Tuesday, October 21, 2008

KABAR

bagaimana kau menentukan kabar baik dan kabar buruk?
sebuah kabar datang beberapa bulan lalu
dari jumat di bulan itu
di sebuah rumah makan entah di jakarta mana
pada sebuah waktu entah pukul berapa
dengan seorang yang tak tahu siapa
saling bertukar cerita, entah cerita apa
tapi ada dia
dan ia menikmatinya...
(sigh!)

Pohon

Dia : Kamu selalu bisa membuat dirimu nyaman dan tersenyum...

Aku : Loh aku memang seperti itu kan

Dia : Kamu seperti pohon...

Aku : Hahahaha...Pasti pohon karet karena melaaaaarrrr..

Dia : Ngga. Pohon yang rindang...

Aku : Pasti beringin deh

Dia : Pohon yang meneduhkan semua orang dibawahnya...

Aku : Emang aku sebesar itu?

Dia : ....

Monday, October 6, 2008

Bonceng (1)

Kejadian pertama. ''Pak..pak berhenti pak!'' teriak polisi lalu lintas di belokan Yos Sudarso dan Kelapa Gading suatu siang beberapa waktu lalu. Pak Polisi melambaikan tangannya, memintaku minggir dan berhenti.

Dalam hati aku bilang, halaaah razia macam apa pula ini. Aku sudah siap dengan alasan rutinku kalau diberhentikan polisi, tak punya SIM dan pajak STNK belum dibayar cukup bilang, ''Siap salah Komandan! Sori Dan...lagi buru-buru mau liputan nih,''. Trik ini selalu sukses. Aku tak pernah diberi surat tilang.

Tapi ternyata polisi yang ini lain. ''Ayo Pak...boncengin saya. Kejar...kejar itu sudah di depan. Kejar yang cepat!'' perintah PAk polisi. Tangannya memegang selembar SIM, entah milik siapa.

''Hah?'' sepersekian detik aku bengong. ''Apapula ini? Kenapa Pak?''.

''TAdi ada tabrak lari Pak. Ayo Pak kejaaaaarrr....!'' kata Pak Polisi setengah memaksa. Ia menepuk pundakku dan menunjuk ke arah depan. Ia langsung duduk dibelakang sadel motorku yang sudah robek-robek. Pak polisi ini ternyata lumayan berat, karena motorku langsung ceper dan aku merasa bannya setengah kempes.

Dengan perlahan, motorku berjalan. Setang gas lantas kuputar kencang, knalpot meraung-raung, tapi Suzuki Shogun 2002 miliku tak kuat berlari cepat. ''Ke mana Pak...ke mana Pak?'' tanyaku sambil celingak-celinguk melihat sasaran kejar.

''Itu Pak....Ayo Pak...yang cepat nanti dia hilang,''

Lalu lintas Yos Sudarso lumayan ramai. Mobil berseliweran di kiri dan kanan. Aku dengan cuek ambil jalur tengah. Mencoba menyalip di antara mobil, seperti di film-film Hollywood, tapi aksiku gagal total. Sebab sekuat tenaga kupacu kuda besi yang ditunggangi dua orang berbadan besar itu, ia tetap lambat ibarat siput.

Eh malah Pak Polisinya dengan kesal ngedumel, ''Addduuuuuhhh...lamban banget sih Pak!!! Nanti dia hilang...''.

Dalam hati aku memaki. Kambing nih polisi. Udah ngebajak motor orang di bulan puasa, minta ngejar-ngejar buruan, malah ngehina lagi! Apa ku kepotin aja biar jatuh ya? Untung pikiran iseng itu tak jadi kulakukan.

Menjelang Jembatan Baru. ''Mana...mana Pak motornya?'' tanyaku dengan semangat. Padahal dalam hati aku sudah hilang harapan. Apapun jenis motornya, bebek apalagi sport, sudah pasti lari tungganglanggang tak terkejar oleh motorku.

''Loh siapa yang bilang motor?'' jawab Pak Polisi dengan bingung.

''Hah? Jadi ini ngejar apaaan?'' timpalku terkejut.

Alih-alih ngasih tahu, polisi setengah tua ini malah kembali memerintah, ''Sudah..sudah cepaaat saja kejar! Nanti dia belok lagi,''.

