Friday, November 21, 2008

Tergugat di Banceuy, Ingin Hidup di Sukamiskin

Situs penjara Banceuy tak seharusnya berakhir seperti ini. KEsepian, tak terawat, terpencil, dan tak dihargai.

Penjara tempat Kusno alias Soekarno alias Bung Karno muda mencicipi sempit dan dinginnya sel sembari menyelesaikan pledoinya yang terkenal itu, 'Indonesia Menggugat' tenggelam di antara rumah rumah toko di kawasan niaga Banceuy Permai, Bandung.

Tak ada satupun papan nama situs itu. Apalagi keterangan apa perannya dalam sejarah bangsa. Ini sangat kontras dengan sejumlah papan nama ruko toko kaset, warung makan, kantor media massa, dan tempat karaoke yang ditemui di depannya.

Yang ada hanyalah seruan tegas oleh Satuan Tugas (Satgas) Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan 'Dilarang Berjualan di Sekitar Monumen' yang tertera di dinding samping bangunan kamar penjara. Di bawah tulisan itu ada larangan tegas lagi, 'Dilarang Kencing di Sekitar Monumen' dengan kata Kencing berwarna merah menyala.

Namun imbauan terakhir tak diindahkan. SEbab di sekitar situs penjara yang dibangun oleh Belanda itu aroma sisa buang air kecil manusia sangat kencang tercium. Di pagar-pagar situs, oknum tak dikenal dengan cuek menggelar pakaian basah mereka untuk dikeringkan sinar matahari.

Siang itu saya merasa Banceuy seakan tak ada artinya sama sekali.

Untuk memahami Banceuy kita harus mundur sejauh 79 tahun yang lalu. Di Yogyakarta, akhir Desember 1929. Bung Karno dan istrinya Inggit Garnasih, beserta sejumlah petinggi Partai Nasional Indonesia datang dari Bandung bertemu dengan sejumlah pimpinan parpol lainnya.

Kusno, begitu Inggit menyebut Bung Karno, sudah jadi singa podium. Masyarakat berbondong-bondong mendengar pria kharismatik ini berbicara. Peranan sentralnya di PNI diakui para tokoh politik lainnya dan ditakuti Belanda. Bung Karno di depan masyarakat terus menerus mengritik kapitalisme dan imperialisme Belanda.

Pagi 29 Desember, di rumah anggota PNI Sujudi, Belanda menyerbu mereka. Bung Karno, Gatot Mangkupradja, dan Maskun baru saja bangun tidur ketika todongan senjata muncul dari balik pintu rumah. Secepat kilat Belanda membawa mereka kembali ke Bandung menggunakan kereta api menuju Stasiun Cicalengka Bandung. Dengan pengawalan ekstra ketat, ketiganya masuk ke Penjara Banceuy untuk menunggu waktu diadili dan pindah penjara di Penjara Sukamiskin selama empat tahun.

Namun Banceuy tak melulu soal politik. Lewat biografi Inggit Garnasih yang ditulis Ramadhan KH, Banceuy juga jadi kisah romantis seorang perempuan lugu dan pemuda berapi-api. Sejak hari pertama ditawan di Banceuy, Inggit tak pernah absen menjenguk Kusno. Kadang sehari sekali, kadang sehari dua kali, tak lupa membawa makanan kesukaannya, sayur lodeh hingga menitipkan koran.

Menjenguk tahanan politik waktu itu tidaklah mudah. Alasannya Kusno sedang menjalani pemeriksaan. Beredar kabar bahwa para tahanan politik di Banceuy disiksa. Setelah sebulan bolak-balik akhirnya Inggit dibolehkan menemui Kusno.

Di Banceuy ada masa ketika Kusno tak tega melihat Inggit. SAat mereka bertemu, Kusno yang kerap dipanggil 'kasep' (ganteng) itu menangis tersedu-sedu, ''Inggit maafkanlah aku. Aku telah melalaikan tugasku sebagai kepala rumah tangga yang bertanggungjawab. Aku telah menyusahkanmu Inggit,'' kata Kusno terisak-isak.

Kusno mendekam sekitar delapan bulan di Banceuy. Selnya nomor lima blok F dengan luas hanya 1,5 meter. SEbuah sel sempit yang tak punya jendela dengan pintu besi hitam padat berlubang sorong kecil. Gelap, lembab, dan melemaskan.

''Hanya cicak yang jadi kawanku,'' keluh Kusno beberapa kali. Tapi dalam sel inilah ia menulis, dengan kertas dan tinta yang diselundupkan, pembelaannya yang panjang lebar dan terkenal di pengadilan rakyat Bandung.

