TEguh tampak tak tahan. Wajah tirusnya meringis. Bergantian ia gesek kedua telapak kakinya. ''Zul! Zul pinjam sepatu bot mu!'' teriak pemuda tanggung ini.
Rasa gatal di kakinya sudah mencapai puncaknya, tapi ia harus bertahan hingga hari usai. Selasa (30/9) sore, remaja kurus berambut cokelat dan anting sebesar kancing kebaya di telinga kanannya baru menyelesaikan paruh pertama waktu kerjanya. Masih ada delapan jam lagi.
Pemuda gondrong sebahu dengan tubuh kerempeng berotot, yang bernama Zul, menoleh ke Teguh yang sedang berada di balik sedan Honda Jazz hitam. ''Emang kenapa?'' balasnya sambil nyengir.
Teguh meninggalkan mobil yang sedang ia cuci. Menghampiri Zul. Keduanya sudah mencuci entah berapa mobil hari ini. Bedanya, kaki Zul ditutupi sepatu bot karet warna hijau sementara Teguh bertelanjang kaki.
''Lo liat kaki gue nih! Ancur dah!'' kata pemuda putus sekolah itu mengeluh, sambil menatap kakinya. Tungkai kaki Teguh ibarat dahan pohon berwarna cokelat. Kurus dan penuh bercak. Siang itu, kakinya yang basah mulai berubah warna. Cokelat penuh totol-totol merah karena lecet terlalu sering digaruk.
TElapak kakinya pun pucat, berkeriput tanda kulit yang terlalu lama terkena air, dan penuh bercak merah yang gatal. Kukunya terlihat sangat putih.
Sepatu bot pun berpindah kaki. ''Pake' koran biar gak tambah gatel,'' kata Zul. TEguh mengangguk. Dari balik rambutnya yang gondrong di depan tapi cepak di belakang, sorot matanya tampak lega.
Dengan wajah tetap meringis menahan gatal, ia menjejalkan tumpukkan koran ke dalam sepatu bot usang itu. Entah sudah berapa kali sepatu itu berganti tuan.
Teguh juga membungkus telapak kakinya dengan koran bekas, seperti memakai perban. Sejurus kemudian ia berusaha memasukkan kakinya yang sekarang terlihat seperti kaki boneka kertas ditempeli koran ke dalam bot yang sempit. Sukses, dan ia tersenyum sendiri, beranjak berdiri, mengambil selang dan lap basah di dalam ember sabun.
Ia pun kembali mencuci mobil hingga malam hari, di hari terakhir bulan Ramadhan. Esoknya ia libur dan merayakan Lebaran dengan keluarga, shalat Idul Fitri bersama-sama dan masih mengidap gatal-gatal itu.
Kutu air! Itulah penyakit yang mendera Teguh dan rekan-rekannya sesama pencuci mobil di kawasan Rawasari. Bekerja dengan air tanah, sabun cuci, pasir penuh kotoran dari bekas cucian ratusan mobil yang menggenang, membuat kulit mereka tercabik-cabik dimakan kutu air.
''Kalau gak pakai sepatu bot, cuci tujuh mobil sudah pasti gatel-gatel,'' ungkap Zul sembari menggosok-gosok kap mobil Opel Blazer warna merah.
Masalahnya, dalam sehari apalagi jelang Lebaran, mereka tak mencuci hanya tujuh mobil. Tapi puluhan mobil. Lebaran membawa berkah bagi tempat cuci mobil dan tentunya bagi pencuci mobil.
'Kantor' tempat Teguh dan Zul bekerja terletak di pinggir jalan Jenderal Ahmad Yani atau daerah yang dikenal dengan Rawasari. Di belakang trotoar taman hijau yang tumbuhannya dibungkus debu tebal. Secuil tempat berbentuk persegi berlantai semen kasar yang berlubang-lubang dengan bangunan gedek di belakang, untuk kantor dan tempat tinggal sementara pengelola. Mobil yang hendak dicuci dibariskan lurus. Tempatnya cukup untuk menampung lima hingga enam mobil.
Sebelum dan sesudah Lebaran, mobil harus sabar antri untuk dilumuri sabun putih dan dibilas. Bahkan antri di pinggir jalan. Bagi Teguh dan rekan, ini kesempatan membuat dompet mereka tebal. Betapa tidak, dalam berkas laporan sehari sebelumnya, rata-rata pencuci mobil di tempat Zul dan Teguh bekerja membawa pulang Rp 130 ribu-an dari hasil 24 jam mencuci.
Dengan ongkos cuci mobil Rp 10 ribu, bila ingin menambah layanan penyedot debu untuk bagian dalam mobil serta semir ban harus menambah Rp 10 ribu, Teguh dan rekannya mendapat bagian Rp 4 ribu. Penghasilan mereka bertambah kalau mendapat tip, entah ribuan atau kadang puluhan ribu rupiah, kalau ada pelanggan yang royal.
Satu-satunya musuh pencuci mobil adalah kutu air. Tidak diobati? ''Ya kalau sekarang percuma,'' jawab TEguh masih dengan meringis. ''Nanti tunggu pulang ke rumah dikasih salep seharian biar kering,''.
Sialnya, pengobatan itu hanya sementara. Lusa ia kembali berjibaku dengan air tanah, sabun cuci, kotoran mobil, dan pasir penuh kuman. ''Ancur dah kaki gua,'' katanya getir.
Tak jauh dari tempat Teguh meringis, duduk di balik meja putih kusam, Pak Hendrik, si pengelola tempat cucian mobil. Pria paruh baya bertopi, dengan tubuh kekar, tapi sebelah telapak kakinya bengkak. Ia cuek mendengar keluhan anak buahnya. Seolah keluhan mereka ibarat nomor-nomor mobil yang ia tulis di buku besarnya. Sudah biasa.
''Tadinya mereka saya beri sepatu bot satu orang satu,'' kata Hendrik, dengan logat Menado yang kental. Beberapa tahun lalu ia membeli sekitar 60-an sepatu bot untuk para pegawainya. Kini sepatu yang masih bisa digunakan tinggal delapan pasang, itupun usang. ''Mahal sepatu itu, sekarang mungkin sepasang sekitar Rp 60 ribu,'' katanya berdalih.
SAtu demi satu sepatu karet setinggi betis itu rusak termakan air dan cuaca. Jebol dan bolong di mana-mana. Hendrik menyalahkan anak buahnya yang tak bisa merawat sepatu gratisnya.
Seharusnya, keluh dia, usai mencuci seharian sepatu dijemur di terik matahari hingga kering. Tapi yang terjadi malah sepatu basah hanya digeletakkan begitu saja di ruang kantor.
''Wah kalau sudah 60 sepatu ada di sini, baunya gak ketulungan!'' katanya seraya tersenyum.
Sebenarnya masalah kutu air pun ia perhatikan. Di awal-awal bisnisnya beberapa tahun lalu, ia rutin membeli satu boks obat kutu air yang ia bagi gratis ke anak buahnya. Tapi pengobatan itu berhenti setelah obat itu dengan cepat menghilang dari dos-nya.
''Mereka nakal!'' katanya dengan nada tinggi, matanya mendelik tajam. Sengaja supaya didengar Teguh dan kawan-kawannya. ''Kalau sudah dapat obat, nanti sebentar mereka minta lagi. Bilang yang tadi sudah habis. Begitu terus. Ya sudah, saya berhentikan obatnya. Biar mereka beli sendiri,'' tegas Hendrik.
Telinga Zul dan Teguh seakan berdalih tak mendengar sindiran bosnya. Mereka masih sibuk mencuci mobil. Menggosok dari bawah hingga ke atas. Dari ban yang penuh lumpur hingga atap mobil yang dekil.
Air tanah muncrat dari selang yang mereka pegang. Percikan sabun terus menerus membasahi kaki mereka bercampur dengan pasir hitam dan kotoran lain yang jatuh dari badan mobil.
Ini bukan hanya sekedar kembali ke hati yang suci atau Lebaran. Ini soal adu cepat dan adu kuat dengan gatal-gatal, kulit lecet, kutu air dan gepokkan uang untuk menyambung hidup.
Selamat Lebaran Guh! Zul!