Friday, November 21, 2008

Tergugat di Banceuy, Ingin Hidup di Sukamiskin

Situs penjara Banceuy tak seharusnya berakhir seperti ini. KEsepian, tak terawat, terpencil, dan tak dihargai.

Penjara tempat Kusno alias Soekarno alias Bung Karno muda mencicipi sempit dan dinginnya sel sembari menyelesaikan pledoinya yang terkenal itu, 'Indonesia Menggugat' tenggelam di antara rumah rumah toko di kawasan niaga Banceuy Permai, Bandung.

Tak ada satupun papan nama situs itu. Apalagi keterangan apa perannya dalam sejarah bangsa. Ini sangat kontras dengan sejumlah papan nama ruko toko kaset, warung makan, kantor media massa, dan tempat karaoke yang ditemui di depannya.

Yang ada hanyalah seruan tegas oleh Satuan Tugas (Satgas) Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan 'Dilarang Berjualan di Sekitar Monumen' yang tertera di dinding samping bangunan kamar penjara. Di bawah tulisan itu ada larangan tegas lagi, 'Dilarang Kencing di Sekitar Monumen' dengan kata Kencing berwarna merah menyala.

Namun imbauan terakhir tak diindahkan. SEbab di sekitar situs penjara yang dibangun oleh Belanda itu aroma sisa buang air kecil manusia sangat kencang tercium. Di pagar-pagar situs, oknum tak dikenal dengan cuek menggelar pakaian basah mereka untuk dikeringkan sinar matahari.

Siang itu saya merasa Banceuy seakan tak ada artinya sama sekali.

Untuk memahami Banceuy kita harus mundur sejauh 79 tahun yang lalu. Di Yogyakarta, akhir Desember 1929. Bung Karno dan istrinya Inggit Garnasih, beserta sejumlah petinggi Partai Nasional Indonesia datang dari Bandung bertemu dengan sejumlah pimpinan parpol lainnya.

Kusno, begitu Inggit menyebut Bung Karno, sudah jadi singa podium. Masyarakat berbondong-bondong mendengar pria kharismatik ini berbicara. Peranan sentralnya di PNI diakui para tokoh politik lainnya dan ditakuti Belanda. Bung Karno di depan masyarakat terus menerus mengritik kapitalisme dan imperialisme Belanda.

Pagi 29 Desember, di rumah anggota PNI Sujudi, Belanda menyerbu mereka. Bung Karno, Gatot Mangkupradja, dan Maskun baru saja bangun tidur ketika todongan senjata muncul dari balik pintu rumah. Secepat kilat Belanda membawa mereka kembali ke Bandung menggunakan kereta api menuju Stasiun Cicalengka Bandung. Dengan pengawalan ekstra ketat, ketiganya masuk ke Penjara Banceuy untuk menunggu waktu diadili dan pindah penjara di Penjara Sukamiskin selama empat tahun.

Namun Banceuy tak melulu soal politik. Lewat biografi Inggit Garnasih yang ditulis Ramadhan KH, Banceuy juga jadi kisah romantis seorang perempuan lugu dan pemuda berapi-api. Sejak hari pertama ditawan di Banceuy, Inggit tak pernah absen menjenguk Kusno. Kadang sehari sekali, kadang sehari dua kali, tak lupa membawa makanan kesukaannya, sayur lodeh hingga menitipkan koran.

Menjenguk tahanan politik waktu itu tidaklah mudah. Alasannya Kusno sedang menjalani pemeriksaan. Beredar kabar bahwa para tahanan politik di Banceuy disiksa. Setelah sebulan bolak-balik akhirnya Inggit dibolehkan menemui Kusno.

Di Banceuy ada masa ketika Kusno tak tega melihat Inggit. SAat mereka bertemu, Kusno yang kerap dipanggil 'kasep' (ganteng) itu menangis tersedu-sedu, ''Inggit maafkanlah aku. Aku telah melalaikan tugasku sebagai kepala rumah tangga yang bertanggungjawab. Aku telah menyusahkanmu Inggit,'' kata Kusno terisak-isak.

Kusno mendekam sekitar delapan bulan di Banceuy. Selnya nomor lima blok F dengan luas hanya 1,5 meter. SEbuah sel sempit yang tak punya jendela dengan pintu besi hitam padat berlubang sorong kecil. Gelap, lembab, dan melemaskan.

''Hanya cicak yang jadi kawanku,'' keluh Kusno beberapa kali. Tapi dalam sel inilah ia menulis, dengan kertas dan tinta yang diselundupkan, pembelaannya yang panjang lebar dan terkenal di pengadilan rakyat Bandung.

Di pengadilan, hakim memvonis mereka empat tahun penjara di Sukamiskin. Penjara ini pada masanya terkenal sebagai penjara tokoh-tokoh yang kerap mengkritik Belanda. SEbuah penjara menyerupai kincir angin yang sanggup menampung sekitar 552 tahanan. Letaknya di luar kota Bandung. Belanda membangun Sukamiskin pada 1918 dan mulai menerima tahanan 1933.

Kusno dijebloskan ke sel nomor 233, tepat diujung lorong, dekat tangga besi lantai dua. Dari segi ruang, Sukamiskin jelas lebih baik dari Banceuy. Luas kamarnya 2,5 x 3 meter, dua pintu, dua jendela yang menghadap langsung ke lapangan. Sebuah tempat buang air berada tepat di bawah kasur Kusno yang menempel ke dinding.

Di depan pintu selnya, tertulis, 'The Former Room of Bung Karno'. Kamar itu sejuk. Angin semilir bebas keluar masuk dari. Dua lemari gantung tertempel di dinding. Bung Karno pun memiliki meja, bangku kayu, dan rak buku. Semua perabotan ini masih asli dan lengkap.

Inggit mengingat, saking dianggap berbahaya, Kusno tak boleh dekat sesama tahanan Indonesia. Belanda menempatkannya dengan tahanan Belanda yang kena kasus korupsi maupun pembunuhan. Tetangga selnya adalah seorang pembunuh sadis yang merampas hidup seorang ibu dan tiga anaknya. Kawan dekat Kusno di sayap sel itu seorang Indo Belanda yang membunuh ayahnya karena suka memukuli ibunya.

Sukamiskin menjadi kesulitan tersendiri bagi Inggit. Jaraknya teramat jauh dari Bandung sehingga harus merogoh kocek lebih dalam. Sementara Inggit harus menghidupi keluarganya dengan menjual ramuan kosmetik dan menjahit. Tak jarang ia menjenguk dengan jalan kaki.

Kusno mengisi hari-hari penjaranya dengan bekerja di bagian percetakan. Mengangkat kertas berim-rim, memotongnya, dan membuat buku-buku bergaris. ''Pekerjaan yang membosankan,'' keluh Kusno.

TApi di penjara ini pula Kusno bertambah dekat dengan agama. Ia mulai rajin membaca Al Quran dan buku-buku agama. ''Di sini aku menemukan Islam,'' katanya pada Inggit suatu ketika.

Kembali ke tahun 2008, apa yang terjadi di Banceuy berbeda dengan apa yang terjadi di Sukamiskin. Kepala Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional, Toto Sucipto, mengaku ada masalah dalam perawatan situs Banceuy. Situs ini sudah masuk dalam benda cagar budaya yang dilindungi. Namun masalah klise seperti kewenangan pemeliharaannya tak jelas di antara instansi maupun pemprov membuatnya terlunta-lunta.

''Lihat saja sendiri keadaannya. Kita jadi malu sendiri,'' kata Toto gusar saat ditemui di situs Banceuy. ''Tujuan kita adalah untuk menggugah kesadaran sejarah, dan sejauh ini memang kesadaran sejarah kita masih kurang,'' lanjutnya dengan nada pasrah.

Di Sukamiskin, situasinya 180 derajat berbeda. Kepala Seksi Bimbingan Kemasyarakatan Sukamiskin, Yunianto, mengakui pihaknya sangat kekurangan informasi tentang latar belakang sejarah dijebloskannya Kusno ke sana. Sementara sewaktu-waktu ada kunjungan yang membutuhkan informasi, pihak Sukamiskin kewalahan menjelaskan.

''Kami miskin data Bung Karno di sini, kalau bisa kami diberi buku panduan atau data soal Bung Karno waktu itu. Kami sudah dijanjikan mau diberi, tapi hingga kini tak juga dipenuhi,'' kata Yunianto.

Pihak penjara sebenarnya ingin menjadikan sel Kusno sebagai wahana pembelajaran sejarah. Tak menjadi sel kosong. ''Kami ingin ia 'hidup','' sambungnya. Malah ada niat membuat program audiovisual. ''Jadi ketika pintu sel dibuka ada tontonan menarik, ada cahaya atau suara proklamasi dari Bung Karno. Itu pasti lebih bagus,'' sambungnya dengan tersenyum.

Dua penjara, dua kisah yang berbeda di masa kini, tentang seorang tokoh bangsa. Sesudah mengunjungi kedua penjara itu, saya merasa pidato Bung Karno yang berjudul Jangan Sekali-Sekali Melupakan Sejarah (Jas Merah) sudah habis ditelan waktu.

Tuesday, October 21, 2008

KABAR

bagaimana kau menentukan kabar baik dan kabar buruk?
sebuah kabar datang beberapa bulan lalu
dari jumat di bulan itu
di sebuah rumah makan entah di jakarta mana
pada sebuah waktu entah pukul berapa
dengan seorang yang tak tahu siapa
saling bertukar cerita, entah cerita apa
tapi ada dia
dan ia menikmatinya...
(sigh!)

Pohon

Dia : Kamu selalu bisa membuat dirimu nyaman dan tersenyum...

Aku : Loh aku memang seperti itu kan

Dia : Kamu seperti pohon...

Aku : Hahahaha...Pasti pohon karet karena melaaaaarrrr..

Dia : Ngga. Pohon yang rindang...

Aku : Pasti beringin deh

Dia : Pohon yang meneduhkan semua orang dibawahnya...

Aku : Emang aku sebesar itu?

Dia : ....

Monday, October 6, 2008

Bonceng (1)

Kejadian pertama. ''Pak..pak berhenti pak!'' teriak polisi lalu lintas di belokan Yos Sudarso dan Kelapa Gading suatu siang beberapa waktu lalu. Pak Polisi melambaikan tangannya, memintaku minggir dan berhenti.

Dalam hati aku bilang, halaaah razia macam apa pula ini. Aku sudah siap dengan alasan rutinku kalau diberhentikan polisi, tak punya SIM dan pajak STNK belum dibayar cukup bilang, ''Siap salah Komandan! Sori Dan...lagi buru-buru mau liputan nih,''. Trik ini selalu sukses. Aku tak pernah diberi surat tilang.

Tapi ternyata polisi yang ini lain. ''Ayo Pak...boncengin saya. Kejar...kejar itu sudah di depan. Kejar yang cepat!'' perintah PAk polisi. Tangannya memegang selembar SIM, entah milik siapa.

''Hah?'' sepersekian detik aku bengong. ''Apapula ini? Kenapa Pak?''.

''TAdi ada tabrak lari Pak. Ayo Pak kejaaaaarrr....!'' kata Pak Polisi setengah memaksa. Ia menepuk pundakku dan menunjuk ke arah depan. Ia langsung duduk dibelakang sadel motorku yang sudah robek-robek. Pak polisi ini ternyata lumayan berat, karena motorku langsung ceper dan aku merasa bannya setengah kempes.

Dengan perlahan, motorku berjalan. Setang gas lantas kuputar kencang, knalpot meraung-raung, tapi Suzuki Shogun 2002 miliku tak kuat berlari cepat. ''Ke mana Pak...ke mana Pak?'' tanyaku sambil celingak-celinguk melihat sasaran kejar.

''Itu Pak....Ayo Pak...yang cepat nanti dia hilang,''

Lalu lintas Yos Sudarso lumayan ramai. Mobil berseliweran di kiri dan kanan. Aku dengan cuek ambil jalur tengah. Mencoba menyalip di antara mobil, seperti di film-film Hollywood, tapi aksiku gagal total. Sebab sekuat tenaga kupacu kuda besi yang ditunggangi dua orang berbadan besar itu, ia tetap lambat ibarat siput.

Eh malah Pak Polisinya dengan kesal ngedumel, ''Addduuuuuhhh...lamban banget sih Pak!!! Nanti dia hilang...''.

Dalam hati aku memaki. Kambing nih polisi. Udah ngebajak motor orang di bulan puasa, minta ngejar-ngejar buruan, malah ngehina lagi! Apa ku kepotin aja biar jatuh ya? Untung pikiran iseng itu tak jadi kulakukan.

Menjelang Jembatan Baru. ''Mana...mana Pak motornya?'' tanyaku dengan semangat. Padahal dalam hati aku sudah hilang harapan. Apapun jenis motornya, bebek apalagi sport, sudah pasti lari tungganglanggang tak terkejar oleh motorku.

''Loh siapa yang bilang motor?'' jawab Pak Polisi dengan bingung.

''Hah? Jadi ini ngejar apaaan?'' timpalku terkejut.

Alih-alih ngasih tahu, polisi setengah tua ini malah kembali memerintah, ''Sudah..sudah cepaaat saja kejar! Nanti dia belok lagi,''.

Beberapa meter di sebelah kanan memang ada belokkan. Pak Polisi mencondongkan badannya ke kanan. Posisi ibarat rodeo ini langsung membuat motorku limbung ke kanan.

''Wah dia ngga belok ternyata. Ayo Pak... terus...terus yang cepat!'' katanya setengah kesal.

Pikiranku terpecah. Mengendalikan motor dan mencari target buruan. Ini ngejar siapaaa sihhhh...kataku dalam hati, gemas.

Pak POlisi kembali berseru, ''Itu...itu..Pak...Ayo...Ayo...'' sambil mengacung-acungkan jarinya ke depan. Sebuah truk kontainer warna hijau tampak berusaha zig-zag di lalu lintas yang ramai.

HAH? TRUK KONTAINER???? KITA NGEJAR TRUK?? Kataku dalam hati, tak percaya. Polisi GILAAA.... Kalau dikejar pun belum tentu kita berhasil, lah truk kontainer lawan motor bebek! Di senggol bannya yang sebesar motor saja sudah pasti kami terpental, nyungsep di trotoar Yos Sudarso.