Beberapa meter di sebelah kanan memang ada belokkan. Pak Polisi mencondongkan badannya ke kanan. Posisi ibarat rodeo ini langsung membuat motorku limbung ke kanan.

''Wah dia ngga belok ternyata. Ayo Pak... terus...terus yang cepat!'' katanya setengah kesal.

Pikiranku terpecah. Mengendalikan motor dan mencari target buruan. Ini ngejar siapaaa sihhhh...kataku dalam hati, gemas.

Pak POlisi kembali berseru, ''Itu...itu..Pak...Ayo...Ayo...'' sambil mengacung-acungkan jarinya ke depan. Sebuah truk kontainer warna hijau tampak berusaha zig-zag di lalu lintas yang ramai.

HAH? TRUK KONTAINER???? KITA NGEJAR TRUK?? Kataku dalam hati, tak percaya. Polisi GILAAA.... Kalau dikejar pun belum tentu kita berhasil, lah truk kontainer lawan motor bebek! Di senggol bannya yang sebesar motor saja sudah pasti kami terpental, nyungsep di trotoar Yos Sudarso.

Jarak antara motorku dan truk tinggal sekitar 200 meter. Aku tancap gas sekuat mungkin. Jaraknya memendek tinggal 100 meter. Ayo tancap gas lagi. Jaraknya tinggal 50 meter dan ban truk itu terlihat makin membesar. Aku membayangkan bannya berbicara. ''Sini..sini mas saya senggol sampeyan,''. Aku bergidik.

Akhirnya, dengan susah payah, motorku sejajar dengan bagian depan truk. Pak Polisi dengan nekad setengah berdiri, melambaikan tangannya menarik perhatian pengemudi truk sambil berteriak,''Heiiii...heiiii...Berhentiiiiii...Berhentiiiii kamuuuuuu,''.

Hebatnya, si pengemudi tampak cuek. Ia malah menekan kuat-kuat pedal gas truk raksasa itu. Kembali meninggalkan motorku yang setengah oleng akibat ulah Pak Polisi.

''Loh..loh...ayo Pak cepaaaat kejjaaaar laggiiiii,'' teriak Pak Polisi dengan kesal. Ia dicuekin.

Di depan Kodamar. Untungnya lalu lintas tersendat sedikit karena ada putaran dari sisi jalan lainnya. Truk itu tetap ambil posisi di sebelah kanan. ''Tenaaaang Pak...macet tuh. Kita dapet dehhh,'' kataku meyakinkan Pak Polisi yang gusar itu.

Benar saja. Truk melambat sebab di depannya puluhan mobil tersendat. Kami akhirnya sejajar lagi.

Kali ini Pak Polisi tak mau buang waktu. Dari sudut mataku aku melihat ia merogoh di saku pinggangnya. Sebuah pistol. HAH PISTOL!!!! Aku kaget setengah mati. Mau ngapain dengan pistol? Mau tembak-tembakkan di jalan raya? Kok jadi kaya film laga sih? AStaga kalau salah tembak gimana? Aku langsng terbayang berita-berita salah tembak itu. Sialan..

Dengan marah, dan ambil posisi kembali setengah berdiri Pak Polisi mengacung-acungkan pistolnya ke arah pengemudi truk. ''Heeeiiii...heeeiii...Berhenti kamuuuu...BERHENTIIII KAAAMUUUUU....MAU SAYA TEMBAAAAK KAAAMUUUUU...AYO BERHENTIIIII,'' teriaknya.

Aku merasa ada di adegan lambat. Kejadiannya terpatah-patah. Ibarat film yang diputar setengah kecepatan. Mobil-mobil di belakang dan samping kami perlahan-lahan meminggir. Pak Polisi sudah membidikkan pistolnya ke arah kaca depan truk sambil berteriak-teriak ingin menembak pengemudinya. Motorku melamban hingga akhirnya berhenti di kiri jalan. Di belakangku sudah ramai bunyi klakson.

Pak Polisi menepuk pundakku, sebelum motor berhenti betul. ''Makasih ya Pak,'' katanya tanpa melihat wajahku dan berlari mendekati truk. Ia langsung ambil posisi menembak. MENEMBAK. Di pinggir jalan itu. Truk hijau akhirnya berhenti. Aku sempat menoleh ke belakang. Pak Polisi dengan cepat menggedor pintu pengemudi. Membukanya dan menyeret turun sang sopir naas itu. Kelanjutannya aku tak tahu, apakah si sopir betul-betul ditembak, dipukul dengan gagang pistol, atau digebuki, atau yang lainnya. Dengan masih shock aku kembali memacu motorku meninggalkan para pelaku kejar-kejaran itu di belakang. Jarum jam menunjukkan sebentar lagi pukul 11 siang. Aku mau kejar liputan di DPR. Hari yang aneh!!

