Friday, August 15, 2008

Ah, God, the way your little finger moved

As you thrust a bare arm backward
And made play with your hair
And a comb a silly gilt comb
Ah, God—that I should suffer
Because of the way a little finger moved.

- Stephen Crane

Monday, August 11, 2008

Rasa Papua di Amerika

Berapa banyak kedai kopi Starbucks di negara asalnya, AS? Situs resmi Starbucks menyebut angka 11.168 kedai. Sebanyak 7.087 kedai dioperasikan oleh Starbucks sendiri, dan sisanya diwaralabakan.

Nama Starbucks berasal dari novel Moby Dick, yang ditulis oleh Herman Melville pada tahun 1851. Seratus dua puluh tahun kemudian, di Kota Seattle, kedai pertama Starbucks dibuka.

Gerainya terkenal dengan warna hijau, logo bulat bertuliskan Starbucks Coffee dan gambar perempuan berambut panjang dengan tiga mahkota. Ia tersebar di 50 negara bagian AS, termasuk di Distrik Columbia.

Jutaan orang AS tiap hari menyeruput kopi dari gelas karton Starbucks. Perusahaan milik konglomerat Yahudi, Howard Schultz ini harus menyediakan 160 juta kilogram kopi per tahun, tidak hanya untuk AS tapi juga 1.749 gerainya di 43 negara di luar AS.

Kopinya dibeli dari 25 negara di seluruh dunia, termasuk Indonesia dengan harga rata-rata 3,16 dolar AS per kilogram.

***

Ribuan kilometer dari AS, di wilayah Pegunungan Tengah Papua, tersembunyi di balik rimbunnya hutan lebat, sebuah kabupaten kecil bernama Dogiyai mengikat kerjasama dengan Starbucks AS.

Dogiyai, kabupaten yang terdiri atas tujuh distrik berpenduduk 51.805 jiwa yang baru dimekarkan, akan mengekspor dua peti kemas kopi jenis Arabica ke AS. Untuk dinikmati jutaan penggila kopi AS.

Kontrak pasokan kopi ini diungkap Gubernur Papua, Barnabas Suebu, saat meresmikan Kabupaten Dogiyai menjadi kabupaten sendiri, lepas dari Kabupaten Nabire, Juni lalu. Peresmian itu juga dihadiri Mendagri Mardiyanto.

Tak mudah mencapai Dogiyai, dari sudut manapun di Papua. Penumpang harus singgah berkali-kali di sejumlah bandar udara. Jakarta, harus singgah di Bandara Hasanuddin, Ujung Pandang. Penerbangan lalu dilanjutkan ke Kepulauan Biak Numfor, yang terletak di utara Papua. Sepanjang penerbangan kita disuguhi dua warna, birunya lautan dan hijaunya gundukan pulau-pulau kecil yang terserak.

Dari Bandara Frans Kaisepo, Biak, perjalanan dilanjutkan dengan pesawat baling-baling ke Bandara Nabire, yang terletak di wilayah Pegunungan Tengah Papua. Di sini warna dominan hanyalah hijau. Hutan berbukit layaknya selimut hijau yang dihamparkan ke seluruh Papua. Kadang diselingi bukit cadas berwarna putih. Rumah tradisional yang dibangun dari kayu dan daun rumbia berwarna cokelat, Honai, tampak seperti jamur-jamur mungil dari atas pesawat.

Perjalanan belum selesai, meski sudah tiba di Bandara Nabire. Rombongan harus berkendara sekitar tiga puluh menit, menembus hutan, berpapasan penduduk yang masih setia dengan koteka dan ibu-ibu dengan tas noken yang disematkan di dahi. Belum termasuk dihadang berbagai ukuran babi.

Kabupaten Dogiyai terpenci dan kecill. Luasnya hanya 4.237,4 kilometer persegi terdiri atas tujuh distrik yang dihuni oleh 51.805 jiwa penduduk. Ibukotanya adalah sebuah kampung bernama Kigamani.

Jarang sekali ditemukan rumah berdinding semen. Mayoritas rumah, selain Honai, terbuat dari kayu. Alasannya sepele, Nabire adalah daerah tempat gempa menghampiri. Tahun 2004 saja, dua kali Nabire diguncang Gempa. Ratusan rumah rubuh, termasuk perkantoran DPRD yang terletak di dekat Bandara Nabire.

Di sebuah lapangan sepak bola bernama Sapta Marga, di Kampung Kigamana, Sabtu pekan lalu Mendagri meresmikan Kabupaten Dogiyai. Sebagai Bupatinya, Mardiyanto melantik mantan Sekretaris DPRD Nabire, Adauktus Takerubun, pria bertubuh gempal dan berwajah serius.

Peresmian kabupaten menjadi tontonan warga setempat. Mereka berkerumun rapi di sekitar lapangan bola. Pria perempuan, tua muda, tinggi pendek, besar kecil, berbaju maupun berkoteka. Di tengah lapang, sebagai peserta upacara peresmian berdiri kelompok tentara, polisi, polisis pamong praja, pegawai negeri sipil, dan siswa sekolah.

Tak jauh dari Lapangan Sapta Marga, puluhan warga dengan pakaian adat menggelar unjuk rasa. Berbeda dengan unjuk rasa di Jakarta, di Papua tak cuma poster dan spanduk yang diusung dan diangkat tinggi-tinggi. Tombak tajam juga turut diarak dan diacung-acungkan. Teriakan orasi unjuk rasa tentang pemilihan kepala daerah sahut menyahut dengan teriakan khas suku setempat.

Dalam pidato sambutannya itulah, Gubernur Papua Barnabas Suebu mengungkapkan kerjasama Starbucks dengan Dogiyai. Kerjasama yang boleh dibilang unik. Starbucks yang kedai kopinya ibarat gurita dengan ribuan tentakel di seluruh dunia, dipasok kopi dari sebuah daerah antah berantah di tengah hutan di dataran tinggi Papua.

****

''Potensi pertanian di Dogiyai sangat besar. SAlah satunya adalah kopi jenis arabica, yang termasuk salah satu kopi kualitas tertinggi di dunia. Starbucks AS sudah pesan dua peti kemas dari Dogiyai untuk diekspor tiap bulan ke AS,'' cetus Barnabas dihadapan ratusan penduduk Dogiyai yang menghadiri peresmian kabupaten mereka.

Mendengar hal ini, para pejabat berjas rapi dan berbatik bersama-sama dengan penduduk sekitar yang mengenakan kaos maupun hanya berkoteka bertepuk tangan meriah.

Barnabas Suebu melanjutkan pidatonya, ''Kopi Arabica Papua sangat khas. Ia tidak bisa dicampur dengan kopi lain. Harganya bahkan lebih tinggi dari kopi Arabica dari Toraja. Semoga dengan kerjasama yang didukung oleh USAID ini membuat masyarakat Dogiyai giat menanam kopi,''. Lagi-lagi hadirin tepuk tangan dengan meriah.

Ternyata tak hanya Dogiyai yang punya potensi kopi untuk diekspor. Gubernur Papua, dalam peresmian lima kabupaten lain di Wamena, kembali mengatakan hal serupa. Menurutnya masyarakat Papua harus pandai-pandai memilih komoditas yang memberi keuntungan memadai pada petani.

''Salah satu contoh komoditas Papua yang memiliki kriteria dan prospek sangat baik adalah kopi bio atau kopi organik yang dihasilkan di Kabupaten Jayawijaya. Potensi kopi ini terbuka di semua kabupaten di pegunungan tengah,'' katanya di depan ribuan warga yang memenuhi Lembah Baliem, Wamena.

Barnabas lantas mengingatkan soal kendala pengembangan kopi itu. Katanya, salah satu masalah terbesar di Papua adalah transportasi. Ongkos angkut dari wilayah pegunungan tengah ke pelabuhan di pesisir masih mahal, karena menggunakan pesawat udara. Butuh jutaan rupiah untuk mengangkut dua peti kemas berisi kopi arabica Papua dengan pesawat komersil.

Ia tetap mencoba optimistis, dengan berharap ekspor langsung tanpa dicampur kopi lain itu membuat harga Arabica Papua di pasar internasional tetap tinggi. ''Bila kopi ini dikembangbiakkan dengan baik di berbagai tempat di Pegunungan Tengah, pasti akan terjadi perubahan mendasar dalam struktur ekonomi masyarakat,'' katanya lagi.

Dengan kopi, Papua kembali berusaha memperbaiki kesejahteraannya. Setelah dengan emas yang dikeruk Freeport dan gas yang disedot oleh British Petroleum tak kunjung berhasil memperbaiki taraf hidup warga Papua.

'Ngomong - ngomong' seperti apa sih nikmatnya kopi Arabica Papua? Bagi yang sempat mencicipi, boleh jadi mengatakan mantap. Kenikmatannya berlangsung perlahan-lahan.

SEsaat memasuki rongga mulut, rasa kopi encer namun keras menyeruak di tenggorokan. Rasa kopinya menempel di seluruh dinding kerongkongan. Baru kemudian turun ke perut, di sini sensasi utama terasa. Perlahan demi perlahan hangat kopi Papua dan rasa 'khas' itu menyebar. Di mulai dari mulut, kerongkongan, perut, ke seluruh tubuh. Mantap sekali.

Jadi, kalau Anda kebetulan ada di AS dan beli kopi di Starbucks, jangan lupa mungkin salah satu pesanan kopi Anda berasal jauh dari hiruk pikuk kapitalisme dan modernisasi kehidupan kota. Di Dogiyai dan sejumlah distrik lainnya di Pegunungan Tengah Papua, para petani kopi Papua bisa dengan bangga berkata, ''Kami memasok kopi ke pusat dunia,''.

Warisan Mimintok Mabel

Saya mengenal Mimintok Mabel, penduduk Kurulik Papua, saat kuliah tahun 2000-an. Kami tidak pernah bertemu muka. Saya mengenalnya dari buku yang saya temukan di gelaran buku bekas di kampus sastra UI Depok.

Bersampul kuning lusuh dengan gambar pahatan Asmat mirip patung batu raksasa di Pulau Paskah, judul bukunya 'Mumi Dinasti Kurulik'. Penulisnya seorang dokter yang tinggal di Papua. Naskah cerita petualangan yang ia kirim ke Jakarta itu menang salah satu sayembara cerita film terbaik tahun 70-an.

Bahkan waktu menginjakkan kaki di Wamena Papua, pulau yang saya idam-idamkan untuk kunjungi, pertengahan Juni lalu tidak terlintas pikiran untuk bertemu Mimintok Mabel. Saya baru sadar kesempatan itu saat diberitahu supir Kijang milik pemda Wamena ketika saya tanya, ''Tolong antarkan saya ke Lembah Baliem,''.

Lembah Baliem bagi saya adalah salah satu tujuan hidup. Sama seperti bertemu Mimintok Mabel. Saya menyerap kata Baliem dari buku petualangan, etnografi, atau penjelajahan di Pegunungan Tengah Papua. Daerah yang disesaki gunung ibarat taring-taring tajam. Berselimutkan hutan hijau dan salju abadi Puncak Jayawijaya. Satu-satunya di Indonesia.

''Di mana lokasi wisata terdekat? Antarkan kami ke sana,'' pinta saya bersama Rahmat, wartawan televisi swasta nasional.

''Ada Pak. Mumi Kurulik. Mau ke sana?'' jawab Frans sembari mengendarai Kijang warna gelap itu, menghindari kerumunan penduduk Papua yang berdiri di depan hotel. Kami mengangguk. Mendengar kata Kurulik, ingatan saya langsung kembali ke buku itu.

Kesempatan, pikir saya dalam hati. Waktu jamuan makan malam resmi dengan Mendagri Mardiyanto dan Gubernur Papua Barnabas Suebu masih dua jam lagi. Petang hari di Papua justru belum terlalu gelap. Matahari bahkan belum berwarna oranye dan langit masih cerah.

Frans membawa mobil dengan cepat. Kijang itu melesat di satu-satunya jalan aspal yang membelah alam Wamena. Tidak ada nama jalan di sini. Yang diketahui hanya arah. ''Ini menuju ke atas, pegunungan,'' tunjuk Frans ke depan jalan.

Kanan kiri jalan adalah ladang atau padang rumput berwarna emas. Menempel di belakangnya cadas-cadas berwarna abu-abu menjulang ke langit. Di kejauhan, langit, awan, dan cahaya matahari berbaur membentuk siluet biru pucat.

Udara Wamena yang sejuk membuat berdiri bulu kuduk saya. Menghirup udara pegunungan seperti itu tentu sangat berharga bagi warga Jakarta yang tiap hari disesaki asap polusi dari rokok dan knalpot kendaraan. Saya membuka jendela mobil lebar-lebar. Membiarkan angin dingin menerpa wajah dan masuk membersihkan paru-paru.

Beberapa honai berwarna cokelat, rumah adat Papua, menyempil di balik rimbunnya padang rumput. Honai itu lebih mirip jamur raksasa dengan pintu. Jarak antartetangga ternyata cukup jauh. Tidak seperti di kota besar yang berdempetan. Antara honai bisa terpisah padang rumput hingga satu kilometer.

Frans membeberkan, sangat jarang tiap jengkal tanah di Wamena adalah tanah kosong. Hampir semua sudah dipatok, ada harganya. Meski di lokasi yang relatif sepi, harganya bisa ratusan juta rupiah. Dan sialnya, yang punya sebagian besar bukan warga lokal.

Di jalan kami berpapasan dengan penduduk asli. Pria-pria bersahaja yang berkulit hitam mengkilat berjalan bersama perempuannya yang telanjang dada. Bibir tebal mereka selalu tersenyum. Yang pria mengenakan koteka cokelat dan tombak sementara kaum perempuan membawa noken, tas dari akar yang disampirkan ke dahi.

Kadang malah kami berpapasan dengan piaraan mereka, babi-babi kecil berwarna cokelat dan hitam. Menguik-nguik menyingkir dari jalan setelah diklakson mobil.


****

Sekitar 30 menit berkendara, Frans membelokkan mobilnya keluar dari jalan utama. Kami pindah jalur ke jalan tanah yang bergelombang. Dinaungi pohon-pohon besar dan ilalang tinggi yang rapi. Sekitar 50 meter mobil masuk dan tiba di parkiran seluas lapangan bulu tangkis. Dari luar, sejumlah bocah Papua sudah merubung mobil.

Frans membawa kami masuk ke sebuah perkampungan. Sebenarnya disebut kampung terlalu besar. Karena yang ada hanyalah beberapa honai didirikan berdempet-dempet. Ada dua lajur honai yang dibelah jalan tanah becek berwarna cokelat. Bau asap merebak di udara.

Kami bersalaman dengan Jacobus Mabel. Seorang pria kekar bermata ramah yang tak mengenakan koteka. Jacobus sudah tersentuh mode pakaian, tubuhnya dibalut jins dan kemeja. Tapi dengan begitu, ia kontras karena saudara-saudarinya masih setia dengan koteka dan bertelanjang dada.

Yang anak-anak, beberapa di antaranya kena flu akut karena ingusnya meleleh kental, mengenakan celana pendek sebetis. Mereka selalu tertawa. Yang perempuan berceloteh gembira dalam bahasa Papua. Sebentar-sebentar mereka tergelak dan menyapa kami bertiga.

''Mau lihat mumi?'' tanya Jacobus pelan. Ia tampaknya sudah tahu apa keinginan tamu yang berkunjung ke daerahnya. Saya mengangguk sambil tersenyum lebar. Jacobus berbalik badan, menghilang ke dalam honai di belakangnya.

Tak lama kemudian ia muncul. Kedua tangannya mencengkeram benda berwarna hitam. Itu ternyata jenazah Mimintok Mabel, mumi Kurulik yang termahsyur.

Mendengar kata mumi, umumnya yang teringat adalah orang tinggi besar berbalut kain usang berwarna kusam, dan hanya meninggalkan sobekan lubang untuk mata. Mumi Mesir dari dalam piramid.

Mimintok Mabel beda. Ini mumi khas Papua Indonesia. Tak butuh kain untuk membalut. Ia dibalsem lalu diasapi, begitu menurut Jacobus, apa adanya. Mumi lantas ditidurkan bersama keluarga dalam honai.

Menjadi mumi, jelas Jacobus adalah pilihan dan wasiat. ''Apa nanti mau juga jadi mumi?'' saya bertanya ke Jacobus. Ia tersenyum lalu menggeleng. ''Oh tidak..tidak,''.

''Anggota keluarga mungkin?'' saya mengedarkan pandangan ke sejumlah kerabat Jacobus. Mereka hanya bengong melihat saya. Jacobus kembali menggeleng.

Saya berpikir, kasihan Mimintok Mabel, anak cucunya tak ada yang mau jadi mumi. Maka ia harus menanggung beban digotong dan diarak keluar masuk honai paling tidak satu generasi lagi.

Mimintok Mabel berusia 365 tahun. Jacobus tak tahu ketika saya tanya kapan tepatnya nenek moyangnya lahir. Itu berarti Mimintok Mabel hidup di alam Papua yang masih perawan. Belum ada zending (misi kristen Belanda) yang berani datang ke sana.

Di Jawa, tahun 1643 Belanda sedang giat-giatnya mencengkeram petani rempah lewat monopoli VOC. Sejumlah kerajaan Islam mulai berdiri dan ingin menendang Belanda kembali ke Eropa.

Kulit Mimintok Mabel hitam pekat. Tubuhnya kecil dengan posisi tubuh terlipat ibarat bayi di kandungan. Kedua lututnya ia rapatkan hingga ke perut. Telapak tangannya ia dekapkan ke tempurung lutut.

Melihat Mimintok Mabel seperti itu saya berpikir, apa yang ada di pikirannya ketika ia hendak di balsem? Apakah ia takut? Apakah hatinya berdegub kencang? Apakah ia panik? Apakah ia marah harus dibawa ke luar berulang kali hanya untuk memuaskan turis?

Wajah Mimintok Mabel sudah tak lagi berdaging. Tinggal tengkorak warna hitam yang nyaris mengkilat. Dua lobang matanya menganga. Sementara mulutnya terbuka lebar mendongak ke atas. Melihatnya, saya membayangkan ia sedang teriak, ''AAaaaa...aaaaa...aaaa...''.

