Thursday, November 1, 2007

Kembali Fitri di Grogol

Sebut saja namanya Fulan. Mengenakan celana pendek cokelat dipadu dengan kemeja hitam dengan garis-garis merah, pria berkumis tipis paruh baya itu tampak asyik mendengarkan lawan bicaranya, seorang perempuan berkerudung kuning pucat. Keduanya tampak santai mengobrol ditemani beberapa kawan di selasar lorong.

Tak jarang si perempuan memegang bahu si Fulan yang kerap mengangguk-angguk. Tak lama kemudian, si perempuan pamit pulang. Tangan si Fulan pun digenggam erat. Seolah tak ingin berpisah, si Fulan bangkit dan mendekatkan wajahnya ke wajah si perempuan.

Mulutnya dimonyongkan. Satu kecupan penuh makna mendarat di dahi si perempuan. Mata kedua insan itu saling menatap penuh arti yang hanya mereka bisa mengerti. Si Fulan tampak girang bukan kepayang. Senyum lebar mengembang di wajahnya.

Sang perempuan pun berdiri. Saatnya berpisah. Si perempuan memapah si Fulan ke sebuah ruangan. Keduanya berpisah dibatasi terali besi warna abu-abu. Si perempuan balik badan lantas berjalan cepat menyusuri koridor lantai keramik. Si Fulan tak lagi terlihat batang hidungnya.

Dua puluh menit sebelumnya, si perempuan sempat bersitegang dengan penjaga gerbang. ''Jam besuk sudah habis Bu,'' tegas si penjaga. Ada dua jam besuk disini, pertama antara pukul 11.00 WIB sampai 12.00 WIB, kedua di petang hari antara 17.00 WIB sampai 18.00 WIB.

''Saya tahu Pak, tapi ini hanya sebentar saja, tak lama kok, kan sudah ajukan cuti,'' balas si perempuan dengan memelas. ''Betul sudah ajukan cuti?'' tanya si penjaga menyelidik. ''Sudah Pak!'' timpal si perempuan dengan tegas.

''Saya cek dulu ya,''. Akhirnya si penjaga menyerah. Si perempuan diperbolehkan masuk sejenak menjenguk si Fulan.

Hari pertama Idul Fitri di Rumah Sakit Jiwa Dr Soeharto Heerdjan, atau yang kita kenal dengan sebutan RSJ Grogol, dipenuhi pertemuan seperti diatas. Pertemuan antara keluarga dengan anggota keluarganya yang dirawat.

Kedua pihak kangen-kangenan. Anak-anak bertemu ayah atau ibunya yang dirawat, istri bertemu suaminya, suami bertemu istrinya, atau saudara menjenguk saudaranya.
''Pasien mengerti kalau sekarang Idul Fitri dan banyak dari mereka yang minta cuti, atau keluarganya yang minta cuti'' cetus Dokter Handy Susilo, saat ditemui Republika akhir pekan lalu di ruang Unit Gawat Darurat (UGD) RSJ.

Cuti adalah waktu bagi pasien yang sudah relatif tenang dan bisa berkomunikasi dengan baik (para dokter dan suster menyebutnya pasien kelas rehabilitasi) untuk pulang ke keluarganya sejenak.

Jangka waktu kepulangannya maksimal tiga hari. Namun kondisi pasien diawasi dan dipantau terus menerus, termasuk minum obat. Tapi ada juga pasien yang sudah cuti dibawa kembali ke RSJ.

Penyebabnya, pasien mengalami perubahan suasana yang sangat drastis. Maklum, di RSJ suasananya sangat tenang.

''Dikondisikan tenang,'' kata salah seorang staf RSJ, Tarwana yang sudah bekerja selama 25 tahun ditempat itu. Sementara suasana di rumah hiruk pikuk karena lebaran. Pasien pun terkejut atas perubahan tiba-tiba ini, yang bisa berakibat ke proses penyembuhannya. Jadilah ia diinapkan kembali ke RSJ.

Sekedar menggambarkan, kompleks bangunan di RSJ dibagi dua bagian. Pertama bagian kompleks rawat inap yang dijaga ketat, dengan Closed Circuit Television (CCTV) dan pintu gerbang berlapis. Pasien dibedakan berdasar jenis kelaminnya. Bangsal sayap utara tempat pasien perempuan, yang selatan untuk laki-laki.

Kompleks bangunan kedua, adalah bangunan perkantoran, termasuk UGD. Tiap bangunan dihubungkan dengan koridor-koridor tinggi.

Pasien tidak diperbolehkan keluar tanpa pengawasan ketat. Kalaupun boleh, itu hanya sebatas pintu gerbang RSJ, yang tepat ditepi jalan raya yang ramai. Kalau dianggap layak, pasien bisa shalat Idul Fitri di halaman RSJ, berbaur dengan warga sekitar. Sayangnya pada 1428 Hijriah ini tidak satupun pasien yang shalat Ied.

Kangen keluarga? Pasti. Meski mendapat embel-embel pasien, mereka tetap manusia yang memiliki perasaan. Yang membedakannya hanyalah mereka mengidap penyakit, yaitu gangguan jiwa yang memengaruhi pola pikir dan tindakannya. Di luar itu, mereka tidak terlepas seluruhnya dari realitas kehidupan, termasuk mengartikan Idul Fitri sebagai saat berkumpul bersama keluarga.

Kondisi perasaan seperti ini sangat tergantung dari kondisi penyembuhan si pasien. RSJ membagi kondisi kesehatan itu kedalam tiga ruang. Ruang pertama adalah ruang gaduh gelisah. Ruang ini diperuntukkan bagi pasien yang baru masuk. Ia harus melewati 12 hari masa pengobatan dan terapi.

Ruang selanjutnya adalah intermediate. Di ruang ini, pasien yang sudah menunjukkan perbaikan kondisi kejiwaan dari gaduh gelisah, masih menjalani terapi dan pengobatan intensif sampai 20 hari ke depan. Ruang terakhir adalah ruang rehabilitasi. Lama pengobatan di ruang ini mencapai 30 hari. Total seorang pasien dirawat normal mencapai 60 hari.

Pasien kategori rehabilitasi-lah yang umumnya kembali mengerti dan merasakan Idul Fitri serta rasa kangen bertemu keluarga di dalam hatinya. Mereka seperti si Fulan yang diceritakan diatas (RSJ mengenakan aturan yang ketat untuk peliputan, tidak boleh ada nama pasien dicantumkan dengan alasan hukum dan untuk bercakap-cakap sangat dibatasi dan harus dikawal oleh dokter psikiater agar tidak menganggu pasien).

Apa saja yang pasien lakukan saat Idul Fitri? Rutinitas mereka tidak relatif tidak berubah. ''Kecuali dapat tambahan makanan di pagi hari,'' kata Tarwana. Pasien harus disiplin dan berkutat dengan tiga jadwal untuk penyembuhannya : pengobatan, terapi, istirahat.

Ini jadwal rutinitas mereka : pasien harus bangun pada pukul 06.30 WIB untuk mandi dan sarapan serta terapi obat dan aktivitas. Terapi akan dibedakan untuk tiap pasien tergantung kondisinya. Ada terapi musik, olah raga, atau sekedar membaca di perpustakaan.

Terapi berlangsung hingga siang hari, pada 12.00 WIB, mereka makan siang. Setelah itu masih dilanjutkan dengan terapi, baru istirahat pukul 15.00 WIB. Saat ini mereka bisa tidur di bangsal (ada 10 bangsal di RSJ, tiap bangsal berisi sedikitnya 10 tempat tidur) atau menonton televisi dan berinteraksi dengan sesamanya.

Makan malam disediakan pukul 17.30 WIB sampai 19.00 WIB setelah sebelumnya mereka membersihkan diri. Setelah itu, yang dilakukan kembali istirahat. Pasien harus sudah ditempat tidur pada pukul 20.00 WIB atau maksimal 21.00 WIB untuk kembali bangun keesokan harinya.