Friday, October 3, 2008

Berlebaran dengan Kutu

TEguh tampak tak tahan. Wajah tirusnya meringis. Bergantian ia gesek kedua telapak kakinya. ''Zul! Zul pinjam sepatu bot mu!'' teriak pemuda tanggung ini.

Rasa gatal di kakinya sudah mencapai puncaknya, tapi ia harus bertahan hingga hari usai. Selasa (30/9) sore, remaja kurus berambut cokelat dan anting sebesar kancing kebaya di telinga kanannya baru menyelesaikan paruh pertama waktu kerjanya. Masih ada delapan jam lagi.

Pemuda gondrong sebahu dengan tubuh kerempeng berotot, yang bernama Zul, menoleh ke Teguh yang sedang berada di balik sedan Honda Jazz hitam. ''Emang kenapa?'' balasnya sambil nyengir.

Teguh meninggalkan mobil yang sedang ia cuci. Menghampiri Zul. Keduanya sudah mencuci entah berapa mobil hari ini. Bedanya, kaki Zul ditutupi sepatu bot karet warna hijau sementara Teguh bertelanjang kaki.

''Lo liat kaki gue nih! Ancur dah!'' kata pemuda putus sekolah itu mengeluh, sambil menatap kakinya. Tungkai kaki Teguh ibarat dahan pohon berwarna cokelat. Kurus dan penuh bercak. Siang itu, kakinya yang basah mulai berubah warna. Cokelat penuh totol-totol merah karena lecet terlalu sering digaruk.

TElapak kakinya pun pucat, berkeriput tanda kulit yang terlalu lama terkena air, dan penuh bercak merah yang gatal. Kukunya terlihat sangat putih.

Sepatu bot pun berpindah kaki. ''Pake' koran biar gak tambah gatel,'' kata Zul. TEguh mengangguk. Dari balik rambutnya yang gondrong di depan tapi cepak di belakang, sorot matanya tampak lega.

Dengan wajah tetap meringis menahan gatal, ia menjejalkan tumpukkan koran ke dalam sepatu bot usang itu. Entah sudah berapa kali sepatu itu berganti tuan.

Teguh juga membungkus telapak kakinya dengan koran bekas, seperti memakai perban. Sejurus kemudian ia berusaha memasukkan kakinya yang sekarang terlihat seperti kaki boneka kertas ditempeli koran ke dalam bot yang sempit. Sukses, dan ia tersenyum sendiri, beranjak berdiri, mengambil selang dan lap basah di dalam ember sabun.

Ia pun kembali mencuci mobil hingga malam hari, di hari terakhir bulan Ramadhan. Esoknya ia libur dan merayakan Lebaran dengan keluarga, shalat Idul Fitri bersama-sama dan masih mengidap gatal-gatal itu.

Kutu air! Itulah penyakit yang mendera Teguh dan rekan-rekannya sesama pencuci mobil di kawasan Rawasari. Bekerja dengan air tanah, sabun cuci, pasir penuh kotoran dari bekas cucian ratusan mobil yang menggenang, membuat kulit mereka tercabik-cabik dimakan kutu air.

''Kalau gak pakai sepatu bot, cuci tujuh mobil sudah pasti gatel-gatel,'' ungkap Zul sembari menggosok-gosok kap mobil Opel Blazer warna merah.

Masalahnya, dalam sehari apalagi jelang Lebaran, mereka tak mencuci hanya tujuh mobil. Tapi puluhan mobil. Lebaran membawa berkah bagi tempat cuci mobil dan tentunya bagi pencuci mobil.

'Kantor' tempat Teguh dan Zul bekerja terletak di pinggir jalan Jenderal Ahmad Yani atau daerah yang dikenal dengan Rawasari. Di belakang trotoar taman hijau yang tumbuhannya dibungkus debu tebal. Secuil tempat berbentuk persegi berlantai semen kasar yang berlubang-lubang dengan bangunan gedek di belakang, untuk kantor dan tempat tinggal sementara pengelola. Mobil yang hendak dicuci dibariskan lurus. Tempatnya cukup untuk menampung lima hingga enam mobil.

Sebelum dan sesudah Lebaran, mobil harus sabar antri untuk dilumuri sabun putih dan dibilas. Bahkan antri di pinggir jalan. Bagi Teguh dan rekan, ini kesempatan membuat dompet mereka tebal. Betapa tidak, dalam berkas laporan sehari sebelumnya, rata-rata pencuci mobil di tempat Zul dan Teguh bekerja membawa pulang Rp 130 ribu-an dari hasil 24 jam mencuci.

Dengan ongkos cuci mobil Rp 10 ribu, bila ingin menambah layanan penyedot debu untuk bagian dalam mobil serta semir ban harus menambah Rp 10 ribu, Teguh dan rekannya mendapat bagian Rp 4 ribu. Penghasilan mereka bertambah kalau mendapat tip, entah ribuan atau kadang puluhan ribu rupiah, kalau ada pelanggan yang royal.

Satu-satunya musuh pencuci mobil adalah kutu air. Tidak diobati? ''Ya kalau sekarang percuma,'' jawab TEguh masih dengan meringis. ''Nanti tunggu pulang ke rumah dikasih salep seharian biar kering,''.

Sialnya, pengobatan itu hanya sementara. Lusa ia kembali berjibaku dengan air tanah, sabun cuci, kotoran mobil, dan pasir penuh kuman. ''Ancur dah kaki gua,'' katanya getir.

Tak jauh dari tempat Teguh meringis, duduk di balik meja putih kusam, Pak Hendrik, si pengelola tempat cucian mobil. Pria paruh baya bertopi, dengan tubuh kekar, tapi sebelah telapak kakinya bengkak. Ia cuek mendengar keluhan anak buahnya. Seolah keluhan mereka ibarat nomor-nomor mobil yang ia tulis di buku besarnya. Sudah biasa.

''Tadinya mereka saya beri sepatu bot satu orang satu,'' kata Hendrik, dengan logat Menado yang kental. Beberapa tahun lalu ia membeli sekitar 60-an sepatu bot untuk para pegawainya. Kini sepatu yang masih bisa digunakan tinggal delapan pasang, itupun usang. ''Mahal sepatu itu, sekarang mungkin sepasang sekitar Rp 60 ribu,'' katanya berdalih.

SAtu demi satu sepatu karet setinggi betis itu rusak termakan air dan cuaca. Jebol dan bolong di mana-mana. Hendrik menyalahkan anak buahnya yang tak bisa merawat sepatu gratisnya.

Seharusnya, keluh dia, usai mencuci seharian sepatu dijemur di terik matahari hingga kering. Tapi yang terjadi malah sepatu basah hanya digeletakkan begitu saja di ruang kantor.

''Wah kalau sudah 60 sepatu ada di sini, baunya gak ketulungan!'' katanya seraya tersenyum.

Sebenarnya masalah kutu air pun ia perhatikan. Di awal-awal bisnisnya beberapa tahun lalu, ia rutin membeli satu boks obat kutu air yang ia bagi gratis ke anak buahnya. Tapi pengobatan itu berhenti setelah obat itu dengan cepat menghilang dari dos-nya.

''Mereka nakal!'' katanya dengan nada tinggi, matanya mendelik tajam. Sengaja supaya didengar Teguh dan kawan-kawannya. ''Kalau sudah dapat obat, nanti sebentar mereka minta lagi. Bilang yang tadi sudah habis. Begitu terus. Ya sudah, saya berhentikan obatnya. Biar mereka beli sendiri,'' tegas Hendrik.

Telinga Zul dan Teguh seakan berdalih tak mendengar sindiran bosnya. Mereka masih sibuk mencuci mobil. Menggosok dari bawah hingga ke atas. Dari ban yang penuh lumpur hingga atap mobil yang dekil.

Air tanah muncrat dari selang yang mereka pegang. Percikan sabun terus menerus membasahi kaki mereka bercampur dengan pasir hitam dan kotoran lain yang jatuh dari badan mobil.

Ini bukan hanya sekedar kembali ke hati yang suci atau Lebaran. Ini soal adu cepat dan adu kuat dengan gatal-gatal, kulit lecet, kutu air dan gepokkan uang untuk menyambung hidup.

Selamat Lebaran Guh! Zul!