Jarak antara motorku dan truk tinggal sekitar 200 meter. Aku tancap gas sekuat mungkin. Jaraknya memendek tinggal 100 meter. Ayo tancap gas lagi. Jaraknya tinggal 50 meter dan ban truk itu terlihat makin membesar. Aku membayangkan bannya berbicara. ''Sini..sini mas saya senggol sampeyan,''. Aku bergidik.

Akhirnya, dengan susah payah, motorku sejajar dengan bagian depan truk. Pak Polisi dengan nekad setengah berdiri, melambaikan tangannya menarik perhatian pengemudi truk sambil berteriak,''Heiiii...heiiii...Berhentiiiiii...Berhentiiiii kamuuuuuu,''.

Hebatnya, si pengemudi tampak cuek. Ia malah menekan kuat-kuat pedal gas truk raksasa itu. Kembali meninggalkan motorku yang setengah oleng akibat ulah Pak Polisi.

''Loh..loh...ayo Pak cepaaaat kejjaaaar laggiiiii,'' teriak Pak Polisi dengan kesal. Ia dicuekin.

Di depan Kodamar. Untungnya lalu lintas tersendat sedikit karena ada putaran dari sisi jalan lainnya. Truk itu tetap ambil posisi di sebelah kanan. ''Tenaaaang Pak...macet tuh. Kita dapet dehhh,'' kataku meyakinkan Pak Polisi yang gusar itu.

Benar saja. Truk melambat sebab di depannya puluhan mobil tersendat. Kami akhirnya sejajar lagi.

Kali ini Pak Polisi tak mau buang waktu. Dari sudut mataku aku melihat ia merogoh di saku pinggangnya. Sebuah pistol. HAH PISTOL!!!! Aku kaget setengah mati. Mau ngapain dengan pistol? Mau tembak-tembakkan di jalan raya? Kok jadi kaya film laga sih? AStaga kalau salah tembak gimana? Aku langsng terbayang berita-berita salah tembak itu. Sialan..

Dengan marah, dan ambil posisi kembali setengah berdiri Pak Polisi mengacung-acungkan pistolnya ke arah pengemudi truk. ''Heeeiiii...heeeiii...Berhenti kamuuuu...BERHENTIIII KAAAMUUUUU....MAU SAYA TEMBAAAAK KAAAMUUUUU...AYO BERHENTIIIII,'' teriaknya.

Aku merasa ada di adegan lambat. Kejadiannya terpatah-patah. Ibarat film yang diputar setengah kecepatan. Mobil-mobil di belakang dan samping kami perlahan-lahan meminggir. Pak Polisi sudah membidikkan pistolnya ke arah kaca depan truk sambil berteriak-teriak ingin menembak pengemudinya. Motorku melamban hingga akhirnya berhenti di kiri jalan. Di belakangku sudah ramai bunyi klakson.

Pak Polisi menepuk pundakku, sebelum motor berhenti betul. ''Makasih ya Pak,'' katanya tanpa melihat wajahku dan berlari mendekati truk. Ia langsung ambil posisi menembak. MENEMBAK. Di pinggir jalan itu. Truk hijau akhirnya berhenti. Aku sempat menoleh ke belakang. Pak Polisi dengan cepat menggedor pintu pengemudi. Membukanya dan menyeret turun sang sopir naas itu. Kelanjutannya aku tak tahu, apakah si sopir betul-betul ditembak, dipukul dengan gagang pistol, atau digebuki, atau yang lainnya. Dengan masih shock aku kembali memacu motorku meninggalkan para pelaku kejar-kejaran itu di belakang. Jarum jam menunjukkan sebentar lagi pukul 11 siang. Aku mau kejar liputan di DPR. Hari yang aneh!!

Friday, October 3, 2008

Berlebaran dengan Kutu

TEguh tampak tak tahan. Wajah tirusnya meringis. Bergantian ia gesek kedua telapak kakinya. ''Zul! Zul pinjam sepatu bot mu!'' teriak pemuda tanggung ini.

Rasa gatal di kakinya sudah mencapai puncaknya, tapi ia harus bertahan hingga hari usai. Selasa (30/9) sore, remaja kurus berambut cokelat dan anting sebesar kancing kebaya di telinga kanannya baru menyelesaikan paruh pertama waktu kerjanya. Masih ada delapan jam lagi.

Pemuda gondrong sebahu dengan tubuh kerempeng berotot, yang bernama Zul, menoleh ke Teguh yang sedang berada di balik sedan Honda Jazz hitam. ''Emang kenapa?'' balasnya sambil nyengir.

Teguh meninggalkan mobil yang sedang ia cuci. Menghampiri Zul. Keduanya sudah mencuci entah berapa mobil hari ini. Bedanya, kaki Zul ditutupi sepatu bot karet warna hijau sementara Teguh bertelanjang kaki.

''Lo liat kaki gue nih! Ancur dah!'' kata pemuda putus sekolah itu mengeluh, sambil menatap kakinya. Tungkai kaki Teguh ibarat dahan pohon berwarna cokelat. Kurus dan penuh bercak. Siang itu, kakinya yang basah mulai berubah warna. Cokelat penuh totol-totol merah karena lecet terlalu sering digaruk.

TElapak kakinya pun pucat, berkeriput tanda kulit yang terlalu lama terkena air, dan penuh bercak merah yang gatal. Kukunya terlihat sangat putih.

Sepatu bot pun berpindah kaki. ''Pake' koran biar gak tambah gatel,'' kata Zul. TEguh mengangguk. Dari balik rambutnya yang gondrong di depan tapi cepak di belakang, sorot matanya tampak lega.

Dengan wajah tetap meringis menahan gatal, ia menjejalkan tumpukkan koran ke dalam sepatu bot usang itu. Entah sudah berapa kali sepatu itu berganti tuan.

Teguh juga membungkus telapak kakinya dengan koran bekas, seperti memakai perban. Sejurus kemudian ia berusaha memasukkan kakinya yang sekarang terlihat seperti kaki boneka kertas ditempeli koran ke dalam bot yang sempit. Sukses, dan ia tersenyum sendiri, beranjak berdiri, mengambil selang dan lap basah di dalam ember sabun.

Ia pun kembali mencuci mobil hingga malam hari, di hari terakhir bulan Ramadhan. Esoknya ia libur dan merayakan Lebaran dengan keluarga, shalat Idul Fitri bersama-sama dan masih mengidap gatal-gatal itu.

Kutu air! Itulah penyakit yang mendera Teguh dan rekan-rekannya sesama pencuci mobil di kawasan Rawasari. Bekerja dengan air tanah, sabun cuci, pasir penuh kotoran dari bekas cucian ratusan mobil yang menggenang, membuat kulit mereka tercabik-cabik dimakan kutu air.

''Kalau gak pakai sepatu bot, cuci tujuh mobil sudah pasti gatel-gatel,'' ungkap Zul sembari menggosok-gosok kap mobil Opel Blazer warna merah.

Masalahnya, dalam sehari apalagi jelang Lebaran, mereka tak mencuci hanya tujuh mobil. Tapi puluhan mobil. Lebaran membawa berkah bagi tempat cuci mobil dan tentunya bagi pencuci mobil.

'Kantor' tempat Teguh dan Zul bekerja terletak di pinggir jalan Jenderal Ahmad Yani atau daerah yang dikenal dengan Rawasari. Di belakang trotoar taman hijau yang tumbuhannya dibungkus debu tebal. Secuil tempat berbentuk persegi berlantai semen kasar yang berlubang-lubang dengan bangunan gedek di belakang, untuk kantor dan tempat tinggal sementara pengelola. Mobil yang hendak dicuci dibariskan lurus. Tempatnya cukup untuk menampung lima hingga enam mobil.

Sebelum dan sesudah Lebaran, mobil harus sabar antri untuk dilumuri sabun putih dan dibilas. Bahkan antri di pinggir jalan. Bagi Teguh dan rekan, ini kesempatan membuat dompet mereka tebal. Betapa tidak, dalam berkas laporan sehari sebelumnya, rata-rata pencuci mobil di tempat Zul dan Teguh bekerja membawa pulang Rp 130 ribu-an dari hasil 24 jam mencuci.

Dengan ongkos cuci mobil Rp 10 ribu, bila ingin menambah layanan penyedot debu untuk bagian dalam mobil serta semir ban harus menambah Rp 10 ribu, Teguh dan rekannya mendapat bagian Rp 4 ribu. Penghasilan mereka bertambah kalau mendapat tip, entah ribuan atau kadang puluhan ribu rupiah, kalau ada pelanggan yang royal.

Satu-satunya musuh pencuci mobil adalah kutu air. Tidak diobati? ''Ya kalau sekarang percuma,'' jawab TEguh masih dengan meringis. ''Nanti tunggu pulang ke rumah dikasih salep seharian biar kering,''.

Sialnya, pengobatan itu hanya sementara. Lusa ia kembali berjibaku dengan air tanah, sabun cuci, kotoran mobil, dan pasir penuh kuman. ''Ancur dah kaki gua,'' katanya getir.

Tak jauh dari tempat Teguh meringis, duduk di balik meja putih kusam, Pak Hendrik, si pengelola tempat cucian mobil. Pria paruh baya bertopi, dengan tubuh kekar, tapi sebelah telapak kakinya bengkak. Ia cuek mendengar keluhan anak buahnya. Seolah keluhan mereka ibarat nomor-nomor mobil yang ia tulis di buku besarnya. Sudah biasa.

''Tadinya mereka saya beri sepatu bot satu orang satu,'' kata Hendrik, dengan logat Menado yang kental. Beberapa tahun lalu ia membeli sekitar 60-an sepatu bot untuk para pegawainya. Kini sepatu yang masih bisa digunakan tinggal delapan pasang, itupun usang. ''Mahal sepatu itu, sekarang mungkin sepasang sekitar Rp 60 ribu,'' katanya berdalih.

SAtu demi satu sepatu karet setinggi betis itu rusak termakan air dan cuaca. Jebol dan bolong di mana-mana. Hendrik menyalahkan anak buahnya yang tak bisa merawat sepatu gratisnya.

Seharusnya, keluh dia, usai mencuci seharian sepatu dijemur di terik matahari hingga kering. Tapi yang terjadi malah sepatu basah hanya digeletakkan begitu saja di ruang kantor.

''Wah kalau sudah 60 sepatu ada di sini, baunya gak ketulungan!'' katanya seraya tersenyum.

Sebenarnya masalah kutu air pun ia perhatikan. Di awal-awal bisnisnya beberapa tahun lalu, ia rutin membeli satu boks obat kutu air yang ia bagi gratis ke anak buahnya. Tapi pengobatan itu berhenti setelah obat itu dengan cepat menghilang dari dos-nya.

''Mereka nakal!'' katanya dengan nada tinggi, matanya mendelik tajam. Sengaja supaya didengar Teguh dan kawan-kawannya. ''Kalau sudah dapat obat, nanti sebentar mereka minta lagi. Bilang yang tadi sudah habis. Begitu terus. Ya sudah, saya berhentikan obatnya. Biar mereka beli sendiri,'' tegas Hendrik.

Telinga Zul dan Teguh seakan berdalih tak mendengar sindiran bosnya. Mereka masih sibuk mencuci mobil. Menggosok dari bawah hingga ke atas. Dari ban yang penuh lumpur hingga atap mobil yang dekil.

Air tanah muncrat dari selang yang mereka pegang. Percikan sabun terus menerus membasahi kaki mereka bercampur dengan pasir hitam dan kotoran lain yang jatuh dari badan mobil.

Ini bukan hanya sekedar kembali ke hati yang suci atau Lebaran. Ini soal adu cepat dan adu kuat dengan gatal-gatal, kulit lecet, kutu air dan gepokkan uang untuk menyambung hidup.

Selamat Lebaran Guh! Zul!

Sunday, September 7, 2008

beberapa hal yang bikin gw suka Ramadhan

untuk beberapa alasan seperti :
si A asyik nyeruput es krim walls
mba B lagi jilat-jilatin conello
mas C gigit pizza sambil merem melek
tante D sibuk ngaduk milkshake
om E nyocol-nyocolin kentang goreng ke saus tomat dan sambel
pak F minum lemon soda yang segar
bu G makan hamburger yang tebel
kakak H nyendok pasta yang kental dengan keju dan bubuk sambel
gw suka banget suasana puasa di Mal!
sambil ngeliat mereka, gw ngebayangin mereka semua masuk NERAKA
HAHAHAHAHAHAHAHA...
si A asyik nyeruput es krim walls sambil disodok besi panas pantatnya
mba B lagi jilat-jilatin conello lava pijar yang bikin lidahnya gosong
mas C gigit pizza sambil merem melek tapi badannya direndam di minyak panas
tante D sibuk ngaduk milkshake , namun teriak-teriak karena kepalanya disetrika
om E nyocol-nyocolin kentang goreng ke saus tomat dan sambel sementara tubuhnya dicambuk
pak F minum lemon soda yang segar, saking segarnya tenggorokan dan perutnya terburai
bu G makan hamburger yang tebel di dipan yang penuh ular berbisa dan kalajengking
kakak H nyendok pasta yang kental dengan keju dan bubuk sambel sembari ditabokin sama gada berpaku karatan...
oh how i love puasa....

Monday, September 1, 2008

puasa...

untuk beberapa alasan tertentu
seperti :
banyak orang menjual diri
banyak pihak berganti topeng
gw 'BENCI' bulan puasa

Friday, August 15, 2008

Ah, God, the way your little finger moved

As you thrust a bare arm backward
And made play with your hair
And a comb a silly gilt comb
Ah, God—that I should suffer
Because of the way a little finger moved.

- Stephen Crane

Monday, August 11, 2008

Rasa Papua di Amerika

Berapa banyak kedai kopi Starbucks di negara asalnya, AS? Situs resmi Starbucks menyebut angka 11.168 kedai. Sebanyak 7.087 kedai dioperasikan oleh Starbucks sendiri, dan sisanya diwaralabakan.

Nama Starbucks berasal dari novel Moby Dick, yang ditulis oleh Herman Melville pada tahun 1851. Seratus dua puluh tahun kemudian, di Kota Seattle, kedai pertama Starbucks dibuka.

Gerainya terkenal dengan warna hijau, logo bulat bertuliskan Starbucks Coffee dan gambar perempuan berambut panjang dengan tiga mahkota. Ia tersebar di 50 negara bagian AS, termasuk di Distrik Columbia.