Melihat jadwal itu, terasa bahwa waktu terapi dan istirahat sangatlah banyak. ''Proses kesembuhan butuh ketenangan emosional pasien dan lingkungannya. Makanya di RSJ ini situasinya dikondisikan tenang,'' cetus dokter Handy lagi.

Bagaimana sikap keluarga menghadapi anggotanya yang sakit jiwa? ''Ada yang sudah menerima kalau ayah atau ibu mereka sakit jiwa, dan tetap menjenguk. Ada yang tidak sempat dijenguk, atau ada yang memang sampai saat ini belum menerima kalau keluarganya sakit jiwa sehingga mereka tidak menjenguk sama sekali,'' kata Tarwana, yang kerap mengamati perilaku hubungan keluarga dan pasien.

Akibatnya, ada pasien yang seumur hidupnya dititipkan di RSJ. Saat ini aturan Depkes tidak memperbolehkan demikian. Kini, bila sudah dianggap maksimal diobati, pasien akan dipindahkan ke Panti Laras yang ada di Cipayung atau Cengkareng.

Tiba-tiba, ditengah percakapan, seorang pasien perempuan mendekat. ''Om..om bagi duit dong om. Seribu aja om..,'' katanya kocak dari balik pagar besi. ''Ayo dong om..seribu aja om..,'' desaknya lagi.

Kami tertegun sejenak sebelum akhirnya tersenyum. ''Mau buat apaan seribu?'' sergah Karli, koordinator pengamanan di RSJ, yang turut menemani kunjungan Republika. Pertanyaan itu tak ia jawab. Dengan lirikan penuh harap, perempuan muda berambut pendek dengan kulit putih bersih ini terus meminta uang.

Akhirnya kami meninggalkan dia. Tapi selagi kami berjalan menjauh ia mengomel,''Huuuuw dasar pelit..pelit..pelit...pelit sekali...pelit sekali...pelit sekali,''.

RSJ memiliki sepasukan orang berhati mulia dengan tekad menyembuhkan pasien. Jumlah psikiaternya ada 11 orang, dokter umumnya ada 25 orang, ditambah sekitar 120-an suster. Operasional mereka dibagi tiga shift, pagi, siang, malam.

Apa suka-dukanya bekerja di RSJ? Sebelum menjawab pertanyaan ini, Tarwana dan Karli saling memandang. ''Kami yang bekerja disini itu murni sosial, dengan hati,'' kata Karli pelan. Pria timor berkulit hitam dengan badan tegap dan rambut kriting serta selalu membawa radio komunikasi itu menilai apa yang ia kerjakan adalah pengabdian bagi sesamanya. ''Murni jiwa sosial,'' ulangnya lagi.

Yang disebalkan, lanjut dia, kalau ada pasien yang memicu keributan atau bahkan mencoba melarikan diri. ''Saya repot harus mengejar mereka, bahkan ada yang pernah mencoba lari dengan memanjat atap rumah sakit,'' ujarnya sembari tertawa.

Bagi Tarwana, bekerja di RSJ adalah pengabdian untuk manusia yang tidak mendapat tempat di masyarakat. ''Tempat ini menjadi tempat terakhir bagi mereka yang tidak diterima keluarga, masyarakat, bahkan rumah sakit lain,'' tutur pria asal Solo ini lirih.

Sialnya, stigma RSJ justru menjadi negative. RSJ dicitrakan sempit menjadi sebuah tempat yang menyeramkan dan diisi oleh orang-orang berperilaku aneh dan membahayakan. ''Stigma itu harus diluruskan,'' tegas Tarwananya.

Bahwasanya RSJ hanya tempat singgah sementara dari seseorang yang mengalami penyakit yang harus disembuhkan.

Dari sudut pandang Idul Fitri, apa yang dilakukan Tarwana, Karli, dokter, psikiater, suster, satpam, dan karyawan lain di RSJ adalah berusaha mengantarkan seseorang kembali ke fitrahnya, manusia yang sehat. Berlainan dengan masyarakat yang kerap hanya berslogan Idul Fitri, apa yang dikerjakan di RSJ ini sudah jauh melampauinya.

No comments: