<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-5688052063213088371</id><updated>2012-02-16T21:47:53.438+07:00</updated><title type='text'>setanmartabak</title><subtitle type='html'>...apa yang kita percaya sebenarnya tidak pernah ada...</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://setanmartabak.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5688052063213088371/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://setanmartabak.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>evy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04100470962692008262</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>54</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5688052063213088371.post-6209100647964330668</id><published>2009-03-10T08:53:00.001+07:00</published><updated>2009-03-10T08:55:16.546+07:00</updated><title type='text'>Untung!</title><content type='html'>Do you hear me,&lt;br /&gt;I'm talking to you&lt;br /&gt;Across the water across the deep blue ocean&lt;br /&gt;Under the open sky, oh my, baby I'm trying&lt;br /&gt;Boy I hear you in my dreams&lt;br /&gt;I feel your whisper across the sea&lt;br /&gt;I keep you with me in my heart&lt;br /&gt;You make it easier when life gets hard&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I'm lucky I'm in love with my best friend&lt;br /&gt;Lucky to have been where I have been&lt;br /&gt;Lucky to be coming home again&lt;br /&gt;Ooohh ooooh oooh oooh ooh ooh ooh ooh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;They don't know how long it takes&lt;br /&gt;Waiting for a love like this&lt;br /&gt;Every time we say goodbye&lt;br /&gt;I wish we had one more kiss&lt;br /&gt;I'll wait for you I promise you, I will&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I'm lucky I'm in love with my best friend&lt;br /&gt;Lucky to have been where I have been&lt;br /&gt;Lucky to be coming home again&lt;br /&gt;Lucky we're in love every way&lt;br /&gt;Lucky to have stayed where we have stayed&lt;br /&gt;Lucky to be coming home someday&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;And so I'm sailing through the sea&lt;br /&gt;To an island where we'll meet&lt;br /&gt;You'll hear the music fill the air&lt;br /&gt;I'll put a flower in your hair&lt;br /&gt;though the breezes through trees&lt;br /&gt;Move so pretty you're all I see&lt;br /&gt;As the world keeps spinning round&lt;br /&gt;You hold me right here right now&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I'm lucky I'm in love with my best friend&lt;br /&gt;Lucky to have been where I have been&lt;br /&gt;Lucky to be coming home again&lt;br /&gt;I'm lucky we're in love every way&lt;br /&gt;Lucky to have stayed where we have stayed&lt;br /&gt;Lucky to be coming home someday&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ooohh ooooh oooh oooh ooh ooh ooh ooh&lt;br /&gt;Ooooh ooooh oooh oooh ooh ooh ooh ooh&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5688052063213088371-6209100647964330668?l=setanmartabak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://setanmartabak.blogspot.com/feeds/6209100647964330668/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5688052063213088371&amp;postID=6209100647964330668' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5688052063213088371/posts/default/6209100647964330668'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5688052063213088371/posts/default/6209100647964330668'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://setanmartabak.blogspot.com/2009/03/untung.html' title='Untung!'/><author><name>evy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04100470962692008262</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5688052063213088371.post-7895105308499520416</id><published>2008-11-21T15:34:00.000+07:00</published><updated>2008-11-21T15:38:36.609+07:00</updated><title type='text'>Tergugat di Banceuy, Ingin Hidup di Sukamiskin</title><content type='html'>Situs penjara Banceuy tak seharusnya berakhir seperti ini. KEsepian, tak terawat, terpencil, dan tak dihargai. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penjara tempat Kusno alias Soekarno alias Bung Karno muda mencicipi sempit dan dinginnya sel sembari menyelesaikan  pledoinya yang terkenal itu, 'Indonesia Menggugat' tenggelam di antara rumah rumah toko di kawasan niaga Banceuy Permai, Bandung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak ada satupun papan nama situs itu. Apalagi keterangan apa perannya dalam sejarah bangsa. Ini sangat kontras dengan sejumlah papan nama ruko toko kaset, warung makan, kantor media massa, dan tempat karaoke yang ditemui di depannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang ada hanyalah seruan tegas oleh Satuan Tugas (Satgas) Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan 'Dilarang Berjualan di Sekitar Monumen' yang tertera di dinding samping bangunan kamar penjara. Di bawah tulisan itu ada larangan tegas lagi, 'Dilarang Kencing di Sekitar Monumen' dengan kata Kencing berwarna merah menyala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun imbauan terakhir tak diindahkan. SEbab di sekitar situs penjara yang dibangun oleh Belanda itu aroma sisa buang air kecil manusia sangat kencang tercium. Di pagar-pagar situs, oknum tak dikenal dengan cuek menggelar pakaian basah mereka untuk dikeringkan sinar matahari. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siang itu saya merasa Banceuy seakan tak ada artinya sama sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk memahami Banceuy kita harus mundur sejauh 79 tahun yang lalu. Di Yogyakarta, akhir Desember 1929. Bung Karno dan istrinya Inggit Garnasih, beserta sejumlah petinggi Partai Nasional Indonesia datang dari Bandung bertemu dengan sejumlah pimpinan parpol lainnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kusno, begitu Inggit menyebut Bung Karno, sudah jadi singa podium. Masyarakat berbondong-bondong mendengar pria kharismatik ini berbicara. Peranan sentralnya di PNI diakui para tokoh politik lainnya dan ditakuti Belanda. Bung Karno di depan masyarakat terus menerus mengritik kapitalisme dan imperialisme Belanda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi 29 Desember, di rumah anggota PNI Sujudi, Belanda menyerbu mereka. Bung Karno, Gatot Mangkupradja, dan Maskun baru saja bangun tidur ketika todongan senjata muncul dari balik pintu rumah. Secepat kilat Belanda membawa mereka kembali ke Bandung menggunakan kereta api menuju Stasiun Cicalengka Bandung. Dengan pengawalan ekstra ketat, ketiganya masuk ke Penjara Banceuy untuk menunggu waktu diadili dan pindah penjara di Penjara Sukamiskin selama empat tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun Banceuy tak melulu soal politik. Lewat biografi Inggit Garnasih yang ditulis Ramadhan KH, Banceuy juga jadi kisah romantis seorang perempuan lugu dan pemuda berapi-api. Sejak hari pertama ditawan di Banceuy, Inggit tak pernah absen menjenguk Kusno. Kadang sehari sekali, kadang sehari dua kali, tak lupa membawa makanan kesukaannya, sayur lodeh hingga menitipkan koran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjenguk tahanan politik waktu itu tidaklah mudah. Alasannya Kusno sedang menjalani pemeriksaan. Beredar kabar bahwa para tahanan politik di Banceuy disiksa. Setelah sebulan bolak-balik akhirnya Inggit dibolehkan menemui Kusno. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Banceuy ada masa ketika Kusno tak tega melihat Inggit. SAat mereka bertemu, Kusno yang kerap dipanggil 'kasep' (ganteng) itu menangis tersedu-sedu, ''Inggit maafkanlah aku. Aku telah melalaikan tugasku sebagai kepala rumah tangga yang bertanggungjawab. Aku telah menyusahkanmu Inggit,'' kata Kusno terisak-isak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kusno mendekam sekitar delapan bulan di Banceuy. Selnya nomor lima blok F dengan luas hanya 1,5 meter. SEbuah sel sempit yang tak punya jendela dengan pintu  besi hitam padat berlubang sorong kecil. Gelap, lembab, dan melemaskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Hanya cicak yang jadi kawanku,'' keluh Kusno beberapa kali. Tapi dalam sel inilah ia menulis, dengan kertas dan tinta yang diselundupkan, pembelaannya yang panjang lebar dan terkenal di pengadilan rakyat Bandung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di pengadilan, hakim memvonis mereka empat tahun penjara di Sukamiskin. Penjara ini pada masanya terkenal sebagai penjara tokoh-tokoh yang kerap mengkritik Belanda. SEbuah penjara menyerupai kincir angin yang sanggup menampung sekitar 552 tahanan. Letaknya di luar kota Bandung. Belanda membangun Sukamiskin pada 1918 dan mulai menerima tahanan 1933. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kusno dijebloskan ke sel nomor 233, tepat diujung lorong, dekat tangga besi lantai dua. Dari segi ruang, Sukamiskin jelas lebih baik dari Banceuy. Luas kamarnya 2,5 x 3 meter, dua pintu, dua jendela yang menghadap langsung ke lapangan. Sebuah tempat buang air berada tepat di bawah kasur Kusno yang menempel ke dinding. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di depan pintu selnya, tertulis, 'The Former Room of Bung Karno'. Kamar itu sejuk. Angin semilir bebas keluar masuk dari. Dua lemari gantung tertempel di dinding. Bung Karno pun memiliki meja, bangku kayu, dan rak buku. Semua perabotan ini masih asli dan lengkap. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inggit mengingat, saking dianggap berbahaya, Kusno tak boleh dekat sesama tahanan Indonesia. Belanda menempatkannya dengan tahanan Belanda yang kena kasus korupsi maupun pembunuhan. Tetangga selnya adalah seorang pembunuh sadis yang merampas hidup seorang ibu dan tiga anaknya. Kawan dekat Kusno di sayap sel itu seorang Indo Belanda yang membunuh ayahnya karena suka memukuli ibunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sukamiskin menjadi kesulitan tersendiri bagi Inggit. Jaraknya teramat jauh dari Bandung sehingga harus merogoh kocek lebih dalam. Sementara Inggit harus menghidupi keluarganya dengan menjual ramuan kosmetik dan menjahit. Tak jarang ia menjenguk dengan jalan kaki. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kusno mengisi hari-hari penjaranya dengan bekerja di bagian percetakan. Mengangkat kertas berim-rim, memotongnya, dan membuat buku-buku bergaris. ''Pekerjaan yang membosankan,'' keluh Kusno.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TApi di penjara ini pula Kusno bertambah dekat dengan agama. Ia mulai rajin membaca Al Quran dan buku-buku agama. ''Di sini aku menemukan Islam,'' katanya pada Inggit suatu ketika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke tahun 2008, apa yang terjadi di Banceuy berbeda dengan apa yang terjadi di Sukamiskin. Kepala Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional, Toto Sucipto, mengaku ada masalah dalam perawatan situs Banceuy. Situs ini sudah masuk dalam benda cagar budaya yang dilindungi. Namun masalah klise seperti kewenangan pemeliharaannya tak jelas di antara instansi maupun pemprov membuatnya terlunta-lunta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Lihat saja sendiri keadaannya. Kita jadi malu sendiri,'' kata Toto gusar saat ditemui di situs Banceuy. ''Tujuan kita adalah untuk menggugah kesadaran sejarah, dan sejauh ini memang kesadaran sejarah kita masih kurang,'' lanjutnya dengan nada pasrah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Sukamiskin, situasinya 180 derajat berbeda. Kepala Seksi Bimbingan Kemasyarakatan Sukamiskin, Yunianto, mengakui pihaknya sangat kekurangan informasi tentang latar belakang sejarah dijebloskannya Kusno ke sana. Sementara sewaktu-waktu ada kunjungan yang membutuhkan informasi, pihak Sukamiskin kewalahan menjelaskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Kami miskin data Bung Karno di sini, kalau bisa kami diberi buku panduan atau data soal Bung Karno waktu itu. Kami sudah dijanjikan mau diberi, tapi hingga kini tak juga dipenuhi,'' kata Yunianto. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pihak penjara sebenarnya ingin menjadikan sel Kusno sebagai wahana pembelajaran sejarah. Tak menjadi sel kosong. ''Kami ingin ia 'hidup','' sambungnya. Malah ada niat membuat program audiovisual. ''Jadi ketika pintu sel dibuka ada tontonan menarik, ada cahaya atau suara proklamasi dari Bung Karno. Itu pasti lebih bagus,'' sambungnya dengan tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua penjara, dua kisah yang berbeda di masa kini, tentang seorang tokoh bangsa. Sesudah mengunjungi kedua penjara itu, saya merasa pidato Bung Karno yang berjudul Jangan Sekali-Sekali Melupakan Sejarah (Jas Merah) sudah habis ditelan waktu.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5688052063213088371-7895105308499520416?l=setanmartabak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://setanmartabak.blogspot.com/feeds/7895105308499520416/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5688052063213088371&amp;postID=7895105308499520416' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5688052063213088371/posts/default/7895105308499520416'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5688052063213088371/posts/default/7895105308499520416'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://setanmartabak.blogspot.com/2008/11/tergugat-di-banceuy-ingin-hidup-di.html' title='Tergugat di Banceuy, Ingin Hidup di Sukamiskin'/><author><name>evy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04100470962692008262</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5688052063213088371.post-2541941389243528109</id><published>2008-10-21T18:26:00.000+07:00</published><updated>2008-10-21T18:28:25.797+07:00</updated><title type='text'>KABAR</title><content type='html'>&lt;span class="post-comment-link"&gt; &lt;/span&gt; &lt;span class="post-icons"&gt; &lt;/span&gt;      &lt;div class="post hentry"&gt; &lt;a name="5073626355307551272"&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="post-body entry-content"&gt;bagaimana kau menentukan kabar baik dan kabar buruk?&lt;br /&gt;sebuah kabar datang beberapa bulan lalu&lt;br /&gt;dari jumat di bulan itu&lt;br /&gt;di sebuah rumah makan entah di jakarta mana&lt;br /&gt;pada sebuah waktu entah pukul berapa&lt;br /&gt;dengan seorang yang tak tahu siapa&lt;br /&gt;saling bertukar cerita, entah cerita apa&lt;br /&gt;tapi ada dia&lt;br /&gt;dan ia menikmatinya...&lt;br /&gt;(sigh!) &lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5688052063213088371-2541941389243528109?l=setanmartabak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://setanmartabak.blogspot.com/feeds/2541941389243528109/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5688052063213088371&amp;postID=2541941389243528109' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5688052063213088371/posts/default/2541941389243528109'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5688052063213088371/posts/default/2541941389243528109'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://setanmartabak.blogspot.com/2008/10/kabar.html' title='KABAR'/><author><name>evy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04100470962692008262</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5688052063213088371.post-1504574617350010529</id><published>2008-10-21T18:22:00.000+07:00</published><updated>2008-10-21T18:26:15.481+07:00</updated><title type='text'>Pohon</title><content type='html'>Dia : Kamu selalu bisa membuat dirimu nyaman dan tersenyum...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku : Loh aku memang seperti itu kan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia : Kamu seperti pohon...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku : Hahahaha...Pasti pohon karet karena melaaaaarrrr..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia : Ngga. Pohon yang rindang...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku : Pasti beringin deh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia : Pohon yang meneduhkan semua orang dibawahnya...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku : Emang aku sebesar itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia : ....&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5688052063213088371-1504574617350010529?l=setanmartabak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://setanmartabak.blogspot.com/feeds/1504574617350010529/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5688052063213088371&amp;postID=1504574617350010529' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5688052063213088371/posts/default/1504574617350010529'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5688052063213088371/posts/default/1504574617350010529'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://setanmartabak.blogspot.com/2008/10/pohon.html' title='Pohon'/><author><name>evy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04100470962692008262</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5688052063213088371.post-2317562993015306267</id><published>2008-10-06T19:16:00.000+07:00</published><updated>2008-10-06T19:17:38.142+07:00</updated><title type='text'>Bonceng (1)</title><content type='html'>Kejadian pertama. ''Pak..pak berhenti pak!'' teriak polisi lalu lintas di belokan Yos Sudarso dan Kelapa Gading suatu siang beberapa waktu lalu. Pak Polisi melambaikan tangannya, memintaku minggir dan berhenti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hati aku bilang, halaaah razia macam apa pula ini. Aku sudah siap dengan alasan rutinku kalau diberhentikan polisi, tak punya SIM dan pajak STNK belum dibayar cukup bilang, ''Siap salah Komandan! Sori Dan...lagi buru-buru mau liputan nih,''. Trik ini selalu sukses. Aku tak pernah diberi surat tilang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi ternyata polisi yang ini lain. ''Ayo Pak...boncengin saya. Kejar...kejar itu sudah di depan. Kejar yang cepat!'' perintah PAk polisi. Tangannya memegang selembar SIM, entah milik siapa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Hah?'' sepersekian detik aku bengong. ''Apapula ini? Kenapa Pak?''.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''TAdi ada tabrak lari Pak. Ayo Pak kejaaaaarrr....!'' kata Pak Polisi setengah memaksa. Ia menepuk pundakku dan menunjuk ke arah depan. Ia langsung duduk dibelakang sadel motorku yang sudah robek-robek. Pak polisi ini ternyata lumayan berat, karena motorku langsung ceper dan aku merasa bannya setengah kempes.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan perlahan, motorku berjalan. Setang gas lantas kuputar kencang, knalpot meraung-raung, tapi Suzuki Shogun 2002 miliku tak kuat berlari cepat. ''Ke mana Pak...ke mana Pak?'' tanyaku sambil celingak-celinguk melihat sasaran kejar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Itu Pak....Ayo Pak...yang cepat nanti dia hilang,''&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu lintas Yos Sudarso lumayan ramai. Mobil berseliweran di kiri dan kanan. Aku dengan cuek ambil jalur tengah. Mencoba menyalip di antara mobil, seperti di film-film Hollywood, tapi aksiku gagal total. Sebab sekuat tenaga kupacu kuda besi yang ditunggangi dua orang berbadan besar itu, ia tetap lambat ibarat siput.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Eh malah Pak Polisinya dengan kesal ngedumel, ''Addduuuuuhhh...lamban banget sih Pak!!! Nanti dia hilang...''.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hati aku memaki. Kambing nih polisi. Udah ngebajak motor orang di bulan puasa, minta ngejar-ngejar buruan, malah ngehina lagi! Apa ku kepotin aja biar jatuh ya? Untung pikiran iseng itu tak jadi kulakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjelang Jembatan Baru. ''Mana...mana Pak motornya?'' tanyaku dengan semangat. Padahal dalam hati aku sudah hilang harapan. Apapun jenis motornya, bebek apalagi sport, sudah pasti lari tungganglanggang tak terkejar oleh motorku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Loh siapa yang bilang motor?'' jawab Pak Polisi dengan bingung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Hah? Jadi ini ngejar apaaan?'' timpalku terkejut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alih-alih ngasih tahu, polisi setengah tua ini malah kembali memerintah, ''Sudah..sudah cepaaat saja kejar! Nanti dia belok lagi,''.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa meter di sebelah kanan memang ada belokkan. Pak Polisi mencondongkan badannya ke kanan. Posisi ibarat rodeo ini langsung membuat motorku limbung ke kanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Wah dia ngga belok ternyata. Ayo Pak... terus...terus yang cepat!'' katanya setengah kesal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pikiranku terpecah. Mengendalikan motor dan mencari target buruan. Ini ngejar siapaaa sihhhh...kataku dalam hati, gemas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak POlisi kembali berseru, ''Itu...itu..Pak...Ayo...Ayo...'' sambil mengacung-acungkan jarinya ke depan. Sebuah truk kontainer warna hijau tampak berusaha zig-zag di lalu lintas yang ramai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HAH? TRUK KONTAINER???? KITA NGEJAR TRUK?? Kataku dalam hati, tak percaya. Polisi GILAAA.... Kalau dikejar pun belum tentu kita berhasil, lah truk kontainer lawan motor bebek! Di senggol bannya yang sebesar motor saja sudah pasti kami terpental, nyungsep di trotoar Yos Sudarso.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jarak antara motorku dan truk tinggal sekitar 200 meter. Aku tancap gas sekuat mungkin. Jaraknya memendek tinggal 100 meter. Ayo tancap gas lagi. Jaraknya tinggal 50 meter dan ban truk itu terlihat makin membesar. Aku membayangkan bannya berbicara. ''Sini..sini mas saya senggol sampeyan,''. Aku bergidik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, dengan susah payah, motorku sejajar dengan bagian depan truk. Pak Polisi dengan nekad setengah berdiri, melambaikan tangannya menarik perhatian pengemudi truk sambil berteriak,''Heiiii...heiiii...Berhentiiiiii...Berhentiiiii kamuuuuuu,''.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hebatnya, si pengemudi tampak cuek. Ia malah menekan kuat-kuat pedal gas truk raksasa itu. Kembali meninggalkan motorku yang setengah oleng akibat ulah Pak Polisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Loh..loh...ayo Pak cepaaaat kejjaaaar laggiiiii,'' teriak Pak Polisi dengan kesal. Ia dicuekin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di depan Kodamar. Untungnya lalu lintas tersendat sedikit karena ada putaran dari sisi jalan lainnya. Truk itu tetap ambil posisi di sebelah kanan. ''Tenaaaang Pak...macet tuh. Kita dapet dehhh,'' kataku meyakinkan Pak Polisi yang gusar itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benar saja. Truk melambat sebab di depannya puluhan mobil tersendat. Kami akhirnya sejajar lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kali ini Pak Polisi tak mau buang waktu. Dari sudut mataku aku melihat ia merogoh di saku pinggangnya. Sebuah pistol. HAH PISTOL!!!! Aku kaget setengah mati. Mau ngapain dengan pistol? Mau tembak-tembakkan di jalan raya? Kok jadi kaya film laga sih? AStaga kalau salah tembak gimana? Aku langsng terbayang berita-berita salah tembak itu. Sialan..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan marah, dan ambil posisi kembali setengah berdiri Pak Polisi mengacung-acungkan pistolnya ke arah pengemudi truk. ''Heeeiiii...heeeiii...Berhenti kamuuuu...BERHENTIIII KAAAMUUUUU....MAU SAYA TEMBAAAAK KAAAMUUUUU...AYO BERHENTIIIII,'' teriaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku merasa ada di adegan lambat. Kejadiannya terpatah-patah. Ibarat film yang diputar setengah kecepatan. Mobil-mobil di belakang dan samping kami perlahan-lahan meminggir. Pak Polisi sudah membidikkan pistolnya ke arah kaca depan truk sambil berteriak-teriak ingin menembak pengemudinya. Motorku melamban hingga akhirnya berhenti di kiri jalan. Di belakangku sudah ramai bunyi klakson.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Polisi menepuk pundakku, sebelum motor berhenti betul. ''Makasih ya Pak,'' katanya tanpa melihat wajahku dan berlari mendekati truk. Ia langsung ambil posisi menembak. MENEMBAK. Di pinggir jalan itu. Truk hijau akhirnya berhenti. Aku sempat menoleh ke belakang. Pak Polisi dengan cepat menggedor pintu pengemudi. Membukanya dan menyeret turun sang sopir naas itu. Kelanjutannya aku tak tahu, apakah si sopir betul-betul ditembak, dipukul dengan gagang pistol, atau digebuki, atau yang lainnya. Dengan masih shock aku kembali memacu motorku meninggalkan para pelaku kejar-kejaran itu di belakang. Jarum jam menunjukkan sebentar lagi pukul 11 siang. Aku mau kejar liputan di DPR. Hari yang aneh!!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5688052063213088371-2317562993015306267?l=setanmartabak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://setanmartabak.blogspot.com/feeds/2317562993015306267/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5688052063213088371&amp;postID=2317562993015306267' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5688052063213088371/posts/default/2317562993015306267'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5688052063213088371/posts/default/2317562993015306267'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://setanmartabak.blogspot.com/2008/10/bonceng-1.html' title='Bonceng (1)'/><author><name>evy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04100470962692008262</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5688052063213088371.post-7964915472990770058</id><published>2008-10-03T19:06:00.000+07:00</published><updated>2008-10-03T19:07:25.356+07:00</updated><title type='text'>Berlebaran dengan Kutu</title><content type='html'>TEguh tampak tak tahan. Wajah tirusnya meringis. Bergantian ia gesek kedua telapak kakinya. ''Zul! Zul pinjam sepatu bot mu!'' teriak pemuda tanggung ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasa gatal di kakinya sudah mencapai puncaknya, tapi ia harus bertahan hingga hari usai. Selasa (30/9) sore, remaja kurus berambut cokelat dan anting sebesar kancing kebaya di telinga kanannya baru menyelesaikan paruh pertama waktu kerjanya. Masih ada delapan jam lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemuda gondrong sebahu dengan tubuh kerempeng berotot, yang bernama Zul, menoleh ke Teguh yang sedang berada di balik sedan Honda Jazz hitam. ''Emang kenapa?'' balasnya sambil nyengir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teguh meninggalkan mobil yang sedang ia cuci. Menghampiri Zul. Keduanya sudah mencuci entah berapa mobil hari ini. Bedanya, kaki Zul ditutupi sepatu bot karet warna hijau sementara Teguh bertelanjang kaki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Lo liat kaki gue nih! Ancur dah!'' kata pemuda putus sekolah itu mengeluh, sambil menatap kakinya. Tungkai kaki Teguh ibarat dahan pohon berwarna cokelat. Kurus dan penuh bercak. Siang itu, kakinya yang basah mulai berubah warna. Cokelat penuh totol-totol merah karena lecet terlalu sering digaruk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TElapak kakinya pun pucat, berkeriput tanda kulit yang terlalu lama terkena air, dan penuh bercak merah yang gatal. Kukunya terlihat sangat putih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepatu bot pun berpindah kaki. ''Pake' koran biar gak tambah gatel,'' kata Zul. TEguh mengangguk. Dari balik rambutnya yang gondrong di depan tapi cepak di belakang, sorot matanya tampak lega.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan wajah tetap meringis menahan gatal, ia menjejalkan tumpukkan koran ke dalam sepatu bot usang itu. Entah sudah berapa kali sepatu itu berganti tuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teguh juga membungkus telapak kakinya dengan koran bekas, seperti memakai perban. Sejurus kemudian ia berusaha memasukkan kakinya yang sekarang terlihat seperti kaki boneka kertas ditempeli koran ke dalam bot yang sempit. Sukses, dan ia tersenyum sendiri, beranjak berdiri, mengambil selang dan lap basah di dalam ember sabun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia pun kembali mencuci mobil hingga malam hari, di hari terakhir bulan Ramadhan. Esoknya ia libur dan merayakan Lebaran dengan keluarga, shalat Idul Fitri bersama-sama dan masih mengidap gatal-gatal itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kutu air! Itulah penyakit yang mendera Teguh dan rekan-rekannya sesama pencuci mobil di kawasan Rawasari. Bekerja dengan air tanah, sabun cuci, pasir penuh kotoran dari bekas cucian ratusan mobil yang menggenang, membuat kulit mereka tercabik-cabik dimakan kutu air.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Kalau gak pakai sepatu bot, cuci tujuh mobil sudah pasti gatel-gatel,'' ungkap Zul sembari menggosok-gosok kap mobil Opel Blazer warna merah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalahnya, dalam sehari apalagi jelang Lebaran, mereka tak mencuci hanya tujuh mobil. Tapi puluhan mobil. Lebaran membawa berkah bagi tempat cuci mobil dan tentunya bagi pencuci mobil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;'Kantor' tempat Teguh dan Zul bekerja terletak di pinggir jalan Jenderal Ahmad Yani atau daerah yang dikenal dengan Rawasari. Di belakang trotoar taman hijau yang tumbuhannya dibungkus debu tebal. Secuil tempat berbentuk persegi berlantai semen kasar yang berlubang-lubang dengan bangunan gedek di belakang, untuk kantor dan tempat tinggal sementara pengelola. Mobil yang hendak dicuci dibariskan lurus. Tempatnya cukup untuk menampung lima hingga enam mobil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum dan sesudah Lebaran, mobil harus sabar antri untuk dilumuri sabun putih dan dibilas. Bahkan antri di pinggir jalan. Bagi Teguh dan rekan, ini kesempatan membuat dompet mereka tebal. Betapa tidak, dalam berkas laporan sehari sebelumnya, rata-rata pencuci mobil di tempat Zul dan Teguh bekerja membawa pulang Rp 130 ribu-an dari hasil 24 jam mencuci.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan ongkos cuci mobil Rp 10 ribu, bila ingin menambah layanan penyedot debu untuk bagian dalam mobil serta semir ban harus menambah Rp 10 ribu, Teguh dan rekannya mendapat bagian Rp 4 ribu. Penghasilan mereka bertambah kalau mendapat tip, entah ribuan atau kadang puluhan ribu rupiah, kalau ada pelanggan yang royal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu-satunya musuh pencuci mobil adalah kutu air. Tidak diobati? ''Ya kalau sekarang percuma,'' jawab TEguh masih dengan meringis. ''Nanti tunggu pulang ke rumah dikasih salep seharian biar kering,''.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sialnya, pengobatan itu hanya sementara. Lusa ia kembali berjibaku dengan air tanah, sabun cuci, kotoran mobil, dan pasir penuh kuman. ''Ancur dah kaki gua,'' katanya getir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak jauh dari tempat Teguh meringis, duduk di balik meja putih kusam, Pak Hendrik, si pengelola tempat cucian mobil. Pria paruh baya bertopi, dengan tubuh kekar, tapi sebelah telapak kakinya bengkak. Ia cuek mendengar keluhan anak buahnya. Seolah keluhan mereka ibarat nomor-nomor mobil yang ia tulis di buku besarnya. Sudah biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Tadinya mereka saya beri sepatu bot satu orang satu,'' kata Hendrik, dengan logat Menado yang kental. Beberapa tahun lalu ia membeli sekitar 60-an sepatu bot untuk para pegawainya. Kini sepatu yang masih bisa digunakan tinggal delapan pasang, itupun usang. ''Mahal sepatu itu, sekarang mungkin sepasang sekitar Rp 60 ribu,'' katanya berdalih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SAtu demi satu sepatu karet setinggi betis itu rusak termakan air dan cuaca. Jebol dan bolong di mana-mana. Hendrik menyalahkan anak buahnya yang tak bisa merawat sepatu gratisnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seharusnya, keluh dia, usai mencuci seharian sepatu dijemur di terik matahari hingga kering. Tapi yang terjadi malah sepatu basah hanya digeletakkan begitu saja di ruang kantor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Wah kalau sudah 60 sepatu ada di sini, baunya gak ketulungan!'' katanya seraya tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya masalah kutu air pun ia perhatikan. Di awal-awal bisnisnya beberapa tahun lalu, ia rutin membeli satu boks obat kutu air yang ia bagi gratis ke anak buahnya. Tapi pengobatan itu berhenti setelah obat itu dengan cepat menghilang dari dos-nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Mereka nakal!'' katanya dengan nada tinggi, matanya mendelik tajam. Sengaja supaya didengar Teguh dan kawan-kawannya. ''Kalau sudah dapat obat, nanti sebentar mereka minta lagi. Bilang yang tadi sudah habis. Begitu terus. Ya sudah, saya berhentikan obatnya. Biar mereka beli sendiri,'' tegas Hendrik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Telinga Zul dan Teguh seakan berdalih tak mendengar sindiran bosnya. Mereka masih sibuk mencuci mobil. Menggosok dari bawah hingga ke atas. Dari ban yang penuh lumpur hingga atap mobil yang dekil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Air tanah muncrat dari selang yang mereka pegang. Percikan sabun terus menerus membasahi kaki mereka bercampur dengan pasir hitam dan kotoran lain yang jatuh dari badan mobil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini bukan hanya sekedar kembali ke hati yang suci atau Lebaran. Ini soal adu cepat dan adu kuat dengan gatal-gatal, kulit lecet, kutu air dan gepokkan uang untuk menyambung hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat Lebaran Guh! Zul!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5688052063213088371-7964915472990770058?l=setanmartabak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://setanmartabak.blogspot.com/feeds/7964915472990770058/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5688052063213088371&amp;postID=7964915472990770058' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5688052063213088371/posts/default/7964915472990770058'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5688052063213088371/posts/default/7964915472990770058'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://setanmartabak.blogspot.com/2008/10/berlebaran-dengan-kutu.html' title='Berlebaran dengan Kutu'/><author><name>evy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04100470962692008262</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5688052063213088371.post-1395210751423413115</id><published>2008-09-07T17:40:00.000+07:00</published><updated>2008-09-07T18:28:14.991+07:00</updated><title type='text'>beberapa hal yang bikin gw suka Ramadhan</title><content type='html'>untuk beberapa alasan seperti :&lt;br /&gt;si A asyik nyeruput es krim walls&lt;br /&gt;mba B lagi jilat-jilatin conello&lt;br /&gt;mas C gigit pizza sambil merem melek&lt;br /&gt;tante D sibuk ngaduk milkshake&lt;br /&gt;om E nyocol-nyocolin kentang goreng ke saus tomat dan sambel&lt;br /&gt;pak F minum lemon soda yang segar&lt;br /&gt;bu G makan hamburger yang tebel&lt;br /&gt;kakak H nyendok pasta yang kental dengan keju dan bubuk sambel&lt;br /&gt;gw suka banget suasana puasa di Mal!&lt;br /&gt;sambil ngeliat mereka, gw ngebayangin mereka semua masuk NERAKA&lt;br /&gt;HAHAHAHAHAHAHAHA...&lt;br /&gt;si A asyik nyeruput es krim walls sambil disodok besi panas pantatnya&lt;br /&gt;mba B lagi jilat-jilatin conello lava pijar yang bikin lidahnya gosong&lt;br /&gt;mas C gigit pizza sambil merem melek tapi badannya direndam di minyak panas&lt;br /&gt;tante D sibuk ngaduk milkshake , namun teriak-teriak karena kepalanya disetrika&lt;br /&gt;om E nyocol-nyocolin kentang goreng ke saus tomat dan sambel sementara tubuhnya dicambuk&lt;br /&gt;pak F minum lemon soda yang segar, saking segarnya tenggorokan dan perutnya terburai&lt;br /&gt;bu G makan hamburger yang tebel di dipan yang penuh ular berbisa dan kalajengking&lt;br /&gt;kakak H nyendok pasta yang kental dengan keju dan bubuk sambel sembari ditabokin sama gada berpaku karatan...&lt;br /&gt;oh how i love puasa....&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5688052063213088371-1395210751423413115?l=setanmartabak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://setanmartabak.blogspot.com/feeds/1395210751423413115/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5688052063213088371&amp;postID=1395210751423413115' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5688052063213088371/posts/default/1395210751423413115'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5688052063213088371/posts/default/1395210751423413115'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://setanmartabak.blogspot.com/2008/09/beberapa-hal-yang-bikin-gw-suka.html' title='beberapa hal yang bikin gw suka Ramadhan'/><author><name>evy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04100470962692008262</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5688052063213088371.post-7697299957360343591</id><published>2008-09-01T19:26:00.000+07:00</published><updated>2008-09-01T19:29:51.140+07:00</updated><title type='text'>puasa...</title><content type='html'>untuk beberapa alasan tertentu&lt;br /&gt;seperti :&lt;br /&gt;banyak orang menjual diri&lt;br /&gt;banyak pihak berganti topeng&lt;br /&gt;gw 'BENCI' bulan puasa&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5688052063213088371-7697299957360343591?l=setanmartabak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://setanmartabak.blogspot.com/feeds/7697299957360343591/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5688052063213088371&amp;postID=7697299957360343591' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5688052063213088371/posts/default/7697299957360343591'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5688052063213088371/posts/default/7697299957360343591'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://setanmartabak.blogspot.com/2008/09/puasa.html' title='puasa...'/><author><name>evy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04100470962692008262</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5688052063213088371.post-4688726978316232718</id><published>2008-08-15T19:18:00.000+07:00</published><updated>2008-08-15T19:20:33.098+07:00</updated><title type='text'>Ah, God, the way your little finger moved</title><content type='html'>&lt;p style="line-height: 1.25em;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;As you thrust a bare arm backward&lt;br /&gt;And made play with your hair&lt;br /&gt;And a comb a silly gilt comb&lt;br /&gt;Ah, God—that I should suffer&lt;br /&gt;Because of the way a little finger moved.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;       &lt;!-- AddThis Button BEGIN --&gt;&lt;script type="text/javascript"&gt;addthis_pub  = 'sayyes943';&lt;/script&gt;-  Stephen Crane&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5688052063213088371-4688726978316232718?l=setanmartabak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://setanmartabak.blogspot.com/feeds/4688726978316232718/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5688052063213088371&amp;postID=4688726978316232718' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5688052063213088371/posts/default/4688726978316232718'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5688052063213088371/posts/default/4688726978316232718'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://setanmartabak.blogspot.com/2008/08/ah-god-way-your-little-finger-moved.html' title='Ah, God, the way your little finger moved'/><author><name>evy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04100470962692008262</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5688052063213088371.post-4621108584821312177</id><published>2008-08-11T09:03:00.000+07:00</published><updated>2008-08-11T09:09:26.090+07:00</updated><title type='text'>Rasa Papua di Amerika</title><content type='html'>Berapa banyak kedai kopi Starbucks di negara asalnya, AS? Situs resmi Starbucks menyebut angka 11.168 kedai. Sebanyak 7.087 kedai dioperasikan oleh Starbucks sendiri, dan sisanya diwaralabakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nama Starbucks berasal dari novel Moby Dick, yang ditulis oleh Herman Melville pada tahun 1851. Seratus dua puluh tahun kemudian, di Kota Seattle, kedai pertama Starbucks dibuka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gerainya terkenal dengan warna hijau, logo bulat bertuliskan Starbucks Coffee dan gambar perempuan berambut panjang dengan tiga mahkota. Ia tersebar di 50 negara bagian AS, termasuk di Distrik Columbia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jutaan orang AS tiap hari menyeruput kopi dari gelas karton Starbucks. Perusahaan milik konglomerat Yahudi, Howard Schultz ini harus menyediakan 160 juta kilogram kopi per tahun, tidak hanya untuk AS tapi juga 1.749 gerainya di 43 negara di luar AS.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kopinya dibeli dari 25 negara di seluruh dunia, termasuk Indonesia dengan harga rata-rata 3,16 dolar AS per kilogram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ribuan kilometer dari AS, di wilayah Pegunungan Tengah Papua, tersembunyi di balik rimbunnya hutan lebat, sebuah kabupaten kecil bernama Dogiyai mengikat kerjasama dengan Starbucks AS.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dogiyai, kabupaten yang terdiri atas tujuh distrik berpenduduk 51.805 jiwa yang baru dimekarkan, akan mengekspor dua peti kemas kopi jenis Arabica ke AS. Untuk dinikmati jutaan penggila kopi AS.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kontrak pasokan kopi ini diungkap Gubernur Papua, Barnabas Suebu, saat meresmikan Kabupaten Dogiyai menjadi kabupaten sendiri, lepas dari Kabupaten Nabire, Juni lalu. Peresmian itu juga dihadiri Mendagri Mardiyanto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak mudah mencapai Dogiyai, dari sudut manapun di Papua. Penumpang harus singgah berkali-kali di sejumlah bandar udara.  Jakarta, harus singgah di Bandara Hasanuddin, Ujung Pandang. Penerbangan lalu dilanjutkan ke Kepulauan Biak Numfor, yang terletak di utara Papua. Sepanjang penerbangan kita disuguhi dua warna, birunya lautan dan hijaunya gundukan pulau-pulau kecil yang terserak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Bandara Frans Kaisepo, Biak, perjalanan dilanjutkan dengan pesawat baling-baling ke Bandara Nabire, yang terletak di wilayah Pegunungan Tengah Papua. Di sini warna dominan hanyalah hijau. Hutan berbukit layaknya selimut hijau yang dihamparkan ke seluruh Papua. Kadang diselingi bukit cadas berwarna putih. Rumah tradisional yang dibangun dari kayu dan daun rumbia berwarna cokelat, Honai, tampak seperti jamur-jamur mungil dari atas pesawat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjalanan belum selesai, meski sudah tiba di Bandara Nabire. Rombongan harus berkendara sekitar tiga puluh menit, menembus hutan, berpapasan penduduk yang masih setia dengan koteka dan ibu-ibu dengan tas noken yang disematkan di dahi. Belum termasuk dihadang berbagai ukuran babi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kabupaten Dogiyai terpenci dan kecill. Luasnya hanya 4.237,4 kilometer persegi terdiri atas tujuh distrik yang dihuni oleh 51.805 jiwa penduduk. Ibukotanya adalah sebuah kampung bernama Kigamani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jarang sekali ditemukan rumah berdinding semen. Mayoritas rumah, selain Honai, terbuat dari kayu. Alasannya sepele, Nabire adalah daerah tempat gempa menghampiri. Tahun 2004 saja, dua kali Nabire diguncang Gempa. Ratusan rumah rubuh, termasuk perkantoran DPRD yang terletak di dekat Bandara Nabire.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sebuah lapangan sepak bola bernama Sapta Marga, di Kampung Kigamana, Sabtu pekan lalu Mendagri meresmikan Kabupaten Dogiyai. Sebagai Bupatinya, Mardiyanto melantik  mantan Sekretaris DPRD Nabire, Adauktus Takerubun, pria bertubuh gempal dan berwajah serius.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peresmian kabupaten menjadi tontonan warga setempat. Mereka berkerumun rapi di sekitar lapangan  bola. Pria perempuan, tua muda, tinggi pendek, besar kecil, berbaju maupun berkoteka. Di tengah lapang, sebagai peserta upacara peresmian berdiri kelompok tentara, polisi, polisis pamong praja, pegawai negeri sipil, dan siswa sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak jauh dari Lapangan Sapta Marga, puluhan warga dengan pakaian adat menggelar unjuk rasa. Berbeda dengan unjuk rasa di Jakarta, di Papua tak cuma poster dan spanduk yang diusung dan diangkat tinggi-tinggi. Tombak tajam juga turut diarak dan diacung-acungkan. Teriakan orasi unjuk rasa tentang pemilihan kepala daerah sahut menyahut dengan teriakan khas suku setempat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pidato sambutannya itulah, Gubernur Papua Barnabas Suebu mengungkapkan kerjasama Starbucks dengan Dogiyai. Kerjasama yang boleh dibilang unik. Starbucks yang kedai kopinya ibarat gurita dengan ribuan tentakel di seluruh dunia, dipasok kopi dari sebuah daerah antah berantah di tengah hutan di dataran tinggi Papua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Potensi pertanian di Dogiyai sangat besar. SAlah satunya adalah kopi jenis arabica, yang termasuk salah satu kopi kualitas tertinggi di dunia. Starbucks AS sudah pesan dua peti kemas dari Dogiyai untuk diekspor tiap bulan ke AS,'' cetus Barnabas dihadapan ratusan penduduk Dogiyai yang menghadiri peresmian kabupaten mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengar hal ini, para pejabat berjas rapi dan berbatik bersama-sama dengan penduduk sekitar yang mengenakan kaos maupun hanya berkoteka bertepuk tangan meriah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barnabas Suebu melanjutkan pidatonya, ''Kopi Arabica Papua sangat khas. Ia tidak bisa dicampur dengan kopi lain. Harganya bahkan lebih tinggi dari kopi Arabica dari Toraja. Semoga dengan kerjasama yang didukung oleh USAID ini membuat masyarakat Dogiyai giat menanam kopi,''. Lagi-lagi hadirin tepuk tangan dengan meriah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata tak hanya Dogiyai yang punya potensi kopi untuk diekspor. Gubernur Papua, dalam peresmian lima kabupaten lain di Wamena, kembali mengatakan hal serupa. Menurutnya masyarakat Papua harus pandai-pandai memilih komoditas yang memberi keuntungan memadai pada petani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Salah satu contoh komoditas Papua yang memiliki kriteria dan prospek sangat baik adalah kopi bio atau kopi organik yang dihasilkan di Kabupaten Jayawijaya. Potensi kopi ini terbuka di semua kabupaten di pegunungan tengah,'' katanya di depan ribuan warga yang memenuhi Lembah Baliem, Wamena.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barnabas lantas mengingatkan soal kendala pengembangan kopi itu. Katanya, salah satu masalah terbesar di Papua adalah transportasi. Ongkos angkut dari wilayah pegunungan tengah ke pelabuhan di pesisir masih mahal, karena menggunakan pesawat udara. Butuh jutaan rupiah untuk mengangkut dua peti kemas berisi kopi arabica Papua dengan pesawat komersil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia tetap mencoba optimistis, dengan berharap ekspor langsung tanpa dicampur kopi lain itu membuat harga Arabica Papua di pasar internasional tetap tinggi. ''Bila kopi ini dikembangbiakkan dengan baik di berbagai tempat di Pegunungan Tengah, pasti akan terjadi perubahan mendasar dalam struktur ekonomi masyarakat,'' katanya lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan kopi, Papua kembali berusaha memperbaiki kesejahteraannya. Setelah dengan emas yang dikeruk Freeport dan gas yang disedot oleh British Petroleum tak kunjung berhasil memperbaiki taraf hidup warga Papua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;'Ngomong - ngomong' seperti apa sih nikmatnya kopi Arabica Papua? Bagi yang sempat mencicipi, boleh jadi mengatakan mantap. Kenikmatannya berlangsung perlahan-lahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SEsaat memasuki rongga mulut, rasa kopi encer namun keras menyeruak di tenggorokan. Rasa kopinya menempel di seluruh dinding kerongkongan. Baru kemudian turun ke perut, di sini sensasi utama terasa. Perlahan demi perlahan hangat kopi Papua dan rasa 'khas' itu menyebar. Di mulai dari mulut, kerongkongan, perut, ke seluruh tubuh. Mantap sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, kalau Anda kebetulan ada di AS dan beli kopi di Starbucks, jangan lupa mungkin salah satu pesanan kopi Anda berasal jauh dari hiruk pikuk kapitalisme dan modernisasi kehidupan kota. Di Dogiyai dan sejumlah distrik lainnya di Pegunungan Tengah Papua, para petani kopi Papua bisa dengan bangga berkata, ''Kami memasok kopi ke pusat dunia,''.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5688052063213088371-4621108584821312177?l=setanmartabak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://setanmartabak.blogspot.com/feeds/4621108584821312177/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5688052063213088371&amp;postID=4621108584821312177' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5688052063213088371/posts/default/4621108584821312177'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5688052063213088371/posts/default/4621108584821312177'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://setanmartabak.blogspot.com/2008/08/rasa-papua-di-amerika.html' title='Rasa Papua di Amerika'/><author><name>evy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04100470962692008262</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5688052063213088371.post-2711017192935061111</id><published>2008-08-11T08:57:00.000+07:00</published><updated>2008-08-11T09:00:06.282+07:00</updated><title type='text'>Warisan Mimintok Mabel</title><content type='html'>Saya mengenal Mimintok Mabel, penduduk  Kurulik Papua, saat kuliah tahun 2000-an. Kami tidak pernah bertemu muka. Saya mengenalnya dari buku yang saya temukan di gelaran buku bekas di kampus sastra UI Depok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersampul kuning lusuh dengan gambar pahatan Asmat mirip patung batu raksasa di Pulau Paskah, judul bukunya 'Mumi Dinasti Kurulik'. Penulisnya seorang dokter yang tinggal di Papua. Naskah cerita petualangan yang ia kirim ke Jakarta itu menang salah satu sayembara cerita film terbaik tahun 70-an.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan waktu menginjakkan kaki di Wamena Papua, pulau yang saya idam-idamkan untuk kunjungi, pertengahan Juni lalu tidak terlintas pikiran untuk bertemu Mimintok Mabel. Saya baru sadar kesempatan itu saat diberitahu supir Kijang milik pemda Wamena ketika saya tanya, ''Tolong antarkan saya ke Lembah Baliem,''.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lembah Baliem bagi saya adalah salah satu tujuan hidup. Sama seperti bertemu Mimintok Mabel. Saya menyerap kata Baliem dari buku petualangan, etnografi, atau penjelajahan di Pegunungan Tengah Papua. Daerah yang disesaki gunung ibarat taring-taring tajam. Berselimutkan hutan hijau dan salju abadi Puncak Jayawijaya. Satu-satunya di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Di mana lokasi wisata terdekat? Antarkan kami ke sana,'' pinta saya bersama Rahmat, wartawan televisi swasta nasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Ada Pak. Mumi Kurulik. Mau ke sana?'' jawab Frans sembari mengendarai Kijang warna gelap itu, menghindari kerumunan penduduk Papua yang berdiri di depan hotel. Kami mengangguk. Mendengar kata Kurulik, ingatan saya langsung kembali ke buku itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesempatan, pikir saya dalam hati. Waktu jamuan makan malam resmi dengan Mendagri Mardiyanto dan Gubernur Papua Barnabas Suebu masih dua jam lagi. Petang hari di Papua justru belum terlalu gelap. Matahari bahkan belum berwarna oranye dan langit masih cerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Frans membawa mobil dengan cepat. Kijang itu melesat di satu-satunya jalan aspal yang membelah alam Wamena. Tidak ada nama jalan di sini. Yang diketahui hanya arah. ''Ini menuju ke atas, pegunungan,'' tunjuk Frans ke depan jalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kanan kiri jalan adalah ladang atau padang rumput berwarna emas. Menempel di belakangnya cadas-cadas berwarna abu-abu menjulang ke langit. Di kejauhan, langit, awan, dan cahaya matahari berbaur membentuk siluet biru pucat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Udara Wamena yang sejuk membuat berdiri bulu kuduk saya. Menghirup udara pegunungan seperti itu tentu sangat berharga bagi warga Jakarta yang tiap hari disesaki asap polusi dari rokok dan knalpot kendaraan. Saya membuka jendela mobil lebar-lebar. Membiarkan angin dingin menerpa wajah dan masuk membersihkan paru-paru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa honai berwarna cokelat, rumah adat Papua, menyempil di balik rimbunnya padang rumput. Honai itu lebih mirip jamur raksasa dengan pintu. Jarak antartetangga ternyata cukup jauh. Tidak seperti di kota besar yang berdempetan. Antara honai bisa terpisah padang rumput hingga satu kilometer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Frans membeberkan,  sangat jarang tiap jengkal tanah di Wamena adalah tanah kosong. Hampir semua sudah dipatok, ada harganya. Meski di lokasi yang relatif sepi, harganya bisa ratusan juta rupiah. Dan sialnya, yang punya sebagian besar bukan warga lokal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di jalan kami berpapasan dengan penduduk asli. Pria-pria bersahaja yang berkulit hitam mengkilat berjalan bersama perempuannya yang telanjang dada. Bibir tebal mereka selalu tersenyum. Yang pria mengenakan koteka cokelat dan tombak sementara kaum perempuan membawa noken, tas dari akar yang disampirkan ke dahi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kadang malah kami berpapasan dengan piaraan mereka, babi-babi kecil berwarna cokelat dan hitam. Menguik-nguik menyingkir dari jalan setelah diklakson mobil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekitar 30 menit berkendara, Frans membelokkan mobilnya keluar dari jalan utama. Kami pindah jalur ke jalan tanah yang bergelombang. Dinaungi pohon-pohon besar dan ilalang tinggi yang rapi. Sekitar 50 meter mobil masuk dan tiba di parkiran seluas lapangan bulu tangkis. Dari luar, sejumlah bocah Papua sudah merubung mobil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Frans membawa kami masuk ke sebuah perkampungan. Sebenarnya disebut kampung terlalu besar. Karena yang ada hanyalah beberapa honai didirikan berdempet-dempet. Ada dua lajur honai yang dibelah jalan tanah becek berwarna cokelat. Bau asap merebak di udara.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami bersalaman dengan Jacobus Mabel. Seorang pria kekar bermata ramah yang tak mengenakan koteka. Jacobus sudah tersentuh mode pakaian, tubuhnya dibalut jins dan kemeja. Tapi dengan begitu, ia kontras karena saudara-saudarinya masih setia dengan koteka dan bertelanjang dada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang anak-anak, beberapa di antaranya kena flu akut karena ingusnya meleleh kental, mengenakan celana pendek sebetis. Mereka selalu tertawa. Yang perempuan berceloteh gembira dalam bahasa Papua. Sebentar-sebentar mereka tergelak dan menyapa kami bertiga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Mau lihat mumi?'' tanya Jacobus pelan. Ia tampaknya sudah tahu apa keinginan tamu yang berkunjung ke daerahnya. Saya mengangguk sambil tersenyum lebar. Jacobus berbalik badan, menghilang ke dalam honai di belakangnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lama kemudian ia muncul. Kedua tangannya mencengkeram benda berwarna hitam. Itu ternyata jenazah Mimintok Mabel, mumi Kurulik yang termahsyur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengar kata mumi, umumnya yang teringat adalah orang tinggi besar berbalut kain usang berwarna kusam, dan hanya meninggalkan sobekan lubang untuk mata. Mumi Mesir dari dalam piramid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mimintok Mabel beda. Ini mumi khas Papua Indonesia. Tak butuh kain untuk membalut. Ia dibalsem lalu diasapi, begitu menurut Jacobus, apa adanya. Mumi lantas ditidurkan bersama keluarga dalam honai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjadi mumi, jelas Jacobus adalah pilihan dan wasiat. ''Apa nanti mau juga jadi mumi?'' saya bertanya ke Jacobus. Ia tersenyum lalu menggeleng. ''Oh tidak..tidak,''.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Anggota keluarga mungkin?'' saya mengedarkan pandangan ke sejumlah kerabat Jacobus. Mereka hanya bengong melihat saya. Jacobus kembali menggeleng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya berpikir, kasihan Mimintok Mabel, anak cucunya tak ada yang mau jadi mumi. Maka ia harus menanggung beban digotong dan diarak keluar masuk honai paling tidak satu generasi lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mimintok Mabel berusia 365 tahun. Jacobus tak tahu ketika saya tanya kapan tepatnya nenek moyangnya lahir. Itu berarti Mimintok Mabel hidup di alam Papua yang masih perawan. Belum ada zending (misi kristen Belanda) yang berani datang ke sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Jawa, tahun 1643 Belanda sedang giat-giatnya mencengkeram petani rempah lewat monopoli VOC. Sejumlah kerajaan Islam mulai berdiri dan ingin menendang Belanda kembali ke Eropa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kulit Mimintok Mabel hitam pekat. Tubuhnya kecil dengan posisi tubuh terlipat ibarat bayi di kandungan. Kedua lututnya ia rapatkan hingga ke perut. Telapak tangannya ia dekapkan ke tempurung lutut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat Mimintok Mabel seperti itu saya berpikir, apa yang ada di pikirannya ketika ia hendak di balsem? Apakah ia takut? Apakah hatinya berdegub kencang? Apakah ia panik? Apakah ia marah harus dibawa ke luar berulang kali hanya untuk memuaskan turis?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wajah Mimintok Mabel sudah tak lagi berdaging. Tinggal tengkorak warna hitam yang nyaris mengkilat. Dua lobang matanya menganga. Sementara mulutnya terbuka lebar mendongak ke atas. Melihatnya, saya membayangkan ia sedang teriak, ''AAaaaa...aaaaa...aaaa...''.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tampaknya ia menciut setelah dimumi. Sebab ada semacam mahkota dari akar kayu yang diameternya lebih besar sedikit dari kepala Mimintok Mabel. Hiasannya hanya koteka, kalung serta topi akar sederhana berwarna cokelat. Dengan takut-takut saya sentuh tubuhnya, keras sekaligus ringkih. Ibarat porselin tipis yang sewaktu-waktu mudah pecah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya langsung mengambil beberapa foto mumi dan kerabat Pak Jacobus. Rahmat malah merekam seluruh keadaan dan mewawancara seorang istri Jacobus. Ya, Jacobus penganut poligami karena istrinya empat. Di daerah itu tinggal seluruh keturunan Mimintok Mabel yang kawin mawin sesama suku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puas memotret mumi dan keluarga Jacobus, saya menyingkir menjauh ke ujung perkampungan. Ingin mengambil gambar secara luas dari gerbang kampung. Tiba-tiba dari balik honai seseorang berdesis. ''Foto...foto..''katanya. Ia seorang gadis dan seorang nenek yang minta difoto. PErmintaan mereka saya turuti. Tiga kali mereka saya foto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika hendak beranjak pergi, si gadis keluar honai dan menyongsong saya. ''Bapa...bapa..foto..foto..bayar..'' katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Bayar?'' saya balik bertanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Ya Bapa..Bayar, Rp 50 ribu, tiga foto kali Rp 50 ribu,'' katanya lagi sambil makin mendekat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Tunggu..tunggu sebentar,'' tukas saya dengan heran. Saya menunjuk ke arah Frans. Saya mendekatinya dengan tatapan meminta kepastian betulkah harus membayar untuk memotret. Frans sudah bersama Rahmat yang juga sedang dikerubungi kerabat Jacobus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Bapa..bayar..bayar..tadi wawancara..tadi foto..,'' seru seorang perempuan. Wajah Rahmat juga menampilkan mimik tak percaya. Ia menoleh ke arah saya dengan mimik heran. Saya balas dengan anggukan pasrah. Mungkin dalam hatinya, orang di Jakarta sudah cukup senang masuk televisi gratis, ini malah objek bidikan minta dibayar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Tadi foto..satu orang Rp 3.000 kali 40 orang. Satu orang difoto tiga kali. Tadi wawancara saya dua kali...,'' seru seseorang perempuan yang tak sabar sambil menunjuk Rahmat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Eh...eh...tunggu dulu,'' timpal Frans, memotong. ''Berapa tepatnya,'' katanya dengan nada kesal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Jacobus kini ikut-ikutan mendekat. ''Tadi keluarkan mumi bayar Rp 70 ribu,'' paparnya dengan suara kecil itu. Saya mengangguk lemah. Jacobus juga membenarkan tarif foto anggota keluarnya per orang Rp 3.000.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tekor nih, pikir saya. Tapi saya juga tak kuasa melihat tatapan kerabat Jacobus. Sorot mereka ibarat pisau yang menghujam hati. Bola mata cokelat yang polos, ramah, tapi juga bercampur pengharapan tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya bersama Rahmat kami sepakat merogoh kocek cukup dalam untuk membayar melihat warisan Indonesia itu. Namun tampaknya 'setoran' kami belum memuaskan penduduk Kampung Kurulik. Mereka tetap meminta tambah sambil terus menghitung berapa kali saya foto dan Rahmat mengambil gambar di videonya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untung Frans bergegas menarik saya dan Rahmat keluar dari kerumunan itu dan menuju ke mobil. ''Sudah..sudah ya..'' katanya. Saya hanya melambai dan melempar senyum pahit ke keturunan Mimintok Mabel ketika mobil meninggalkan mereka yang masih berkerumun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari cerita Frans, kami baru tahu. Jacobus dan keluarganya tidak ada yang bekerja. Mereka mengandalkan nenek moyangnya untuk mengepulkan dapurnya. Saya berpikir, wajar saja mereka begitu 'haus' terhadap pelancong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mimintok Mabel dan keturunannya jadi cermin betapa kemiskinan mencengkeram Papua. Data Badan Pusat Statistik (BPS) beberapa tahun terakhir memperlihatkan hal itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada 2004, angka kemiskinan di Papua sudah mencapai 38,69 persen dari total penduduk 2,5 juta jiwa. Survey terakhir BPS Maret lalu masih menegaskan satu dari tiga orang Papua adalah orang yang hidupnya sebulan berbekal tak lebih dari Rp 170 ribu. Padahal kita semua tahu di Papua adalah salah satu tambang tembaga terbesar di dunia, Freeport yang kontraknya sejak 1960-an.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi itulah Papua. Di tempat di mana kemiskinan dan pengangguran bercampur baur dengan keramahan sekaligus 'keliaran'. Bercampur dengan tingginya biaya hidup. Makan nasi dengan lauk telor kita harus merogoh Rp 15 ribu. Semangkok bakso dengan sejumput mie ditebus seharga Rp 10 ribu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebungkus mie instant Rp 2.000. Harga satu sak semen Rp 500 ribu - 1 juta. Ketika banyak motor yang mogok di jalan karena kekurangan bensin yang harus dibeli seharga Rp 50 ribu per liter. Belum lagi tambal ban motor yang memakan duit Rp 15 ribu. Alamaaak....&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5688052063213088371-2711017192935061111?l=setanmartabak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://setanmartabak.blogspot.com/feeds/2711017192935061111/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5688052063213088371&amp;postID=2711017192935061111' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5688052063213088371/posts/default/2711017192935061111'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5688052063213088371/posts/default/2711017192935061111'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://setanmartabak.blogspot.com/2008/08/warisan-mimintok-mabel.html' title='Warisan Mimintok Mabel'/><author><name>evy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04100470962692008262</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5688052063213088371.post-6128468433536265968</id><published>2008-08-06T14:54:00.001+07:00</published><updated>2008-08-06T14:57:09.147+07:00</updated><title type='text'>loyalitas</title><content type='html'>loyalitas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku tak kenal wartawan kompas, arbain rambey. tapi dari ceritanya yang diceritakan wartawan lain aku bisa memetik pelajaran berharga. alkisah arbain sudah beberapa tahun bekerja di kompas tapi ia tetap tak puas karena gajinya rendah (padahal di kompas loh!).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;si pemilik buku yang ribuan jumlahnya itu lantas mencari-cari lowongan lain. salah satunya di kantor berita asing. jadilah arbain kasak kusuk mempersiapkan diri. di salah satu tes masuk di kantor berita itu, ketika ia sedang duduk menunggu giliran dipanggil, datanglah redaktur kompas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;pertemuan yang tidak diduga-diduga. paling tidak menurutku, rada tidak enak ketika sedang melamar pekerjaan ke kantor lain terus bertemu dengan salah satu petinggi kantor lama. aku yakin keduanya kaget.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''lho ngapain kamu di sini?'' tanya si redaktur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''mau ngelamar kerja pak,'' jawab arbain, tanpa basa-basi. padahal bisa saja ia ngibul bilang bertemu kawan atau alasan lain. tapi arbain memilih terus terang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''hah? ngelamar kerja? kamu bukannya masih di kompas?'' sergah redakturnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''iya bang, masih,''.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''kenapa mau pindah?''.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''gaji bang. aku rasa gajiku kurang tinggi,'' timpalnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''oh masalah gaji.... ya sudah. kamu pulang saja. tak usah melamar di sini. besok ketemu aku, kita bicarakan,'' kata redakturnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;pertemuan mereka keesokan harinya membuahkan hasil untuk arbain. gajinya dinaikkan. arbain senang dan kompas tidak kehilangan salah satu wartawannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;pelajaran yang bisa kupetik adalah cara redaktur dan (akhirnya) perusahaan memperlakukan arbain. sebenarnya bisa dengan mudah perusahaan melakukan hal yang 180 derajat berbeda dengan apa yang diperbuat si  redaktur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;perusahaan sekelas kompas bisa dengan enak mempersilahkan arbain terus mengikuti tes masuk itu dan pindah. kompas bisa dengan mudah mencari pengganti arbain, dan aku yakin akan ada ratusan orang antri mengisi kursinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tapi kompas memilih tidak. kompas memilih menyelamatkan 'aset'nya, yaitu wartawan. bisa jadi pilihan mempertahankan aset itu setelah pertimbangan bagaimana kinerja si pegawai. tapi kompas memperlihatkan bagaimana sikap perusahaan terhadap asetnya di saat asetnya mempertanyakan kinerja perusahaan terhadap dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;pendek kata, seberapa jauh arbain dan kompas mengukur loyalitas satu sama lain. kawanku di kantor dicap tak loyal. gara-gara ia melakukan hal yang persis dilakukan arbain. mencari peluang kerja lain yang memberikan kesejahteraan lebih tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bedanya, di kantorku tak ada perlakuan seperti kompas seperti ke arbain. kawanku, dibelakangnya, lantas dicap tak loyal oleh para atasannya. tak ada pertunjukkan loyalitas antara karyawan dan perusahaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;padahal kantorku bisa dengan mudah memanggil si karyawan, mencari tahu apa masalahnya, dan paling tidak kalau perusahaan tak bisa membayarnya lebih keduanya sudah bertemu dan membicarakan masalah itu. keduanya sudah berkomunikasi mengenai nilai aset yang pantas. tapi toh hal ini tidak dilakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;pertanyaan loyalitas berulang kali melintas di kepalaku saat melihat beberapa kawan di kantor lain bak kutu loncat pindah. mereka begitu ringan pindah-pindah ke perusahaan yang berani membayarnya dengan gaji berkali-kali lipat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kawan lamaku, ichsan memberi komentar, ''wah kamu sudah masuk ke zona aman!'' katanya melihatku sudah empat tahun di republika tak jua pindah. ichsan pada saat yang sama sudah lima kali pindah perusahaan, dan semuanya berbeda jenis dan gajinya selalu naik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku berpikir, benarkah aku sudah masuk ke zona itu? zona aman yang membuat malas pindah karena enggan memulai suasana baru dan membuat penyesuaian baru? zona yang mengharuskan aku memulai sesuatu dari nol dan meninggalkan sarang empukku hari ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kalau alasannya malas pindah karena butuh penyesuaian, menurutku tidak akan terjadi. wartawan membuat dirinya ibarat bunglon setiap hari. bertemu orang baru tiap hari. menerapkan strategi baru dan menyesuaikan diri dengan narasumber baru tiap hari. bila ichsan melakukannya empat kali di lima tahun waktunya bekerja, aku melakukannya tiap hari selama empat tahun!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;gaji? memang ini salah satu faktor utama kepindahan rekan-rekanku di media lain ke media lain. penghasilannya bisa berlipat ganda saat pindah. ketika seseorang kawan ingin pindah karena masalah gaji, aku langsung ingat saat pertama kali orientasi di kantor. hari pertama itu yang mengisi adalah wakil pimpinan redaksi yang sekarang sudah naik jadi pimpinan redaksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku ingat sekali ia mengatakan, ''Kerja wartawan itu, di republika, anda tidak akan jadi kaya! kalau ingin kaya jangan jadi wartawan! tapi untuk standar kita cukuplah. anda bisa hidup cukup, senang-senang cukup....,''.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;cukup. cukup tentu ukuran yang sangat relatif. berapa gaji yang cukup untuk wartawan? PWI pernah menyatakan gaji ideal wartawan adalah Rp 10 juta untuk lulusan baru. AJI mengkoreksinya dengan standar yang lebih moderat, yaitu sekitar Rp 4 juta untuk wartawan baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;gajiku sekarang? hehehe masih jauh dibawah itu. tapi aku merasa 'cukup'. cukup untuk nabung, cukup untuk beli buku, bayar kartu kredit, nonton film di bioskop, beli dvd, jajan dan menjajani orang lain, betulin motor yang kian renta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hal lain yang aku ingat dari si wapimred yang belakangan ketahuan dogolnya, tapi ia memberi nasihat awal menjadi wartawan yang sangat baik menurutku, adalah suasana kerja. ia bercerita suasana kerja di kantorku sekarang ini jauh berbeda dengan kantor lain. sangat cair dan tanpa sekat tinggi antar atasan dan bawahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;empat tahun ini aku merasakan itu. dan itu membuatku sangat menikmati pekerjaan. selain karena pekerjaan itu sendiri. redakturku pernah berkata, wartawan adalah pekerjaan paling nikmat sedunia. aku setuju, selain menjadi arkeolog (yang jadi impian).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku digaji untuk bertemu orang, menikmati satu wilayah ke wilayah lain gratis, bisa bertemu dari presiden hingga pengangguran dan bisa berdialog nakal dengan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dan yang terpenting, aku harus menuliskannya untuk puluhan ribu pembaca republika keesokan harinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku masih seperti anak kecil yang tersenyum gembira saat melihat tulisanku naik keesokan harinya di koran dan dibaca orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku tambah gembira kalau ada yang berkomentar sesuatu tentang tulisanku, entah itu kritik pedas atau pujian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku masih dengan naif berkata bagaimanapun busuknya dunia jurnalisme dan perlakuan kantor kepada karyawannya, aku bekerja untuk pembaca republika yang tiap hari merogoh koceknya tak kurang dari seliter bensin untuk membeli koranku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku bekerja untuk republika dengan R kapital, bukan republika dengan r kecil yang terbatas di warung buncit.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5688052063213088371-6128468433536265968?l=setanmartabak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://setanmartabak.blogspot.com/feeds/6128468433536265968/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5688052063213088371&amp;postID=6128468433536265968' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5688052063213088371/posts/default/6128468433536265968'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5688052063213088371/posts/default/6128468433536265968'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://setanmartabak.blogspot.com/2008/08/loyalitas.html' title='loyalitas'/><author><name>evy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04100470962692008262</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5688052063213088371.post-4925381371812757682</id><published>2008-08-05T15:13:00.001+07:00</published><updated>2008-08-05T15:37:00.464+07:00</updated><title type='text'>SERAM</title><content type='html'>ini buatku menyeramkan.  awal agustus dapat tugas untuk ikut menteri agama, maftuh basyuni. pimred sampai telepon khusus ke aku supaya aku ikut menag. biasanya cukup redaktur yang hubungi. katanya depag dan kantor mau kerjasama banyak. dalam hati aku ngomong, hubungannya sama aku apa ya? kan biasanya depag dipegang osa atau hri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bukan perintah pimred itu yang menyeramkan. rencananya menag akan safari selama sepekan penuh ke indonesia timur. sehari di malang, sehari di surabaya, sehari di mamuju, sehari di makassar, en sehari di kendari (gila banget menteri ini, padahal cuma depag tapi keliling indonesia sering kali). aku ikut di tiga kota pertama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;juga bukan jadwal menteri yang menyeramkan. dalam rombongannya, depag membawa seorang wartawan lain dari antara. wartawan itu biasa ngepos di depag. bahkan akrab dengan menag. ia sering diajak liputan haji (yang sampai 60 hari di mekah!, berapa coba spjnya!!), sering dibisiki isu-isu hot depag, termasuk sering dateng ke rumah menag usai shalat subuh untuk ngobrol ngalor ngidul!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dia ini yang menyeramkan! ceritanya usai meresmikan gedung baru mahasiswa IAIN Sunan Ampel Surabaya, menag istirahat di wisma haji yang megah. di dekat bandara djuanda. sebelum naik ke kamarnya, menag bercakap-cakap dengan sejumlah tamu. sementara aku dan pak wartawan menunggu kesempatan mencegat menag untuk ngobrol.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;pak wartawan orangnya baik, ramah, santun, tutur katanya teratur rapi, kebapakkan banget. ia bertanya, apa aku sudah menikah? tentu aku jawab belum. terus ia menasehatiku untuk lebih hati-hati terhadap pekerjaan 'wartawan' dan 'masa depan'.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''kerja wartawan itu candu loh,'' katanya pelan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''betul pak!'' balasku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bagi sebagian orang yang sudah terlalu lama (atau memang menghayati) kerja jurnalisme, aliran darah dan gerak-geriknya akan terganggu. tidak percaya? aku contohnya. bahkan di hari liburpun tak bisa lepas dari pda. cek berita apa yang ada di sejumlah situs. kirim sms ke sejumlah orang, tanya ini tanya itu. padahal itu hari libur dan ga piket! ketika cuti keliling jateng pun demikian. ketika naik gunung pun demikian (padahal sudah berharap jangan ada sinyal...jangan ada sinyal... ternyata sinyal gprs keparat indosat itu ada pula digunung!).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''karena itu jangan terlalu kecanduan untuk memikirkan hari depan,'' pesannya. aku tak menjawab. hanya mengangguk-angguk. dalam hati aku ngomong, ''ok wise man, what next? kaya aku gak tau aja!''.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dia lantas tanya, apa aku punya pacar? atau punya kawan yang sedang didekati? aku jawab iya sambil tersenyum. INI BAGIAN SERAMNYA. pak wartawan lantas memejamkan mata sepersekian detik. ia mengajukan pertanyaan beruntut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''hmmm...apa orangnya rambutnya segini?'' tanyanya sambil tangannya menunjukkan berapa panjang rambut si perempuan. aku kaget setengah mati!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''betul pak,'' jawabku heran. ia kembali memejamkan matanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''bentuk mukanya seperti ini?'' tanyanya lagi sambil memeragakan. ini juga betul! aku tambah heran dan menjawab iya. dalam hati aku berpikir, jangan-jangan dia pernah melihat aku berdua. paling tidak mendengar tentang hubunganku. tapi dari mana? dari anak republika di depag tidak mungkin karena aku ga deket sama anak republika di depag. dari anak antara? aku gak yakin. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''tingginya seperti ini?'' katanya mengangkat tangan menunjuk ke bahuku. aku tak mau menjawab iya lagi. aku hanya mengangguk sambil tersenyum pendek sambil terus menatapnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;di satu sisi aku berpikir orang ini sedang mempertontonkan kehebatannya kepadaku atau ia benar-benar penipu atau ia benar-benar 'cuma' membantuku dalam bentuk lain. deskripsinya tentang perempuan itu berhenti. aku lega setengah mati, ''wah bapak menakutkan'' kataku, jujur. giliran dia yang tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ia lantas bercerita bagaimana ia mendapat 'keahlian' membaca orang seperti itu ketika ia ngepos di pontianak saat kerusuhan dayak-madura. ia berkisah panjang lebar tentang waktu itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;di suatu titik ceritanya berhenti. ''eh tunggu dulu, dia kerja di sini ya,'' katanya menyebut salah satu perusahaan swasta tempat si perempuan bekerja. ini yang bikin kengerianku memuncak. tebakannya tepat 100 persen! bulu kudukku berdiri. aku bingung mau tertawa atau terpana. aku sempat diam selama beberapa detik sebelum menjawab, ''benar,''. aku berpikir orang ini benar-benar tahu dari hanya terpejam-pejam beberapa detik atau dia sudah pernah melihatku atau dia sudah pernah mendengar tentangku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;si bapak tertawa mendengar jawabanku. ia tertawa puas sekali sampai terguncang-guncang.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5688052063213088371-4925381371812757682?l=setanmartabak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://setanmartabak.blogspot.com/feeds/4925381371812757682/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5688052063213088371&amp;postID=4925381371812757682' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5688052063213088371/posts/default/4925381371812757682'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5688052063213088371/posts/default/4925381371812757682'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://setanmartabak.blogspot.com/2008/08/seram.html' title='SERAM'/><author><name>evy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04100470962692008262</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5688052063213088371.post-4724530464605028540</id><published>2008-07-28T13:58:00.000+07:00</published><updated>2008-07-28T14:04:43.903+07:00</updated><title type='text'>Bioskop</title><content type='html'>bioskop. konon tempat macam ni sudah ada di jakarta sejak abad ke-19. londo2 keparat yang mendirikan hindia belanda itu sering nongkrong di bioskop bisu di dekat kota. salah satu fotonya bisa diliat di kedai es krim (lezaaaaat en tradisional) raguza di jalan veteran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;pengalaman pertama nonton bioskop waktu masih tk. sama bonyok. seingetku itu di cempaka putih theater. filmnya aja legendaris, ''pemberontakan g30s pki''. nonton film ini pasti bokap yang punya ide, maklum tentara. dia ga tau kalo ternyata abis jadi booming di bioskop di seluruh indonesia, film garapan arifin c noer itu diputer gratis di tvri sampe reformasi, hehehehe.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;butuh waktu belasan tahun untuk bisa nonton film di bioskop lagi. ntah kenapa. tiba-tiba aja pengen nonton film di bioskop pas smp. nontonnya ya di cempaka theater lagi. filmnya brams stoker dracula. harga tiketnya waktu itu sekitar 1.500. kursinya tetap merah tapi bututnya ampyuuun robek2 pula. layarnya bukan kain tapi dinding yang terkelupas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;setelah itu jadi kerajingan nonton. tapi dah gak pernah di cempaka theater lagi. sekarang cempaka udah tutup. kasian juga. tiap lewat inget kenangan pas nonton. nti ku coba bikin ficer soal bioskop macam itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;pilihan kecanduan nonton jatuh ke gading 21, yang lebih deket dijangkau dengan sepeda ato mikrolet. itupun lebih sering nonton sendiri daripada rame-rame ato bedua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;yang inget banget nonton the english patient (lama bangeeeeet en ga gitu ngerti jalan ceritanya, abis nonton rekomendasi di oscar) en ini film jadi film pertama yang bikin tidur hehehehe. film lainnya yang juga diinget while u were sleeping. yang sadar pas keluar teater ternyata jadi cowo sendiri yang nonton film itu tanpa pasangan huahahahaha. yang lucu pas nonton space jam bareng anak2 satu kelas, di SMA, kita duduk ga cuma sederet tapi sebaris dari atas sampe bawah. jadi tiap kali tim basket space toon masukkin bola, kita waving dari atas ke bawah hehehehehehe.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;pekan ketiga juli 2008 tambah pengalaman baru lagi di bioskop. akhirnya diperawanin di blitz. rasanya aneh karena udah terbiasa dengan gaya 21. lobbynya beda. jual tiketnya beda. kedainya makanannya beda. tempat popcornnya beda. kursinya beda. baunya beda. semuanyaaa beda. oopss belom coba toiletnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;en untuk pertama kalinya gw nonton film yang diisi oleh tiga orang. ku, iras, en cw ga jelas yang pindah tempat duduk (sebenarnya cw ini misterius, karena dia dengan cuek nonton horor, coba kalo ga ada gw en iras, masa dia nonton sendiri? aneh!!). film horor korea judulnya 'someone behind me'. ide ceritanya, harus diakui, beda dengan film horor yang sering dinonton (jarang nonton horor kalo ga 'SETAN' banget isinya. satu yang pasti, jantung en kuping gw sering kaget bukan karena filmnya tapi karena ada yang tiba-tiba teriak kenceng banget! berkali-kali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kejutan ternyata g berhenti di blitz. besoknya dapet tiket gratis batman dark knight di pondok indah mall2. wow, selain jauh en pagi (jam 9.30), ga pernah kepikiran nonton di tempat sehedon pondok indah2. yang terhedon terdekat ya PIM1 ato mentok senayan city.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;di PIM2 jadi pengalaman pertama nonton di teater terkecil. paling cuma beberapa puluh orang. kursinya legaaaa. bayangin aja kalo di teater biasa satu baris bisa 20 kursi, di pim2 satu baris cuma 8 kursi.  akhirnya bisa dapet kursi yang selega itu, bahkan pembatas kursinya bisa dilipet ke atas. hahahahaha kampungan banget pas tau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;setelah ini jadi penasaran. bagaimana yang nonton di pasaraya grande yang tiketnya berkali-kali lipet tiket biasa ya? katanya atmosfir nonton di situ beda lagi...hummmm...sometime lah. oia sama nonton di dharmawangsa skuare. katanya ada rental dvd yang punya bioskop privat yang bisa disewa. nanti cari tahu lebih lanjut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tapi bioskop ternyaman yang pernah dirasakan adalah bioskop kamar! yup ga ada tempat (theater) seindah kamar sendiri!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5688052063213088371-4724530464605028540?l=setanmartabak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://setanmartabak.blogspot.com/feeds/4724530464605028540/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5688052063213088371&amp;postID=4724530464605028540' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5688052063213088371/posts/default/4724530464605028540'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5688052063213088371/posts/default/4724530464605028540'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://setanmartabak.blogspot.com/2008/07/bioskop.html' title='Bioskop'/><author><name>evy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04100470962692008262</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5688052063213088371.post-47021205752722517</id><published>2008-05-26T19:07:00.000+07:00</published><updated>2008-05-26T19:08:21.500+07:00</updated><title type='text'>mata itu</title><content type='html'>matamu indah xxx&lt;br /&gt;pernah ada yang berkata seperti itu padamu?&lt;br /&gt;bulat abu-abu bercampur cokelat&lt;br /&gt;bening dan basah&lt;br /&gt;ada rasa sedih di sana&lt;br /&gt;tiap melihat matamu xxx&lt;br /&gt;aku merasa kau sedang menangis dalam hati&lt;br /&gt;mengubur sesuatu yang kau sayangi dan cintai&lt;br /&gt;tapi kau tetap melangkah&lt;br /&gt;maju dan maju&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5688052063213088371-47021205752722517?l=setanmartabak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://setanmartabak.blogspot.com/feeds/47021205752722517/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5688052063213088371&amp;postID=47021205752722517' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5688052063213088371/posts/default/47021205752722517'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5688052063213088371/posts/default/47021205752722517'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://setanmartabak.blogspot.com/2008/05/mata-itu.html' title='mata itu'/><author><name>evy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04100470962692008262</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5688052063213088371.post-6905549523576293188</id><published>2008-05-21T14:14:00.000+07:00</published><updated>2008-05-21T14:18:19.486+07:00</updated><title type='text'>SMS</title><content type='html'>empat pesan secara berurutan masuk ke nokia 6250 pekan lalu&lt;br /&gt;sekilas tak kenal siapa nomornya&lt;br /&gt;mencoba mengingat, ini nomor siapa...&lt;br /&gt;siapa ... siapa ... siapa ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tiba-tiba, seperti lang ling lung dalam komik disney, ada lampu menyala di kepala&lt;br /&gt;ah.... ini kan dia... he..he..he..&lt;br /&gt;tumben kirim sms&lt;br /&gt;sudah tak ingat kapan terakhir saling menyapa, eh..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dahi mengerenyit membaca pesan singkatnya :&lt;br /&gt;'mungkin ini sms terakhir dariku, aku minta maaf padamu atas kesalahan-kesalahanku padamu, setiap pertemuan pasti ada perpisahan...doakan aku ya, agar diberi kekuatan dan selalu dalam lindungan Allah..aku ingin mengajak dirimu, tapi ku yakin dikau takkan sanggup...ukirlah selalu namaku di hatimu sebagai teman sejatimu... selamat tinggal ya, aku akan pergi ke jepang..'&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kaget..fiuhhh...baru pertama mendapat sms macam ini&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tak biasanya pesannya dengan nada seperti ini&lt;br /&gt;pesannya memang kerap sendu&lt;br /&gt;tapi selalu ada nada optimisme&lt;br /&gt;tidak seperti pesan yang satu ini&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;langsung merasa tak enak (geer kalo menurut iras he5)&lt;br /&gt;ada sesuatu yang terjadi?&lt;br /&gt;sangat mendesak sampai harus ke jepang?&lt;br /&gt;kerja atau dapat beasiswa?&lt;br /&gt;karena dia selalu bercerita ingin sekolah lagi, tapi jepang tak pernah sekalipun disebutnya&lt;br /&gt;kalau begitu ada apa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;jempol langsung sibuk memencet huruf di 6250, membalas pesannya&lt;br /&gt;mencoba membalas dengan nada yang santai dan biasa saja&lt;br /&gt;: 'hei...hei...ada apa? wow ke jepang? selamat ya, sekolah atau kerja?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;20 menit kemudian 6250 mengeluarkan bunyi ada sms datang&lt;br /&gt;dia membalas&lt;br /&gt;jawabannya sangat mengejutkan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;'untuk bantu ULTRAMAN TARO melawan monster KALAJENGKING, he..he..he 8-)'&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ANJRIIIIIITTTTTT!!!!!!&lt;br /&gt;ha...ha...ha...&lt;br /&gt;masih tetap suka bikin kejutan-kejutan kecil&lt;br /&gt;seperti kembang api&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5688052063213088371-6905549523576293188?l=setanmartabak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://setanmartabak.blogspot.com/feeds/6905549523576293188/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5688052063213088371&amp;postID=6905549523576293188' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5688052063213088371/posts/default/6905549523576293188'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5688052063213088371/posts/default/6905549523576293188'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://setanmartabak.blogspot.com/2008/05/sms.html' title='SMS'/><author><name>evy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04100470962692008262</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5688052063213088371.post-1287969530445898496</id><published>2008-04-21T11:52:00.000+07:00</published><updated>2008-04-21T11:58:37.095+07:00</updated><title type='text'>asli buruk</title><content type='html'>gw dah tau film itu bakal buruk banget, apalagi gw orang yang baca novelnya, yang emang buruk banget, tapi gw ga ngira kalau filmnya seburuk itu!!!!ya tuhan!!!!setelah nonton film itu, gw masih heran banget kenapa orang2 pada nangis keluar bioskop, kenapa sby-jk merekomendasikan film itu ke luar negeri buat nandingin fitna, kenapa udah lebih dari tiga juta orang rela nonton film yang...duh.. buat gw ga ada pesan moralnya sama sekali...ya tuhan...ayat-ayat cinta itu bener2 buruk!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;alhasil sepanjang film,  bangku gw en iras jadi bangku teramai mengejek film itu, gw rasa yang nonton di belakang bangku gw en iras pasti jengkel setengah mati ngeliat kita ketawa pas adegan sedih, ada langsung sewot pas ada kalimat2 yang katro banget, sementara mereka ngeliatnya serius en menghayati film itu, hua5&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;banyak hal yang bisa diejek dari film itu, pertama tentu soal pesan moral, nonton selama dua jam sambil cekikikan en saling melempar kritik dengan iras tetap ga bisa ngebuat gw tahu apa pesan yang ingin disampaikan hanung ke penonton,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;yang gw tangkep malah soal merendahkan perempuan banget...bener kata si iras, kok bisa yah setelah fakri ngeliat muka si aisya dia langsung bilang 'iya'...maksudnya SEGAMPANG ITUKAH SEORANG PRIA MEMILIH PEREMPUAN DAN SEMUDAH ITUKAN SEORANG PEREMPUAN MENERIMA PRIA?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;itu kaya di pasar, ketika kita mau beli tomat atau ayam atau daging!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hanung gagal total menerjemahkan indahnya taaruf di kalangan muslim jadi hanya sekedar gambar hambar soal pertemuan ala jual beli fakhri dan aisya,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dia harusnya bisa lebih filosofis dari sekedar adegan2 cengeng bagaimana perempuan menangisi fakhri, buat gw yang nonton justru jadi ngeganggu banget,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;di film itu sosok fakhri ga keliatan sebagai santri yang pantes dikagumi, apa dia pinter organisasi, hanya dengan ngomong bahwa organisasi itu harus jalan terus, api unggun..bla..bla..bla...ya tuhan, harusnya bisa lebih visual daripada sekedar adegan itu,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;apa fakri bisa dikagumi hanya dengan adegan cupu banget di metro kairo pas dia ngomong yang lebih islami dari orang islam itu sendiri ngebela orang bule? ya tuhan... ngga banget dah!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;gw jadi ngerasa kasian sama pemeran cewenya, baik aisya atau maria, sepanjang film mereka jatuh cinta sama sesuatu yang ga layak dicintai, di film itu ga bisa digambarkan kenapa maria sayang sama fakhri, apa karena modal tampang doang? atau karena apa, kenapa aisya suka sama fakhri, apa karena pembelaan di bis yang asli cupu banget en ga mungkin orang lain bakal melakuukan hal serupa...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;soal skenario emang bermasalah, sejak awal ketika tahu salman aristo yang bikin skenarionya, gw dah was2 bakal ancur abis, ternyata bener, salman dalam catatan gw ga pernah bikin skenario yang mulus, selalu aja ada yang ganjal en kasar, dia ga pandai ngerajut bahasa tulisan menjadi bahasa gambar, AAC jadi bukti itu,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;terlalu banyak adegan yang memang bisa indah kalau dibaca di tulisan tapi langsung dijiplak mentah2 di skenario en digambarkan secara mentah2 juga, di sini jelas banget sutradara, juru kamera, en penulis skenario terlalu hati-hati banget nerjemahin bahasa tulisan itu ke bahasa gambar,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;mereka takut banget keluar dari garis pedoman bukunya, padahal yang mereka mainkan adalah medium gambar yang bisa lebih kreatif!!  dialog2 yang diskenariokan oleh salman aristo juga masih kental bahasa tulisan ketimbang gambar,&lt;br /&gt;ada banyak adegan yang harusnya tanpa dialog tapi diberi dialog sehingga kesannya jadi kasar! skenario juga ga bisa nampilin yang lebih ke penonton apa sih inti dari film ini, hanya sekedar poligami atau cinta islami, atau perlawanan islami, atau perjalanan rohani orang2 di dalamnya, yang ada cuma ada empat cewe rebutan satu cowo, titik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;yang menonjol banget justru hanya sekedar poligami, adegan fakhri di penjara yang harusnya jadi salah satuu kekuatan dalam film ini, maksudnya disitu harusnya bisa digambarin kalau fakhri tegar, bimbang, hancur, tidak percaya tuhan, mencoba tegar kembali dan pulih kepercayaannya, ga bisa ditampilin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dialog2nya kering en bener2 bahasa buku malah teatrikal, ada dialog ketika teman satu sel fakhri ngomong keras2, aduh di penjara yang gw tau kalau teriak2 kaya gitu udah digebukin napinya, atau teman penjara yang ngasih wejangan super maut itu ga jelas juntrungannya, apa latar belakang dia, kenapa masuk penjara, kok bisa2 ngasih nasehat jitu ke santri wahid di al azhar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;salah satu penolong film ini adalah akting rianti en carissa, 22nya main cukup baik, akting fakhri? wah ke laut aja mas! apalagi akting temen2 fakhri, cupu banget en mereka ga signifikansinya di film itu, tanpa temen2 fakhri, terutama si oka, yang menurut iras ganteng, he3, film itu bisa berjalan dengan baik,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;peran fakhri seperti di sebut diatas gagal menerjemahkan kalau doi santri yahud dari semua sisi, gagal ngasih gambaran secara halus ke penonton kalau fakhri itu iri dengan kekayaan aisyaa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sebaliknya aisya dengan sejumlah dialog sederhana mampu ngasih liat kalau dia itu cukup dimanja, sayang dialog cerdas seperti itu hanya muncul sesekali, tatapan matanya, yang kata orang2 killer banget, maksudnya mengundang kesedihan, kok menurut gw biasa aja yah!!! banyak alternatif adegan dimana aisya bisa ngambil peran secara maksimal, nunjukkin kalau dia itu tersiksa karena fakhri dipenjara, dipuja2 sama cewe lain, tapi hanung gagal menunjukkan hal ini&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;salah satu adegan yang paling gw suka di film itu adalah adegan ketika maria ngeliatin fakhri yang lagi ketiduran duduk nyandar di tembok, maria pengen banget ngebelai pipi fakhri, tapi dari bahasa tubuh en tatapan matanya, keliatan kalau dia gak bisa deket dengan fakhri, itu adegan berhasil banget ngegambarin gejolak di hati maria, carissa bermain bagus di adegan itu, sayangnya adegan yang indah secara visual itu cuma muncul sekali di film&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;gw malah keinget adegan di exorcist ketika carissa sakit en ga mau bangun en ada fakhri, di exorcist, pas si anak ketemu father carass, setan yang ngerasukkin bilang 'fuck me....fuck me..' di film AAC, dengan adegan cupu fakhri dateng pas carissaa sakit, gw inget adegan setan itu, he4&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kritikan lain masih banyak, tapi gw dah males ngebahas karena terlalu banyak negatifnya en terlalu sedikit positifnya, jadi ga imbang, tiga kancut lah buat film ini, ini film malah lebih buruk dari mengejar mas2, mengejar matahari, sembilan naga, kelasnya hampir sama kaya film2 horor ga jelas yang dibuat sama koya pagayo atau sama kaya film ekskul, masih bagus kemana2 film hanung yang catatan akhir sekolah yang jujur banget en visualnya bagus,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tiga kancut buat ayat-ayat cinta!