Saturday, January 26, 2008

Pakistan It Is!!!!!

''Udah ke luar negeri ke mana aja stev?'' tanya Kang Arys di suatu malam, awal Desember lalu. Kami berada di ruang kerjanya yang mungil namun sejuk. Baru saja membahas isu dana BI ke DPR dan mengapa Republika telat meliput. Tumpukkan buku dan koran berserakkan di atas meja dan lantai.

''Wah..kalau Malaysia dianggap ke luar negeri, saya baru ke situ Mas,'' jawabku. ''Tapi buat saya, Malaysia mah Bukan luar negeri Mas. Wong ke Ambon aja lebih lama dari ke sana,'' sambungku menyindir Redaktur Pelaksana Republika ini.

Kang Arys tersenyum mendengar jawabanku. Aku berpikir pasti ada tawaran menarik buat jalan-jalan. Minimal tidak di Asia Tenggara lagi.

''Liputan ke daerah perang mau?'' tanya pria yang pernah menjadi Kabiro Bandung Republika ini. Ini yang kutunggu, pikirku dalam hati. Saat itu yang kupikir adalah liputan penuh adrenalin, ketegangan, dan situasi mencekam. Medan liputan impian tiap wartawan. Seharusnya.

''Mau-mau Mas!'' jawabku dengan cepat. Aku tersenyum lebar. Khayalanku melayang. Mau dikirim ke mana? Timtim sempat terlintas dalam benakku. Negara kecil yang dilepas Indonesia itu memang dalam keadaan gawat. Perang sipil terus merobek negara yang sudah koyak itu.

Atau Timteng? Dulu aku pernah ditawari ke sana. Saat perang saudara berkecamuk di Lebanon. Yang menawarkan langsung Pak Kiram. Katanya Republika diundang untuk mendampingi rombongan pemuka agama nasional 'melancong' ke Palestina dan Lebanon. Tapi entah apa sebab rombongan itu tak jadi berangkat. Padahal aku sudah bikin paspor.

''Ke Pakistan mau?''. Mata Kang Arys langsung menatap mataku.

''Mau Mas!'' jawabku langsung, tanpa pikir panjang. Otakku langsung menggali memori. Sampul majalah Newsweek akhir Oktober lalu. Gambarnya seseorang tengah berusaha melempar sesuatu, tubuhnya diselimuti asap. Tulisannya berwarna merah, 'Pakistan, The Most Dangerous Place on Earth is not Iraq, is Pakistan'. Mantap!!

''Beneran kamu mau?'' katanya menegaskan. Matanya kembali menatap mataku. Mencari secuil rona ragu. Tapi tidak ada. ''Mau Mas!'' kataku lagi.

Jadilah aku akan ke Pakistan. Tadinya kunjungan itu dijadwalkan awal Januari. Saat negeri pecahan India itu bersiap untuk menggelar Pemilu. Pakistan butuh publikasi positif tentang negaranya setelah Presiden dari militer, Perves Musharaf melakukan sejumlah langkah kontroversial, yaitu memecat mayoritas hakim agung yang kritis dan mengosongkan hampir 90% mahkamah agung negaranya.

Hujatan atas sikap ini langsung menyeruak. Dari dalam dan luar negeri. Pakistan rusuh. Ribuan pengacara demo. Bush, yang merupakan pelindung Musharaf sampai mempertanyakan langkah ini. Bahkan tokoh oposisi Bhenazir Bhutto pun berniat pulang dengan harapan ikut pemilu dan kembali memimpin Pakistan.

Namun tewasnya Bhutto akibat di bom hampir menggagalkan rencana itu. Bahkan aku sudah pasrah. Berita di koran menyatakan pemilu Pakistan tak tentu kapan. Ini pasti batal, pikirku. Bukan rezekiku lah, aku pasrah. Eh ternyata tidak! ;D

1 comment:

iras said...

wah kayaknya lo mesti mulai jogging tep. biar nti gampang lari kalau ada apa2 di sana :p hihihihi