Jutaan orang AS tiap hari menyeruput kopi dari gelas karton Starbucks. Perusahaan milik konglomerat Yahudi, Howard Schultz ini harus menyediakan 160 juta kilogram kopi per tahun, tidak hanya untuk AS tapi juga 1.749 gerainya di 43 negara di luar AS.

Kopinya dibeli dari 25 negara di seluruh dunia, termasuk Indonesia dengan harga rata-rata 3,16 dolar AS per kilogram.

***

Ribuan kilometer dari AS, di wilayah Pegunungan Tengah Papua, tersembunyi di balik rimbunnya hutan lebat, sebuah kabupaten kecil bernama Dogiyai mengikat kerjasama dengan Starbucks AS.

Dogiyai, kabupaten yang terdiri atas tujuh distrik berpenduduk 51.805 jiwa yang baru dimekarkan, akan mengekspor dua peti kemas kopi jenis Arabica ke AS. Untuk dinikmati jutaan penggila kopi AS.

Kontrak pasokan kopi ini diungkap Gubernur Papua, Barnabas Suebu, saat meresmikan Kabupaten Dogiyai menjadi kabupaten sendiri, lepas dari Kabupaten Nabire, Juni lalu. Peresmian itu juga dihadiri Mendagri Mardiyanto.

Tak mudah mencapai Dogiyai, dari sudut manapun di Papua. Penumpang harus singgah berkali-kali di sejumlah bandar udara. Jakarta, harus singgah di Bandara Hasanuddin, Ujung Pandang. Penerbangan lalu dilanjutkan ke Kepulauan Biak Numfor, yang terletak di utara Papua. Sepanjang penerbangan kita disuguhi dua warna, birunya lautan dan hijaunya gundukan pulau-pulau kecil yang terserak.

Dari Bandara Frans Kaisepo, Biak, perjalanan dilanjutkan dengan pesawat baling-baling ke Bandara Nabire, yang terletak di wilayah Pegunungan Tengah Papua. Di sini warna dominan hanyalah hijau. Hutan berbukit layaknya selimut hijau yang dihamparkan ke seluruh Papua. Kadang diselingi bukit cadas berwarna putih. Rumah tradisional yang dibangun dari kayu dan daun rumbia berwarna cokelat, Honai, tampak seperti jamur-jamur mungil dari atas pesawat.

Perjalanan belum selesai, meski sudah tiba di Bandara Nabire. Rombongan harus berkendara sekitar tiga puluh menit, menembus hutan, berpapasan penduduk yang masih setia dengan koteka dan ibu-ibu dengan tas noken yang disematkan di dahi. Belum termasuk dihadang berbagai ukuran babi.

Kabupaten Dogiyai terpenci dan kecill. Luasnya hanya 4.237,4 kilometer persegi terdiri atas tujuh distrik yang dihuni oleh 51.805 jiwa penduduk. Ibukotanya adalah sebuah kampung bernama Kigamani.

Jarang sekali ditemukan rumah berdinding semen. Mayoritas rumah, selain Honai, terbuat dari kayu. Alasannya sepele, Nabire adalah daerah tempat gempa menghampiri. Tahun 2004 saja, dua kali Nabire diguncang Gempa. Ratusan rumah rubuh, termasuk perkantoran DPRD yang terletak di dekat Bandara Nabire.

Di sebuah lapangan sepak bola bernama Sapta Marga, di Kampung Kigamana, Sabtu pekan lalu Mendagri meresmikan Kabupaten Dogiyai. Sebagai Bupatinya, Mardiyanto melantik mantan Sekretaris DPRD Nabire, Adauktus Takerubun, pria bertubuh gempal dan berwajah serius.

Peresmian kabupaten menjadi tontonan warga setempat. Mereka berkerumun rapi di sekitar lapangan bola. Pria perempuan, tua muda, tinggi pendek, besar kecil, berbaju maupun berkoteka. Di tengah lapang, sebagai peserta upacara peresmian berdiri kelompok tentara, polisi, polisis pamong praja, pegawai negeri sipil, dan siswa sekolah.

Tak jauh dari Lapangan Sapta Marga, puluhan warga dengan pakaian adat menggelar unjuk rasa. Berbeda dengan unjuk rasa di Jakarta, di Papua tak cuma poster dan spanduk yang diusung dan diangkat tinggi-tinggi. Tombak tajam juga turut diarak dan diacung-acungkan. Teriakan orasi unjuk rasa tentang pemilihan kepala daerah sahut menyahut dengan teriakan khas suku setempat.

Dalam pidato sambutannya itulah, Gubernur Papua Barnabas Suebu mengungkapkan kerjasama Starbucks dengan Dogiyai. Kerjasama yang boleh dibilang unik. Starbucks yang kedai kopinya ibarat gurita dengan ribuan tentakel di seluruh dunia, dipasok kopi dari sebuah daerah antah berantah di tengah hutan di dataran tinggi Papua.

****

''Potensi pertanian di Dogiyai sangat besar. SAlah satunya adalah kopi jenis arabica, yang termasuk salah satu kopi kualitas tertinggi di dunia. Starbucks AS sudah pesan dua peti kemas dari Dogiyai untuk diekspor tiap bulan ke AS,'' cetus Barnabas dihadapan ratusan penduduk Dogiyai yang menghadiri peresmian kabupaten mereka.

Mendengar hal ini, para pejabat berjas rapi dan berbatik bersama-sama dengan penduduk sekitar yang mengenakan kaos maupun hanya berkoteka bertepuk tangan meriah.

Barnabas Suebu melanjutkan pidatonya, ''Kopi Arabica Papua sangat khas. Ia tidak bisa dicampur dengan kopi lain. Harganya bahkan lebih tinggi dari kopi Arabica dari Toraja. Semoga dengan kerjasama yang didukung oleh USAID ini membuat masyarakat Dogiyai giat menanam kopi,''. Lagi-lagi hadirin tepuk tangan dengan meriah.

Ternyata tak hanya Dogiyai yang punya potensi kopi untuk diekspor. Gubernur Papua, dalam peresmian lima kabupaten lain di Wamena, kembali mengatakan hal serupa. Menurutnya masyarakat Papua harus pandai-pandai memilih komoditas yang memberi keuntungan memadai pada petani.

''Salah satu contoh komoditas Papua yang memiliki kriteria dan prospek sangat baik adalah kopi bio atau kopi organik yang dihasilkan di Kabupaten Jayawijaya. Potensi kopi ini terbuka di semua kabupaten di pegunungan tengah,'' katanya di depan ribuan warga yang memenuhi Lembah Baliem, Wamena.

Barnabas lantas mengingatkan soal kendala pengembangan kopi itu. Katanya, salah satu masalah terbesar di Papua adalah transportasi. Ongkos angkut dari wilayah pegunungan tengah ke pelabuhan di pesisir masih mahal, karena menggunakan pesawat udara. Butuh jutaan rupiah untuk mengangkut dua peti kemas berisi kopi arabica Papua dengan pesawat komersil.

Ia tetap mencoba optimistis, dengan berharap ekspor langsung tanpa dicampur kopi lain itu membuat harga Arabica Papua di pasar internasional tetap tinggi. ''Bila kopi ini dikembangbiakkan dengan baik di berbagai tempat di Pegunungan Tengah, pasti akan terjadi perubahan mendasar dalam struktur ekonomi masyarakat,'' katanya lagi.

Dengan kopi, Papua kembali berusaha memperbaiki kesejahteraannya. Setelah dengan emas yang dikeruk Freeport dan gas yang disedot oleh British Petroleum tak kunjung berhasil memperbaiki taraf hidup warga Papua.

'Ngomong - ngomong' seperti apa sih nikmatnya kopi Arabica Papua? Bagi yang sempat mencicipi, boleh jadi mengatakan mantap. Kenikmatannya berlangsung perlahan-lahan.

SEsaat memasuki rongga mulut, rasa kopi encer namun keras menyeruak di tenggorokan. Rasa kopinya menempel di seluruh dinding kerongkongan. Baru kemudian turun ke perut, di sini sensasi utama terasa. Perlahan demi perlahan hangat kopi Papua dan rasa 'khas' itu menyebar. Di mulai dari mulut, kerongkongan, perut, ke seluruh tubuh. Mantap sekali.

Jadi, kalau Anda kebetulan ada di AS dan beli kopi di Starbucks, jangan lupa mungkin salah satu pesanan kopi Anda berasal jauh dari hiruk pikuk kapitalisme dan modernisasi kehidupan kota. Di Dogiyai dan sejumlah distrik lainnya di Pegunungan Tengah Papua, para petani kopi Papua bisa dengan bangga berkata, ''Kami memasok kopi ke pusat dunia,''.

Warisan Mimintok Mabel

Saya mengenal Mimintok Mabel, penduduk Kurulik Papua, saat kuliah tahun 2000-an. Kami tidak pernah bertemu muka. Saya mengenalnya dari buku yang saya temukan di gelaran buku bekas di kampus sastra UI Depok.

Bersampul kuning lusuh dengan gambar pahatan Asmat mirip patung batu raksasa di Pulau Paskah, judul bukunya 'Mumi Dinasti Kurulik'. Penulisnya seorang dokter yang tinggal di Papua. Naskah cerita petualangan yang ia kirim ke Jakarta itu menang salah satu sayembara cerita film terbaik tahun 70-an.

Bahkan waktu menginjakkan kaki di Wamena Papua, pulau yang saya idam-idamkan untuk kunjungi, pertengahan Juni lalu tidak terlintas pikiran untuk bertemu Mimintok Mabel. Saya baru sadar kesempatan itu saat diberitahu supir Kijang milik pemda Wamena ketika saya tanya, ''Tolong antarkan saya ke Lembah Baliem,''.

Lembah Baliem bagi saya adalah salah satu tujuan hidup. Sama seperti bertemu Mimintok Mabel. Saya menyerap kata Baliem dari buku petualangan, etnografi, atau penjelajahan di Pegunungan Tengah Papua. Daerah yang disesaki gunung ibarat taring-taring tajam. Berselimutkan hutan hijau dan salju abadi Puncak Jayawijaya. Satu-satunya di Indonesia.

''Di mana lokasi wisata terdekat? Antarkan kami ke sana,'' pinta saya bersama Rahmat, wartawan televisi swasta nasional.

''Ada Pak. Mumi Kurulik. Mau ke sana?'' jawab Frans sembari mengendarai Kijang warna gelap itu, menghindari kerumunan penduduk Papua yang berdiri di depan hotel. Kami mengangguk. Mendengar kata Kurulik, ingatan saya langsung kembali ke buku itu.

Kesempatan, pikir saya dalam hati. Waktu jamuan makan malam resmi dengan Mendagri Mardiyanto dan Gubernur Papua Barnabas Suebu masih dua jam lagi. Petang hari di Papua justru belum terlalu gelap. Matahari bahkan belum berwarna oranye dan langit masih cerah.

Frans membawa mobil dengan cepat. Kijang itu melesat di satu-satunya jalan aspal yang membelah alam Wamena. Tidak ada nama jalan di sini. Yang diketahui hanya arah. ''Ini menuju ke atas, pegunungan,'' tunjuk Frans ke depan jalan.

Kanan kiri jalan adalah ladang atau padang rumput berwarna emas. Menempel di belakangnya cadas-cadas berwarna abu-abu menjulang ke langit. Di kejauhan, langit, awan, dan cahaya matahari berbaur membentuk siluet biru pucat.

Udara Wamena yang sejuk membuat berdiri bulu kuduk saya. Menghirup udara pegunungan seperti itu tentu sangat berharga bagi warga Jakarta yang tiap hari disesaki asap polusi dari rokok dan knalpot kendaraan. Saya membuka jendela mobil lebar-lebar. Membiarkan angin dingin menerpa wajah dan masuk membersihkan paru-paru.

Beberapa honai berwarna cokelat, rumah adat Papua, menyempil di balik rimbunnya padang rumput. Honai itu lebih mirip jamur raksasa dengan pintu. Jarak antartetangga ternyata cukup jauh. Tidak seperti di kota besar yang berdempetan. Antara honai bisa terpisah padang rumput hingga satu kilometer.

Frans membeberkan, sangat jarang tiap jengkal tanah di Wamena adalah tanah kosong. Hampir semua sudah dipatok, ada harganya. Meski di lokasi yang relatif sepi, harganya bisa ratusan juta rupiah. Dan sialnya, yang punya sebagian besar bukan warga lokal.

Di jalan kami berpapasan dengan penduduk asli. Pria-pria bersahaja yang berkulit hitam mengkilat berjalan bersama perempuannya yang telanjang dada. Bibir tebal mereka selalu tersenyum. Yang pria mengenakan koteka cokelat dan tombak sementara kaum perempuan membawa noken, tas dari akar yang disampirkan ke dahi.

Kadang malah kami berpapasan dengan piaraan mereka, babi-babi kecil berwarna cokelat dan hitam. Menguik-nguik menyingkir dari jalan setelah diklakson mobil.


****

Sekitar 30 menit berkendara, Frans membelokkan mobilnya keluar dari jalan utama. Kami pindah jalur ke jalan tanah yang bergelombang. Dinaungi pohon-pohon besar dan ilalang tinggi yang rapi. Sekitar 50 meter mobil masuk dan tiba di parkiran seluas lapangan bulu tangkis. Dari luar, sejumlah bocah Papua sudah merubung mobil.

Frans membawa kami masuk ke sebuah perkampungan. Sebenarnya disebut kampung terlalu besar. Karena yang ada hanyalah beberapa honai didirikan berdempet-dempet. Ada dua lajur honai yang dibelah jalan tanah becek berwarna cokelat. Bau asap merebak di udara.

Kami bersalaman dengan Jacobus Mabel. Seorang pria kekar bermata ramah yang tak mengenakan koteka. Jacobus sudah tersentuh mode pakaian, tubuhnya dibalut jins dan kemeja. Tapi dengan begitu, ia kontras karena saudara-saudarinya masih setia dengan koteka dan bertelanjang dada.

Yang anak-anak, beberapa di antaranya kena flu akut karena ingusnya meleleh kental, mengenakan celana pendek sebetis. Mereka selalu tertawa. Yang perempuan berceloteh gembira dalam bahasa Papua. Sebentar-sebentar mereka tergelak dan menyapa kami bertiga.

''Mau lihat mumi?'' tanya Jacobus pelan. Ia tampaknya sudah tahu apa keinginan tamu yang berkunjung ke daerahnya. Saya mengangguk sambil tersenyum lebar. Jacobus berbalik badan, menghilang ke dalam honai di belakangnya.

Tak lama kemudian ia muncul. Kedua tangannya mencengkeram benda berwarna hitam. Itu ternyata jenazah Mimintok Mabel, mumi Kurulik yang termahsyur.

Mendengar kata mumi, umumnya yang teringat adalah orang tinggi besar berbalut kain usang berwarna kusam, dan hanya meninggalkan sobekan lubang untuk mata. Mumi Mesir dari dalam piramid.

Mimintok Mabel beda. Ini mumi khas Papua Indonesia. Tak butuh kain untuk membalut. Ia dibalsem lalu diasapi, begitu menurut Jacobus, apa adanya. Mumi lantas ditidurkan bersama keluarga dalam honai.

Menjadi mumi, jelas Jacobus adalah pilihan dan wasiat. ''Apa nanti mau juga jadi mumi?'' saya bertanya ke Jacobus. Ia tersenyum lalu menggeleng. ''Oh tidak..tidak,''.

''Anggota keluarga mungkin?'' saya mengedarkan pandangan ke sejumlah kerabat Jacobus. Mereka hanya bengong melihat saya. Jacobus kembali menggeleng.

Saya berpikir, kasihan Mimintok Mabel, anak cucunya tak ada yang mau jadi mumi. Maka ia harus menanggung beban digotong dan diarak keluar masuk honai paling tidak satu generasi lagi.

Mimintok Mabel berusia 365 tahun. Jacobus tak tahu ketika saya tanya kapan tepatnya nenek moyangnya lahir. Itu berarti Mimintok Mabel hidup di alam Papua yang masih perawan. Belum ada zending (misi kristen Belanda) yang berani datang ke sana.

Di Jawa, tahun 1643 Belanda sedang giat-giatnya mencengkeram petani rempah lewat monopoli VOC. Sejumlah kerajaan Islam mulai berdiri dan ingin menendang Belanda kembali ke Eropa.

Kulit Mimintok Mabel hitam pekat. Tubuhnya kecil dengan posisi tubuh terlipat ibarat bayi di kandungan. Kedua lututnya ia rapatkan hingga ke perut. Telapak tangannya ia dekapkan ke tempurung lutut.

Melihat Mimintok Mabel seperti itu saya berpikir, apa yang ada di pikirannya ketika ia hendak di balsem? Apakah ia takut? Apakah hatinya berdegub kencang? Apakah ia panik? Apakah ia marah harus dibawa ke luar berulang kali hanya untuk memuaskan turis?

Wajah Mimintok Mabel sudah tak lagi berdaging. Tinggal tengkorak warna hitam yang nyaris mengkilat. Dua lobang matanya menganga. Sementara mulutnya terbuka lebar mendongak ke atas. Melihatnya, saya membayangkan ia sedang teriak, ''AAaaaa...aaaaa...aaaa...''.

Tampaknya ia menciut setelah dimumi. Sebab ada semacam mahkota dari akar kayu yang diameternya lebih besar sedikit dari kepala Mimintok Mabel. Hiasannya hanya koteka, kalung serta topi akar sederhana berwarna cokelat. Dengan takut-takut saya sentuh tubuhnya, keras sekaligus ringkih. Ibarat porselin tipis yang sewaktu-waktu mudah pecah.

Saya langsung mengambil beberapa foto mumi dan kerabat Pak Jacobus. Rahmat malah merekam seluruh keadaan dan mewawancara seorang istri Jacobus. Ya, Jacobus penganut poligami karena istrinya empat. Di daerah itu tinggal seluruh keturunan Mimintok Mabel yang kawin mawin sesama suku.

***

Puas memotret mumi dan keluarga Jacobus, saya menyingkir menjauh ke ujung perkampungan. Ingin mengambil gambar secara luas dari gerbang kampung. Tiba-tiba dari balik honai seseorang berdesis. ''Foto...foto..''katanya. Ia seorang gadis dan seorang nenek yang minta difoto. PErmintaan mereka saya turuti. Tiga kali mereka saya foto.

Ketika hendak beranjak pergi, si gadis keluar honai dan menyongsong saya. ''Bapa...bapa..foto..foto..bayar..'' katanya.

''Bayar?'' saya balik bertanya.

''Ya Bapa..Bayar, Rp 50 ribu, tiga foto kali Rp 50 ribu,'' katanya lagi sambil makin mendekat.

''Tunggu..tunggu sebentar,'' tukas saya dengan heran. Saya menunjuk ke arah Frans. Saya mendekatinya dengan tatapan meminta kepastian betulkah harus membayar untuk memotret. Frans sudah bersama Rahmat yang juga sedang dikerubungi kerabat Jacobus.

''Bapa..bayar..bayar..tadi wawancara..tadi foto..,'' seru seorang perempuan. Wajah Rahmat juga menampilkan mimik tak percaya. Ia menoleh ke arah saya dengan mimik heran. Saya balas dengan anggukan pasrah. Mungkin dalam hatinya, orang di Jakarta sudah cukup senang masuk televisi gratis, ini malah objek bidikan minta dibayar.

''Tadi foto..satu orang Rp 3.000 kali 40 orang. Satu orang difoto tiga kali. Tadi wawancara saya dua kali...,'' seru seseorang perempuan yang tak sabar sambil menunjuk Rahmat.

''Eh...eh...tunggu dulu,'' timpal Frans, memotong. ''Berapa tepatnya,'' katanya dengan nada kesal.

Pak Jacobus kini ikut-ikutan mendekat. ''Tadi keluarkan mumi bayar Rp 70 ribu,'' paparnya dengan suara kecil itu. Saya mengangguk lemah. Jacobus juga membenarkan tarif foto anggota keluarnya per orang Rp 3.000.

Tekor nih, pikir saya. Tapi saya juga tak kuasa melihat tatapan kerabat Jacobus. Sorot mereka ibarat pisau yang menghujam hati. Bola mata cokelat yang polos, ramah, tapi juga bercampur pengharapan tinggi.

Akhirnya bersama Rahmat kami sepakat merogoh kocek cukup dalam untuk membayar melihat warisan Indonesia itu. Namun tampaknya 'setoran' kami belum memuaskan penduduk Kampung Kurulik. Mereka tetap meminta tambah sambil terus menghitung berapa kali saya foto dan Rahmat mengambil gambar di videonya.

Untung Frans bergegas menarik saya dan Rahmat keluar dari kerumunan itu dan menuju ke mobil. ''Sudah..sudah ya..'' katanya. Saya hanya melambai dan melempar senyum pahit ke keturunan Mimintok Mabel ketika mobil meninggalkan mereka yang masih berkerumun.

Dari cerita Frans, kami baru tahu. Jacobus dan keluarganya tidak ada yang bekerja. Mereka mengandalkan nenek moyangnya untuk mengepulkan dapurnya. Saya berpikir, wajar saja mereka begitu 'haus' terhadap pelancong.

Mimintok Mabel dan keturunannya jadi cermin betapa kemiskinan mencengkeram Papua. Data Badan Pusat Statistik (BPS) beberapa tahun terakhir memperlihatkan hal itu.

Pada 2004, angka kemiskinan di Papua sudah mencapai 38,69 persen dari total penduduk 2,5 juta jiwa. Survey terakhir BPS Maret lalu masih menegaskan satu dari tiga orang Papua adalah orang yang hidupnya sebulan berbekal tak lebih dari Rp 170 ribu. Padahal kita semua tahu di Papua adalah salah satu tambang tembaga terbesar di dunia, Freeport yang kontraknya sejak 1960-an.

Tapi itulah Papua. Di tempat di mana kemiskinan dan pengangguran bercampur baur dengan keramahan sekaligus 'keliaran'. Bercampur dengan tingginya biaya hidup. Makan nasi dengan lauk telor kita harus merogoh Rp 15 ribu. Semangkok bakso dengan sejumput mie ditebus seharga Rp 10 ribu.

Sebungkus mie instant Rp 2.000. Harga satu sak semen Rp 500 ribu - 1 juta. Ketika banyak motor yang mogok di jalan karena kekurangan bensin yang harus dibeli seharga Rp 50 ribu per liter. Belum lagi tambal ban motor yang memakan duit Rp 15 ribu. Alamaaak....

Wednesday, August 6, 2008

loyalitas

loyalitas

aku tak kenal wartawan kompas, arbain rambey. tapi dari ceritanya yang diceritakan wartawan lain aku bisa memetik pelajaran berharga. alkisah arbain sudah beberapa tahun bekerja di kompas tapi ia tetap tak puas karena gajinya rendah (padahal di kompas loh!).

si pemilik buku yang ribuan jumlahnya itu lantas mencari-cari lowongan lain. salah satunya di kantor berita asing. jadilah arbain kasak kusuk mempersiapkan diri. di salah satu tes masuk di kantor berita itu, ketika ia sedang duduk menunggu giliran dipanggil, datanglah redaktur kompas.

pertemuan yang tidak diduga-diduga. paling tidak menurutku, rada tidak enak ketika sedang melamar pekerjaan ke kantor lain terus bertemu dengan salah satu petinggi kantor lama. aku yakin keduanya kaget.

''lho ngapain kamu di sini?'' tanya si redaktur.

''mau ngelamar kerja pak,'' jawab arbain, tanpa basa-basi. padahal bisa saja ia ngibul bilang bertemu kawan atau alasan lain. tapi arbain memilih terus terang.

''hah? ngelamar kerja? kamu bukannya masih di kompas?'' sergah redakturnya.

''iya bang, masih,''.

''kenapa mau pindah?''.

''gaji bang. aku rasa gajiku kurang tinggi,'' timpalnya.

''oh masalah gaji.... ya sudah. kamu pulang saja. tak usah melamar di sini. besok ketemu aku, kita bicarakan,'' kata redakturnya.

pertemuan mereka keesokan harinya membuahkan hasil untuk arbain. gajinya dinaikkan. arbain senang dan kompas tidak kehilangan salah satu wartawannya.

pelajaran yang bisa kupetik adalah cara redaktur dan (akhirnya) perusahaan memperlakukan arbain. sebenarnya bisa dengan mudah perusahaan melakukan hal yang 180 derajat berbeda dengan apa yang diperbuat si redaktur.

perusahaan sekelas kompas bisa dengan enak mempersilahkan arbain terus mengikuti tes masuk itu dan pindah. kompas bisa dengan mudah mencari pengganti arbain, dan aku yakin akan ada ratusan orang antri mengisi kursinya.

tapi kompas memilih tidak. kompas memilih menyelamatkan 'aset'nya, yaitu wartawan. bisa jadi pilihan mempertahankan aset itu setelah pertimbangan bagaimana kinerja si pegawai. tapi kompas memperlihatkan bagaimana sikap perusahaan terhadap asetnya di saat asetnya mempertanyakan kinerja perusahaan terhadap dirinya.

pendek kata, seberapa jauh arbain dan kompas mengukur loyalitas satu sama lain. kawanku di kantor dicap tak loyal. gara-gara ia melakukan hal yang persis dilakukan arbain. mencari peluang kerja lain yang memberikan kesejahteraan lebih tinggi.

bedanya, di kantorku tak ada perlakuan seperti kompas seperti ke arbain. kawanku, dibelakangnya, lantas dicap tak loyal oleh para atasannya. tak ada pertunjukkan loyalitas antara karyawan dan perusahaan.

padahal kantorku bisa dengan mudah memanggil si karyawan, mencari tahu apa masalahnya, dan paling tidak kalau perusahaan tak bisa membayarnya lebih keduanya sudah bertemu dan membicarakan masalah itu. keduanya sudah berkomunikasi mengenai nilai aset yang pantas. tapi toh hal ini tidak dilakukan.

pertanyaan loyalitas berulang kali melintas di kepalaku saat melihat beberapa kawan di kantor lain bak kutu loncat pindah. mereka begitu ringan pindah-pindah ke perusahaan yang berani membayarnya dengan gaji berkali-kali lipat.

kawan lamaku, ichsan memberi komentar, ''wah kamu sudah masuk ke zona aman!'' katanya melihatku sudah empat tahun di republika tak jua pindah. ichsan pada saat yang sama sudah lima kali pindah perusahaan, dan semuanya berbeda jenis dan gajinya selalu naik.

aku berpikir, benarkah aku sudah masuk ke zona itu? zona aman yang membuat malas pindah karena enggan memulai suasana baru dan membuat penyesuaian baru? zona yang mengharuskan aku memulai sesuatu dari nol dan meninggalkan sarang empukku hari ini?

kalau alasannya malas pindah karena butuh penyesuaian, menurutku tidak akan terjadi. wartawan membuat dirinya ibarat bunglon setiap hari. bertemu orang baru tiap hari. menerapkan strategi baru dan menyesuaikan diri dengan narasumber baru tiap hari. bila ichsan melakukannya empat kali di lima tahun waktunya bekerja, aku melakukannya tiap hari selama empat tahun!

gaji? memang ini salah satu faktor utama kepindahan rekan-rekanku di media lain ke media lain. penghasilannya bisa berlipat ganda saat pindah. ketika seseorang kawan ingin pindah karena masalah gaji, aku langsung ingat saat pertama kali orientasi di kantor. hari pertama itu yang mengisi adalah wakil pimpinan redaksi yang sekarang sudah naik jadi pimpinan redaksi.

aku ingat sekali ia mengatakan, ''Kerja wartawan itu, di republika, anda tidak akan jadi kaya! kalau ingin kaya jangan jadi wartawan! tapi untuk standar kita cukuplah. anda bisa hidup cukup, senang-senang cukup....,''.

cukup. cukup tentu ukuran yang sangat relatif. berapa gaji yang cukup untuk wartawan? PWI pernah menyatakan gaji ideal wartawan adalah Rp 10 juta untuk lulusan baru. AJI mengkoreksinya dengan standar yang lebih moderat, yaitu sekitar Rp 4 juta untuk wartawan baru.

gajiku sekarang? hehehe masih jauh dibawah itu. tapi aku merasa 'cukup'. cukup untuk nabung, cukup untuk beli buku, bayar kartu kredit, nonton film di bioskop, beli dvd, jajan dan menjajani orang lain, betulin motor yang kian renta.

hal lain yang aku ingat dari si wapimred yang belakangan ketahuan dogolnya, tapi ia memberi nasihat awal menjadi wartawan yang sangat baik menurutku, adalah suasana kerja. ia bercerita suasana kerja di kantorku sekarang ini jauh berbeda dengan kantor lain. sangat cair dan tanpa sekat tinggi antar atasan dan bawahan.

empat tahun ini aku merasakan itu. dan itu membuatku sangat menikmati pekerjaan. selain karena pekerjaan itu sendiri. redakturku pernah berkata, wartawan adalah pekerjaan paling nikmat sedunia. aku setuju, selain menjadi arkeolog (yang jadi impian).

aku digaji untuk bertemu orang, menikmati satu wilayah ke wilayah lain gratis, bisa bertemu dari presiden hingga pengangguran dan bisa berdialog nakal dengan mereka.

dan yang terpenting, aku harus menuliskannya untuk puluhan ribu pembaca republika keesokan harinya.

aku masih seperti anak kecil yang tersenyum gembira saat melihat tulisanku naik keesokan harinya di koran dan dibaca orang.

aku tambah gembira kalau ada yang berkomentar sesuatu tentang tulisanku, entah itu kritik pedas atau pujian.

aku masih dengan naif berkata bagaimanapun busuknya dunia jurnalisme dan perlakuan kantor kepada karyawannya, aku bekerja untuk pembaca republika yang tiap hari merogoh koceknya tak kurang dari seliter bensin untuk membeli koranku.

aku bekerja untuk republika dengan R kapital, bukan republika dengan r kecil yang terbatas di warung buncit.

Tuesday, August 5, 2008

SERAM

ini buatku menyeramkan. awal agustus dapat tugas untuk ikut menteri agama, maftuh basyuni. pimred sampai telepon khusus ke aku supaya aku ikut menag. biasanya cukup redaktur yang hubungi. katanya depag dan kantor mau kerjasama banyak. dalam hati aku ngomong, hubungannya sama aku apa ya? kan biasanya depag dipegang osa atau hri.

bukan perintah pimred itu yang menyeramkan. rencananya menag akan safari selama sepekan penuh ke indonesia timur. sehari di malang, sehari di surabaya, sehari di mamuju, sehari di makassar, en sehari di kendari (gila banget menteri ini, padahal cuma depag tapi keliling indonesia sering kali). aku ikut di tiga kota pertama.

juga bukan jadwal menteri yang menyeramkan. dalam rombongannya, depag membawa seorang wartawan lain dari antara. wartawan itu biasa ngepos di depag. bahkan akrab dengan menag. ia sering diajak liputan haji (yang sampai 60 hari di mekah!, berapa coba spjnya!!), sering dibisiki isu-isu hot depag, termasuk sering dateng ke rumah menag usai shalat subuh untuk ngobrol ngalor ngidul!

dia ini yang menyeramkan! ceritanya usai meresmikan gedung baru mahasiswa IAIN Sunan Ampel Surabaya, menag istirahat di wisma haji yang megah. di dekat bandara djuanda. sebelum naik ke kamarnya, menag bercakap-cakap dengan sejumlah tamu. sementara aku dan pak wartawan menunggu kesempatan mencegat menag untuk ngobrol.

pak wartawan orangnya baik, ramah, santun, tutur katanya teratur rapi, kebapakkan banget. ia bertanya, apa aku sudah menikah? tentu aku jawab belum. terus ia menasehatiku untuk lebih hati-hati terhadap pekerjaan 'wartawan' dan 'masa depan'.

''kerja wartawan itu candu loh,'' katanya pelan.

''betul pak!'' balasku.

bagi sebagian orang yang sudah terlalu lama (atau memang menghayati) kerja jurnalisme, aliran darah dan gerak-geriknya akan terganggu. tidak percaya? aku contohnya. bahkan di hari liburpun tak bisa lepas dari pda. cek berita apa yang ada di sejumlah situs. kirim sms ke sejumlah orang, tanya ini tanya itu. padahal itu hari libur dan ga piket! ketika cuti keliling jateng pun demikian. ketika naik gunung pun demikian (padahal sudah berharap jangan ada sinyal...jangan ada sinyal... ternyata sinyal gprs keparat indosat itu ada pula digunung!).

''karena itu jangan terlalu kecanduan untuk memikirkan hari depan,'' pesannya. aku tak menjawab. hanya mengangguk-angguk. dalam hati aku ngomong, ''ok wise man, what next? kaya aku gak tau aja!''.

dia lantas tanya, apa aku punya pacar? atau punya kawan yang sedang didekati? aku jawab iya sambil tersenyum. INI BAGIAN SERAMNYA. pak wartawan lantas memejamkan mata sepersekian detik. ia mengajukan pertanyaan beruntut.

''hmmm...apa orangnya rambutnya segini?'' tanyanya sambil tangannya menunjukkan berapa panjang rambut si perempuan. aku kaget setengah mati!

''betul pak,'' jawabku heran. ia kembali memejamkan matanya.

''bentuk mukanya seperti ini?'' tanyanya lagi sambil memeragakan. ini juga betul! aku tambah heran dan menjawab iya. dalam hati aku berpikir, jangan-jangan dia pernah melihat aku berdua. paling tidak mendengar tentang hubunganku. tapi dari mana? dari anak republika di depag tidak mungkin karena aku ga deket sama anak republika di depag. dari anak antara? aku gak yakin.

''tingginya seperti ini?'' katanya mengangkat tangan menunjuk ke bahuku. aku tak mau menjawab iya lagi. aku hanya mengangguk sambil tersenyum pendek sambil terus menatapnya.

di satu sisi aku berpikir orang ini sedang mempertontonkan kehebatannya kepadaku atau ia benar-benar penipu atau ia benar-benar 'cuma' membantuku dalam bentuk lain. deskripsinya tentang perempuan itu berhenti. aku lega setengah mati, ''wah bapak menakutkan'' kataku, jujur. giliran dia yang tersenyum.

ia lantas bercerita bagaimana ia mendapat 'keahlian' membaca orang seperti itu ketika ia ngepos di pontianak saat kerusuhan dayak-madura. ia berkisah panjang lebar tentang waktu itu.

di suatu titik ceritanya berhenti. ''eh tunggu dulu, dia kerja di sini ya,'' katanya menyebut salah satu perusahaan swasta tempat si perempuan bekerja. ini yang bikin kengerianku memuncak. tebakannya tepat 100 persen! bulu kudukku berdiri. aku bingung mau tertawa atau terpana. aku sempat diam selama beberapa detik sebelum menjawab, ''benar,''. aku berpikir orang ini benar-benar tahu dari hanya terpejam-pejam beberapa detik atau dia sudah pernah melihatku atau dia sudah pernah mendengar tentangku.

si bapak tertawa mendengar jawabanku. ia tertawa puas sekali sampai terguncang-guncang.

Monday, July 28, 2008

Bioskop

bioskop. konon tempat macam ni sudah ada di jakarta sejak abad ke-19. londo2 keparat yang mendirikan hindia belanda itu sering nongkrong di bioskop bisu di dekat kota. salah satu fotonya bisa diliat di kedai es krim (lezaaaaat en tradisional) raguza di jalan veteran.

pengalaman pertama nonton bioskop waktu masih tk. sama bonyok. seingetku itu di cempaka putih theater. filmnya aja legendaris, ''pemberontakan g30s pki''. nonton film ini pasti bokap yang punya ide, maklum tentara. dia ga tau kalo ternyata abis jadi booming di bioskop di seluruh indonesia, film garapan arifin c noer itu diputer gratis di tvri sampe reformasi, hehehehe.

butuh waktu belasan tahun untuk bisa nonton film di bioskop lagi. ntah kenapa. tiba-tiba aja pengen nonton film di bioskop pas smp. nontonnya ya di cempaka theater lagi. filmnya brams stoker dracula. harga tiketnya waktu itu sekitar 1.500. kursinya tetap merah tapi bututnya ampyuuun robek2 pula. layarnya bukan kain tapi dinding yang terkelupas.

setelah itu jadi kerajingan nonton. tapi dah gak pernah di cempaka theater lagi. sekarang cempaka udah tutup. kasian juga. tiap lewat inget kenangan pas nonton. nti ku coba bikin ficer soal bioskop macam itu.

pilihan kecanduan nonton jatuh ke gading 21, yang lebih deket dijangkau dengan sepeda ato mikrolet. itupun lebih sering nonton sendiri daripada rame-rame ato bedua.

yang inget banget nonton the english patient (lama bangeeeeet en ga gitu ngerti jalan ceritanya, abis nonton rekomendasi di oscar) en ini film jadi film pertama yang bikin tidur hehehehe. film lainnya yang juga diinget while u were sleeping. yang sadar pas keluar teater ternyata jadi cowo sendiri yang nonton film itu tanpa pasangan huahahahaha. yang lucu pas nonton space jam bareng anak2 satu kelas, di SMA, kita duduk ga cuma sederet tapi sebaris dari atas sampe bawah. jadi tiap kali tim basket space toon masukkin bola, kita waving dari atas ke bawah hehehehehehe.

pekan ketiga juli 2008 tambah pengalaman baru lagi di bioskop. akhirnya diperawanin di blitz. rasanya aneh karena udah terbiasa dengan gaya 21. lobbynya beda. jual tiketnya beda. kedainya makanannya beda. tempat popcornnya beda. kursinya beda. baunya beda. semuanyaaa beda. oopss belom coba toiletnya.

en untuk pertama kalinya gw nonton film yang diisi oleh tiga orang. ku, iras, en cw ga jelas yang pindah tempat duduk (sebenarnya cw ini misterius, karena dia dengan cuek nonton horor, coba kalo ga ada gw en iras, masa dia nonton sendiri? aneh!!). film horor korea judulnya 'someone behind me'. ide ceritanya, harus diakui, beda dengan film horor yang sering dinonton (jarang nonton horor kalo ga 'SETAN' banget isinya. satu yang pasti, jantung en kuping gw sering kaget bukan karena filmnya tapi karena ada yang tiba-tiba teriak kenceng banget! berkali-kali.

kejutan ternyata g berhenti di blitz. besoknya dapet tiket gratis batman dark knight di pondok indah mall2. wow, selain jauh en pagi (jam 9.30), ga pernah kepikiran nonton di tempat sehedon pondok indah2. yang terhedon terdekat ya PIM1 ato mentok senayan city.

di PIM2 jadi pengalaman pertama nonton di teater terkecil. paling cuma beberapa puluh orang. kursinya legaaaa. bayangin aja kalo di teater biasa satu baris bisa 20 kursi, di pim2 satu baris cuma 8 kursi. akhirnya bisa dapet kursi yang selega itu, bahkan pembatas kursinya bisa dilipet ke atas. hahahahaha kampungan banget pas tau.

setelah ini jadi penasaran. bagaimana yang nonton di pasaraya grande yang tiketnya berkali-kali lipet tiket biasa ya? katanya atmosfir nonton di situ beda lagi...hummmm...sometime lah. oia sama nonton di dharmawangsa skuare. katanya ada rental dvd yang punya bioskop privat yang bisa disewa. nanti cari tahu lebih lanjut.

tapi bioskop ternyaman yang pernah dirasakan adalah bioskop kamar! yup ga ada tempat (theater) seindah kamar sendiri!

Monday, May 26, 2008

mata itu

matamu indah xxx
pernah ada yang berkata seperti itu padamu?
bulat abu-abu bercampur cokelat
bening dan basah
ada rasa sedih di sana
tiap melihat matamu xxx
aku merasa kau sedang menangis dalam hati
mengubur sesuatu yang kau sayangi dan cintai
tapi kau tetap melangkah
maju dan maju

Wednesday, May 21, 2008

SMS

empat pesan secara berurutan masuk ke nokia 6250 pekan lalu
sekilas tak kenal siapa nomornya
mencoba mengingat, ini nomor siapa...
siapa ... siapa ... siapa ...

tiba-tiba, seperti lang ling lung dalam komik disney, ada lampu menyala di kepala
ah.... ini kan dia... he..he..he..
tumben kirim sms
sudah tak ingat kapan terakhir saling menyapa, eh..

dahi mengerenyit membaca pesan singkatnya :
'mungkin ini sms terakhir dariku, aku minta maaf padamu atas kesalahan-kesalahanku padamu, setiap pertemuan pasti ada perpisahan...doakan aku ya, agar diberi kekuatan dan selalu dalam lindungan Allah..aku ingin mengajak dirimu, tapi ku yakin dikau takkan sanggup...ukirlah selalu namaku di hatimu sebagai teman sejatimu... selamat tinggal ya, aku akan pergi ke jepang..'

kaget..fiuhhh...baru pertama mendapat sms macam ini

tak biasanya pesannya dengan nada seperti ini
pesannya memang kerap sendu
tapi selalu ada nada optimisme
tidak seperti pesan yang satu ini

langsung merasa tak enak (geer kalo menurut iras he5)
ada sesuatu yang terjadi?
sangat mendesak sampai harus ke jepang?
kerja atau dapat beasiswa?
karena dia selalu bercerita ingin sekolah lagi, tapi jepang tak pernah sekalipun disebutnya
kalau begitu ada apa?

jempol langsung sibuk memencet huruf di 6250, membalas pesannya
mencoba membalas dengan nada yang santai dan biasa saja
: 'hei...hei...ada apa? wow ke jepang? selamat ya, sekolah atau kerja?