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5688052063213088371-1287969530445898496?l=setanmartabak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://setanmartabak.blogspot.com/feeds/1287969530445898496/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5688052063213088371&amp;postID=1287969530445898496' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5688052063213088371/posts/default/1287969530445898496'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5688052063213088371/posts/default/1287969530445898496'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://setanmartabak.blogspot.com/2008/04/asli-buruk.html' title='asli buruk'/><author><name>evy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04100470962692008262</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5688052063213088371.post-793449119570494171</id><published>2008-04-18T17:54:00.001+07:00</published><updated>2008-04-18T18:00:12.034+07:00</updated><title type='text'>Song of the Open Road</title><content type='html'>&lt;pre&gt;Afoot and light-hearted I take to the open road,&lt;/pre&gt;&lt;pre&gt;Healthy, free, the world before me,&lt;/pre&gt;&lt;pre&gt;The long brown path before me leading wherever I choose.&lt;/pre&gt;&lt;pre&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/pre&gt;&lt;pre&gt;Henceforth I ask not good-fortune, I myself am good-fortune,&lt;/pre&gt;&lt;pre&gt;Henceforth I whimper no more, postpone no more, need nothing,&lt;/pre&gt;&lt;pre&gt;Done with indoor complaints, libraries, querulous criticisms,&lt;/pre&gt;&lt;pre&gt;Strong and content I travel the open road.&lt;/pre&gt;&lt;pre&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/pre&gt;&lt;pre&gt;...&lt;br /&gt;The earth expanding right hand and left hand,&lt;/pre&gt;&lt;pre&gt;The picture alive, every part in its best light,&lt;/pre&gt;&lt;pre&gt;The music falling in where it is wanted, and stopping where it is &lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;not wanted,&lt;/pre&gt;&lt;pre&gt;The cheerful voice of the public road, the gay fresh sentiment of the road.&lt;/pre&gt;&lt;pre&gt;&lt;br /&gt;...&lt;br /&gt;Now I see the secret of the making of the best persons,&lt;/pre&gt;&lt;pre&gt;It is to grow in the open air and to eat and sleep with the earth.&lt;/pre&gt;&lt;pre&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/pre&gt;&lt;pre&gt;...Here is the test of wisdom,&lt;/pre&gt;&lt;pre&gt;Wisdom is not finally tested in schools,&lt;/pre&gt;&lt;pre&gt;Wisdom cannot be pass'd from one having it to another not having it,&lt;/pre&gt;&lt;pre&gt;Wisdom is of the soul, is not susceptible of proof, is its own proof,&lt;/pre&gt;&lt;pre&gt;Applies to all stages and objects and qualities and is content,&lt;/pre&gt;&lt;pre&gt;Is the certainty of the reality and immortality of things, and the &lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;excellence of things;&lt;/pre&gt;&lt;pre&gt;Something there is in the float of the sight of things that provokes &lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;it out of the soul.&lt;/pre&gt;&lt;pre&gt;&lt;o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;....&lt;br /&gt;I give you my hand!&lt;/pre&gt;&lt;pre&gt;I give you my love more precious than money,&lt;/pre&gt;&lt;pre&gt;I give you myself before preaching or law;&lt;/pre&gt;&lt;pre&gt;Will you give me yourself? will you come travel with me?&lt;/pre&gt;&lt;pre&gt;Shall we stick by each other as long as we live?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walt Whitman&lt;br /&gt;&lt;/pre&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5688052063213088371-793449119570494171?l=setanmartabak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://setanmartabak.blogspot.com/feeds/793449119570494171/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5688052063213088371&amp;postID=793449119570494171' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5688052063213088371/posts/default/793449119570494171'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5688052063213088371/posts/default/793449119570494171'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://setanmartabak.blogspot.com/2008/04/song-of-open-road.html' title='Song of the Open Road'/><author><name>evy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04100470962692008262</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5688052063213088371.post-5529284721170613175</id><published>2008-04-10T22:56:00.001+07:00</published><updated>2008-04-10T23:32:03.210+07:00</updated><title type='text'>ada yang salah dengan titanic??</title><content type='html'>ada yang salah dengan film titanic?&lt;br /&gt;hmmm....&lt;br /&gt;ato mungkin pertanyaannya diubah..&lt;br /&gt;ada yang salah dengan pria yang suka dengan film titanic?&lt;br /&gt;hmmm... udah lebih pas :D&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;buat gw, harusnya ga ada yang salah, gw suka banget sama film termahal di dunia itu&lt;br /&gt;tapi buat banyak orang ternyata salah yah...he4&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;contoh : ketika gw hunting dvd titanic di menteng, selagi jari-jari menyisir ratusan jejeran dvd, tiba2 film buatan james cameron itu nongol, extended version, HUAAAA... buat gw ini harta karun bok! langsung gw cabut dvdnya en sambil berseru girang! YEY!....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tapi apa coba komentar dua perempuan disamping gw, yang juga lagi hunting dvd&lt;br /&gt;gw ngelirik mereka dari sudut mata gw&lt;br /&gt;mereka bisik-bisik&lt;br /&gt;''ih cowo kok suka sama titanic''&lt;br /&gt;''heeh, mana cowonya gede banget lagi''&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HELLOOWW ladies! gw denger lo ngomong apa! nyet!&lt;br /&gt;makanya dalem hati gw langsung nanya, emang ada yang salah dengan pria yang suka sama film titanic?&lt;br /&gt;emang ada yang salah dengan pria berbadan montok dan gondrong (waktu itu masih gondrong) serta jeans kumal merasa bahagia dengan menemukan dvd idamannya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;yeah gw termasuk orang yang nonton titanic dua kali, he5, tapi itu pun ga sengaja, yang pertama emang nonton karena niat, yang kedua mau nonton red cornernya richard gere filmnya ternyata dah abis, ngerasa gondok, ya gw ngantri nguler lagi beli tiket titanic di gading, en ngedenger lagi tuh suara2 ABG yang sedih pas leonardo di caprio dengan sukses berubah menjadi manusia es batu di laut en tenggelem ..... ''YAH LEO..LEO...hiks..hiks..hikss...'' ''LEO jangan mati dong''&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(woy adek-adek... di script nya dia tuh harus mati, badannya harus jadi biru, beku kaya es batu keluar dari kulkas, terus tenggelam ninggalin kate blanchet hidup sendiri dengan menyimpan kenangan terindah hidupnya, kalo gak mati, filmnya gak laku!) kata gw dalem hati, he3&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;plot titanic emang biasa banget, kisah cinta cowo miskin en cewe kaya, dikejar2 tunangan cewe yang cemburu karena kekayaannya gak bisa ngebeli cinta cewe itu (aih..aih),&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;boleh jadi, james cameron sengaja ngebikin plot filmnya sederhana, supaya catchy di mata semua golongan, tapi ide dasarnya adalah bagaimana dia mengetengahkan ke generasi yang sudah puluhan tahun gak tau apa yang namanya titanic jadi bakal terus keinget sama titanic, lewat plot sederhana,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;coba bayangin kalo titanic itu cuma jadi kaya...film dokumenter tentang orang2 gila harta yang didanai oleh orang yang gila harta juga untuk ngejar2 bangkai kapal di tengah lautan luas, pake teknologi canggih, nonton aja national geographic ato discovery channel, ga usah ngantri nguler, tapi abis itu ya blass...u dont have sometin to remember about the most luxurious ship ever build by men!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;yang elo dapet ya, ada kerangka kapal gede banget, yang dishoot sama kamera robot yang bentuknya kayak lebah, filmnya warnanya biru ama item doang, banyak plankton, piring pecah, karatan, ikan2 kecil, itu aja,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;elo ga dapet atmospir titanic yang megah, ballroom yang penuh sinar lampu saat sebagian dunia masih byar pett, kamar mewah dengan karpet tebel, barang pecah belah yang cuma disupply oleh satu vendor, en james cameron sampe ngontak vendor ini lagi buat mesen replika seluruh pecah belah yang titanic pesen! anjrot!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;lo ga dapet (sekilas) gimana para pekerja irlandia mandi peluh di dek paling bawah, mereka nyekop batubara ke dalam tungku titanic, mesinnya bergerak, dengan tuas raksasa yang terbuat dari besi tulen lebih tinggi dari pemain basket Yao Ming asal cina ntu, btw james cameron ngegambarin adegan ini cukup indah dengan scene leo en kate lari2 dikejar bodigard tunangannya kate...yey! kontras banget!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;lo ga dapet gimana kehidupan penumpang kelas kambing, yang ga boleh naik lift, en hiburannya adu pancho, en joget dengan musik tradisional irlandia yang menghentak2 lewat gesekan biolanya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;titanic, buat gw, akhirnya ga berhenti sebagai cerita romantis cowo ama cewe yang harus terima nasib mereka ga bakal nyatu, titanic itu sendiri adalah cerita romantis tentang komunitas, tentang masyarakat dengan segala keunikan dan suka dukanya, keluh kesah, tentang benturan masyarakat menengah bawah dan menegah atas,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ketika mereka tau mereka dikorbanin (ga boleh naik ke dek karena dek khusus untuk orang2 tajir) ato ketika ibu2 ditanya sama anak balitanya kenapa mereka ga naek perahu en sang ibu ngejawab bahwa perahu hanya untuk orang2 KAYA, yang MISKIN ga perlu perahu karena dah dikasih pelampung en berenang dah lo sampe beku kaya es batu! Mein God!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tapi above all, titanic buat gw adalah cerita soal proses pembebasan, si rose harus bebas dari norma hidupnya yang lama, yang hipokrit en memuja harta, dia milih ninggalin status dengan bareng jack yang kere abis en kerjanya ngegambar orang2 aneh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;en jack membebaskan dirinya saat tau kalo kastanya yang rendah ga bakal bisa hidup bareng dengan kasta rose, jack membebaskan dirinya saat dia ngangkat rose ke bilah papan pecahan dari furniture titanic, en dia sendiri kerendem air yang dinginnya dibawah nol derajar celcius, terus dia mampus! its all about free ur self,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;so titanic its not JUST a movie eh? he4 at least for me!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5688052063213088371-5529284721170613175?l=setanmartabak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://setanmartabak.blogspot.com/feeds/5529284721170613175/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5688052063213088371&amp;postID=5529284721170613175' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5688052063213088371/posts/default/5529284721170613175'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5688052063213088371/posts/default/5529284721170613175'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://setanmartabak.blogspot.com/2008/04/ada-yang-salah-dengan-titanic.html' title='ada yang salah dengan titanic??'/><author><name>evy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04100470962692008262</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5688052063213088371.post-6038870941195242617</id><published>2008-04-06T23:01:00.001+07:00</published><updated>2008-04-06T23:19:44.798+07:00</updated><title type='text'>Menilai Martabak dari Bungkusnya</title><content type='html'>malang melintang lintang pukang kaya kukang di dunia martabak membuat gw pede untuk mengatakan bahwa salah satu cara memilih martabak manis yang mantab adalah berdasarkan kardus pembungkusnya!!! yup kardus pembungkusnya...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ini tentu aja bertentangan dengan pepatah, jangan menilai buku dari bungkusnya, kalau buat buku, emang pribahasa ini berlaku, buku2 terbitan pustaka jaya atau balai pustaka taun jebot kan sampulnya ga jelas banget, lukisan2 abstrak malah kadang surealis, en ga menarik banget dah dari luar, tapi begitu dibaca....mantap tenan isi bukunya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;nah di martabak itu kebalikannya, maksudnya begini, setiap kita INGIN membeli martabak, perhatikan kardus pembungkusnya, (kata INGIN sengaja dihurufbesarkan, supaya tidak lantas tertipu) bila kardus martabak itu tidak memiliki nama kedai martabak,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;such as Martabak Idola, Martabak Bandung Lezat, Martabak Bangka 61, Martabak Bangka AA, Martabak Rudy, Martabak Holland, Martabak San Fransisco, etc mending jangan dibeli  dah,  nti kecewa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;berdasar pengalaman gw, rasa martabak di kedai-kedai itu ga enak dan tidak memuaskan, ada yang terlalu lembek adonannya, terlalu kuning sehingga eneg, terlalu kering malah jadi seret, ada yang terlalu lumer, ngga ada yang pas, pas legitnya, pas gurihnya, pas adonannya, pas kalau dicampur meses, keju, en wijen (topping dasar martabak manis)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;jadi sekarang tiap kali hunting martabak, yang gw perhatiin bukannya harga atau macam gerobak, maupun kedai, tapi kardusnya, he3,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tapi (pengalaman juga mengajarkan) ternyata tidak 100 persen tips ini bisa diterapkan, ada sejumlah contoh : pas di benhil ada kedai martabak yang pas punya, kardusnya beda bukan generik kaya kardus selamat menikmati, kardusnya putih polos tanpa nama kedai, enak juga loh! nyaaaaam!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;di margonda Depok, di seberang kantor deborah ada martabak manis bandung 61, kardusnya dah muat nama kedainya, tapi martabaknya ga enak tenan, masa martabak manis kering banget, kaya ga dikasih mentega, jadinya pas dimakan seret, dah gitu adonannya kerasa banget kebanyakan tepung, jadi ga legit en ga pas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;di pasar minggu ada martabak idola, kemarin baru coba, harganya untuk sekelas martabak serupa cukup murah, kardusnya pun mentereng, martabak idola ada di tiap sisi kardus, tapi rasa martabaknya, hueeeee, terlalu lembek, gw baru seumur hidup makan martabak letoy banget!!!!en adonannya masih basah, jadi lumer banget en terlalu kuning, kayanya si mas kebanyakan pake telor dah,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hummmm...martabak...martabak...martabak...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5688052063213088371-6038870941195242617?l=setanmartabak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://setanmartabak.blogspot.com/feeds/6038870941195242617/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5688052063213088371&amp;postID=6038870941195242617' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5688052063213088371/posts/default/6038870941195242617'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5688052063213088371/posts/default/6038870941195242617'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://setanmartabak.blogspot.com/2008/04/menilai-martabak-dari-bungkusnya.html' title='Menilai Martabak dari Bungkusnya'/><author><name>evy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04100470962692008262</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5688052063213088371.post-1315320421666249259</id><published>2008-04-01T23:10:00.000+07:00</published><updated>2008-04-01T23:11:10.020+07:00</updated><title type='text'>I'm Sick!!!!</title><content type='html'>gue dalam bahaya besar...&lt;br /&gt;udah beberapa bulan terakhir ini gue terkena satu penyakit yang sangat berbahaya&lt;br /&gt;kuman atau virusnya menyerang otak dan lambung&lt;br /&gt;membuat fungsi keduanya tidak sinkron&lt;br /&gt;udah gitu penyakitnya kadang muncul kadang hilang&lt;br /&gt;kalau muncul biasanya malam hari&lt;br /&gt;setelah gue pulang kerja en ditanya orang rumah&lt;br /&gt;''udah makan belom?''&lt;br /&gt;''hah makan....mmmm..mm...belom deh kayanya...udah apa belom ya?...,''&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;gue terkena penyakit bernama AMNESIA MAKAN !!!&lt;br /&gt;gue kerap lupa kalo gue dah makan siang ato sore&lt;br /&gt;jadinya gue kalap makan di malam hari&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''udah makan belum ya?........''&lt;br /&gt;''ah kayanya belum dah,''&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;nah di tengah makan malam baru deh ingatan gue akan makanan tadi siang en sore hari muncul&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''ASTAGA!! gue kan tadi siang dah makan nasi padang di DPD, nasi bungkus di press room DPR, beli biskuit di koperasi, makan pangsit pas mau pulang....ASTAGA!!!''&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ato karena belum inget kalo ternyata gue dah makan gue akan telpon pizza,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''laper nih belum makan kayanya dari tadi pagi ya? udah belum ya? ah belum deh kayanya, telp pizza deh, ... .... .... .... .... mas mau delivery pizza nih, iya atas nama stevy di kodamar, ok pesanannya dua pizza regular permesan en sea food ya!''&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ASTAGA!!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;gue gak tau apa di luar sana ada orang yang menderita penyakit yang sama dengan gue&lt;br /&gt;kalo ada, berarti penyakit ini udah nyebar&lt;br /&gt;mungkin harusnya para pasien virus atau kuman ini bikin kelas konsultasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Hiii...nama gue stevy...''&lt;br /&gt;''Hiii stevy...''&lt;br /&gt;''gue mau ngaku nih, gue punya penyakit...gue suka lupa kalo gue ternyata udah makan jadi gue makan lagi en lagi en lagi,''&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;....plok..plok..plok..plok.. (tepuk tangan para peserta konseling virus atau kuman penyebab penyakit amnesia makan)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ASTAGA!!!! please help US!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5688052063213088371-1315320421666249259?l=setanmartabak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://setanmartabak.blogspot.com/feeds/1315320421666249259/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5688052063213088371&amp;postID=1315320421666249259' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5688052063213088371/posts/default/1315320421666249259'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5688052063213088371/posts/default/1315320421666249259'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://setanmartabak.blogspot.com/2008/04/im-sick.html' title='I&apos;m Sick!!!!'/><author><name>evy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04100470962692008262</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5688052063213088371.post-6243816541626616952</id><published>2008-03-31T01:29:00.001+07:00</published><updated>2008-03-31T01:38:22.160+07:00</updated><title type='text'>how hape are u?</title><content type='html'>hape pertama gw justru bukan dari beli atau dikasih, gw malah DAPET! he3 its back in the 2001, mgkin sekitar awal tahun, waktu itu dikmpus dah rame bgt orang2 pake nokia pisang, or hp sejuta umat 5110, ericson t10 or t20, masih inget gmana bentuknya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;well gw g ngerasa butuh hape waktu itu, jstru menghindar, biar ga bs dhubungin rumah, he3,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tapi dasar nasib, gw mlh nemu 5110, malem itu abis anter plg may, gw ngambil dwt di ATM BNI tranka, jalan raya bogor, sebelum2nya ga pernah ada rezeki di atm itu, malah gw anggap sebagai beban, karena ya diambil mulu dwtnya, he3&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;malem itu ternyata beda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;gw tadinya ga sadar ada hape diatas mesin atmnya, dah selesai ambil dwt, gw ngelongok ke atas, ada HP? eh.......... itu hape beneran? (hpnya ga berani gw sentuh)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;karena lugu dan polos, gw justru takut (ha3) gw keluar ATM, ngelongok kiri kanan, kiri kanan, ke samping aTM, tempat satpam Tranka biasa jaga, tapi tetap g ada orang,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sempet nunggu sekitar 3 menitan sebelum akhirnya belahan jiwa gw yang jahat yang menang, ''AMBIL AJA HPNYA!'' anehnya, ga ada suara2 yang nganjurin gw supaya ''UDAH TINGGALIN AJA TUH HAPE, KASIAN KAN ORANGNYA''&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;yup, the evil rule!!langsung gw ambil, masukin tas, trs gw cabut buru2 ke pertigaan PAL, deg2an juga waktu itu, takut tiba2 dari belakang ada yang manggil ''Mas..mas...MAS..MAS... MALING HAPE...MALING HAPE!!!'' untungnya ngga (ha3 dasar iblis)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tangan gatel juga pengen nyoba hape baru, akhirnya sembari nunggu 112 ke depok, gw coba tuh hape, telepon pertama adalah ke rumah may, tapi kok ga nyambung, ..tut...tut...tut... hmmm mungkin ga ada pulsa ya? ok kita coba telepon rumah, ..... tut..tut..tut..masih juga ga nyambung,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sempet mikir mungkin hapenya rusak, makanya ditinggal di atm (so naive, tapi tetep diambil juga kan), tapi kayanya ada yang ga beres dengan dua nomor itu, apa ya.......&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;butuh waktu 10 menit sebelum gw sadar ternyata gw lupa mencet 021 HUA5, dasar bodoh!!!ini kn hape bukan wartel, harus ada 021 nya dogol, baru setelah sampe di kober, gw telepon may en rumah,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;pada kaget waktu gw bilang ''nemu HAPE nih,..... ngga..ngga nyolong kok.. nemu di ATM''&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;akhirnya semua mendukung (again evil RULE!!)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;begitu sampe di kost, dah mo tidur, eh nyala dah tuh hape, berdering2, en dasar bloon, gw ga tau gmana cara matiinnya, gw tutup bantal HA5 (emang mau bunuh orang,pake ditutup bantal)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sampe akhirnya gw ketemu tombol buat matiin tuh hape, gw matiin total, 10 menit kemudian gw nyalain lagi, ada sms bilang doi namanya rudi, anak pancasila, mohon balikkin hapenya....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;YA NGGA MUNGKIN LAH!!! he3 gw buka2 smsnya, hmmm ternyata dah pny pacar, gw kirim SMS maki2 en jorok ke pacarnya (yeahh..yeahh.. im d devil rait?)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tapi ngerasa belum butuh, hape itu akhirnya gw kasih ke bokap, pulsa waktu itu mahal banget kan...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;jelang akhir ramadhan tahun itu, hapenya gw pake, tapi cuma beberapa hari, TUHAN tampaknya mikir, ''ah si stevy belum perlu hape deh, dikasih ke orang lain aja dah,'' hu3, hapenya ilang di D11, kayanya sih jatuh dari kantong clana, sore2 waktu gw balik nganter may,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sad? ngga juga, lagian gw ngerasa itu bukan hape gw ya ga gw pikirin, tapi pembalasan datang sepekan abis itu, dompet gw dicopet di pulo gadung pas mau buka bareng 97 d rumah pipip!!damn, duitnya sih cuma20 rebu, tapi ktp, sim, en kartu mahasiswanya itu loh!!!bikinnya kan lama, apalagi gw baru punya sim mobil baru sepekan,en belum dipotokopi (Gobloknya, kalau dipotokopi buru2 kan tinggal ganti, ga perlu bikin ulang) yeah2 gw anggep sebagai karma hape itu....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MY second gadget its another HP, en kali ini yang lumayan ekslusif waktu itu, nokia 8110 (masih inget? nokia slide casing perak en layar biru) keren banget dah!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;itu hape punya bokap, karena gw jadi koordinator ilmiah latihan ekskavasi 2001, gw rasa gw butuh hape buat komunikasi sama panitia lainnya,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;baru hari pertama gw cek ke lapangan, di deket holywod UI, eh hape itu ILAAAANG!!!!sial banget! seingat gw gw taro di kantong celana tuh, trus mungkin jatuh kali ya pas lagi nrabas2 rumput ilalang yang setinggi2 tubuh gw,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;gw ngerasa lemes en ga enak banget sama bokap, pa lagi pas gw langsung balik hari itu en bilang hapenya ilang......untungnya bokap bilang its okay, kalau udah ilang mau gimana lagi? (wise eh!)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;abis itu gw rada trauma punya hape, en emang akhirnya gw putusin ga punya hape sampe 2003, pas mau kunjungan lapangan skripsi di plawangan, yogya, en bali, gw bawa erikson hiu R310 yang udah rada soak, batere maupun isi hapenya sering hang, en kayanya nih hape ada mahluk halus yang menghuni, sering banget tiba2 mati sendiri, trus nyala sendiri juga, hiiiii samaan tuh sama kipas angin di gudang artefak balai arkeologi denpasar yang pas gw buka pintu gudangnya tiba2 kipas anginya, yang ditempel di plafon, tiba2 muter kenceng! hua4&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;si hiu nemenin sampe desember 2004, pas gw balik dari ekskavasi di pacitan, bgt sampe rumah, gw langsung minta nyokap bt modalin gw beli hape, rada tengsin sih, tapi mau gimana lagi? wong akhirnya ngerasa butuh, gw dimodalin 800 rebu, en gw ke roxy, cari siemens ME45 yang cool abis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hape kecil itu nemenin gw sampe 2006, gw tandemin sama O2, gw beli o2 mini karena setelah kerja jadi wartawan en ngliput di makro itu gempor banget kalau ngandelin warnet,makan ati ngeliat anak2 lain sibuk ngetik dengan nyaman di 9300 or 9500 sementara gw nyatet omongannya sri mul, burhanuddin, atawa boediono, cs sambil masih mikir, nti harus ngetik di warnet ya bow!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tapi ME45 akhirnya nyerah!karena keseringan jatuh (sebetulnya sengaja, pengen liat kuat bener ga ya?kan iklannya bilang hape itu tahan banting, debu, en air)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;begitu ME45 pensiun,gw cm pake O2, tapi lama2 mikir gw harus punya hape satu lagi, abis kalau pake o2 aja baterenya cepet banget abis, udah buat ngetik, buat sms, buat nelpon, buat nonton video2  ya boros batere&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;gw coba tandemin sama nokia jadul 3210 yang batere originalnya dah ga dijual lagi, jadi pake batere abal2, tpi masa baru enam jam dah mati, drop banget, sampe satu titik kesel, gw putusin akhirnya harus BELI hape&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;for this one,hape itu harus unik,tadinya sempet mikir2 mau beli siemens SX1 item yang cool banget, or phillips biar baterenya ga usah dicharge sepekan,tapi nyarinya susye banget, SX1 jarang, en baterenya parah, sementara phillips off budget en (ini salah satu faktor penting buat hape guys!) tutsnya phillips itu asli ga enak banget!!!keras en ga ergonomis, ga kaya nokia (nokia emang paling woke en user friendly dah)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;pucuk cinta diulam tiba, ketika lagi iseng di ITC cempaka mas, ketemu hape yang dah lama banget gw incer nokia 6250!!!! iklannya dulu bilang the toughest phone nokia ever build!gile kan?gimana ga kesengsem! gw pertama kali ngeliat hape ini dipake sama wendy anak IKJ waktu gw jadi panitia JIFFEST 1999, its really cool&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;harganya ternyata masih tinggi, tapi karena jarang (di salah satu blog dibilang hape ini terbatas banget di indonesia, konon cuma ada 100 biji en gw punya salah satunya hua3) tapi pas gw jalan ke roxy ternyata cukup banyak yang jual&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kata penjualnya, itu barang bekas, en emang dah jarang yang jual, tapi sebagian lagi ngaku kalau itu barang rekondisi dari taiwan en hongkong, masuk via pintu belakang ke jakarta, tapi watever!!!! sampe saat ini 6250 ga pernah ngecewain kok, suara bagus, batere kuat (tiga hari) ergonomis en cool, en satu lagi jarang, he3&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tapi saking tebelnya, seorang oknum yang lugu (atau niat ngejek) sempat bilang ''wah nokia baru stev? seri 9300 yang mana? coba dong dibuka, gw mau liat layar di dalemnya kaya gimana'' (ngehe banget kan?) dah jelas hape terbitan 1999 itu ga bisa dibuka kaya seri comunicator!!!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5688052063213088371-6243816541626616952?l=setanmartabak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://setanmartabak.blogspot.com/feeds/6243816541626616952/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5688052063213088371&amp;postID=6243816541626616952' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5688052063213088371/posts/default/6243816541626616952'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5688052063213088371/posts/default/6243816541626616952'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://setanmartabak.blogspot.com/2008/03/how-hape-are-u.html' title='how hape are u?'/><author><name>evy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04100470962692008262</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5688052063213088371.post-9197127129363397756</id><published>2008-03-31T00:38:00.000+07:00</published><updated>2008-03-31T00:44:33.994+07:00</updated><title type='text'>ROOTS</title><content type='html'>'I closed my eyes and imagined her in a long, black dress&lt;br /&gt;She turned and looked towards the sky&lt;br /&gt;Sher raised her arms upwards to catch&lt;br /&gt;the air, the sun and the clouds. Her arms turned to wings&lt;br /&gt;But when the wind lifted her heavy, black dress&lt;br /&gt;I saw that she had roots in the place of feet&lt;br /&gt;Powerful roots reaching deeply into the earth&lt;br /&gt;I realised that she would never fly'&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;excerpt from Ana Rodic's 'ROOTS' (2000); taken from Asne Seierstad's With Their Backs to  the Worlds (2004)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5688052063213088371-9197127129363397756?l=setanmartabak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://setanmartabak.blogspot.com/feeds/9197127129363397756/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5688052063213088371&amp;postID=9197127129363397756' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5688052063213088371/posts/default/9197127129363397756'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5688052063213088371/posts/default/9197127129363397756'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://setanmartabak.blogspot.com/2008/03/roots.html' title='ROOTS'/><author><name>evy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04100470962692008262</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5688052063213088371.post-1374516168403815495</id><published>2008-02-08T18:11:00.000+07:00</published><updated>2008-02-08T18:18:18.891+07:00</updated><title type='text'>THE LIFE LIST</title><content type='html'>Martabak Favorit Bandung Rawamangun, depannya Apotik Rini Rawamangun / Tiptop&lt;br /&gt;Martabak Mesir Kubang, Jl. Sahardjo&lt;br /&gt;Martabak Bandung, di Manggarai jalan Minangkabau (3A kalau nggak salah mereknya)&lt;br /&gt;Martabak Tendean, di Restoran Mbok Berek Tendean&lt;br /&gt;Martabak Bandung Fatmawati, dkt Perempatan Cipete, yang enak yang sebelahnya Toko Karpet&lt;br /&gt;Martabak Bangka TOMANG, tempat persisnya gue lupa&lt;br /&gt;Martabak Spotlite, (1) Jl. Fatmawati; (2) Jl. Cinere Raya&lt;br /&gt;Martabak Bandung Blok M, deketnya Duta, Barito&lt;br /&gt;Martabak Pela, cabangnya martabak Barito&lt;br /&gt;Martabak Bangka yang deket RCTI, deket toko buah&lt;br /&gt;Martabak Telor Cikini, seberang Hias Rias, didepan pengadilan tinggi&lt;br /&gt;Martabak Bandung Santiago, di jl. Fatmawati, depan showroom Suzuki/Citra Asri Buana, kalo dari Blok A, setelah Pasar Cipete, sebelum jalan Sawo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;setelah berselancar di internet, akhirnya ketemulah daftar apa yang akan gue lakukan seumur hidup ini (di jakarta), hunting martabak tentunya! (my God)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tapi ternyata setelah disigi-sigi, sebagian besar dari martabak di daftar ini udah gw jajal, malahan daftarnya parah, ga masukin di kelapa gading (martabak durian, martabak holland) en the worse, mereka gak masukin Martabak Rudi (The Legendary!!!) di Pasar Baru, payah juga ternyata yah! oia belum yang di depok, di sekitar 100 meter sebelum kober, itu martabak mantap punya, legit, gurih, en khas rasanya, he5&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hunting martabak tentu bakal bikin masalah baru, which is kolesterol en kolesterol en kolesterol en kolesterol, tapi namanya The Life List ya risikonya gw terima lah! =) mari berburu!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5688052063213088371-1374516168403815495?l=setanmartabak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://setanmartabak.blogspot.com/feeds/1374516168403815495/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5688052063213088371&amp;postID=1374516168403815495' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5688052063213088371/posts/default/1374516168403815495'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5688052063213088371/posts/default/1374516168403815495'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://setanmartabak.blogspot.com/2008/02/life-list.html' title='THE LIFE LIST'/><author><name>evy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04100470962692008262</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5688052063213088371.post-7932562007701766016</id><published>2008-01-27T01:43:00.000+07:00</published><updated>2008-01-27T01:44:33.288+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>Noah : Will u just stay with me?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allie : Stay with u? What for? Look at us! We already fighting!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Noah : Well, that's what we do! We fight! U tell me I’m being a son of arrogant bitch, and I tell u, ur being pain in the ass... Which u are...99% of the time! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I’m not afraid to hurt ur feelings... They're like a two seconds rebound rate... And ur back doing the pain in the ass thing!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allie : So what??&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Noah : So its not going to be easy! Its going to be very hard... And we have to work at this everyday... But I want to do it because I want u... I want all of u... Forever... U and me... Everyday... &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Will u do something for me? Please.. U just picture ur life for me... 30 years from now... 40 years from now... &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;What’s it look like? If its with that guy, go! Go!... &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I lost u once I think I can do it again... If u thought that's what u really wanted. But don't u take the easy way out!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allie : What easy way? There is no easy way... No matter what I do, somebody get hurt...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Noah : Will u stop thinking about what everybody wants? Stop thinking about what I want... What he want... What ur parents want... What do you want? ... What do u want??&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allie : Its not that simple...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Noah : What do u want?! Goddammit! What do u want?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allie : I have to go...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;..........&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The Notebook the movie&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5688052063213088371-7932562007701766016?l=setanmartabak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://setanmartabak.blogspot.com/feeds/7932562007701766016/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5688052063213088371&amp;postID=7932562007701766016' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5688052063213088371/posts/default/7932562007701766016'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5688052063213088371/posts/default/7932562007701766016'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://setanmartabak.blogspot.com/2008/01/noah-will-u-just-stay-with-me-allie.html' title=''/><author><name>evy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04100470962692008262</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5688052063213088371.post-4350493309042885690</id><published>2008-01-26T13:14:00.000+07:00</published><updated>2008-01-26T13:15:56.381+07:00</updated><title type='text'>Pakistan It Is!!!!!</title><content type='html'>''Udah ke luar negeri ke mana aja stev?'' tanya Kang Arys di suatu malam, awal Desember lalu. Kami berada di ruang kerjanya yang mungil namun sejuk. Baru saja membahas isu dana BI ke DPR dan mengapa Republika telat meliput. Tumpukkan buku dan koran berserakkan di atas meja dan lantai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Wah..kalau Malaysia dianggap ke luar negeri, saya baru ke situ Mas,'' jawabku. ''Tapi buat saya, Malaysia mah Bukan luar negeri Mas. Wong ke Ambon aja lebih lama dari ke sana,'' sambungku menyindir Redaktur Pelaksana Republika ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kang Arys tersenyum mendengar jawabanku. Aku berpikir pasti ada tawaran menarik buat jalan-jalan. Minimal tidak di Asia Tenggara lagi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Liputan ke daerah perang mau?'' tanya pria yang pernah menjadi Kabiro Bandung Republika ini. Ini yang kutunggu, pikirku dalam hati. Saat itu yang kupikir adalah liputan penuh adrenalin, ketegangan, dan situasi mencekam. Medan liputan impian tiap wartawan. Seharusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Mau-mau Mas!'' jawabku dengan cepat. Aku tersenyum lebar. Khayalanku melayang. Mau dikirim ke mana? Timtim sempat terlintas dalam benakku. Negara kecil yang dilepas Indonesia itu memang dalam keadaan gawat. Perang sipil terus merobek negara yang sudah koyak itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau Timteng? Dulu aku pernah ditawari ke sana. Saat perang saudara berkecamuk di Lebanon. Yang menawarkan langsung Pak Kiram. Katanya Republika diundang untuk mendampingi rombongan pemuka agama nasional 'melancong' ke Palestina dan Lebanon. Tapi entah apa sebab rombongan itu tak jadi berangkat. Padahal aku sudah bikin paspor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Ke Pakistan mau?''. Mata Kang Arys langsung menatap mataku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Mau Mas!'' jawabku langsung, tanpa pikir panjang. Otakku langsung menggali memori. Sampul majalah Newsweek akhir Oktober lalu. Gambarnya seseorang tengah berusaha melempar sesuatu, tubuhnya diselimuti asap. Tulisannya berwarna merah, 'Pakistan, The Most Dangerous Place on Earth is not Iraq, is Pakistan'. Mantap!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Beneran kamu mau?'' katanya menegaskan. Matanya kembali menatap mataku. Mencari secuil rona ragu. Tapi tidak ada. ''Mau Mas!'' kataku lagi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadilah aku akan ke Pakistan. Tadinya kunjungan itu dijadwalkan awal Januari. Saat negeri pecahan India itu bersiap untuk menggelar Pemilu. Pakistan butuh publikasi positif tentang negaranya setelah Presiden dari militer, Perves Musharaf melakukan sejumlah langkah kontroversial, yaitu memecat mayoritas hakim agung yang kritis dan mengosongkan hampir 90% mahkamah agung negaranya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hujatan atas sikap ini langsung menyeruak. Dari dalam dan luar negeri. Pakistan rusuh. Ribuan pengacara demo. Bush, yang merupakan pelindung Musharaf sampai mempertanyakan langkah ini. Bahkan tokoh oposisi Bhenazir Bhutto pun berniat pulang dengan harapan ikut pemilu dan kembali memimpin Pakistan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun tewasnya Bhutto akibat di bom hampir menggagalkan rencana itu. Bahkan aku sudah pasrah. Berita di koran menyatakan pemilu Pakistan tak tentu kapan. Ini pasti batal, pikirku. Bukan rezekiku lah, aku pasrah. Eh ternyata tidak! ;D&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5688052063213088371-4350493309042885690?l=setanmartabak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://setanmartabak.blogspot.com/feeds/4350493309042885690/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5688052063213088371&amp;postID=4350493309042885690' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5688052063213088371/posts/default/4350493309042885690'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5688052063213088371/posts/default/4350493309042885690'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://setanmartabak.blogspot.com/2008/01/pakistan-it-is.html' title='Pakistan It Is!!!!!'/><author><name>evy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04100470962692008262</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5688052063213088371.post-8726349999159907554</id><published>2008-01-23T21:05:00.000+07:00</published><updated>2008-01-23T21:14:28.019+07:00</updated><title type='text'>Saat Generasi MTV Meliput Pak Harto</title><content type='html'>&lt;span class="deskripsi"&gt;        &lt;/span&gt;&lt;p&gt;&lt;span class="deskripsi"&gt; Mereka datang laksana air bah ke Rumah Sakit Pusat Pertamina (RSPP), begitu mengetahui Soeharto terbaring di sana sejak Jumat (4/1) pukul 14.15 WIB. Ada tokoh pemerintah, tokoh politik, artis, mantan pejabat, hingga wartawan. Hari pertama Pak Harto menempati Presidential Suite, lantai 5, kamar 536, pengunjung belum banyak. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span class="deskripsi"&gt; &lt;/span&gt;&lt;p&gt;&lt;span class="deskripsi"&gt;Yang terlihat hanya orang dekat seperti Wismoyo Arismunandar, Prabowo Subianto, dan Moerdiono. Tapi, Sabtu (5/1) siang hingga malam, lobi Gedung A RSPP tak henti-hentinya kedatangan mobil mewah. Hari itu, memang terbetik kabar bahwa kondisi kesehatan Pak Harto menurun, bahkan sempat kritis.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span class="deskripsi"&gt; &lt;/span&gt;&lt;p&gt;&lt;span class="deskripsi"&gt;Karangan bunga juga terus berdatangan. Jumat, karangan bunga langsung diantar ke lantai lima. Sabtu, sudah memenuhi lobi seluas dua kali lapangan bulu tangkis. Selasa (8/1) siang, karangan bunga itu dilokalisasi di lorong menuju lift Gedung A. Sebagian besar terlihat sudah layu. Sejak Jumat malam, wartawan media cetak dan elektronik &lt;i&gt;tumplek blek&lt;/i&gt; di RSPP. Pada Jumat, Sabtu, dan Ahad, jumlahnya 70-an orang. Kemarin, saat kondisi Pak Harto dikabarkan &lt;i&gt;drop&lt;/i&gt; kembali, jumlahnya mencapai di atas 100.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span class="deskripsi"&gt; &lt;/span&gt;&lt;p&gt;&lt;span class="deskripsi"&gt;Mereka bukan cuma menunggu di lobi Gedung A. Mereka juga &lt;i&gt;nongkrong&lt;/i&gt; dekat kamar jenazah, kantin samping Gedung A, hingga ruang UGD. Berharap ada tokoh atau dokter yang datang atau pulang lewat jalan belakang. Mencegatnya, untuk mendapatkan informasi eksklusif.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span class="deskripsi"&gt; &lt;/span&gt;&lt;p&gt;&lt;span class="deskripsi"&gt;Camelia Malik, Bustanul Arifin, Moerdiono, dan Hayono Isman, yang saban hari datang, punya pola berbeda. Camelia Malik selalu datang lewat pintu depan, pulang lewat pintu belakang. Moerdiono dan anak-anak Soeharto, datang dan pulang lewat belakang, dekat kamar jenazah. Hayono Isman dan Bustanul Arifin yang selalu lewat depan. Kemarin, Halimah juga lewat belakang, dekat kantin.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span class="deskripsi"&gt; &lt;/span&gt;&lt;p&gt;&lt;span class="deskripsi"&gt;Sejak Jumat, tunggu-menunggu di Lobi Gedung A RSPP tak kunjung surut. Maklum, jumpa pers kondisi kesehatan Pak Harto, hanya dilakukan pagi. Tak ada penjelasan pada siang, sore, dan malam hari. Padahal, laporan harus selalu disetor. Alhasil, setiap tokoh yang ingin atau sudah menjenguk Pak Harto, setiap mobil yang berhenti di depan lobi, langsung diserbu. Bagi yang wajahnya sudah familiar, tentu mudah dimintai keterangan. Lain soal kalau tak dikenal.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span class="deskripsi"&gt; &lt;/span&gt;&lt;p&gt;&lt;span class="deskripsi"&gt;Masalah kenal-mengenal ini ada cerita tersendiri. Peliput kebanyakan wartawan muda, generasi MTV yang lahir akhir 1970-an atau awal 1980-an. Sementara pengunjung rata-rata menjadi pejabat saat para wartawan masih berseragam merah putih atau putih biru. Di situlah serunya. Sabtu sore, dari mobil mewah berwarna gelap, seseorang bertampang pejabat berhenti di depan lobi Gedung A. Sontak, wartawan bergerak merubungnya. Kamera siap merekam dan menjepret, reporter sudah menyorongkan &lt;i&gt;mic&lt;/i&gt; dan alat perekam lain, rentetan pertanyaan sudah disiapkan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span class="deskripsi"&gt; &lt;/span&gt;&lt;p&gt;&lt;span class="deskripsi"&gt;Tapi, begitu sang pejabat keluar dari mobil, &lt;i&gt;jreeengggg&lt;/i&gt;, tak seorang pun mengenalinya. Sunyi sejenak. Para wartawan melongo, menoleh ke kiri dan kanan.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span class="deskripsi"&gt; ''&lt;i&gt;Sapa tuh&lt;/i&gt;?''&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span class="deskripsi"&gt; ''Siapa ya?'' Celetukan itu bertaburan.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span class="deskripsi"&gt; ''Kenal &lt;i&gt;gak&lt;/i&gt;?''&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span class="deskripsi"&gt; ''&lt;i&gt;Nggak tuh&lt;/i&gt;. Menteri &lt;i&gt;kali&lt;/i&gt;?''&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span class="deskripsi"&gt; Tapi, dengan kadar kecuekan tingkat tinggi, para reporter langsung memberondongnya, ''Pak, namanya siapa?''&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span class="deskripsi"&gt; ''Mau jenguk Pak Harto, ya?''&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span class="deskripsi"&gt; ''Pak, dulu jabatannya apa?''&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span class="deskripsi"&gt; Mulanya, dia kaget. Tapi kemudian senyam-senyum. Begitu pula wartawan yang sampai akhir tak berhasil mengorek identitasnya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span class="deskripsi"&gt; Tebak-tebakan pun muncul. ''Kayaknya mantan menteri pertambangan dulu &lt;i&gt;deh&lt;/i&gt;. Wajahnya &lt;i&gt;sih&lt;/i&gt; mirip Pak Sadli.''&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span class="deskripsi"&gt; ''Heh, menteri tahun berapa &lt;i&gt;tuh&lt;/i&gt;?'' tanya wartawan lain.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span class="deskripsi"&gt; ''Ah, bukan &lt;i&gt;tuh&lt;/i&gt;. Wajahnya mirip Bustanul Arifin, mantan menteri koperasi.''&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span class="deskripsi"&gt; Wartawan lain, dengan wajah bingung, bertanya, '''Hah? Bustanul siapa?''&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span class="deskripsi"&gt; Sampai Senin (7/1), peristiwa serupa masih terulang, saat seseorang turun dari Volvo di depan lobi Gedung A. ''Mau jenguk Pak Harto, Pak?'' Dia menjawab, ''Iya.'' Tapi, usai wawancara, para wartawan kembali saling pandang, ''Siapa tadi ya?''&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span class="deskripsi"&gt; Mengorek informasi dari karangan bunga, juga punya kisah unik. Biasanya, begitu karangan bunga masuk lobi, para wartawan langsung merubung kurir. Suatu ketika, melihat kartu nama bertulis Anthony terselip di karangan bunga lili, seorang wartawan bergumam, ''Wah, jangan-jangan dari Anthony Salim.''&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span class="deskripsi"&gt; &lt;/span&gt;&lt;p&gt;&lt;span class="deskripsi"&gt;Kendati belum pasti, seorang wartawan yang mendengarnya langsung membuat pengumuman: ''Eh, ada karangan bunga dari Anthony Salim.'' Tapi, sambil melongo, sebagian wartawan malah bertanya, ''Siapa &lt;i&gt;tuh&lt;/i&gt; Anthony Salim?''&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span class="deskripsi"&gt; Ada lagi yang aneh bin ajaib. Jumat lalu, melihat kurir susah payah mengangkat pot besar, seorang wartawan televisi bertanya, ''Karangan bunga dari siapa, Pak?'' Sang kurir menjawab sekenanya, ''Tidak tahu, Mas. Katanya &lt;i&gt;sih&lt;/i&gt; dari Fuad Hassan.''&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span class="deskripsi"&gt; Dan, si wartawan langsung menyebarkannya. ''Fuad Hassan &lt;i&gt;ngirim&lt;/i&gt; karangan bunga, &lt;i&gt;tuh&lt;/i&gt;.''&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span class="deskripsi"&gt; Terang saja protes muncul. ''Mana mungkin?! Salah &lt;i&gt;kali lu&lt;/i&gt;.''&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span class="deskripsi"&gt; Tapi dia &lt;i&gt;ngotot&lt;/i&gt;. ''&lt;i&gt;Gimana&lt;/i&gt; salah? Kurirnya yang bilang sendiri.''&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span class="deskripsi"&gt;Dengan kesal, wartawan lain meledek. ''Woi! Fuad Hassan &lt;i&gt;udah&lt;/i&gt; meninggal. &lt;i&gt;Gimana&lt;/i&gt; bisa &lt;i&gt;ngirim&lt;/i&gt; karangan bunga?''&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span class="deskripsi"&gt; Masih ada lagi. Melihat Sudwikatmono yang punya ikatan darah dengan Pak Harto tiba di lobi, dia langsung diserbu dan diberondong pertanyaan. ''Bagaimana kondisi Pak Harto, Pak?''&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span class="deskripsi"&gt; ''Sudah bisa berkomunikasi?''&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span class="deskripsi"&gt; ''Selang di tubuhnya ada berapa, Pak?''&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span class="deskripsi"&gt; ''Anak-anaknya lengkap Pak?''&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span class="deskripsi"&gt; ''Ada Tommy, Pak?''&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span class="deskripsi"&gt; Mulut pengusaha yang berjalan tertatih dipapah ajudannya itu sempat bergumam, tapi tak sepatah kata pun keluar. Tapi, berondongan pertanyaan tak berhenti, sampai dia naik mobil. Seorang polisi geleng-geleng kepala melihat kejadian itu. ''Busyet &lt;i&gt;dah&lt;/i&gt;, wartawan. Tega &lt;i&gt;bener&lt;/i&gt;. &lt;i&gt;Udah liat&lt;/i&gt; jalan &lt;i&gt;gitu&lt;/i&gt; masih &lt;i&gt;aja&lt;/i&gt; ditanya. Untung &lt;i&gt;gak&lt;/i&gt; pingsan,'' katanya, sambil tersenyum. Ya, namanya juga wartawan, Pak.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5688052063213088371-8726349999159907554?l=setanmartabak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://setanmartabak.blogspot.com/feeds/8726349999159907554/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5688052063213088371&amp;postID=8726349999159907554' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5688052063213088371/posts/default/8726349999159907554'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5688052063213088371/posts/default/8726349999159907554'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://setanmartabak.blogspot.com/2008/01/saat-generasi-mtv-meliput-pak-harto.html' title='Saat Generasi MTV Meliput Pak Harto'/><author><name>evy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04100470962692008262</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5688052063213088371.post-8236355363715525771</id><published>2007-11-23T21:57:00.000+07:00</published><updated>2007-11-23T22:01:06.587+07:00</updated><title type='text'>mimpi</title><content type='html'>mimpi sialan itu datang lagi!&lt;br /&gt;sudah sepekan ini ia muncul&lt;br /&gt;padahal gw bukan orang yang sering mimpi...&lt;br /&gt;apa mungkin karena masih dipikirkan ya?&lt;br /&gt;sial!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5688052063213088371-8236355363715525771?l=setanmartabak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://setanmartabak.blogspot.com/feeds/8236355363715525771/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5688052063213088371&amp;postID=8236355363715525771' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5688052063213088371/posts/default/8236355363715525771'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5688052063213088371/posts/default/8236355363715525771'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://setanmartabak.blogspot.com/2007/11/mimpi.html' title='mimpi'/><author><name>evy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04100470962692008262</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5688052063213088371.post-7921241359393801549</id><published>2007-11-14T00:52:00.000+07:00</published><updated>2007-11-14T00:59:10.705+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>''...You can fight with somebody but you still like them..''&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alice Doesn't Live Here Anymore&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5688052063213088371-7921241359393801549?l=setanmartabak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://setanmartabak.blogspot.com/feeds/7921241359393801549/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5688052063213088371&amp;postID=7921241359393801549' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5688052063213088371/posts/default/7921241359393801549'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5688052063213088371/posts/default/7921241359393801549'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://setanmartabak.blogspot.com/2007/11/blog-post.html' title=''/><author><name>evy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04100470962692008262</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5688052063213088371.post-1507245349592691754</id><published>2007-11-01T19:52:00.000+07:00</published><updated>2007-11-01T19:58:51.622+07:00</updated><title type='text'>Capote Wannabe</title><content type='html'>Lebaran kemarin dapet tugas piket liputan ficer yang non ekonomi, setelah setahun lebih gw ga nulis ficer human interest, sempat ragu juga masih bisa nangkep suasananya ga ya? abis kalo di ekonomi kan straight, kadar kepekaannya kurang, kalau liputan human interest mau ga mau harus pasang semua indra buat ngerekam suasana, narasumber, sampai hal kecil pun. apalagi kali ini gw coba beda sama sekali, gw ga nyatet maupun ngerekam wawancara gw dengan narasumber, abis kalo pake alat rekam atau nyatet kadang2 narsum jadi rada sungkan, ini skalian gw coba metodenya capote, he3,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;berhasil? ya paling ngga terekam di 3 tulisan gw ini, dari tiga tulisan dibawah, gw paling suka yang di ancol, enjoy banget wawancarannya, tapi abis itu gw lintang pukang nyatet apa aja yang diomongin sama si narsum, nginget lagi runut dari awal, lumayan ternyata, meski harus banyak latihan, terutama soal 'klik' di kalimat2 yang buat kutipan yang harus dibuat beragam versi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;buat sedikit orang yang baca blog ini, enjoy en kritik yee!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5688052063213088371-1507245349592691754?l=setanmartabak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://setanmartabak.blogspot.com/feeds/1507245349592691754/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5688052063213088371&amp;postID=1507245349592691754' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5688052063213088371/posts/default/1507245349592691754'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5688052063213088371/posts/default/1507245349592691754'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://setanmartabak.blogspot.com/2007/11/capote-wannabe.html' title='Capote Wannabe'/><author><name>evy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04100470962692008262</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5688052063213088371.post-7218213946281934795</id><published>2007-11-01T19:50:00.000+07:00</published><updated>2007-11-01T19:51:30.368+07:00</updated><title type='text'>Evolusi Kamera di Ancol</title><content type='html'>Habis sudah era kamera instan, Polaroid, di Taman Impian Jaya Ancol (TIJA). Tak ada lagi gerakan tangan legendaris yang mengibas-kibas sehelai film setelah ia keluar dari kamera. Tak ada lagi kamera berat yang menggelayut di leher juru foto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masa kejayaan kamera yang ditemukan oleh Edwin Land pada 1947 itu sudah lewat. Terlindas oleh kamera digital bahkan oleh kamera telepon seluler. Jika Anda ke TIJA beberapa bulan belakangan ini, tentengan juru foto disana sudah berubah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang, yang mengganduli leher mereka adalah kamera digital mungil berukuran seperempat kamera polaroid dengan resolusi 6 - 7 Mega Pixel. Lebih ringan, lebih praktis. Lho cetak filmnya bagaimana? Jangan kuatir, juru foto dibekali dengan printer mini yang dijalankan dengan aki. Mudah, ringkas, dan mutu gambarnya jauh lebih baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Ganti sejak Maret lalu,'' jawab Aminullah (65 tahun), juru foto paling senior di TIJA, ketika ditanya Republika kapan pergantian kamera dan tetek bengeknya itu terjadi. Sebab, awal tahun ini masih terlihat kamera Polaroid berkeliaran di sepanjang garis pantai TIJA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantas, diapakan kamera Polaroid itu? ''Ya masih ada, di rumah saja, buat kenang-kenangan,'' kata Amin sembari terkekeh. Ia ceritakan, pergantian besar-besaran perangkat kamera dilakukan Maret lalu atas usulan paguyuban juru foto Ancol. Mereka mendapat sponsor dari produsen kamera digital.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu set kamera digital beresolusi 6 MP ditambah printer foto, kertas foto 50 lembar, aki kecil untuk menjalankan printer, serta tas penyimpan printer ditebus seharga Rp 2,6 juta. Makin tinggi resolusi kamera digital, makin mahal harga per paketnya. Kalau yang 7 MP plus paket lengkap dihargai Rp 2,8 juta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untungnya, juru foto tak harus membayar kontan. Mereka bisa nyicil sesuka hati. Maklum saja, bisnis jepret menjepret di TIJA adalah bisnis yang tak pasti. Ada kalanya satu hari mereka menjual 50 lembar foto yang perlembarnya dihargai Rp 20 ribu. Tapi tak jarang juga tak ada selembar foto pun terjual.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Kalau ramai saya bisa bayar cicilan sampai Rp 130 ribu per hari,'' ungkap Amin dengan logat Sumbarnya yang kentara. Uang itu ia setorkan ke paguyuban. Karena termasuk yang rajin menyicil, dalam waktu tiga bulan kamera beserta printernya sudah resmi milik Amin. ''Saya termasuk cepat, sekarang yang muda-muda masih ada yang belum lunas,'' ujar pemilik tubuh kerempeng ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana tanggapan masyarakat atas pergantian kamera? ''Senang Pak! Kalau Polaroid mereka mengeluh fotonya kekecilan atau kalau gayanya jelek tak bisa diganti. Kalau digital, mereka puas dengan hasilnya, terang. Soal gaya, foto tak dicetak sebelum disetujui mereka,'' tandas Edy, juru foto lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Riwayat juru foto foto di Ancol tak bisa lepas dari Polaroid. Sebagai salah satu juru foto tertua di Ancol, Amin menggambarkan, pada 1976, perwakilan Polaroid di Jakarta mendatangi mereka dan menawarkan produknya. Seluruh kebutuhan foto diberikan dengan harga miring.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat itu, masyarakat yang datang ke Ancol juga belum seramai sekarang. Juru foto masih bisa duduk-duduk santai di belakang Hotel Horison lama, kini di daerah Pantai Festival.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Mereka justru yang memanggil kami untuk memfoto. Biasanya mereka memanggil dari mobil, baru difoto di pantai,'' tutur Amin, mengenang masa lalunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebesaran Polaroid sebagai kamera instant di Ancol tak tergoyahkan, meski pada era 1980-an dan berlanjut ke 1990-an masyarakat diserbu oleh kamera poket. Polaroid baru terdesak ketika teknologi beralih cepat ke kamera digital di tahun 2000-an. Apalagi sekarang harga kamera digital ada yang dibawah Rp 1 juta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Polaroid makin terpojok ketika produsen telepon seluler mengintegrasikan fungsi kamera beresolusi tinggi (1,3 sampai 3,2 MP) ke dalam telepon mereka. Omset foto Polaroid di TIJA pun jeblok. Amin maupun Edy mengakui, sebelum pergantian kamera Maret lalu, tiap tahun pendapatan mereka makin tergerus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu sebabnya juga adalah biaya foto Polaroid yang memang mahal. Tiap satu roll film Polaroid harus ditebus seharga Rp 95 ribu. Itu pun cuma berisi 10 lembar foto. Berarti harga pokok tiap foto Rp 9.500. Sementara dua tahun terakhir harga foto di Ancol masih berkisar Rp 15 ribu sampai Rp 20 ribu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan kamera digital, beban biaya foto itu lenyap. Juru foto hanya mengeluarkan biaya untuk kertas foto yang harganya bisa sepertiga dari harga foto Polaroid, serta biaya tinta printer yang juga kian murah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebaran jelas membawa berkah ke juru foto di Ancol. Dalam musim libur itu, tiap hari mereka mendulang rezeki. Meski menolak merata-ratakan pendapatan per hari saat liburan ini, Amin dan Edy mengaku menjual lebih dari 20 lembar foto. Maksimal 50 lembar foto, itu berarti Rp 1 juta mereka kantongi atau minimal Rp 400 ribu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah dapat berapa hari ini (Ahad 14/10) sore? ''Hari ini terlalu ramai, padat, jadi orang tidak berfikir untuk foto-foto,'' tandas Edy. Hari pertama lebaran menurutnya yang paling ideal. Pengunjung tak terlalu padat sehingga mereka masih bisa memanfaatkan juru foto untuk mengabadikan kenangan di Ancol.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari pertama lebaran membuat pria yang dua tahun lalu berjualan pakaian lantas bangkrut di Tanah Abang ini membawa Rp 1 juta lebih ke rumahnya yang terletak di seberang Ancol, di dekat rel kereta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari kedua, penghasilannya sedikit merosot. ''Untung tadi ada rombongan anak sekolah dari Ujung Pandang yang meminta di foto,'' ungkapnya. Ketika ditemui Ahad sore, Edy baru mencetak sekitar 30 lembar foto. Ia bertekad sampai tengah malam masih akan bekerja di pantai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai juru foto paling senior diantara 20 juru foto di pinggiran pantai Ancol, Amin juga menikmati rezeki yang hampir sama dengan kawan-kawannya. Mengenakan kemeja putih, celana hitam, dan rompi biru (khas juru foto Ancol), kakek 14 cucu ini menyodorkan contoh-contoh foto sembari berseru, ''Foto..foto..foto pak..foto mba'..,'' ke lalu lalang pengunjung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia masih semangat menyeret tubuh ringkihnya di sekitar Pantai Festival. Ahad itu, Amin sudah menjual lebih dari 30 lembar foto. Asal muasal Amin bergelut di Ancol adalah keterlibatannya di percetakan foto pada 1975. Pria asal Sumbar ini (kini mayoritas juru foto di Ancol berasal dari Sumbar), tergiur rezeki kawannya yang saat itu menjadi tukang foto di Kebun Binatang Ragunan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Lebih banyak untung ketimbang modalnya,'' begitu alasan Amin melepas pekerjaan cetak fotonya untuk beralih ke juru foto. Tiga bulan pertama Amin bekerja mengitari Kebun Binatang Ragunan. Atas bujukan kawannya di Ancol yang mengatakan kalau saat itu Ancol masih sepi dari juru foto, maka Amin banting stir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Padahal saat itu saya tak tahu dimana Ancol itu,'' celetuknya. Modal nekat, Amin muda hanya tahu ia harus naik bus dari Terminal Lapangan Banteng dan turun di Binaria. Akhirnya, terdamparlah pria yang sudah enam kali menikah itu sampai sekarang di Ancol.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia mengaku bakal menekuni pekerjaan ini sampai sudah tak kuat lagi. ''Ini (juru foto) adalah hobi dan keharusan saya. Hobi karena saya senang memfoto, keharusan karena saya butuh uang darinya,''.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mau sampai jam berapa di pantai? Amin mengaku hanya sanggup sampai petang di Ancol. Ia tak lagi sanggup menyusuri seluruh pantai Ancol, seperti yang ia kerap lakukan dulu. Ia hanya berjalan mondar-mandir di sekitar Pantai Festival.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi yang paling menyedihkannya adalah kondisi matanya. Sebagai salah satu faktor penting dalam pekerjaan, mata Amin diakuinya sudah tak kuat. ''Mata saya sudah rabun kalau petang,'' katanya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5688052063213088371-7218213946281934795?l=setanmartabak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://setanmartabak.blogspot.com/feeds/7218213946281934795/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5688052063213088371&amp;postID=7218213946281934795' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5688052063213088371/posts/default/7218213946281934795'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5688052063213088371/posts/default/7218213946281934795'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://setanmartabak.blogspot.com/2007/11/evolusi-kamera-di-ancol.html' title='Evolusi Kamera di Ancol'/><author><name>evy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04100470962692008262</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5688052063213088371.post-6713078069730642369</id><published>2007-11-01T19:47:00.000+07:00</published><updated>2007-11-01T19:49:42.523+07:00</updated><title type='text'>Kembali Fitri di Grogol</title><content type='html'>Sebut saja namanya Fulan. Mengenakan celana pendek cokelat dipadu dengan kemeja hitam dengan garis-garis merah, pria berkumis tipis paruh baya itu tampak asyik mendengarkan lawan bicaranya, seorang perempuan berkerudung kuning pucat. Keduanya tampak santai mengobrol ditemani beberapa kawan di selasar lorong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak jarang si perempuan memegang bahu si Fulan yang kerap mengangguk-angguk. Tak lama kemudian, si perempuan pamit pulang. Tangan si Fulan pun digenggam erat. Seolah tak ingin berpisah, si Fulan bangkit dan mendekatkan wajahnya ke wajah si perempuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mulutnya dimonyongkan. Satu kecupan penuh makna mendarat di dahi si perempuan. Mata kedua insan itu saling menatap penuh arti yang hanya mereka bisa mengerti. Si Fulan tampak girang bukan kepayang. Senyum lebar mengembang di wajahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang perempuan pun berdiri. Saatnya berpisah. Si perempuan memapah si Fulan ke sebuah ruangan. Keduanya berpisah dibatasi terali besi warna abu-abu. Si perempuan balik badan lantas berjalan cepat menyusuri koridor lantai keramik. Si Fulan tak lagi terlihat batang hidungnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua puluh menit sebelumnya, si perempuan sempat bersitegang dengan penjaga gerbang. ''Jam besuk sudah habis Bu,'' tegas si penjaga. Ada dua jam besuk disini, pertama antara pukul 11.00 WIB sampai 12.00 WIB, kedua di petang hari antara 17.00 WIB sampai 18.00 WIB.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Saya tahu Pak, tapi ini hanya sebentar saja, tak lama kok, kan sudah ajukan cuti,'' balas si perempuan dengan memelas. ''Betul sudah ajukan cuti?'' tanya si penjaga menyelidik. ''Sudah Pak!'' timpal si perempuan dengan tegas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Saya cek dulu ya,''. Akhirnya si penjaga menyerah. Si perempuan diperbolehkan masuk sejenak menjenguk si Fulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari pertama Idul Fitri di Rumah Sakit Jiwa Dr Soeharto Heerdjan, atau yang kita kenal dengan sebutan RSJ Grogol, dipenuhi pertemuan seperti diatas. Pertemuan antara keluarga dengan anggota keluarganya yang dirawat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua pihak kangen-kangenan. Anak-anak bertemu ayah atau ibunya yang dirawat, istri bertemu suaminya, suami bertemu istrinya, atau saudara menjenguk saudaranya.&lt;br /&gt;''Pasien mengerti kalau sekarang Idul Fitri dan banyak dari mereka yang minta cuti, atau keluarganya yang minta cuti'' cetus Dokter Handy Susilo, saat ditemui Republika akhir pekan lalu di ruang Unit Gawat Darurat (UGD) RSJ.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cuti adalah waktu bagi pasien yang sudah relatif tenang dan bisa berkomunikasi dengan baik (para dokter dan suster menyebutnya pasien kelas rehabilitasi) untuk pulang ke keluarganya sejenak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangka waktu kepulangannya maksimal tiga hari. Namun kondisi pasien diawasi dan dipantau terus menerus, termasuk minum obat. Tapi ada juga pasien yang sudah cuti dibawa kembali ke RSJ.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyebabnya, pasien mengalami perubahan suasana yang sangat drastis. Maklum, di RSJ suasananya sangat tenang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Dikondisikan tenang,'' kata salah seorang staf RSJ, Tarwana yang sudah bekerja selama 25 tahun ditempat itu. Sementara suasana di rumah hiruk pikuk karena lebaran. Pasien pun terkejut atas perubahan tiba-tiba ini, yang bisa berakibat ke proses penyembuhannya. Jadilah ia diinapkan kembali ke RSJ.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekedar menggambarkan, kompleks bangunan di RSJ dibagi dua bagian. Pertama bagian kompleks rawat inap yang dijaga ketat, dengan Closed Circuit Television (CCTV) dan pintu gerbang berlapis. Pasien dibedakan berdasar jenis kelaminnya. Bangsal sayap utara tempat pasien perempuan, yang selatan untuk laki-laki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kompleks bangunan kedua, adalah bangunan perkantoran, termasuk UGD. Tiap bangunan dihubungkan dengan koridor-koridor tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasien tidak diperbolehkan keluar tanpa pengawasan ketat. Kalaupun boleh, itu hanya sebatas pintu gerbang RSJ, yang tepat ditepi jalan raya yang ramai. Kalau dianggap layak, pasien bisa shalat Idul Fitri di halaman RSJ, berbaur dengan warga sekitar. Sayangnya pada 1428 Hijriah ini tidak satupun pasien yang shalat Ied.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kangen keluarga? Pasti. Meski mendapat embel-embel pasien, mereka tetap manusia yang memiliki perasaan. Yang membedakannya hanyalah mereka mengidap penyakit, yaitu gangguan jiwa yang memengaruhi pola pikir dan tindakannya. Di luar itu, mereka tidak terlepas seluruhnya dari realitas kehidupan, termasuk mengartikan Idul Fitri sebagai saat berkumpul bersama keluarga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kondisi perasaan seperti ini sangat tergantung dari kondisi penyembuhan si pasien. RSJ membagi kondisi kesehatan itu kedalam tiga ruang. Ruang pertama adalah ruang gaduh gelisah. Ruang ini diperuntukkan bagi pasien yang baru masuk. Ia harus melewati 12 hari masa pengobatan dan terapi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ruang selanjutnya adalah intermediate. Di ruang ini, pasien yang sudah menunjukkan perbaikan kondisi kejiwaan dari gaduh gelisah, masih menjalani terapi dan pengobatan intensif sampai 20 hari ke depan. Ruang terakhir adalah ruang rehabilitasi. Lama pengobatan di ruang ini mencapai 30 hari. Total seorang pasien dirawat normal mencapai 60 hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasien kategori rehabilitasi-lah yang umumnya kembali mengerti dan merasakan Idul Fitri serta rasa kangen bertemu keluarga di dalam hatinya. Mereka seperti si Fulan yang diceritakan diatas (RSJ mengenakan aturan yang ketat untuk peliputan, tidak boleh ada nama pasien dicantumkan dengan alasan hukum dan untuk bercakap-cakap sangat dibatasi dan harus dikawal oleh dokter psikiater agar tidak menganggu pasien).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa saja yang pasien lakukan saat Idul Fitri? Rutinitas mereka tidak relatif tidak berubah. ''Kecuali dapat tambahan makanan di pagi hari,'' kata Tarwana. Pasien harus disiplin dan berkutat dengan tiga jadwal untuk penyembuhannya : pengobatan, terapi, istirahat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini jadwal rutinitas mereka : pasien harus bangun pada pukul 06.30 WIB untuk mandi dan sarapan serta terapi obat dan aktivitas. Terapi akan dibedakan untuk tiap pasien tergantung kondisinya. Ada terapi musik, olah raga, atau sekedar membaca di perpustakaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terapi berlangsung hingga siang hari, pada 12.00 WIB, mereka makan siang. Setelah itu masih dilanjutkan dengan terapi, baru istirahat pukul 15.00 WIB. Saat ini mereka bisa tidur di bangsal (ada 10 bangsal di RSJ, tiap bangsal berisi sedikitnya 10 tempat tidur) atau menonton televisi dan berinteraksi dengan sesamanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makan malam disediakan pukul 17.30 WIB sampai 19.00 WIB setelah sebelumnya mereka membersihkan diri. Setelah itu, yang dilakukan kembali istirahat. Pasien harus sudah ditempat tidur pada pukul 20.00 WIB atau maksimal 21.00 WIB untuk kembali bangun keesokan harinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat jadwal itu, terasa bahwa waktu terapi dan istirahat sangatlah banyak. ''Proses kesembuhan butuh ketenangan emosional pasien dan lingkungannya. Makanya di RSJ ini situasinya dikondisikan tenang,'' cetus dokter Handy lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana sikap keluarga menghadapi anggotanya yang sakit jiwa? ''Ada yang sudah menerima kalau ayah atau ibu mereka sakit jiwa, dan tetap menjenguk. Ada yang tidak sempat dijenguk, atau ada yang memang sampai saat ini belum menerima kalau keluarganya sakit jiwa sehingga mereka tidak menjenguk sama sekali,'' kata Tarwana, yang kerap mengamati perilaku hubungan keluarga dan pasien.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akibatnya, ada pasien yang seumur hidupnya dititipkan di RSJ. Saat ini aturan Depkes tidak memperbolehkan demikian. Kini, bila sudah dianggap maksimal diobati, pasien akan dipindahkan ke Panti Laras yang ada di Cipayung atau Cengkareng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba, ditengah percakapan, seorang pasien perempuan mendekat. ''Om..om bagi duit dong om. Seribu aja om..,'' katanya kocak dari balik pagar besi. ''Ayo dong om..seribu aja om..,'' desaknya lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami tertegun sejenak sebelum akhirnya tersenyum. ''Mau buat apaan seribu?'' sergah Karli, koordinator pengamanan di RSJ, yang turut menemani kunjungan Republika. Pertanyaan itu tak ia jawab. Dengan lirikan penuh harap, perempuan muda berambut pendek dengan kulit putih bersih ini terus meminta uang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya kami meninggalkan dia. Tapi selagi kami berjalan menjauh ia mengomel,''Huuuuw dasar pelit..pelit..pelit...pelit sekali...pelit sekali...pelit sekali,''.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;RSJ memiliki sepasukan orang berhati mulia dengan tekad menyembuhkan pasien. Jumlah psikiaternya ada 11 orang, dokter umumnya ada 25 orang, ditambah sekitar 120-an suster. Operasional mereka dibagi tiga shift, pagi, siang, malam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa suka-dukanya bekerja di RSJ? Sebelum menjawab pertanyaan ini, Tarwana dan Karli saling memandang. ''Kami yang bekerja disini itu murni sosial, dengan hati,'' kata Karli pelan. Pria timor berkulit hitam dengan badan tegap dan rambut kriting serta selalu membawa radio komunikasi itu menilai apa yang ia kerjakan adalah pengabdian bagi sesamanya. ''Murni jiwa sosial,'' ulangnya lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang disebalkan, lanjut dia, kalau ada pasien yang memicu keributan atau bahkan mencoba melarikan diri. ''Saya repot harus mengejar mereka, bahkan ada yang pernah mencoba lari dengan memanjat atap rumah sakit,'' ujarnya sembari tertawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi Tarwana, bekerja di RSJ adalah pengabdian untuk manusia yang tidak mendapat tempat di masyarakat. ''Tempat ini menjadi tempat terakhir bagi mereka yang tidak diterima keluarga, masyarakat, bahkan rumah sakit lain,'' tutur pria asal Solo ini lirih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sialnya, stigma RSJ justru menjadi negative. RSJ dicitrakan sempit menjadi sebuah tempat yang menyeramkan dan diisi oleh orang-orang berperilaku aneh dan membahayakan. ''Stigma itu harus diluruskan,'' tegas Tarwananya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahwasanya RSJ hanya tempat singgah sementara dari seseorang yang mengalami penyakit yang harus disembuhkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sudut pandang Idul Fitri, apa yang dilakukan Tarwana, Karli, dokter, psikiater, suster, satpam, dan karyawan lain di RSJ adalah berusaha mengantarkan seseorang kembali ke fitrahnya, manusia yang sehat. Berlainan dengan masyarakat yang kerap hanya berslogan Idul Fitri, apa yang dikerjakan di RSJ ini sudah jauh melampauinya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5688052063213088371-6713078069730642369?l=setanmartabak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://setanmartabak.blogspot.com/feeds/6713078069730642369/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5688052063213088371&amp;postID=6713078069730642369' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5688052063213088371/posts/default/6713078069730642369'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5688052063213088371/posts/default/6713078069730642369'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://setanmartabak.blogspot.com/2007/11/kembali-fitri-di-grogol.html' title='Kembali Fitri di Grogol'/><author><name>evy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04100470962692008262</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5688052063213088371.post-4166280457506069179</id><published>2007-11-01T19:42:00.000+07:00</published><updated>2007-11-01T19:47:07.775+07:00</updated><title type='text'>Kenangan Mudik dengan Perahu</title><content type='html'>Ada kebiasaan unik yang dilakukan para nelayan di kawasan Muara Karang, Pluit, Jakarta Utara, untuk menyambut lebaran di masa lalu. Menjelang lebaran, mereka biasanya mudik menggunakan perahu yang biasa dipakai untuk melaut. Selama 12 jam mereka mengarungi pantai utara Jawa, sebelum tiba di tempat kelahirannya, yang rata-rata berasal dari Indramayu, Jawa Barat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tarman (33 tahun), nelayan kerang asal Indramayu mengisahkan kenangannya mudik dengan perahu pada lebaran-lebaran yang lalu. ''Satu perahu isinya bisa sampai 15-20 orang, ditambah berbagai macam barang,'' kata pria gempal ini dengan logat Indramayu yang kental . Para nelayan ini sehari-hari tinggal di wilayah bernama Blok Empang, Muara Karang. Blok yang dihuni sedikitnya 2.000 nelayan beserta keluarga itu terbagi menjadi empat rukun tetangga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Blok ini terbagi jadi tiga wilayah, berdasar mata pencahariannya. Wilayah pertama adalah khusus nelayan ikan. Posisi permukiman mereka terletak menjorok, di ujung teluk kecil, tepi pantai Muara Karang. Setelah itu baru nelayan kepiting rajungan. Dan yang terluar dari wilayah itu, mendekati bibir pantai yang dipenuhi sampah kerang dengan bau anyir menyengat, adalah wilayah nelayan kerang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlihat jelas, masalah kebersihan lingkungan bukan prioritas nelayan kerang, maupun pemerintah setempat. Kondisi permukimannya kacau-balau. Rumah bisa didirikan di mana saja dengan potongan-potongan papan beratapkan seng. Bentuknya tak jarang doyong, dengan bale-bale sederhana di depannya. Tak ada saluran air. Sampah, terutama dari pecahan kerang bercampur pasir dan plastik memenuhi tiap jengkal tanah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Udaranya pun campur baur antara asin air laut, amis kerang maupun ikan, serta sampah. Untuk mandi maupun kebutuhan lainnya, disediakan beberapa bilik Mandi Cuci Kakus (MCK). Tak semua rumah memiliki keistimewaan sebuah kamar mandi sendiri. Di ujung gang Blok Empang, berdiri sebuah mushala sederhana dari semen yang bisa menampung sekitar 70-an orang. Blok Empang pun lengang dari keriaan Lebaran. Suasana yang terasa memang hening namun juga 'panas'. Tatapan wajah satu dua penghuninya terkesan &lt;i&gt;cuek&lt;i&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tarman menggambarkan, saat mudik berperahu, belasan orang dan barang bersesakkan berbagi ruang dalam perahu sepanjang tujuh meter dan lebar dua meter. Barang diletakkan di tengah, sementara penumpang berdesakkan di pinggir perahu. Perahu pun kerap dihias dengan bendera warna-warni atau bendera parpol tertentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak takut ombak tinggi? Tarman, yang duduk di atas hamparan kulit kerang berwarna putih, menggeleng. ''Ombak pada bulan-bulan ini tidak tinggi, biasa saja." Mabuk laut? Jelas tak ada, karena darah nelayan mereka, anak kecil pun dijamin tak muntah karena goyangan ombak. ''Biasanya perahu berangkat pagi hari, sekitar pukul 06.00 WIB atau tengah hari,'' tutur dia mengungkapkan. Perlahan-lahan, menyusuri pantai utara, perahu bermesin Dong Feng pabrikan Cina itu melaju ke Indramayu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, tahun ini cuma satu perahu yang mudik ke Indramayu. ''Sebabnya ya biaya Pak! Apalagi memang?'' ujar Sulam, asal Sumenep, Madura yang berdagang solar dan kelontong di kampung tersebut. Sulam tak pernah mudik sejak ia membangun bisnisnya di kawasan kumuh itu dua tahun lalu. Tapi lumayan, ia mengklaim, dengan hanya menjual solar, saban hari ia bisa meraup minimal Rp 200 ribu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan harga BBM saat ini, mudik dengan perahu memang teramat mahal. Tarman menjelaskan, untuk berangkat saja perahu membutuhkan 60 liter solar. Harga solar per liter resminya di SPBU mencapai Rp 4.300. Sulam menjualnya ke nelayan seharga Rp 4.800. Itu berarti butuh dana sedikitnya Rp 2,8 juta ke Indramayu atau Rp 5,6 juta untuk pulang pergi.&lt;br /&gt;Kalau dibagi rata 15 nelayan yang ikut mudik, itu sama saja tiap kepala merogoh koceknya Rp 370 ribu. Bandingkan dengan naik bis atau motor. ''Berat Pak kalau yang mudik tidak punya perahu. Makanya yang mudik dengan perahu cuma pemiliknya,'' ungkap Sulam. Nelayan lainnya meninggalkan kebiasaan itu dan beralih naik bus, motor, atau menyewa truk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau naik bus dari Terminal Muara Karang, yang terletak sekitar satu kilometer dari Blok Empang cuma makan biaya Rp 50 ribu per orang, atau Rp 100 ribu pulang pergi Jakarta-Indramayu. Naik truk muatan yang ditutup terpal lebih murah lagi, cuma bayar Rp 15 ribu per orang. Oleh sebab itu, mudik dengan perahu mencapai jayanya ketika harga BBM masih murah, itu berarti sebelum 2005, ketika pemerintah tega menaikkan harga BBM dua kali dalam setahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Dua tahun lalu, yang mudik naik perahu masih lumayan banyak,'' ujar Tarman lagi. Peralihan moda transportasi membuat pesisir Blok Empang rapat dipenuhi oleh perahu yang ditinggal nelayan atau pemiliknya. Dihempas ombak kecil, perahu-perahu kusam yang tak berpenghuni itu bergoyang pelan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini, dengan solar yang mahal, nelayan harus benar-benar mengetatkan ikat pinggang mereka. Tak cuma untuk mudik, tapi juga makan sehari-hari. Tak jarang untuk mengakalinya, motor perahu tak semua diisi solar, melainkan minyak tanah bersubsidi. Beban biaya memang bisa ditekan, tapi aktivitas oplosan ini lama kelamaan menggerogoti mesin perahu-perahu mereka.&lt;br /&gt;Hampir 80 persen penghuni Blok Empang mudik meninggalkan rumah dan perahu mereka. Di satu sisi, kondisi ini menjadi beban bagi Tarman, Sulam, dan sejumlah warga lainnya yang tak mudik. ''Kita tetap harus berjaga-jaga jangan sampai ada maling,'' kata Tarman. Saat takbir berkumandang di malam lebaran, mereka pun menghabiskan waktunya untuk keliling mengawasi rumah-rumah yang ditinggal para penguninya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;/i&gt;&lt;i&gt;&lt;i&gt;&lt;/i&gt;&lt;/i&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5688052063213088371-4166280457506069179?l=setanmartabak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://setanmartabak.blogspot.com/feeds/4166280457506069179/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5688052063213088371&amp;postID=4166280457506069179' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5688052063213088371/posts/default/4166280457506069179'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5688052063213088371/posts/default/4166280457506069179'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://setanmartabak.blogspot.com/2007/11/kenangan-mudik-dengan-perahu.html' title='Kenangan Mudik dengan Perahu'/><author><name>evy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04100470962692008262</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5688052063213088371.post-6071762402627525787</id><published>2007-09-22T00:53:00.000+07:00</published><updated>2007-09-22T01:03:43.597+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>...if someone pray for patience, u think God give them patience? Or its better to give them the opportunity to be patience...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;...if someone ask for courage, u think God give him courage? Or just give him the opportunity to be courageous...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;...if someone pray for a girl to love him, u think God just give him the love? Or its better to give both of them the opportunity to find love?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5688052063213088371-6071762402627525787?l=setanmartabak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://setanmartabak.blogspot.com/feeds/6071762402627525787/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5688052063213088371&amp;postID=6071762402627525787' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5688052063213088371/posts/default/6071762402627525787'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5688052063213088371/posts/default/6071762402627525787'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://setanmartabak.blogspot.com/2007/09/blog-post.html' title=''/><author><name>evy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04100470962692008262</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5688052063213088371.post-1382667565882041510</id><published>2007-08-09T19:04:00.000+07:00</published><updated>2007-08-09T19:26:25.760+07:00</updated><title type='text'>Koil is Back</title><content type='html'>Koil akhirnya rilis album baru...hufff...penantian begitu lama,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ngubek-ngubek di toko kaset, tanya kiri tanya kanan, sampe dateng ke markasnya, udah dari kapan taun dilakukan, albumnya baru rilis sekarang,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;nyesel banget pas sadar ternyata otong cs sempat manggung di kemang en gw baru tau keesokan harinya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tetap berharap Koil bisa muncul di soundrenaline terlawas, tapi toh panitia tidak merestui dan lebih memilih musik cupu (kecuali Pas en Netral) yang disajikan kepada puluhan ribu penikmat musik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sempat berharap Koil naik panggung di PRJ seperti dua tahun lalu, gw masih ketawa kalau inget pengalaman itu, Koil manggung bawa penari latar yang seksi abis en pake kostum minim spandex hitam dan goyang striptease, kontan beberapa keluarga yang sebelumnya (entah mereka mudeng ato ngga dengan musiknya Koil - semoga sih mudeng ya dengan lirik dan musiknya yang jenius) nonton Koil langsung melotot!! hua3 gw masih inget ekspresi seorang bapak yang lagi ngegendong anaknya begitu ngeliat Otong dikerubutin penari-penari, abis itu dia balik badan dan bubar jalan, meski akhirnya Otong ngaku,''Jangan dianggap serius, ini cuma bagian dari pertunjukkan,'' katanya seusai konser. tapi dia ga liat betapa ngilernya anak2 sepantaran SMP di bawah panggung ketika penari-penari itu mendekati mereka! alhasil, Koil ga muncul lagi di PRJ  hua3&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;album yang baru masih dahsyat buat gw pribadi, liriknya masih jenius (heran ya, kenapa ga ada pemusik lain yang bisa bikin lirik seperti ini??), nuansa musiknya masih gelap,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;meski dibagiin gratis, kalau ada toko yang jual CD atau kasetnya gw yakin masih akan diburu tentaranya,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;coba dengerin Koil di kamar, di walkman atau MP3, sendirian, cuma nyalain satu lampu meja yang remang-remang,  duduk rileks di sofa, merem, he3 bisa kalah semua narkoba, percaya deh! atau dia bisa dibandingin sama pengalaman paling spiritual yang pernah dirasakan, bedanya, dengan Koil, pengalaman itu bisa selalu datang dengan sederhana dan tenang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;thanx guys buat lirik dan musiknya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;''tak ada gunanya kita mencari mengejar mimpi&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;kau berpacu memburu langit yang sangat tinggi&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;dan apa yang kita jalani dan hadapi&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;ketika semua membuatmu buta mengosongkan jiwa&lt;br /&gt;dan akhir yang bahagia&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;melayani waktu melewati rinduku&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;menyanjung harapan menghentikan perang&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;doakanlah yang telah tiada&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;semua ini kulakukan selama waktu berlalu''&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;“Aku tak butuh pengertian&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Aku bukan bagian dari sejarah yang kau tulis, kau bingkiskan untuk anak cucu&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Aku tak butuh penjelasan&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Aku bukan bagian dari kebanggan yang membuat kita tak berpenghasilan&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Nasionalisme adalah tempat tinggal yang kita bela&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Nasionalisme untuk negara ini adalah pertanyaan&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Nasionalisme bentuk negara ini menuju kehancuran&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Nasionalisme menuntun bangsa kami menuju kehancuran”&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;''mengatasi keputusasaan&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;menyakiti diriku sendiri&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;aku memacu seluruh waktu memburu jantungmu&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;dan semua yang kujalani dan harapkan ternyata membuat kecewa&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;pil pahit kegelapan akan mematikan rasa jiwa raga&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;luka luka luka luka&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;aku lupa luka luka luka luka&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;menangis meratapi kebodohan memahami dan tinggalkan mimpi&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;aku melantun kan&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;lagu pedih menutup hatiku&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;dan semua yang kuberikan dan serahkan dan pinjamkan takkan kuminta sebening kehampaan doa menghambarkan luka ka ka ka ka''&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5688052063213088371-1382667565882041510?l=setanmartabak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://setanmartabak.blogspot.com/feeds/1382667565882041510/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5688052063213088371&amp;postID=1382667565882041510' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5688052063213088371/posts/default/1382667565882041510'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5688052063213088371/posts/default/1382667565882041510'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://setanmartabak.blogspot.com/2007/08/koil-is-back.html' title='Koil is Back'/><author><name>evy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04100470962692008262</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5688052063213088371.post-478999545369078603</id><published>2007-08-09T18:52:00.000+07:00</published><updated>2007-08-09T18:53:26.496+07:00</updated><title type='text'>Angkut, KB, dan Melepas Isolasi</title><content type='html'>Ada kebiasaan menarik yang dilakukan tiap karyawan Inalum bila mereka hendak keluar wilayah Paritohan. Bila ditemui warga sekitar yang menunggu mobil di pinggir jalan, maka karyawan Inalum wajib mengangkutnya. Bila tidak, sanksi perusahaan siap menimpa sang karyawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lho kok bisa? Wajar saja, di daerah Paritohan memang tak punya taksi alias angkot untuk membawa warga sekitar keluar wilayah. Sarana transportasi massal hanyalah bus berukuran sedang milik Inalum. Karena jumlahnya terbatas, maka bus itu jarang sekali lewat. Paling pagi bus gratis itu berangkat sebelum matahari terbit, dan menjelang sore sudah tidak lagi mengangambil penumpang. Jalanan Paritohan sangat lenggang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Kalau tidak membawa rombongan ini, mobil kami harus berhenti dan mengangkut mereka,'' tutur S Sijabat, senior Manajer Public Relation PT Inalum, sembari menunjuk serombongan ibu berpakaian batik tenun berwarna cerah yang sedang menunggu di pinggir jalan. Mereka membawa banyak bawaan. Tampaknya ingin ke suatu pesta adat, entah dimana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak jauh dari tempat itu, berdiri Desa Pintu Pohan Meranti. Desa ini tepat berada dibalik kemegahan Kompleks Perumahan Stasiun Pembangkit Listrik Tenaga Air Siguragura, Paritohan,Kabupaten Toba Samosir, Sumut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dibilang megah karena sarana dan prasarana di kompleks itu sangat bertolak belakang dengan desanya. Desa Meranti adalah satu ruas jalan berdebu yang kering dengan perumahan penduduk berjajar tak rapi di sepanjang jalannya. Rata-rata rumah di desa yang dihuni oleh sekitar 200 kepala keluarga itu terbuat dari kayu beratapkan seng. Tiap rumah memiliki antena parabola yang lucunya, lebih jernih menangkap siaran TV3 asal Malaysia ketimbang siaran televisi nasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara kompleks perumahan karyawan Inalum adalah rumah mungil tertata rapi di pinggi jalan yang berbukit dengan rumput hijau yang dicukur pendek. Pohon rindang dengan semak yang rimbun. Jalanan dengan marka jalan di tiap simpangan bertuliskan 'Stop'.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada lagi yang unik soal desa ini, yaitu banyaknya anak kecil. Secara iseng kami bertanya ke Pak Simanjuntak, yang juga menyertai kami plesiran. ''Kok banyak anak kecil ya Pak? Wah ini pasti banyak waktu luang penduduknya,'' kataku sambil nyengir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata jawaban Pak Simanjuntak senada denganku.  Saking banyaknya waktu luang mereka, rata-rata anak dalam satu keluarga bisa mencapai diatas tiga orang. Oleh sebab itu, di desa setempat, pemerintah menggerakkan program KB untuk menekan jumlah pertumbuhan. ''Saya salah satu penyuluh KB-nya,'' celetuk Pak Simandjuntak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untungnya, Pak Simandjuntak ini tidak tertular kebiasaan setempat. Meski tinggal di kompleks perumahan yang memang lenggang, toh anaknya hanya semata wayang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak begitu jauh dari desa tersebut, tepat di depan sekumpulan menara listrik yang berfungsi sebagai medan saklar pembangkit listrik Siguragura, sebuah jalan selebar sekita tiga meter baru saja selesai dibangun Inalum. Jalan itu mengarah ke puncak bukit dibalik stasiun pembangkit listrik. Tempat Desa Pintu Pohan Dorok berada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jalan yang dibangun dengan biaya Rp 500 juta tapi hanya sepanjang tiga kilometer itu adalah satu-satunya jalan yang bisa dilalui kendaraan bermotor penduduk desa yang ternyata belum dialiri listrik itu. Diharapkan, setelah jalan tembus yang meliuk-liuk sampai ke puncak bukit tuntas, yaitu tahun depan, Inalum bisa mengaliri listrik pertama kalinya ke sana.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5688052063213088371-478999545369078603?l=setanmartabak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://setanmartabak.blogspot.com/feeds/478999545369078603/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5688052063213088371&amp;postID=478999545369078603' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5688052063213088371/posts/default/478999545369078603'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5688052063213088371/posts/default/478999545369078603'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://setanmartabak.blogspot.com/2007/08/angkut-kb-dan-melepas-isolasi.html' title='Angkut, KB, dan Melepas Isolasi'/><author><name>evy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04100470962692008262</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5688052063213088371.post-4745976963416518655</id><published>2007-08-09T18:41:00.000+07:00</published><updated>2007-08-09T18:48:00.423+07:00</updated><title type='text'>Wisata PLTA</title><content type='html'>Mobil Kia Pregio keluaran 2006 berwarna perak berlogo PT Indonesia Asahan Alumnium  (Inalum) di pintu depannya, melesat dengan kecepatan 80 kilometer per jam. Diatasnya,  langit pagi berwarna biru tertutup awan. Udara cukup sejuk sehingga pendingin udara tak digunakan.  Minibus itu meliuk-liuk dan naik turun di aspal yang mulus tanpa lobang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebentar-sebentar mobil oleng ke kanan, sejurus kemudian banting kemudi ke arah kiri. Terus begitu berulang kali. Di sisi jalan, jurang berwarna hijau dipenuhi pepohonan, siap menyambut bila supir lengah. Di sisi lainnya, pahatan tebing berwarna cokelat dan abu-abu bercampur dengan dahan dan ranting yang menjuntai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Raungan mesin diesel mobil terdengar sampai di kabin penumpang. Tempat kami, enam wartawan media nasional, tengah terkocok-kocok perutnya akibat liukan mobil. Ahad (29/7) pagi, pengemudi Kia itu mendapat perintah untuk secepat mungkin membawa kami ke Stasiun Pembangkit Listrik Tenaga Air Siguragura, Paritohan,Kabupaten Toba Samosir, Sumut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mata kami tak lepas dari jendela mobil. ''Masya Allaaahh,'' seru Andi, wartawan yang bekerja di biro Medan dari salah satu koran tertua di Indonesia, takjub. Ia kagum melihat pemandangan di sekelilingnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukit - bukit menjulang dengan puncak pohon yang masih hijau rindang diselingi sejumlah air terjun. Cipratan air berwarna putih terpancar dari sisi-sisi dinding bukit yang berwarna cokelat kemerahan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada yang cukup tinggi air terjunnya, ada juga yang kecil. Air terjun terbesar, Siguragura, yang menghasilkan debit air terbanyak dari Sungai Asahan, digunakan sebagai penggerak PLTA. Tapi kini Siguragura telah mati. Ia tak lagi terlihat sebagai air terjun karena cuma bisa 'ngucur'.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;PLTA Bawah Tanah&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Tepat disamping air terjun terbesar inilah stasiun pembangkit listrik Siguragura berdiri. Sekitar 23 kilometer dari mulut Danau Toba. Kompleks bangunannya terbagi dua. Pertama adalah stasiun kontrol. Kedua adalah medan saklar luar dengan belasan menara listrik berwarna perak dan kabel hitam yang menjuntai melintasi bukit-bukit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Lho, mana PLTA-nya?'' kataku dalam hati. Dari luar, yang namanya stasiun kontrol itu tidak mengikuti gambaran awam tentang PLTA maupun bendungan. Kantornya berbentuk kubus dicat putih pudar, berdampingan dengan bangunan silinder dicat putih yang merupakan ujung dari terowongan lift.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di lobby, Setiabudi Maslim, senior Manager Administration Power Plant Inalum, menjelaskan pada kami bagaimana cara kerja PLTA yang ternyata ada dibawah tanah! Turbin PLTA-nya beserta terowongan air dan transformator listrik tertanam di 200 meter dari tempat kami berdiri. Siguragura adalah pembangkit bawah tanah pertama di Indonesia. Ia dibangun pada Mei 1978 dan tuntas tiga tahun sesudahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Budi, begitu kami memanggil  Setiabudi Maslim, menunjukkan bagian-bagian dari maket PLTA Siguragura. Bagaimana  air Danau Toba yang mengalir ke Sungai Asahan dan menjadi air terjun dimanfaatkan untuk tenaga listrik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Air yang sudah dialihkan oleh pipa besar ditembakkan ke dalam lempengan kisi-kisi baja,'' katanya. Bentuknya lempengan itu seperti pelek sepeda motor yang dipasang melintang dengan lebar sekitar tiga meter. Kekuatan air yang ditembakkan mencapai sekitar 25 kilogram per detik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akibat air, lempengan tebal itu lantas bergerak. Gerakannya memutar poros turbin yang berwarna abu-abu metalik dengan kencang. Putaran turbin itulah yang menghasilkan listrik yang dikumpulkan di pucuknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi bentuk mainan kadang tak tepat mewakili gambaran sesungguhnya, yang ternyata sangat megah. Inalum mengajak kami melihat bagaimana mesih itu sesungguhnya. Maka, turunlah kami dengan lift buatan 1980-an sedalam 200 meter. Seorang staf bergurau soal lift itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Lama turunnya sekitar 1,5 menit. Cukup baik untuk lift tua yang harus dirawat tiap tiga bulan sekali. Pernah waktu itu kami mengulur waktu perawatannya, eh liftnya mogok di tengah jalan, butuh waktu lama mengeluarkan penumpangnya, yang saat itu para eksekutif perusahaan,'' katanya sembari terkekeh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku dan Yusuf, wartawan dari sebuah koran bisnis di Jakarta, saling berpandangan dan tersenyum kecut mendengar leluconnya yang tidak lucu namun justru menakutkan itu. Kami jadi terdiam ditengah perlahannya lifft menuruni perut bukit. Lift tua itu tak memiliki panel nomor lantai di atas pintu. Tekanan udara yang berbeda, karena kedalaman, mempengaruhi gendang telinga kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu pintu lift terbuka, udara pengap merebak. Bau logam dan pelumas, mengingatkan pada bengkel mobil, merasuk ke hidung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu terdengar suara dengungan lembut, seperti ribuan lebah, memenuhi ruangan seluas dua lapangan tenis itu. Ruang stasiun pembangkit listrik Siguragura ini berukuran panjang 93 meter, lebar 18 meter, dan tinggi 36 meter.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami harus menggunakan helm untuk masuk stasiun Siguragura yang memiliki empat unit generator berkapasitas 71,5 MW. Di salah satu sudut, tampak generator yang sedang turun mesin. Dibongkar total untuk perawatan. Meninggalkan lubang di lantai dasar stasiun sedalam tiga meter dan berdiameter sekitar lima meter.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disudut yang lain, turbin masih berjalan. Suaranya lembut dan getarannya, seperti iklan mobil, ''Nyaris tak terasa,''. Secara fisik, turbin itu tidak terlihat, karena ia terbenam di dasar lantai yang berwarna jingga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Simanjuntak, salah satu manajer Inalum, yang menyertai rombongan kami, bercerita soal PLTA kebanggannya ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Pernah datang seorang ahli PLTA asal Prancis kesini. Dan ia kagum masih ada PLTA berumur 30 tahun yang kinerjanya masih baik seperti ini. Suaranya lembut dan getarannya sangat halus. Salah satu ciri PLTA yang baik ya dua itu, dia kagum atas Indonesia,'' tutur pria berkacamata tebal ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rombongan lalu bergerak ke bawah. Kami meninjau ruang turbin yang terletak di ujung ruangan. Dalam ruangan itu banyak sekali mesin-mesin seukuran lemari baju berwarna abu-abu dengan panel dan tombol warna-warni yang dikelilingi pagar kawat. Satu tanda terpampang di pagar itu, yakni gambar tengkorak dan kilat, alias 'awas sengatan listrik tegangan tinggi'.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang namanya ruangan turbin adalah satu kubus dengan silinder ditengahnya. Silinder itu berputar terus menerus, selama 24 jam, dengan kecepatan 330 - 560 RPM untuk menghasilkan listrik. Deru mesin yang terputar akibat air itu sangat besar. Harus teriak supaya bisa terdengar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak berapa lama di ruang turbin, kami pun menyudahi kunjungan  di Sigura-gura. Rombongan keluar lewat jalur  kedua, yaitu lewat terowongan bukit. Terowongan itu menghujam ke dasar PLTA dan muncul di bukit dibawah stasiun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dinding terowongan adalah pahatan batu kasar bekas  dibor atau diledakkan dengan dinamit untuk membuat jalan. Langit-langitnya, sebagai penahan, diberi jala-jala dari kawat yang ditanam dengan  pasak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keluar dari terowongan juga suatu pengalaman yang unik. Cahaya hanya ada dari ratusan  lampu neon berwana putih di dinding. Kelok-kelok terowongan yang gelap yang mampu menampung dua mobil sekaligus memberikan nuansa aneh. Seperti dalam labirin tanpa ujung. Sampai akhirnya secercah cahaya putih silau menyambut diujung sana. Mulut terowong terbuka menganga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Bendungan Tangga&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Apa jadinya bila warga Sumut sanggup menghalau derasnya air Sungai Asahan dan membeton diantara dua lembah hijau yang terjal dan sempit? Jawaban pastinya cuma satu, yakni Bendungan Tangga! Horas Bah!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bendungan Tangga terletak empat kilometer dibawah Siguragura. Air yang sudah memutar turbin Siguragura kembali dialirkan ke Sungai Asahan dan dimanfaatkan kembali untuk menggerakkan turbin di stasiun pembangkit listrik Tangga.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bendungan tangga memiliki panjang 125 meter dengan tinggi 82 meter. Ia sanggup menahan volume air sebesar 53 ribu meter kubik. Tangga adalah bendungan bentuk busur pertama di Indonesia. Ia mulai dibangun pada Mei 1978 dan tuntas empat tahun sesudahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu mobil memasuki pelataran parkir bendungan, kami ibarat anak kecil yang girang melihat mainan baru. Seluruh wartawan bergegas turun untuk melihat bendungan yang gambarnya sempat menghiasi uang kertas pecahan Rp 100 di era 1990-an. Aku malahan setengah berlari, tak sabar untuk menikmati bendungan itu. Diatasnya, dibangun anjungan dengan pagar setinggi dada orang dewasa untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemandangannya betul-betul indah. Bendungan Tangga tepat dimulut lembah terjal dan sempit. Dua aliran Sungai Asahan berwarna hijau lumut mengalir  dibelakangnya. Bendungan Tangga berwarna krem dan terbuat dari beton solid. Di sisi yang merapat ke lembah tersedia tangga turun kebawah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia memiliki tiga pintu air tempat mengontrol volume air. Air selanjutnya turun secara bertingkat-tingkat, layaknya tangga. Sang pembuat bendungan memapas dengan ketepatan sudut yang mengagumkan, menjadikannya sebuah tangga raksasa yang makin jauh ke hilir makin tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbeda dengan Siguragura, stasiun pembangkit listrik Tangga berada di permukaan tanah. Ia memiliki empat generator yang masing-masing berkapasitas 79,2 MW. Air yang ditampung di bendungan ini dialirkan melalui terowongan bawah tanah yang terletak disisi bendungan sepanjang 1.618 meter yang kemudian menggerakkan turbin. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak puas menatap dari anjungan, aku dan Andi mencari jalan turun ke bawah anjungan. Kami ingin semakin dekat dengan bendungan itu. Andi tidak membuang waktu dan langsung mengabadikan bendungan ke dalam kamera digitalnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara total, tenaga listrik yang dihasilkan oleh pembangkit Siguragura dan Tangga mencapai 426 MW dari kapasitas terpasang 603 MW. Bila tidak digunakan untuk pabrik alumnium yang berlokasi di Kuala Tanjung, listrik dua bendungan itu lebih dari cukup untuk menerangi sebagian wilayah Sumut dan NAD.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun karena pabrik alumnium butuh listrik untuk menghasilkan alumina yang bermutu, maka saat ini Inalum hanya memasok listrik 90 MW bagi kebutuhan Sumatera Bagian Utara. Jumlah ini sudah ditambah dari sebelumnya yaitu 45 MW.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari mana listrik mengalir? Di masing-masing stasiun pembangkit didirikan medan saklar. Bentuk bangunan medan ini adalah wilayah yang penuh dengan menara listrik tegangan tinggi yang menjulang dibalik bukit. Total menara itu sebanyak 271 unit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kabelnya harus sepanjang 120 kilometer, atau setara dengan jarak Jakarta - Bandung, menembus dan melintas pegunungan, perkebunan, dan dataran rendah yang sejuk. Ia melewati tiga kabupaten, yaitu Toba Samosir, Simalungun, dan Asahan. Di Kuala Tanjung, jaringan listrik milik Inalum ini bertetangga dengan jaringan milik PLN. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Bendungan Pengatur&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Sudah puas? Ternyata belum. Kami masih bergairah mengunjungi satu bendungan lagi yang terletak di 14,5 kilometer dari mulut Danau Toba yang mengaliri Sungai Asahan. Namanya bendungan pengatur di Siruar. Bentuknya sederhana dengan hanya segaris beton setinggi 39 meter dan volumenya 27.400 meter kubik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biarpun sederhana, fungsi bendungan ini sangat strategis. Pak Budi menjelaskan,untuk menjamin kelancaran operasi pabrik peleburan alumnium, dibutuhkan tenaga listrik yang stabil. Listrik yang stabil sangat ditentukan oleh aliran air yang juga stabil. ''Inilah fungsi bendungan pengatur, ia mengatur berapa volume air yang akan melintas di Siguragura dan kemudian Tangga,'' katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di mulut bendungan, kami menemui sejumlah warga yang sedang asyik memancing. Mansyur Barus, wartawan koran sore dari Cawang, Jakarta Timur, langsung tergoda untuk mencoba memancing. ''Ayo lemparkan kailnya yang jauh,'' seru pria berbadan tambun ini lalu tertawa lepas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa saja ikan yang berenang di air warna hijau itu? Menurut warga setempat, saat ini ikannya tinggal jenis Mujair. Itupun ukurannya kecil. Tadinya, jenis ikan yang ada di bendungan ini beraneka ragam. Tapi polusi yang mencemari air bendungan, konon akibat pabrik kertas di sekitar daerah itu, membuat keluarga ikan punah. Berita banyak ikan mati mengambang di Danau Toba memang sempat mewarnai media massa beberapa tahun belakangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selepas bendungan ini, rombongan memutuskan untuk segera kembali ke Medan. Meski badan penat dan penuh keringat, rona senang terpampang di wajah kami. Tiga bendungan cantik dalam waktu kurang dari empat jam kami kunjungi. Ini baru namanya wisata PLTA di Sumut. Kembali kami berseru girang, horas bah!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5688052063213088371-4745976963416518655?l=setanmartabak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://setanmartabak.blogspot.com/feeds/4745976963416518655/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5688052063213088371&amp;postID=4745976963416518655' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5688052063213088371/posts/default/4745976963416518655'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5688052063213088371/posts/default/4745976963416518655'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://setanmartabak.blogspot.com/2007/08/wisata-plta.html' title='Wisata PLTA'/><author><name>evy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04100470962692008262</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5688052063213088371.post-7731274176125048131</id><published>2007-07-04T20:56:00.000+07:00</published><updated>2007-07-04T20:57:55.001+07:00</updated><title type='text'>Becak</title><content type='html'>Ahad (1/7) siang pergi ke nikahan temen satu angkatan arkeologi 1997, dini suryani alias asep, akhirnya setelah melanglang buana mencari jodoh mulai dari berbagai macam medium, makcomblang, ngecengin, ngedeketin, tembak langsung, cyberlope, si asep ni' menemukan belahanjiwanya, pria mitra kerja perusahaan tempat asep bekerja&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;nikahannya di bogor, tepatnya di kantor kecamatan (after all of the places!) bogor tengah. berhubung tak mau naik mobil dan berpotensi mendapat ambein seumur hidup bila naik motor dari kelapa gading ke bogor, maka bus adalah pilihan paling tepat ke rumah asep.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;berangatlah daku dan sohibku dengan bus ac(yang tentu saja tak akan dingin) ke bogor. sialnya, kami lupa harus naik angkot apa di kota sejuta angkot itu. jadi ketika sudah sampai di terminal bogor yang ribet dan ruwet itu, aku telepon kawanku, yang sering ke rumah asep, aku sendiri selama 10 tahun berteman tak pernah ke rumahnya (memalukan juga sih, tapi dianya ga boleh kita jenguk, ya sudah!)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;rutenya begini : dari baranangsiang naik 03 turun di ramayana - naik 06 turun di taman topi - naik becak ke kecamatan bogor tengah atau mau jalan kaki 2km? sudah tentu kami pilih rute tanpa ada jalan kaki, karena ini di kota bukan di dusun atau gunung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ternyata, selain sejuta angkot, bogor juga kota seribu becak. banyak sekali becak bertebaran di pusat kota. sesampainya kami di stasiun bogor, bersebelahan dengan taman topi, sohibku dengan pede memanggil becak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;rute ke tempat kejadian perkara itu harus ditebus dengan lima ribu rupiah, bukan masalah, yang penting cepat sampai!kataku pada sohibku itu, &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tapi sialnya, sohibku salah memberhentikan becak. bukan becaknya yang bermasalah tapi pengayuhnya yang sudah uzur. lha kami berdua ini badannya subur-subur. belas kasihan dan tak tega pun mewarnai raut wajah kami. subur vs uzur, duh gusti!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;namun kami juga tak tega membatalkan pesanan becak, akhirnya dengan mengucap bismillah, kami naik ke becak mungil itu, karena subur2, pantatku hanya sanggup 1/4 mendarat di jok becak, sisanya tubuh sohibku. becak pun melaju lambat dan berderik2&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sebetulnya nyaman naik becak. jauh lewat rileks ketimbang naik angkot. hanya saja betul apa yang dibilang gus dur ketika ia menjabat jadi presiden dan melarang becak di jakarta, becak itu melegalisasi perbudakan. di zaman mesin ini kok masih ada pengayuh yang mengayuhi orang lain, padahal ada mesin?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;alasan itu terlintas di benakku ketika mendengar pengayuh becak kami terbatuk2 dengan menderu2. sial! makin terasa bersalah aku. di beberapa jalan yang menanjak, selepas pasar anyar, bahkan pak tua itu harus turun dan mendorong kami, yang montok2 ini dari belakang sepeda besinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dengan setumpuk perasaan tak tega namun harus sampai ke resepsi, akhirnya kami kuatkan hati untuk tetap menanggung malu terus naik becak itu. meski batuk pak tua terus merejang di belakang kami. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;pada akhirnya, kami sampai ke lokasi. begitu melihat aku dan sohibku turun dari becak, kawan2ku yang sudah lebih dulu sampai tertawa ngakak melihat dua orang subur itu naik becak. wooy bayar lebih loh! teriak mereka&lt;br /&gt; iya aku bayar lebih, sahutku, namun yang tercerabut hanya enam lembar uang ribuan, secepat kilat aku serahkan uang itu ke telapak tangan pak tua yang kasar dan cokelat terbakar matahari. aku malu melihat wajahnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bukan sekali ini aku naik becak. sewaktu pelatihan wartawan di bandung, juni tahun lalu, aku iseng2 naik becak dari hotel tempat kami menginap di savoy hooman sampai ke dago, kukira dekat ternyata buset jauh dan menanjak. lagi-lagi aku merasa tak enak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;walaupun tukang becaknya muda, tapi tetap saja ia ngos2an mengangkutku. dari kabin penumpang becak, malam itu aku mendengar deru nafasnya menggebu2. untung cuma aku seorang, apalagi dua orang, bisa aku khawatir jangan2 nanti bisa tewas kehabisan nafas tukang becak itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;merasa tak enak, sehabis belanja di ominuum di jalan sultan agung, dago, aku minta ia mengantarku kembali ke savoy. sampai di hotel, tukang becak itu kuberi goban biar dia senang, &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;wajahnya tampak sumringah ketika menerima lembaran uang berwarna biru tua itu. bahkan ia berpesan, kalau mau jalan2 lagi cari saja saya di pinggir hotel ini, saya nongkrong disitu sepanjang hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku mengangguk pelan dan berjanji tak akan melakukannya lagi di bandung. he3&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tapi jauh sebelum bandung, tepatnya awal september 1999 aku pernah pula naik becak dengan pengalaman serupa, kali ini bersama adik kelasku yang tentu tubuhnya sama2 subur. kami dari jalan nusantara depok ingin ke kediaman kakak kelas yang ada di depok1&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;suit..suit tukang becak mendekat, setelah sepakat harga, dengan keisengan mahasiswa yang waktu itu cueknya selangit, kami sukses menyiksa si tukang becak, &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bagaimana tidak? separuh perjalanan kami jalannya menanjak cukup curam. tak ada itu namanya mengayuh, tukang becak harus kerja dua kali, mendorong kami ke atas sambil tetap menahan becaknya tak melorot kebawah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bagaimana aku dan adik kelasku? kami berdua cekikikan di dalam kabin penumpang, sungguh keterlaluan kalau ingat masa itu, Tuhan, maafkan dosaku ya!!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5688052063213088371-7731274176125048131?l=setanmartabak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://setanmartabak.blogspot.com/feeds/7731274176125048131/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5688052063213088371&amp;postID=7731274176125048131' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5688052063213088371/posts/default/7731274176125048131'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5688052063213088371/posts/default/7731274176125048131'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://setanmartabak.blogspot.com/2007/07/becak.html' title='Becak'/><author><name>evy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04100470962692008262</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5688052063213088371.post-8373935145313730198</id><published>2007-07-04T20:53:00.000+07:00</published><updated>2007-07-04T20:56:14.095+07:00</updated><title type='text'>Toko suamiistri</title><content type='html'>Sabtu (30/6) kemaren harus dateng ke lamaran sepupu. Berhubung dia udah yatim piatu en sodara terdeketnya cuma nyokap, ya  jadilah kita berepot-repot ria sejenak. Dia en calon suaminye kristen, so pasti mereka ngundang pendeta buat ngeberkatin. Pendetanye cewe udah ibu-ibu, en menurut kabar pendeta keluarga  tuh, jadi udah akrab. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dalam khotbahnya, si pendeta cerita kisah yang menarik banget, gini nih katanya : di suatu kota dalam satu negara yang antah berantah, hiduplah seorang jomblo (jomblo ini unisex ya, kasusnya bisa diterapin ke cowo ato cewe karena ceritanya emang bebas gender en sexis). seiring waktu, si jomblo makin tuwir, dia tambah khawatir, kok daku tak laku-laku, adakah salahku?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dalam satu perbincangan dengan mantan jomblo yang kebetulan adalah sahabatnya, terungkaplah resep manjur si mantan jomblo itu. konon kabarnya di kota sebelah yang tak jauh dari kotanya, ada sebuah toko mustajab yang bisa menyelesaikan masalah kejombloan. nama toko itu toko suamiistri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tak mau buang waktu, bergegaslah jomblo kita ni' kesana. tak banyak yang ia bawa. hanya diri dan harta (uang en kartu kredit serta debet) maklum, kan tokoh kita ni' hendak belanja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;setelah menempuh perjalanan penuh harap-harap cemas akan bahagia, sampailah ia di depan pintu toko tu'. tokonya ternyata ruko, kaya di kelapa gading ato depok yang imbnya seakan-akan khusus ruko (saking banyaknya ruko disana sampe bosen!!). ada lima lantai ruko itu. tiap lantai warnanya beda en mencolok banget dari luar, jadi ceritanya eye catching gitu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hendak masuklah jomblo kita ni', eiitss, sebelum masuk, matanya melirik ke selembar pengumuman di pintu toko. pengumuman yang bikin otaknya berputar dan sel-selnya yang kelabu (meminjam istilah alm tante agatha christie ) isi pengumuman itu adalah : 1jomblo yang mo masuk harus yakin 100 persen kalo dia mau masuk en dapet jodoh 2jodoh yang sudah dipilih tidak dapat dikembalikan 3tiap jomblo hanya boleh sekali seumur hidup masuk ke toko ini 4keluar harus lewat pintu belakang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tak pikir lama, teguhlah tekad jomblo kita ni' masuk. pintu ruko pun berderit, kriiieeet...bunyi bel di atas pintu berdering, kleennteeenng.. ternyata ruangan dalam ruko kosong melompong. celingak-celinguk, jomblo kita melangkah perlahan sambil memanggil empunya ruko. tetap tak ada orang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;di sudut terdalam dari ruangan itu ada tangga ke atas. di dinding samping tangga itu ada tulisan : jomblo silahkan naik ke lantai 1. dengan semangat plus kecurigaan beranilah jomblo kita ni' naik ke lantai1. sesampainya dia di awal lantai, ada papan pengumuman dengan tulisan yang besar-besar berbunyi : lantai ini menyediakan suami/istri yang baik dan punya pekerjaan tetap. silahkan masuk!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;waaahh... pikir jomblo kita, ini yang daku cari, suami baik plus ga nganggur, ia hendak melangkah masuk ke dalam pintu di lantai satu itu, tapi ia sejenak berhenti dan berpikir, apa cuma ini keinginanku cari belahan jiwa? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;lalu sudut matanya menangkap anak tangga di sudut samping lantai1, arahnya ke lantai2, penasaran dan tak puas dengan pengumuman di lantai1, nekadlah jomblo kita ni' naik ke lantai2, sesampainya di mulut ruangan, ada papan pengumuman lagi bertuliskan : lantai ini menyediakan suami/istri baik, punya pekerjaan tetap en sayang anak kecil. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bah ini dia impian setiap jomblo, pasangan yang sayang anak, pikir jomblo kita ni', tapi bukannya segera masuk ke ruangan di lantai2, jomblo kita malah makin penasaran dengan apa yang akan disediakan di lantai3, jangan-jangan lebih sempurna dari ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;karena nyali baja, dengan cepat tokoh kita tu' melesat ke lantai3, kali ini alasannya hanya satu, penasaran. benar apa yang ia pikirkan, di lantai3 ni tawarannya makin menggiurkan, pengumuman itu berbunyi : lantai ini menyediakan suami/istri yang baik, berpenghasilan tetap, sayang anak, dan tampan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;alaaamaaaakkk!!! mimpi apa aku semalam? kata si jomblo kita sambil bingung. ini dia yang aku cari, tegasnya dalam hati. siapapun pasti mau punya pasangan macam ni'. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tapi lagi-lagi otaknya tak seirama dengan hati dan kaki. alih-alih menyelesaikan status kejombloannya dengan masuk ke ruangan lantai3, kakinya malah melangkah menyisir dan naik lantai4, apa yang aku pikirkan, kata tokoh kita tu' mungkin di lantai berikutnya ada jodohku yang lebih mantap, ia teguhkan keyakinan dalam diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dengan perlahan, naiklah ia ke lantai4, lagi-lagi pengumuman di lantai ini menggiurkan : lantai ini menyediakan suami/istri yang baik, punya penghasilan tetap, sayang anak kecil, tampan, dan kayaraya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;INI DIA JODOHKU! pekik tokoh kita, ini ruangan sempurna untukku, tapi kembali sarafnya tak sesuai kesadaran. ia makin majenun. bukannya segera masuk,  jomblo kita malah duduk di lantai di depan pintu, ia bingung setengah mati, &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sudah empat lantai ia cambangi, tiap lantai merayu hatinya, tiap lantai menyediakan kejutan yang menggembirakan jiwanya, sampai kapan ini berakhir? simpul-simpul neuronnya kembali bergejolak, seperti menerima sengatan listrik, pasti di lantai terakhir ini kejutan terbesar jodohku, harap tokoh kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;akhirnya, seperti tiga lantai terakhir, lantai4 pun ia tinggalkan. kakinya tegas melangkah ke lantai terakhir. tempat ia gantung asa akan belahan jiwanya seumur hidup. dari bawah tangga, lantai terakhir itu memang lebih berkilau. banyak sinar warna-warni.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;satu per satu tangga dititi oleh tokoh kita ni', ia ingin lantai5 menjadi surprise terbesar di hidupnya, setelah baik, berpenghasilan tetap, sayang anak kecil, tampan, dan kayaraya, apalagi yang bisa diharapkan oleh jomblo macam aku ni' katanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sesampainya di depan lantai5, ia angkat kepalanya yang dari tadi menunduk, takut membaca tulisan di papan pengumuman. tulisan hitam tebal itu berbunyi : SELAMAT!!! ANDA PENGUNJUNG TOKO YANG KE 234.995.678.223.567.234 YANG TIDAK MENDAPAT JODOH SATUPUN KARENA TERLALU RAKUS HARAPAN. SILAHKAN KELUAR LEWAT PINTU BELAKANG! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hueeeee.... :D&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5688052063213088371-8373935145313730198?l=setanmartabak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://setanmartabak.blogspot.com/feeds/8373935145313730198/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5688052063213088371&amp;postID=8373935145313730198' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5688052063213088371/posts/default/8373935145313730198'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5688052063213088371/posts/default/8373935145313730198'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://setanmartabak.blogspot.com/2007/07/toko-suamiistri.html' title='Toko suamiistri'/><author><name>evy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04100470962692008262</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5688052063213088371.post-6784921480867203861</id><published>2007-06-28T18:29:00.001+07:00</published><updated>2007-06-28T18:46:05.350+07:00</updated><title type='text'>Banten dari Masa ke Masa</title><content type='html'>Banten tidak hanya terkenal sebagai salah satu kerajaan bercorak Islam pertama di Jawa Barat, maupun sebagai pusat niaga setelah Malaka dikuasai Portugis pada 1511. Tidak. Sejarah Banten jauh lebih kaya dari itu. Dalam buku Ragam Pusaka Budaya Banten, arkeolog dan sejarawan mencatat Banten sudah ditinggali sejak zaman purba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu buktinya adalah ditemukannya artefak berupa alat batu di situs Cigeulis, Pandeglang. Diperkirakan, alat-alat berupa kapak sederhana dari batu itu digunakan untuk berburu dan mengumpulkan makanan. Selain kapak, di masa selanjutnya juga ditemukan beliung persegi. Bentuk yang sama masih digunakan suku asli Papua kini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, juga ditemukan tinggalan semasa masyarakat Banten masih menyembah roh nenek moyang, seperti menhir. Salah satu kompleks menhir di Banten ada di sekitar lereng Gunung Pulosari, Kabupaten Pandeglang. Situs bernama Sanghyang Heuleut itu berdekatan dengan arca yang dijuluki Sanghyang Dengdek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banten juga terpengaruh kebudayaan yang mengambil latar agama Hindu – Buddha. Diduga, pengaruh ini sudah masuk ke Banten sebelum abad ke-5 dengan ditemukannya prasasti Munjul yang berhuruf India kuno (Palawa) dengan bahasa Sansekerta. Isinya ternyata mengatakan daerah Munjul menjadi salah satu daerah kekuasaan Raja  purnawarman dari kerajaan Tarumanegara, Bogor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejumlah arca juga turut ditemukan di sekitar Banten. Arca seperti Ganesha, Siva, dan Durga yang sudah tidak utuh lagi. Lalu ada arca sapi atau nandi, yang dikenal sebagai wahana atau kendaraan Wisnu, salah satu dewa dalam agama Hindu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang cukup unik adalah penemuan genta pendeta asal situs Salangsari di lereng Gunung Pulosari. Genta ini terbuat dari perunggu dengan ornament hiasan yang raya. Tak luput juga disebutkan adanya situs Gua Pertapaan Banten Girang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barulah kemudian budaya bercorak Islam masuk di pesisir Banten dan meninggalkan sejumlah situs megahnya. Selain Surosowan, Kaibon, dan Masjid Raya Bante, sejumlah situs menarik lainnya yang tak jauh dari kompleks Banten Lama adalah Masjid Kasunyatan, Masjid Pecinan, Masjid Kenari, Jembatan Rante (ini seperti Jembatan Kota Intan di daerah Kota Tua, Jakarta), situs Danau Tasikardi, wihara Avalokitecvara dan benteng Speelwijk yang terkenal itu.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5688052063213088371-6784921480867203861?l=setanmartabak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://setanmartabak.blogspot.com/feeds/6784921480867203861/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5688052063213088371&amp;postID=6784921480867203861' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5688052063213088371/posts/default/6784921480867203861'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5688052063213088371/posts/default/6784921480867203861'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://setanmartabak.blogspot.com/2007/06/banten-dari-masa-ke-masa.html' title='Banten dari Masa ke Masa'/><author><name>evy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04100470962692008262</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5688052063213088371.post-6564813276178735854</id><published>2007-06-28T18:24:00.000+07:00</published><updated>2007-06-28T18:41:12.463+07:00</updated><title type='text'>Plesiran ke Banten Lama : Dari Keraton 'Air' sampai Menara 'Naik Turun'</title><content type='html'>Udara khas pesisir pantai yang panas dan kering langsung menyengat ketika aku baru turun dari angkutan kota di kawasan Banten Lama (Old Bantam – jika kita merujuk pada sumber – sumber tertulis masa lalu), Serang, Jawa Barat, awal bulan lalu. Matahari tengah berada di puncak siang. Cuaca Banten terik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘’Belum berubah,’’ kataku dalam hati. Terakhir kali aku ke Banten Lama adalah 10 tahun lalu, bersama rombongan Keluarga Mahasiswa Arkeologi (KAMA) jurusan Arkeologi Universitas Indonesia. Kami mengadakan pelatihan kunjungan situs kala itu. Kali ini, aku berniat keliling Oud Bantam (biasa disebut dalam buku-buku tua bahasa Belanda) kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dekat tempat pemberhentian angkot, nampak bekas-bekas kemegahan situs Keraton Kaibon. Keraton ini tadinya tempat tinggal ibunda sultan penguasa Banten. Kaibon malah diambil dari kata ka-ibu-an. Dibangun semasa Sultan Syafiuddin (memerintah sekitar 1809 – 1815).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gapuranya yang tinggi dan berwarna putih menyembul ditengah-tengah reruntuhan dinding keraton. Salah satu kekhasan gapura di Kaibon adalah bentuknya yang enyerupai sayap bertumpuk-tumpuk. Setelah dihancurkan Belanda pada 1832, Kaibon terasa lenggang siang itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku ditemani karibku, arkeolog yang bekerja di salah satu instansi pemerintah di Banten, Bayu Aryanto, untuk plesiran di situs Banten Lama. Setelah membayar ongkos angkot delapan ribu rupiah untuk dua orang, kami bergegas memasuki pusat kota Banten Lama yang terletak sekitar lima ratus meter dari pemberhentian tadi. Samar – samar terdengar suara adzan zhuhur berkumandang di sekeliling kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pergi ke Banten Lama berarti menjumpai dua situs terkenalnya, yaitu Keraton Surosowan dan Mesjid Agung Banten beserta menaranya. Keraton Surosowan adalah situs yang pertama kali terlihat ketika memasuki kawasan Banten Lama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dindingnya tinggi, lebih dari dua meter dengan lebar sekitar tujuh meter, berwana cokelat. Sangat kontras dengan bangunan rumah penduduk yang masih ada yang terbuat dari gedek dan warung makanan di sekitarnya. Surosowan dikeliling oleh kanal-kanal sungai yang sebagian masih mengalir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian besar bangunan di Surosowan dibangun dari bata yang disemen dengan campuran karang, pasir, dan serpihan-serpihan biota laut seperti kerang. Tak jarang di beberapa bagian runtuhan bangunan kita bisa melihat adukan campuran tersebut. Kualitas hasil campurannya boleh diadu dengan cor beton jaman sekarang,karena memang kokoh sekali. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi jika membayangkan Surosowan layaknya keraton di Jawa Tengah, yaitu Yogyakarta dan Solo, maka kita bakal kecele. Surosowan tak ada mirip-miripnya dengan dua keraton itu. Surosowan lebih mirip sebuah benteng Belanda yang kokoh dengan bastion (sudut benteng yang berbentuk intan) di empat sudut bangunannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Total luas bangunan berdenah persegi panjang ini sekitar tiga hektar, bangunan di dalam dinding keraton tak ada lagi yang utuh. Ia hanya menyisakan runtuhan dinding dan pondasi kamar-kamar berdenah persegi empat yang jumlahnya puluhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diperkirakan, banyak bagian bangunan di dalam keraton terbuat dari kayu. Salah satu bekasnya bisa terlihat dari umpak atau kaki pilar sebagai pondasi meletakkan tiang bangunan. Umpak macam ini tersebar di tengah keraton.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejarah mencatat nama Keraton Surosowan muncul pada abad ke – 17. Tapi sebagai bangunan, Surosowan sudah ada jauh sebelum itu. Pembangunannya melalui beberapa tahap dari 1552 - 1570, termasuk melibatkan ahli bangunan asal Belanda, yaitu Hendrik Lucaszoon Cardeel. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengaruh Cardeel diperkirakan merubah fungsi keraton menjadi lebih ke benteng. Pada awalnya, hanya ada satu lapis tembok keraton. Tapi setelah Cardeel datang, didirikanlah tembok lapis kedua, yang berperan sebagai tembok penahan serangan. Diantara kedua lapis tembok itu diisi dengan tanah yang padat. Kita bisa naik ke atas dinding ini dan bekeliling Surosowan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku dan Bayu memasuki Surosowan dari pintu utara. Keraton yang didirikan Sultan Maulana Hasanuddin (anak dari Syarif Hidayatullah, dedengkot yang mendirikan cikal bakal Jakarta, asal Cirebon) ini memiliki tiga gerbang masuk. Masing-masing terletak di sisi utara, timur, selatan. Namun pintu selatan telah ditutup dengan tembok, entah apa pasal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bayu menerangkan, yang unik soal gerbang di Surosowan adalah bentuknya melengkung dengan atap setengah silinder terbuat dari bata kokoh. ‘’Apa uniknya? Perasaan kok biasa-biasa saja,’’ tanyaku pada dia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kita melihatnya dalam konteks kekinian memang mungkin tak ada yang aneh. Tapi Surosowan adalah bangunan yang didirikan dengan beragam fungsi. Salah satunya adalah benteng. Tujuan didirikan benteng adalah melindungi penghuni yang didalam dari serangan orang di luar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau prinsip ini diterapkan ke gerbang melengkung Surosowan baru pas. Karena dengan dibuat melengkung, orang luar tidak bisa melihat langsung ke dalam keraton. Pandangannya akan terhalang tembok melengkung itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keraton ‘Air’&lt;br /&gt;‘’Surosowan adalah keraton air,’’ celetuk Bayu sambil tertawa, ketika kami sudah memasuki bagian dalam keraton. Pria berkacamata tebal dengan postur sedang dan jenggot kasar ini menunjuk ke bagian tengah keraton. Disana terlihat sebuah bangunan kolam yang diisi air berwarna hijau, yang didapat dari pengaruh ganggang dan lumut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keraton air? Istilah ini menandai banyaknya ruang di dalam keraton yang berhubungan dengan air atau mandi-mandi, alias petirtaan. Salah satu yang terpopuler adalah bekas kolam taman, bernama Bale Kambang Rara Denok, yang ditunjuk Bayu itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kolam Rara Denok berbentuk persegi empat menyerupai setengah lapangan bulutangkis, dengan panjang 30 meter dan lebar 13 meter serta kedalaman kolam 4,5 meter. Kolam ini dibangun dengan menggunakan bata. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di panas terik itu Aku membayangkan, dulunya para puteri sultan dan dayang-dayangnya dengan hanya lilitan selembar batik di tubuhnya mandi-mandi dengan segar di dalam kolam itu. Mereka saling mencipratkan air. Sementara sang sultan atau pejabat keraton lainnya dengan santai menonton dari atas kolam. Walaah!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lamunan sekilas itu tiba-tiba buyar, karena datang tiga orang anak kecil, tampaknya penghuni sekitar ke Rara Denok. Tanpa mempedulikan sekitar, mereka langsung membuka pakaian dan byuurr, berenang di kolam yang entah airnya bersih atau tidak itu. Aku dan Bayu tertawa ngakak melihat kepolosan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kolam air di Surosowan adalah salah satu bentuk ruangan yang paling mudah dikenali karena arsitekturnya tidak jauh berbeda dengan kolam renang saat ini. Di sisi kolam umumnya terdapat tangga turun. Di dinding kolam juga masih menyisakan lubang-lubang tempat mengalirnya air.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalah air di Surosowan memang sengaja dibuat canggih. Bahkan kesultanan Banten sengaja memisahkan air untuk keperluan kerajaan dengan air untuk rakyat jelata. Ada dua sumber air di Surosowan, yaitu sumur dan Danau Tasikardi yang terletak sekitar dua kilometer dari sebelah tenggara Surosowan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan salah, Tasikardi adalah danau buatan seluas 6,5 hektar dengan pulau ditengahnya. Dasar danaunya bahkan dibuat dari ubin bata. Ia dibangun oleh Sultan Maulana Yusuf untuk rekreasi dan ibadah. Tasikardi juga berfungsi sebagai penampung air Sungai Cibanten untuk disalurkan dan dibersihkan sebelum masuk ke Surosowan untuk selanjutnya dipakai mandi dan keperluan sehari-hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Proses penjernihannya pun canggih. Sebelum masuk ke Surosowan, air yang kotor dan keruh dari Tasikardi disalurkan dan disaring melalui tiga bangunan bernama Pengindelan Putih, Abang, dan Emas. Di tiap pengindelan ini derasnya debit air diproses dengan mengendapkan dan menyaring kotoran. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Air selanjutnya mengalir ke Surosowan lewat serangka ian pipa panjang yang terbuat dari tanah liat dengan diameter 2 – 40 sentimeter. Tebak siapa yang punya ide canggih menyaring air ini? Lagi-lagi Cardeel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah dijernihkan, maka status air di dalam keraton berbeda dengan status air di luar keraton. Air didalam keraton bisa jadi lebih sakral ketimbang kawannya di luar keraton. Masyarakat Banten Lama terbiasa mengambil air dari sungai atau dengan sumur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini pula yang melatari mengapa hingga kini sejumlah orang rela wudhu dengan air dari sumur atau reruntuhan kolam di dalam keraton. Kami berjumpa dengan salah satu pemuda yang baru saja wudhu dari kolam di dinding selatan keraton. Ia tampak khusyu sambil komat-kamit membaca doa ketika berpapasan dengan kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siang itu, banyak orang bercengkerama di dalam Surosowan. Beberapa keluarga dan muda-mudi menggelar tikar di sisi barat keraton, yang dinaungi beberapa pohon rindang. Mereka terlihat terpekur menikmat sisa kejayaan Surosowan yang pernah dua kali diluluhlantakkan oleh Belanda, yaitu pada 1680 - 1863.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya dibeberapa tempat masih terlihat ceceran sampah, apa itu bekas bungkus makanan, botol minuman, atau juga puntung rokok. Sampah terkumpul di sekitar pohon yang ada di sisi barat keraton, terutama di pojok dinding. Tidak adanya tempat sampah didalam keraton membuat orang seenaknya saja mengotori bangunan bersejarah  ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puas dan kepanasan berkeliling keraton, dari atas hingga bawah, akhirnya aku dan Bayu keluar. Di parkiran di depan Surosowan, kami melihat banyak mobil berpelat nomor Jakarta dan Serang. Karena hari itu adalah Jumat, dan libur pula, bisa ditebak niatan para wisatawan ke Banten Lama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menara ‘Naik Turun’&lt;br /&gt;Tujuan selanjutnya adalah Masjid Agung Banten, yang sudah berdiri ketika Belanda pertama kali nongol di Banten pada 1596. Banyak bangunan di dalam kompleks masjid ini seperti makam sultan-sultan, menara masjid, tiyamah (bangunan dua tingkat dengan arsitektur Eropa. Dulunya digunakan untuk ngumpul-ngumpul membahas masalah keagamaan dan social), kolam wudhu, dan pawestren (bangunan untuk jamaah perempuan), dan istiwa atau jam matahari penunjuk waktu shalat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami tidak sempat berkeliling seluruh tempat karena saat itu sudah masuk waktu shalat Ashar. Jadi kami hanya duduk-duduk sejenak di kaki menara. Suasana masjid yang beratap tumpang lima ini sangat hiruk pikuk. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di halaman menara, dua keluarga menggelar tikar untuk duduk-duduk dan tidur-tiduran. Beberapa pedagang kakilima yang berjualan es cendol malah masuk di halaman menara. Menyeruput es cendol ditengah terik matahari Banten bisa jadi satu kenikmatan tersendiri. Segar pastinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kolam wudhu, tepat didekat tangga naik masjid, sejumlah anak kecil malah cuek berenang-renang. Untung sudah tidak ada orang yang wudhu disitu, karena sudah dibuat sarana wudhu sendiri disamping masjid. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keramaian kompleks masjid sudah terasa di jalan masuknya. Ratusan pedagang membuka lapak sederhana berukuran sekitar 2x2 meter. Mereka menjajakan apa saja, mulai dari perlengkapan shalat, tasbih dengan butiran sebesar telor ayam negeri, Al Quran, kaset rohani, VCD musik, pakaian dewasa dan anak-anak, penganan kecil, salak pondoh, hingga ke cinderamata a la suku asli di Banten, yaitu Baduy.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu hal lagi tentang suasana masjid Banten adalah banyaknya pengemis. Mereka berkumpul di pintu masuk kompleks masjid. Terutama di pintu kedua. Tua muda, semua lusuh, tumplek bleg di lorong jalan masuk masjid. Ada yang sudah terlelap tidur dengan mangkok berisi recehan ada yang masih terjaga sambil menengadah dan bergumam pelan, membaca doa atau meminta sedekah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selepas Ashar, aku dan Bayu naik ke menara masjid Banten yang tingginya 23 meter dengan bentuk denah segi delapan. Pintu masuk menara dibuat unik dengan mencampur gaya hiasan layaknya candi Hindu – Buddha, yang memiliki hiasan kala dengan stilirisasi. Kami masuk setelah membayar seribu rupiah per orang kepada penjaga di depan pintu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi sebelum naik, kami diminta menunggu dulu. Si penjaga berteriak ke kawannya yang ada di atas menara. ‘’Naaaiiiikkk!’’. Sang kawan yang ada didalam menara berteriak, ‘’Tuuuruuun,’’. Itu berarti ada orang yang turun, sehingga pengunjung yang naik harus bersabar sebelum orang itu keluar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahulah kami mengapa harus ada teriakan ‘naik – turun’ itu. Sebabnya adalah tangga naik ke puncak menara sangat sempit, lebar anak tangganya kurang 50 cm. Tak mungkin untuk dua orang berpapasan di tengah jalan. Salah satu harus mengalah. Sialnya, badanku yang lumayan subur ini  terpaksa harus naik dengan cara menyamping karena tak muat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Situasi di dalam badan menara temaram. Hanya ada dua bola lampu yang menerangi jalan. Dari cahaya yang minim itu terlihat banyak sekali coretan orang yang tidak bertanggungjawab mengotori dinding menara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menara masjid memiliki dua puncak yang bentuknya makin mengecil. Sampai di puncak pertama, ternyata kami masih harus merogoh kocek lagi agar bisa keluar ke teras puncaknya. Dari teras ini terlihat keindahan alam Banten Lama, yang dekat dengan laut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku dan Bayu memutuskan naik lagi ke puncak menara. Di puncak ini pun kami harus merogoh kocek untuk bisa keluar ke terasnya. Melihat betapa komersialnya pengelolaan menara, Bayu mengomel. ‘’Sudah tidak usah bayar!’’ katanya padaku. Ia lalu mendekati si penjaga menara dan menegurnya dengan keras. Kamipun bebas keluar teras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak berapa lama di puncak menara, kami akhirnya turun. Tentunya dengan cara yang sama, yaitu harus bergantian menunggu pengunjung naik dan turun. Senja sudah menggantung di langit Banten. Namun gulungan awan dan langit masih berwarna cerah. Para wisatawan masih mengalir ke masjid ini. Banten tampaknya meninggalkan kesan di hati mereka.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5688052063213088371-6564813276178735854?l=setanmartabak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://setanmartabak.blogspot.com/feeds/6564813276178735854/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5688052063213088371&amp;postID=6564813276178735854' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5688052063213088371/posts/default/6564813276178735854'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5688052063213088371/posts/default/6564813276178735854'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://setanmartabak.blogspot.com/2007/06/plesiran-ke-banten-lama-dari-keraton.html' title='Plesiran ke Banten Lama : Dari Keraton &apos;Air&apos; sampai Menara &apos;Naik Turun&apos;'/><author><name>evy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04100470962692008262</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5688052063213088371.post-6268936302588399021</id><published>2007-06-19T19:10:00.000+07:00</published><updated>2007-06-19T19:18:09.461+07:00</updated><title type='text'>Harap – Harap Sabar Paket Baru</title><content type='html'>Instruksi Presiden Nomor 6 tahun 2007 tentang Paket Percepatan Pengembangan Sektor Riil dan Pemberdayaan UKM baru saja diluncurkan. Sebanyak 141 tindakan harus diselesaikan dalam jangka waktu setahun. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inpres ini meliputi 41 tindakan sektor iklim investasi, 43 tindakan sektor keuangan, 28 tindakan sektor pembangunan infrastruktur, dan 29 tindakan pemberdayaan UMKM. Yang terlibat ada 19 kementerian/lembaga (K/L). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Depkeu adalah kementerian terbanyak yang harus menyelesaikan tindakan itu. Instansi yang digawangi Sri Mulyani ini punya gawe menuntaskan 60 tindakan. Jauh di atas rata-rata K/L lain seperti Depdag yang hanya 12 tindakan, bahkan Depperin yang hanya dua tindakan, Dephub 10 tindakan, dan Kantor Menko Perekonomian, yang digawangi Boediono, 14 tindakan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tantangan penyelesaian dan penerapan kebijakan di paket kali ini lebih besar dari paket-paket yang telah diterbitkan pemerintah, seperti Paket Perbaikan Iklim Investasi, Paket Percepatan Pembangunan Infrastruktur, dan Paket Reformasi Sektor Keuangan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh sebab ia lebih banyak,maka sangat menarik untuk dicermati bagaimana tim ekonomi yang dipimpin Boediono bergegas menyelesaikan paket baru ini. Mengingat ketiga paket sebelumnya tidak ada yang benar-benar tuntas 100 persen penyelesaian kebijakannya. Ini belum diukur dengan keluaran kebijakan itu apakah sudah dirasa maksimal oleh masyarakat dan pelaku usaha. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkaca dari pengalaman itu, secara tegas Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menekankan pentingnya implementasi dan efektifitas pemantauan dari kebijakan yang diterbitkan. Secara khusus, SBY meminta Boediono memantau pelaksanaan paket di lapangan dengan lebih efektif. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Boediono diminta membentuk tim pemantau pelaksanaan paket yang terdiri atas tim eksternal dan tim pemerintah. Kedua tim ini tugasnya mengevaluasi, mengadakan dialog, dan mensurvei implementasi paket. Tak lupa, kepala daerah tempat kebijakan paket bakal berdampak harus ikut ambil bagian dalam mempercepat pelaksanaan kebijakan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Idealnya, dengan pemerintahan yang sudah berjalan separuh masa, tentu sosialisasi dan koordinasi penerapan paket bukan jadi masalah. Tapi di lapangan, dua hal ini tetap jadi barang langka. Dalam satu kesempatan beberapa bulan lalu, tim independen pemantau kebijakan paket-paket yang sudah diterbitkan mengeluhkan hal ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata mereka, salah satu kendala terbesar penerapan paket di lapangan adalah menyebarkan isi kebijakan paket hingga ke level teknis di birokrat bawah. Masalah klise, memang. Tapi tanpa sosialisasi paket kebijakan yang menyeluruh, mustahil suatu kebijakan dapat dikoordinasikan dengan tepat. Bila suatu kebijakan tidak terkoordinasi, jangan harap hasilnya rapi. Yang terjadi adalah justru tambal sulam kebijakan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah yang diakui Menko Perekonomian, Boediono, ketika ia menyebutkan betapa birokrasi bisa jadi penghambat penerapan kebijakan. ‘’Ada beberapa surat keterangan (SK) menteri yang tidak nyampe di daerah. Beberapa bulan kemudian ditanya, tidak tahu orang daerah,’’ keluh Boediono. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di samping itu, simpul birokrasi yang masih berlaku ketat. Tak jarang ada ego antar K/L dalam melakukan kebijakan yang sudah diputuskan di tingkat penentu kebijakan. Sehingga, kebijakan yang baik di tingkat atas justru mentok di level bawah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘’Birokrasi masih bersifat business as usuall,’’ kalau kata ekonom UGM, Revrisond Baswir. Sedangkan anggota Komisi Keuangan dan Perbankan (XI) DPR, Dradjad H Wibowo, melihat memang ada yang tertinggal dalam paket kebijakan pemerintah, yaitu reformasi birokrasi. ‘’Paket tidak disertai perombakan birokrasi,’’ cetus politisi FPAN ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buktinya, dari total 141 tindakan yang dikeluarkan, Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara (PAN) hanya mendapat jatah satu tindakan. Itupun tidak terkait dengan reformasi birokrasi secara keseluruhan, melainkan program percepatan pendirian perusahaan dan izin usaha menjadi 25 hari, dari yang tadinya 97 hari. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, ‘’Paket berhenti di tingkat konsep menteri,’’ katanya. Mestinya, lanjut dia, pemerintah memiliki sistem sanksi dan penghargaan yang jelas, terutama bagi birokrat yang menjalankan kebijakan paket. ‘’Sekarang, apa sanksinya kalau birokrat tidak menjalankan kebijakan itu? Tidak seperti sistem di McDonalds, ketika kita memesan makanan tapi disajikan melebihi batas waktu tertentu ada sanksi berupa tambahan makanan,’’. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sosialisasi ke investor asing juga mendesak dilakukan. Dalam berkali-kali lawatannya ke luar negeri, baik Presiden SBY, Wapres Jusuf Kalla, Menko Perekonomian Boediono, Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) M Lutfi, serta para menteri lainnya kerap mendapat pertanyaan bagaimana kondisi ekonomi di Indonesia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para investor asing mengaku mereka hanya bisa melihat dari televisi bahwa situasi ekonomi Indonesia masih penuh gonjang-ganjing. Demonstrasi berujung kerusuhan di sejumlah titik investasi asing kerap terjadi. Belum berita-berita yang bernada memojokkan, baik dari pers lokal maupun asing. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepala Ekonom BNI, A Toni Prasetiantono, memandang, setelah menelurkan paket kebijakan ini, pemerintah harus memiliki tim komunikasi yang efektif yang bisa merangkul investor asing. Terlebih antara paket – penerapan – dampak ke masyarakat memiliki jeda waktu. ‘’Diperkirakan paket ini baru bisa memiliki dampak tahun depan ke ekonomi kita,’’ cetus dia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jeda waktu ini juga dikeluhkan Dana Moneter Internasional. Juru bicara IMF untuk Indonesia, Stephen Schwartz, menilai, masalah klasik di pemerintahan adalah lamanya implementasi kebijakan. Tak jarang, target penerapan kebijakan itu molor. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘’Pelaku pasar dan dunia bisnis akan menunggu implementasi paket ini. Karena dari yang sebelum-sebelumnya pemerintah dikenal banyak memiliki rencana tapi penerapannya lebih lama. Untuk paket ini efektif, pemerintah harus kerja keras,’’ ungkap Schwartz. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Permasalahan paket kebijakan tidak hanya dari sisi sosialisasi dan penerapannya di lapangan. Isi paket juga patut dikritisi. Salah satu yang menonjol adalah judul paket yaitu ‘pengembangan sektor riil’ namun tindakan terbanyak justru ada di sektor keuangan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejumlah kementerian yang terkait erat dengan sektor riil hanya mengerjakan tindakan tidak sampai 15 kebijakan. Depdag, contoh pertama, hanya mengerjakan 12 tindakan yang terdiri atas enam kebijakan iklim investasi, dan enam kebijakan pemberdayaan UMKM. Depperin, lebih parah lagi. Kementerian dibawah Fahmi Idris ini cuma kebagian mengerjakan dua kebijakan, masing-masing di sektor klim investasi dan UMKM. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh lainnya masih bisa disebutkan BKPM yang dapat jatah empat kebijakan iklim investasi. Yang lebih ironis tentunya Kementerian Negara Koperasi dan UKM. Departemen yang dipimpin Suryadharma Ali ini hanya mengerjakan enam kebijakan pengembangan UKM. Terakhir, Menteri Perumahan Rakyat, yang diberi tugas menuntaskan dua kebijakan pembangunan infrastruktur. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebaliknya, Depkeu mengerjakan hampir separuh paket (60 kebijakan). Tak heran ketika diberi kesempatan berbicara kedua kali dalam jumpa pers peluncuran paket, kalimat pertama yang keluar dari bibir Sri Mulyani adalah, ‘’Duh teler saya!’’. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Depkeu mengerjakan 21 kebijakan untuk memperbaiki iklim investasi, 29 kebijakan di sektor keuangan, tiga kebijakan di pembangunan infrastruktur, dan tujuh kebijakan pengembangan UKM. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Komposisi macam ini dinilai aneh bagi sebagian ekonom yang tergabung dalam Tim Indonesia Bangkit (TIB). Terlepas dari isi kebijakannya, bermanfaat apa tidak, komposisi yang cenderung berat sebelah itu kata mereka memperlihatkan justru keberpihakan pemerintah tidak ke sektor riil. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘’Sektor pertanian justru tidak ikut dalam paket, ini membingungkan. Dalam isi tindakan paket juga tidak tercantum pengembangan infrastruktur pertanian, dan sekarang UKM sangat besar di sektor pertanian,’’ kata Revrisond Baswir tak habis pikir. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemerintah bukannya tidak sadar akan hal ini. Di awal-awal penjelasan Boediono saat meluncurkan paket, sudah terucap bahwa paket ini tidak mencantumkan sejumlah kebijakan penting seperti pembangkit listrik tenaga uap 10 ribu megawatt dan kebijakan riil seperti produksi beras maupun minyak goreng. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘’Itu mempunyai langkah aksi tersendiri tapi bagian dari Rencana Kerja Pemerintah (RKP) kita,’’ kelit Boediono. Jawaban seperti ini tentu mengecewakan bagi sebagian pihak. ‘’Itu menandakan bahwa sebetulnya pemerintah mengerti masalah ekonomi saat ini atau tidak?’’ keluh Soni, sapaan Revrisond. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia menilai, seharusnya pemerintah bisa menerbitkan satu paket lagi yang khusus membahas masalah pertanian. Dari hulu hingga hilir. Dari masalah fundamental hingga ke problem riil dilapangan seperti meroketnya harga beras, pembibitan, hingga lonjakan harga minyak goreng. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan komposisi seperti itu, sebenarnya yang ingin dicapai dengan penerbitan paket ini? Dalam penjelasan paket, hanya dua tujuan, yaitu mengurangi pengangguran dan kemiskinan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diharapkan, penerapan paket bisa memacu laju ekonomi riil yang hingga kini masih terseok-seok dan ditopang oleh konsumsi ketimbang investasi riil. Tingkat pengangguran terbuka diklaim bisa turun pada level delapan sampai sembilan persen tahun depan, dari yang tahun ini sebesar 9,76 persen atau 10,5 juta penganggur. Sementara tingkat kemiskinan ingin dikikis dari 17,75 persen tahun lalu menjadi 15 – 16,8 persen tahun depan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bisakah? Tidak ada jawaban yang pasti memang. Tapi Dradjad H Wibowo menilai ada empat kelemahan mendasar di paket ini, terkait tujuan yang dicapai. Pertama adalah konsep paket yang tidak langsung fokus ke pengangguran dan kemiskinan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini tercermin dari tidak terlihat adanya kebijakan yang melindungi industri rumah tangga dan padat karya, termasuk pelaku pasar tradisional. Yang terlihat justru keberpihakan pemerintah terjadap industri padat modal dengan memberikan sejumlah insentif (yang memang sejak lama sudah diminta). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, paket ini tidak disertai kebijakan perombakan birokrasi . Ketiga, paket juga tidak disertai dengan skema investasi yang memadai. Dradjad memberi contoh dari salah satu tindakan yang akan dilakukan, yaitu mempercepat arus ekspor dengan memperluas areal Pelabuhan Tanjung Priok. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam paket justru tidak diatur dari mana investasi perluasan lahan itu Terakhir, dan termasuk yang paling penting, adalah dalam paket tidak ditunjang dengan anggaran yang tidak jelas di APBN, atau non APBN. ‘’Pernyataan kebijakan pemerintah seringkali tidak nyambung dengan anggarannya,’’ cetus Dradjad. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun penuh kekurangan, TIB mengakui bahwa menjamurnya paket-paket sejak tim ekonomi dipimpin Boediono, ada baiknya. Kebijakan yang ada didalam paket, yang dianggap TIB hanya program departemen biasa tanpa terobosan, tetap bisa menjadi pedoman dan instrumen. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang disayangkan adalah, pemerintah tidak dengan tegas dan nyata membuat paket kebijakan tepat sasaran. ‘’Paket – paket tersebut sangat jauh dari cukup untuk dikatakan sebagai sebuah paket kebijakan! Sama sekali tidak menjawab masalah dan hambatan sektor riil seperti infrastruktur, pasokan energi, bahan baku, kredit bank, pendanaan UKM, dan lainnya,’’ tandas ekonom TIB Hendry Saparini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TIB lalu membandingkan isi paket yang dinilai hanya kegiatan rutin birokrasi ini dengan sejumlah paket tegas dan tepat sasaran. Paket itu adalah Paket Deregulasi Finansial Oktober 1988 yang memperbolehkan membuka bank dengan syarat minimal Rp 10 miliar, atau Paket Januari 1987 yang mengatur penetapan tarif impor. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Direktur Indef, Fadhil Hasan, menambahkan, pemerintah bahkan tidak menegaskan apa-apa saja kebijakan prioritas mereka dalam paket kali ini. ''Paketnya tidak fokus, terlalu luas, dan tidak menyentuh masalah penting,'' nilai Fadhil. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menko Perekonomian, Boediono, menerima kritikan berbagai pihak terkait paket kebijakan terlawas yang diterbitkan pemerintah. Namun ia meminta berbagai pihak, dan pemerintah, untuk sabar, sebab dampak dari paket itu jangka panjang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Kritik itu saya pikir bagus, karena ini iklim demokrasi, jadi ini bagus. Tapi kita akan perbaiki dari sisi yang memang perlu diperbaiki,'' kata Boediono. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia menilai, dalam menjalankan kebijakan ekonominya pemerintah harus konsisten. Termasuk meletakkan dasar ekonomi dengan menerbitkan sejumlah paket kebijakan yang dampaknya memang tidak hanya jangka pendek tapi juga jangka panjang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Dampaknya ini sangat panjang terkait dengan landasan-landasan seperti perbaikan perizinan dan ini sekaligus tidak akan menarik berbondong-bondong investor ke Indonesia pekan berikutnya. Harus sabar nih,'' katanya lagi.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5688052063213088371-6268936302588399021?l=setanmartabak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://setanmartabak.blogspot.com/feeds/6268936302588399021/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5688052063213088371&amp;postID=6268936302588399021' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5688052063213088371/posts/default/6268936302588399021'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5688052063213088371/posts/default/6268936302588399021'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://setanmartabak.blogspot.com/2007/06/harap-harap-sabar-paket-baru.html' title='Harap – Harap Sabar Paket Baru'/><author><name>evy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04100470962692008262</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5688052063213088371.post-900658680956881468</id><published>2007-06-06T18:53:00.000+07:00</published><updated>2007-06-06T18:59:33.146+07:00</updated><title type='text'>Gie dan Menariknya Target Ekonomi 2008</title><content type='html'>Lima bulan sebelum menghembuskan nafas terakhirnya di puncak Gunung Semeru, Jawa Timur, Desember 1969, Soe Hok Gie sempat menulis di salah satu koran nasional. Tulisan Gie, begitu ia biasa disapa, menyoroti soal perjalanan Indonesia orde baru, dibawah kendali Presiden Soeharto yang baru berkuasa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artikel pengajar jurusan sejarah FSUI yang juga dikenal sebagai aktivisi penggerak gerakan mahasiswa 1966 itu dimuat pada 16 Juli 1969, judulnya ''Betapa Tak Menariknya Pemerintah Sekarang?''. Isi tulisannya, seperti biasa, kritis dan jujur apa adanya. Cerminan diri Gie sendiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut nukilannya,''...Beberapa waktu yang lalu ada seorang teman berkata kepada saya : Saya kira benar. Menjadi Menlu Indonesia sekarang tidak menarik. Kerjanya Cuma berusaha menunda pembayaran utang-utang lama. Atau cari utang-utang baru,''. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''... Ada lagi kejadian yang lain. Waktu itu saya tanya pada teman saya : Adam Malik pergi ke luar negeri lagi ya? Rupanya ada soal gawat lagi yang perlu diselesaikan,''. Tapi teman saya ini seenaknya saja menjawab, ''Apalagi kalau bukan menandatangani kredit baru,'' ketik Gie di mesin tik tuanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia lanjutkan, ''Nama Adam Malik dapat kita ganti dengan nama Emil Salim, Widjojo Nitisastro, Presiden Soeharto, dan seterusnya dan seterusnya. Seolah-olah seluruh usaha diplomasi kita adalah diplomasi cari utang untuk kelangsungan hidup Republik ini yang sudah 24 tahun usianya,''. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''...Pastilah penilaian orang-orang seperti teman saya itu tidak tepat. Ada soal yang berbelit-belit dan menyulitkan. Tapi kesan umum dari 'masyarakat luas' adalah seperti teman saya itu,'' kata Gie, yang juga adik kandung dari sosiolog ternama, Soe Hok Djin alias Arief Budiman. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Intinya, Gie mengkritik pemerintah soal komunikasi kebijakannya. ''Dengan perkataan lain diperlukan suatu mobilisasi sosial. Komunikasi antara penguasa dengan masyarakat luas. Dengan si Badu kuli di Semarang, dengan Tini guru SD di Sumedang, dengan Sersan Siregar di Tapanuli, dengan Rumambi pengusaha di Minahasa, dan A Pioa agen lotto harian di Glodok Jakarta,''. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Agar mereka merasa bahwa cita-cita besar yang dimiliki oleh lapisan atas pemerintah juga adalah cita-cita mereka. Dan mereka diinspirasikan untuk bekerja keras dan berkorban dalam cita-cita besar itu. Tanpa partisipasi sosial dan mobilisasi sosial cita-cita besar itu akan mati kering,''. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang sudah 38 tahun pascatulisan Gie menghias lembaran koran. Tahun 2007 belum juga usai, target-target ekonomi yang diharapkan tahun ini belum juga tercapai, sementara pemerintah sudah mulai sibuk menyusun rencana ekonomi tahun depan. Sasaran ekonomi yang ingin dicapai ada tiga, yaitu pertumbuhan ekonomi, stabilitas ekonomi, dan mengurangi pengangguran dan kemiskinan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejumlah indikator makroekonomi penting yang menjadi tolak ukur sasaran diatas telah disusun dan dibahas bersama parlemen. Namanya juga target, maka dalam rancangan pembangunan ekonomi tahun depan itu angka-angka yang diajukan pemerintah boleh dibilang fantastis (lihat tabel). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa diantara yang cukup penting adalah pertumbuhan ekonomi sebesar 6,6 - 7 persen, tingkat pengangguran 8 - 9 persen, dan tingkat kemiskinan 15 - 16,8 persen. Sejumlah sumber pertumbuhan ekonomi yang penting untuk mencapai target ini adalah konsumsi rumah tangga, konsumsi pemerintah, investasi, dan ekspor-impor. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk konsumsi rumah tangga tahun depan, pemerintah menargetkan bisa tumbuh 5,7 - 6,2 persen atau lebih tinggi dari target tiga tahun terakhir yang hanya di level empat hingga 5,1 persen. Konsumsi rumah tangga adalah komponen terbesar dalam pembentukan Produk Domestik Bruto (PDB) hingga saat ini, lebih dari 50 persen. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemerintah berjanji menjaga ketersediaan pasokan barang dan jasa di sektor riil agar tidak menganggu daya beli masyarakat yang sejauh ini belum juga membaik. Secara khusus, Menkeu Sri Mulyani mengatakan, pemerintah berupaya keras menjaga kestabilan harga komponen tertentu di inflasi seperti tarif dasar listrik, harga BBM, dan tingkat bunga Sertifikat Bank Indonesia (SBI) yang akomodatif di level 7,5 - 8 persen. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sisi konsumsi pemerintah, tahun depan ditargetkan belanja pemerintah tumbuh enam hingga 6,5 persen. Sebagai pendorong belanja ini adalah ditambahnya anggaran Departemen Pekerjaan Umum dan Dephub untuk mengerjakan infrastruktur. Selain itu, pemerintah berencana menaikkan gaji pegawai negeri sipil serta sejumlah program penguatan daya beli masyarakat kecil, terutama di sektor pendidikan dan kesehatan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian investasi. Pemerintah tampaknya gerah juga mengetahui bahwa salah satu penyumbat ekonominya justru datang di sektor terpenting, yaitu investasi. Bagaimana tidak, tahun lalu ketika diharapkan tinggi, investasi justru rontok hanya mencapai level 2,9 persen. Salah satu penyebabnya adalah kenaikan harga BBM di akhir 2005. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal kinerja investasi 2005 masih diatas dua digit, yaitu 10,8 persen. Tahun ini investasi diharap tumbuh 12,3 persen, dengan sejumlah hambatan klasik yang juga dipastikan masih menghadang di tahun depan, ketika target investasinya 14,5 - 18,2 persen. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang kurang dari investasi? Sejak ditukangi oleh Boediono sebagai menko Perekonomian, sudah tiga paket kebijakan ekonomi yang terbit untuk mendongkrak investasi, yaitu paket perbaikan iklim investasi, paket kebijakan infrastruktur, dan paket kebijakan sektor keuangan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sri Mulyani menilai, hal terpenting dari implementasi paket itu adalah koordinasi kebijakan antara pihak Lapangan Banteng (Depkeu dan Kantor Menko Perekonomian) dengan pihak Kebun Sirih alias Bank Indonesia. ''Terjaganya laju inflasi dan stabilitas nilai tukar memungkinkan suku bunga domestik kompetitif, sementara upaya lain dilakukan untuk menjamin arus sumber pembiayaan investasi dan kegiatan dunia usaha ke sektor riil,'' papar Menkeu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejumlah variabel penting investasi adalah meningkatnya laba dunia usaha, impor barang modal, dan kredit investasi di perbankan. Disamping peningkatan defisit APBN 2008 yang diperkirakan mencapai 1,8 persen serta belanja modal pemerintah yang diharap bisa mencapai 90 persen tahun depan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara khusus, Menkeu menantang pemda untuk bisa mengalokasikan 30 persen APBD-nya untuk belanja modal tahun depan. Ini ditambah dengan keyakinan bahwa belanja modal BUMN (capital expenditure) yang bakal mencapai lebih dari Rp 150 triliun tahun bisa menambah laju gerak sektor riil, seperti proyek pembangunan pembangkit listrik tenaga uap10 ribu megawatt dan sejumlah proyek infrastruktur senilai 4,5 miliar dolar AS seperti jalan tol, air bersih, pelabuhan, bandara udara, dan jaringan telekomunikasi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara dari sisi ekspor impor, tahun depan pemerintah menargetkan ekspor tumbuh antara 12 - 13,5 persen dan impor menjadi 17,3 - 19,1 persen. Jauh lebih tinggi dari target tahun ini, ekspor 9,9 persen dan impor 14,2 persen. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah mendapat rezeki durian runtuh dari lonjakan harga komoditas tahun lalu, yang membuat ekspor menembus 100 miliar dolar AS per tahun, tahun depan pemerintah berharap ekspor manufaktur bisa menjadi yang terdepan. Target pertumbuhan sektor pengolahan ini adalah 13 persen dari rata-rata saat ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkait impor, diharapkan impor yang mendongkrak investasi makin besar dengan membaiknya ekonomi dan harmonisasi tarif bea masuk melalui MFN (most favor nation) maupun FTA (free trade area) dengan sejumlah mitra dagang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mobilisasi Sumber Daya &lt;br /&gt;Tapi 2006 menjadi bukti bahwa rencana diatas kertas tidaklah semulus ketika diterapkan dilapangan. Contoh sederhana adalah dari tiga paket kebijakan ekonomi yang diterbitkan. Paket investasi memang sebagian besar tuntas, paket infrastruktur lebih parah, karena banyak yang tak kunjung selesai, sementara paket keuangan lebih baik nasibnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi itu baru di level perumusan dan mengeluarkan kebijakan. Penerapan di lapangan, seperti apa yang disampaikan sejumlah pengamat ekonomi yang didaulat jadi pemantau pelaksanaan paket di lapangan, masih jauh panggang dari api. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Salah satu hambatan terbesar ekonomi kita memang adalah implementasi paket kebijakan,'' keluh Menko Perekonomian, Boediono, suatu ketika. Ekonom UI, Faisal Basri , sempat mengatakan, masalah komunikasi dan sosialisasi (masalah klise) penerapan kebijakan ekonomi masih terus terjadi di lapangan. Ketika suatu kebijakan telah ditetapkan di level atas, penerapan di lapangan tidaklah seperti membalikkan telapak tangan. Penuh lika-liku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Masalahnya masih klise, komunikasi dan sosialisasi. Pemerintah harus lebih meningkatkan dua hal ini di lapangan, karena ini masalah yang kami temukan di daerah-daerah,'' kata Faisal Basri, usai bertemu Menko Perekonomian, mengevaluasi kinerja penerapan paket investasi beberapa waktu lalu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gie telah mengetahui, memerhatikan, dan memberitahu hal ini, 38 tahun lalu. ''Diperlukan suatu mobilisasi sosial. Komunikasi antara penguasa dengan masyarakat luas,'' katanya. Tapi ucapan tidaklah sesukar tindakan. Karena hingga kini toh kita masih harus mengalami hal yang sama dari 38 tahun yang lalu, kurang komunikasi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Semua ini adalah pekerjaan raksasa dan bukan mustahil hanya sekedar kasak-kusuk anggota DPR - istana negara - dan partai politik. Seluruh potensi sosial harus diikutsertakan,'' katanya lagi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Jauh lebih mudah membuat sebuah monumen dengan emas di pucuknya daripada membuat dan memperbaiki seribu kilometer jalan raya. Jauh lebih mudah membuat universitas di Kalimantan daripada membangun 100 SD di desa-desa,'' keluh pemuda yang punya hobi naik gunung ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Usaha Adam Malik mencari kredit baru, menunda pembayaran utang-utang adalah bagian permulaan daripada usaha besar. Tetapi apakah pemuda lulusan SMP di Wonosobo menyadari soal ini?'' cetus Gie. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlalu Tinggi &lt;br /&gt;Terlepas dari masalah komunikasi kebijakan, angka-angka fantastis yang diinginkan pemerintah juga mendapat perhatian serius dari BI dan parlemen. Keduanya memandang sejumlah target ekonomi pemerintah terlalu tinggi atau bahkan mengawang-awang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai misal adalah pentingnya peran konsumsi rumah tangga sebagai pendorong ekonomi tahun depan. Dari data BI, secara rata-rata, pertumbuhan konsumsi rumah tangga lima tahun terakhir hanya sekitar empat persen. Ini ditambah indikasi daya beli masyarakat yang masih belum pulih. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BI mengambil data seperti rasio tabungan terhadap PDB yang cenderung turun dari 43 persen di 2002 menjadi hanya 37 persen di 2006. Begitu juga rasio utang kredit terhadap disposible income yang sudah cukup tinggi dengan mencapai 37 persen tahun lalu ketimbang lima tahun lalu yang masih di level 22 persen. I&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ndikator selanjutnya adalah tingkat upah riil yang belum meningkat signifikan. ''Sehingga lonjakan kebutuhan konsumsi rumah tangga seperti yang diharapkan oleh pemerintah akan juga merupakan tantangan berat,'' kata Deputi Gubernur Senior BI, Miranda S Goeltom di depan panitia anggaran DPR, pekan lalu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terbatasnya konsumsi, ia lanjutkan, juga terkait dengan daya serap tenaga kerja yang masih rendah, sebagaimana tercermin pengangguran yang masih tinggi dan tenaga kerja informal semakin besar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ekonom senior yang juga anggota Komisi Keuangan dan Perbankan (XI) DPR, Dradjad H Wibowo, menilai dengan laju pertumbuhan ekonomi saat ini yang hanya 5,5 persen, mustahil pemerintah bisa cepat menurunkan pengangguran, apalagi sampai ke level sembilan persen di 2009. Terlebih daya serap tenaga kerja per satu persen ekonomi tumbuh belum juga melonjak seperti sebelum krisis, yaitu 400 ribu orang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paling banter, ia perkirakan saat ini tiap kali satu persen ekonomi tumbuh hanya menyerap kurang dari 250 ribu orang tenaga kerja. Demikian halnya dari sisi investasi. Untuk mencapai batas pertumbuhan ekonomi tujuh persen butuh rasio investasi terhadap PDB sebesar 26 persen. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal beberapa tahun terakhir rasio itu tak pernah lebih dari 19 - 22 persen. ''Jelas rasio 26 persen itu merupakan tantangan. Bukan kita katakan tidak mungkin, tetapi tantangannya cukup besar,'' cetus Miranda. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Kalau kita ingat, pada masa sebelum krisis saja, rata-rata pertumbuhan investasi masih di bawah 25 persen pada saat puncaknya. Kalau rasio investasi 26 persen, tentunya pekerjaan besar ada di depan kita semua. Dan saya kembali menekankan bukan tidak mungkin, tapi pekerjaannya berat sekali,'' sambung dia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu juga dari sisi kontribusi perbankan. Tahun depan pemerintah minta perbankan menyalurkan kredit mencapai Rp 210 triliun untuk membiayai investasi. Jumlah ini sama dengan pertumbuhan kredit tahunan 33 persen, padahal pertumbuhan kredit tertinggi BI hanya 24 persen. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gubernur BI, Burhanuddin Abdullah, mengaku target kredit perbankan yang diminta Menkeu bakal sukar tercapai. ''(Target) itu belum pernah terjadi dalam sejarah kita. Kalau begitu maka saya kira perlu ada penyesuaian sana sini,'' cetus Burhanuddin. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia meminta harus ada tambahan pembiayaan dari tempat lain, seperti dari belanja pemerintah yang ditambah kontribusinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketua Panggar DPR, Emir Moeis, yang datang dari PDIP sebagai partai oposisi pemerintah, meminta pemerintah realistis menetapkan target ekonomi tahun depan. ''Lebih baik kita realistislah. Jadi ekonomi kita ekonomi yang wajar saja. Jangan mengejar pencitraan, bahaya,'' celetuk Emir usai mendengar paparan target ekonomi itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Target investasi tahun depan sebesar Rp 1.296,1 triliun sebagai contohnya. Kata Emir, percuma menargetkan investasi tinggi tapi daya beli riil masyarakat belum pulih benar. ''Kalau daya beli belum ada, maka pasar belum terbentuk. Kalau pasar belum terbentuk mana ada orang bisa produksi, artinya, buat apa orang investasi?'' cetus dia lagi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai penutup, Gie memungkas tulisannya dan tulisan ini dengan tepat. ''Sampai saat ini kesan saya adalah bahwa rakyat Indonesia acuh tak acuh terhadap rencana besar ini. Hampir tak ada komunikasi yang dimengerti masyarakat umum, dan pemerintah terlalu pragmatis sekarang pada akhirnya gagal menumbuhkan gairah dan sokongan kerja rakyat,''.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5688052063213088371-900658680956881468?l=setanmartabak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://setanmartabak.blogspot.com/feeds/900658680956881468/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5688052063213088371&amp;postID=900658680956881468' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5688052063213088371/posts/default/900658680956881468'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5688052063213088371/posts/default/900658680956881468'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://setanmartabak.blogspot.com/2007/06/gie-dan-menariknya-target-ekonomi-2008.html' title='Gie dan Menariknya Target Ekonomi 2008'/><author><name>evy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04100470962692008262</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5688052063213088371.post-3913224364107342678</id><published>2007-05-27T20:45:00.000+07:00</published><updated>2007-05-27T20:48:38.002+07:00</updated><title type='text'>Abun dan Tiga Kali Sehari</title><content type='html'>Lima tahun lalu Abun masih pemuda tanpa pekerjaan di kampungnya, yang dilintasi sungai Citarik. Sebelum akhirnya ia direkrut oleh perusahaan operator arung jeram, Kaki Langit, untuk menjadi pemandu perahu (skipper). Pria berkulit cokelat terbakar ini lantas digojlok tiga bulan penuh menyusuri Citarik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘’Dalam sepekan hanya sehari di darat, sisanya di sungai terus,’’ tutur Abun yang mengaku belum pernah menjajal jeram di luar Jawa Barat. Pelajaran awal yang ia dapat adalah terbalik dan tenggelam. Tiap hari perahu akan ditabrakkan dengan sengaja untuk melihat kesigapan calon pemandu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama latihan praktek memandu, Abun membawa penumpang kawan-kawannya dari kampung setempat. Dan ia memandu tanpa ditemani pemandu senior. Kini lima tahun sudah bermain air di Citarik, Abun tetap sibuk membawa penumpang kota yang ingin arung jeram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari situs Federasi Arung Jeram Indonesia (FAJI) dikutip, arung jeram sebenarnya aktivitas rutin masyarakat asli, terutama di Kalimantan, oleh suku Dayak. Di negeri Paman Sam, arung jeram sebagai olah raga dipelopori oleh Mayor John Wisley, seorang ilmuwan yang memimpin sebuah ekspedisi di sepanjang Sungai Colorado, pada 1860-an. Perahu yang digunakanya terbuat dari kayu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di akhir abad XIX, seorang ilmuwan bangsa Belanda memimpin ekspedisi menyusuri sungai Kapuas dan Mahakam di Kalimantan yang juga berjeram, dengan menggunakan perahu kayu suku Dayak. Perjalanan ini menempuh waktu hampir satu tahun. Ketika 1994 rute perjalanan ini ditapaktilasi kembali, dengan perahu boat bermotor, diperlukan waktu 44 hari untuk mengarunginya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di awal 1970-an arung jeram sebagai olahraga dikenal dengan istilah olah raga arus deras (ORAD). Dipelopori oleh rekan-rekan pecinta alam dari Bandung dan Jakarta, olah raga ini kemudian menjadi salah satu olah raga petualangan yang paling diminati para pecinta alam. Pada tahun 1975, salah satu kelompok pencinta alam menggelar Citarum Rally .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk sungai Citarik, saat ini ada tiga operator arung jeram dari awalnya empat. Yang pertama adalah BJ’s yang merupakan cabang perusahaan operator dari Bali. Baru kemudian berturut-turut Arus Liar, Ardis dan Selaras Kaki Langit. Pernah ada operator Citra tetapi sudah tutup. Kini di Citarik tinggal BJ’s, Arus Liar, dan Kaki Langit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Umumnya, arung jeram di Citarik ramai ketika akhir pekan dan hari libur. Kalau hari kerja, dipastikan ia sepi, kecuali memang ada acara khusus dari suatu perusahaan. Peserta yang datang pun tidak hanya dari Jakarta, tapi juga berbagai kota besar di Jawa Barat.Tamu pun tak hanya orang dewasa, anak-anak sekolah dasar pun bisa menikmati olahraga menantang ini. ‘’Kalau membawa anak-anak, pemandunya harus dua, agar aman,’’ kata Abun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila hari libur datang, kesibukan Abun dipastikan bertambah. Dalam sehari, ia bisa tiga kali memandu perahu. Tak jarang dua hari berturut-turut ia menjadi skipper. ‘’Kalau sudah begitu, badan terasa rontok, pulang ke rumah langsung tidur, besok langsung kerja lagi,’’ katanya dengan logat Sunda yang kental.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah yang kulihat setelah kembali ke basecamp Kaki Langit. Belum satu jam istirahat, Abun sudah siap-siap kembali memandu sejumlah peserta. Ia hanya tersenyum ketika melihatku turun dari basecamp menghampirinya. Hari ini, ia ibarat minum obat resep obat. ‘’Masih ada dua kali lagi,’’katanya sambil nyengir. Jam ditangan sudah menunjukkan pukul 14.00 WIB.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5688052063213088371-3913224364107342678?l=setanmartabak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://setanmartabak.blogspot.com/feeds/3913224364107342678/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5688052063213088371&amp;postID=3913224364107342678' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5688052063213088371/posts/default/3913224364107342678'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5688052063213088371/posts/default/3913224364107342678'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://setanmartabak.blogspot.com/2007/05/abun-dan-tiga-kali-sehari.html' title='Abun dan Tiga Kali Sehari'/><author><name>evy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04100470962692008262</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5688052063213088371.post-2310991832085091153</id><published>2007-05-27T20:22:00.000+07:00</published><updated>2007-05-27T20:38:35.924+07:00</updated><title type='text'>Menjajal Arus Citarik</title><content type='html'>Belum lima menit di dalam  perahu, sungai Citarik yang membelah Kecamatan Cikidang, Sukabumi, sudah menghantarkan jeramnya menghentakkan kami. Perahu karet warna biru yang ditumpangi aku, Dewi, Andri, Robiyah, Deri, dan pemandu perahu (skipper) bernama Abun, terguncang-guncang. Terseret arus deras melewati bebatuan cadas berukuran cukup besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami kontan langsung berteriak, ''Waaa...yeaaahh..,'' senang. Sementara Abun, yang duduk di bagian paling belakang perahu, sudah mulai memberikan aba-aba. ''Majuuu...'' teriak dia. Kami pun mendayung maju sekuat tenaga. Melewati sejumlah jeram kecil dan batu kali berukuran sedang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagian dasar perahu sempat menyentuh batu cukup besar sehingga posisi perahu berputar. Abun kini berada di depan. Pandangan kami justru membelakangi arus sungai. Secepat kilat Abun kembali berteriak, ''Munduuuuurr...''.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka 10 lengan kembali mengayuh dayung dalam posisi kayuhan ke belakang. Tapi yang terjadi malah salah arah. Arus masih deras menyeret perahu sementara awak perahu salah koordinasi. Abun berteriak mundur, sebagian dari kami malah mendayung maju. Jadilah perahu kembali berputar-putar, terbawa arus tidak dengan posisi lurus ke depan, melainkan melintang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abun kembali berteriak, ''Stoooopp,'', ia meminta kami berhenti mendayung. Meletakkan tongkat sepanjang sekitar 150 cm itu diatas paha. Sementara Abun tetap berusaha mengarahkan perahu dengan benar. Sepersekian detik kemudian, Abun kembali dengan aba-abanya yang akan terus kami    dengar selama dua jam mendatang. ''Majuuuu....munduuuurrr...stoooopp''.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sabtu (12/5) siang itu, matahari tertutup awan di atas sungai Citarik yang berwarna hijau kecoklatan. Udara terasa sejuk di tengah sungai selebar sekitar 20 meter itu. Sudah dua hari hujan tak turun di sekitar Citarik. Membuat arus sungai tak begitu deras dan jeram tak terlalu seram bagi kami yang baru menjajal arung jeram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ajakan berpetualang merasakan arus liar di sungai Citarik datang sepekan sebelumnya dari seorang kawan yang bekerja di salah satu bank BUMN terbesar di Indonesia. Melepas kejenuhan menjadi alasannya. Berhubung belum pernah mencicipi menjadi anak sungai, tawaran itu diterima. Kami berangkat dari kantor pusat bank yang terletak di bilangan Gatot Subroto, Jaksel, itu Sabtu pagi dengan rombongan besar, delapan mobil dengan total peserta 48 orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjalanan dari Jakarta - Citarik memakan waktu lebih dari dua jam. Iring-iringan mobil masuk ke tol arah Ciawi dan keluar di gerbang tol arah Sukabumi. Romongan terus menanjak di jalan raya sampai ke belokan arah kiri, Cikidang, daerah tepat di kaki Gunung Halimun. Kami masuk ke areal perkebunan kelapa sawit dan teh milik PT Perkebunan Nusantara VIII.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sepanjang jalan berkelok-kelok yang dibuat dipunggungan bukit, ribuan pohon kelapa sawit terhampar di kanan - kiri jalan. Bukitnya sendiri bergelombang, mirip lokasi shooting film seri anak-anak, Teletubbies.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejenak, hamparan kelapa sawit yang merunduk ibarat landak itu berganti rupa menjadi perkebunan teh. Selepas perkebunan teh kami memasuki perkebunan karet. Jajaran rapi pohon karet yang tengah disadap menjadi pemandangan yang sedikit membosankan. Pohonnya tinggi-tinggi dan monoton.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alur arung jeram di sungai Citarik ada bermacam-macam, meski hanya di satu jalur. Mulai dari yang pendek hingga berakhir di pantai selatan atau di Pelabuhan Ratu. Paket arung jeram yang paling singkat adalah empat kilometer, yang paling jauh bisa sampai 17 kilometer. Dengan operator arung jeram Kaki Langit, kami mengambil rute yang tengah-tengah, yaitu sembilan kilometer. Kata Abun, itu berarti dua jam di perahu, mendayung dan basah kuyup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jeramnya makin ke bawah makin besar dan tajam. Dalam klasifikasi jeram, Citarik masuk ke tingkat III. Saat kami arungi, ketinggian air sungainya 80 cm. Perahu seakan dibawa naik roller coaster. Baru sejenak kami mengambil napas, lepas dari satu jeram yang cukup tinggi, sudah terlihat di depan perahu gulungan jeram lainnya. Bahkan tak jarang jeram itu tidak terlihat, dari depan perahu kami hanya menatap air yang tenang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu tiba-tiba dua meter sebelumnya, arus sungai mulai menarik perahu dengan cepat. Kami di dalamnya seakan ditarik ke depan, sambil tergoyang-goyang. Kaki dengan kuda-kuda yang kuat harus diselipkan diantara bantalan perahu. Bila tidak, bisa terpental kami dari perahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau sudah begini, Abun pun berteriak, ''Majuuuuu...''. Dengan dua kali kayuhan, mendekati jeram dan bebatuan yang sebesar ban truk peti kemas, Abun kembali berseru, ''Stooop,''. Dari belakang, ia kendalikan arah perahu agar tidak menabrak batu dan melintasi jeram dengan mulus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perahu pun turun membelah muka sungai dengan cepat. Bila jeramnya cukup tinggi, sekitar 50 cm, maka perahu bisa membentuk hurup U, terlipat tepat ditengah-tengah. Aku dan Dewi yang bertugas mendayung di depan terangkat ke atas, sementara yang lainnya masih dibawah. Kami pun kembali berteriak-teriak kegirangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Kalau kaya begini, Dufan (Dunia Fantasi Ancol memiliki wahana arung jeram, tapi tanpa perahu) mah ngga ada apa-apanya,'' seru Dewi tertawa senang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Bertemu Biawak&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Di beberapa tempat, air sungai kembali  tenang. Tak ada bebatuan besar, tak ada jeram. Yang ada hanya muka sungai tanpa riak dan dinding tebing berwarna cokelat kehijauan di sisi kiri dan kanan sungai. Kadang, dinding tebing itu dipahat oleh alam dengan indah, menyerupai kulit salak, bertumpuk-tumpuk. Sulur akar dari atas tebing turun hingga ke permukaan sungai. Sering Abun berpegangan ke sulur akar ini untuk mengendalikan perahu dengan mudah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tempat arus tenang seperti inilah kami bertemu 'sobat' reptil purba, biawak. Binatang melata mirip Komodo, namun lebih kecil, itu berenang menyusur pinggiran sungai. Tepat di sisi kanan perahu kami. Badannya bersisik warna hijau dan kuning. Kepalanya menyembul di atas air dengan lidah menjulur-julur. Biawak itu panjangnya sekitar 70 cm.