mimpi sialan itu datang lagi!
sudah sepekan ini ia muncul
padahal gw bukan orang yang sering mimpi...
apa mungkin karena masih dipikirkan ya?
sial!
Friday, November 23, 2007
Wednesday, November 14, 2007
Thursday, November 1, 2007
Capote Wannabe
Lebaran kemarin dapet tugas piket liputan ficer yang non ekonomi, setelah setahun lebih gw ga nulis ficer human interest, sempat ragu juga masih bisa nangkep suasananya ga ya? abis kalo di ekonomi kan straight, kadar kepekaannya kurang, kalau liputan human interest mau ga mau harus pasang semua indra buat ngerekam suasana, narasumber, sampai hal kecil pun. apalagi kali ini gw coba beda sama sekali, gw ga nyatet maupun ngerekam wawancara gw dengan narasumber, abis kalo pake alat rekam atau nyatet kadang2 narsum jadi rada sungkan, ini skalian gw coba metodenya capote, he3,
berhasil? ya paling ngga terekam di 3 tulisan gw ini, dari tiga tulisan dibawah, gw paling suka yang di ancol, enjoy banget wawancarannya, tapi abis itu gw lintang pukang nyatet apa aja yang diomongin sama si narsum, nginget lagi runut dari awal, lumayan ternyata, meski harus banyak latihan, terutama soal 'klik' di kalimat2 yang buat kutipan yang harus dibuat beragam versi
buat sedikit orang yang baca blog ini, enjoy en kritik yee!
berhasil? ya paling ngga terekam di 3 tulisan gw ini, dari tiga tulisan dibawah, gw paling suka yang di ancol, enjoy banget wawancarannya, tapi abis itu gw lintang pukang nyatet apa aja yang diomongin sama si narsum, nginget lagi runut dari awal, lumayan ternyata, meski harus banyak latihan, terutama soal 'klik' di kalimat2 yang buat kutipan yang harus dibuat beragam versi
buat sedikit orang yang baca blog ini, enjoy en kritik yee!
Evolusi Kamera di Ancol
Habis sudah era kamera instan, Polaroid, di Taman Impian Jaya Ancol (TIJA). Tak ada lagi gerakan tangan legendaris yang mengibas-kibas sehelai film setelah ia keluar dari kamera. Tak ada lagi kamera berat yang menggelayut di leher juru foto.
Masa kejayaan kamera yang ditemukan oleh Edwin Land pada 1947 itu sudah lewat. Terlindas oleh kamera digital bahkan oleh kamera telepon seluler. Jika Anda ke TIJA beberapa bulan belakangan ini, tentengan juru foto disana sudah berubah.
Sekarang, yang mengganduli leher mereka adalah kamera digital mungil berukuran seperempat kamera polaroid dengan resolusi 6 - 7 Mega Pixel. Lebih ringan, lebih praktis. Lho cetak filmnya bagaimana? Jangan kuatir, juru foto dibekali dengan printer mini yang dijalankan dengan aki. Mudah, ringkas, dan mutu gambarnya jauh lebih baik.
''Ganti sejak Maret lalu,'' jawab Aminullah (65 tahun), juru foto paling senior di TIJA, ketika ditanya Republika kapan pergantian kamera dan tetek bengeknya itu terjadi. Sebab, awal tahun ini masih terlihat kamera Polaroid berkeliaran di sepanjang garis pantai TIJA.
Lantas, diapakan kamera Polaroid itu? ''Ya masih ada, di rumah saja, buat kenang-kenangan,'' kata Amin sembari terkekeh. Ia ceritakan, pergantian besar-besaran perangkat kamera dilakukan Maret lalu atas usulan paguyuban juru foto Ancol. Mereka mendapat sponsor dari produsen kamera digital.
Satu set kamera digital beresolusi 6 MP ditambah printer foto, kertas foto 50 lembar, aki kecil untuk menjalankan printer, serta tas penyimpan printer ditebus seharga Rp 2,6 juta. Makin tinggi resolusi kamera digital, makin mahal harga per paketnya. Kalau yang 7 MP plus paket lengkap dihargai Rp 2,8 juta.
Untungnya, juru foto tak harus membayar kontan. Mereka bisa nyicil sesuka hati. Maklum saja, bisnis jepret menjepret di TIJA adalah bisnis yang tak pasti. Ada kalanya satu hari mereka menjual 50 lembar foto yang perlembarnya dihargai Rp 20 ribu. Tapi tak jarang juga tak ada selembar foto pun terjual.
''Kalau ramai saya bisa bayar cicilan sampai Rp 130 ribu per hari,'' ungkap Amin dengan logat Sumbarnya yang kentara. Uang itu ia setorkan ke paguyuban. Karena termasuk yang rajin menyicil, dalam waktu tiga bulan kamera beserta printernya sudah resmi milik Amin. ''Saya termasuk cepat, sekarang yang muda-muda masih ada yang belum lunas,'' ujar pemilik tubuh kerempeng ini.
Bagaimana tanggapan masyarakat atas pergantian kamera? ''Senang Pak! Kalau Polaroid mereka mengeluh fotonya kekecilan atau kalau gayanya jelek tak bisa diganti. Kalau digital, mereka puas dengan hasilnya, terang. Soal gaya, foto tak dicetak sebelum disetujui mereka,'' tandas Edy, juru foto lainnya.
Riwayat juru foto foto di Ancol tak bisa lepas dari Polaroid. Sebagai salah satu juru foto tertua di Ancol, Amin menggambarkan, pada 1976, perwakilan Polaroid di Jakarta mendatangi mereka dan menawarkan produknya. Seluruh kebutuhan foto diberikan dengan harga miring.
Pada saat itu, masyarakat yang datang ke Ancol juga belum seramai sekarang. Juru foto masih bisa duduk-duduk santai di belakang Hotel Horison lama, kini di daerah Pantai Festival.
''Mereka justru yang memanggil kami untuk memfoto. Biasanya mereka memanggil dari mobil, baru difoto di pantai,'' tutur Amin, mengenang masa lalunya.
Kebesaran Polaroid sebagai kamera instant di Ancol tak tergoyahkan, meski pada era 1980-an dan berlanjut ke 1990-an masyarakat diserbu oleh kamera poket. Polaroid baru terdesak ketika teknologi beralih cepat ke kamera digital di tahun 2000-an. Apalagi sekarang harga kamera digital ada yang dibawah Rp 1 juta.
Polaroid makin terpojok ketika produsen telepon seluler mengintegrasikan fungsi kamera beresolusi tinggi (1,3 sampai 3,2 MP) ke dalam telepon mereka. Omset foto Polaroid di TIJA pun jeblok. Amin maupun Edy mengakui, sebelum pergantian kamera Maret lalu, tiap tahun pendapatan mereka makin tergerus.
Salah satu sebabnya juga adalah biaya foto Polaroid yang memang mahal. Tiap satu roll film Polaroid harus ditebus seharga Rp 95 ribu. Itu pun cuma berisi 10 lembar foto. Berarti harga pokok tiap foto Rp 9.500. Sementara dua tahun terakhir harga foto di Ancol masih berkisar Rp 15 ribu sampai Rp 20 ribu.
Dengan kamera digital, beban biaya foto itu lenyap. Juru foto hanya mengeluarkan biaya untuk kertas foto yang harganya bisa sepertiga dari harga foto Polaroid, serta biaya tinta printer yang juga kian murah.
Lebaran jelas membawa berkah ke juru foto di Ancol. Dalam musim libur itu, tiap hari mereka mendulang rezeki. Meski menolak merata-ratakan pendapatan per hari saat liburan ini, Amin dan Edy mengaku menjual lebih dari 20 lembar foto. Maksimal 50 lembar foto, itu berarti Rp 1 juta mereka kantongi atau minimal Rp 400 ribu.
Sudah dapat berapa hari ini (Ahad 14/10) sore? ''Hari ini terlalu ramai, padat, jadi orang tidak berfikir untuk foto-foto,'' tandas Edy. Hari pertama lebaran menurutnya yang paling ideal. Pengunjung tak terlalu padat sehingga mereka masih bisa memanfaatkan juru foto untuk mengabadikan kenangan di Ancol.
Hari pertama lebaran membuat pria yang dua tahun lalu berjualan pakaian lantas bangkrut di Tanah Abang ini membawa Rp 1 juta lebih ke rumahnya yang terletak di seberang Ancol, di dekat rel kereta.
Hari kedua, penghasilannya sedikit merosot. ''Untung tadi ada rombongan anak sekolah dari Ujung Pandang yang meminta di foto,'' ungkapnya. Ketika ditemui Ahad sore, Edy baru mencetak sekitar 30 lembar foto. Ia bertekad sampai tengah malam masih akan bekerja di pantai.
Sebagai juru foto paling senior diantara 20 juru foto di pinggiran pantai Ancol, Amin juga menikmati rezeki yang hampir sama dengan kawan-kawannya. Mengenakan kemeja putih, celana hitam, dan rompi biru (khas juru foto Ancol), kakek 14 cucu ini menyodorkan contoh-contoh foto sembari berseru, ''Foto..foto..foto pak..foto mba'..,'' ke lalu lalang pengunjung.
Ia masih semangat menyeret tubuh ringkihnya di sekitar Pantai Festival. Ahad itu, Amin sudah menjual lebih dari 30 lembar foto. Asal muasal Amin bergelut di Ancol adalah keterlibatannya di percetakan foto pada 1975. Pria asal Sumbar ini (kini mayoritas juru foto di Ancol berasal dari Sumbar), tergiur rezeki kawannya yang saat itu menjadi tukang foto di Kebun Binatang Ragunan.
''Lebih banyak untung ketimbang modalnya,'' begitu alasan Amin melepas pekerjaan cetak fotonya untuk beralih ke juru foto. Tiga bulan pertama Amin bekerja mengitari Kebun Binatang Ragunan. Atas bujukan kawannya di Ancol yang mengatakan kalau saat itu Ancol masih sepi dari juru foto, maka Amin banting stir.
''Padahal saat itu saya tak tahu dimana Ancol itu,'' celetuknya. Modal nekat, Amin muda hanya tahu ia harus naik bus dari Terminal Lapangan Banteng dan turun di Binaria. Akhirnya, terdamparlah pria yang sudah enam kali menikah itu sampai sekarang di Ancol.
Ia mengaku bakal menekuni pekerjaan ini sampai sudah tak kuat lagi. ''Ini (juru foto) adalah hobi dan keharusan saya. Hobi karena saya senang memfoto, keharusan karena saya butuh uang darinya,''.
Mau sampai jam berapa di pantai? Amin mengaku hanya sanggup sampai petang di Ancol. Ia tak lagi sanggup menyusuri seluruh pantai Ancol, seperti yang ia kerap lakukan dulu. Ia hanya berjalan mondar-mandir di sekitar Pantai Festival.
Tapi yang paling menyedihkannya adalah kondisi matanya. Sebagai salah satu faktor penting dalam pekerjaan, mata Amin diakuinya sudah tak kuat. ''Mata saya sudah rabun kalau petang,'' katanya.
Masa kejayaan kamera yang ditemukan oleh Edwin Land pada 1947 itu sudah lewat. Terlindas oleh kamera digital bahkan oleh kamera telepon seluler. Jika Anda ke TIJA beberapa bulan belakangan ini, tentengan juru foto disana sudah berubah.
Sekarang, yang mengganduli leher mereka adalah kamera digital mungil berukuran seperempat kamera polaroid dengan resolusi 6 - 7 Mega Pixel. Lebih ringan, lebih praktis. Lho cetak filmnya bagaimana? Jangan kuatir, juru foto dibekali dengan printer mini yang dijalankan dengan aki. Mudah, ringkas, dan mutu gambarnya jauh lebih baik.
''Ganti sejak Maret lalu,'' jawab Aminullah (65 tahun), juru foto paling senior di TIJA, ketika ditanya Republika kapan pergantian kamera dan tetek bengeknya itu terjadi. Sebab, awal tahun ini masih terlihat kamera Polaroid berkeliaran di sepanjang garis pantai TIJA.
Lantas, diapakan kamera Polaroid itu? ''Ya masih ada, di rumah saja, buat kenang-kenangan,'' kata Amin sembari terkekeh. Ia ceritakan, pergantian besar-besaran perangkat kamera dilakukan Maret lalu atas usulan paguyuban juru foto Ancol. Mereka mendapat sponsor dari produsen kamera digital.
Satu set kamera digital beresolusi 6 MP ditambah printer foto, kertas foto 50 lembar, aki kecil untuk menjalankan printer, serta tas penyimpan printer ditebus seharga Rp 2,6 juta. Makin tinggi resolusi kamera digital, makin mahal harga per paketnya. Kalau yang 7 MP plus paket lengkap dihargai Rp 2,8 juta.
Untungnya, juru foto tak harus membayar kontan. Mereka bisa nyicil sesuka hati. Maklum saja, bisnis jepret menjepret di TIJA adalah bisnis yang tak pasti. Ada kalanya satu hari mereka menjual 50 lembar foto yang perlembarnya dihargai Rp 20 ribu. Tapi tak jarang juga tak ada selembar foto pun terjual.
''Kalau ramai saya bisa bayar cicilan sampai Rp 130 ribu per hari,'' ungkap Amin dengan logat Sumbarnya yang kentara. Uang itu ia setorkan ke paguyuban. Karena termasuk yang rajin menyicil, dalam waktu tiga bulan kamera beserta printernya sudah resmi milik Amin. ''Saya termasuk cepat, sekarang yang muda-muda masih ada yang belum lunas,'' ujar pemilik tubuh kerempeng ini.
Bagaimana tanggapan masyarakat atas pergantian kamera? ''Senang Pak! Kalau Polaroid mereka mengeluh fotonya kekecilan atau kalau gayanya jelek tak bisa diganti. Kalau digital, mereka puas dengan hasilnya, terang. Soal gaya, foto tak dicetak sebelum disetujui mereka,'' tandas Edy, juru foto lainnya.
Riwayat juru foto foto di Ancol tak bisa lepas dari Polaroid. Sebagai salah satu juru foto tertua di Ancol, Amin menggambarkan, pada 1976, perwakilan Polaroid di Jakarta mendatangi mereka dan menawarkan produknya. Seluruh kebutuhan foto diberikan dengan harga miring.
Pada saat itu, masyarakat yang datang ke Ancol juga belum seramai sekarang. Juru foto masih bisa duduk-duduk santai di belakang Hotel Horison lama, kini di daerah Pantai Festival.
''Mereka justru yang memanggil kami untuk memfoto. Biasanya mereka memanggil dari mobil, baru difoto di pantai,'' tutur Amin, mengenang masa lalunya.
Kebesaran Polaroid sebagai kamera instant di Ancol tak tergoyahkan, meski pada era 1980-an dan berlanjut ke 1990-an masyarakat diserbu oleh kamera poket. Polaroid baru terdesak ketika teknologi beralih cepat ke kamera digital di tahun 2000-an. Apalagi sekarang harga kamera digital ada yang dibawah Rp 1 juta.
Polaroid makin terpojok ketika produsen telepon seluler mengintegrasikan fungsi kamera beresolusi tinggi (1,3 sampai 3,2 MP) ke dalam telepon mereka. Omset foto Polaroid di TIJA pun jeblok. Amin maupun Edy mengakui, sebelum pergantian kamera Maret lalu, tiap tahun pendapatan mereka makin tergerus.
Salah satu sebabnya juga adalah biaya foto Polaroid yang memang mahal. Tiap satu roll film Polaroid harus ditebus seharga Rp 95 ribu. Itu pun cuma berisi 10 lembar foto. Berarti harga pokok tiap foto Rp 9.500. Sementara dua tahun terakhir harga foto di Ancol masih berkisar Rp 15 ribu sampai Rp 20 ribu.
Dengan kamera digital, beban biaya foto itu lenyap. Juru foto hanya mengeluarkan biaya untuk kertas foto yang harganya bisa sepertiga dari harga foto Polaroid, serta biaya tinta printer yang juga kian murah.
Lebaran jelas membawa berkah ke juru foto di Ancol. Dalam musim libur itu, tiap hari mereka mendulang rezeki. Meski menolak merata-ratakan pendapatan per hari saat liburan ini, Amin dan Edy mengaku menjual lebih dari 20 lembar foto. Maksimal 50 lembar foto, itu berarti Rp 1 juta mereka kantongi atau minimal Rp 400 ribu.
Sudah dapat berapa hari ini (Ahad 14/10) sore? ''Hari ini terlalu ramai, padat, jadi orang tidak berfikir untuk foto-foto,'' tandas Edy. Hari pertama lebaran menurutnya yang paling ideal. Pengunjung tak terlalu padat sehingga mereka masih bisa memanfaatkan juru foto untuk mengabadikan kenangan di Ancol.
Hari pertama lebaran membuat pria yang dua tahun lalu berjualan pakaian lantas bangkrut di Tanah Abang ini membawa Rp 1 juta lebih ke rumahnya yang terletak di seberang Ancol, di dekat rel kereta.
Hari kedua, penghasilannya sedikit merosot. ''Untung tadi ada rombongan anak sekolah dari Ujung Pandang yang meminta di foto,'' ungkapnya. Ketika ditemui Ahad sore, Edy baru mencetak sekitar 30 lembar foto. Ia bertekad sampai tengah malam masih akan bekerja di pantai.
Sebagai juru foto paling senior diantara 20 juru foto di pinggiran pantai Ancol, Amin juga menikmati rezeki yang hampir sama dengan kawan-kawannya. Mengenakan kemeja putih, celana hitam, dan rompi biru (khas juru foto Ancol), kakek 14 cucu ini menyodorkan contoh-contoh foto sembari berseru, ''Foto..foto..foto pak..foto mba'..,'' ke lalu lalang pengunjung.
Ia masih semangat menyeret tubuh ringkihnya di sekitar Pantai Festival. Ahad itu, Amin sudah menjual lebih dari 30 lembar foto. Asal muasal Amin bergelut di Ancol adalah keterlibatannya di percetakan foto pada 1975. Pria asal Sumbar ini (kini mayoritas juru foto di Ancol berasal dari Sumbar), tergiur rezeki kawannya yang saat itu menjadi tukang foto di Kebun Binatang Ragunan.
''Lebih banyak untung ketimbang modalnya,'' begitu alasan Amin melepas pekerjaan cetak fotonya untuk beralih ke juru foto. Tiga bulan pertama Amin bekerja mengitari Kebun Binatang Ragunan. Atas bujukan kawannya di Ancol yang mengatakan kalau saat itu Ancol masih sepi dari juru foto, maka Amin banting stir.
''Padahal saat itu saya tak tahu dimana Ancol itu,'' celetuknya. Modal nekat, Amin muda hanya tahu ia harus naik bus dari Terminal Lapangan Banteng dan turun di Binaria. Akhirnya, terdamparlah pria yang sudah enam kali menikah itu sampai sekarang di Ancol.
Ia mengaku bakal menekuni pekerjaan ini sampai sudah tak kuat lagi. ''Ini (juru foto) adalah hobi dan keharusan saya. Hobi karena saya senang memfoto, keharusan karena saya butuh uang darinya,''.
Mau sampai jam berapa di pantai? Amin mengaku hanya sanggup sampai petang di Ancol. Ia tak lagi sanggup menyusuri seluruh pantai Ancol, seperti yang ia kerap lakukan dulu. Ia hanya berjalan mondar-mandir di sekitar Pantai Festival.
Tapi yang paling menyedihkannya adalah kondisi matanya. Sebagai salah satu faktor penting dalam pekerjaan, mata Amin diakuinya sudah tak kuat. ''Mata saya sudah rabun kalau petang,'' katanya.
Kembali Fitri di Grogol
Sebut saja namanya Fulan. Mengenakan celana pendek cokelat dipadu dengan kemeja hitam dengan garis-garis merah, pria berkumis tipis paruh baya itu tampak asyik mendengarkan lawan bicaranya, seorang perempuan berkerudung kuning pucat. Keduanya tampak santai mengobrol ditemani beberapa kawan di selasar lorong.
Tak jarang si perempuan memegang bahu si Fulan yang kerap mengangguk-angguk. Tak lama kemudian, si perempuan pamit pulang. Tangan si Fulan pun digenggam erat. Seolah tak ingin berpisah, si Fulan bangkit dan mendekatkan wajahnya ke wajah si perempuan.
Mulutnya dimonyongkan. Satu kecupan penuh makna mendarat di dahi si perempuan. Mata kedua insan itu saling menatap penuh arti yang hanya mereka bisa mengerti. Si Fulan tampak girang bukan kepayang. Senyum lebar mengembang di wajahnya.
Sang perempuan pun berdiri. Saatnya berpisah. Si perempuan memapah si Fulan ke sebuah ruangan. Keduanya berpisah dibatasi terali besi warna abu-abu. Si perempuan balik badan lantas berjalan cepat menyusuri koridor lantai keramik. Si Fulan tak lagi terlihat batang hidungnya.
Dua puluh menit sebelumnya, si perempuan sempat bersitegang dengan penjaga gerbang. ''Jam besuk sudah habis Bu,'' tegas si penjaga. Ada dua jam besuk disini, pertama antara pukul 11.00 WIB sampai 12.00 WIB, kedua di petang hari antara 17.00 WIB sampai 18.00 WIB.
''Saya tahu Pak, tapi ini hanya sebentar saja, tak lama kok, kan sudah ajukan cuti,'' balas si perempuan dengan memelas. ''Betul sudah ajukan cuti?'' tanya si penjaga menyelidik. ''Sudah Pak!'' timpal si perempuan dengan tegas.
''Saya cek dulu ya,''. Akhirnya si penjaga menyerah. Si perempuan diperbolehkan masuk sejenak menjenguk si Fulan.
Hari pertama Idul Fitri di Rumah Sakit Jiwa Dr Soeharto Heerdjan, atau yang kita kenal dengan sebutan RSJ Grogol, dipenuhi pertemuan seperti diatas. Pertemuan antara keluarga dengan anggota keluarganya yang dirawat.
Kedua pihak kangen-kangenan. Anak-anak bertemu ayah atau ibunya yang dirawat, istri bertemu suaminya, suami bertemu istrinya, atau saudara menjenguk saudaranya.
''Pasien mengerti kalau sekarang Idul Fitri dan banyak dari mereka yang minta cuti, atau keluarganya yang minta cuti'' cetus Dokter Handy Susilo, saat ditemui Republika akhir pekan lalu di ruang Unit Gawat Darurat (UGD) RSJ.
Cuti adalah waktu bagi pasien yang sudah relatif tenang dan bisa berkomunikasi dengan baik (para dokter dan suster menyebutnya pasien kelas rehabilitasi) untuk pulang ke keluarganya sejenak.
Jangka waktu kepulangannya maksimal tiga hari. Namun kondisi pasien diawasi dan dipantau terus menerus, termasuk minum obat. Tapi ada juga pasien yang sudah cuti dibawa kembali ke RSJ.
Penyebabnya, pasien mengalami perubahan suasana yang sangat drastis. Maklum, di RSJ suasananya sangat tenang.
''Dikondisikan tenang,'' kata salah seorang staf RSJ, Tarwana yang sudah bekerja selama 25 tahun ditempat itu. Sementara suasana di rumah hiruk pikuk karena lebaran. Pasien pun terkejut atas perubahan tiba-tiba ini, yang bisa berakibat ke proses penyembuhannya. Jadilah ia diinapkan kembali ke RSJ.
Sekedar menggambarkan, kompleks bangunan di RSJ dibagi dua bagian. Pertama bagian kompleks rawat inap yang dijaga ketat, dengan Closed Circuit Television (CCTV) dan pintu gerbang berlapis. Pasien dibedakan berdasar jenis kelaminnya. Bangsal sayap utara tempat pasien perempuan, yang selatan untuk laki-laki.
Kompleks bangunan kedua, adalah bangunan perkantoran, termasuk UGD. Tiap bangunan dihubungkan dengan koridor-koridor tinggi.
Pasien tidak diperbolehkan keluar tanpa pengawasan ketat. Kalaupun boleh, itu hanya sebatas pintu gerbang RSJ, yang tepat ditepi jalan raya yang ramai. Kalau dianggap layak, pasien bisa shalat Idul Fitri di halaman RSJ, berbaur dengan warga sekitar. Sayangnya pada 1428 Hijriah ini tidak satupun pasien yang shalat Ied.
Kangen keluarga? Pasti. Meski mendapat embel-embel pasien, mereka tetap manusia yang memiliki perasaan. Yang membedakannya hanyalah mereka mengidap penyakit, yaitu gangguan jiwa yang memengaruhi pola pikir dan tindakannya. Di luar itu, mereka tidak terlepas seluruhnya dari realitas kehidupan, termasuk mengartikan Idul Fitri sebagai saat berkumpul bersama keluarga.
Kondisi perasaan seperti ini sangat tergantung dari kondisi penyembuhan si pasien. RSJ membagi kondisi kesehatan itu kedalam tiga ruang. Ruang pertama adalah ruang gaduh gelisah. Ruang ini diperuntukkan bagi pasien yang baru masuk. Ia harus melewati 12 hari masa pengobatan dan terapi.
Ruang selanjutnya adalah intermediate. Di ruang ini, pasien yang sudah menunjukkan perbaikan kondisi kejiwaan dari gaduh gelisah, masih menjalani terapi dan pengobatan intensif sampai 20 hari ke depan. Ruang terakhir adalah ruang rehabilitasi. Lama pengobatan di ruang ini mencapai 30 hari. Total seorang pasien dirawat normal mencapai 60 hari.
Pasien kategori rehabilitasi-lah yang umumnya kembali mengerti dan merasakan Idul Fitri serta rasa kangen bertemu keluarga di dalam hatinya. Mereka seperti si Fulan yang diceritakan diatas (RSJ mengenakan aturan yang ketat untuk peliputan, tidak boleh ada nama pasien dicantumkan dengan alasan hukum dan untuk bercakap-cakap sangat dibatasi dan harus dikawal oleh dokter psikiater agar tidak menganggu pasien).
Apa saja yang pasien lakukan saat Idul Fitri? Rutinitas mereka tidak relatif tidak berubah. ''Kecuali dapat tambahan makanan di pagi hari,'' kata Tarwana. Pasien harus disiplin dan berkutat dengan tiga jadwal untuk penyembuhannya : pengobatan, terapi, istirahat.
Ini jadwal rutinitas mereka : pasien harus bangun pada pukul 06.30 WIB untuk mandi dan sarapan serta terapi obat dan aktivitas. Terapi akan dibedakan untuk tiap pasien tergantung kondisinya. Ada terapi musik, olah raga, atau sekedar membaca di perpustakaan.
Terapi berlangsung hingga siang hari, pada 12.00 WIB, mereka makan siang. Setelah itu masih dilanjutkan dengan terapi, baru istirahat pukul 15.00 WIB. Saat ini mereka bisa tidur di bangsal (ada 10 bangsal di RSJ, tiap bangsal berisi sedikitnya 10 tempat tidur) atau menonton televisi dan berinteraksi dengan sesamanya.
Makan malam disediakan pukul 17.30 WIB sampai 19.00 WIB setelah sebelumnya mereka membersihkan diri. Setelah itu, yang dilakukan kembali istirahat. Pasien harus sudah ditempat tidur pada pukul 20.00 WIB atau maksimal 21.00 WIB untuk kembali bangun keesokan harinya.
Melihat jadwal itu, terasa bahwa waktu terapi dan istirahat sangatlah banyak. ''Proses kesembuhan butuh ketenangan emosional pasien dan lingkungannya. Makanya di RSJ ini situasinya dikondisikan tenang,'' cetus dokter Handy lagi.
Bagaimana sikap keluarga menghadapi anggotanya yang sakit jiwa? ''Ada yang sudah menerima kalau ayah atau ibu mereka sakit jiwa, dan tetap menjenguk. Ada yang tidak sempat dijenguk, atau ada yang memang sampai saat ini belum menerima kalau keluarganya sakit jiwa sehingga mereka tidak menjenguk sama sekali,'' kata Tarwana, yang kerap mengamati perilaku hubungan keluarga dan pasien.
Akibatnya, ada pasien yang seumur hidupnya dititipkan di RSJ. Saat ini aturan Depkes tidak memperbolehkan demikian. Kini, bila sudah dianggap maksimal diobati, pasien akan dipindahkan ke Panti Laras yang ada di Cipayung atau Cengkareng.
Tiba-tiba, ditengah percakapan, seorang pasien perempuan mendekat. ''Om..om bagi duit dong om. Seribu aja om..,'' katanya kocak dari balik pagar besi. ''Ayo dong om..seribu aja om..,'' desaknya lagi.
Kami tertegun sejenak sebelum akhirnya tersenyum. ''Mau buat apaan seribu?'' sergah Karli, koordinator pengamanan di RSJ, yang turut menemani kunjungan Republika. Pertanyaan itu tak ia jawab. Dengan lirikan penuh harap, perempuan muda berambut pendek dengan kulit putih bersih ini terus meminta uang.
Akhirnya kami meninggalkan dia. Tapi selagi kami berjalan menjauh ia mengomel,''Huuuuw dasar pelit..pelit..pelit...pelit sekali...pelit sekali...pelit sekali,''.
RSJ memiliki sepasukan orang berhati mulia dengan tekad menyembuhkan pasien. Jumlah psikiaternya ada 11 orang, dokter umumnya ada 25 orang, ditambah sekitar 120-an suster. Operasional mereka dibagi tiga shift, pagi, siang, malam.
Apa suka-dukanya bekerja di RSJ? Sebelum menjawab pertanyaan ini, Tarwana dan Karli saling memandang. ''Kami yang bekerja disini itu murni sosial, dengan hati,'' kata Karli pelan. Pria timor berkulit hitam dengan badan tegap dan rambut kriting serta selalu membawa radio komunikasi itu menilai apa yang ia kerjakan adalah pengabdian bagi sesamanya. ''Murni jiwa sosial,'' ulangnya lagi.
Yang disebalkan, lanjut dia, kalau ada pasien yang memicu keributan atau bahkan mencoba melarikan diri. ''Saya repot harus mengejar mereka, bahkan ada yang pernah mencoba lari dengan memanjat atap rumah sakit,'' ujarnya sembari tertawa.
Bagi Tarwana, bekerja di RSJ adalah pengabdian untuk manusia yang tidak mendapat tempat di masyarakat. ''Tempat ini menjadi tempat terakhir bagi mereka yang tidak diterima keluarga, masyarakat, bahkan rumah sakit lain,'' tutur pria asal Solo ini lirih.
Sialnya, stigma RSJ justru menjadi negative. RSJ dicitrakan sempit menjadi sebuah tempat yang menyeramkan dan diisi oleh orang-orang berperilaku aneh dan membahayakan. ''Stigma itu harus diluruskan,'' tegas Tarwananya.
Bahwasanya RSJ hanya tempat singgah sementara dari seseorang yang mengalami penyakit yang harus disembuhkan.
Dari sudut pandang Idul Fitri, apa yang dilakukan Tarwana, Karli, dokter, psikiater, suster, satpam, dan karyawan lain di RSJ adalah berusaha mengantarkan seseorang kembali ke fitrahnya, manusia yang sehat. Berlainan dengan masyarakat yang kerap hanya berslogan Idul Fitri, apa yang dikerjakan di RSJ ini sudah jauh melampauinya.
Tak jarang si perempuan memegang bahu si Fulan yang kerap mengangguk-angguk. Tak lama kemudian, si perempuan pamit pulang. Tangan si Fulan pun digenggam erat. Seolah tak ingin berpisah, si Fulan bangkit dan mendekatkan wajahnya ke wajah si perempuan.
Mulutnya dimonyongkan. Satu kecupan penuh makna mendarat di dahi si perempuan. Mata kedua insan itu saling menatap penuh arti yang hanya mereka bisa mengerti. Si Fulan tampak girang bukan kepayang. Senyum lebar mengembang di wajahnya.
Sang perempuan pun berdiri. Saatnya berpisah. Si perempuan memapah si Fulan ke sebuah ruangan. Keduanya berpisah dibatasi terali besi warna abu-abu. Si perempuan balik badan lantas berjalan cepat menyusuri koridor lantai keramik. Si Fulan tak lagi terlihat batang hidungnya.
Dua puluh menit sebelumnya, si perempuan sempat bersitegang dengan penjaga gerbang. ''Jam besuk sudah habis Bu,'' tegas si penjaga. Ada dua jam besuk disini, pertama antara pukul 11.00 WIB sampai 12.00 WIB, kedua di petang hari antara 17.00 WIB sampai 18.00 WIB.
''Saya tahu Pak, tapi ini hanya sebentar saja, tak lama kok, kan sudah ajukan cuti,'' balas si perempuan dengan memelas. ''Betul sudah ajukan cuti?'' tanya si penjaga menyelidik. ''Sudah Pak!'' timpal si perempuan dengan tegas.
''Saya cek dulu ya,''. Akhirnya si penjaga menyerah. Si perempuan diperbolehkan masuk sejenak menjenguk si Fulan.
Hari pertama Idul Fitri di Rumah Sakit Jiwa Dr Soeharto Heerdjan, atau yang kita kenal dengan sebutan RSJ Grogol, dipenuhi pertemuan seperti diatas. Pertemuan antara keluarga dengan anggota keluarganya yang dirawat.
Kedua pihak kangen-kangenan. Anak-anak bertemu ayah atau ibunya yang dirawat, istri bertemu suaminya, suami bertemu istrinya, atau saudara menjenguk saudaranya.
''Pasien mengerti kalau sekarang Idul Fitri dan banyak dari mereka yang minta cuti, atau keluarganya yang minta cuti'' cetus Dokter Handy Susilo, saat ditemui Republika akhir pekan lalu di ruang Unit Gawat Darurat (UGD) RSJ.
Cuti adalah waktu bagi pasien yang sudah relatif tenang dan bisa berkomunikasi dengan baik (para dokter dan suster menyebutnya pasien kelas rehabilitasi) untuk pulang ke keluarganya sejenak.
Jangka waktu kepulangannya maksimal tiga hari. Namun kondisi pasien diawasi dan dipantau terus menerus, termasuk minum obat. Tapi ada juga pasien yang sudah cuti dibawa kembali ke RSJ.
Penyebabnya, pasien mengalami perubahan suasana yang sangat drastis. Maklum, di RSJ suasananya sangat tenang.
''Dikondisikan tenang,'' kata salah seorang staf RSJ, Tarwana yang sudah bekerja selama 25 tahun ditempat itu. Sementara suasana di rumah hiruk pikuk karena lebaran. Pasien pun terkejut atas perubahan tiba-tiba ini, yang bisa berakibat ke proses penyembuhannya. Jadilah ia diinapkan kembali ke RSJ.
Sekedar menggambarkan, kompleks bangunan di RSJ dibagi dua bagian. Pertama bagian kompleks rawat inap yang dijaga ketat, dengan Closed Circuit Television (CCTV) dan pintu gerbang berlapis. Pasien dibedakan berdasar jenis kelaminnya. Bangsal sayap utara tempat pasien perempuan, yang selatan untuk laki-laki.
Kompleks bangunan kedua, adalah bangunan perkantoran, termasuk UGD. Tiap bangunan dihubungkan dengan koridor-koridor tinggi.
Pasien tidak diperbolehkan keluar tanpa pengawasan ketat. Kalaupun boleh, itu hanya sebatas pintu gerbang RSJ, yang tepat ditepi jalan raya yang ramai. Kalau dianggap layak, pasien bisa shalat Idul Fitri di halaman RSJ, berbaur dengan warga sekitar. Sayangnya pada 1428 Hijriah ini tidak satupun pasien yang shalat Ied.
Kangen keluarga? Pasti. Meski mendapat embel-embel pasien, mereka tetap manusia yang memiliki perasaan. Yang membedakannya hanyalah mereka mengidap penyakit, yaitu gangguan jiwa yang memengaruhi pola pikir dan tindakannya. Di luar itu, mereka tidak terlepas seluruhnya dari realitas kehidupan, termasuk mengartikan Idul Fitri sebagai saat berkumpul bersama keluarga.
Kondisi perasaan seperti ini sangat tergantung dari kondisi penyembuhan si pasien. RSJ membagi kondisi kesehatan itu kedalam tiga ruang. Ruang pertama adalah ruang gaduh gelisah. Ruang ini diperuntukkan bagi pasien yang baru masuk. Ia harus melewati 12 hari masa pengobatan dan terapi.
Ruang selanjutnya adalah intermediate. Di ruang ini, pasien yang sudah menunjukkan perbaikan kondisi kejiwaan dari gaduh gelisah, masih menjalani terapi dan pengobatan intensif sampai 20 hari ke depan. Ruang terakhir adalah ruang rehabilitasi. Lama pengobatan di ruang ini mencapai 30 hari. Total seorang pasien dirawat normal mencapai 60 hari.
Pasien kategori rehabilitasi-lah yang umumnya kembali mengerti dan merasakan Idul Fitri serta rasa kangen bertemu keluarga di dalam hatinya. Mereka seperti si Fulan yang diceritakan diatas (RSJ mengenakan aturan yang ketat untuk peliputan, tidak boleh ada nama pasien dicantumkan dengan alasan hukum dan untuk bercakap-cakap sangat dibatasi dan harus dikawal oleh dokter psikiater agar tidak menganggu pasien).
Apa saja yang pasien lakukan saat Idul Fitri? Rutinitas mereka tidak relatif tidak berubah. ''Kecuali dapat tambahan makanan di pagi hari,'' kata Tarwana. Pasien harus disiplin dan berkutat dengan tiga jadwal untuk penyembuhannya : pengobatan, terapi, istirahat.
Ini jadwal rutinitas mereka : pasien harus bangun pada pukul 06.30 WIB untuk mandi dan sarapan serta terapi obat dan aktivitas. Terapi akan dibedakan untuk tiap pasien tergantung kondisinya. Ada terapi musik, olah raga, atau sekedar membaca di perpustakaan.
Terapi berlangsung hingga siang hari, pada 12.00 WIB, mereka makan siang. Setelah itu masih dilanjutkan dengan terapi, baru istirahat pukul 15.00 WIB. Saat ini mereka bisa tidur di bangsal (ada 10 bangsal di RSJ, tiap bangsal berisi sedikitnya 10 tempat tidur) atau menonton televisi dan berinteraksi dengan sesamanya.
Makan malam disediakan pukul 17.30 WIB sampai 19.00 WIB setelah sebelumnya mereka membersihkan diri. Setelah itu, yang dilakukan kembali istirahat. Pasien harus sudah ditempat tidur pada pukul 20.00 WIB atau maksimal 21.00 WIB untuk kembali bangun keesokan harinya.
Melihat jadwal itu, terasa bahwa waktu terapi dan istirahat sangatlah banyak. ''Proses kesembuhan butuh ketenangan emosional pasien dan lingkungannya. Makanya di RSJ ini situasinya dikondisikan tenang,'' cetus dokter Handy lagi.
Bagaimana sikap keluarga menghadapi anggotanya yang sakit jiwa? ''Ada yang sudah menerima kalau ayah atau ibu mereka sakit jiwa, dan tetap menjenguk. Ada yang tidak sempat dijenguk, atau ada yang memang sampai saat ini belum menerima kalau keluarganya sakit jiwa sehingga mereka tidak menjenguk sama sekali,'' kata Tarwana, yang kerap mengamati perilaku hubungan keluarga dan pasien.
Akibatnya, ada pasien yang seumur hidupnya dititipkan di RSJ. Saat ini aturan Depkes tidak memperbolehkan demikian. Kini, bila sudah dianggap maksimal diobati, pasien akan dipindahkan ke Panti Laras yang ada di Cipayung atau Cengkareng.
Tiba-tiba, ditengah percakapan, seorang pasien perempuan mendekat. ''Om..om bagi duit dong om. Seribu aja om..,'' katanya kocak dari balik pagar besi. ''Ayo dong om..seribu aja om..,'' desaknya lagi.
Kami tertegun sejenak sebelum akhirnya tersenyum. ''Mau buat apaan seribu?'' sergah Karli, koordinator pengamanan di RSJ, yang turut menemani kunjungan Republika. Pertanyaan itu tak ia jawab. Dengan lirikan penuh harap, perempuan muda berambut pendek dengan kulit putih bersih ini terus meminta uang.
Akhirnya kami meninggalkan dia. Tapi selagi kami berjalan menjauh ia mengomel,''Huuuuw dasar pelit..pelit..pelit...pelit sekali...pelit sekali...pelit sekali,''.
RSJ memiliki sepasukan orang berhati mulia dengan tekad menyembuhkan pasien. Jumlah psikiaternya ada 11 orang, dokter umumnya ada 25 orang, ditambah sekitar 120-an suster. Operasional mereka dibagi tiga shift, pagi, siang, malam.
Apa suka-dukanya bekerja di RSJ? Sebelum menjawab pertanyaan ini, Tarwana dan Karli saling memandang. ''Kami yang bekerja disini itu murni sosial, dengan hati,'' kata Karli pelan. Pria timor berkulit hitam dengan badan tegap dan rambut kriting serta selalu membawa radio komunikasi itu menilai apa yang ia kerjakan adalah pengabdian bagi sesamanya. ''Murni jiwa sosial,'' ulangnya lagi.
Yang disebalkan, lanjut dia, kalau ada pasien yang memicu keributan atau bahkan mencoba melarikan diri. ''Saya repot harus mengejar mereka, bahkan ada yang pernah mencoba lari dengan memanjat atap rumah sakit,'' ujarnya sembari tertawa.
Bagi Tarwana, bekerja di RSJ adalah pengabdian untuk manusia yang tidak mendapat tempat di masyarakat. ''Tempat ini menjadi tempat terakhir bagi mereka yang tidak diterima keluarga, masyarakat, bahkan rumah sakit lain,'' tutur pria asal Solo ini lirih.
Sialnya, stigma RSJ justru menjadi negative. RSJ dicitrakan sempit menjadi sebuah tempat yang menyeramkan dan diisi oleh orang-orang berperilaku aneh dan membahayakan. ''Stigma itu harus diluruskan,'' tegas Tarwananya.
Bahwasanya RSJ hanya tempat singgah sementara dari seseorang yang mengalami penyakit yang harus disembuhkan.
Dari sudut pandang Idul Fitri, apa yang dilakukan Tarwana, Karli, dokter, psikiater, suster, satpam, dan karyawan lain di RSJ adalah berusaha mengantarkan seseorang kembali ke fitrahnya, manusia yang sehat. Berlainan dengan masyarakat yang kerap hanya berslogan Idul Fitri, apa yang dikerjakan di RSJ ini sudah jauh melampauinya.
Kenangan Mudik dengan Perahu
Ada kebiasaan unik yang dilakukan para nelayan di kawasan Muara Karang, Pluit, Jakarta Utara, untuk menyambut lebaran di masa lalu. Menjelang lebaran, mereka biasanya mudik menggunakan perahu yang biasa dipakai untuk melaut. Selama 12 jam mereka mengarungi pantai utara Jawa, sebelum tiba di tempat kelahirannya, yang rata-rata berasal dari Indramayu, Jawa Barat.
Tarman (33 tahun), nelayan kerang asal Indramayu mengisahkan kenangannya mudik dengan perahu pada lebaran-lebaran yang lalu. ''Satu perahu isinya bisa sampai 15-20 orang, ditambah berbagai macam barang,'' kata pria gempal ini dengan logat Indramayu yang kental . Para nelayan ini sehari-hari tinggal di wilayah bernama Blok Empang, Muara Karang. Blok yang dihuni sedikitnya 2.000 nelayan beserta keluarga itu terbagi menjadi empat rukun tetangga.
Blok ini terbagi jadi tiga wilayah, berdasar mata pencahariannya. Wilayah pertama adalah khusus nelayan ikan. Posisi permukiman mereka terletak menjorok, di ujung teluk kecil, tepi pantai Muara Karang. Setelah itu baru nelayan kepiting rajungan. Dan yang terluar dari wilayah itu, mendekati bibir pantai yang dipenuhi sampah kerang dengan bau anyir menyengat, adalah wilayah nelayan kerang.
Terlihat jelas, masalah kebersihan lingkungan bukan prioritas nelayan kerang, maupun pemerintah setempat. Kondisi permukimannya kacau-balau. Rumah bisa didirikan di mana saja dengan potongan-potongan papan beratapkan seng. Bentuknya tak jarang doyong, dengan bale-bale sederhana di depannya. Tak ada saluran air. Sampah, terutama dari pecahan kerang bercampur pasir dan plastik memenuhi tiap jengkal tanah.
Udaranya pun campur baur antara asin air laut, amis kerang maupun ikan, serta sampah. Untuk mandi maupun kebutuhan lainnya, disediakan beberapa bilik Mandi Cuci Kakus (MCK). Tak semua rumah memiliki keistimewaan sebuah kamar mandi sendiri. Di ujung gang Blok Empang, berdiri sebuah mushala sederhana dari semen yang bisa menampung sekitar 70-an orang. Blok Empang pun lengang dari keriaan Lebaran. Suasana yang terasa memang hening namun juga 'panas'. Tatapan wajah satu dua penghuninya terkesan cuek.
Tarman menggambarkan, saat mudik berperahu, belasan orang dan barang bersesakkan berbagi ruang dalam perahu sepanjang tujuh meter dan lebar dua meter. Barang diletakkan di tengah, sementara penumpang berdesakkan di pinggir perahu. Perahu pun kerap dihias dengan bendera warna-warni atau bendera parpol tertentu.
Tidak takut ombak tinggi? Tarman, yang duduk di atas hamparan kulit kerang berwarna putih, menggeleng. ''Ombak pada bulan-bulan ini tidak tinggi, biasa saja." Mabuk laut? Jelas tak ada, karena darah nelayan mereka, anak kecil pun dijamin tak muntah karena goyangan ombak. ''Biasanya perahu berangkat pagi hari, sekitar pukul 06.00 WIB atau tengah hari,'' tutur dia mengungkapkan. Perlahan-lahan, menyusuri pantai utara, perahu bermesin Dong Feng pabrikan Cina itu melaju ke Indramayu.
Namun, tahun ini cuma satu perahu yang mudik ke Indramayu. ''Sebabnya ya biaya Pak! Apalagi memang?'' ujar Sulam, asal Sumenep, Madura yang berdagang solar dan kelontong di kampung tersebut. Sulam tak pernah mudik sejak ia membangun bisnisnya di kawasan kumuh itu dua tahun lalu. Tapi lumayan, ia mengklaim, dengan hanya menjual solar, saban hari ia bisa meraup minimal Rp 200 ribu.
Dengan harga BBM saat ini, mudik dengan perahu memang teramat mahal. Tarman menjelaskan, untuk berangkat saja perahu membutuhkan 60 liter solar. Harga solar per liter resminya di SPBU mencapai Rp 4.300. Sulam menjualnya ke nelayan seharga Rp 4.800. Itu berarti butuh dana sedikitnya Rp 2,8 juta ke Indramayu atau Rp 5,6 juta untuk pulang pergi.
Kalau dibagi rata 15 nelayan yang ikut mudik, itu sama saja tiap kepala merogoh koceknya Rp 370 ribu. Bandingkan dengan naik bis atau motor. ''Berat Pak kalau yang mudik tidak punya perahu. Makanya yang mudik dengan perahu cuma pemiliknya,'' ungkap Sulam. Nelayan lainnya meninggalkan kebiasaan itu dan beralih naik bus, motor, atau menyewa truk.
Kalau naik bus dari Terminal Muara Karang, yang terletak sekitar satu kilometer dari Blok Empang cuma makan biaya Rp 50 ribu per orang, atau Rp 100 ribu pulang pergi Jakarta-Indramayu. Naik truk muatan yang ditutup terpal lebih murah lagi, cuma bayar Rp 15 ribu per orang. Oleh sebab itu, mudik dengan perahu mencapai jayanya ketika harga BBM masih murah, itu berarti sebelum 2005, ketika pemerintah tega menaikkan harga BBM dua kali dalam setahun.
''Dua tahun lalu, yang mudik naik perahu masih lumayan banyak,'' ujar Tarman lagi. Peralihan moda transportasi membuat pesisir Blok Empang rapat dipenuhi oleh perahu yang ditinggal nelayan atau pemiliknya. Dihempas ombak kecil, perahu-perahu kusam yang tak berpenghuni itu bergoyang pelan.
Kini, dengan solar yang mahal, nelayan harus benar-benar mengetatkan ikat pinggang mereka. Tak cuma untuk mudik, tapi juga makan sehari-hari. Tak jarang untuk mengakalinya, motor perahu tak semua diisi solar, melainkan minyak tanah bersubsidi. Beban biaya memang bisa ditekan, tapi aktivitas oplosan ini lama kelamaan menggerogoti mesin perahu-perahu mereka.
Hampir 80 persen penghuni Blok Empang mudik meninggalkan rumah dan perahu mereka. Di satu sisi, kondisi ini menjadi beban bagi Tarman, Sulam, dan sejumlah warga lainnya yang tak mudik. ''Kita tetap harus berjaga-jaga jangan sampai ada maling,'' kata Tarman. Saat takbir berkumandang di malam lebaran, mereka pun menghabiskan waktunya untuk keliling mengawasi rumah-rumah yang ditinggal para penguninya.
Tarman (33 tahun), nelayan kerang asal Indramayu mengisahkan kenangannya mudik dengan perahu pada lebaran-lebaran yang lalu. ''Satu perahu isinya bisa sampai 15-20 orang, ditambah berbagai macam barang,'' kata pria gempal ini dengan logat Indramayu yang kental . Para nelayan ini sehari-hari tinggal di wilayah bernama Blok Empang, Muara Karang. Blok yang dihuni sedikitnya 2.000 nelayan beserta keluarga itu terbagi menjadi empat rukun tetangga.
Blok ini terbagi jadi tiga wilayah, berdasar mata pencahariannya. Wilayah pertama adalah khusus nelayan ikan. Posisi permukiman mereka terletak menjorok, di ujung teluk kecil, tepi pantai Muara Karang. Setelah itu baru nelayan kepiting rajungan. Dan yang terluar dari wilayah itu, mendekati bibir pantai yang dipenuhi sampah kerang dengan bau anyir menyengat, adalah wilayah nelayan kerang.
Terlihat jelas, masalah kebersihan lingkungan bukan prioritas nelayan kerang, maupun pemerintah setempat. Kondisi permukimannya kacau-balau. Rumah bisa didirikan di mana saja dengan potongan-potongan papan beratapkan seng. Bentuknya tak jarang doyong, dengan bale-bale sederhana di depannya. Tak ada saluran air. Sampah, terutama dari pecahan kerang bercampur pasir dan plastik memenuhi tiap jengkal tanah.
Udaranya pun campur baur antara asin air laut, amis kerang maupun ikan, serta sampah. Untuk mandi maupun kebutuhan lainnya, disediakan beberapa bilik Mandi Cuci Kakus (MCK). Tak semua rumah memiliki keistimewaan sebuah kamar mandi sendiri. Di ujung gang Blok Empang, berdiri sebuah mushala sederhana dari semen yang bisa menampung sekitar 70-an orang. Blok Empang pun lengang dari keriaan Lebaran. Suasana yang terasa memang hening namun juga 'panas'. Tatapan wajah satu dua penghuninya terkesan cuek.
Tarman menggambarkan, saat mudik berperahu, belasan orang dan barang bersesakkan berbagi ruang dalam perahu sepanjang tujuh meter dan lebar dua meter. Barang diletakkan di tengah, sementara penumpang berdesakkan di pinggir perahu. Perahu pun kerap dihias dengan bendera warna-warni atau bendera parpol tertentu.
Tidak takut ombak tinggi? Tarman, yang duduk di atas hamparan kulit kerang berwarna putih, menggeleng. ''Ombak pada bulan-bulan ini tidak tinggi, biasa saja." Mabuk laut? Jelas tak ada, karena darah nelayan mereka, anak kecil pun dijamin tak muntah karena goyangan ombak. ''Biasanya perahu berangkat pagi hari, sekitar pukul 06.00 WIB atau tengah hari,'' tutur dia mengungkapkan. Perlahan-lahan, menyusuri pantai utara, perahu bermesin Dong Feng pabrikan Cina itu melaju ke Indramayu.
Namun, tahun ini cuma satu perahu yang mudik ke Indramayu. ''Sebabnya ya biaya Pak! Apalagi memang?'' ujar Sulam, asal Sumenep, Madura yang berdagang solar dan kelontong di kampung tersebut. Sulam tak pernah mudik sejak ia membangun bisnisnya di kawasan kumuh itu dua tahun lalu. Tapi lumayan, ia mengklaim, dengan hanya menjual solar, saban hari ia bisa meraup minimal Rp 200 ribu.
Dengan harga BBM saat ini, mudik dengan perahu memang teramat mahal. Tarman menjelaskan, untuk berangkat saja perahu membutuhkan 60 liter solar. Harga solar per liter resminya di SPBU mencapai Rp 4.300. Sulam menjualnya ke nelayan seharga Rp 4.800. Itu berarti butuh dana sedikitnya Rp 2,8 juta ke Indramayu atau Rp 5,6 juta untuk pulang pergi.
Kalau dibagi rata 15 nelayan yang ikut mudik, itu sama saja tiap kepala merogoh koceknya Rp 370 ribu. Bandingkan dengan naik bis atau motor. ''Berat Pak kalau yang mudik tidak punya perahu. Makanya yang mudik dengan perahu cuma pemiliknya,'' ungkap Sulam. Nelayan lainnya meninggalkan kebiasaan itu dan beralih naik bus, motor, atau menyewa truk.
Kalau naik bus dari Terminal Muara Karang, yang terletak sekitar satu kilometer dari Blok Empang cuma makan biaya Rp 50 ribu per orang, atau Rp 100 ribu pulang pergi Jakarta-Indramayu. Naik truk muatan yang ditutup terpal lebih murah lagi, cuma bayar Rp 15 ribu per orang. Oleh sebab itu, mudik dengan perahu mencapai jayanya ketika harga BBM masih murah, itu berarti sebelum 2005, ketika pemerintah tega menaikkan harga BBM dua kali dalam setahun.
''Dua tahun lalu, yang mudik naik perahu masih lumayan banyak,'' ujar Tarman lagi. Peralihan moda transportasi membuat pesisir Blok Empang rapat dipenuhi oleh perahu yang ditinggal nelayan atau pemiliknya. Dihempas ombak kecil, perahu-perahu kusam yang tak berpenghuni itu bergoyang pelan.
Kini, dengan solar yang mahal, nelayan harus benar-benar mengetatkan ikat pinggang mereka. Tak cuma untuk mudik, tapi juga makan sehari-hari. Tak jarang untuk mengakalinya, motor perahu tak semua diisi solar, melainkan minyak tanah bersubsidi. Beban biaya memang bisa ditekan, tapi aktivitas oplosan ini lama kelamaan menggerogoti mesin perahu-perahu mereka.
Hampir 80 persen penghuni Blok Empang mudik meninggalkan rumah dan perahu mereka. Di satu sisi, kondisi ini menjadi beban bagi Tarman, Sulam, dan sejumlah warga lainnya yang tak mudik. ''Kita tetap harus berjaga-jaga jangan sampai ada maling,'' kata Tarman. Saat takbir berkumandang di malam lebaran, mereka pun menghabiskan waktunya untuk keliling mengawasi rumah-rumah yang ditinggal para penguninya.
Subscribe to:
Posts (Atom)