20 menit kemudian 6250 mengeluarkan bunyi ada sms datang
dia membalas
jawabannya sangat mengejutkan

'untuk bantu ULTRAMAN TARO melawan monster KALAJENGKING, he..he..he 8-)'

ANJRIIIIIITTTTTT!!!!!!
ha...ha...ha...
masih tetap suka bikin kejutan-kejutan kecil
seperti kembang api

Monday, April 21, 2008

asli buruk

gw dah tau film itu bakal buruk banget, apalagi gw orang yang baca novelnya, yang emang buruk banget, tapi gw ga ngira kalau filmnya seburuk itu!!!!ya tuhan!!!!setelah nonton film itu, gw masih heran banget kenapa orang2 pada nangis keluar bioskop, kenapa sby-jk merekomendasikan film itu ke luar negeri buat nandingin fitna, kenapa udah lebih dari tiga juta orang rela nonton film yang...duh.. buat gw ga ada pesan moralnya sama sekali...ya tuhan...ayat-ayat cinta itu bener2 buruk!!!

alhasil sepanjang film, bangku gw en iras jadi bangku teramai mengejek film itu, gw rasa yang nonton di belakang bangku gw en iras pasti jengkel setengah mati ngeliat kita ketawa pas adegan sedih, ada langsung sewot pas ada kalimat2 yang katro banget, sementara mereka ngeliatnya serius en menghayati film itu, hua5

banyak hal yang bisa diejek dari film itu, pertama tentu soal pesan moral, nonton selama dua jam sambil cekikikan en saling melempar kritik dengan iras tetap ga bisa ngebuat gw tahu apa pesan yang ingin disampaikan hanung ke penonton,

yang gw tangkep malah soal merendahkan perempuan banget...bener kata si iras, kok bisa yah setelah fakri ngeliat muka si aisya dia langsung bilang 'iya'...maksudnya SEGAMPANG ITUKAH SEORANG PRIA MEMILIH PEREMPUAN DAN SEMUDAH ITUKAN SEORANG PEREMPUAN MENERIMA PRIA?

itu kaya di pasar, ketika kita mau beli tomat atau ayam atau daging!

hanung gagal total menerjemahkan indahnya taaruf di kalangan muslim jadi hanya sekedar gambar hambar soal pertemuan ala jual beli fakhri dan aisya,

dia harusnya bisa lebih filosofis dari sekedar adegan2 cengeng bagaimana perempuan menangisi fakhri, buat gw yang nonton justru jadi ngeganggu banget,

di film itu sosok fakhri ga keliatan sebagai santri yang pantes dikagumi, apa dia pinter organisasi, hanya dengan ngomong bahwa organisasi itu harus jalan terus, api unggun..bla..bla..bla...ya tuhan, harusnya bisa lebih visual daripada sekedar adegan itu,

apa fakri bisa dikagumi hanya dengan adegan cupu banget di metro kairo pas dia ngomong yang lebih islami dari orang islam itu sendiri ngebela orang bule? ya tuhan... ngga banget dah!

gw jadi ngerasa kasian sama pemeran cewenya, baik aisya atau maria, sepanjang film mereka jatuh cinta sama sesuatu yang ga layak dicintai, di film itu ga bisa digambarkan kenapa maria sayang sama fakhri, apa karena modal tampang doang? atau karena apa, kenapa aisya suka sama fakhri, apa karena pembelaan di bis yang asli cupu banget en ga mungkin orang lain bakal melakuukan hal serupa...

soal skenario emang bermasalah, sejak awal ketika tahu salman aristo yang bikin skenarionya, gw dah was2 bakal ancur abis, ternyata bener, salman dalam catatan gw ga pernah bikin skenario yang mulus, selalu aja ada yang ganjal en kasar, dia ga pandai ngerajut bahasa tulisan menjadi bahasa gambar, AAC jadi bukti itu,

terlalu banyak adegan yang memang bisa indah kalau dibaca di tulisan tapi langsung dijiplak mentah2 di skenario en digambarkan secara mentah2 juga, di sini jelas banget sutradara, juru kamera, en penulis skenario terlalu hati-hati banget nerjemahin bahasa tulisan itu ke bahasa gambar,

mereka takut banget keluar dari garis pedoman bukunya, padahal yang mereka mainkan adalah medium gambar yang bisa lebih kreatif!! dialog2 yang diskenariokan oleh salman aristo juga masih kental bahasa tulisan ketimbang gambar,
ada banyak adegan yang harusnya tanpa dialog tapi diberi dialog sehingga kesannya jadi kasar! skenario juga ga bisa nampilin yang lebih ke penonton apa sih inti dari film ini, hanya sekedar poligami atau cinta islami, atau perlawanan islami, atau perjalanan rohani orang2 di dalamnya, yang ada cuma ada empat cewe rebutan satu cowo, titik

yang menonjol banget justru hanya sekedar poligami, adegan fakhri di penjara yang harusnya jadi salah satuu kekuatan dalam film ini, maksudnya disitu harusnya bisa digambarin kalau fakhri tegar, bimbang, hancur, tidak percaya tuhan, mencoba tegar kembali dan pulih kepercayaannya, ga bisa ditampilin

dialog2nya kering en bener2 bahasa buku malah teatrikal, ada dialog ketika teman satu sel fakhri ngomong keras2, aduh di penjara yang gw tau kalau teriak2 kaya gitu udah digebukin napinya, atau teman penjara yang ngasih wejangan super maut itu ga jelas juntrungannya, apa latar belakang dia, kenapa masuk penjara, kok bisa2 ngasih nasehat jitu ke santri wahid di al azhar

salah satu penolong film ini adalah akting rianti en carissa, 22nya main cukup baik, akting fakhri? wah ke laut aja mas! apalagi akting temen2 fakhri, cupu banget en mereka ga signifikansinya di film itu, tanpa temen2 fakhri, terutama si oka, yang menurut iras ganteng, he3, film itu bisa berjalan dengan baik,

peran fakhri seperti di sebut diatas gagal menerjemahkan kalau doi santri yahud dari semua sisi, gagal ngasih gambaran secara halus ke penonton kalau fakhri itu iri dengan kekayaan aisyaa

sebaliknya aisya dengan sejumlah dialog sederhana mampu ngasih liat kalau dia itu cukup dimanja, sayang dialog cerdas seperti itu hanya muncul sesekali, tatapan matanya, yang kata orang2 killer banget, maksudnya mengundang kesedihan, kok menurut gw biasa aja yah!!! banyak alternatif adegan dimana aisya bisa ngambil peran secara maksimal, nunjukkin kalau dia itu tersiksa karena fakhri dipenjara, dipuja2 sama cewe lain, tapi hanung gagal menunjukkan hal ini

salah satu adegan yang paling gw suka di film itu adalah adegan ketika maria ngeliatin fakhri yang lagi ketiduran duduk nyandar di tembok, maria pengen banget ngebelai pipi fakhri, tapi dari bahasa tubuh en tatapan matanya, keliatan kalau dia gak bisa deket dengan fakhri, itu adegan berhasil banget ngegambarin gejolak di hati maria, carissa bermain bagus di adegan itu, sayangnya adegan yang indah secara visual itu cuma muncul sekali di film

gw malah keinget adegan di exorcist ketika carissa sakit en ga mau bangun en ada fakhri, di exorcist, pas si anak ketemu father carass, setan yang ngerasukkin bilang 'fuck me....fuck me..' di film AAC, dengan adegan cupu fakhri dateng pas carissaa sakit, gw inget adegan setan itu, he4

kritikan lain masih banyak, tapi gw dah males ngebahas karena terlalu banyak negatifnya en terlalu sedikit positifnya, jadi ga imbang, tiga kancut lah buat film ini, ini film malah lebih buruk dari mengejar mas2, mengejar matahari, sembilan naga, kelasnya hampir sama kaya film2 horor ga jelas yang dibuat sama koya pagayo atau sama kaya film ekskul, masih bagus kemana2 film hanung yang catatan akhir sekolah yang jujur banget en visualnya bagus,

tiga kancut buat ayat-ayat cinta!

Friday, April 18, 2008

Song of the Open Road

Afoot and light-hearted I take to the open road,
Healthy, free, the world before me,
The long brown path before me leading wherever I choose.
 
Henceforth I ask not good-fortune, I myself am good-fortune,
Henceforth I whimper no more, postpone no more, need nothing,
Done with indoor complaints, libraries, querulous criticisms,
Strong and content I travel the open road.
 
...
The earth expanding right hand and left hand,
The picture alive, every part in its best light,
The music falling in where it is wanted, and stopping where it is not wanted,
The cheerful voice of the public road, the gay fresh sentiment of the road.

...
Now I see the secret of the making of the best persons,
It is to grow in the open air and to eat and sleep with the earth.
 
...Here is the test of wisdom,
Wisdom is not finally tested in schools,
Wisdom cannot be pass'd from one having it to another not having it,
Wisdom is of the soul, is not susceptible of proof, is its own proof,
Applies to all stages and objects and qualities and is content,
Is the certainty of the reality and immortality of things, and the excellence of things;
Something there is in the float of the sight of things that provokes it out of the soul.

....
I give you my hand!
I give you my love more precious than money,
I give you myself before preaching or law;
Will you give me yourself? will you come travel with me?
Shall we stick by each other as long as we live?


Walt Whitman

Thursday, April 10, 2008

ada yang salah dengan titanic??

ada yang salah dengan film titanic?
hmmm....
ato mungkin pertanyaannya diubah..
ada yang salah dengan pria yang suka dengan film titanic?
hmmm... udah lebih pas :D

buat gw, harusnya ga ada yang salah, gw suka banget sama film termahal di dunia itu
tapi buat banyak orang ternyata salah yah...he4

contoh : ketika gw hunting dvd titanic di menteng, selagi jari-jari menyisir ratusan jejeran dvd, tiba2 film buatan james cameron itu nongol, extended version, HUAAAA... buat gw ini harta karun bok! langsung gw cabut dvdnya en sambil berseru girang! YEY!....

tapi apa coba komentar dua perempuan disamping gw, yang juga lagi hunting dvd
gw ngelirik mereka dari sudut mata gw
mereka bisik-bisik
''ih cowo kok suka sama titanic''
''heeh, mana cowonya gede banget lagi''

HELLOOWW ladies! gw denger lo ngomong apa! nyet!
makanya dalem hati gw langsung nanya, emang ada yang salah dengan pria yang suka sama film titanic?
emang ada yang salah dengan pria berbadan montok dan gondrong (waktu itu masih gondrong) serta jeans kumal merasa bahagia dengan menemukan dvd idamannya?

yeah gw termasuk orang yang nonton titanic dua kali, he5, tapi itu pun ga sengaja, yang pertama emang nonton karena niat, yang kedua mau nonton red cornernya richard gere filmnya ternyata dah abis, ngerasa gondok, ya gw ngantri nguler lagi beli tiket titanic di gading, en ngedenger lagi tuh suara2 ABG yang sedih pas leonardo di caprio dengan sukses berubah menjadi manusia es batu di laut en tenggelem ..... ''YAH LEO..LEO...hiks..hiks..hikss...'' ''LEO jangan mati dong''

(woy adek-adek... di script nya dia tuh harus mati, badannya harus jadi biru, beku kaya es batu keluar dari kulkas, terus tenggelam ninggalin kate blanchet hidup sendiri dengan menyimpan kenangan terindah hidupnya, kalo gak mati, filmnya gak laku!) kata gw dalem hati, he3

plot titanic emang biasa banget, kisah cinta cowo miskin en cewe kaya, dikejar2 tunangan cewe yang cemburu karena kekayaannya gak bisa ngebeli cinta cewe itu (aih..aih),

boleh jadi, james cameron sengaja ngebikin plot filmnya sederhana, supaya catchy di mata semua golongan, tapi ide dasarnya adalah bagaimana dia mengetengahkan ke generasi yang sudah puluhan tahun gak tau apa yang namanya titanic jadi bakal terus keinget sama titanic, lewat plot sederhana,

coba bayangin kalo titanic itu cuma jadi kaya...film dokumenter tentang orang2 gila harta yang didanai oleh orang yang gila harta juga untuk ngejar2 bangkai kapal di tengah lautan luas, pake teknologi canggih, nonton aja national geographic ato discovery channel, ga usah ngantri nguler, tapi abis itu ya blass...u dont have sometin to remember about the most luxurious ship ever build by men!

yang elo dapet ya, ada kerangka kapal gede banget, yang dishoot sama kamera robot yang bentuknya kayak lebah, filmnya warnanya biru ama item doang, banyak plankton, piring pecah, karatan, ikan2 kecil, itu aja,

elo ga dapet atmospir titanic yang megah, ballroom yang penuh sinar lampu saat sebagian dunia masih byar pett, kamar mewah dengan karpet tebel, barang pecah belah yang cuma disupply oleh satu vendor, en james cameron sampe ngontak vendor ini lagi buat mesen replika seluruh pecah belah yang titanic pesen! anjrot!

lo ga dapet (sekilas) gimana para pekerja irlandia mandi peluh di dek paling bawah, mereka nyekop batubara ke dalam tungku titanic, mesinnya bergerak, dengan tuas raksasa yang terbuat dari besi tulen lebih tinggi dari pemain basket Yao Ming asal cina ntu, btw james cameron ngegambarin adegan ini cukup indah dengan scene leo en kate lari2 dikejar bodigard tunangannya kate...yey! kontras banget!

lo ga dapet gimana kehidupan penumpang kelas kambing, yang ga boleh naik lift, en hiburannya adu pancho, en joget dengan musik tradisional irlandia yang menghentak2 lewat gesekan biolanya!

titanic, buat gw, akhirnya ga berhenti sebagai cerita romantis cowo ama cewe yang harus terima nasib mereka ga bakal nyatu, titanic itu sendiri adalah cerita romantis tentang komunitas, tentang masyarakat dengan segala keunikan dan suka dukanya, keluh kesah, tentang benturan masyarakat menengah bawah dan menegah atas,

ketika mereka tau mereka dikorbanin (ga boleh naik ke dek karena dek khusus untuk orang2 tajir) ato ketika ibu2 ditanya sama anak balitanya kenapa mereka ga naek perahu en sang ibu ngejawab bahwa perahu hanya untuk orang2 KAYA, yang MISKIN ga perlu perahu karena dah dikasih pelampung en berenang dah lo sampe beku kaya es batu! Mein God!

tapi above all, titanic buat gw adalah cerita soal proses pembebasan, si rose harus bebas dari norma hidupnya yang lama, yang hipokrit en memuja harta, dia milih ninggalin status dengan bareng jack yang kere abis en kerjanya ngegambar orang2 aneh

en jack membebaskan dirinya saat tau kalo kastanya yang rendah ga bakal bisa hidup bareng dengan kasta rose, jack membebaskan dirinya saat dia ngangkat rose ke bilah papan pecahan dari furniture titanic, en dia sendiri kerendem air yang dinginnya dibawah nol derajar celcius, terus dia mampus! its all about free ur self,

so titanic its not JUST a movie eh? he4 at least for me!

Sunday, April 6, 2008

Menilai Martabak dari Bungkusnya

malang melintang lintang pukang kaya kukang di dunia martabak membuat gw pede untuk mengatakan bahwa salah satu cara memilih martabak manis yang mantab adalah berdasarkan kardus pembungkusnya!!! yup kardus pembungkusnya...

ini tentu aja bertentangan dengan pepatah, jangan menilai buku dari bungkusnya, kalau buat buku, emang pribahasa ini berlaku, buku2 terbitan pustaka jaya atau balai pustaka taun jebot kan sampulnya ga jelas banget, lukisan2 abstrak malah kadang surealis, en ga menarik banget dah dari luar, tapi begitu dibaca....mantap tenan isi bukunya

nah di martabak itu kebalikannya, maksudnya begini, setiap kita INGIN membeli martabak, perhatikan kardus pembungkusnya, (kata INGIN sengaja dihurufbesarkan, supaya tidak lantas tertipu) bila kardus martabak itu tidak memiliki nama kedai martabak,

such as Martabak Idola, Martabak Bandung Lezat, Martabak Bangka 61, Martabak Bangka AA, Martabak Rudy, Martabak Holland, Martabak San Fransisco, etc mending jangan dibeli dah, nti kecewa

berdasar pengalaman gw, rasa martabak di kedai-kedai itu ga enak dan tidak memuaskan, ada yang terlalu lembek adonannya, terlalu kuning sehingga eneg, terlalu kering malah jadi seret, ada yang terlalu lumer, ngga ada yang pas, pas legitnya, pas gurihnya, pas adonannya, pas kalau dicampur meses, keju, en wijen (topping dasar martabak manis)

jadi sekarang tiap kali hunting martabak, yang gw perhatiin bukannya harga atau macam gerobak, maupun kedai, tapi kardusnya, he3,

tapi (pengalaman juga mengajarkan) ternyata tidak 100 persen tips ini bisa diterapkan, ada sejumlah contoh : pas di benhil ada kedai martabak yang pas punya, kardusnya beda bukan generik kaya kardus selamat menikmati, kardusnya putih polos tanpa nama kedai, enak juga loh! nyaaaaam!!!

di margonda Depok, di seberang kantor deborah ada martabak manis bandung 61, kardusnya dah muat nama kedainya, tapi martabaknya ga enak tenan, masa martabak manis kering banget, kaya ga dikasih mentega, jadinya pas dimakan seret, dah gitu adonannya kerasa banget kebanyakan tepung, jadi ga legit en ga pas

di pasar minggu ada martabak idola, kemarin baru coba, harganya untuk sekelas martabak serupa cukup murah, kardusnya pun mentereng, martabak idola ada di tiap sisi kardus, tapi rasa martabaknya, hueeeee, terlalu lembek, gw baru seumur hidup makan martabak letoy banget!!!!en adonannya masih basah, jadi lumer banget en terlalu kuning, kayanya si mas kebanyakan pake telor dah,

hummmm...martabak...martabak...martabak...

Tuesday, April 1, 2008

I'm Sick!!!!

gue dalam bahaya besar...
udah beberapa bulan terakhir ini gue terkena satu penyakit yang sangat berbahaya
kuman atau virusnya menyerang otak dan lambung
membuat fungsi keduanya tidak sinkron
udah gitu penyakitnya kadang muncul kadang hilang
kalau muncul biasanya malam hari
setelah gue pulang kerja en ditanya orang rumah
''udah makan belom?''
''hah makan....mmmm..mm...belom deh kayanya...udah apa belom ya?...,''

gue terkena penyakit bernama AMNESIA MAKAN !!!
gue kerap lupa kalo gue dah makan siang ato sore
jadinya gue kalap makan di malam hari

''udah makan belum ya?........''
''ah kayanya belum dah,''

nah di tengah makan malam baru deh ingatan gue akan makanan tadi siang en sore hari muncul

''ASTAGA!! gue kan tadi siang dah makan nasi padang di DPD, nasi bungkus di press room DPR, beli biskuit di koperasi, makan pangsit pas mau pulang....ASTAGA!!!''

ato karena belum inget kalo ternyata gue dah makan gue akan telpon pizza,

''laper nih belum makan kayanya dari tadi pagi ya? udah belum ya? ah belum deh kayanya, telp pizza deh, ... .... .... .... .... mas mau delivery pizza nih, iya atas nama stevy di kodamar, ok pesanannya dua pizza regular permesan en sea food ya!''

ASTAGA!!!!

gue gak tau apa di luar sana ada orang yang menderita penyakit yang sama dengan gue
kalo ada, berarti penyakit ini udah nyebar
mungkin harusnya para pasien virus atau kuman ini bikin kelas konsultasi

''Hiii...nama gue stevy...''
''Hiii stevy...''
''gue mau ngaku nih, gue punya penyakit...gue suka lupa kalo gue ternyata udah makan jadi gue makan lagi en lagi en lagi,''

....plok..plok..plok..plok.. (tepuk tangan para peserta konseling virus atau kuman penyebab penyakit amnesia makan)

ASTAGA!!!! please help US!

Monday, March 31, 2008

how hape are u?

hape pertama gw justru bukan dari beli atau dikasih, gw malah DAPET! he3 its back in the 2001, mgkin sekitar awal tahun, waktu itu dikmpus dah rame bgt orang2 pake nokia pisang, or hp sejuta umat 5110, ericson t10 or t20, masih inget gmana bentuknya?

well gw g ngerasa butuh hape waktu itu, jstru menghindar, biar ga bs dhubungin rumah, he3,

tapi dasar nasib, gw mlh nemu 5110, malem itu abis anter plg may, gw ngambil dwt di ATM BNI tranka, jalan raya bogor, sebelum2nya ga pernah ada rezeki di atm itu, malah gw anggap sebagai beban, karena ya diambil mulu dwtnya, he3

malem itu ternyata beda,

gw tadinya ga sadar ada hape diatas mesin atmnya, dah selesai ambil dwt, gw ngelongok ke atas, ada HP? eh.......... itu hape beneran? (hpnya ga berani gw sentuh)

karena lugu dan polos, gw justru takut (ha3) gw keluar ATM, ngelongok kiri kanan, kiri kanan, ke samping aTM, tempat satpam Tranka biasa jaga, tapi tetap g ada orang,

sempet nunggu sekitar 3 menitan sebelum akhirnya belahan jiwa gw yang jahat yang menang, ''AMBIL AJA HPNYA!'' anehnya, ga ada suara2 yang nganjurin gw supaya ''UDAH TINGGALIN AJA TUH HAPE, KASIAN KAN ORANGNYA''

yup, the evil rule!!langsung gw ambil, masukin tas, trs gw cabut buru2 ke pertigaan PAL, deg2an juga waktu itu, takut tiba2 dari belakang ada yang manggil ''Mas..mas...MAS..MAS... MALING HAPE...MALING HAPE!!!'' untungnya ngga (ha3 dasar iblis)

tangan gatel juga pengen nyoba hape baru, akhirnya sembari nunggu 112 ke depok, gw coba tuh hape, telepon pertama adalah ke rumah may, tapi kok ga nyambung, ..tut...tut...tut... hmmm mungkin ga ada pulsa ya? ok kita coba telepon rumah, ..... tut..tut..tut..masih juga ga nyambung,

sempet mikir mungkin hapenya rusak, makanya ditinggal di atm (so naive, tapi tetep diambil juga kan), tapi kayanya ada yang ga beres dengan dua nomor itu, apa ya.......

butuh waktu 10 menit sebelum gw sadar ternyata gw lupa mencet 021 HUA5, dasar bodoh!!!ini kn hape bukan wartel, harus ada 021 nya dogol, baru setelah sampe di kober, gw telepon may en rumah,

pada kaget waktu gw bilang ''nemu HAPE nih,..... ngga..ngga nyolong kok.. nemu di ATM''

akhirnya semua mendukung (again evil RULE!!)

begitu sampe di kost, dah mo tidur, eh nyala dah tuh hape, berdering2, en dasar bloon, gw ga tau gmana cara matiinnya, gw tutup bantal HA5 (emang mau bunuh orang,pake ditutup bantal)

sampe akhirnya gw ketemu tombol buat matiin tuh hape, gw matiin total, 10 menit kemudian gw nyalain lagi, ada sms bilang doi namanya rudi, anak pancasila, mohon balikkin hapenya....

YA NGGA MUNGKIN LAH!!! he3 gw buka2 smsnya, hmmm ternyata dah pny pacar, gw kirim SMS maki2 en jorok ke pacarnya (yeahh..yeahh.. im d devil rait?)

tapi ngerasa belum butuh, hape itu akhirnya gw kasih ke bokap, pulsa waktu itu mahal banget kan...

jelang akhir ramadhan tahun itu, hapenya gw pake, tapi cuma beberapa hari, TUHAN tampaknya mikir, ''ah si stevy belum perlu hape deh, dikasih ke orang lain aja dah,'' hu3, hapenya ilang di D11, kayanya sih jatuh dari kantong clana, sore2 waktu gw balik nganter may,

sad? ngga juga, lagian gw ngerasa itu bukan hape gw ya ga gw pikirin, tapi pembalasan datang sepekan abis itu, dompet gw dicopet di pulo gadung pas mau buka bareng 97 d rumah pipip!!damn, duitnya sih cuma20 rebu, tapi ktp, sim, en kartu mahasiswanya itu loh!!!bikinnya kan lama, apalagi gw baru punya sim mobil baru sepekan,en belum dipotokopi (Gobloknya, kalau dipotokopi buru2 kan tinggal ganti, ga perlu bikin ulang) yeah2 gw anggep sebagai karma hape itu....

MY second gadget its another HP, en kali ini yang lumayan ekslusif waktu itu, nokia 8110 (masih inget? nokia slide casing perak en layar biru) keren banget dah!

itu hape punya bokap, karena gw jadi koordinator ilmiah latihan ekskavasi 2001, gw rasa gw butuh hape buat komunikasi sama panitia lainnya,

baru hari pertama gw cek ke lapangan, di deket holywod UI, eh hape itu ILAAAANG!!!!sial banget! seingat gw gw taro di kantong celana tuh, trus mungkin jatuh kali ya pas lagi nrabas2 rumput ilalang yang setinggi2 tubuh gw,

gw ngerasa lemes en ga enak banget sama bokap, pa lagi pas gw langsung balik hari itu en bilang hapenya ilang......untungnya bokap bilang its okay, kalau udah ilang mau gimana lagi? (wise eh!)

abis itu gw rada trauma punya hape, en emang akhirnya gw putusin ga punya hape sampe 2003, pas mau kunjungan lapangan skripsi di plawangan, yogya, en bali, gw bawa erikson hiu R310 yang udah rada soak, batere maupun isi hapenya sering hang, en kayanya nih hape ada mahluk halus yang menghuni, sering banget tiba2 mati sendiri, trus nyala sendiri juga, hiiiii samaan tuh sama kipas angin di gudang artefak balai arkeologi denpasar yang pas gw buka pintu gudangnya tiba2 kipas anginya, yang ditempel di plafon, tiba2 muter kenceng! hua4

si hiu nemenin sampe desember 2004, pas gw balik dari ekskavasi di pacitan, bgt sampe rumah, gw langsung minta nyokap bt modalin gw beli hape, rada tengsin sih, tapi mau gimana lagi? wong akhirnya ngerasa butuh, gw dimodalin 800 rebu, en gw ke roxy, cari siemens ME45 yang cool abis

hape kecil itu nemenin gw sampe 2006, gw tandemin sama O2, gw beli o2 mini karena setelah kerja jadi wartawan en ngliput di makro itu gempor banget kalau ngandelin warnet,makan ati ngeliat anak2 lain sibuk ngetik dengan nyaman di 9300 or 9500 sementara gw nyatet omongannya sri mul, burhanuddin, atawa boediono, cs sambil masih mikir, nti harus ngetik di warnet ya bow!!!

tapi ME45 akhirnya nyerah!karena keseringan jatuh (sebetulnya sengaja, pengen liat kuat bener ga ya?kan iklannya bilang hape itu tahan banting, debu, en air)

begitu ME45 pensiun,gw cm pake O2, tapi lama2 mikir gw harus punya hape satu lagi, abis kalau pake o2 aja baterenya cepet banget abis, udah buat ngetik, buat sms, buat nelpon, buat nonton video2 ya boros batere

gw coba tandemin sama nokia jadul 3210 yang batere originalnya dah ga dijual lagi, jadi pake batere abal2, tpi masa baru enam jam dah mati, drop banget, sampe satu titik kesel, gw putusin akhirnya harus BELI hape

for this one,hape itu harus unik,tadinya sempet mikir2 mau beli siemens SX1 item yang cool banget, or phillips biar baterenya ga usah dicharge sepekan,tapi nyarinya susye banget, SX1 jarang, en baterenya parah, sementara phillips off budget en (ini salah satu faktor penting buat hape guys!) tutsnya phillips itu asli ga enak banget!!!keras en ga ergonomis, ga kaya nokia (nokia emang paling woke en user friendly dah)

pucuk cinta diulam tiba, ketika lagi iseng di ITC cempaka mas, ketemu hape yang dah lama banget gw incer nokia 6250!!!! iklannya dulu bilang the toughest phone nokia ever build!gile kan?gimana ga kesengsem! gw pertama kali ngeliat hape ini dipake sama wendy anak IKJ waktu gw jadi panitia JIFFEST 1999, its really cool

harganya ternyata masih tinggi, tapi karena jarang (di salah satu blog dibilang hape ini terbatas banget di indonesia, konon cuma ada 100 biji en gw punya salah satunya hua3) tapi pas gw jalan ke roxy ternyata cukup banyak yang jual

kata penjualnya, itu barang bekas, en emang dah jarang yang jual, tapi sebagian lagi ngaku kalau itu barang rekondisi dari taiwan en hongkong, masuk via pintu belakang ke jakarta, tapi watever!!!! sampe saat ini 6250 ga pernah ngecewain kok, suara bagus, batere kuat (tiga hari) ergonomis en cool, en satu lagi jarang, he3

tapi saking tebelnya, seorang oknum yang lugu (atau niat ngejek) sempat bilang ''wah nokia baru stev? seri 9300 yang mana? coba dong dibuka, gw mau liat layar di dalemnya kaya gimana'' (ngehe banget kan?) dah jelas hape terbitan 1999 itu ga bisa dibuka kaya seri comunicator!!!

ROOTS

'I closed my eyes and imagined her in a long, black dress
She turned and looked towards the sky
Sher raised her arms upwards to catch
the air, the sun and the clouds. Her arms turned to wings
But when the wind lifted her heavy, black dress
I saw that she had roots in the place of feet
Powerful roots reaching deeply into the earth
I realised that she would never fly'

excerpt from Ana Rodic's 'ROOTS' (2000); taken from Asne Seierstad's With Their Backs to the Worlds (2004)

Friday, February 8, 2008

THE LIFE LIST

Martabak Favorit Bandung Rawamangun, depannya Apotik Rini Rawamangun / Tiptop
Martabak Mesir Kubang, Jl. Sahardjo
Martabak Bandung, di Manggarai jalan Minangkabau (3A kalau nggak salah mereknya)
Martabak Tendean, di Restoran Mbok Berek Tendean
Martabak Bandung Fatmawati, dkt Perempatan Cipete, yang enak yang sebelahnya Toko Karpet
Martabak Bangka TOMANG, tempat persisnya gue lupa
Martabak Spotlite, (1) Jl. Fatmawati; (2) Jl. Cinere Raya
Martabak Bandung Blok M, deketnya Duta, Barito
Martabak Pela, cabangnya martabak Barito
Martabak Bangka yang deket RCTI, deket toko buah
Martabak Telor Cikini, seberang Hias Rias, didepan pengadilan tinggi
Martabak Bandung Santiago, di jl. Fatmawati, depan showroom Suzuki/Citra Asri Buana, kalo dari Blok A, setelah Pasar Cipete, sebelum jalan Sawo.

setelah berselancar di internet, akhirnya ketemulah daftar apa yang akan gue lakukan seumur hidup ini (di jakarta), hunting martabak tentunya! (my God)

tapi ternyata setelah disigi-sigi, sebagian besar dari martabak di daftar ini udah gw jajal, malahan daftarnya parah, ga masukin di kelapa gading (martabak durian, martabak holland) en the worse, mereka gak masukin Martabak Rudi (The Legendary!!!) di Pasar Baru, payah juga ternyata yah! oia belum yang di depok, di sekitar 100 meter sebelum kober, itu martabak mantap punya, legit, gurih, en khas rasanya, he5

hunting martabak tentu bakal bikin masalah baru, which is kolesterol en kolesterol en kolesterol en kolesterol, tapi namanya The Life List ya risikonya gw terima lah! =) mari berburu!

Sunday, January 27, 2008

Noah : Will u just stay with me?

Allie : Stay with u? What for? Look at us! We already fighting!

Noah : Well, that's what we do! We fight! U tell me I’m being a son of arrogant bitch, and I tell u, ur being pain in the ass... Which u are...99% of the time!

I’m not afraid to hurt ur feelings... They're like a two seconds rebound rate... And ur back doing the pain in the ass thing!

Allie : So what??

Noah : So its not going to be easy! Its going to be very hard... And we have to work at this everyday... But I want to do it because I want u... I want all of u... Forever... U and me... Everyday...

Will u do something for me? Please.. U just picture ur life for me... 30 years from now... 40 years from now...

What’s it look like? If its with that guy, go! Go!...

I lost u once I think I can do it again... If u thought that's what u really wanted. But don't u take the easy way out!

Allie : What easy way? There is no easy way... No matter what I do, somebody get hurt...

Noah : Will u stop thinking about what everybody wants? Stop thinking about what I want... What he want... What ur parents want... What do you want? ... What do u want??

Allie : Its not that simple...

Noah : What do u want?! Goddammit! What do u want?

Allie : I have to go...

..........

The Notebook the movie

Saturday, January 26, 2008

Pakistan It Is!!!!!

''Udah ke luar negeri ke mana aja stev?'' tanya Kang Arys di suatu malam, awal Desember lalu. Kami berada di ruang kerjanya yang mungil namun sejuk. Baru saja membahas isu dana BI ke DPR dan mengapa Republika telat meliput. Tumpukkan buku dan koran berserakkan di atas meja dan lantai.

''Wah..kalau Malaysia dianggap ke luar negeri, saya baru ke situ Mas,'' jawabku. ''Tapi buat saya, Malaysia mah Bukan luar negeri Mas. Wong ke Ambon aja lebih lama dari ke sana,'' sambungku menyindir Redaktur Pelaksana Republika ini.

Kang Arys tersenyum mendengar jawabanku. Aku berpikir pasti ada tawaran menarik buat jalan-jalan. Minimal tidak di Asia Tenggara lagi.

''Liputan ke daerah perang mau?'' tanya pria yang pernah menjadi Kabiro Bandung Republika ini. Ini yang kutunggu, pikirku dalam hati. Saat itu yang kupikir adalah liputan penuh adrenalin, ketegangan, dan situasi mencekam. Medan liputan impian tiap wartawan. Seharusnya.

''Mau-mau Mas!'' jawabku dengan cepat. Aku tersenyum lebar. Khayalanku melayang. Mau dikirim ke mana? Timtim sempat terlintas dalam benakku. Negara kecil yang dilepas Indonesia itu memang dalam keadaan gawat. Perang sipil terus merobek negara yang sudah koyak itu.

Atau Timteng? Dulu aku pernah ditawari ke sana. Saat perang saudara berkecamuk di Lebanon. Yang menawarkan langsung Pak Kiram. Katanya Republika diundang untuk mendampingi rombongan pemuka agama nasional 'melancong' ke Palestina dan Lebanon. Tapi entah apa sebab rombongan itu tak jadi berangkat. Padahal aku sudah bikin paspor.

''Ke Pakistan mau?''. Mata Kang Arys langsung menatap mataku.

''Mau Mas!'' jawabku langsung, tanpa pikir panjang. Otakku langsung menggali memori. Sampul majalah Newsweek akhir Oktober lalu. Gambarnya seseorang tengah berusaha melempar sesuatu, tubuhnya diselimuti asap. Tulisannya berwarna merah, 'Pakistan, The Most Dangerous Place on Earth is not Iraq, is Pakistan'. Mantap!!

''Beneran kamu mau?'' katanya menegaskan. Matanya kembali menatap mataku. Mencari secuil rona ragu. Tapi tidak ada. ''Mau Mas!'' kataku lagi.

Jadilah aku akan ke Pakistan. Tadinya kunjungan itu dijadwalkan awal Januari. Saat negeri pecahan India itu bersiap untuk menggelar Pemilu. Pakistan butuh publikasi positif tentang negaranya setelah Presiden dari militer, Perves Musharaf melakukan sejumlah langkah kontroversial, yaitu memecat mayoritas hakim agung yang kritis dan mengosongkan hampir 90% mahkamah agung negaranya.

Hujatan atas sikap ini langsung menyeruak. Dari dalam dan luar negeri. Pakistan rusuh. Ribuan pengacara demo. Bush, yang merupakan pelindung Musharaf sampai mempertanyakan langkah ini. Bahkan tokoh oposisi Bhenazir Bhutto pun berniat pulang dengan harapan ikut pemilu dan kembali memimpin Pakistan.

Namun tewasnya Bhutto akibat di bom hampir menggagalkan rencana itu. Bahkan aku sudah pasrah. Berita di koran menyatakan pemilu Pakistan tak tentu kapan. Ini pasti batal, pikirku. Bukan rezekiku lah, aku pasrah. Eh ternyata tidak! ;D

Wednesday, January 23, 2008

Saat Generasi MTV Meliput Pak Harto

Mereka datang laksana air bah ke Rumah Sakit Pusat Pertamina (RSPP), begitu mengetahui Soeharto terbaring di sana sejak Jumat (4/1) pukul 14.15 WIB. Ada tokoh pemerintah, tokoh politik, artis, mantan pejabat, hingga wartawan. Hari pertama Pak Harto menempati Presidential Suite, lantai 5, kamar 536, pengunjung belum banyak.

Yang terlihat hanya orang dekat seperti Wismoyo Arismunandar, Prabowo Subianto, dan Moerdiono. Tapi, Sabtu (5/1) siang hingga malam, lobi Gedung A RSPP tak henti-hentinya kedatangan mobil mewah. Hari itu, memang terbetik kabar bahwa kondisi kesehatan Pak Harto menurun, bahkan sempat kritis.

Karangan bunga juga terus berdatangan. Jumat, karangan bunga langsung diantar ke lantai lima. Sabtu, sudah memenuhi lobi seluas dua kali lapangan bulu tangkis. Selasa (8/1) siang, karangan bunga itu dilokalisasi di lorong menuju lift Gedung A. Sebagian besar terlihat sudah layu. Sejak Jumat malam, wartawan media cetak dan elektronik tumplek blek di RSPP. Pada Jumat, Sabtu, dan Ahad, jumlahnya 70-an orang. Kemarin, saat kondisi Pak Harto dikabarkan drop kembali, jumlahnya mencapai di atas 100.

Mereka bukan cuma menunggu di lobi Gedung A. Mereka juga nongkrong dekat kamar jenazah, kantin samping Gedung A, hingga ruang UGD. Berharap ada tokoh atau dokter yang datang atau pulang lewat jalan belakang. Mencegatnya, untuk mendapatkan informasi eksklusif.

Camelia Malik, Bustanul Arifin, Moerdiono, dan Hayono Isman, yang saban hari datang, punya pola berbeda. Camelia Malik selalu datang lewat pintu depan, pulang lewat pintu belakang. Moerdiono dan anak-anak Soeharto, datang dan pulang lewat belakang, dekat kamar jenazah. Hayono Isman dan Bustanul Arifin yang selalu lewat depan. Kemarin, Halimah juga lewat belakang, dekat kantin.

Sejak Jumat, tunggu-menunggu di Lobi Gedung A RSPP tak kunjung surut. Maklum, jumpa pers kondisi kesehatan Pak Harto, hanya dilakukan pagi. Tak ada penjelasan pada siang, sore, dan malam hari. Padahal, laporan harus selalu disetor. Alhasil, setiap tokoh yang ingin atau sudah menjenguk Pak Harto, setiap mobil yang berhenti di depan lobi, langsung diserbu. Bagi yang wajahnya sudah familiar, tentu mudah dimintai keterangan. Lain soal kalau tak dikenal.

Masalah kenal-mengenal ini ada cerita tersendiri. Peliput kebanyakan wartawan muda, generasi MTV yang lahir akhir 1970-an atau awal 1980-an. Sementara pengunjung rata-rata menjadi pejabat saat para wartawan masih berseragam merah putih atau putih biru. Di situlah serunya. Sabtu sore, dari mobil mewah berwarna gelap, seseorang bertampang pejabat berhenti di depan lobi Gedung A. Sontak, wartawan bergerak merubungnya. Kamera siap merekam dan menjepret, reporter sudah menyorongkan mic dan alat perekam lain, rentetan pertanyaan sudah disiapkan.

Tapi, begitu sang pejabat keluar dari mobil, jreeengggg, tak seorang pun mengenalinya. Sunyi sejenak. Para wartawan melongo, menoleh ke kiri dan kanan.

''Sapa tuh?''

''Siapa ya?'' Celetukan itu bertaburan.

''Kenal gak?''

''Nggak tuh. Menteri kali?''

Tapi, dengan kadar kecuekan tingkat tinggi, para reporter langsung memberondongnya, ''Pak, namanya siapa?''

''Mau jenguk Pak Harto, ya?''

''Pak, dulu jabatannya apa?''

Mulanya, dia kaget. Tapi kemudian senyam-senyum. Begitu pula wartawan yang sampai akhir tak berhasil mengorek identitasnya.

Tebak-tebakan pun muncul. ''Kayaknya mantan menteri pertambangan dulu deh. Wajahnya sih mirip Pak Sadli.''

''Heh, menteri tahun berapa tuh?'' tanya wartawan lain.

''Ah, bukan tuh. Wajahnya mirip Bustanul Arifin, mantan menteri koperasi.''

Wartawan lain, dengan wajah bingung, bertanya, '''Hah? Bustanul siapa?''

Sampai Senin (7/1), peristiwa serupa masih terulang, saat seseorang turun dari Volvo di depan lobi Gedung A. ''Mau jenguk Pak Harto, Pak?'' Dia menjawab, ''Iya.'' Tapi, usai wawancara, para wartawan kembali saling pandang, ''Siapa tadi ya?''

Mengorek informasi dari karangan bunga, juga punya kisah unik. Biasanya, begitu karangan bunga masuk lobi, para wartawan langsung merubung kurir. Suatu ketika, melihat kartu nama bertulis Anthony terselip di karangan bunga lili, seorang wartawan bergumam, ''Wah, jangan-jangan dari Anthony Salim.''

Kendati belum pasti, seorang wartawan yang mendengarnya langsung membuat pengumuman: ''Eh, ada karangan bunga dari Anthony Salim.'' Tapi, sambil melongo, sebagian wartawan malah bertanya, ''Siapa tuh Anthony Salim?''

Ada lagi yang aneh bin ajaib. Jumat lalu, melihat kurir susah payah mengangkat pot besar, seorang wartawan televisi bertanya, ''Karangan bunga dari siapa, Pak?'' Sang kurir menjawab sekenanya, ''Tidak tahu, Mas. Katanya sih dari Fuad Hassan.''

Dan, si wartawan langsung menyebarkannya. ''Fuad Hassan ngirim karangan bunga, tuh.''

Terang saja protes muncul. ''Mana mungkin?! Salah kali lu.''

Tapi dia ngotot. ''Gimana salah? Kurirnya yang bilang sendiri.''

Dengan kesal, wartawan lain meledek. ''Woi! Fuad Hassan udah meninggal. Gimana bisa ngirim karangan bunga?''

Masih ada lagi. Melihat Sudwikatmono yang punya ikatan darah dengan Pak Harto tiba di lobi, dia langsung diserbu dan diberondong pertanyaan. ''Bagaimana kondisi Pak Harto, Pak?''

''Sudah bisa berkomunikasi?''

''Selang di tubuhnya ada berapa, Pak?''

''Anak-anaknya lengkap Pak?''

''Ada Tommy, Pak?''

Mulut pengusaha yang berjalan tertatih dipapah ajudannya itu sempat bergumam, tapi tak sepatah kata pun keluar. Tapi, berondongan pertanyaan tak berhenti, sampai dia naik mobil. Seorang polisi geleng-geleng kepala melihat kejadian itu. ''Busyet dah, wartawan. Tega bener. Udah liat jalan gitu masih aja ditanya. Untung gak pingsan,'' katanya, sambil tersenyum. Ya, namanya juga wartawan, Pak.