loyalitas
aku tak kenal wartawan kompas, arbain rambey. tapi dari ceritanya yang diceritakan wartawan lain aku bisa memetik pelajaran berharga. alkisah arbain sudah beberapa tahun bekerja di kompas tapi ia tetap tak puas karena gajinya rendah (padahal di kompas loh!).
si pemilik buku yang ribuan jumlahnya itu lantas mencari-cari lowongan lain. salah satunya di kantor berita asing. jadilah arbain kasak kusuk mempersiapkan diri. di salah satu tes masuk di kantor berita itu, ketika ia sedang duduk menunggu giliran dipanggil, datanglah redaktur kompas.
pertemuan yang tidak diduga-diduga. paling tidak menurutku, rada tidak enak ketika sedang melamar pekerjaan ke kantor lain terus bertemu dengan salah satu petinggi kantor lama. aku yakin keduanya kaget.
''lho ngapain kamu di sini?'' tanya si redaktur.
''mau ngelamar kerja pak,'' jawab arbain, tanpa basa-basi. padahal bisa saja ia ngibul bilang bertemu kawan atau alasan lain. tapi arbain memilih terus terang.
''hah? ngelamar kerja? kamu bukannya masih di kompas?'' sergah redakturnya.
''iya bang, masih,''.
''kenapa mau pindah?''.
''gaji bang. aku rasa gajiku kurang tinggi,'' timpalnya.
''oh masalah gaji.... ya sudah. kamu pulang saja. tak usah melamar di sini. besok ketemu aku, kita bicarakan,'' kata redakturnya.
pertemuan mereka keesokan harinya membuahkan hasil untuk arbain. gajinya dinaikkan. arbain senang dan kompas tidak kehilangan salah satu wartawannya.
pelajaran yang bisa kupetik adalah cara redaktur dan (akhirnya) perusahaan memperlakukan arbain. sebenarnya bisa dengan mudah perusahaan melakukan hal yang 180 derajat berbeda dengan apa yang diperbuat si redaktur.
perusahaan sekelas kompas bisa dengan enak mempersilahkan arbain terus mengikuti tes masuk itu dan pindah. kompas bisa dengan mudah mencari pengganti arbain, dan aku yakin akan ada ratusan orang antri mengisi kursinya.
tapi kompas memilih tidak. kompas memilih menyelamatkan 'aset'nya, yaitu wartawan. bisa jadi pilihan mempertahankan aset itu setelah pertimbangan bagaimana kinerja si pegawai. tapi kompas memperlihatkan bagaimana sikap perusahaan terhadap asetnya di saat asetnya mempertanyakan kinerja perusahaan terhadap dirinya.
pendek kata, seberapa jauh arbain dan kompas mengukur loyalitas satu sama lain. kawanku di kantor dicap tak loyal. gara-gara ia melakukan hal yang persis dilakukan arbain. mencari peluang kerja lain yang memberikan kesejahteraan lebih tinggi.
bedanya, di kantorku tak ada perlakuan seperti kompas seperti ke arbain. kawanku, dibelakangnya, lantas dicap tak loyal oleh para atasannya. tak ada pertunjukkan loyalitas antara karyawan dan perusahaan.
padahal kantorku bisa dengan mudah memanggil si karyawan, mencari tahu apa masalahnya, dan paling tidak kalau perusahaan tak bisa membayarnya lebih keduanya sudah bertemu dan membicarakan masalah itu. keduanya sudah berkomunikasi mengenai nilai aset yang pantas. tapi toh hal ini tidak dilakukan.
pertanyaan loyalitas berulang kali melintas di kepalaku saat melihat beberapa kawan di kantor lain bak kutu loncat pindah. mereka begitu ringan pindah-pindah ke perusahaan yang berani membayarnya dengan gaji berkali-kali lipat.
kawan lamaku, ichsan memberi komentar, ''wah kamu sudah masuk ke zona aman!'' katanya melihatku sudah empat tahun di republika tak jua pindah. ichsan pada saat yang sama sudah lima kali pindah perusahaan, dan semuanya berbeda jenis dan gajinya selalu naik.
aku berpikir, benarkah aku sudah masuk ke zona itu? zona aman yang membuat malas pindah karena enggan memulai suasana baru dan membuat penyesuaian baru? zona yang mengharuskan aku memulai sesuatu dari nol dan meninggalkan sarang empukku hari ini?
kalau alasannya malas pindah karena butuh penyesuaian, menurutku tidak akan terjadi. wartawan membuat dirinya ibarat bunglon setiap hari. bertemu orang baru tiap hari. menerapkan strategi baru dan menyesuaikan diri dengan narasumber baru tiap hari. bila ichsan melakukannya empat kali di lima tahun waktunya bekerja, aku melakukannya tiap hari selama empat tahun!
gaji? memang ini salah satu faktor utama kepindahan rekan-rekanku di media lain ke media lain. penghasilannya bisa berlipat ganda saat pindah. ketika seseorang kawan ingin pindah karena masalah gaji, aku langsung ingat saat pertama kali orientasi di kantor. hari pertama itu yang mengisi adalah wakil pimpinan redaksi yang sekarang sudah naik jadi pimpinan redaksi.
aku ingat sekali ia mengatakan, ''Kerja wartawan itu, di republika, anda tidak akan jadi kaya! kalau ingin kaya jangan jadi wartawan! tapi untuk standar kita cukuplah. anda bisa hidup cukup, senang-senang cukup....,''.
cukup. cukup tentu ukuran yang sangat relatif. berapa gaji yang cukup untuk wartawan? PWI pernah menyatakan gaji ideal wartawan adalah Rp 10 juta untuk lulusan baru. AJI mengkoreksinya dengan standar yang lebih moderat, yaitu sekitar Rp 4 juta untuk wartawan baru.
gajiku sekarang? hehehe masih jauh dibawah itu. tapi aku merasa 'cukup'. cukup untuk nabung, cukup untuk beli buku, bayar kartu kredit, nonton film di bioskop, beli dvd, jajan dan menjajani orang lain, betulin motor yang kian renta.
hal lain yang aku ingat dari si wapimred yang belakangan ketahuan dogolnya, tapi ia memberi nasihat awal menjadi wartawan yang sangat baik menurutku, adalah suasana kerja. ia bercerita suasana kerja di kantorku sekarang ini jauh berbeda dengan kantor lain. sangat cair dan tanpa sekat tinggi antar atasan dan bawahan.
empat tahun ini aku merasakan itu. dan itu membuatku sangat menikmati pekerjaan. selain karena pekerjaan itu sendiri. redakturku pernah berkata, wartawan adalah pekerjaan paling nikmat sedunia. aku setuju, selain menjadi arkeolog (yang jadi impian).
aku digaji untuk bertemu orang, menikmati satu wilayah ke wilayah lain gratis, bisa bertemu dari presiden hingga pengangguran dan bisa berdialog nakal dengan mereka.
dan yang terpenting, aku harus menuliskannya untuk puluhan ribu pembaca republika keesokan harinya.
aku masih seperti anak kecil yang tersenyum gembira saat melihat tulisanku naik keesokan harinya di koran dan dibaca orang.
aku tambah gembira kalau ada yang berkomentar sesuatu tentang tulisanku, entah itu kritik pedas atau pujian.
aku masih dengan naif berkata bagaimanapun busuknya dunia jurnalisme dan perlakuan kantor kepada karyawannya, aku bekerja untuk pembaca republika yang tiap hari merogoh koceknya tak kurang dari seliter bensin untuk membeli koranku.
aku bekerja untuk republika dengan R kapital, bukan republika dengan r kecil yang terbatas di warung buncit.
Wednesday, August 6, 2008
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
1 comment:
what a great article. congrats! you've become one of a few young journalits in this 'mental dissorder country' who had a strong willing to say this job isnt merely just MONEY. may Alloh keeps you in a right way, always.
Post a Comment