Monday, August 11, 2008

Rasa Papua di Amerika

Berapa banyak kedai kopi Starbucks di negara asalnya, AS? Situs resmi Starbucks menyebut angka 11.168 kedai. Sebanyak 7.087 kedai dioperasikan oleh Starbucks sendiri, dan sisanya diwaralabakan.

Nama Starbucks berasal dari novel Moby Dick, yang ditulis oleh Herman Melville pada tahun 1851. Seratus dua puluh tahun kemudian, di Kota Seattle, kedai pertama Starbucks dibuka.

Gerainya terkenal dengan warna hijau, logo bulat bertuliskan Starbucks Coffee dan gambar perempuan berambut panjang dengan tiga mahkota. Ia tersebar di 50 negara bagian AS, termasuk di Distrik Columbia.

Jutaan orang AS tiap hari menyeruput kopi dari gelas karton Starbucks. Perusahaan milik konglomerat Yahudi, Howard Schultz ini harus menyediakan 160 juta kilogram kopi per tahun, tidak hanya untuk AS tapi juga 1.749 gerainya di 43 negara di luar AS.

Kopinya dibeli dari 25 negara di seluruh dunia, termasuk Indonesia dengan harga rata-rata 3,16 dolar AS per kilogram.

***

Ribuan kilometer dari AS, di wilayah Pegunungan Tengah Papua, tersembunyi di balik rimbunnya hutan lebat, sebuah kabupaten kecil bernama Dogiyai mengikat kerjasama dengan Starbucks AS.

Dogiyai, kabupaten yang terdiri atas tujuh distrik berpenduduk 51.805 jiwa yang baru dimekarkan, akan mengekspor dua peti kemas kopi jenis Arabica ke AS. Untuk dinikmati jutaan penggila kopi AS.

Kontrak pasokan kopi ini diungkap Gubernur Papua, Barnabas Suebu, saat meresmikan Kabupaten Dogiyai menjadi kabupaten sendiri, lepas dari Kabupaten Nabire, Juni lalu. Peresmian itu juga dihadiri Mendagri Mardiyanto.

Tak mudah mencapai Dogiyai, dari sudut manapun di Papua. Penumpang harus singgah berkali-kali di sejumlah bandar udara. Jakarta, harus singgah di Bandara Hasanuddin, Ujung Pandang. Penerbangan lalu dilanjutkan ke Kepulauan Biak Numfor, yang terletak di utara Papua. Sepanjang penerbangan kita disuguhi dua warna, birunya lautan dan hijaunya gundukan pulau-pulau kecil yang terserak.

Dari Bandara Frans Kaisepo, Biak, perjalanan dilanjutkan dengan pesawat baling-baling ke Bandara Nabire, yang terletak di wilayah Pegunungan Tengah Papua. Di sini warna dominan hanyalah hijau. Hutan berbukit layaknya selimut hijau yang dihamparkan ke seluruh Papua. Kadang diselingi bukit cadas berwarna putih. Rumah tradisional yang dibangun dari kayu dan daun rumbia berwarna cokelat, Honai, tampak seperti jamur-jamur mungil dari atas pesawat.

Perjalanan belum selesai, meski sudah tiba di Bandara Nabire. Rombongan harus berkendara sekitar tiga puluh menit, menembus hutan, berpapasan penduduk yang masih setia dengan koteka dan ibu-ibu dengan tas noken yang disematkan di dahi. Belum termasuk dihadang berbagai ukuran babi.

Kabupaten Dogiyai terpenci dan kecill. Luasnya hanya 4.237,4 kilometer persegi terdiri atas tujuh distrik yang dihuni oleh 51.805 jiwa penduduk. Ibukotanya adalah sebuah kampung bernama Kigamani.

Jarang sekali ditemukan rumah berdinding semen. Mayoritas rumah, selain Honai, terbuat dari kayu. Alasannya sepele, Nabire adalah daerah tempat gempa menghampiri. Tahun 2004 saja, dua kali Nabire diguncang Gempa. Ratusan rumah rubuh, termasuk perkantoran DPRD yang terletak di dekat Bandara Nabire.

Di sebuah lapangan sepak bola bernama Sapta Marga, di Kampung Kigamana, Sabtu pekan lalu Mendagri meresmikan Kabupaten Dogiyai. Sebagai Bupatinya, Mardiyanto melantik mantan Sekretaris DPRD Nabire, Adauktus Takerubun, pria bertubuh gempal dan berwajah serius.

Peresmian kabupaten menjadi tontonan warga setempat. Mereka berkerumun rapi di sekitar lapangan bola. Pria perempuan, tua muda, tinggi pendek, besar kecil, berbaju maupun berkoteka. Di tengah lapang, sebagai peserta upacara peresmian berdiri kelompok tentara, polisi, polisis pamong praja, pegawai negeri sipil, dan siswa sekolah.

Tak jauh dari Lapangan Sapta Marga, puluhan warga dengan pakaian adat menggelar unjuk rasa. Berbeda dengan unjuk rasa di Jakarta, di Papua tak cuma poster dan spanduk yang diusung dan diangkat tinggi-tinggi. Tombak tajam juga turut diarak dan diacung-acungkan. Teriakan orasi unjuk rasa tentang pemilihan kepala daerah sahut menyahut dengan teriakan khas suku setempat.

Dalam pidato sambutannya itulah, Gubernur Papua Barnabas Suebu mengungkapkan kerjasama Starbucks dengan Dogiyai. Kerjasama yang boleh dibilang unik. Starbucks yang kedai kopinya ibarat gurita dengan ribuan tentakel di seluruh dunia, dipasok kopi dari sebuah daerah antah berantah di tengah hutan di dataran tinggi Papua.

****

''Potensi pertanian di Dogiyai sangat besar. SAlah satunya adalah kopi jenis arabica, yang termasuk salah satu kopi kualitas tertinggi di dunia. Starbucks AS sudah pesan dua peti kemas dari Dogiyai untuk diekspor tiap bulan ke AS,'' cetus Barnabas dihadapan ratusan penduduk Dogiyai yang menghadiri peresmian kabupaten mereka.

Mendengar hal ini, para pejabat berjas rapi dan berbatik bersama-sama dengan penduduk sekitar yang mengenakan kaos maupun hanya berkoteka bertepuk tangan meriah.

Barnabas Suebu melanjutkan pidatonya, ''Kopi Arabica Papua sangat khas. Ia tidak bisa dicampur dengan kopi lain. Harganya bahkan lebih tinggi dari kopi Arabica dari Toraja. Semoga dengan kerjasama yang didukung oleh USAID ini membuat masyarakat Dogiyai giat menanam kopi,''. Lagi-lagi hadirin tepuk tangan dengan meriah.

Ternyata tak hanya Dogiyai yang punya potensi kopi untuk diekspor. Gubernur Papua, dalam peresmian lima kabupaten lain di Wamena, kembali mengatakan hal serupa. Menurutnya masyarakat Papua harus pandai-pandai memilih komoditas yang memberi keuntungan memadai pada petani.

''Salah satu contoh komoditas Papua yang memiliki kriteria dan prospek sangat baik adalah kopi bio atau kopi organik yang dihasilkan di Kabupaten Jayawijaya. Potensi kopi ini terbuka di semua kabupaten di pegunungan tengah,'' katanya di depan ribuan warga yang memenuhi Lembah Baliem, Wamena.

Barnabas lantas mengingatkan soal kendala pengembangan kopi itu. Katanya, salah satu masalah terbesar di Papua adalah transportasi. Ongkos angkut dari wilayah pegunungan tengah ke pelabuhan di pesisir masih mahal, karena menggunakan pesawat udara. Butuh jutaan rupiah untuk mengangkut dua peti kemas berisi kopi arabica Papua dengan pesawat komersil.

Ia tetap mencoba optimistis, dengan berharap ekspor langsung tanpa dicampur kopi lain itu membuat harga Arabica Papua di pasar internasional tetap tinggi. ''Bila kopi ini dikembangbiakkan dengan baik di berbagai tempat di Pegunungan Tengah, pasti akan terjadi perubahan mendasar dalam struktur ekonomi masyarakat,'' katanya lagi.

Dengan kopi, Papua kembali berusaha memperbaiki kesejahteraannya. Setelah dengan emas yang dikeruk Freeport dan gas yang disedot oleh British Petroleum tak kunjung berhasil memperbaiki taraf hidup warga Papua.

'Ngomong - ngomong' seperti apa sih nikmatnya kopi Arabica Papua? Bagi yang sempat mencicipi, boleh jadi mengatakan mantap. Kenikmatannya berlangsung perlahan-lahan.

SEsaat memasuki rongga mulut, rasa kopi encer namun keras menyeruak di tenggorokan. Rasa kopinya menempel di seluruh dinding kerongkongan. Baru kemudian turun ke perut, di sini sensasi utama terasa. Perlahan demi perlahan hangat kopi Papua dan rasa 'khas' itu menyebar. Di mulai dari mulut, kerongkongan, perut, ke seluruh tubuh. Mantap sekali.

Jadi, kalau Anda kebetulan ada di AS dan beli kopi di Starbucks, jangan lupa mungkin salah satu pesanan kopi Anda berasal jauh dari hiruk pikuk kapitalisme dan modernisasi kehidupan kota. Di Dogiyai dan sejumlah distrik lainnya di Pegunungan Tengah Papua, para petani kopi Papua bisa dengan bangga berkata, ''Kami memasok kopi ke pusat dunia,''.

No comments: