Monday, August 11, 2008

Warisan Mimintok Mabel

Saya mengenal Mimintok Mabel, penduduk Kurulik Papua, saat kuliah tahun 2000-an. Kami tidak pernah bertemu muka. Saya mengenalnya dari buku yang saya temukan di gelaran buku bekas di kampus sastra UI Depok.

Bersampul kuning lusuh dengan gambar pahatan Asmat mirip patung batu raksasa di Pulau Paskah, judul bukunya 'Mumi Dinasti Kurulik'. Penulisnya seorang dokter yang tinggal di Papua. Naskah cerita petualangan yang ia kirim ke Jakarta itu menang salah satu sayembara cerita film terbaik tahun 70-an.

Bahkan waktu menginjakkan kaki di Wamena Papua, pulau yang saya idam-idamkan untuk kunjungi, pertengahan Juni lalu tidak terlintas pikiran untuk bertemu Mimintok Mabel. Saya baru sadar kesempatan itu saat diberitahu supir Kijang milik pemda Wamena ketika saya tanya, ''Tolong antarkan saya ke Lembah Baliem,''.

Lembah Baliem bagi saya adalah salah satu tujuan hidup. Sama seperti bertemu Mimintok Mabel. Saya menyerap kata Baliem dari buku petualangan, etnografi, atau penjelajahan di Pegunungan Tengah Papua. Daerah yang disesaki gunung ibarat taring-taring tajam. Berselimutkan hutan hijau dan salju abadi Puncak Jayawijaya. Satu-satunya di Indonesia.

''Di mana lokasi wisata terdekat? Antarkan kami ke sana,'' pinta saya bersama Rahmat, wartawan televisi swasta nasional.

''Ada Pak. Mumi Kurulik. Mau ke sana?'' jawab Frans sembari mengendarai Kijang warna gelap itu, menghindari kerumunan penduduk Papua yang berdiri di depan hotel. Kami mengangguk. Mendengar kata Kurulik, ingatan saya langsung kembali ke buku itu.

Kesempatan, pikir saya dalam hati. Waktu jamuan makan malam resmi dengan Mendagri Mardiyanto dan Gubernur Papua Barnabas Suebu masih dua jam lagi. Petang hari di Papua justru belum terlalu gelap. Matahari bahkan belum berwarna oranye dan langit masih cerah.

Frans membawa mobil dengan cepat. Kijang itu melesat di satu-satunya jalan aspal yang membelah alam Wamena. Tidak ada nama jalan di sini. Yang diketahui hanya arah. ''Ini menuju ke atas, pegunungan,'' tunjuk Frans ke depan jalan.

Kanan kiri jalan adalah ladang atau padang rumput berwarna emas. Menempel di belakangnya cadas-cadas berwarna abu-abu menjulang ke langit. Di kejauhan, langit, awan, dan cahaya matahari berbaur membentuk siluet biru pucat.

Udara Wamena yang sejuk membuat berdiri bulu kuduk saya. Menghirup udara pegunungan seperti itu tentu sangat berharga bagi warga Jakarta yang tiap hari disesaki asap polusi dari rokok dan knalpot kendaraan. Saya membuka jendela mobil lebar-lebar. Membiarkan angin dingin menerpa wajah dan masuk membersihkan paru-paru.

Beberapa honai berwarna cokelat, rumah adat Papua, menyempil di balik rimbunnya padang rumput. Honai itu lebih mirip jamur raksasa dengan pintu. Jarak antartetangga ternyata cukup jauh. Tidak seperti di kota besar yang berdempetan. Antara honai bisa terpisah padang rumput hingga satu kilometer.

Frans membeberkan, sangat jarang tiap jengkal tanah di Wamena adalah tanah kosong. Hampir semua sudah dipatok, ada harganya. Meski di lokasi yang relatif sepi, harganya bisa ratusan juta rupiah. Dan sialnya, yang punya sebagian besar bukan warga lokal.

Di jalan kami berpapasan dengan penduduk asli. Pria-pria bersahaja yang berkulit hitam mengkilat berjalan bersama perempuannya yang telanjang dada. Bibir tebal mereka selalu tersenyum. Yang pria mengenakan koteka cokelat dan tombak sementara kaum perempuan membawa noken, tas dari akar yang disampirkan ke dahi.

Kadang malah kami berpapasan dengan piaraan mereka, babi-babi kecil berwarna cokelat dan hitam. Menguik-nguik menyingkir dari jalan setelah diklakson mobil.


****

Sekitar 30 menit berkendara, Frans membelokkan mobilnya keluar dari jalan utama. Kami pindah jalur ke jalan tanah yang bergelombang. Dinaungi pohon-pohon besar dan ilalang tinggi yang rapi. Sekitar 50 meter mobil masuk dan tiba di parkiran seluas lapangan bulu tangkis. Dari luar, sejumlah bocah Papua sudah merubung mobil.

Frans membawa kami masuk ke sebuah perkampungan. Sebenarnya disebut kampung terlalu besar. Karena yang ada hanyalah beberapa honai didirikan berdempet-dempet. Ada dua lajur honai yang dibelah jalan tanah becek berwarna cokelat. Bau asap merebak di udara.

Kami bersalaman dengan Jacobus Mabel. Seorang pria kekar bermata ramah yang tak mengenakan koteka. Jacobus sudah tersentuh mode pakaian, tubuhnya dibalut jins dan kemeja. Tapi dengan begitu, ia kontras karena saudara-saudarinya masih setia dengan koteka dan bertelanjang dada.

Yang anak-anak, beberapa di antaranya kena flu akut karena ingusnya meleleh kental, mengenakan celana pendek sebetis. Mereka selalu tertawa. Yang perempuan berceloteh gembira dalam bahasa Papua. Sebentar-sebentar mereka tergelak dan menyapa kami bertiga.

''Mau lihat mumi?'' tanya Jacobus pelan. Ia tampaknya sudah tahu apa keinginan tamu yang berkunjung ke daerahnya. Saya mengangguk sambil tersenyum lebar. Jacobus berbalik badan, menghilang ke dalam honai di belakangnya.

Tak lama kemudian ia muncul. Kedua tangannya mencengkeram benda berwarna hitam. Itu ternyata jenazah Mimintok Mabel, mumi Kurulik yang termahsyur.

Mendengar kata mumi, umumnya yang teringat adalah orang tinggi besar berbalut kain usang berwarna kusam, dan hanya meninggalkan sobekan lubang untuk mata. Mumi Mesir dari dalam piramid.

Mimintok Mabel beda. Ini mumi khas Papua Indonesia. Tak butuh kain untuk membalut. Ia dibalsem lalu diasapi, begitu menurut Jacobus, apa adanya. Mumi lantas ditidurkan bersama keluarga dalam honai.

Menjadi mumi, jelas Jacobus adalah pilihan dan wasiat. ''Apa nanti mau juga jadi mumi?'' saya bertanya ke Jacobus. Ia tersenyum lalu menggeleng. ''Oh tidak..tidak,''.

''Anggota keluarga mungkin?'' saya mengedarkan pandangan ke sejumlah kerabat Jacobus. Mereka hanya bengong melihat saya. Jacobus kembali menggeleng.

Saya berpikir, kasihan Mimintok Mabel, anak cucunya tak ada yang mau jadi mumi. Maka ia harus menanggung beban digotong dan diarak keluar masuk honai paling tidak satu generasi lagi.

Mimintok Mabel berusia 365 tahun. Jacobus tak tahu ketika saya tanya kapan tepatnya nenek moyangnya lahir. Itu berarti Mimintok Mabel hidup di alam Papua yang masih perawan. Belum ada zending (misi kristen Belanda) yang berani datang ke sana.

Di Jawa, tahun 1643 Belanda sedang giat-giatnya mencengkeram petani rempah lewat monopoli VOC. Sejumlah kerajaan Islam mulai berdiri dan ingin menendang Belanda kembali ke Eropa.

Kulit Mimintok Mabel hitam pekat. Tubuhnya kecil dengan posisi tubuh terlipat ibarat bayi di kandungan. Kedua lututnya ia rapatkan hingga ke perut. Telapak tangannya ia dekapkan ke tempurung lutut.

Melihat Mimintok Mabel seperti itu saya berpikir, apa yang ada di pikirannya ketika ia hendak di balsem? Apakah ia takut? Apakah hatinya berdegub kencang? Apakah ia panik? Apakah ia marah harus dibawa ke luar berulang kali hanya untuk memuaskan turis?

Wajah Mimintok Mabel sudah tak lagi berdaging. Tinggal tengkorak warna hitam yang nyaris mengkilat. Dua lobang matanya menganga. Sementara mulutnya terbuka lebar mendongak ke atas. Melihatnya, saya membayangkan ia sedang teriak, ''AAaaaa...aaaaa...aaaa...''.

Tampaknya ia menciut setelah dimumi. Sebab ada semacam mahkota dari akar kayu yang diameternya lebih besar sedikit dari kepala Mimintok Mabel. Hiasannya hanya koteka, kalung serta topi akar sederhana berwarna cokelat. Dengan takut-takut saya sentuh tubuhnya, keras sekaligus ringkih. Ibarat porselin tipis yang sewaktu-waktu mudah pecah.

Saya langsung mengambil beberapa foto mumi dan kerabat Pak Jacobus. Rahmat malah merekam seluruh keadaan dan mewawancara seorang istri Jacobus. Ya, Jacobus penganut poligami karena istrinya empat. Di daerah itu tinggal seluruh keturunan Mimintok Mabel yang kawin mawin sesama suku.

***

Puas memotret mumi dan keluarga Jacobus, saya menyingkir menjauh ke ujung perkampungan. Ingin mengambil gambar secara luas dari gerbang kampung. Tiba-tiba dari balik honai seseorang berdesis. ''Foto...foto..''katanya. Ia seorang gadis dan seorang nenek yang minta difoto. PErmintaan mereka saya turuti. Tiga kali mereka saya foto.

Ketika hendak beranjak pergi, si gadis keluar honai dan menyongsong saya. ''Bapa...bapa..foto..foto..bayar..'' katanya.

''Bayar?'' saya balik bertanya.

''Ya Bapa..Bayar, Rp 50 ribu, tiga foto kali Rp 50 ribu,'' katanya lagi sambil makin mendekat.

''Tunggu..tunggu sebentar,'' tukas saya dengan heran. Saya menunjuk ke arah Frans. Saya mendekatinya dengan tatapan meminta kepastian betulkah harus membayar untuk memotret. Frans sudah bersama Rahmat yang juga sedang dikerubungi kerabat Jacobus.

''Bapa..bayar..bayar..tadi wawancara..tadi foto..,'' seru seorang perempuan. Wajah Rahmat juga menampilkan mimik tak percaya. Ia menoleh ke arah saya dengan mimik heran. Saya balas dengan anggukan pasrah. Mungkin dalam hatinya, orang di Jakarta sudah cukup senang masuk televisi gratis, ini malah objek bidikan minta dibayar.

''Tadi foto..satu orang Rp 3.000 kali 40 orang. Satu orang difoto tiga kali. Tadi wawancara saya dua kali...,'' seru seseorang perempuan yang tak sabar sambil menunjuk Rahmat.

''Eh...eh...tunggu dulu,'' timpal Frans, memotong. ''Berapa tepatnya,'' katanya dengan nada kesal.

Pak Jacobus kini ikut-ikutan mendekat. ''Tadi keluarkan mumi bayar Rp 70 ribu,'' paparnya dengan suara kecil itu. Saya mengangguk lemah. Jacobus juga membenarkan tarif foto anggota keluarnya per orang Rp 3.000.

Tekor nih, pikir saya. Tapi saya juga tak kuasa melihat tatapan kerabat Jacobus. Sorot mereka ibarat pisau yang menghujam hati. Bola mata cokelat yang polos, ramah, tapi juga bercampur pengharapan tinggi.

Akhirnya bersama Rahmat kami sepakat merogoh kocek cukup dalam untuk membayar melihat warisan Indonesia itu. Namun tampaknya 'setoran' kami belum memuaskan penduduk Kampung Kurulik. Mereka tetap meminta tambah sambil terus menghitung berapa kali saya foto dan Rahmat mengambil gambar di videonya.

Untung Frans bergegas menarik saya dan Rahmat keluar dari kerumunan itu dan menuju ke mobil. ''Sudah..sudah ya..'' katanya. Saya hanya melambai dan melempar senyum pahit ke keturunan Mimintok Mabel ketika mobil meninggalkan mereka yang masih berkerumun.

Dari cerita Frans, kami baru tahu. Jacobus dan keluarganya tidak ada yang bekerja. Mereka mengandalkan nenek moyangnya untuk mengepulkan dapurnya. Saya berpikir, wajar saja mereka begitu 'haus' terhadap pelancong.

Mimintok Mabel dan keturunannya jadi cermin betapa kemiskinan mencengkeram Papua. Data Badan Pusat Statistik (BPS) beberapa tahun terakhir memperlihatkan hal itu.

Pada 2004, angka kemiskinan di Papua sudah mencapai 38,69 persen dari total penduduk 2,5 juta jiwa. Survey terakhir BPS Maret lalu masih menegaskan satu dari tiga orang Papua adalah orang yang hidupnya sebulan berbekal tak lebih dari Rp 170 ribu. Padahal kita semua tahu di Papua adalah salah satu tambang tembaga terbesar di dunia, Freeport yang kontraknya sejak 1960-an.

Tapi itulah Papua. Di tempat di mana kemiskinan dan pengangguran bercampur baur dengan keramahan sekaligus 'keliaran'. Bercampur dengan tingginya biaya hidup. Makan nasi dengan lauk telor kita harus merogoh Rp 15 ribu. Semangkok bakso dengan sejumput mie ditebus seharga Rp 10 ribu.

Sebungkus mie instant Rp 2.000. Harga satu sak semen Rp 500 ribu - 1 juta. Ketika banyak motor yang mogok di jalan karena kekurangan bensin yang harus dibeli seharga Rp 50 ribu per liter. Belum lagi tambal ban motor yang memakan duit Rp 15 ribu. Alamaaak....

1 comment:

iras said...

tep, dari sekian features lo yg gue inget ya, ini salah satu yang paling oke lho. kereeeen!! (^_^)//''