Thursday, November 1, 2007

Kenangan Mudik dengan Perahu

Ada kebiasaan unik yang dilakukan para nelayan di kawasan Muara Karang, Pluit, Jakarta Utara, untuk menyambut lebaran di masa lalu. Menjelang lebaran, mereka biasanya mudik menggunakan perahu yang biasa dipakai untuk melaut. Selama 12 jam mereka mengarungi pantai utara Jawa, sebelum tiba di tempat kelahirannya, yang rata-rata berasal dari Indramayu, Jawa Barat.

Tarman (33 tahun), nelayan kerang asal Indramayu mengisahkan kenangannya mudik dengan perahu pada lebaran-lebaran yang lalu. ''Satu perahu isinya bisa sampai 15-20 orang, ditambah berbagai macam barang,'' kata pria gempal ini dengan logat Indramayu yang kental . Para nelayan ini sehari-hari tinggal di wilayah bernama Blok Empang, Muara Karang. Blok yang dihuni sedikitnya 2.000 nelayan beserta keluarga itu terbagi menjadi empat rukun tetangga.

Blok ini terbagi jadi tiga wilayah, berdasar mata pencahariannya. Wilayah pertama adalah khusus nelayan ikan. Posisi permukiman mereka terletak menjorok, di ujung teluk kecil, tepi pantai Muara Karang. Setelah itu baru nelayan kepiting rajungan. Dan yang terluar dari wilayah itu, mendekati bibir pantai yang dipenuhi sampah kerang dengan bau anyir menyengat, adalah wilayah nelayan kerang.

Terlihat jelas, masalah kebersihan lingkungan bukan prioritas nelayan kerang, maupun pemerintah setempat. Kondisi permukimannya kacau-balau. Rumah bisa didirikan di mana saja dengan potongan-potongan papan beratapkan seng. Bentuknya tak jarang doyong, dengan bale-bale sederhana di depannya. Tak ada saluran air. Sampah, terutama dari pecahan kerang bercampur pasir dan plastik memenuhi tiap jengkal tanah.

Udaranya pun campur baur antara asin air laut, amis kerang maupun ikan, serta sampah. Untuk mandi maupun kebutuhan lainnya, disediakan beberapa bilik Mandi Cuci Kakus (MCK). Tak semua rumah memiliki keistimewaan sebuah kamar mandi sendiri. Di ujung gang Blok Empang, berdiri sebuah mushala sederhana dari semen yang bisa menampung sekitar 70-an orang. Blok Empang pun lengang dari keriaan Lebaran. Suasana yang terasa memang hening namun juga 'panas'. Tatapan wajah satu dua penghuninya terkesan cuek.

Tarman menggambarkan, saat mudik berperahu, belasan orang dan barang bersesakkan berbagi ruang dalam perahu sepanjang tujuh meter dan lebar dua meter. Barang diletakkan di tengah, sementara penumpang berdesakkan di pinggir perahu. Perahu pun kerap dihias dengan bendera warna-warni atau bendera parpol tertentu.

Tidak takut ombak tinggi? Tarman, yang duduk di atas hamparan kulit kerang berwarna putih, menggeleng. ''Ombak pada bulan-bulan ini tidak tinggi, biasa saja." Mabuk laut? Jelas tak ada, karena darah nelayan mereka, anak kecil pun dijamin tak muntah karena goyangan ombak. ''Biasanya perahu berangkat pagi hari, sekitar pukul 06.00 WIB atau tengah hari,'' tutur dia mengungkapkan. Perlahan-lahan, menyusuri pantai utara, perahu bermesin Dong Feng pabrikan Cina itu melaju ke Indramayu.

Namun, tahun ini cuma satu perahu yang mudik ke Indramayu. ''Sebabnya ya biaya Pak! Apalagi memang?'' ujar Sulam, asal Sumenep, Madura yang berdagang solar dan kelontong di kampung tersebut. Sulam tak pernah mudik sejak ia membangun bisnisnya di kawasan kumuh itu dua tahun lalu. Tapi lumayan, ia mengklaim, dengan hanya menjual solar, saban hari ia bisa meraup minimal Rp 200 ribu.

Dengan harga BBM saat ini, mudik dengan perahu memang teramat mahal. Tarman menjelaskan, untuk berangkat saja perahu membutuhkan 60 liter solar. Harga solar per liter resminya di SPBU mencapai Rp 4.300. Sulam menjualnya ke nelayan seharga Rp 4.800. Itu berarti butuh dana sedikitnya Rp 2,8 juta ke Indramayu atau Rp 5,6 juta untuk pulang pergi.
Kalau dibagi rata 15 nelayan yang ikut mudik, itu sama saja tiap kepala merogoh koceknya Rp 370 ribu. Bandingkan dengan naik bis atau motor. ''Berat Pak kalau yang mudik tidak punya perahu. Makanya yang mudik dengan perahu cuma pemiliknya,'' ungkap Sulam. Nelayan lainnya meninggalkan kebiasaan itu dan beralih naik bus, motor, atau menyewa truk.

Kalau naik bus dari Terminal Muara Karang, yang terletak sekitar satu kilometer dari Blok Empang cuma makan biaya Rp 50 ribu per orang, atau Rp 100 ribu pulang pergi Jakarta-Indramayu. Naik truk muatan yang ditutup terpal lebih murah lagi, cuma bayar Rp 15 ribu per orang. Oleh sebab itu, mudik dengan perahu mencapai jayanya ketika harga BBM masih murah, itu berarti sebelum 2005, ketika pemerintah tega menaikkan harga BBM dua kali dalam setahun.

''Dua tahun lalu, yang mudik naik perahu masih lumayan banyak,'' ujar Tarman lagi. Peralihan moda transportasi membuat pesisir Blok Empang rapat dipenuhi oleh perahu yang ditinggal nelayan atau pemiliknya. Dihempas ombak kecil, perahu-perahu kusam yang tak berpenghuni itu bergoyang pelan.

Kini, dengan solar yang mahal, nelayan harus benar-benar mengetatkan ikat pinggang mereka. Tak cuma untuk mudik, tapi juga makan sehari-hari. Tak jarang untuk mengakalinya, motor perahu tak semua diisi solar, melainkan minyak tanah bersubsidi. Beban biaya memang bisa ditekan, tapi aktivitas oplosan ini lama kelamaan menggerogoti mesin perahu-perahu mereka.
Hampir 80 persen penghuni Blok Empang mudik meninggalkan rumah dan perahu mereka. Di satu sisi, kondisi ini menjadi beban bagi Tarman, Sulam, dan sejumlah warga lainnya yang tak mudik. ''Kita tetap harus berjaga-jaga jangan sampai ada maling,'' kata Tarman. Saat takbir berkumandang di malam lebaran, mereka pun menghabiskan waktunya untuk keliling mengawasi rumah-rumah yang ditinggal para penguninya.


No comments: