak yang rimbun. Jalanan dengan marka jalan di tiap simpangan bertuliskan 'Stop'.
Ada lagi yang unik soal desa ini, yaitu banyaknya anak kecil. Secara iseng kami bertanya ke Pak Simanjuntak, yang juga menyertai kami plesiran. ''Kok banyak anak kecil ya Pak? Wah ini pasti banyak waktu luang penduduknya,'' kataku sambil nyengir.
Ternyata jawaban Pak Simanjuntak senada denganku. Saking banyaknya waktu luang mereka, rata-rata anak dalam satu keluarga bisa mencapai diatas tiga orang. Oleh sebab itu, di desa setempat, pemerintah menggerakkan program KB untuk menekan jumlah pertumbuhan. ''Saya salah satu penyuluh KB-nya,'' celetuk Pak Simandjuntak.
Untungnya, Pak Simandjuntak ini tidak tertular kebiasaan setempat. Meski tinggal di kompleks perumahan yang memang lenggang, toh anaknya hanya semata wayang.
Tak begitu jauh dari desa tersebut, tepat di depan sekumpulan menara listrik yang berfungsi sebagai medan saklar pembangkit listrik Siguragura, sebuah jalan selebar sekita tiga meter baru saja selesai dibangun Inalum. Jalan itu mengarah ke puncak bukit dibalik stasiun pembangkit listrik. Tempat Desa Pintu Pohan Dorok berada.
Jalan yang dibangun dengan biaya Rp 500 juta tapi hanya sepanjang tiga kilometer itu adalah satu-satunya jalan yang bisa dilalui kendaraan bermotor penduduk desa yang ternyata belum dialiri listrik itu. Diharapkan, setelah jalan tembus yang meliuk-liuk sampai ke puncak bukit tuntas, yaitu tahun depan, Inalum bisa mengaliri listrik pertama kalinya ke sana.
Thursday, August 9, 2007
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment