ini buatku menyeramkan. awal agustus dapat tugas untuk ikut menteri agama, maftuh basyuni. pimred sampai telepon khusus ke aku supaya aku ikut menag. biasanya cukup redaktur yang hubungi. katanya depag dan kantor mau kerjasama banyak. dalam hati aku ngomong, hubungannya sama aku apa ya? kan biasanya depag dipegang osa atau hri.
bukan perintah pimred itu yang menyeramkan. rencananya menag akan safari selama sepekan penuh ke indonesia timur. sehari di malang, sehari di surabaya, sehari di mamuju, sehari di makassar, en sehari di kendari (gila banget menteri ini, padahal cuma depag tapi keliling indonesia sering kali). aku ikut di tiga kota pertama.
juga bukan jadwal menteri yang menyeramkan. dalam rombongannya, depag membawa seorang wartawan lain dari antara. wartawan itu biasa ngepos di depag. bahkan akrab dengan menag. ia sering diajak liputan haji (yang sampai 60 hari di mekah!, berapa coba spjnya!!), sering dibisiki isu-isu hot depag, termasuk sering dateng ke rumah menag usai shalat subuh untuk ngobrol ngalor ngidul!
dia ini yang menyeramkan! ceritanya usai meresmikan gedung baru mahasiswa IAIN Sunan Ampel Surabaya, menag istirahat di wisma haji yang megah. di dekat bandara djuanda. sebelum naik ke kamarnya, menag bercakap-cakap dengan sejumlah tamu. sementara aku dan pak wartawan menunggu kesempatan mencegat menag untuk ngobrol.
pak wartawan orangnya baik, ramah, santun, tutur katanya teratur rapi, kebapakkan banget. ia bertanya, apa aku sudah menikah? tentu aku jawab belum. terus ia menasehatiku untuk lebih hati-hati terhadap pekerjaan 'wartawan' dan 'masa depan'.
''kerja wartawan itu candu loh,'' katanya pelan.
''betul pak!'' balasku.
bagi sebagian orang yang sudah terlalu lama (atau memang menghayati) kerja jurnalisme, aliran darah dan gerak-geriknya akan terganggu. tidak percaya? aku contohnya. bahkan di hari liburpun tak bisa lepas dari pda. cek berita apa yang ada di sejumlah situs. kirim sms ke sejumlah orang, tanya ini tanya itu. padahal itu hari libur dan ga piket! ketika cuti keliling jateng pun demikian. ketika naik gunung pun demikian (padahal sudah berharap jangan ada sinyal...jangan ada sinyal... ternyata sinyal gprs keparat indosat itu ada pula digunung!).
''karena itu jangan terlalu kecanduan untuk memikirkan hari depan,'' pesannya. aku tak menjawab. hanya mengangguk-angguk. dalam hati aku ngomong, ''ok wise man, what next? kaya aku gak tau aja!''.
dia lantas tanya, apa aku punya pacar? atau punya kawan yang sedang didekati? aku jawab iya sambil tersenyum. INI BAGIAN SERAMNYA. pak wartawan lantas memejamkan mata sepersekian detik. ia mengajukan pertanyaan beruntut.
''hmmm...apa orangnya rambutnya segini?'' tanyanya sambil tangannya menunjukkan berapa panjang rambut si perempuan. aku kaget setengah mati!
''betul pak,'' jawabku heran. ia kembali memejamkan matanya.
''bentuk mukanya seperti ini?'' tanyanya lagi sambil memeragakan. ini juga betul! aku tambah heran dan menjawab iya. dalam hati aku berpikir, jangan-jangan dia pernah melihat aku berdua. paling tidak mendengar tentang hubunganku. tapi dari mana? dari anak republika di depag tidak mungkin karena aku ga deket sama anak republika di depag. dari anak antara? aku gak yakin.
''tingginya seperti ini?'' katanya mengangkat tangan menunjuk ke bahuku. aku tak mau menjawab iya lagi. aku hanya mengangguk sambil tersenyum pendek sambil terus menatapnya.
di satu sisi aku berpikir orang ini sedang mempertontonkan kehebatannya kepadaku atau ia benar-benar penipu atau ia benar-benar 'cuma' membantuku dalam bentuk lain. deskripsinya tentang perempuan itu berhenti. aku lega setengah mati, ''wah bapak menakutkan'' kataku, jujur. giliran dia yang tersenyum.
ia lantas bercerita bagaimana ia mendapat 'keahlian' membaca orang seperti itu ketika ia ngepos di pontianak saat kerusuhan dayak-madura. ia berkisah panjang lebar tentang waktu itu.
di suatu titik ceritanya berhenti. ''eh tunggu dulu, dia kerja di sini ya,'' katanya menyebut salah satu perusahaan swasta tempat si perempuan bekerja. ini yang bikin kengerianku memuncak. tebakannya tepat 100 persen! bulu kudukku berdiri. aku bingung mau tertawa atau terpana. aku sempat diam selama beberapa detik sebelum menjawab, ''benar,''. aku berpikir orang ini benar-benar tahu dari hanya terpejam-pejam beberapa detik atau dia sudah pernah melihatku atau dia sudah pernah mendengar tentangku.
si bapak tertawa mendengar jawabanku. ia tertawa puas sekali sampai terguncang-guncang.
Tuesday, August 5, 2008
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
3 comments:
huahahahahahahahahahaha..*juga ikut terguncang-guncang*
epy lagi pedekate..epy lagi pedekateeee!! WOW SERAAAAAAM (^o^)
Ih ngeri banget sumpah..
Ya ampun Tuhan.. Jangan pertemukan aku dengan Bapak Wartawan itu..
Post a Comment