Habis sudah era kamera instan, Polaroid, di Taman Impian Jaya Ancol (TIJA). Tak ada lagi gerakan tangan legendaris yang mengibas-kibas sehelai film setelah ia keluar dari kamera. Tak ada lagi kamera berat yang menggelayut di leher juru foto.
Masa kejayaan kamera yang ditemukan oleh Edwin Land pada 1947 itu sudah lewat. Terlindas oleh kamera digital bahkan oleh kamera telepon seluler. Jika Anda ke TIJA beberapa bulan belakangan ini, tentengan juru foto disana sudah berubah.
Sekarang, yang mengganduli leher mereka adalah kamera digital mungil berukuran seperempat kamera polaroid dengan resolusi 6 - 7 Mega Pixel. Lebih ringan, lebih praktis. Lho cetak filmnya bagaimana? Jangan kuatir, juru foto dibekali dengan printer mini yang dijalankan dengan aki. Mudah, ringkas, dan mutu gambarnya jauh lebih baik.
''Ganti sejak Maret lalu,'' jawab Aminullah (65 tahun), juru foto paling senior di TIJA, ketika ditanya Republika kapan pergantian kamera dan tetek bengeknya itu terjadi. Sebab, awal tahun ini masih terlihat kamera Polaroid berkeliaran di sepanjang garis pantai TIJA.
Lantas, diapakan kamera Polaroid itu? ''Ya masih ada, di rumah saja, buat kenang-kenangan,'' kata Amin sembari terkekeh. Ia ceritakan, pergantian besar-besaran perangkat kamera dilakukan Maret lalu atas usulan paguyuban juru foto Ancol. Mereka mendapat sponsor dari produsen kamera digital.
Satu set kamera digital beresolusi 6 MP ditambah printer foto, kertas foto 50 lembar, aki kecil untuk menjalankan printer, serta tas penyimpan printer ditebus seharga Rp 2,6 juta. Makin tinggi resolusi kamera digital, makin mahal harga per paketnya. Kalau yang 7 MP plus paket lengkap dihargai Rp 2,8 juta.
Untungnya, juru foto tak harus membayar kontan. Mereka bisa nyicil sesuka hati. Maklum saja, bisnis jepret menjepret di TIJA adalah bisnis yang tak pasti. Ada kalanya satu hari mereka menjual 50 lembar foto yang perlembarnya dihargai Rp 20 ribu. Tapi tak jarang juga tak ada selembar foto pun terjual.
''Kalau ramai saya bisa bayar cicilan sampai Rp 130 ribu per hari,'' ungkap Amin dengan logat Sumbarnya yang kentara. Uang itu ia setorkan ke paguyuban. Karena termasuk yang rajin menyicil, dalam waktu tiga bulan kamera beserta printernya sudah resmi milik Amin. ''Saya termasuk cepat, sekarang yang muda-muda masih ada yang belum lunas,'' ujar pemilik tubuh kerempeng ini.
Bagaimana tanggapan masyarakat atas pergantian kamera? ''Senang Pak! Kalau Polaroid mereka mengeluh fotonya kekecilan atau kalau gayanya jelek tak bisa diganti. Kalau digital, mereka puas dengan hasilnya, terang. Soal gaya, foto tak dicetak sebelum disetujui mereka,'' tandas Edy, juru foto lainnya.
Riwayat juru foto foto di Ancol tak bisa lepas dari Polaroid. Sebagai salah satu juru foto tertua di Ancol, Amin menggambarkan, pada 1976, perwakilan Polaroid di Jakarta mendatangi mereka dan menawarkan produknya. Seluruh kebutuhan foto diberikan dengan harga miring.
Pada saat itu, masyarakat yang datang ke Ancol juga belum seramai sekarang. Juru foto masih bisa duduk-duduk santai di belakang Hotel Horison lama, kini di daerah Pantai Festival.
''Mereka justru yang memanggil kami untuk memfoto. Biasanya mereka memanggil dari mobil, baru difoto di pantai,'' tutur Amin, mengenang masa lalunya.
Kebesaran Polaroid sebagai kamera instant di Ancol tak tergoyahkan, meski pada era 1980-an dan berlanjut ke 1990-an masyarakat diserbu oleh kamera poket. Polaroid baru terdesak ketika teknologi beralih cepat ke kamera digital di tahun 2000-an. Apalagi sekarang harga kamera digital ada yang dibawah Rp 1 juta.
Polaroid makin terpojok ketika produsen telepon seluler mengintegrasikan fungsi kamera beresolusi tinggi (1,3 sampai 3,2 MP) ke dalam telepon mereka. Omset foto Polaroid di TIJA pun jeblok. Amin maupun Edy mengakui, sebelum pergantian kamera Maret lalu, tiap tahun pendapatan mereka makin tergerus.
Salah satu sebabnya juga adalah biaya foto Polaroid yang memang mahal. Tiap satu roll film Polaroid harus ditebus seharga Rp 95 ribu. Itu pun cuma berisi 10 lembar foto. Berarti harga pokok tiap foto Rp 9.500. Sementara dua tahun terakhir harga foto di Ancol masih berkisar Rp 15 ribu sampai Rp 20 ribu.
Dengan kamera digital, beban biaya foto itu lenyap. Juru foto hanya mengeluarkan biaya untuk kertas foto yang harganya bisa sepertiga dari harga foto Polaroid, serta biaya tinta printer yang juga kian murah.
Lebaran jelas membawa berkah ke juru foto di Ancol. Dalam musim libur itu, tiap hari mereka mendulang rezeki. Meski menolak merata-ratakan pendapatan per hari saat liburan ini, Amin dan Edy mengaku menjual lebih dari 20 lembar foto. Maksimal 50 lembar foto, itu berarti Rp 1 juta mereka kantongi atau minimal Rp 400 ribu.
Sudah dapat berapa hari ini (Ahad 14/10) sore? ''Hari ini terlalu ramai, padat, jadi orang tidak berfikir untuk foto-foto,'' tandas Edy. Hari pertama lebaran menurutnya yang paling ideal. Pengunjung tak terlalu padat sehingga mereka masih bisa memanfaatkan juru foto untuk mengabadikan kenangan di Ancol.
Hari pertama lebaran membuat pria yang dua tahun lalu berjualan pakaian lantas bangkrut di Tanah Abang ini membawa Rp 1 juta lebih ke rumahnya yang terletak di seberang Ancol, di dekat rel kereta.
Hari kedua, penghasilannya sedikit merosot. ''Untung tadi ada rombongan anak sekolah dari Ujung Pandang yang meminta di foto,'' ungkapnya. Ketika ditemui Ahad sore, Edy baru mencetak sekitar 30 lembar foto. Ia bertekad sampai tengah malam masih akan bekerja di pantai.
Sebagai juru foto paling senior diantara 20 juru foto di pinggiran pantai Ancol, Amin juga menikmati rezeki yang hampir sama dengan kawan-kawannya. Mengenakan kemeja putih, celana hitam, dan rompi biru (khas juru foto Ancol), kakek 14 cucu ini menyodorkan contoh-contoh foto sembari berseru, ''Foto..foto..foto pak..foto mba'..,'' ke lalu lalang pengunjung.
Ia masih semangat menyeret tubuh ringkihnya di sekitar Pantai Festival. Ahad itu, Amin sudah menjual lebih dari 30 lembar foto. Asal muasal Amin bergelut di Ancol adalah keterlibatannya di percetakan foto pada 1975. Pria asal Sumbar ini (kini mayoritas juru foto di Ancol berasal dari Sumbar), tergiur rezeki kawannya yang saat itu menjadi tukang foto di Kebun Binatang Ragunan.
''Lebih banyak untung ketimbang modalnya,'' begitu alasan Amin melepas pekerjaan cetak fotonya untuk beralih ke juru foto. Tiga bulan pertama Amin bekerja mengitari Kebun Binatang Ragunan. Atas bujukan kawannya di Ancol yang mengatakan kalau saat itu Ancol masih sepi dari juru foto, maka Amin banting stir.
''Padahal saat itu saya tak tahu dimana Ancol itu,'' celetuknya. Modal nekat, Amin muda hanya tahu ia harus naik bus dari Terminal Lapangan Banteng dan turun di Binaria. Akhirnya, terdamparlah pria yang sudah enam kali menikah itu sampai sekarang di Ancol.
Ia mengaku bakal menekuni pekerjaan ini sampai sudah tak kuat lagi. ''Ini (juru foto) adalah hobi dan keharusan saya. Hobi karena saya senang memfoto, keharusan karena saya butuh uang darinya,''.
Mau sampai jam berapa di pantai? Amin mengaku hanya sanggup sampai petang di Ancol. Ia tak lagi sanggup menyusuri seluruh pantai Ancol, seperti yang ia kerap lakukan dulu. Ia hanya berjalan mondar-mandir di sekitar Pantai Festival.
Tapi yang paling menyedihkannya adalah kondisi matanya. Sebagai salah satu faktor penting dalam pekerjaan, mata Amin diakuinya sudah tak kuat. ''Mata saya sudah rabun kalau petang,'' katanya.
Thursday, November 1, 2007
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
1 comment:
kayaknya yg bakal komentar gw doang deh..hihih *pede*
Btw, gw serasa baca berita ekonomi nih. Kebanyakan angka :P
Post a Comment