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abun, tanpa takut, sengaja hendak mengarahkan perahu kami ke dekat hewan yang hidup di dua alam itu. Ia percikkan air ke arahnya untuk memancing reaksi. Kontan penumpang perempuan protes dan berteriak-teriak. ''Buuun...ketengahin perahunya, jangan ganggu biawaknya, nanti dia malah nyamperin lagi,'' protes Robiyah. Tanpa dikomandoi, Robiyah mulai mendayung sendiri, kami berlima tertawa melihatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain bertemu biawak, kalau muka sungai tanpa jeram, laju perahu dihentikan sejenak. Abun mempersilahkan kami mencoba pelampung. ''Ayo terjun, coba pelampungnya, nanti ngambang,'' kata pria yang sudah lima tahun main air jadi pemandu arung jeram di Citarik ini. Tawaran itu disambut Deri, Robiyah, dan Andri dengan antusias. Mereka segera terjun dari perahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dewi dan aku tinggal di atas. Dewi merasa lebih aman di perahu, sedangkan aku malas merepotkan orang lain. Maklum dengan tubuh tersubur diantara yang lain, mengangkatku butuh tenaga ekstra, bisa-bisa perahu kami terbalik gara-gara operasi penarikanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menarik rekan yang berada di dalam air, butuh teknik tersendiri. Pertama jangan menarik lengannya, karena licin. Jangan juga menarik bajunya karena bisa tercekik. Tariklah bagian bahu pelampungnya. Posisi orang pun harus berhadapan dengan si penarik. Jangan membelakangi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Terbalik di Citarik&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Sejak awal duduk di perahu, Andri sudah meminta Abun mengajarkan kami bagaimana caranya membalik perahu sendiri. ‘’Bun, ajarin balikkin perahunya dong,’’ kata dia. Abun tidak menjawab. Pria bertubuh kecil namun berotot itu hanya tersenyum kecil. Tampaknya ia tahu betul kami tak perlu membalik sendiri perahu sepanjang enam meter itu, alam akan menjungkirkannya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah yang terjadi ketika perahu kami memasuki jeram yang dijuluki jeram zig-zag. Jeram zig-zag padahal tidak begitu dalam atau curam. Ia dikelilingi oleh sejumlah jeram kecil yang hampir sejajar. Batu-batu kali pun tak seberapa besar. Namun letaknya hampir diujung kelokan sungai yang memang menurun. Sehingga arus air dengan deras mengalir ke kelokan itu. Membawa perahu kami dengan cepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekitar 10 meter sebelum jeram zig-zag, Abun makin sibuk dengan komandonya. ‘’Majuuu....stooop...,’’ teriaknya. Tangan kami mulai pegal mendayung. Lengan terasa berdenyut-denyut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perahu sempat berputar-putar dan posisinya melintang sebelum akhirnya kembali ke posisi normal. Lajunya makin cepat. Sekitar lima meter sebelum jeram zig-zag, Abun kembali berteriak ‘’Majuuuuu....,’’. Baru dua kali mengayuh Abun meminta kami berhenti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perahu meluncur cepat ke arah sebuah batu yang cukup besar. Sedianya Abun bisa mengendalikan perahu sehingga melewati batu itu ke arah kiri. Namun di depan perahu kami ada perahu lain yang sempat tersangkut. Abun terpaksa mengerem laju dengan mengarahkan perahu ke kanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akibatnya  fatal. Dengan kecepatan penuh perahu kami meluncur menghampiri batu itu. Arahnya tidak bisa dikendalikan. Teriakan kami bercampur dengan gemuruh air yang melintasi jeram. Perahu menabrak batu dan terbalik, terus terseret ke bawah jeram. Kami berenam terpental ke udara untuk beberapa detik sebelum akhirnya tenggelam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sendiri tak bisa melihat di mana rekan yang lainnya. Tahu-tahu aku sudah di dalam air dan terbawa arus kencang. Sebisa mungkin kuangkat kepalaku untuk bisa menghirup udara. Namun kembali tenggelam ditelan jeram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selintas teringat pesan Abun saat memberi pengarahan singkat sebelum berangkat. Kata dia, kalau kami hanyut posisi badan harus telentang. Mirip gaya punggung. ‘’Diam saja, dan angkat kepala untuk bernapas. Nanti badan akan terapung sendirinya,’’ ujar Abun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah yang aku lakukan. Telentang dan mencoba bernapas normal. Tapi sulit sekali. Jeram dan arus air menenggelamkan kepala. Sementara punggung dan pantat terhantam batu di dasar kali. Malah sempat perahu berada di atas kepalaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai akhirnya secara refleks kakiku mencoba menjejak dasar sungai yang ternyata dangkal. Untung di depanku ada perahu, yang ternyata perahu kami. Aku tubrukkan diri ke perahu itu dan meraihkan tangan ke pinggirannya yang dibalut tali. Tubuhku berhenti terseret dan dengan sekali hentak kucoba untuk bangkit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kulihat teman-temanku hanyut tak jauh dari tempatku berdiri. Deri sudah ditolong oleh perahu pertama yang melintas sebelum kami. Ia tengah diangkat ke perahu. Mukanya pucat. Robiyah dan Andri tak nampak. Dewi masih terseret arus sebelum akhirnya dihentikan Abun yang berhasil menangkapnya dari atas perahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Robiyah ternyata tersangkut didekat perahu pertama. Maka ia pun diangkat, didudukkan dekat Deri. Andri sudah ada diatas perahu bersama Abun. Sejenak, kami semua terdiam, mencoba mengatur napas, mata saling berpandangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak jauh dari perahu kami, dua perahu lainnya hanya bisa menganga dan melihat kawan-kawannya hanyut. Sebelum akhirnya mereka bertepuk tangan.‘’Semangaaattt!!!!!,’’ kata mereka. Akhirnya kami semua tertawa terbahak-bahak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘’Ini pertama kalinya saya terbalik di jeram zig-zag,’’ kata Abun, saat kami berenam sudah kembali duduk di perahu. Dari analisisnya, perahu kami terlambat sepersekian detik untuk bisa belok arah. ‘’Kayuhannya tadi lambat,’’ tutur Abun pelan. Aku merasa bersalah karena kurang cepat mengayuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu, tiap kali melihat jeram cukup besar, kami semua dengan semangat mengayuh. Sempat juga beberapa kali menabrak batu cukup besar, tapi tak sampai terbalik. Dari penjelasan Abun, Citarik memang belum pernah makan korban meninggal, tapi hati ketar-ketir juga bila nanti terbalik kedua kalinya.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai tindakan pengamanan, sepanjang perjalanan memang ada perahu yang khusus ditumpangi oleh tim penyelamat berjumlah lima orang. Mereka biasanya menunggu beberapa meter lebih jauh bila ada jeram yang dianggap cukup berbahaya. Tugasnya menarik peserta yang hanyut. Untung mereka tak melakukan tugas itu kali ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lama setelah kejadian terbalik itu, perjalanan petualangan kami tuntas. Perahu akhirnya menepi dipinggir sungai yang berbatasan dengan ladang dan jembatan, di Desa Citangkolo. Dengan kaki masih gemetar, aku turun dari perahu menuju sebuah saung kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disana peserta lainnya sudah bercengkerama sambil tertawa-tawa. Tak lupa sebutir kelapa muda menemani. Nikmatnya sehabis arung jeram meminum kelapa muda tak bisa dilukiskan. Campur aduk antara segar dan puas. Puas..kami..puas...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5688052063213088371-2310991832085091153?l=setanmartabak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://setanmartabak.blogspot.com/feeds/2310991832085091153/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5688052063213088371&amp;postID=2310991832085091153' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5688052063213088371/posts/default/2310991832085091153'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5688052063213088371/posts/default/2310991832085091153'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://setanmartabak.blogspot.com/2007/05/menjajal-arus-citarik.html' title='Menjajal Arus Citarik'/><author><name>evy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04100470962692008262</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5688052063213088371.post-1643318235751525776</id><published>2007-05-02T19:48:00.000+07:00</published><updated>2007-05-02T19:52:19.134+07:00</updated><title type='text'>Derap Syariah di Jalur Sutera</title><content type='html'>Bagi Syed Alwi bin Mohamed Sultan, jalur sutera yang terbentang dari Asia Barat hingga ke Cina tidak berhenti di tabung waktu. Jalur perdagangan yang dimulai sejak abad kedua sebelum masehi itu  ia percaya terus memperbarui diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barang dagangannya boleh berubah. Dari zamrud, perunggu, wangi-wangian hingga sutera yang dijaja di atas kereta barang yang dihela oleh unta dan kuda. Menjadi surat-surat berharga, kredit investasi, modal kerja, kredit konsumsi, serta produk investasi beraroma syariah Islam yang simpang siur di dunia maya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apalagi dua kawasan penggerak jalur sutera itu sekarang menjadi kawasan paling berpengaruh ke ekonomi dunia. Cina, yang tidak disangka-sangka, kini jadi ‘Harley Davidsonnya’ ekonomi dunia. Negara komunis ini mengalahkan AS dan Jepang dari sisi pertumbuhan ekonomi dan kompetitif industrinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan negara Timur Tengah berkubang harta dari harga emas hitam. Beberapa tahun terakhir harga minyak dunia terus melambung. Bahkan sempat  menyentuh rekor tertingginya dengan hampir mencapai 80 dolar AS per barel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Otomatis warga Arab yang sudah kaya  menjadi makin kaya dan makin bingung. Mereka pusing karena dengan ‘fulus’ sebanyak itu harus membiakkan dananya di mana. Dan Cina menjadi tujuan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Sejarah memiliki cara tersendiri untuk terus berulang. Memasuki Cina mungkin akan meredefinisi pondasi-pondasi sistem keuangan Islami. Ini akan menjadi kelahiran kembali jalur sutera,'' kata Syed Alwi di Kuala Lumpur Islamic Finance Forum akhir tahun lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syed Alwi bekerja di Islamic Banking, Hong Leong Bank Singapura. Ia menjabat sebagai kepala Perbankan Islam. Lewat Cina, Syed Alwi berharap Islam sebagai  sistem ekonomi dan keuangan akan mendunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Jika sistem keuangan Islam mau berkembang pesat dan melibatkan diri dalam kegiatan ekonomi riil yang produktif, Cina adalah jawabannya. Di sana ada kesempatan bagi ekonomi syariah. Tantangan ini harus dijawab pelaku ekonomi syariah,'' tandas dia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soal ekonomi, negeri yang dijuluki Tirai Bambu itu memang jadi gudangnya. Sejumlah indikator ekonomi Cina beberapa tahun belakangan ini mengejutkan siapa pun. Investasi asing meroket dari 15 miliar dolar AS saat tragedi berdarah Tiannanmen di1989 menjadi 633 miliar dolar AS di akhir 2005.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Angka kemiskinan menurun drastis. Bila pada 1981 negara berpenduduk satu miliar jiwa lebih ini memiliki penduduk miskin 53 persen, di akhir 2001 jumlahnya merosot hingga delapan persen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertumbuhan ekonominya fantastis. Per tahun ekonomi Cina bisa tumbuh di atas delapan persen. Barang-barang impor &lt;em&gt;made in&lt;/em&gt; Cina berteberan di mana-mana. Mulai dari DVD di Glodok Jakarta Barat hingga tekstil dan produk tekstil di AS. Paman Sam bahkan merasa perlu mengenakan kuota tekstil ke Cina agar industrinya tidak gulung tikar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘’Angka-angka ekonomi itu mencerminkan beragam kebutuhan masyarakat Cina. Mereka perlu perumahan, pembangkit listrik, transportasi, pangan,’’ papar Syed Alwi. Ia hendak menggambarkan kebutuhan masyarakat Cina itu bisa diakomodir lewat produk keuangan syariah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pintu gerbang produk keuangan syariah itu sebenarnya sudah dibuka. Ini terlihat dari diterbitkannya sukuk sebesar 200 juta dolar AS oleh KFH untuk membiayai pembangkit listrik di Cina ‘’(Sukuk) itu akan menjadi pintu pembuka aliran investasi syariah ke Cina,’’ ujar Syed Alwi optimistis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TantanganTapi memasuki ekonomi Cina tidak semudah yang dikira. Sejumlah hambatan bakal menghadang industri keuangan syariah untuk berkembang di sana. Meski potensi pertumbuhan industri syariah juga sangat besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syed Alwi menggarisbawahi sejumlah risiko untuk berbisnis a la syariah di Cina. Pertama adalah risiko kredit. Masalah kredit seret di perbankan Cina sudah siaga merah. Angka NPL dari 2001 – 2006 saja telah mencapai 215 miliar dolar AS. Reformasi di kebijakan perbankan belum membawa hasil signifikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘’Investor asing harus mewaspadai manajemen bisnis yang buruk oleh pengusaha setempat. Di samping itu, manajemen risiko perbankannya pun sama buruknya,’’ kata dia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua adalah kepastian hukum. Masalah kronis Cina sama dengan di Indonesia, yaitu KKN. Dalam realita, hukum kolusi berdiri di atas hukum yang sebenarnya di Cina. Hal ini ditambah dengan level birokratis yang ruwet dan berjenjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga adalah masalah desentralisasi wewenang kepemerintahan. Bagi sistem keuangan syariah, problem ini sangat mendasar. Pasalnya, hak aset properti sebagai jaminan harus transparan. Aset menjadi landasan transaksi keuangan Islami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara keseluruhan, Syed Alwi menilai tantangan dan hambatan di Cina bisa ditaklukan. Ia beranalogi, ‘’Tantangan dan risiko usaha di Cina saat ini bisa dibilang sama beratnya dengan halangan yang dihadapi para pedagang muslim dahulu kala saat menuju Cina lewat Jalur Sutera. Kalau mereka bisa menaklukan, mengapa sekarang kita tidak?’’ cetus Syed Alwi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Ekspansi ke Luar&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Sistem ekonomi syariah konon diprediksi bakal menjadi arus utama ekonomi dunia. Padahal tadinya banyak pihak, terutama barat, memandang sebelah mata ke syariah. Sekarang mulai dari Eropa, AS, hingga Cina mulai dirambah syariah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Majalah bergengsi asal Inggris, &lt;em&gt;The Economist&lt;/em&gt;, secara khusus membedah prospek industri syariah di edisi Desembernya tahun lalu. Berdasarkan hasil riset lembaga pemeringkat Standard &amp; Poor’s nilai kapitalisasi syariah (dihimpun dari berbagai produk keuangan seperti bank, saham, obligasi, asuransi, derivatif, hipotek) telah mencapai 400 miliar dolar AS.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga tahun terakhir perkembangan industri syariah mencapai rata-rata 15 persen per tahun. ‘’Ekspansi syariah akan meluas sejalan dengan gerak ekonomi kawasan Timur Tengah yang ditopang minyak dan penyesuaian budaya investor asing terhadap sistem syariah,’’ kata &lt;em&gt;The Economist&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski demikian, tetap ada sejumlah tantangan bagi ekspansi syariah. Menurut analis S&amp;amp;P Anouar Hassoune ada lima faktor yang mempengaruhi perkembangan industri syariah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama adalah standarisasi. Banyak negara telah menerapkan (secara penuh atau sebagian) sistem ekonomi syariah. Tapi standarisasi yang berlaku di berbagai negara itu masih berbeda-beda. Satu produk syariah di Malaysia bisa dianggap tidak syariah di Arab Saudi. Persamaan sistem dan standar menjadi pekerjaan rumah pertama yang harus diselesaikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua adalah sinkronisasi standar akuntansi dan laporan keuangan syariah. Ketiga adalah diversifikasi produk. Anouar menilai produk keuangan syariah harus lebih fokus ke konsumen-konsumennya. Terutama produk keuangan derivatif dan terstruktur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat adalah masalah SDM. Satu hal yang menjadi perhatian di sisi SDM adalah kesenjangan penghasilan. Terbatasnya SDM ekonomi syariah konon membuat gaji karyawan itu melesat di atas rata-rata.&lt;br /&gt;Terakhir adalah masalah risiko. Anouar melihat industri syariah harus memperbanyak skema manajemen risikonya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nyaman di DalamTapi tidak semua pihak sepaham dengan Syed Alwi atau liputan The Economist. Bagi sebagian pelaku syariah, mengembangkan diri secara organik (ke dalam) lebih utama ketimbang ekspansi ke luar tapi terburu-buru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Azzam Abaalkhail, CEO dari Bank Al Bilad yang berbasis di Arab Saudi, menyatakan sebaliknya. Dirut bank yang meraup laba bersih mencapai 40 juta dolar AS di semester I 2006 ini berpendapat, justru perbankan Islam terlihat enggan ekspansi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘’Saya belum melihat ada keinginan yang kuat dari perbankan Islam untuk ekspansi ke luar negeri. Terlebih saat potensi domestik masih cukup besar,’’ kata Azzam seperti dikutip dari  wawancara dengan Islamic Business and Finance, Oktober tahun lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski Azzam mengakui ekspansi bisnis perbankan Islam ada di dalam rencana seluruh bankir. Masalahnya adalah kondisi pasar dan waktu yang tepat. ‘’Implementasi ekspansi itu masih lama. Tergantung dari perkembangan pasar yang diincar,’’ tandas Azzam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari dalam negeri pun demikian. Wajah Dirut Bank Muamalat Indonesia, Riawan Amin, kecut saat mendengar rencana ekspansi besar-besaran industri syariah dipaparkan di Kuala Lumpur Islamic Finance Forum akhir tahun lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Riawan yang didaulat sebagai pembicara dalam forum internasional itu menilai rencana ekspansi syariah terlalu muluk. Apalagi sampai ke Eropa atau Cina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa muluk? ‘’Bagi Indonesia hal tersebut terlalu tinggi. Kita semua tahu bagaimana ekonomi syariah di dalam negeri belum terlalu berkembang. Bila di dalam negeri belum terlalu berkembang bagaimana mau melebarkan sayap ke negara orang?’’ tandas Riawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang dikatakan Riawan merujuk kembali ke tantangan pertama yang harus dihadapi industri syariah, seperti yang dipaparkan Anouar Hassoune. Banyak negara mengadopsi sistem ekonomi syariah. Tapi masalahnya ada di standarisasi sistem ekonomi Islam itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian pilihannya menjadi tunggal. Industri syariah di seluruh dunia harus makin memperkuat dirinya sendiri terlebih dulu. Selesaikan tantangan-tantangan standarisasi dan budaya. Gerakan ini bisa dilakukan sembari perlahan-lahan ekspansi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘’Kembangkan dulu syariah di dalam negeri secara maksimal! Hilangkan hambatan-hambatannya! Baru setelah itu kita berbicara di luar,’’ tegas Riawan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5688052063213088371-1643318235751525776?l=setanmartabak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://setanmartabak.blogspot.com/feeds/1643318235751525776/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5688052063213088371&amp;postID=1643318235751525776' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5688052063213088371/posts/default/1643318235751525776'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5688052063213088371/posts/default/1643318235751525776'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://setanmartabak.blogspot.com/2007/05/derap-syariah-di-jalur-sutera.html' title='Derap Syariah di Jalur Sutera'/><author><name>evy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04100470962692008262</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5688052063213088371.post-6810934029600687935</id><published>2007-05-02T19:39:00.000+07:00</published><updated>2007-05-02T19:48:17.431+07:00</updated><title type='text'>Saatnya Menyeberang Jembatan</title><content type='html'>Rasanya sangat jarang ditemui acara yang menampilkan belasan duta besar duduk berderet bersama membicarakan satu hal yang sama. Tapi akhir Januari lalu, peristiwa itu terjadi. Sebanyak 12 duta besar dan dua utusan negara-negara dari Timur Tengah (Timteng) duduk di satu panggung membicarakan soal rencana ekonomi dan investasi mereka ke Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak semua duta besar mendapat kesempatan berbicara secara mendalam. Karena waktunya singkat. Tapi sebagian besar, boleh jadi mewakili pandangan negara Timteng terhadap kesempatan usaha di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu hal yang sangat menonjol dari pandangan mereka adalah informasi soal Indonesia di negara asalnya. Informasi Indonesia menjadi barang penting. Secara gamblang dalam forum itu disampaikan, minimnya informasi sektor-sektor usaha yang berpotensi di Indonesia. Dalam hal ini media menjadi salah satu penyebabnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keterbatasan media membuat investor Timteng hanya mengenal Indonesia lewat gejolak politik dan ketidakpastian. Makanya menjadi mahfum ketika Utusan Khusus Presiden Susilo Bambang Yudhoyono untuk Timteng, Alwi Shihab, kerap ditanya soal masalah politik ketimbang ekonomi oleh investor Timteng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudan salah satu contohnya. Dubes Sudan untuk Indonesia Abdel Ghaffar  mengatakan, negaranya kurang informasi soal Indonesia. Ia mengeluhkan hal ini sebagai hambatan kerja sama ekonomi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘’Kami kurang publikasi soal Indonesia. Terutama soal pasar apa yang bisa dimasuki investor Sudan. Khususnya sektor swasta kami,’’ tandas si duta besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini diamini Dubes Palestina untuk Indonesia, Fariz N Mehdawi. Kata dia, salah satu penghubung terpenting kerja sama dua negara adalah media. Dari media, informasi bisa saling ditukarkan, yang akan berujung ke hubungan niaga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih dari itu, Fariz memandang perlunya rakyat Indonesia dan Palestina lebih mengenal satu sama lain, tidak hanya lewat demonstrasi menentang penjajahan Israel dan AS di Palestina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hubungan lebih langgeng bisa didapat dengan saling menukarkan pelajar dan mahasiswa antara dua negara itu. Lewat medium ini, pengetahuan Indonesia dan Palestina akan tersebar. Kedua negara saling mempelajari bahasa dan adat istiadatnya masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indonesia, kata Dubes Turki Aydn Evergen, harus fokus ke informasi ekonomi seperti pasar, sektor investasi, dan perdagangan untuk disebarkan ke Timteng. Investor Timteng melihat Indonesia sebagai pasar yang sangat potensial dengan lebih dari 200 juta penduduk. Serta sebagai negara  dengan penduduk beragama Islam terbesar di dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘’Kirim delegasi dan profesional-profesional dunia usaha Indonesia ke Turki. Paparkan fokus tersebut di atas, kalau ini dilakukan, kami yakin akan ada peningkatan hubungan ekonomi,’’ cetus Aydn.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia tambahkan, Turki tertarik berinvestasi di sektor konstruksi, agrikultur, pertambangan dan mineral, serta pariwisata di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penghambat investasi lainnya adalah kunjungan misi perdagangan atau kunjungan usaha. Para perwakilan negara Timteng mengeluhkan jarangnya misi dagang Indonesia datang ke negara mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anggota Kadin Indonesia bagian Timteng, Sudrajat, punya kisah nyata terkait hal tersebut berhubungan dengan Algeria. Negara di Afrika Utara ini sebetulnya telah mengadakan hubungan dagang dengan Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kadin Indonesia mencatat ada 15 nota kesepahaman (MoU) yang ditandatangani antara pengusaha Indonesia dan pengusaha Algeria.&lt;br /&gt;Tapi ironisnya, tak ada satu pun pengusaha Indonesia itu yang pernah bertandang ke Algeria. Dan hal ini dikeluhkan langsung oleh Dubes Algeria Hamza Yahia Cherif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena dengan Singapura, yang mana Algeria belum pernah menandatangani MoU ekonomi apapun, pengusaha negeri Singa itu kerap berkunjung ke sana. Begitu juga pengusaha Korsel.&lt;br /&gt;‘’Indonesia punya 15 MoU tapi pengusahanya tidak pernah berkunjung ke Algeria, Singapura tidak punya MoU tapi pengusahanya sering mengunjungi kami. Bahkan Korsel berinvestasi di Algeria saat kondisi negara kami sedang terpuruk, dan mereka sukses,’’ ungkap Hamza.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keluhan itu sudah disampaikan ke Alwi Shihab. Ia akui, selama ini kunjungan misi dagang Indonesia ke negara-negara Timteng jarang dilakukan. ‘’Ada keluhan dari para dubes soal kurangnya kunjungan pejabat dan pengusaha kita ke Timteng,’’ Alwi mengaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara Kadin menilai pengusaha Indonesia kurang serius menggarap pasar Timteng. Ini berefek setara bagi investor Timteng ke Indonesia. ‘’Pengusaha Indonesia jangan membawa hal-hal yang tidak pasti ke Timteng. Kita harus jelas, apakah barang dagangan sudah siap pengiriman, kualitas barangnya, dan bagaimana harganya,’’ ungkap Sudrajat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘’Kadang-kadang pengusaha Indonesia datang ke sana cuma bawa proposal yang //nggak// pasti, kalau ditanya bagaimana, kapan kirim barangnya, tidak tahu pasti,’’ keluh dia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Keunggulan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Data investasi Timteng ke Indonesia memang tidak bersahabat. Hingga Februari 2006, dari 29 negara yang berinvestasi di Indonesia, investor asal Timteng hanya terdiri atas tiga negara, yakni Yaman, Arab Saudi, dan Libia.  Nilai investasi ketiganya pun relatif kecil, Yaman hanya 600 ribu dolar AS, Arab Saudi 500 ribu dolar AS, dan Libia 300 ribu dolar AS.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara dari data perdagangan, menurut Kadin rata-rata per tahun termasuk migas, perdagangan kedua wilayah ini menghasilkan 2,5 miliar dolar AS untuk Indonesia. ‘’Kalau dihitung dengan migas, kita positif. Kalau tidak, negatif. Indonesia lebih banyak jual ke sana daripada beli di sana,’’ papar Sudrajat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perdagangan boleh jadi belum bermasalah, tapi investasi yang minim menjadi perhatian pemerintah. Presiden SBY boleh jadi khawatir melihat rendahnya investasi Timteng ke Indonesia itu. ‘’Sepanjang 2004- 2005 terjadi penurunan investasi Timteng  ke Indonesia dari sekitar tiga miliar dolar AS menjadi dua miliar dolar AS,’’ kata  presiden di atas pesawat menuju ke Timteng tahun lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan Menneg BUMN Sugiharto optimistis Indonesia bisa meraup dana Timteng. Dengan membawa rombongan BUMN-nya, Sugiharto menerawang angka delapan miliar dolar AS bisa masuk ke Indonesia dari Timteng. Dana itu akan masuk lewat sukuk (obligasi syariah), maupun lewat proyek yang melibatkan BUMN.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi sebelum menjaring investor, Indonesia perlu berkaca soal keunggulannya menjadi tempat berinvestasi ketimbang negara lain di Asia Tenggara. Terhadap pertanyaan ini, Alwi Shihab optimistis. Keunggulan Indonesia nomor satu, kata dia, adalah melimpahnya sumber daya alam yang bisa dijadikan bahan baku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indonesia dipercaya bisa merebut kedigdayaan produsen CPO dari Malaysia tahun ini. Kemudian, Indonesia juga negara penghasil kokoa terbesar ketiga di dunia dan penghasil kopi terbesar di dunia keempat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daftar ini masih bisa ditambah dengan negara pengekspor batubara terbanyak, negara ketiga di dunia terbesar penghasil tembaga. Lalu menduduki peringkat lima dunia untuk penghasil timah, dan di atas semua itu, Indonesia masih menyimpan potensi luar biasadi bidang gas alam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah bahan baku, keunggulan Indonesia lainnya adalah biaya operasional usaha yang relatif lebih rendah, pasar yang sangat potensial dengan 220 juta lebih penduduk, murahnya tenaga kerja lokal, dan stabilitas ekonomi dan politik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘’Kita menyiapkan paling tidak &lt;em&gt;executive summary&lt;/em&gt; (ringkasan eksekutif soal proyek yang bisa diinvestasikan) agar mereka melihat potensi (Indonesia). Jadi, kita harus rajin mempersiapkan, paling tidak proposal,’’ kata Alwi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Kelemahan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Salah Saeed, pengusaha dari firma Hayel Saeed Anam Group, telah berinvestasi di Indonesia sejak 1998. Mungkin bisa dibilang aneh, pasalnya firma asal Yaman ini masuk ke Indonesia dan Malaysia saat Asia Tenggara tengah dihantam krisis. Tapi buktinya mereka terus berinvestasi dan ekspansi hingga kini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama sembilan tahun berinvestasi bidang kelapa sawit, galangan kapal, dan barang-barang konsumen, Salah punya beberapa keluhan soal Indonesia. Pertama soal insentif pajak. Menurut dia, investor menunggu adanya &lt;em&gt;tax holiday&lt;/em&gt; dari pemerintah dan rasionalisasi serta penyederhanaan UU Pajak saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keluhan kedua adalah soal restitusi (pengembalian) PPN ekspor oleh Ditjen Pajak. Salah mengeluhkan lambannya Ditjen Pajak merestitusi usahanya. Akibatnya, dana untuk modal usaha dan ekspansi menjadi minim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘’Kami berharap restitusi itu tiga bulan, itu &lt;em&gt;reasonable&lt;/em&gt;. Maksimum! Karena ini menghambat modal kerja, sekitar 10 persen dari modal kerja lari ke pembayaran restitusi PPN,’’ keluh Salah. Selama ini ia menerima restitusi dari Ditjen Pajak antara enam hingga 12 bulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tingginya suku bunga kredit menjadi keluhan lanjutan dari Salah Saeed. ‘’Tingkat bunga kredit di Indonesia termasuk yang tertinggi di kawasan Asia Tenggara,’’ cetus Salah.  Selain itu, menurut dia, pascakrisis ekonomi di Indonesia perbankan terlihat terlalu berhati-hati mengucurkan kredit ke sektor riil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keluhan terakhir adalah soal tenaga kerja. Menurut Salah, keputusan soal UU Tenaga Kerja harus segera diputuskan pemerintah dan DPR. Secara khusus Salah meminta agar UU Tenaga Kerja yang akan berlaku nanti saling menguntungkan bagi pekerja dan pengusaha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Menyeberang Jembatan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Alwi Shihab enggan menyebut total angka pasti investasi Timteng yang bakal masuk ke Indonesia sejak ia menjabat sebagai utusan khusus. ‘’Kalau angka, sulit untuk saya prediksi. Tapi yang jelas, ada proyek-proyek yang betul-betul serius dibicarakan,’’ kata Alwi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejumlah proyek itu antara lain melibatkan BUMN Krakatau Steel dan PT Pupuk Sriwijaya dengan Turki dan Iran. Jumlahnya pun ratusan juta dolar AS. Ini belum termasuk minat serius membangun pariwisata di Lombok dan perbankan Timteng yang akan membeli bank lokal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setahun melobi di Timteng memang masih waktu yang singkat. Tapi melihat sejumlah rencana investasi tersebut, Indonesia bisa bernafas lega. Pasalnya investasi memang sangat dibutuhkan. Terlebih ketika Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan data investasi yang anjlok hanya 2,9 persen tahun lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Investasi, salah satunya dari Timteng, bisa jadi pertaruhan pemerintah tahun ini. Meski untuk mewujudkan hal itu banyak pekerjaan rumah yang harus dilakukan dengan cepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menggambarkan hubungan Timteng – Indonesia soal investasi ini, Dubes Algeria punya analogi yang sangat tepat. Menurut dia, Indonesia dan Timteng ibarat berdiri diam di dua tebing curam. Padahal dua tebing itu dihubungkan oleh jembatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘’Saat ini adalah waktu yang tepat bagi Indonesia dan Timteng bertemu dan menyeberangi jembatan itu,’’ kata Hamza.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5688052063213088371-6810934029600687935?l=setanmartabak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://setanmartabak.blogspot.com/feeds/6810934029600687935/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5688052063213088371&amp;postID=6810934029600687935' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5688052063213088371/posts/default/6810934029600687935'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5688052063213088371/posts/default/6810934029600687935'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://setanmartabak.blogspot.com/2007/05/saatnya-menyeberang-jembatan.html' title='Saatnya Menyeberang Jembatan'/><author><name>evy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04100470962692008262</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5688052063213088371.post-374227790252155466</id><published>2007-05-02T19:25:00.000+07:00</published><updated>2007-05-02T19:34:32.251+07:00</updated><title type='text'>Kembali ke Khittah</title><content type='html'>Gubernur Bank Indonesia, Burhanuddin Abdullah, berjalan tergesa-gesa di lobi Hotel Shangrila, Senin (23/3) pagi. Ia hendak keluar. Mengenakan kemeja putih berbalut jas hitam, laju gubernur dikawal banyak orang. Ada pengawal dari BI yang berbadan tegap dan kekar, ada juga para bankir lokal maupun asing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelumnya, Burhanuddin memberikan sambutan selama sekitar 10 menit, di hadapan 600 bankir yang menghadiri The Asian Banker Summit 2007.  Apa tujuan diadakan pertemuan itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Burhanuddin menjawab, ''Bagaimana mengembalikan industri bank ke khittahnya, ke tugasnya yang sebenar-benarnya, yaitu posisi intermediasi kegiatan ekonomi. Bukan hanya di Indonesia tapi juga di negara lain yang mengalami krisis ekonomi yang sama, isu intermediasi ini jadi sesuatu yang penting,''.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Sejarah Bank&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Uniknya, sejarah bank modern di Eropa justru tidak diawali dari kegiatan memberi kredit. Praktek bank diawal-awal hanya untuk menyimpan dan mengantar uang atau barang berharga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam bukunya yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, Sejarah Uang (2005), Jack Weatherford menuturkan sejarah bank modern berawal di Palestina, abad ke-12. Situasi saat itu masih kisruh. Perang Salib masih berkecamuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Darussalam (Yerusalem) terus menerus digempur berbagai pihak. Puluhan ribu korban jiwa berjatuhan. Tapi ditengah kekacauan itu para peziarah, pemeluk berbagai agama samawi, membanjiri Yerusalem bak air bah. Mereka dikawal oleh penjaga yang disebut Ksatria Templar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai imbalannya, para ksatria mendapat hadiah atau pembayaran berupa uang, emas, tanah, atau perhiasan. Lama kelamaan, karena makin banyak yang berziarah, tumpukkan hadiah itu makin membukit. Barang-barang itu lantas disimpan di puri atau benteng tempat markas para ksatria, di Eropa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena dianggap aman, ksatria Templar berjubah putih dengan baju zirah dilarang menikmati sepeser pun hadiah untuk kepentingan pribadinya, maka raja-raja Prancis pun menitipkan hartanya di benteng. Atas titipan ini dikutiplah biaya yang nantinya mengalir ke kas gereja mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Praktek tersebut secara tidak langsung akhirnya ditiru dan berkembang ke berbagai daerah. Italia termasuk yang pertama menerapkannya. Bedanya, kegiatan simpan menyimpan di Italia murni bisnis dan melayani segala lapisan masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para saudagar Italia berkeliling mendatangi tiap pasar dan pekan raya di seluruh Eropa. Mereka menggelar meja dan bangku-bangku yang besar untuk kegiatan menukar uang, menjual dagangan, memberi kredit, mengurusi uang yang bakal dibawa sebagai pembayaran utang seseorang ditempat lain, dan berbagai macam layanan keuangan lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata modern bank pun diambil dari cara saudagar Italia itu menjalankan bisnisnya. Kata bank diturunkan dari kata yang berarti meja atau bangku. Perabot yang sangat penting dalam bisnis keuangan. Dari bahasa Italia, kata itu berkembang menjadi bank, banco, dan banque, serta menyebar ke wilayah Eropa lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Tak Kunjung Mengalir&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Tentu ada sejumlah alasan yang mendasari komentar Gubernur BI itu. Di sini, paling tidak kita bisa membahas secara ringkas beberapa indikator sederhananya seperti indikator rasio simpanan terhadap pemberian kredit (LDR).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini rasio LDR nasional masih sekitar 64 persen. Jauh dibawah rata-rata LDR sebelum krisis ekonomi 10 tahun lalu yang sekitar 70 persen. Hingga akhir 2008, bank sentral menargetkan LDR mencapai 68 persen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang ingin digambarkan rasio LDR? Yaitu masih banyak dana masyarakat yang belum dikucurkan jadi kredit. Dari total dana pihak ketiga hingga Desember 2006 sebesar Rp 1.287 triliun, baru 64 persen yang mengalir dalam bentuk kredit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Angka ini, menurut berbagai pihak, terlalu rendah untuk sebuah angka rata-rata nasional. Mengingat sejumlah bank yang fokus ke UMKM memiliki LDR di atas 70 persen. Dan di masa sebelum krisis ekonomi LDR kita juga di atas 70 persen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indikator selanjutnya yang bisa dilihat adalah pertumbuhan kredit. Benar bahwa kredit tumbuh tiap tahun makin besar. Tapi yang jadi masalah apakah itu cukup? Tidak. Pelaku sektor riil masih berteriak bahwa bank perlu lebih gencar lagi memberi kredit. Tak hanya konsumsi, tapi juga kredit modal kerja atau investasi atau ritel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun ini kredit ditargetkan tumbuh 17 persen dari total kredit 2006 yang sebesar Rp 792 trliun. Angka 17 persen adalah angka moderat. Mengingat pada 2005 kredit sempat tumbuh 20an persen lalu anjlok hanya tumbuh 14 persen tahun lalu. Tapi belum apa-apa, kredit Januari sudah turun Rp 15,5 triliun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indikator terakhir yang juga penting adalah tingkat bunga kredit. Boleh dibilang indikator ini yang paling mengkhawatirkan. Karena sepanjang tahun lalu hingga awal tahun ini, tingkat bunga kredit relatif tidak bergerak signifikan. Rata-rata tingkat bunga kredit masih di level 15 persen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal suku bunga acuan, BI Rate pada saat yang sama sudah turun lebih dari 300 basis poin ke level sembilan persen. Ditiap penurunan BI Rate, bank selalu obral janji akan menurunkan suku bunga kreditnya, tapi nyatanya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agar sektor riil bergerak, untuk ekspansi, memaksimalkan kapasitas produksinya, atau investasi ditempat baru, membuka usaha baru, suku bunga kredit diminta di level 12 persen atau lebih rendah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dana masyarakat makin gendut di perut bank. Seiring dengan itu, net interest income bank juga masih lebar. Saat ini posisi NIM di sekitar tujuh persen lebih. NIM adalah selisih bunga simpanan terhadap bunga kredit. Selisih ini bisa dibilang keuntungan bank.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selisih tujuh persenan boleh dibilang terlalu besar. Bank bisa hidup nyaman dengan selisih lebih rendah dari itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian, dana masyarakat yang tak tersalurkan ke kredit, mengalir deras ke kas BI dalam bentuk Sertifikat Bank Indonesia (SBI). Jumlahnya hingga akhir tahun ini diperkirakan bakal mencapai Rp 300 triliun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bayangkan, ada uang Rp 300 triliun yang tidak digunakan untuk membuka usaha atau ekspansi. Ini belum ditambah kredit yang sudah disetujui tapi belum ditarik sebesar sekitar Rp 179 triliun dan akan terus membukit. Jumlahnya bakal lebih besar lagi kalau kita memasukkan biaya bunga yang harus dibayar BI tiap tahunnya, yang sekitar Rp 20 – 25 triliun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Silahkan hitung sendiri ada berapa banyak uang di dalam kegiatan ekonomi yang diam mendekam. Sementara pada saat yang bersamaan banyak pelaku UMKM kesulitan butuh dana untuk usaha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bank? Mereka punya segepok alasan untuk terus menyimpan uang dana pihak ketiga ke saku BI. Dua alasan utama mereka adalah risiko usaha yang dipicu iklim investasi yang belum membaik dan keengganan pelaku usaha untuk meminta kredit (yang tentu saja dipicu oleh tingginya suku bunga kredit). Tapi dua alasan ini harus dimaklumi karena benar adanya. Tapi, inikah khittah bank di Indonesia?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Kembali ke UMKM&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Setelah Muhammad Yunus meraih nobel bidang perdamaian tahun lalu, berhembus angin segar ke kredit UMKM. Semua seakan kembali berkaca ke cermin milik Yunus, ke cermin Grameen Bank. Bank yang khusus membiayai masyarakat kaum papa yang ditiadakan aksesnya oleh bank lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka jawaban untuk kembali ke khittah intermediasi bank di Indonesia, kata Gubernur BI, adalah lewat kredit UMKM. ‘’Dalam intermediasi yang penting adalah bank bisa berperan lebih ke UMKM. Ini sangat besar artinya bagi penyerapan tenaga kerja yang sekarang dibutuhkan,’’ tandas Burhanuddin di kesempatan yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mantan Perdana Menteri Australia, Paul Keating, yang menjadi pembicara kunci di pertemuan itu pun setuju. Kata dia, pada prinsipnya negara harus berperan aktif mendorong perbankannya melakukan intermediasi ke sektor UMKM.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘’Negara butuh agar bank memberi pinjaman untuk konsumsi, perumahan, dan bisnis kecil. Itu kegiatan intinya,’’ tandas Keating.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai pelumas mesin kredit UMKM agar lebih lancar, Keating menganjurkan kehadiran bank pembangunan. Peran bank ini berbeda dengan bank persero atau swasta atau BPR sekalipun. Bank pembangunan wajib menyentuh sektor yang belum layak diberi kredit dengan sokongan dana pemerintah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘’Jika pemerintah ingin menyalurkan kredit ke sektor tertentu lebih baik pakai bank pembangunan, jadi mereka merambah sektor yang tidak disentuh bank komersial,’’ cetus Keating.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalah untung atau rugi kredit tak perlu dibesar-besarkan. Karena khusus menangani sektor yang tidak terjamah, tentu ada kajian tertentu agar tidak mengganggu kinerja bank atau bank secara nasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi ini bukan berarti bank melupakan kredit jenis korporasi atau ritel atau konsumer. Bukan. Pilihan kredit ke UMKM, menurut survei Badan Pusat Statistik (BPS) semata-mata ditujukan karena basis perekonomian Indonesia justru dibangun dari UMKM. Sektor yang juga paling tahan banting terhadap krisis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga kini, dari total 40 juta unit UMKM, baru 20 persennya yang bisa mengakses dana kredit ke bank. Pelaku UMKM dan bank seakan tak nyambung dalam hal kredit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelaku UMKM bilang bank tak mengerti sektor mereka atau bunga kreditnya terlalu tinggi. Sementara bank meminta ada jaminan kredit atau manajemen neraca keuangan usaha yang profesional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makanya, beberapa bulan terakhir pemerintah dan BI kasak kusuk membuat paket kebijakan UMKM dan relaksasi kebijakan perbankan UMKM. Sejumlah hal mulai revitalisasi peran Askrindo, melegalkan resi gudang dan toko sebagai jaminan kredit, sertifikat kapal dan mesin sebagai jaminan kredit, hingga melonggarkan syarat kredit UMKM pun telah dan bakal dilakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BI melonggarkan kebijakan bagi bank untuk mengucurkan kredit. Tentu kelonggaran itu punya harga yang harus ditebus.  Harga itu adalah tumbuhnya kredit sesuai target. Harga itu adalah kembali ke khittah bank.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalahnya, maukah bank melepas kenyamanannya duduk bergepok SBI untuk berkeringat intermediasi yang penuh tantangan? Harus mau! Karena itu khittah bank, ia selalu penuh tantangan dan peluang.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5688052063213088371-374227790252155466?l=setanmartabak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://setanmartabak.blogspot.com/feeds/374227790252155466/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5688052063213088371&amp;postID=374227790252155466' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5688052063213088371/posts/default/374227790252155466'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5688052063213088371/posts/default/374227790252155466'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://setanmartabak.blogspot.com/2007/05/kembali-ke-khittah.html' title='Kembali ke Khittah'/><author><name>evy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04100470962692008262</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5688052063213088371.post-8537099873163465735</id><published>2007-05-02T19:13:00.000+07:00</published><updated>2007-05-02T19:23:50.149+07:00</updated><title type='text'>Mandiri (Tak) Sepenuh Hati</title><content type='html'>Tajuk Republika, Kamis (25/1), saat menanggapi keputusan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono membubarkan Consultative Group for Indonesia (CGI) adalah Mandiri. Mandiri dalam arti Indonesia mengurangi ketergantungannya dari utang asing dan memiliki posisi tawar menawar utang lebih tinggi dari sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tekanan politis yang disisipkan dalam pemberian utang ke Indonesia memang kerap terjadi di forum CGI. Semua menteri ekonomi mengakuinya. Tekanan itu bisa datang dari negara yang memberi utang, tapi juga bisa datang dari negara yang tidak memberi utang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Menkeu Sri Mulyani, kemandirian yang diinginkan Presiden akan terlihat dari rasio utang ke Produk Domesti Bruto (PDB) nasional. Rasio tersebut tiap tahun terus menurun. Tahun lalu rasionya sebesar 42,09 persen dan tahun ini diharap bisa mencapai 37 persen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘’Kalau dia makin turun berarti pemerintah punya banyak sekali tempat bantalan pengaman kalau terjadi berbagai &lt;em&gt;shock&lt;/em&gt;. Setiap negara membutuhkan ruangan dan manuver untuk menentukan strateginya. Definisi (mandiri) itu yang ingin disampaikan Presiden,’’ tandas mantan direktur eksekutif IMF untuk Asia Tenggara ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan bagi Menko Perekonomian Boediono, bubarnya CGI tidak selalu terkait ekonomi. Pria kalem ini menilai ada nasionalisme di balik itu. ‘’Barangkali masalah kebanggaan. Dalam arti kita tidak lagi harus mengandalkan utang pada suatu forum multilateral seperti ini,’’ kata Boediono.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘’Kita sekarang sudah bisa mengelola sendiri, atas dasar kerangka kebutuhan kita sendiri di APBN, dan ini suatu kemajuan dari segi kemandirian dan kemampuan mengelola strategi utang kita,’’ lanjut dia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sisi politis, pemerintah tampaknya juga mulai gerah atas sorotan tajam yang terjadi tiap tahun saat sidang CGI digelar. ‘’Sorotan politis ke CGI terlalu besar sehingga kontraproduktif. Ongkos politik CGI terlampau tinggi,’’ keluh Menkeu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beragam pendapat menyambut langkah ‘berani’ pemerintah memutus hubungannya dengan CGI. Pengamat ekonomi yang biasanya galak terhadap kebijakan utang luar negeri pemerintah mendadak angkat topi atas keberanian Presiden SBY.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada juga pendapat yang lebih hati-hati atas bubarnya CGI. Kalau CGI bubar lalu dari mana Indonesia akan mendapat utang? Bila ini kemudian diartikan dengan menerbitkan obligasi internasional lebih besar lagi, tentu manfaat bubarnya CGI jadi mubazir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun dibalik itu semua, benarkah dengan bubarnya CGI masalah utang luar negeri Indonesia tuntas? Dari sisi tekanan politis atau wacana yang berkembang di masyarakat boleh jadi sudah tuntas. Tetapi dari sisi ekonomi, belum tentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Negara ini masih menyimpan pekerjaan rumah yang besar dalam mengelola utang luar negerinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Forum Baru&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Hanya selang sehari setelah membubarkan CGI, pemerintah diketahui berencana membuat forum lagi. Kali ini forum itu diberi nama forum konsultasi atau forum &lt;em&gt;launching&lt;/em&gt; utang dan hibah. Anggotanya sama dengan anggota CGI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum jelas betul seperti apa bentuk forum ini. Konon ia masih dibicarakan di tingkat tinggi pengambil kebijakan. Tapi pemerintah mengklaim, forum komunikasi beda dengan CGI. Forum itu diklaim bebas tekanan politis dan tidak mempengaruhi utang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘’Komunikasi dengan pihak-pihak luar kan perlu kita butuhkan. Tetap kita ada forum untuk //launching// utang dan hibah. Tapi bukan untuk meminta utang, kalau mereka (negara kreditor) mau bekerja sama ya bagus!’’ papar Menneg PPN/Kepala Bappenas Paskah Suzetta akhir pekan lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Itu hanya forum komunikasi untuk memfasilitasi pinjaman dari kreditor ke Indonesia. Kita dan kreditor akan bisa tukar pikiran dan mempermudah pinjaman di mana hasil pembicaraannya tidak mengikat,'' klaim Dirjen Pengelolaan Utang Depkeu, Rahmat Waluyanto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa benar demikian? Kita memang belum tahu pasti. Tapi yang jelas, rencana pembentukan forum komunikasi itu mendapat tanggapan keras dari sejumlah pengamat. ‘’Dalam bahasa diplomasi, forum konsultasi dan komunikasi itu sama saja, tidak ada bedanya. Kalau ini yang terjadi, berarti CGI hanya ganti baju saja,’’ cetus ekonom senior yang juga anggota DPR, Dradjad H Wibowo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendapat senada dilontarkan ekonom Indef Fadhil Hasan. Indef memang kerap mengkritisi kebijakan utang luar negeri pemerintah. ‘’Forum komunikasi sama juga bohong!’’ sergah Fadhil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal ia berharap bubarnya CGI bisa membuat utang asing Indonesia berkurang, bukannya ada forum baru lagi tetap akhirnya menambah utang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Bebas Utang?&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Dari kacamata anggaran negara, pembubaran CGI dijamin tidak ada pengaruhnya. Utang luar negeri kita tetap tinggi. Dan kita menggunakan uang rakyat untuk membayar cicilan pokok dan bunga utang luar negeri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;CGI mau bubar atau terus jalan tetap saja jumlah pembayaran cicilan utang itu lebih besar ketimbang anggaran departemen strategis seperti Depdiknas dan Depkes.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Data dari Depkeu mengungkapkan, utang luar negeri Indonesia semenjak 1967 sampai 2006 dari International Goverment Group for Indonesia (IGGI) dan CGI mencapai 122 miliar dolar AS! Sedangkan total utang luar negeri yang tengah berjalan mencapai 61,311 miliar dolar AS atau sekitar Rp 551,799 triliun (kurs rata-rata sembilan ribu rupiah per dolar AS)! Ini berarti hampir sepertiga PDB nasional!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Utang kita terhadap ADB masih sebesar 9,009 miliar dolar AS. Kepada Bank Dunia masih 7,424 miliar dolar AS. Dan ke Amerika Serikat sebesar 3,077 miliar dolar AS.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi yang lebih fantastis adalah, bila kita gabungkan seluruh utang ADB, Bank Dunia, dan AS, masih belum bisa mengalahkan utang Jepang. Ke negara matahari terbit ini Indonesia masih berutang 24,358 miliar dolar AS!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini belum ditambah tawaran-tawaran baru. ADB tahun lalu telah komitmen menambah utangnya ke Indonesia hingga 3,82 miliar dolar AS selama 2006 – 2009. Pemerintah sendiri terungkap berencana berutang hingga 35 miliar dolar AS dari periode 2006 – 2009. Tapi buru-buru usulan utang itu dinyatakan bisa lebih rendah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari mana kita membayar utang-utang asing ini? Dari uang rakyat (pajak) tentunya. Di APBN 2007 anggaran yang digunakan untuk membayar cicilan pokok utang dan bunga utang saja telah mencapai Rp 81,494 triliun!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal tak jarang di lapangan utang asing itu dikorup dan masuk ke kantong pejabat kita. Ini belum memasukkan adanya utang yang belum terserap (&lt;em&gt;undisbursed loan&lt;/em&gt;) sebesar 10,802 miliar dolar AS. Pemerintah beralasan pencairan utang ini tergantung dari pelaksanaan proyek dan program.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun demikian, pemerintah harus sudah membayar biaya komitmen (&lt;em&gt;committment fee&lt;/em&gt;) antara 0,25 – 0,35 persen. Ini berarti ada anggaran sebesar 37,807 juta dolar AS yang dibuang tanpa hasil per tahun!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Kartu Kredit&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Seorang kawan beranalogi soal penyelesaian utang luar negeri Indonesia. Kata dia, Indonesia itu seperti orang yang tak konsisten menggunakan kartu kreditnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘’Gampangnya saja, Indonesia itu seperti pemegang kartu kredit. Ia punya penghasilan (pendapatan negara) yang akan dipotong untuk membayar tagihan kartu kreditnya (utang luar negeri),’’ kata sang teman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kartu kredit, papar dia, menjadi momok ketika kita tidak bisa mengerem gesekannya di alat magnetis dibanding pertambahan penghasilan kita. Saat penghasilan (pendapatan negara) kita bertambah, demikian pula pengeluaran kartu kredit (penarikan utang luar negeri) kita. Akhirnya beban utang tinggi tetap dipelihara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘’Harusnya saat penghasilan bertambah (pendapatan negara), konsumsi kartu kredit (utang luar negeri) dikurangi atau diminimalisir. Paling tidak lebih rendah dari pertambahan penghasilan kita,’’ tandas dia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian, ada sisa uang yang bisa ditambahkan ke anggaran untuk melunasi kartu kreditnya. Tidak melulu diambil dari penghasilan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Analogi ini sangat cocok menggambarkan kondisi pengelolaan utang luar negeri yang tidak konsisten. Di saat pendapatan negara meningkat, begitu pula permintaan utang luar negeri bertambah dengan alasan untuk menambal defisit anggaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Utang luar negeri tidak menjadi surplus untuk membayar cicilannya sendiri. Malah pemerintah berencana menambal cicilan utang luar negeri itu dengan menerbitkan Surat Utang Negara (SUN).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘’Sudah saatnya utang luar negeri digunakan untuk membiayai proyek-proyek infrastruktur yang menghasilkan keuntungan. Dari proyek-proyek itu bisa kita membayar cicilan pokok dan bunga utang sehingga tidak membenani APBN,’’ usul Dradjad H Wibowo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harapan Indonesia mandiri dari utang luar negerinya boleh jadi masih lama terwujud. Tekanan kreditor asing terus mengintai. Anggaran negara tiap tahunnya terbebani untuk membayar cicilan utang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara skenario pembayaran cicilan utang itu dinilai terlalu konservatif. Tapi bagaimana pun juga satu langkah maju dengan membubarkan CGI patut didukung. Tentunya pemerintah harus tidak hanya berhenti dengan membubarkan CGI saja.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5688052063213088371-8537099873163465735?l=setanmartabak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://setanmartabak.blogspot.com/feeds/8537099873163465735/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5688052063213088371&amp;postID=8537099873163465735' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5688052063213088371/posts/default/8537099873163465735'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5688052063213088371/posts/default/8537099873163465735'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://setanmartabak.blogspot.com/2007/05/mandiri-tak-sepenuh-hati.html' title='Mandiri (Tak) Sepenuh Hati'/><author><name>evy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04100470962692008262</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5688052063213088371.post-7927029418535086836</id><published>2007-05-02T19:04:00.000+07:00</published><updated>2007-05-02T19:08:14.037+07:00</updated><title type='text'>Gurita U2</title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;Sejauh mana gurita bisnis Bono dan U2 memang tak banyak dikupas media. Bahkan terkesan tertutup. Bloomberg Market mencatat, seluruh keuntungan U2 ditangani oleh satu perusahaan induk bernama Not Us. &lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;Di  tahun buku 2005, Not Us  justru merugi, 3,76 juta dolar AS.Not Us membawahi sedikitnya 16 perusahaan, yang rata-rata bergerak dibidang musik dan aksesorinya. &lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;Perusahaan-perusahaan itu adalah Eventcorp (perantara konser), Mother Music (perusahaan rekaman), Mother Records (produksi rekaman), Remond (perantara konser), Sam Tours (perantara konser), Straypass (penyelenggaran konser), Target Tours (perantara konser) dan U2 Ltd (perusahaan pembuat //master// rekaman).&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;Ini ditambah perusahaan Brushfield, Fair City Trust, Princus Investment, Thengel, U2 Clothing Co, dan U2 Partnership.  &lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;Sementara Bono, ia juga memiliki gurita bisnis sendiri.  Tapi uniknya, sebagian besar  usaha itu justru merugi. Pertama, Bono memegang 25 persen saham hotel bergaya minimalis, Clarence, di Dublin Irlandia. Namun hotel yang tarif terendahnya 296 dolar AS per malam itu justru mencatat rugi bersih 611,2 ribu Euro di tahun buku 2005.&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;Lalu Bono juga memegang saham di tiga kedai kopi Nude. Usaha kedai kopi ini sebenarnya milik kakak Bono, yang bernama Norman. Tapi lagi-lagi usaha ini jauh untung. Bloomberg Marker mencatat Nude rugi 634,8 ribu Euro.&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;Usaha ketiga Bono yang juga gagal memetik laba adalah Edun. Di atas sudah disebutkan Edun adalah perusahaan pakaian yang beroperasi di negara-negara berkembang. Dirut Edun, Christian Kemp Griffin mengungkapkan, di 2004 Edun rugi sebesar 5,49 juta dolar AS. Edun diklaim bakal untung di 2008. &lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;Perusahaan terakhir milik Bono, Elevation Partners, malah sempat diprotes gara-gara membuat permainan komputer yang dituding menyinggung rakyat Venezuela. &lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;Asal muasalnya adalah salah satu anak perusahaan Elevation Partners, Pandemic Studios LLC asal Los Angeles, AS, membuat permainan komputer bertajuk Mercenaries 2 : World in Flames. Inti permainan di dunia maya itu adalah invasi sejumlah pihak ke Venezuela, yang saat ini dipimpin Hugo Chavez. Chavez terkenal akan pandangan dan kebijakannya yang sangat kontra AS dan negara barat.  &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5688052063213088371-7927029418535086836?l=setanmartabak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://setanmartabak.blogspot.com/feeds/7927029418535086836/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5688052063213088371&amp;postID=7927029418535086836' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5688052063213088371/posts/default/7927029418535086836'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5688052063213088371/posts/default/7927029418535086836'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://setanmartabak.blogspot.com/2007/05/gurita-u2.html' title='Gurita U2'/><author><name>evy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04100470962692008262</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5688052063213088371.post-4164704368716814641</id><published>2007-05-02T18:57:00.000+07:00</published><updated>2007-05-02T19:02:17.739+07:00</updated><title type='text'>Kapitalisme A la U2</title><content type='html'>Diantara Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Muhammad Yasin dari Bangladesh, keduanya kandidat penerima nobel perdamaian 2006, &lt;em&gt;'nongol'&lt;/em&gt; nama Irlandia Paul Hewson. Oleh sejumlah media di AS dan di Inggris, Paul Hewson dinilai berhak menggondol nobel itu. Karena disela-sela aktivitasnya menjadi vokalis grup rock beken U2, Paul Hewson alias Bono, mengampanyekan pengentasan kemiskinan di Afrika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;'Demi' Afrika, Bono //ngobrol// dengan Presiden AS George W Bush, atau bercengkrama bareng dedengkot Microsoft Bill Gates. Bono juga terlihat berdiskusi serius bersama mantan Presiden AS Bill Clinton, bahkan berangkulan akrab dengan tokoh legendaris Afsel, Nelson Mandela. Daftar ini makin panjang bila ditambah PM Jepang Shinzo Abe dan PM Irlandia Bertie Ahern.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan cuma tokoh penting, penonton konser keliling dunia U2 2005  pun diajak peduli Afrika. Di arena konser yang gelap, dengan latar belakang lampu silau, Bono melantunkan salah satu hits U2, One.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;em&gt;''Did I disappoint you or leave a bad taste in you mouth&lt;/em&gt;?'' &lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;lantun Bono dengan suara khasnya.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Ditengah-tengah lagu, Bono memohon fans U2 rela mengirim pesan pendek dari ponsel mereka ke ONE, salah satu organisasi nirlaba milik Bono yang tujuannya menghapus kemiskinan. Total 131 konser yang ditonton lebih dari 4,6 juta fans U2, sms yang terkumpul mencapai 500 ribu sms.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fans U2 mau mengikuti jejak Bono karena pria pria kelahiran Dublin 46 tahun lalu ini kharismatik. Lihat saja dandanannya : kemeja lengan panjang dan celana hitam, kacamata khas yang bentuknya lebar juga berwarna hitam, dan terkadang topi cowboys. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun Bono tak cuma jual tampang dan gaya. Konon, pria yang menikahi teman SMUnya di Dublin ini  jago lobi tingkat tinggi. Berkat lobi itu, Bono mendirikan tiga organisasi sosial, yaitu DATA (Debts, AIDS, Trade Africa), ONE, dan RED.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Bono adalah pelobi yang sangat berbakat,'' puji Jamie Drummond, direktur eksekutif DATA, seperti dikutip dari Majalah Bloomberg Market edisi Maret 2007. ''Ia sangat persuasif dan kharismatik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ngobrol dengan para politisi, Bono mengingatkan mereka saat awal-awal politisi itu terjun ke dunia politik. Penuh dengan idealismedan tekad,'' tambah Jamie.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bono juga sukses menggandeng perusahaan kakap macam Nike, American Express, GAP, Giorgio Armani, Motorola, dan Apple untuk mau menyisihkan 40 persen pendapatan belum dipotong pajaknya ke RED. Organisasi ini menggunakan dana tersebut guna memerangi AIDS, TBC, dan malaria di Afrika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum puas,  Bono bahkan mendirikan perusahaan pakaian Edun, yang tujuannya meningkatkan perdagangan di negara-negara berkembang. Edun menjual kaos oblong buatan Lesotho, Afrika, seharga 54 dolar AS di pusat pertokoan bergengsi di London. Rompi wool dari Peru yang ada di gantungan baju dibanderol 145 poundsterling, dan jaket asal India yang mengkilat dihargai 240 poundsterling. Sebagian dari harga jual ini masuk ke organisasi Bono, ONE.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Sisi Lain&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Nah&lt;/em&gt; itu satu sisi  Bono dan U2 yang kita lihat di layar televisi atau dibaca di media massa. Tapi bak dewa Janus dalam mitologi Romawi yang berwajah dua, maka Bono dan U2 punya sisi lain yang 180 derajat sangat berbeda. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''U2 adalah contoh dari kapitalisme tulen,'' kecam Jim Aiken, perantara konser U2 di era 1980 dan 1990-an. Aiken kerap membawa U2 manggung di Dublin saat itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa wujud kapitalisme tulen a la U2 dan Bono? Mereka meminimalisasi pajak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konser U2 bertajuk Vertigo sukses meraup keuntungan kotor 389 juta dolar AS hanya dari tiket. Vertigo didaulat sebagai konser paling laku kedua sepanjang sejarah. Di bawah konsernya si bibir dower Mick Jagger dan The Rolling Stones yang meraup 425 juta dolar AS di akhir 2006.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bloomberg Market menelusuri dana hasil konser U2 bertumpuk di sejumlah anak perusahaan U2 yang berdomisili di Irlandia. Konon dananya 'dikerjai' agar pajaknya rendah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Guna makin merendahkan setoran pajaknya, U2 juga rela memindahkan perusahaan rekaman mereka dari Irlandia ke Belanda, Juni 2006. Alasannya, pajak perusahaan sektor rekaman di Belanda termasuk yang terendah se-Eropa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kontan  perpindahan itu menuai kecaman dari akuntan-akuntan pajak setempat.  ''Siapapun harus membayar pajaknya dengan adil ke pemerintah. Karena dari pajak kita bisa membangun jalan, sekolah, dan lain-lain,'' tandas Dick Molenaar, konsultan pajak dari firma All Arts Tax Advisers, Rotterdam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya, U2 &lt;em&gt;kecele&lt;/em&gt;, karena enam bulan sesudahnya Irlandia justru menurunkan tarif pajak serupa. Ada juga cerita, saking doyannya meminimalisasi pajak, direktur eksekutif U2 sampai ditugaskan tinggal di luar negeri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian pajak perorangan yang harus ditanggung menjadi lebih rendah. Pemerintah Irlandia tidak lagi memajaki lima orang. Melainkan  hanya empat orang anggota U2, yaitu Bono, The Edge sang gitaris, Adam Clayton pemetik bas, dan penggebuk drum Larry Mullen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi U2, apa yang mereka lakukan ini sah. Aturan pajak di Irlandia maupun di Belanda memungkinkan perusahaan merestrukturisasi diri mereka agar pajak yang dibayar tetap rendah. Manajer U2, Paul McGuinnes malah menggambarkan U2 sebagai bisnis yang taat pajak, bercermin dari aturan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Sedikitnya 95 persen dari bisnis U2 termasuk rekaman dan penjualan kami tempatkan di luar Irlandia. U2 membayar pajak dengan tarif yang sangat beragam di seluruh dunia. Kami juga menaati hukum pajak Irlandia,'' kata McGuinnes seperti dikutip dari &lt;em&gt;New York Times&lt;/em&gt; awal Februari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pajak dan etika bisnis memang kerap bersinggungan. Apalagi  kalau dasarnya berorientasi ke penumpukkan modal (kapitalisme) dan laba. Dunia barat paling tenggang rasa terhadap dua hal ini. Sehingga cara apapun tampaknya 'layak' dilakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun etika bisnis U2 dan Bono tidak mencerminkan apa yang mereka pesankan lewat konser musik atau lagu-lagunya. “Apa yang dilakukan Bono dan U2 untuk meminimalisasi pajaknya sangat inkonsisten dengan apa yang mereka sarankan ke pemerintah-pemerintah untuk mengentaskan kemiskinan,'' cetus Richard Murphy, peneliti dari Tax Research LLC, asal Inggris.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada juga pihak yang menilai apa yang U2 lakukan ini serupa dengan kebiasaan perusahaan raksasa di dunia. ''Mereka memanfaatkan celah dalam aturan pajak. Saya tidak bilang bahwa apa yang U2 lakukan ini tidak adil, tapi tindakan mereka adalah hal yang lazim,'' kilah Prof Michael J. Graetz dari Universitas Yale.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal inilah yang dilihat Jim Aiken sebagai dua muka dari U2. ''Sumbangan sosial yang paling berarti sebetulnya tidak perlu jauh-jauh ke Afrika, cukup bayar saja pajak Anda dengan benar!,'' kecam dia.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5688052063213088371-4164704368716814641?l=setanmartabak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://setanmartabak.blogspot.com/feeds/4164704368716814641/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5688052063213088371&amp;postID=4164704368716814641' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5688052063213088371/posts/default/4164704368716814641'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5688052063213088371/posts/default/4164704368716814641'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://setanmartabak.blogspot.com/2007/05/kapitalisme-la-u2.html' title='Kapitalisme A la U2'/><author><name>evy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04100470962692008262</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5688052063213088371.post-6358735433557409230</id><published>2007-05-02T18:47:00.000+07:00</published><updated>2007-05-02T18:55:58.570+07:00</updated><title type='text'>Krisis Mengintai?</title><content type='html'>Entah sengaja atau tidak, akhir bulan lalu Gubernur Bank Indonesia, Burhanuddin Abdullah, mengeluarkan pernyataan yang cukup menarik untuk disimak. Kata dia, jumlah utang bermata uang asing saat ini perlu diwaspadai karena jumlahnya makin buncit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai otoritas bank sentral yang tiap hari memelototi lalu lintas devisa, situasinya bagi BI mungkin pelik. Banyak hal yang dipertaruhkan lewat derasnya aliran utang luar negeri yang dilakukan perusahaan swasta dan BUMN beberapa waktu terakhir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertaruhan paling gawat adalah bila utang pihak swasta, korporasi, maupun BUMN itu, terkena imbas ketidakseimbangan global. Nilai tukar dolar AS menguat dan menekan rupiah. Pada saat yang sama utang-utang itu jatuh tempo. Investor asing berbarengan mengeluarkan dana mereka dari Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bisa dibayangkan potensi terulang kembali krisis keuangan jilid II di Indonesia. Oleh karena itu pernyataan Burhanuddin, ‘’Jangan sampai kita &lt;em&gt;over exposure&lt;/em&gt;, terlalu banyak pinjam ke luar,’’ menjadi sangat penting untuk dicamkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peringatan itu ia katakan menjelang 10 tahun krisis ekonomi memorak-porandakkan Indonesia. Bermula dari ekonomi, krisis meluas ke ranah sosial, budaya, pertahanan dan keamanan, sampai ke politik yang ditandai dengan jatuhnya rezim Soeharto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Simak apa pandangan mantan Gubernur BI saat krisis dulu, J Soedradjad Djiwandono, yang ia tulis dalam bukunya, Bergulat dengan Krisis (2001). ‘’Dalam bidang ekonomi, dua hal yang sangat berpengaruh pada krisis di Indonesia adalah kelemahan perbankan dan besarnya pinjaman korporasi dalam valuta asing,’’ kata Soedradjad.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pinjaman korporasi saat itu didominasi oleh pinjaman berjangka waktu pendek dan tidak disertai skema perlindungan nilai (&lt;em&gt;hedging&lt;/em&gt;). Swasta berani ambil risiko tidak melindungi utangnya karena begitu percaya pada indikator makroekonomi Indonesia yang sangat &lt;em&gt;kinclong&lt;/em&gt; kala itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum krisis, kinerja ekonomi rezim Soeharto memang digambarkan oleh Bank Dunia sebagai &lt;em&gt;economic miracle&lt;/em&gt;. Indonesia didaulat jadi macan Asia. Namun justru ekonominya ditunjukkan dengan tanda-tanda penggelembungan ekonomi (&lt;em&gt;economic bubbles&lt;/em&gt;) seperti ekspansi sektor perumahan yang kelewat besar dan pertumbuhan pasar saham yang luar biasa, bersamaan dengan masuknya dana asing berjangka pendek secara berlebihan ke lantai bursa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi para pengamat ekonomi yang kerap mengkritisi kebijakan ekonomi pemerintah, situasi saat ini dinilai tidak begitu jauh berbeda dengan 1997. Satu hal yang jelas-jelas sama adalah sekarang Indonesia juga tengah diguyur dengan arus modal asing yang luar biasa besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indikator yang kerap disinggung adalah indeks harga saham gabungan di Bursa Efek Jakarta (BEJ) melaju kencang menyentuh batas psikologisnya di level 2.000 basis poin, pekan lalu. Dari BI, dicatat terjadi peningkatan capital inflow dalam bentuk Surat Utang Negara (SUN) atau Sertifikat BI (SBI) di triwulan I 2007 senilai  2,4 miliar dolar AS.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indikator lainnya adalah data cadangan devisa di kantong BI. Pada posisi 27 April lalu, cadangan devisa sudah mencapai 49,1 miliar dolar AS. Dalam waktu sebulan, sejak Maret, cadangan devisa telah naik hampir dua miliar dola AS. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indikator terakhir adalah utang luar negeri pemerintah dan swasta. Per Desember 2006, utang ini tercatat sebesar 125,258 miliar dolar AS. Jumlahnya memang menurun jika dibandingkan dengan September 2006 yang besarnya 127,528 miliar dolar AS.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi penurunan itu hanya terjadi dari sisi pemerintah dan BUMN. Utang di sektor swasta justru naik. Per September 2006, utang luar negeri oleh swasta mencapai 50,046 miliar dolar AS. Tiga bulan kemudian, pada Desember 2006, utang tersebut membengkak 1,085 miliar dolar AS atau sekitar Rp 10 triliun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘’Utang ini akan memengaruhi kredibilitas kita. Karena itu, perlu kita monitor dengan baik,’’ kata Burhanuddin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bandingkan dengan situasi utang asing saat krisis dulu. Soedradjad mengutip data dalam &lt;em&gt;Letter of Intent&lt;/em&gt; antara IMF – pemerintah yang menyatakan per Oktober 1997 jumlah pinjaman nasional mencapai 140 miliar dolar AS. Utang ini didominasi oleh utang swasta sebesar 80 miliar dolar AS.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau ditarik ke belakang, sepanjang 1992 – 1997 terlihat tren peningkatan utang swasta lebih cepat ketimbang pemerintah. Dalam kurun waktu tersebut, utang pemerintah tumbuh dari 55,5 miliar dolar AS menjadi 59,9 miliar dolar AS. Sementara utang swasta membengkak dari 28,2 miliar dolar AS menjadi 78,1 miliar dolar AS.&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Murah dan Mudah&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;Berutang ke luar negeri sekarang ibarat makanan cepat saji. Mudah dan relatif murah. Sikap pragmatis memilih utang ke asing justru mendapat momentum dari ketatnya persyaratan bank untuk mengucurkan kredit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘’Kita pinjam ke asing karena lebih murah dan tidak berbelit-belit syaratnya,’’ cetus Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Sofjan Wanandi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia jelaskan, bank asing menawarkan bunga kredit yang menarik untuk pinjaman berdenominasi dolar AS. Kalau dari dalam negeri rata-rata bunga kreditnya masih tinggi di level 14 persen, maka di bank asing bisa satu digit, hingga lima persen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syarat kredit pun dinilai tidak banyak &lt;em&gt;cing cong&lt;/em&gt;, ketika di dalam negeri pengusaha diminta menyerahkan segepok dokumen yang menunjukkan sektor usahanya prospektif. Dua kemudahan ini saja sudah membuat sejumlah pengusaha berpaling muka memanfaatkan bank asing untuk kredit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘’Jadi kita lebih suka ke luar negeri. Kita &lt;em&gt;kan&lt;/em&gt; hitungannya bisnis. Mana bisa kita ambil yang mahal. &lt;em&gt;Kan bodoh&lt;/em&gt; kita,’’ tambah Sofjan lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sisi lainnya, berutang ke luar negeri bisa dipandang sebagai bentuk kepercayaan kreditor asing terhadap pihak swasta. Bahwa korporasi Indonesia sudah dinilai mampu mengembalikan dana bank asing. Tidak seperti saat krisis dulu ketika bank-bank mitra usaha di luar negeri menolak surat kredit yang diterbitkan bank nasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kondisi ini dinilai Kepala Badan Kebijakan Fiskal Depkeu, Anggito Abimanyu, sebagai tanda membaiknya ekonomi. ’’Kalau banyak orang yang menawarkan uang dan tak sedikit perusahaan kita yang bisa mengeluarkan obligasi ke luar negeri, itu tanda perbaikan ekonomi,’’ katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi ia tetap setuju bahwa untuk menghindari &lt;em&gt;over exposure&lt;/em&gt; utang, jumlah pinjaman yang masuk harus tetap diawasi. Apakah itu berarti bakal ada pembatasan, seperti yang Thailand coba lakukan? Dengan tegas Anggito menjawab tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘’Tidak ada langkah antisipasi, kita hanya memonitor saja, baik itu pinjaman komersial, obligasi korporasi, maupun valas,’’. BI, tambah pria lulusan UGM ini, sudah memiliki instrumen untuk memantau masuknya dana asing lewat UU Lalu Lintas Devisa.&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Krisis Mengintai &lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;Bagi ekonom senior, Iman Sugema, ancaman krisis ekonomi jilid II tetap mengintai. Utang asing yang tidak digunakan untuk kredit ekspor bisa bawa mimpi buruk seperti 1997. Ketika itu pembangunan real estate di Indonesia kerap dibiayai langsung oleh pinjaman valas lewat bank asing namun penerimaannya dalam bentuk rupiah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada selisih kurs yang berperan dan bisa mencetak rugi disitu. Begitu gejolak di pasar uang meningkat, maka beban kurs asing melonjak dan membuat debitor dalam negeri menjerit karena pemasukkan rupiah tidak seimbang untuk membayar utang dolar AS.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan kalau utang itu digunakan untuk ekspor, maka potensi gejolak valas relatif tidak ada. Eksportir menjual barangnya ke luarnegeri dalam bentuk dolar AS. Mata uang yang sama ia terima di dalam negeri dari hasil pembayaran barang ekspornya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari segi teritorial, ekonom CSIS, Hadi Soesastro, melihat ancaman penerbangan valas ke luar negeri tidak hanya menimpa Indonesia, tapi di seluruh Asia Timur. ‘’Sekarang Asia Timur dianggap sebagai kawasan yang sangat menarik dan uang yang masuk banyak sekali. Uang-uang ini kan mudah sekali ditarik. Itu yang jadi masalah,’’ tandas dia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, sistem monitoring utang luar negeri menjadi bagian terpenting untuk mencegah gejolak utang valas di dalam negeri. Hadi meminta BI tidak hanya berhenti memonitor jumlah utang secara keseluruhan. Tetapi harus menelisik sampai mengetahui untuk apa utang swasta dari pihak asing itu diambil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘’Apa benar mengambil utang dari luar negeri lebih murah, atau ada masalah penyaluran di dalam negeri,’’ tanya Hadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itupun tidak bisa hanya mengandalkan Indonesia. Ia menilai kawasan Asia Tenggara dan Jepang, Cina, dan Korsel harus bahu membahu mengembangkan sistem pengawasan dan pemantauan arus duit asing ke dalam daerahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘’Tidak bisa cuma saling melapor. Juga bagaimana menilai dan mencari cara yang terbaik untuk menanganinya,’’ sambung dia. Masalah ini konon sudah dibahas secara tertutup dalam pertemuan menteri keuangan Asean plus Three di Thailand beberapa waktu lalu.&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Internal Bank&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;Ancaman krisis, lanjut Iman, bisa lebih buruk terjadi sekarang karena kinerja  internal bank belum memuaskan. Ia  bahkan berani mengklaim kondisi perbankan saat ini, dari sejumlah indikator, lebih buruk ketimbang krisis ekonomi 1997.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua indikator utamanya adalah rasio simpanan terhadap pinjaman (LDR) dan jumlah kredit yang dikucurkan. Untuk indikator yang pertama, sebelum krisis LDR mencapai 70 persen. Sekarang angkanya baru di level 64 persen. Hingga akhir tahun ini BI menargetkan LDR bisa mencapai 68 persen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘’Pada 1997, bank-bank tidak mengandalkan obligasi rekapitulasi, selain itu, saat itu juga tidak ada masalah penyaluran kredit. LDR-nya baik. Sedangkan sekarang banyak bank yang mengandalkan obligasi rekap. Penyaluran kredit juga &lt;em&gt;mandek&lt;/em&gt;,’’ tukas Iman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Boleh jadi ekspektasi Iman terhadap peranan kredit untuk membiayai pembangunan sangat tinggi. Hal itu wajar terjadi di negara berkembang seperti Indonesia, ketika sektor perbankan masih menguasai pembiayaan ketimbang sektor pasar modal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal kinerja kredit tumbuh dari tahun ke tahun. Sayangnya, laju pertumbuhan itu dinilai berbagai pihak terlalu lamban. Ambil contoh tahun lalu saat BI optimistis target kredit bisa 20 persenan. Secara perlahan tapi pasti BI terus merevisi target tersebut hingga hanya 15 persenan. Hasil akhirnya malah dibawah target karena kredit 2006 hanya tumbuh 14,1 persen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua bulan pertama tahun ini juga jadi tantangan tersendiri bagi kucuran kredit. Ternyata meski bank sentral telah melonggarkan sejumlah kebijakan, laju kredit tetap belum maksimal. Di Januari bahkan kucuran kredit turun Rp 15,5 triliun dari Desember.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun kinerja kredit kembali pulih di Februari dengan membukukan Rp 8,9 triliun menjadi Rp 826,3 triliun. Tetap saja ia belum menutup penurunan kredit bulan sebelumnya. Secara tahunan, kredit Februari 2007 tumbuh Rp 111,7 triliun dari Februari 2006.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebetulnya ironis juga kalau melihat banyak swasta meminjam ke bank asing. Padahal di dalam negeri sedang kelebihan likuiditas. Dana pihak ketiga yang diternakkan di SBI saja jumlahnya sudah mencapai lebih dari Rp 263 triliun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jumlah itu sudah hampir menyamai besaran uang yang beredar di masyarakat, Rp 272 triliun. Bahkan ada potensi SBI bisa mencapai Rp 400 triliun bila kondisi kelebihan likuiditas ini tidak terserap ke sektor riil. ‘’Yang terjadi adalah uang hanya berputar-putar di sektor keuangan,’’ kata Deputi Gubernur BI, Aslim Tadjudin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendapat ini diamini Hadi Soesastro. Ia akui kesenjangan antara sektor keuangan dan riil Indonesia cukup serius untuk membuat krisis. Sektor produksi dalam negeri belum bergerak sesuai kapasitasnya. Investasi malah tahun lalu hanya tumbuh 2,9 persen. ‘’Ini &lt;em&gt;kan&lt;/em&gt; sama seperti asing memanfaatkan ekonomi kita, semata-mata hanya mengejar keuntungan,’’ tandas dia.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5688052063213088371-6358735433557409230?l=setanmartabak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://setanmartabak.blogspot.com/feeds/6358735433557409230/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5688052063213088371&amp;postID=6358735433557409230' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5688052063213088371/posts/default/6358735433557409230'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5688052063213088371/posts/default/6358735433557409230'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://setanmartabak.blogspot.com/2007/05/krisis-mengintai.html' title='Krisis Mengintai?'/><author><name>evy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04100470962692008262</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5688052063213088371.post-2542578454654100056</id><published>2007-05-02T18:22:00.000+07:00</published><updated>2007-05-02T18:32:31.544+07:00</updated><title type='text'>Sisi Lain Sidang Newmont Minahasa Raya</title><content type='html'>Dengan gontai Lydia Astriningworo masuk ke lobby Hotel Gran Puri, Manado, Senin (23/4) malam. Langkah kakinya yang jenjang ia arahkan ke kiri lobby, ke restoran, tempat kami (Republika, Investor Daily, dan Detikcom) sedang menyantap makan malam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum sempat kami bertukar sapa, Lydia sudah terduduk lemas di depan kami. Keletihan tampak diwajahnya. Kantong matanya menghitam. Bola matanya memerah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘’Capek sekali habis briefing terakhir,’’ cetus media relation officer PT Newmont Minahasa Raya (NMR) ini sambil perlahan mengangkat kepalanya dari atas meja. Kami bertiga hanya tersenyum simpul. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Briefing terakhir itu merupakan rentetan rapat yang ia ikuti sejak pesawat Batavia Air dengan nomor penerbangan 0635 dari Jakarta – Manado tiba di Bandara Sam Ratulangi, Senin pagi. Rapat membahas berbagai persiapan menjelang sidang putusan kasus dugaan pencemaran di Teluk Buyat, Minahasa, oleh perusahaan tempat Lydia bekerja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lydia menyinggung bakal ada demonstrasi oleh warga Teluk Buyat yang menuntut NMR dihukum. ‘’Demo positif, kita belum tahu berapa banyak yang datang, tapi demo akan berlangsung,’’ katanya dengan suara tertahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi ia mengaku takut dengan suasana hiruk pikuk demonstrasi itu. ‘’Kalau boleh besok aku milih ada di kantor, daripada dekat dengan demo,’’ lanjut dia dengan logat Jawa yang kental. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain demo, yang membuat Lydia rapat sampai malam adalah lembaran rilis pers. Konon, ia dan sejumlah rekannya telah membuat dua skenario rilis yang akan disebarluaskan ke berbagai media, usai sidang putusan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Isi rilis itu, kata Lydia, ada yang skenario menang alias bebas dari tuduhan mencemari Teluk Buyat, dan skenario kalah. ‘’Kita sudah mempersiapkan segalanya,’’ tambah dia. Lagi-lagi kami bertiga hanya tersenyum simpul, tapi kali ini penuh arti. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keesokan harinya, boleh jadi kepenatan Lydia dan kawan – kawan di NMR lunas terbayar. Setelah sidang selama 135 menit, Pengadilan Negeri Manado memutus NMR dan Dirutnya, Richard Bruce Ness, bebas dari tuduhan mencemari pantai Teluk Buyat dan membuang limbah pertambangan (tailing) tanpa izin. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tengah teriknya matahari Manado, suasana haru melanda PN Manado. Di ruang sidang, yang besarnya sekitar satu lapangan bulu tangkis itu, para pegawai NMR menangis, ketika mendengar perusahaan dan atasan mereka bebas tak bersalah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wajah Rick Ness, yang telah disidang selama 54 kali sejak 2005, memerah karena udara dalam ruang sidang memang panas. Bulir air mata sempat menetes di muka pria yang sudah memeluk Islam dan menikahi perempuan asal Indonesia ini saat mendengar hakim mengetok palu seusai berkata tidak bersalah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di luar, di halaman pengadilan, suasana haru yang berbeda melanda warga Pantai Buyat yang berdemonstrasi meminta NMR dan Ness dihukum tuntas. Belasan warga menangis sesungukkan sesudah mendengar keputusan hakim lewat pengeras suara. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun air mata mereka tak lagi deras. Boleh jadi karena mereka sudah bosan dengan kesedihan. Guratan kebingungan justru terpahat di wajah-wajah berkulit hitam itu. Bagaimana mungkin, pikir mereka, perusahaan yang di tuduh mencemari lingkungan dan membuat sejumlah warga kena penyakit kulit berupa benjolah, bentol-bentol, sampai mengorbankan seorang bayi, justru diputus bebas di pengadilan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sorot mata warga menengadah ke atas, ke terik matahari. Mereka terlihat sangat tidak berdaya. ‘’Kami sebagai manusia biasa, sebagai hamba Allah, tidak kuasa atas segala sesuatunya, tindak kezaliman, kekerasan, kami sandarkan kepada Yang Maha Kuasa, kita saksikan hari ini apa yang mereka perbuat, kami tidak banyak, sekedar kami terima apa yang jadi putusan, karena selama ini kami ditindas, selama kami diperbodohi, kami akan berusaha sampai di mana kami kuat,’’ raung seorang warga saat membaca doa setelah mendengar putusan hakim. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk sementara, perselisihan antara warga Buyat dan NMR memang tuntas sudah. Putusan tak bersalah membuat harapan keadilan warga buyar seketika. Tapi Jaksa Penuntut Umum, Purwanta, langsung mengatakan bakal banding ke Mahkamah Agung. NMR menerima tantangan itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di luar sidang itu, banyak hal menarik yang bisa dirasakan dan dilihat saat meliput sidang NMR. Toh meliput sidang tak harus duduk di dalam ruang, karena di luar sidang sejumlah peristiwa patut diberitakan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ambil contoh, wartawan yang meliput. Untuk yang satu ini NMR rela merogoh koceknya cukup dalam dengan membawa sedikitnya 10 wartawan media cetak dan elektronik nasional dari Jakarta ke Manado dan sebaliknya dengan pesawat terbang. Para kuli tinta diinapkan di salah satu hotel terbaik di Manado dengan tarif Rp 2 juta untuk dua malam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa wartawan sempat tertawa terkekeh melihat keberanian NMR memboyong media nasional. Kata mereka, belum tentu menang saja pengorbanannya sudah cukup besar. Untungnya, NMR memang menang di pengadilan, coba kalau tidak, bisa tekor. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demonstrasi warga Buyat di halaman PN Manado juga unik diliput. Selama jalannya persidangan di tepi pantai itu, ada dua kubu yang berdemo. Kubu pertama adalah belasan warga Buyat yang sudah direlokasi. Kubu kedua adalah segelintir warga yang juga mengaku dari Buyat, tapi mendukung NMR. Kedua kubu kerap sahut-sahutan meneriakkan yel-yel. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Warga yang kontra NMR digiring oleh beberapa mahasiswa yang tergabung dalam sejumlah organisasi mahasiswa dan Lembaga Swadaya Masyarakat setempat. Komando demo dipegang oleh mahasiswa. Mereka sangat ketat mengawal warga dengan bentangan spanduk. Tak sembarang orang bisa masuk ke dalam kerumunan demonstrasi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketatnya pengawalan ini tentu membuat wartawan heran. Kuli tinta terlihat kesulitan mewawancarai warga pendemo. Salah seorang juru kamera Reuters bahkan dilarang mewawancarai seorang warga, oleh si mahasiswa. Ketika Republika mencoba duduk mendekati warga yang tengah beristirahat di dekat pagar pengadilan, warga Buyat itu buru-buru digiring kembali masuk ke kerumunan pendemo di tengah halaman. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wawancara hanya bisa dilakukan terhadap wakil warga yang telah ditunjuk mahasiswa. Nama wakil itu, Anwar Stirman (37 tahun), nelayan yang tadinya melaut di Buyat sebelum direlokasi. ‘’Keadilan tidak berpihak ada kami, adil itu barang langka bagi kami, saya tidak tahu kenapa, padahal sangat jelas NMR merusak lingkungan tapi majelis hakim menyatakan yang lain,’’ keluh Anwar setelah mendengar putusan hakim. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, kubu pro NMR berdemo tepat disamping kubu kontra NMR. Demo kubu pro NMR tidak terlihat serius dipersiapkan. Demo hanya membawa sebuah spanduk pembelaan terhadap NMR, bahwa NMR tidak mencemari Buyat. Yang berdemo pun bisa dihitung dengan jari di sebelah tangan. Demo kubu pro NMR akhirnya bubar seiring sengatan matahari makin panas di kepala. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi demo kubu pro NMR mendapat dukungan dari puluhan orang berbadan tegap, berpakaian hitam-hitam. Tak jarang tangan mereka dirajah berbagai ragam motif dan tulisan. Raut muka mereka sok galak. Di bagian belakang bajunya tertera bordiran bertuliskan Brigade Manguni dengan logo burung hantu yang mungil, kontras dengan kegarangan yang ditampilkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasukan hitam-hitam ini mengepung para pendemo yang kontra NMR. Anehnya, 190 aparat polisi yang berjaga di sekitar gedung PN Manado seakan mendiamkan gerombolan pria berbaju hitam-hitam itu. Bila para pendemo kontra NMR tak boleh mendekati pintu masuk gedung pengadilan, maka anggota Brigade Manguni dengan santai bisa berdiri dekat pintu masuk. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suasana di Hotel Ritzy, tempat jumpa pers usai putusan sidang juga menarik untuk dicermati. Sebelum sidang putusan digelar, petugas keamanan sangat ketat memeriksa tamu yang hilir mudik ke hotel. Bunyi ‘tiiit’ detektor logam kerap terdengar. Tapi begitu putusan selesai dibaca dan NMR diputus bebas, bunyi 'tiiit' itu lenyap. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gelombang rombongan tamu yang ingin masuk ke hotel malah disalami oleh penjaga pintu. ‘’Selamat ya pak!’’ kata si petugas sembari menjabat tangan Republika dan seorang wartawan saat hendak masuk ke hotel yang hanya berjarak 50 meter dari PN Manado itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di hotel yang sama, sehari sebelum sidang putusan, kami juga sempat memergoki beberapa orang berpakaian Kejaksaan Tinggi Manado hilir mudik di lobby hotel. Tak jelas apa keperluan mereka, tapi Hotel Ritzy saat itu menjadi pusat kegiatan NMR dan tempat menginap para petinggi NMR. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa jam setelah putusan yang diketok oleh Ketua Majelis Hakim, Ridwan Damanik, Richard B Ness tampak gembira dikelilingi kerabat dan karyawannya. Ketika ditanya apa yang ingin dilakukannya setelah sidang, Ness menjawab, ‘’Saya akan berkumpul dengan keluarga, saya bahkan belum sempat bertemu dengan istri saya,’’ katanya sambil tersenyum simpul. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi berkilo-kilometer dari kemegahan dan kesejukkan Hotel Ritzy, Anwar Stirman, masih bergelut dengan kerasnya kehidupan. Sembari menangis, Anwar menuturkan kisah hidupnya. Istrinya mengidap benjolan di kepala dan sering pusing saat masih di Buyat. Dua orang anak Anwar bahkan kerap terkena kejang-kejang hingga kini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Derita penyakit itu ia tuding akibat limbah arsen dan merkuri bekas tailing tambang emas NMR yang mencemari Teluk Buyat. Perjuangan warga Buyat, tegas pria berbadan kurus dan berkulit hitam ini, tidak habis di meja hijau. ‘’Kami hanya mohon ke JPU jangan berhenti sampai disini, agar kami bisa mendapat keadilan lebih dari ini,’’ tandas Anwar ketir. Esok hari, dengan sisa harapan dan kekuatan, ia dan segenap warga lainnya berjanji kembali berdemo.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5688052063213088371-2542578454654100056?l=setanmartabak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://setanmartabak.blogspot.com/feeds/2542578454654100056/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5688052063213088371&amp;postID=2542578454654100056' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5688052063213088371/posts/default/2542578454654100056'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5688052063213088371/posts/default/2542578454654100056'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://setanmartabak.blogspot.com/2007/05/sisi-lain-sidang-newmont-minahasa-raya.html' title='Sisi Lain Sidang Newmont Minahasa Raya'/><author><name>evy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04100470962692008262</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5688052063213088371.post-3649562213175241414</id><published>2007-04-04T17:55:00.000+07:00</published><updated>2007-04-04T18:44:23.441+07:00</updated><title type='text'>wilujeng sumbing di neraka martabak!!</title><content type='html'>citacita bikin blog nyampe juga&lt;br /&gt;walopun telat banget karena nyang lain udah bikin blog, malah portal, gw baru mulai&lt;br /&gt;untung ada pepatah ga ada kata terlambat bagi apapun (tapi pepatah ini ga bisa diterapin ke situasi ketika lo udah ketabrak mobil, keserempet bus, ato jatoh dari tebing, kan udah telat, udah jatoh gito loh)&lt;br /&gt;mo nya blog ini diisi sama berita yang gw buat tiap hari&lt;br /&gt;tapi rasanya bosen juga ya masa blog isinya berita&lt;br /&gt;gimana kalo isinya hasil browsing gw soal pornografi en violence?&lt;br /&gt;sepertinya lebih asik ya!&lt;br /&gt;anyway, here we go...&lt;br /&gt;first step to ....&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5688052063213088371-3649562213175241414?l=setanmartabak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://setanmartabak.blogspot.com/feeds/3649562213175241414/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5688052063213088371&amp;postID=3649562213175241414' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5688052063213088371/posts/default/3649562213175241414'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5688052063213088371/posts/default/3649562213175241414'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://setanmartabak.blogspot.com/2007/04/wilujeng-sumbing-di-neraka-martabak.html' title='wilujeng sumbing di neraka martabak!!'/><author><name>evy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04100470962692008262</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
