Monday, October 6, 2008

Bonceng (1)

Kejadian pertama. ''Pak..pak berhenti pak!'' teriak polisi lalu lintas di belokan Yos Sudarso dan Kelapa Gading suatu siang beberapa waktu lalu. Pak Polisi melambaikan tangannya, memintaku minggir dan berhenti.

Dalam hati aku bilang, halaaah razia macam apa pula ini. Aku sudah siap dengan alasan rutinku kalau diberhentikan polisi, tak punya SIM dan pajak STNK belum dibayar cukup bilang, ''Siap salah Komandan! Sori Dan...lagi buru-buru mau liputan nih,''. Trik ini selalu sukses. Aku tak pernah diberi surat tilang.

Tapi ternyata polisi yang ini lain. ''Ayo Pak...boncengin saya. Kejar...kejar itu sudah di depan. Kejar yang cepat!'' perintah PAk polisi. Tangannya memegang selembar SIM, entah milik siapa.

''Hah?'' sepersekian detik aku bengong. ''Apapula ini? Kenapa Pak?''.

''TAdi ada tabrak lari Pak. Ayo Pak kejaaaaarrr....!'' kata Pak Polisi setengah memaksa. Ia menepuk pundakku dan menunjuk ke arah depan. Ia langsung duduk dibelakang sadel motorku yang sudah robek-robek. Pak polisi ini ternyata lumayan berat, karena motorku langsung ceper dan aku merasa bannya setengah kempes.

Dengan perlahan, motorku berjalan. Setang gas lantas kuputar kencang, knalpot meraung-raung, tapi Suzuki Shogun 2002 miliku tak kuat berlari cepat. ''Ke mana Pak...ke mana Pak?'' tanyaku sambil celingak-celinguk melihat sasaran kejar.

''Itu Pak....Ayo Pak...yang cepat nanti dia hilang,''

Lalu lintas Yos Sudarso lumayan ramai. Mobil berseliweran di kiri dan kanan. Aku dengan cuek ambil jalur tengah. Mencoba menyalip di antara mobil, seperti di film-film Hollywood, tapi aksiku gagal total. Sebab sekuat tenaga kupacu kuda besi yang ditunggangi dua orang berbadan besar itu, ia tetap lambat ibarat siput.

Eh malah Pak Polisinya dengan kesal ngedumel, ''Addduuuuuhhh...lamban banget sih Pak!!! Nanti dia hilang...''.

Dalam hati aku memaki. Kambing nih polisi. Udah ngebajak motor orang di bulan puasa, minta ngejar-ngejar buruan, malah ngehina lagi! Apa ku kepotin aja biar jatuh ya? Untung pikiran iseng itu tak jadi kulakukan.

Menjelang Jembatan Baru. ''Mana...mana Pak motornya?'' tanyaku dengan semangat. Padahal dalam hati aku sudah hilang harapan. Apapun jenis motornya, bebek apalagi sport, sudah pasti lari tungganglanggang tak terkejar oleh motorku.

''Loh siapa yang bilang motor?'' jawab Pak Polisi dengan bingung.

''Hah? Jadi ini ngejar apaaan?'' timpalku terkejut.

Alih-alih ngasih tahu, polisi setengah tua ini malah kembali memerintah, ''Sudah..sudah cepaaat saja kejar! Nanti dia belok lagi,''.

Beberapa meter di sebelah kanan memang ada belokkan. Pak Polisi mencondongkan badannya ke kanan. Posisi ibarat rodeo ini langsung membuat motorku limbung ke kanan.

''Wah dia ngga belok ternyata. Ayo Pak... terus...terus yang cepat!'' katanya setengah kesal.

Pikiranku terpecah. Mengendalikan motor dan mencari target buruan. Ini ngejar siapaaa sihhhh...kataku dalam hati, gemas.

Pak POlisi kembali berseru, ''Itu...itu..Pak...Ayo...Ayo...'' sambil mengacung-acungkan jarinya ke depan. Sebuah truk kontainer warna hijau tampak berusaha zig-zag di lalu lintas yang ramai.

HAH? TRUK KONTAINER???? KITA NGEJAR TRUK?? Kataku dalam hati, tak percaya. Polisi GILAAA.... Kalau dikejar pun belum tentu kita berhasil, lah truk kontainer lawan motor bebek! Di senggol bannya yang sebesar motor saja sudah pasti kami terpental, nyungsep di trotoar Yos Sudarso.

Jarak antara motorku dan truk tinggal sekitar 200 meter. Aku tancap gas sekuat mungkin. Jaraknya memendek tinggal 100 meter. Ayo tancap gas lagi. Jaraknya tinggal 50 meter dan ban truk itu terlihat makin membesar. Aku membayangkan bannya berbicara. ''Sini..sini mas saya senggol sampeyan,''. Aku bergidik.

Akhirnya, dengan susah payah, motorku sejajar dengan bagian depan truk. Pak Polisi dengan nekad setengah berdiri, melambaikan tangannya menarik perhatian pengemudi truk sambil berteriak,''Heiiii...heiiii...Berhentiiiiii...Berhentiiiii kamuuuuuu,''.

Hebatnya, si pengemudi tampak cuek. Ia malah menekan kuat-kuat pedal gas truk raksasa itu. Kembali meninggalkan motorku yang setengah oleng akibat ulah Pak Polisi.

''Loh..loh...ayo Pak cepaaaat kejjaaaar laggiiiii,'' teriak Pak Polisi dengan kesal. Ia dicuekin.

Di depan Kodamar. Untungnya lalu lintas tersendat sedikit karena ada putaran dari sisi jalan lainnya. Truk itu tetap ambil posisi di sebelah kanan. ''Tenaaaang Pak...macet tuh. Kita dapet dehhh,'' kataku meyakinkan Pak Polisi yang gusar itu.

Benar saja. Truk melambat sebab di depannya puluhan mobil tersendat. Kami akhirnya sejajar lagi.

Kali ini Pak Polisi tak mau buang waktu. Dari sudut mataku aku melihat ia merogoh di saku pinggangnya. Sebuah pistol. HAH PISTOL!!!! Aku kaget setengah mati. Mau ngapain dengan pistol? Mau tembak-tembakkan di jalan raya? Kok jadi kaya film laga sih? AStaga kalau salah tembak gimana? Aku langsng terbayang berita-berita salah tembak itu. Sialan..

Dengan marah, dan ambil posisi kembali setengah berdiri Pak Polisi mengacung-acungkan pistolnya ke arah pengemudi truk. ''Heeeiiii...heeeiii...Berhenti kamuuuu...BERHENTIIII KAAAMUUUUU....MAU SAYA TEMBAAAAK KAAAMUUUUU...AYO BERHENTIIIII,'' teriaknya.

Aku merasa ada di adegan lambat. Kejadiannya terpatah-patah. Ibarat film yang diputar setengah kecepatan. Mobil-mobil di belakang dan samping kami perlahan-lahan meminggir. Pak Polisi sudah membidikkan pistolnya ke arah kaca depan truk sambil berteriak-teriak ingin menembak pengemudinya. Motorku melamban hingga akhirnya berhenti di kiri jalan. Di belakangku sudah ramai bunyi klakson.

Pak Polisi menepuk pundakku, sebelum motor berhenti betul. ''Makasih ya Pak,'' katanya tanpa melihat wajahku dan berlari mendekati truk. Ia langsung ambil posisi menembak. MENEMBAK. Di pinggir jalan itu. Truk hijau akhirnya berhenti. Aku sempat menoleh ke belakang. Pak Polisi dengan cepat menggedor pintu pengemudi. Membukanya dan menyeret turun sang sopir naas itu. Kelanjutannya aku tak tahu, apakah si sopir betul-betul ditembak, dipukul dengan gagang pistol, atau digebuki, atau yang lainnya. Dengan masih shock aku kembali memacu motorku meninggalkan para pelaku kejar-kejaran itu di belakang. Jarum jam menunjukkan sebentar lagi pukul 11 siang. Aku mau kejar liputan di DPR. Hari yang aneh!!

2 comments:

iras said...

Lucu mampussss!! Hihihihi. Gue kebayang deh muka sok plonga plongo lo pas tuh polisi ngeluarin pistol. Hahahahahahahahaha :D

sofyan hendra said...

pak polisinya apa gak pernah dapet pelajaran memilih motor yang benar untuk dibajak?