Tampaknya ia menciut setelah dimumi. Sebab ada semacam mahkota dari akar kayu yang diameternya lebih besar sedikit dari kepala Mimintok Mabel. Hiasannya hanya koteka, kalung serta topi akar sederhana berwarna cokelat. Dengan takut-takut saya sentuh tubuhnya, keras sekaligus ringkih. Ibarat porselin tipis yang sewaktu-waktu mudah pecah.

Saya langsung mengambil beberapa foto mumi dan kerabat Pak Jacobus. Rahmat malah merekam seluruh keadaan dan mewawancara seorang istri Jacobus. Ya, Jacobus penganut poligami karena istrinya empat. Di daerah itu tinggal seluruh keturunan Mimintok Mabel yang kawin mawin sesama suku.

***

Puas memotret mumi dan keluarga Jacobus, saya menyingkir menjauh ke ujung perkampungan. Ingin mengambil gambar secara luas dari gerbang kampung. Tiba-tiba dari balik honai seseorang berdesis. ''Foto...foto..''katanya. Ia seorang gadis dan seorang nenek yang minta difoto. PErmintaan mereka saya turuti. Tiga kali mereka saya foto.

Ketika hendak beranjak pergi, si gadis keluar honai dan menyongsong saya. ''Bapa...bapa..foto..foto..bayar..'' katanya.

''Bayar?'' saya balik bertanya.

''Ya Bapa..Bayar, Rp 50 ribu, tiga foto kali Rp 50 ribu,'' katanya lagi sambil makin mendekat.

''Tunggu..tunggu sebentar,'' tukas saya dengan heran. Saya menunjuk ke arah Frans. Saya mendekatinya dengan tatapan meminta kepastian betulkah harus membayar untuk memotret. Frans sudah bersama Rahmat yang juga sedang dikerubungi kerabat Jacobus.

''Bapa..bayar..bayar..tadi wawancara..tadi foto..,'' seru seorang perempuan. Wajah Rahmat juga menampilkan mimik tak percaya. Ia menoleh ke arah saya dengan mimik heran. Saya balas dengan anggukan pasrah. Mungkin dalam hatinya, orang di Jakarta sudah cukup senang masuk televisi gratis, ini malah objek bidikan minta dibayar.

''Tadi foto..satu orang Rp 3.000 kali 40 orang. Satu orang difoto tiga kali. Tadi wawancara saya dua kali...,'' seru seseorang perempuan yang tak sabar sambil menunjuk Rahmat.

''Eh...eh...tunggu dulu,'' timpal Frans, memotong. ''Berapa tepatnya,'' katanya dengan nada kesal.

Pak Jacobus kini ikut-ikutan mendekat. ''Tadi keluarkan mumi bayar Rp 70 ribu,'' paparnya dengan suara kecil itu. Saya mengangguk lemah. Jacobus juga membenarkan tarif foto anggota keluarnya per orang Rp 3.000.

Tekor nih, pikir saya. Tapi saya juga tak kuasa melihat tatapan kerabat Jacobus. Sorot mereka ibarat pisau yang menghujam hati. Bola mata cokelat yang polos, ramah, tapi juga bercampur pengharapan tinggi.

Akhirnya bersama Rahmat kami sepakat merogoh kocek cukup dalam untuk membayar melihat warisan Indonesia itu. Namun tampaknya 'setoran' kami belum memuaskan penduduk Kampung Kurulik. Mereka tetap meminta tambah sambil terus menghitung berapa kali saya foto dan Rahmat mengambil gambar di videonya.

Untung Frans bergegas menarik saya dan Rahmat keluar dari kerumunan itu dan menuju ke mobil. ''Sudah..sudah ya..'' katanya. Saya hanya melambai dan melempar senyum pahit ke keturunan Mimintok Mabel ketika mobil meninggalkan mereka yang masih berkerumun.

Dari cerita Frans, kami baru tahu. Jacobus dan keluarganya tidak ada yang bekerja. Mereka mengandalkan nenek moyangnya untuk mengepulkan dapurnya. Saya berpikir, wajar saja mereka begitu 'haus' terhadap pelancong.

Mimintok Mabel dan keturunannya jadi cermin betapa kemiskinan mencengkeram Papua. Data Badan Pusat Statistik (BPS) beberapa tahun terakhir memperlihatkan hal itu.

Pada 2004, angka kemiskinan di Papua sudah mencapai 38,69 persen dari total penduduk 2,5 juta jiwa. Survey terakhir BPS Maret lalu masih menegaskan satu dari tiga orang Papua adalah orang yang hidupnya sebulan berbekal tak lebih dari Rp 170 ribu. Padahal kita semua tahu di Papua adalah salah satu tambang tembaga terbesar di dunia, Freeport yang kontraknya sejak 1960-an.

Tapi itulah Papua. Di tempat di mana kemiskinan dan pengangguran bercampur baur dengan keramahan sekaligus 'keliaran'. Bercampur dengan tingginya biaya hidup. Makan nasi dengan lauk telor kita harus merogoh Rp 15 ribu. Semangkok bakso dengan sejumput mie ditebus seharga Rp 10 ribu.

Sebungkus mie instant Rp 2.000. Harga satu sak semen Rp 500 ribu - 1 juta. Ketika banyak motor yang mogok di jalan karena kekurangan bensin yang harus dibeli seharga Rp 50 ribu per liter. Belum lagi tambal ban motor yang memakan duit Rp 15 ribu. Alamaaak....

Wednesday, August 6, 2008

loyalitas

loyalitas

aku tak kenal wartawan kompas, arbain rambey. tapi dari ceritanya yang diceritakan wartawan lain aku bisa memetik pelajaran berharga. alkisah arbain sudah beberapa tahun bekerja di kompas tapi ia tetap tak puas karena gajinya rendah (padahal di kompas loh!).

si pemilik buku yang ribuan jumlahnya itu lantas mencari-cari lowongan lain. salah satunya di kantor berita asing. jadilah arbain kasak kusuk mempersiapkan diri. di salah satu tes masuk di kantor berita itu, ketika ia sedang duduk menunggu giliran dipanggil, datanglah redaktur kompas.

pertemuan yang tidak diduga-diduga. paling tidak menurutku, rada tidak enak ketika sedang melamar pekerjaan ke kantor lain terus bertemu dengan salah satu petinggi kantor lama. aku yakin keduanya kaget.

''lho ngapain kamu di sini?'' tanya si redaktur.

''mau ngelamar kerja pak,'' jawab arbain, tanpa basa-basi. padahal bisa saja ia ngibul bilang bertemu kawan atau alasan lain. tapi arbain memilih terus terang.

''hah? ngelamar kerja? kamu bukannya masih di kompas?'' sergah redakturnya.

''iya bang, masih,''.

''kenapa mau pindah?''.

''gaji bang. aku rasa gajiku kurang tinggi,'' timpalnya.

''oh masalah gaji.... ya sudah. kamu pulang saja. tak usah melamar di sini. besok ketemu aku, kita bicarakan,'' kata redakturnya.

pertemuan mereka keesokan harinya membuahkan hasil untuk arbain. gajinya dinaikkan. arbain senang dan kompas tidak kehilangan salah satu wartawannya.

pelajaran yang bisa kupetik adalah cara redaktur dan (akhirnya) perusahaan memperlakukan arbain. sebenarnya bisa dengan mudah perusahaan melakukan hal yang 180 derajat berbeda dengan apa yang diperbuat si redaktur.

perusahaan sekelas kompas bisa dengan enak mempersilahkan arbain terus mengikuti tes masuk itu dan pindah. kompas bisa dengan mudah mencari pengganti arbain, dan aku yakin akan ada ratusan orang antri mengisi kursinya.

tapi kompas memilih tidak. kompas memilih menyelamatkan 'aset'nya, yaitu wartawan. bisa jadi pilihan mempertahankan aset itu setelah pertimbangan bagaimana kinerja si pegawai. tapi kompas memperlihatkan bagaimana sikap perusahaan terhadap asetnya di saat asetnya mempertanyakan kinerja perusahaan terhadap dirinya.

pendek kata, seberapa jauh arbain dan kompas mengukur loyalitas satu sama lain. kawanku di kantor dicap tak loyal. gara-gara ia melakukan hal yang persis dilakukan arbain. mencari peluang kerja lain yang memberikan kesejahteraan lebih tinggi.

bedanya, di kantorku tak ada perlakuan seperti kompas seperti ke arbain. kawanku, dibelakangnya, lantas dicap tak loyal oleh para atasannya. tak ada pertunjukkan loyalitas antara karyawan dan perusahaan.

padahal kantorku bisa dengan mudah memanggil si karyawan, mencari tahu apa masalahnya, dan paling tidak kalau perusahaan tak bisa membayarnya lebih keduanya sudah bertemu dan membicarakan masalah itu. keduanya sudah berkomunikasi mengenai nilai aset yang pantas. tapi toh hal ini tidak dilakukan.

pertanyaan loyalitas berulang kali melintas di kepalaku saat melihat beberapa kawan di kantor lain bak kutu loncat pindah. mereka begitu ringan pindah-pindah ke perusahaan yang berani membayarnya dengan gaji berkali-kali lipat.

kawan lamaku, ichsan memberi komentar, ''wah kamu sudah masuk ke zona aman!'' katanya melihatku sudah empat tahun di republika tak jua pindah. ichsan pada saat yang sama sudah lima kali pindah perusahaan, dan semuanya berbeda jenis dan gajinya selalu naik.

aku berpikir, benarkah aku sudah masuk ke zona itu? zona aman yang membuat malas pindah karena enggan memulai suasana baru dan membuat penyesuaian baru? zona yang mengharuskan aku memulai sesuatu dari nol dan meninggalkan sarang empukku hari ini?

kalau alasannya malas pindah karena butuh penyesuaian, menurutku tidak akan terjadi. wartawan membuat dirinya ibarat bunglon setiap hari. bertemu orang baru tiap hari. menerapkan strategi baru dan menyesuaikan diri dengan narasumber baru tiap hari. bila ichsan melakukannya empat kali di lima tahun waktunya bekerja, aku melakukannya tiap hari selama empat tahun!

gaji? memang ini salah satu faktor utama kepindahan rekan-rekanku di media lain ke media lain. penghasilannya bisa berlipat ganda saat pindah. ketika seseorang kawan ingin pindah karena masalah gaji, aku langsung ingat saat pertama kali orientasi di kantor. hari pertama itu yang mengisi adalah wakil pimpinan redaksi yang sekarang sudah naik jadi pimpinan redaksi.

aku ingat sekali ia mengatakan, ''Kerja wartawan itu, di republika, anda tidak akan jadi kaya! kalau ingin kaya jangan jadi wartawan! tapi untuk standar kita cukuplah. anda bisa hidup cukup, senang-senang cukup....,''.

cukup. cukup tentu ukuran yang sangat relatif. berapa gaji yang cukup untuk wartawan? PWI pernah menyatakan gaji ideal wartawan adalah Rp 10 juta untuk lulusan baru. AJI mengkoreksinya dengan standar yang lebih moderat, yaitu sekitar Rp 4 juta untuk wartawan baru.

gajiku sekarang? hehehe masih jauh dibawah itu. tapi aku merasa 'cukup'. cukup untuk nabung, cukup untuk beli buku, bayar kartu kredit, nonton film di bioskop, beli dvd, jajan dan menjajani orang lain, betulin motor yang kian renta.

hal lain yang aku ingat dari si wapimred yang belakangan ketahuan dogolnya, tapi ia memberi nasihat awal menjadi wartawan yang sangat baik menurutku, adalah suasana kerja. ia bercerita suasana kerja di kantorku sekarang ini jauh berbeda dengan kantor lain. sangat cair dan tanpa sekat tinggi antar atasan dan bawahan.

empat tahun ini aku merasakan itu. dan itu membuatku sangat menikmati pekerjaan. selain karena pekerjaan itu sendiri. redakturku pernah berkata, wartawan adalah pekerjaan paling nikmat sedunia. aku setuju, selain menjadi arkeolog (yang jadi impian).

aku digaji untuk bertemu orang, menikmati satu wilayah ke wilayah lain gratis, bisa bertemu dari presiden hingga pengangguran dan bisa berdialog nakal dengan mereka.

dan yang terpenting, aku harus menuliskannya untuk puluhan ribu pembaca republika keesokan harinya.

aku masih seperti anak kecil yang tersenyum gembira saat melihat tulisanku naik keesokan harinya di koran dan dibaca orang.

aku tambah gembira kalau ada yang berkomentar sesuatu tentang tulisanku, entah itu kritik pedas atau pujian.

aku masih dengan naif berkata bagaimanapun busuknya dunia jurnalisme dan perlakuan kantor kepada karyawannya, aku bekerja untuk pembaca republika yang tiap hari merogoh koceknya tak kurang dari seliter bensin untuk membeli koranku.

aku bekerja untuk republika dengan R kapital, bukan republika dengan r kecil yang terbatas di warung buncit.

Tuesday, August 5, 2008

SERAM

ini buatku menyeramkan. awal agustus dapat tugas untuk ikut menteri agama, maftuh basyuni. pimred sampai telepon khusus ke aku supaya aku ikut menag. biasanya cukup redaktur yang hubungi. katanya depag dan kantor mau kerjasama banyak. dalam hati aku ngomong, hubungannya sama aku apa ya? kan biasanya depag dipegang osa atau hri.

bukan perintah pimred itu yang menyeramkan. rencananya menag akan safari selama sepekan penuh ke indonesia timur. sehari di malang, sehari di surabaya, sehari di mamuju, sehari di makassar, en sehari di kendari (gila banget menteri ini, padahal cuma depag tapi keliling indonesia sering kali). aku ikut di tiga kota pertama.

juga bukan jadwal menteri yang menyeramkan. dalam rombongannya, depag membawa seorang wartawan lain dari antara. wartawan itu biasa ngepos di depag. bahkan akrab dengan menag. ia sering diajak liputan haji (yang sampai 60 hari di mekah!, berapa coba spjnya!!), sering dibisiki isu-isu hot depag, termasuk sering dateng ke rumah menag usai shalat subuh untuk ngobrol ngalor ngidul!

dia ini yang menyeramkan! ceritanya usai meresmikan gedung baru mahasiswa IAIN Sunan Ampel Surabaya, menag istirahat di wisma haji yang megah. di dekat bandara djuanda. sebelum naik ke kamarnya, menag bercakap-cakap dengan sejumlah tamu. sementara aku dan pak wartawan menunggu kesempatan mencegat menag untuk ngobrol.

pak wartawan orangnya baik, ramah, santun, tutur katanya teratur rapi, kebapakkan banget. ia bertanya, apa aku sudah menikah? tentu aku jawab belum. terus ia menasehatiku untuk lebih hati-hati terhadap pekerjaan 'wartawan' dan 'masa depan'.

''kerja wartawan itu candu loh,'' katanya pelan.

''betul pak!'' balasku.

bagi sebagian orang yang sudah terlalu lama (atau memang menghayati) kerja jurnalisme, aliran darah dan gerak-geriknya akan terganggu. tidak percaya? aku contohnya. bahkan di hari liburpun tak bisa lepas dari pda. cek berita apa yang ada di sejumlah situs. kirim sms ke sejumlah orang, tanya ini tanya itu. padahal itu hari libur dan ga piket! ketika cuti keliling jateng pun demikian. ketika naik gunung pun demikian (padahal sudah berharap jangan ada sinyal...jangan ada sinyal... ternyata sinyal gprs keparat indosat itu ada pula digunung!).

''karena itu jangan terlalu kecanduan untuk memikirkan hari depan,'' pesannya. aku tak menjawab. hanya mengangguk-angguk. dalam hati aku ngomong, ''ok wise man, what next? kaya aku gak tau aja!''.

dia lantas tanya, apa aku punya pacar? atau punya kawan yang sedang didekati? aku jawab iya sambil tersenyum. INI BAGIAN SERAMNYA. pak wartawan lantas memejamkan mata sepersekian detik. ia mengajukan pertanyaan beruntut.

''hmmm...apa orangnya rambutnya segini?'' tanyanya sambil tangannya menunjukkan berapa panjang rambut si perempuan. aku kaget setengah mati!

''betul pak,'' jawabku heran. ia kembali memejamkan matanya.

''bentuk mukanya seperti ini?'' tanyanya lagi sambil memeragakan. ini juga betul! aku tambah heran dan menjawab iya. dalam hati aku berpikir, jangan-jangan dia pernah melihat aku berdua. paling tidak mendengar tentang hubunganku. tapi dari mana? dari anak republika di depag tidak mungkin karena aku ga deket sama anak republika di depag. dari anak antara? aku gak yakin.

''tingginya seperti ini?'' katanya mengangkat tangan menunjuk ke bahuku. aku tak mau menjawab iya lagi. aku hanya mengangguk sambil tersenyum pendek sambil terus menatapnya.

di satu sisi aku berpikir orang ini sedang mempertontonkan kehebatannya kepadaku atau ia benar-benar penipu atau ia benar-benar 'cuma' membantuku dalam bentuk lain. deskripsinya tentang perempuan itu berhenti. aku lega setengah mati, ''wah bapak menakutkan'' kataku, jujur. giliran dia yang tersenyum.

ia lantas bercerita bagaimana ia mendapat 'keahlian' membaca orang seperti itu ketika ia ngepos di pontianak saat kerusuhan dayak-madura. ia berkisah panjang lebar tentang waktu itu.

di suatu titik ceritanya berhenti. ''eh tunggu dulu, dia kerja di sini ya,'' katanya menyebut salah satu perusahaan swasta tempat si perempuan bekerja. ini yang bikin kengerianku memuncak. tebakannya tepat 100 persen! bulu kudukku berdiri. aku bingung mau tertawa atau terpana. aku sempat diam selama beberapa detik sebelum menjawab, ''benar,''. aku berpikir orang ini benar-benar tahu dari hanya terpejam-pejam beberapa detik atau dia sudah pernah melihatku atau dia sudah pernah mendengar tentangku.

si bapak tertawa mendengar jawabanku. ia tertawa puas sekali sampai terguncang-guncang.