Di pengadilan, hakim memvonis mereka empat tahun penjara di Sukamiskin. Penjara ini pada masanya terkenal sebagai penjara tokoh-tokoh yang kerap mengkritik Belanda. SEbuah penjara menyerupai kincir angin yang sanggup menampung sekitar 552 tahanan. Letaknya di luar kota Bandung. Belanda membangun Sukamiskin pada 1918 dan mulai menerima tahanan 1933.

Kusno dijebloskan ke sel nomor 233, tepat diujung lorong, dekat tangga besi lantai dua. Dari segi ruang, Sukamiskin jelas lebih baik dari Banceuy. Luas kamarnya 2,5 x 3 meter, dua pintu, dua jendela yang menghadap langsung ke lapangan. Sebuah tempat buang air berada tepat di bawah kasur Kusno yang menempel ke dinding.

Di depan pintu selnya, tertulis, 'The Former Room of Bung Karno'. Kamar itu sejuk. Angin semilir bebas keluar masuk dari. Dua lemari gantung tertempel di dinding. Bung Karno pun memiliki meja, bangku kayu, dan rak buku. Semua perabotan ini masih asli dan lengkap.

Inggit mengingat, saking dianggap berbahaya, Kusno tak boleh dekat sesama tahanan Indonesia. Belanda menempatkannya dengan tahanan Belanda yang kena kasus korupsi maupun pembunuhan. Tetangga selnya adalah seorang pembunuh sadis yang merampas hidup seorang ibu dan tiga anaknya. Kawan dekat Kusno di sayap sel itu seorang Indo Belanda yang membunuh ayahnya karena suka memukuli ibunya.

Sukamiskin menjadi kesulitan tersendiri bagi Inggit. Jaraknya teramat jauh dari Bandung sehingga harus merogoh kocek lebih dalam. Sementara Inggit harus menghidupi keluarganya dengan menjual ramuan kosmetik dan menjahit. Tak jarang ia menjenguk dengan jalan kaki.

Kusno mengisi hari-hari penjaranya dengan bekerja di bagian percetakan. Mengangkat kertas berim-rim, memotongnya, dan membuat buku-buku bergaris. ''Pekerjaan yang membosankan,'' keluh Kusno.

TApi di penjara ini pula Kusno bertambah dekat dengan agama. Ia mulai rajin membaca Al Quran dan buku-buku agama. ''Di sini aku menemukan Islam,'' katanya pada Inggit suatu ketika.

Kembali ke tahun 2008, apa yang terjadi di Banceuy berbeda dengan apa yang terjadi di Sukamiskin. Kepala Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional, Toto Sucipto, mengaku ada masalah dalam perawatan situs Banceuy. Situs ini sudah masuk dalam benda cagar budaya yang dilindungi. Namun masalah klise seperti kewenangan pemeliharaannya tak jelas di antara instansi maupun pemprov membuatnya terlunta-lunta.

''Lihat saja sendiri keadaannya. Kita jadi malu sendiri,'' kata Toto gusar saat ditemui di situs Banceuy. ''Tujuan kita adalah untuk menggugah kesadaran sejarah, dan sejauh ini memang kesadaran sejarah kita masih kurang,'' lanjutnya dengan nada pasrah.

Di Sukamiskin, situasinya 180 derajat berbeda. Kepala Seksi Bimbingan Kemasyarakatan Sukamiskin, Yunianto, mengakui pihaknya sangat kekurangan informasi tentang latar belakang sejarah dijebloskannya Kusno ke sana. Sementara sewaktu-waktu ada kunjungan yang membutuhkan informasi, pihak Sukamiskin kewalahan menjelaskan.

''Kami miskin data Bung Karno di sini, kalau bisa kami diberi buku panduan atau data soal Bung Karno waktu itu. Kami sudah dijanjikan mau diberi, tapi hingga kini tak juga dipenuhi,'' kata Yunianto.

Pihak penjara sebenarnya ingin menjadikan sel Kusno sebagai wahana pembelajaran sejarah. Tak menjadi sel kosong. ''Kami ingin ia 'hidup','' sambungnya. Malah ada niat membuat program audiovisual. ''Jadi ketika pintu sel dibuka ada tontonan menarik, ada cahaya atau suara proklamasi dari Bung Karno. Itu pasti lebih bagus,'' sambungnya dengan tersenyum.

Dua penjara, dua kisah yang berbeda di masa kini, tentang seorang tokoh bangsa. Sesudah mengunjungi kedua penjara itu, saya merasa pidato Bung Karno yang berjudul Jangan Sekali-Sekali Melupakan Sejarah (Jas Merah) sudah habis ditelan waktu.

No comments: